Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warn: Ooc banget, typos, etc.

Story: Aoyama

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Shikamaru menghentikan langkahnya. Wajahnya mendadak pucat pasi dengan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Kau kenapa, Shika?" Temari mulai panik dengan keadaan sahabatnya itu.

"Temari..." Shikamaru seakan berat untuk mengatakan apa yang ingin ia ucapkan.

"Ke-Kenapa?"

"Tolong aku..." Shikamaru melirikan matanya ke arah kaki kanan memijak tanah. Temari pun mengikuti arah pandangan Shikamaru.

"AKU MENGINJAK EE BABI..." pekik Shikamaru histeris.

"SHIKA!" seruan Temari bergema di hutan ini diakhiri dengan jitakan pada kepala Shikamaru.

Shikamaru meringis kesakitan.

"Kupikir, kau... Sudahlah, ayo lanjutkan pencarian, agar tidak kemalaman." ujar Temari kesal.

Mereka berdua melanjutkan pencariannya. Mereka terus mengikuti jejak sepeda itu.

"Tema..." tatapan Horror Shikamaru mendominasi wajahnya.

"Kenapa? Kau menginjak kotoran babi lagi?" tukas Temari sarkastik.

"Tidak..." suara Shikamaru tergengar bergetar.

"Udah 'dong! Jangan becanda terus ah!"

"A-a-aku tidak becanda, Tema..."

"Shika! Gak lucu tahu!"

"Aku-Aku sedang tidak mewalak, Temari," ujar Shikamaru dengan nada bergetarnya.

Shikamaru mengangkat tangannya dan menunjuk sebuah poho di belakang Temari.

Akhirnya, Temari mengalah dan mengikuti arah telunjuk Shikamaru.

"U-U-ULAR!" pekik Temari histeris, dan secara ektase memeluk Shikamaru.

Diam-diam, Shikamaru merasa eksaltasi akan situasi ini. Terbersit ide lain didalam otaknya. Temari, masih saja memeluk Shikamaru dengan tubuh bergetar.

"Temari..."

"Apa?" jawab Temari yang masih bergetar.

"Ular itu menghampiri kita," dusta Shikamaru.

Tentu saja hal tersebut membuat Temari semakin erat memeluk Shikamaru.

Shikamaru membiarkan Temari memeluknya erat. Toh, memang begitu ingin Shikamaru.

Beberapa saat mereka dalam posisi berpelukan. Tepatnya, Temari yang memeluk Shikamaru.

"Apa kau mau memelukku terus, Temari?" goda Shikamaru.

Secepat mungkin temari melepas pelukannya, sertamerta memalingkan wajah si gadis pirang itu. Semburat merah muda menghiasi wajah mulus Temari.

"A... Ayo kita lanjutkan pencarian," ujar Temari mengalihkan pembicaraan.

"Cie... Ada yang salting 'nih," goda Shikamaru lagi.

'Pletak' jitakan Temari sukses mendarat di kepala Shikamaru untuk kedua kalinya.

"Aduh!" pekik Shikamaru, "Kenapa kau menjitakku terus, Tema?"

"Kau menyebalkan!" balas Temari mendahului jalan Shikamaru.

Shikamaru tersenyum kala melihat bokong Temari yang berjalan di hadapannya.

"Kenapa bengong? Ayo!" Temari berbalik kepada Shikamaru.

Ah, dasar Shikamaru, secara ektase dia berkata, "Bokongmu indah, Temari."

"DASAR MESUM!" kali ini bukan sebuah jitakan yang diterima si rambut nanas, melainkan sebuah tonjokan yang sukses mengenai mata kirinya hingga membiru.

"Hey, kenapa kau selalu memukulku, Temari?"

Temari tidak menghiraukan apa yang diserukan Shikamaru. Dia terus berjalan angkuh di depannya.

"Hey, jangan marah. Aku 'kan hanya becanda." ujar Shikamaru menyusul Temari.

"Becandanya jelek, sleketep!"

"Maaf."

ST Detektif melanjutkan pertualangan mereka.

"Tunggu dulu, Temari," sergah Shikamaru.

"Apa lagi 'sih?"

"Kamu sadar gak? Bukannya yang dikatakan Satpam itu, Hinako pergi berdua? Kenapa jejaknya cuma ada satu?"

"Eh... Benar juga."

"Dan lagi, kita tertipu dengan jejak ini."

"Maksudmu?"

"Ini adalah jejak ban yang terbalik."

"Aku belum mengerti maksudmu, Shika."

"Lihat, bekas yang depan terlihat lebih dalam."

"So?"

"Ini menandakan jejak speda yang terbalik. Jika jejak ini benar terbalik, itu menandakan bahwa kita dalam jalur sebaliknya. Secara alami, jejak ban itu akan semakin dalam di bagian belajang, karena si pengemudi duduk agak kebelakang. Seharusnya, jejak itu lebih dalam dari yang depan. Apalagi dia berboncengan."

"Lalu, apa kita harus kembali?"

"Tidak juga. Ah, betapa bodohnya aku ini." rutuk Shikamaru.

"Ada apa, Shika? Kau mengingat sesuatu?"

"Ya, kertas ini," Shikamaru mengeluarkan kertas yang sempat Asuma berikan kepada mereka diawal penyelidikan.

"Ada apa dengan tulisan itu?"

"Hubungi Kurenai! Tanyakan, apakah ada di antara mereka yang mengenal Sarutobi?"

"Siapa Sarutobi?"

"Kalau aku tahu, aku tidak akan menyuruhmu menanyakannya kepada Kurenai."

Temari menuruti apa yang dikatakan Shikamaru.

"Bagaimana?" tanya Shikamaru kala Temari selesai menghubungi Kurenai.

"Ya, mereka kenal dengannya. Katanya, Sarutobi adalah ayah Asuma, atau Kakek Hinako."

"Bagus, di mana tempat Sarutobi?"

"Katanya sih di hutan ini. Kita hanya perlu mengikuti jalan setapak saja kita akan dibawa kerumah Kakek Sarutobi."

"Sebenarnya, aku tidak mau memecahkan kasus yang mudah," ujar Shikamaru, "Tapi ini sudah sore, kita harus cepat. Lagi pula, kita tinggal ke rumah Sarutobi, kita pasti menemukan Hinako."

"Yakin sekali?"

"Sudahlah, jangan banyak tanya, kita tidak akan tahu kalau belum dicoba."

Temari mengangkat bahu. Dia tahu, meskipun Shikamaru selalu berfikir verbal, toh dia selalu benar.

Benar saja, di ujung jalan setapak ini, mereka mendapati sebuah rumah yang amat tua.

Ruat wajah Temari yang tenahak, kontras sekali dengan wajah Shikamaru yang eksaltase.

"Kenapa kau terlihat kecewa, Tema?"

Aku kira, kita akan mendapati rumah yang indah. Tapi, faktanya? Lihat, rumah ini nampak tak terurus."

"Namanya juga di tengah hutan."

Shikamaru mengetuk pintu, pandangan parokialis terpancar dari sang pembuka pintu manakala dia melihat Shikamaru.

"Siapa kalian?" tanya orang itu yang ditaksir berusia tujuh puluh-an.

"Maaf, Kek, kami teman Hinako." jawab Shikamaru ramah.

"Ada keperluan apa kalian menemui cucukku?" ketus sang kakek tanpa menyuruhnya masuk.

"Sudah dua hari ini, Hinako belum pulang. Orang tuanya sangat cemas akan puteri tunggalnya itu, Kek."

Si Kakek memandang tajam Shikamaru, tak ada raut kebohongan dari manik si rambut nanas.

"Tunggu sebentar!" ujar Kakek itu, "Hinako." serunya.

Seorang gadis bermata merah muncul dari balik punggung si Kakek.

"Ada apa, Kek?"

"Apa kamu mengenal orang-orang ini?" tunjuk sang Kakek kepada Shikamaru dan Temari.

"Kak Shika? Kak Tema?" ujar Gadis itu.

"Halo, Hinako," balas Shikamaru dan Temari bersamaan.

"Masuk, Kak. Kenapa Kakek tidak menyuruh mereka masuk?"

"Kakek harus waspada, Hinako." jawab Kakek.

"Ayo masuk."

Kini mereka tengah berada di ruang tengah rumah Kakek Sarutobi.

"Hinako, kamu kedinginan, ya?" tanya Temari.

Hinako tidak menjawab, saat ini Hinako tengah menggunakan pakaian serba panjang dengan sarung tangan plus kaos kaki.

"Jangan sentuh Hinako." sergah Sarutobi kala melihat Temari hendak memegang Hinako.

"Kenapa, Kek?" tanya Shikamaru.

"Pokoknya jangan sentuh kalau kalian tidak ingin celaka." balas Sarutobi dengan nada horror.

Shikamaru mau pun Temari menelan ludah karenanya.

"Oh, iya, bagaimana kalian tahu aku di sini?" Hinako mengalihkan pembicaraan.

"Kertas yang kau tinggalkan, Hinako." Shikamaru mengeluarkan kertas itu.

"S-A-R-U-T-O-B-I."

"Kak Shika memang hebat." ujar Hinako, "Aku harap Ibu atau Ayah yang memecahkannya."

"Dia sudah tahu, Hinako, bahkan jauh sebelum kau meninggalkan surat ini." kata Shikamaru.

"Karena batin seorang Ibu takan salah, Hinako." timpal Temari. "Jadi, apakah kau mau menceritakan alasanmu meninggalkan rumah? Aku yakin bukan karena kau dimarahi."

Hinako menghela nafas panjang, dan menggulung baju lengan tangan kirinya ke atas.

"Inilah penyebabnya. Budug ini menular, aku takut Ibu atau Ayah akan tertular.

"Awalnya, bintik ini hanya satu. Aku berniat memeriksanya ke Rumah Sakit setelah Ibu berangkat menjemput ayah. Setelah diperiksa, aku disuruh untuk tidak bersentuhan langsung dengan orang lain. Saat aku kembali ke rumah, aku pura-pura tidak kemana-mana setelah Ibu pulang menjemput Ayah."

"Lalu?"

"Aku ingat, kakek dulunya adalah seorang tabib, jadi aku datang kemari dan meninggalkan surat itu."

"Aku yang merawatnya selama ini," ujar Sarutobi, "Dia akan sembuh dua sampai tiga hari lagi. Jika dia sembuh, aku akan mengantarnya pulang." terangnya.

"Kenapa tidak ngomong aja sama orang tuamu?" tanya Temari.

Tak ada yang menjawab.

"Jadi, dengan siapa kamu kemari?" Shikamaru mengalihkan pembicaraan.

"Bersama Lili anak tetanggaku. Dia baru saja pulang tadi."

"Well, kita telah menemukan Hinako, kasus telah terselesaikan." ujar Shikamaru.

"Kalian menginap saja di sini, ini sudah malam." tawar Sarutobi.

"Sepertinya begitu."

"Tapi, di sini tidak ada kamar lagi. Kemungkinan kalian hanya boleh tidur di sofa."

"Tak apa, Kek, segini juga kami sudah senang." balas Temari ramah.

Malam telah larut, angin kencang bergemurug membuat pepohonan menari-nari.

Sarutobi dan Hinako telah terlelap. Namun, Shikamaru dan Temari masih terjaga.

"Dingin sekali di sini." ujar Temari.

"Tunggu, aku nyalakan dulu perapian." ujar Shikamaru.

Shikamaru pun beranjak menyalakan perapian.

"Sini, setidaknya di sini hangat, Tema,"

Shikamaru dan Temari kini tengah duduk di hadapan perapian. Rasa kantuk mulai menyerang Temari. Dan secara ektase menyandarkan kepalanya di bahu Shikamaru dan terlelap begitu saja.

Tangan Shikamaru merangkul Temari memberinya kehangatan untuk malam ini.

Shikamaru merasa senang malam ini, namun dia tahu, bahwa esok akan menjadi hari yang panjang berurusan dengan keluarga Rei...

.

.

[CASE SOLVED]

.

Aoyama: Maaf pendek. Aoyama keburu pengen bikin case 3. Jadi agak (sangat) dipercepat untuk case ini. Tapi, masih mau ngerepiu 'kan? ^^v