MY COLD HEARTED SECRETARY

K r i s t a o

AstagaKriswu

"Sedikit berawan, Sir. Tapi Anda tetap bersinar cerah." Begitulah jawaban Sekretaris Huang setelah aku menanyakan cuaca pagi ini.

"Wanita semalam luar biasa, kau memang tidak pernah salah menilai." Sebenarnya aku tidak pernah membahas hal itu dengannya, tapi sesekali memberi pujian atas pekerjaannya tidak masalah.

Sekretaris Huang tidak menjawab. Sepersekian detik senyuman di bibirnya memudar, tapi kemudian terbit dan menghiasi wajahnya lagi. "Sir, saya ingin menyampaikan sesuatu," Aku mendengar nada lain di kalimatnya.

Cukup untuk membuat tanganku berhenti di udara saat aku sedang menata rambut. Kami saling bertatapan lewat cermin beberapa saat.

Ku rasa aku tau apa yang akan dia sampaikan. Tonasi yang dia gunakan terasa familiar bagiku. Mengingatkanku pada para wanita yang ada di golongan warna kuning.

"Tidak bisa, kita sama-sama tau jika itu tidak bisa ku lakukan Sekretaris Huang." Satu garis tercipta diantara kedua alisnya, dia pasti terluka karena kata-kataku. Tapi aku harus menegaskan jika tidak boleh ada hubungan romantis dengan karyawan. Tidak terkecuali dengannya.

Ini salahku karena sebelumnya tidak menekan lebih jelas bahwa tidak boleh ada hubungan selain profesionalitas diantara kami. Alasannya karena selama ini dia terlihat sangat lurus dalam pekerjaannya, sama sekali tidak menunjukkan sikap yang terkesan ingin menjadi kekasih bos.

Tapi apa boleh buat, aura ku memang kuat tidak terbantahkan. Cepat atau lambat dia pasti akan jatuh dalam pesona ku, ya kan?

"Tapi Sir-"

"Shh.. tapi jika itu mau mu," Aku maju selangkah, menempelkan jari telunjuk ku di bibirnya, "Aku bisa mengaturnya, hanya jika kau berjanji akan merahasiakan hal ini, hm?" Dia terkejut, itu sudah pasti.

"Izinkan saya menyelesaikan kalimat saya, Sir." Dia berkata setelah menurunkan jariku dengan tangan kanannya.

"Saya ingin menyampaikan jika saya akan resign."

Tunggu, apa aku tidak salah dengar?

"Apa ?!" Crap! Kenapa aku berteriak di depan hidungnya?! "Maksudku, apa alasan mu?"

"Itu rahasia, Sir." Dia menjawab dengan nada final. Mencegah ku untuk bertanya lebih banyak.

--

Aku mengusap dagu ku saat berjalan melewati jembatan kayu, para detektif melakukan ini, jadi mungkin aku juga akan mendapat titik terang mengenai alasan Sekretaris Huang.

Dan benar saja, sebuah opsi melintas di depan kepalaku dengan sangat berkilauan.

"Aku akan menaikkan gaji mu dua kali lipat, apa kau senang sekarang?" Aku berbalik untuk menatapnya yang berjalan di belakang ku.

Sekretaris Huang menghentikan gerakan jarinya diatas layar benda elektronik di tangannya. "Tidak, Sir. Saya akan tetap berhenti." Dia tersenyum setelah jawabannya.

Belum cukup rupanya.

"Aku akan-"

"Kris!"

Aku harus menerima saat kalimat ku terpotong oleh panggilan itu, aku berbalik dan menyunggingkan senyum untuk wanita di depan sana.

"Mom, kau terlihat sangat bersinar pagi ini," Ku percepat jalan ku melewati jembatan kayu yang berada di depan mansion keluargaku kemudian memberi pelukan hangat di pagi hari untuk wanita yang baru saja ku puji.

"You look oshem too, my Dragon.." kalimat yang terlalu sering ku dengar.

"Cepat masuk. Daddy mu sudah menunggu. Sementara itu biarkan aku berbincang sambil meminum teh dengan Sekretaris Huang." Kulihat Sekretaris Huang yang menyapa ibuku, mereka memang sudah saling mengenal walaupun tidak akrab.

Ku tatap pria paruh baya di depanku, dia masih diam sedari tadi padahal aku melihat ibu sudah menyesap teh nya dua kali. Sekretaris Huang dan ibuku duduk di ruang tamu yang berada di depan sana. Tapi aku bisa melihat mereka karena hanya ada dinding kaca sebagai pemisah.

"Dad, kita akan bicara atau berlomba untuk diam sepanjang hari ini?" Tepat setelah kalimat ku, sebuah remot tv mendarat di kepalaku.

Darn!

"Kau tidak tau di untung. Berhentilah bermain-main dengan para wanita itu Wu." Dan kalimat itulah yang menjadi sapaan pembuka nya.

Ini akan memakan waktu yang lama, anggap saja aku mendengar kata-kata mutiara ayahku sekarang.

Gerakan ibu yang memegang tangan Sekretaris Huang di seberang sana menarik atensi ku, aku sudah hafal dengan obrolan mereka.

Sekretaris Huang terlihat canggung lalu mengusap pelipisnya setelah ibu melepaskan tangannya, sementara ibu masih tertawa bahagia.

"Kenapa kau tidak menikah dengannya saja?" Aku memundurkan kepalaku saat kudengar suara itu terlalu dekat. Kulihat ayah sudah mencondongkan badannya kearah ku dan sertamerta memaku pandangan pada dua wanita itu.

"Itu tidak mungkin Dad." Ku rasa mereka sudah tidak sabar untuk menimang bayi dariku.

"Ibuku berusaha menjodohkan mu denganku lagi?"

Dari kursi belakang aku melihat mata Sekretaris Huang dari kaca di dalam mobil, "Ya, Sir. Tapi Anda tidak perlu khawatir, saya bisa mengatasinya." Dia melihat sekilas sebelum memfokuskan pandangan ke depan lagi karena dia sedang mengemudi.

"Hn. Mengenai resign mu, kau tau kan kalau kau tidak bisa berhenti begitu saja?" Sekali lagi pandangan kami bertemu di kaca, lalu dia mengangguk ringkas.

"Saya akan berhenti setelah memastikan Anda mendapat sekretaris baru, Sir." Ck. Dia sudah benar-benar memutuskan untuk berhenti rupanya.

Ini saatnya makan siang, tapi Sekretaris Huang masih berkutat dengan pekerjaan di mejanya. Bola mata di balik kacamata yang dikenakannya bergerak cepat selaras dengan kecepatannya membaca file-file itu. Sejak kapan dia menggunakan kacamata?

"Apa itu?"

Mendengar pertanyaanku, dia sigap berdiri. "Ini profil beberapa kandidat sekretaris baru untuk Anda, Sir." Jawabannya membuatku berdecak.

"Tidak bisakah kau tetap bekerja saja?" Akhirnya aku menyuarakan isi kepalaku, aku terganggu dengan keputusannya. Dia pekerja paling berkompeten disini, selama tujuh tahun. Tadinya dia masih hijau. Tapi kini dia profesional. Jika mencari orang baru, akan membutuhkan banyak sekali waktu untuk melatihnya.

Yang paling penting adalah, aku tidak ingin kehilangan penglihatan ajaib nya.

"My apologize, saya tidak bisa, Sir."

Aku kehabisan kalimat untuk menahannya sekarang. "Kenapa dengan mata mu?" Dia tergesa melepas kacamatanya, tersenyum kikuk. Sepertinya dia tidak sadar masih mengenakannya saat berbicara padaku.

"Bukan apa-apa, Sir. Saya hanya kurang istirahat." Oh.. jadi ini masalahnya.

Aku menduduki meja nya, sementara dia masih berdiri di seberang. "Mulai sekarang aku membebaskan mu dari kerja lembur," Sekretaris Huang masih belum bereaksi.

"Dan juga, kau tidak perlu datang pagi-pagi buta ke rumahku. Kau bisa langsung menungguku disini." Dia terlihat berfikir, menimbang.

"All right, Sir."

Bagus!

"Jadi, kau akan tetap bekerja?" Aku tidak bisa menahan sudut bibirku untuk terangkat.

"Tidak."

Wtf!

Tbc bosQue..

Gimana karakter Kris disini? Udah tengil belum? Udah narsis maksimal belum?

Tao P.O.V nya menyusul.

Kritik saran sangat diterima ya,

Jan lupa l.o.v.e and follow..