Hi, we are back again readers! Makasih sudah nungguin chap 3 yang semakin ancur ini! *readers: gak ada yang nungguin tau!* Ok, langsung aja reply buat readers:

Namikaze Meily Chan: Makasih udah meripiu! kami juga sebagai NS lover juga suka kalo mereka mesra-mesraan *plakk-mesum* ini dia chap 3! ^^

iiNSUKANAru-chan: Memang bahaya, aih padahal sedikit lagiii... *plakplakplak* memang benar malaikat harusnya gak punya nafsu, berhubung 2 author ini yang buat fic jadi napsuan deh. Trus Saku merasa bersalah kok melakukan 'itu'.

Rinzu15 The 4th Espada: Makasih udah fave! *Fidy n Tema melayang-layang n nyangkut di puncak monas* Betul, fans NS udah pada tepar baca fic-fic tragedy. Akhirnya ditengah fic-fic tragedy diapdet fic nista ini. Kalo yang ngintai mereka sih baca aja di chap ini.

Wi3nter: 2 author ini juga gak tega kok Naru sama cwe lain, jadi NS lover tenang-tenang aja. Makasih sudah fave, kami semakin terharuuuuu...

Masahiro 'Night' Seiran: Hahaha... sabar Night, Saku gak kecepetan in love. Dia belum in love kok, di chap 3 ini ada konfliknya.

Ultach Fussy Chan: Betul skali, chap depan baru ada lanjutan lemonnya hohoho... *ktawa nista*

Thia2rh: Haha, Tobi perannya memang lucu. Padahal sedikit lagi NS lemonan tapi gak jadi. Aih, kalian lanjutin dong lemonan! *di shannaro Saku*

Ciqa: Arigato ripiunya! chap 1 memang kurang seru, maklum masih awal-awal. Ini dia chapter 3!

Hanachi Mya-chan: Makasih, makin oke ya? #2 author ini melayang lagi sampe di puncak gunung. Naek-naek ke puncak gunung... (?)

Meli D'Ruzakky Konoha: Arigato, ini chap 3 udah diapdet! :)

Michael inoe the UZ: Di fave lagi? makasih100x *2 author ini melayang sampe ke luar angkasa* ini chap 3 nya!

Sakura 'Cherry' Snowfalls: Fave lagi trnyata~ *2 author ini hilang saking jauhnya melayang* makasih1000x! idenya judulnya dari NS community, ide critanya dari lukisan Tema yang ada di profil, hehehe...

Ammai: Ini dia chap 3! lanjutan lemon NS baru ada di chap depan, hohoho...

Cha-Nichi Kudo Oktora: ini dia chap 3, chap depan bakal ada lanjutan lemon NS. 2 author ini sudah gak sabar bikin mereka lemonan *plakk*

NaRa 'UzWa': Gomen lupa tentang pairing lain, SI mulai muncul di chap ini. Klo KH di chapter depan. SI ntar dibuat jadian kok! buat tambahan ada lanjutan lemon NS di chapter depan *ktawa2 nizta*

Hyuuchiha Prinka: Maap sudah bikin penasaran. Tnang aja, walau Hina sama Kiba tapi endingnya tetap sama Sasu. Kalo dibaca sampe abis ntar ngerti kok. Nanti ada juga epilognya spesial buat Sasuhina fans! ^^

Kiyoi Rie Aozora: Makasih infonya! chap ini bakal diperbaiki kok. Kalo ada kesalahan lain harap maklum, gak sempet periksa *plakk-bilang aja males XD*

Ichigo: Makasih juga udah ripiu! ini dia apdetannya!

Putri Luna: Skali lagi makasih udah meripiu!^^ happy reading chap 3!

Makasih juga buat Elvenlady18, ficnya memberi inspirasi untuk penggunaan bahasa malaikat di fic ini. *Elven: lha? ide gua di colong!*

.

.

.

Fidy: eh, imut gak penname baru kami. Aaa~ lagi tegila-gila sama Gaara Sabaku *lupakan*. Oyah chap ini ada bahasa elf nya. Saya aja gak tahu, ini idenya Tema-chan

Tema: Gomenn... gua juga suka pake bahasa elf hahaha *ngacir*

Fidy: Buat yang jadi silent readers juga makasih! *memang ada?* tanpa banyak bacod lets begin chapter 3!

Summary: Sakura Haruno, seorang malaikat cupid yang ditugaskan turun ke bumi bersama teman-temannya, Ino dan Hinata untuk menyatukan pasangan. Suatu hari, ia tersesat di bumi dan ditolong seorang manusia bumi, lalu perlahan Sakura menyukainya. Namun, seorang malaikat tidak boleh jatuh cinta pada manusia karena peraturan di negri khayangan yang membuatnya menderita.

Story by: Fidy Dsc & Sabaku Tema-chan

Genre: Campuran Romance, Hurt/comfort, Fantasy

Disclaimer: Masashi Kishimoto sensei yang pinter, baek, rajin menabung (?)

Inspired by: Komunitas Bumi Surga

Pairing: NaruSaku, ShikaIno, SuiKarin, KibaHina slight SasuHina (SasuHina hanya muncul di ending)

Warning: Ancur, gak lepas dari TYPO, AU, OOC abis, rating semi M

Heaven and Earth Story Chapter 3: Conflict

x0x0x0x

Sakura's POV

Masih dalam keheningan kami sama-sama menunduk. Astaga apa yang telah aku pikirkan dan dia perbuat tadi? Setan apa yang telah merasukiku? Benar-benar melanggar peraturan. Bukan itu saja, tadi pagi dan semalam. Apa yang aku lakukan? Bagaimana kalau ayahku tahu? Bagaimana?

Kami… kau pasti tahu kan? Apa aku dimaafkan?

Baiklah aku berjanji akan lebih berhati-hati setelah ini.

"Sakura-chan, sebaiknya kau tidur ya." Ujarnya lembut yang memecah keheningan ini.

Aku mendongak takut-takut menatap matanya. Bisa ku baca dari sorot matanya dia menyesal. Lalu ia agak sedikit condong kearah ku. Tadinya aku pikir dia akan menciumku lagi. Ups. Kemana pikiran ku sekarang?

Ternyata dia hanya membantuku berbaring dan menaikkan selimut menyelubungi badanku.

"Selamat tidur." Ujarnya berbisik. Tepat di daun telingaku. "Besok, aku janji akan membantumu mencari saudarimu kembali. Tidurlah."

Kemudian aku menutup mata perlahan. Cahaya yang tadinya masih dapat kulihat di balik selaput mata sudah meredup. Kini yang ada hanya kekosongan dan gelap. Tidak ada yang kurasakan sekarang. Hanya pikiran yang terombang-ambing di atas gelombang yang tiada tara ini. Ini mimpiku. Dan aku pikir malam ini pria blonde itu juga tidur di sampingku.

.

.

.

Sekitar satu jam aku berbaring, aku merasa tidak tenang. Lumayan lelah aku berusaha terus memejamkan mata, namun hasilnya aku hanya capek. Ternyata dari tadi aku aku belum tertidur. Yah, aku tidak bisa tenang tidur bersama pemuda yang hampir melakukan 'itu' denganku.

Aku mengintip di balik selimut. Bisa kulihat Naruto sudah terlelap di sampingku. Perasaan bersalah kini kurasakan menyelimutiku. Aku ingin langsung saja pulang ke negri khayangan, tapi aku tidak diijinkan pulang sampai tugasku selesai. Kucoba untuk bangkit dari tempat tidur walau badanku terasa berat. Kutatap pemuda yang terlelap di sampingku itu.

"Maaf Naruto, aku tidak bisa bersamamu lagi..." lirihku dalam hati. Entah mengapa hati ini sangat merasa bimbang. Aku juga tidak tahu.

Kuambil secarik kertas yang terletak di meja belajar Naruto. Kulihat ada pena juga di sana. Aku pun mulai menulis di atas kertas putih itu. Masih dalam setengah berusaha menulis, aku melirik jam dinding yang tertempel tepat di dinding kamar ini. Ternyata sudah menunjukkan jam satu malam. Pantas saja sunyi sekali rasanya. Kemudian kutatap kembali Naruto yang masih tertidur di sana.

"Enshu-falah-nah..." (farewell) aku membisikkan salam perpisahanku di telinganya. Sangat pelan sehingga aku tidak mengganggu kelelapannya malam ini.

End of Sakura's POV

Normal POV

Sakura diam sebentar di tempat. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya mendekat kearah pintu kamar. Perlahan gadis pink itu pun membukanya. Agak susah ia membuka itu karena pintunya memang sudah agak tua.

Bunyi 'krreeet' pintu itu serasa nyaring saat sepi seperti ini. Melangkah lagi kakinya keluar dan menutup pintu itu perlahan—berusaha agar pria blonde itu tidak terbangun. Sepertinya tidurnya memang sangat nyenyak sekali.

Berjalan menelusuri koridor seperti halnya seorang maling, Sakura menghela napas perlahan, deruan napas saja sangat terdengar disaat jam-jam seperti ini. Setelah sampai diujung koridor—mendekat kearah pintu ia pun membuka kembali pintu yang menuju keruang depan. Masalahnya memang banyak sekali pintu dalam ruangan ini. Kalau tidak hapal betul tata letak ruangan ini, bisa-bisa tersesat.

Sakura mengintip dari balik pintu dan mendapati Shion yang tertidur di ruang depan. Kelihatannya gadis pirang itu sedang lelap sekali.

Entah mengapa tubuh si pink gemetar, namun ia berusaha untuk tenang dan melangkah sepelan mungkin agar tidak membangunkan sang pemilik rumah kos.

"Bagus, tinggal dua meter lagi!" gumamnya dalam hati. Saat berusaha meraih gagang pintu terakhir tiba-tiba...

"Hei, mau kemana?"

Dengan gemetar Sakura menoleh ke belakang—menoleh keasal suara yang dirasakannya itu suara Shion, mungkin sedang mengigau. Sakura mengelus dada dengan lega karena dikiranya ia membangunkan pemilik rumah kos. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya tadi.

Sakura berhasil keluar dari rumah kos itu. Kali ini dia bisa bernapas lega dulu sejenak. Tapi sepertinya ia tidak punya tujuan untuk sekarang, tidak tahu akan pergi ke mana?

Ehm, setelah ia bengong beberapa saat akhirnya ia memutuskan untuk ke taman tempatnya mencari Ino dan Hinata tadi pagi.

Singkat cerita setelah Sakura sampai ke taman—yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah kos itu, Sakura langsung duduk di bangku taman. Tempat yang kemarin sebagai tempat bercanda ria, mengumbar tertawa dan makan es krim bersama Naruto.

Malam memang sangat beda kalau siang. Siang di sini udaranya sejuk dan entah mengapa mala mini begitu menyesakkan.

Sambil merenungi perbuatan dan kelakuannya yang sudah ia lakukan kemarin dan beberapa waktu kebelakang, mata emerald-nya menatap langit malam yang terbentang luas di sepanjang penglihatan. Malam itu langitnya bersih tanpa bintang. Aura langit sangat kelam malam ini. Hanya dihiasi bulan yang bercahaya setengah redup.

Kini ia menatap rembulan. Rembulan itu seolah mampu menarik penglihatannya lebih dalam lagi, pikirannya terus terbang mengingat tempat tinggalnya: 'Negri Khayangan Kumo'.

Tergambar jelas di pikirannya saat ia bermain malam-malam bersama Ino di khayangan, sewaktu ia disanjung oleh ayah dan ibu, sewaktu ia duduk di atas awan, semuanya sangat menyenangkan, "Ino, Hinata, kalian dimana?" lirih Sakura yang masih memandang langit.

.

.

.

Entah karena apa tiba-tiba Naruto terjaga dari tidurnya. Naruto berusaha untuk bangun sepenuhnya karena tenggorokkannya dirasakannya haus. Saat itu jam menunjukkan pukul setengah dua malam.

Pria blonde itu melempar pandangan ke jendela kamarnya yang saat itu sedang terbuka. Bisa ia rasakan hembusan angin dingin hangat dari kepekatan malam. Sejenak ia menatap keluar jendela masih dengan mata agak berat, masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya yang tadi terbawa oleh mimpi, pria itu kemudian melempar pandangan sekelilingnya.

Rasanya ada yang kurang dalam penglihatannya. Otak lemotnya yang memang benar-benar lemot masih berusaha mencerna sedikit, sedikit. Rasanya ada yang mengganjal di hatinya. "Sa-Sakura-chan?"

Mata Naruto tidak sengaja menangkap sepucuk surat di atas kasurnya. Tangannya terjulur untuk mengambilnya. Langsung saja dilihatnya kertas itu—yang memang dikiranya tadi ada tulisannya.

To: Naruto

Sudah kuputuskan untuk pergi sendirian mencari saudariku. Aku benar-benar merasa bersalah sudah meninggalkanmu tanpa sepengetahuanmu, aku minta maaf Naruto. Tapi aku tidak bisa terus tinggal bersamamu walau kau sudah membiayai tempat tinggalku sementara.

Kusadari kau orang yang baik, tapi aku tidak bisa menerima kebaikanmu itu. Aku ini bukan siapa-siapa, kita bahkan baru saja bertemu.

Lalu, bukankah kau bilang kita ini 'teman' kan? kita ini hanya sebatas teman. Tidak mungkin aku melakukan hal yang tidak-tidak dengan temanku, orang yang kupercayai. Karena itu kumohon jangan ikuti aku, jangan mencariku.

Aku juga sudah tahu kau menyukaiku Naruto, tapi maaf kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku menerimamu sebagai teman, bukan sebagai kekasih karena kita 'berbeda'.

Apa kau mengerti maksudku Naruto?

Sekali lagi aku minta maaf jika aku telah melukai perasaanmu.

Sakura Haruno

Pria blonde itu terbelalak kaget setelah ia menyelesaikan membaca kertas itu. Entah karena tulisan yang mana—yang tertulis di sana, hatinya sakit sekali. Bukan itu saja, ia juga merasakan perasaan yang benar-benar tidak enak. Ia tidak menyangka Sakura akan langsung meninggalkannya seperti ini.

Sakura…

Pria blonde itu gusar, ia hanya bisa mengacak-acak rambut blondenya dengan kesal.

"AAAARRGHH! Sial, kenapa aku terlalu bernafsu! Ini semua salahku!" namun tiba-tiba ia teringat sesuatu alias otaknya baru berjalan. "Ga-gawat! SAKURAAAAA... aku harus menyusulnya, kalau sampai 'itu' terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!"

Bergegas Naruto menyambar jaket orange-nya yang tergeletak di samping kasur—tergeletak di lantai. Secepat-cepatnya ia berlari keluar kamar. Pria blonde itu terus berlari sampai ke pintu depan melewati Shion yang masih terlelap di sofa. Pria blonde itu membuka pintu dengan garang. Dan ternyata memang pintunya tidak dikunci. Berarti Sakura memang keluar tadi lewat sini.

Langsung saja pria blonde itu melangkah cepat menuruni anak tangga depan, "Gawat, malam-malam begini pasti Akatsuki mengincarnya!" gumam Naruto, kakinya masih tetap berjalan cepat hampir berlari menuju ke luar pagar rumah kos itu, "tapi, aku tidak tahu dimana dia sekarang." Naruto berhenti sesaat dan mengambil napas sejenak, di sekitar sini kalau malam memang sepi sekali. Sangat berbahaya buat seseorang yang keluar pada jam-jam sekarang. Apa lagi kalau Sakura yang keluar?

Argh! Lagi. Naruto hanya bisa mengacak rambut pirang jabriknya. Namun sedetik kemudian pria itu tersenyum sendiri. Dipikirannya tiba-tiba terlintas akan sesuatu, "Pasti dia disana!"

.

.

.

Ino and Hinata's side

6 jam sebelumnya...

Di sisi lain, mereka yang sudah berhasil menyatukan beberapa pasangan dua hari kebelakang ini payahnya baru menyadari bahwa mereka kehilangan Sakura. Tentu saja mereka tidak tinggal diam dan mencari sahabat mereka, apalagi Sakura adalah anak seorang petinggi di Negri Khayangan Kumo. Bisa gawat kan kalau mereka menelantarkan Sakura.

"Hinataaaa? Kau dimana?" Ino tampak panik mencari sahabatnya yang satu lagi. mereka kini masih berada di taman yang letaknya bersebelahan dengan kota Konoha. Ternyata perjalan mereka sudah panjang.

"I-Ino-san, aku disini!" Hinata melambai-lambaikan tangannya dari balik pepohonan.

"Hei, jangan sampai kau ikut hilang juga! Aku ini cemas sekali tahu! Apalagi sekarang sudah malam, bagaimana kalau terjadi apa-apa? Untuk sementara kita tidak bisa pulang kalau tidak menemukan Sakura karena ayahnya pasti akan mengusir kita kalau sampai kehilangan putri tunggalnya!"

Hinata hanya tersenyum tipis. "Te-tenang saja Ino-san, walaupun sekarang aku ini malaikat t-tapi aku ini dulunya adalah manusia."

"Hah? jadi kau..."

"Benar, wa-walau aku ini malaikat junior ta-tapi aku tidak akan tersesat di bumi tempat tinggalku yang lama."

"Aku baru tahu kau ini malaikat kalangan bawah, tapi bagiku bukan masalah walau kau bukan kalangan atas karena kau tetap saja sahabatku."

"Te-rimakasih I-Ino-s-san." Hinata menatap sahabatnya yang berambut pirang.

Sebenarnya malaikat di Negri Khayangan Kumo terdiri dari dua kalangan. Kalangan atas adalah malaikat murni yang lahir di negri itu, sementara kalangan bawah adalah malaikat yang dulunya adalah manusia.

Malaikat kalangan bawah adalah roh manusia yang baik dan menjelma menjadi malaikat. Roh manusia yang jahat tidak diterima di negri Khayangan (surga) dan diasingkan ke neraka. Sebelum menentukan tempat kembalinya, roh manusia dibawa ke pengadilan langit dan akan dirundingkan perbuatannya di bumi. Pasti Hinata dulunya adalah orang yang baik sehingga ia menjadi malaikat.

Namun, negri khayangan ternyata mendiskriminasikan manusia yang menjadi malaikat sehingga disebut kalangan bawah. Dulunya di khayangan, kalangan bawah diterima dengan baik dan seharusnya tidak ada kejahatan dan ketidakadilan di sana. Setelah ada beberapa iblis yang menyamar menjadi malaikat, mereka mengkudeta posisi petinggi di khayangan, mempengaruhi para malaikat dan mengubah hukum sehingga iblis yang tidak diterima diijinkan masuk ke khayangan.

Perlahan-lahan, malaikat menyadari bahwa mereka dipengaruhi dan menyadari keberadaan iblis. Mereka bertekad mengusir para iblis lalu melemparnya ke neraka. Malaikat berpikir setelah mengusir mereka masalah di khangan selesai namun ternyata tidak. Ada iblis yang tersisa dan kembali mengkudeta petinggi khayangan sehingga malaikat dan manusia tidak boleh saling bertemu, bersahabat, bahkan mereka tidak boleh saling menyukai.

Jika sampai terjadi, mereka akan menghukum malaikat dengan mengusirnya ke bumi dan membunuh manusia yang mendekati malaikat. Iblis melakukan itu karena mereka iri dan membenci para manusia.

.

.

.

Kembali ke tempat Ino dan Hinata. Kedua malaikat itu duduk di bawah pohon dengan menggunakan wujud manusia masih seperti kemarin-kemarin. Sedangkan pikiran mereka sedang memikirkan cara menemukan sahabatnya—yang dikiranya hilang tidak tahu kemana—padahal nyatanya mereka meninggalkan Sakura, kalau mereka sadar.

Agak lama mereka duduk di sana dalam gelutan pikiran masing-masing. Tiba-tiba terpikir sesuatu dalam benak Hinata.

"Ikut aku I-no-san." Ajaknya, gadis indigo itu kemudian beranjak berdiri dari duduknya.

"Anaria shola?" (kemana tujuanmu?).

"S-sudahlah, ikuti a-ku s-saja." Gadis indigo itu meraih pergelangan lengan sahabat seperjuangannya lalu mengajak ia mengikuti langkahnya. Mau tak mau Ino berdiri dan mengikuti arah jalan Hinata. Dia juga tidak tahu tempat yang akan dituju gadis pendiam ini.

Singkat cerita. Mereka berdua menelusuri kota Konoha lewat pinggiran jalan yang lumayan padat dengan masyarakat. Sampai pada mereka tiba di pusat pertokoan Hinata menunjuk sebuah halte bus yang sedikit membuat Ino bingung. Dia sengaja memang tidak banyak tanya. Mungkin sedang kelelahan.

"Ino-san punya uang tidak?"

Ino melirik Hinata lagi. Malaikat blondie itu merogoh saku roknya lalu mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna ungu. Kalau dilihat isinya cukup banyak untuk keperluan mereka selama menjalankan misi di bumi. Ino mengambil dua lembar uang kertas dari dalamnya.

"Apa ini cukup?"

Hinata mengangguk singkat, bersama-sama mereka berjalan menuju halte bus yang sekarang tidak terlalu jauh dari mereka. Hanya sebentar mereka duduk dalam halte bersama beberapa penumpang yang lain.

Sebuah bus berwarna orange berhenti di depan halte. Pintu bus itu terbuka secara otomatis—menampakkan seorang petugas dari dalam dengan menggunakan seragam kerjanya. Orang itu tersenyum dan payahnya Ino malah sempat membalas senyumnya.

Hinata langsung menarik Ino masuk ke dalam bersama-sama dengan penumpang lain pula, mereka duduk berdekatan di salah satu kurs di sana. Tidak berapa lama kemudian dirasakan mereka busnya mulai berjalan. "Tempatnya agak jauh, tidak apa-apa Ino-san?" Hinata mengalihkan pandangan Ino yang melihat keluar jendela kepada dirinya kembali.

Ino menggeleng. "Kalau tempatnya jauh tidak apa-apa, tapi yang jadi masalah..." tangan Ino tiba-tiba menutup mulutnya, entah mengapa ia merasa jadi aneh karena naik ini, padahal baru sebentar ia duduk di sini, tapi mengapa ulu hatinya benar-benar tidak enak. "HUEKHH..." tampaknya Ino menahan mualnya sendiri.

"I-Ino-san ti-tidak apa-apa?" perlahan Hinata mengusap punggung sahabatnya berusaha membantu menenangkan perasaan mualnya yang bergejolak entah karena apa. Tampaknya Ino mabuk perjalanan alias mabuk darat, seingatnya Ino memang belum pernah naik bus sama sekali selama ini.

"A-ku tidak apa-apa H-Hinata, tolong berikan sesuatu padaku." Pinta Ino—kelihatannya wajahnya agak pucat.

Hinata mengulurkan tangannya memberi kantong plastic yang sebelumnya disimpannya di saku celananya. Ia sudah mengira akan terjadi hal seperti ini. Untung saja ia menyimpan barang seperti itu. Masalahnya memang ia orang yang cerdas yang selalu sedia payung sebelum hujan.

Lumayan lama Ino menahan gejolak alam dalam dirinya yang sungguh tidak bisa ditunda nanti saja. Ia memaksa dirinya memejamkan mata selama perjalan. Mungkin itu adalah cara jitu untuk menghindar dari yang namanya mual dalam perjalan.

Perjalanan yang memakan waktu hampir sejam akhirnya berakhir dengan menghela napas lega karena selamat. Jujur saja Hinata lumayan takut dengan yang namanya kendaraan. Tapi mau bagaimana lagi. Kendaraan tidak bisa dihilangkan dari kehidupan sehari-hari.

Tepat disebuah halte berikutnya bus yang mereka tumpangi berhenti. Satu persatu orang yang ada di dalam keluar dari sana.

Gadis indigo itu melirik pada gadis pirang yang duduk disebelahnya. Tidak. Mungkin lebih tepatnya Ino duduk dengan memejamkan matanya alias ketiduran.

Hinata menghela napas ringan, kelihatannya sahabatnya ini capek. Padahal dirinya juga sangat butuh tidur. Tapi seingatnya dulu ia juga sering ketiduran di dalam bus. "Ino-ssan, ki-kita sudah sampai."

Untung tidak lama membuat Ino terjaga dari tidurnya, cukup menyentuh bahunya dan memanggil namanya saja,"Hmm... dimana ini?" perlahan mata aquamarine-nya terbuka. Gadis itu langsung melempar pandangan keluar jendela.

"Te-nang saja Ino-san, kita ma-masih di kota Konoha." Terdengar suara lembut dari gadis di sebelahnya. "Ayo turun, kita sudah dekat dengan tujuan."

Mungkin lebih baik Hinata kembali menuntun sahabatnya sampai mereka tiba di perumahan.

"Tempat apa ini?" ujar Ino setelah mereka menginjakkan kaki di depan sebuah perumahan yang tidak jauh dari halte bus tadi. Ino merasa tempat yang dipijaknya ini adalah tempat yang sangat asing. Apa mungkin asing dirasakannya karena ia belum pernah saja kemari.

"Ini perumahan."

Sedangkan Hinata, sepertinya ia tidak sedikit pun merasakan asing di sini. Sepertinya ia sangat mengenal betul tempat ini.

Ino jadi bingung sendiri, memangnya kapan gadis ini pergi misi kesini?

Perumahan itu memang sepi. Tidak peduli malam atau pagi tetap sepi. Kalau sudah merasa disini Hinata menjadi merasakan de javu dalam dirinya. Rumah-rumah kuno jaman dulu yang terlihat elit ini. Pohon cemara yang berada di sekitar sini. Dari tempatnya berdiri Hinata menghirup udara dalam, serta udara menyejukkan di sini juga. Sangat ia rindukan.

Hinata menarik tangan Ino kearah jalannya, "Di sini, Ino-san."

Langkah mereka berhenti sekarang tepat di depan sebuah rumah mewah—masih dengan bangunan kuno.

"Rumah siapa ini?" mata Ino terbelalak lebar melihat sebuah rumah mewah didepannya ini. Bukan karena apa, hanya saja rumah ini berbeda dengan rumah-rumah lain yang terlihat sudah tua.

Hinata mengembangkan senyumnya, ia merasa sangat rindu sekali. Entahlah karena apa, "Ini rumahku yang dulu," kata Hinata pelan, "Setelah kematianku rumah ini dihuni oleh mantan kekasihku, Kiba."

Belum sempat Ino menjawab dan rencananya ia akan bertanya lagi gadis tapi indigo itu sudah masuk ke dalam. Mau tak mau, Ino hanya mengikuti jejak Hinata. Selagi jejaknya tidak melenceng tidak masalah.

Perlahan Hinata mengetuk daun pintu utama rumah ini. Sedangkan Ino masih celingak-celinguk di belakangnya memperhatikan situasi tempat ini. Benar-benar mewah.

Hening.

Diketuknya sekali lagi, tapi masih tidak ada jawaban.

"Mungkin orangnya sedang tidak ada di rumah." Sahut Ino santai yang direspon Hinata dengan mengangkat bahu.

"Hei, kalian siapa?" Sebuah suara mengagetkan mereka dari arah belakang mereka. Sontak kedua gadis itu menoleh kearah suara yang datang tadi. Tampak seorang pemuda berambut nanas di hadapan mereka.

"Shi-Shikamaru, kamu Shikamaru-kun?" kata Hinata dengan ekspresi yang sulit ditebak. Lalu Ino kembali menoleh kearah pria yang dimaksuda oleh Hinata tadi dengan nama Shikamaru.

Paras Shikamaru mulai memucat—mungkin lebih tepatnya terkejut akan sesuatu, "Hah, ti-tidak mungkin, kamu kan... Hinata?" ia menunjuk kearah Hinata dengan ketidak pedulian, "bukannya kamu sudah meninggal setahun lalu? Bahkan aku hadir saat pemakamanmu!" Pemuda nanas yang bernama Shikamaru itu jatuh terduduk lemas di tempat. Pria itu menyandarkan badannya yang ikutan terkejut dipagar rumah mewah itu. Ia tidak menyangka bertemu kekasih sahabatnya yang sudah meninggal dunia itu.

"Sinu a'manore, Shikamaru-kun (Kita bertemu lagi, Shikamaru-kun). Nanti kujelaskan semuanya. Apa kau bertemu Kiba?" balas Hinata seolah tidak pernah terjadi apa-apa diraut wajahnya. Sedangkan Ino, dia sepertinya yang paling bingung dengan semua ini. Jadi dia memilih diam di tempat dulu dan mendengar untuk sementara.

Shikamaru terdiam sebentar, "A-anu, Kiba sudah tiga bulan pergi dari rumah ini. Dia sekarang tinggal di rumah kos bersama Naruto." Jawab Shikamaru sejujurnya, ia sedikit bersuara dengan agak ketakutan. Mungkin karena keterkejutannya, siapa yang tidak kaget kalau bertemu dengan orang yang sudah meninggal. "Ini pasti cuma mimpi." Batinnya dalam hati. Hanya itu yang ia percayai sekarang.

"Fandu alah belore?" (Siapa kau?) Ino akhirnya ikut bicara juga. Ia paling tidak bisa jadi obat nyamuk di mana-mana,

"Uhm Ino-san, i-ini Shikamaru. Dia sahabatnya Kiba sejak SMA. Lalu, sahabatnya yang satu lagi namanya Naruto. dulu Shikamaru tinggal disini dengan Kiba. Shikamaru-kun, ini Ino-san, sahabatku." Hinata memperkenalkan temannya pada Shikamaru. Perlahan mereka berdua berjalan mendekat kearah Shikamaru.

Pria nanas itu agak was-was dalam bertindak. Kembali lagi dengan pikiran negatifnya. Memang lebih baik berfikir negatif dulu kan?

Saat mereka sudah saling dekat, Ino mengulurkan tangannya, agak ragu Shikamaru membalas jabatan tangan itu. Saat kulit Shikamaru menyentuh kulit telapak tangannya ada Sesutu perasaan yang Ino rasakan. Ia baru merasakan getaran aneh dalam perasaannya. Langsung saja gadis pirang itu mengambil kesimpulan dalam benaknya. Sepertinya ia menyukai pemuda yang satu ini pada pandangan pertama.

Memang agak lama mereka berjabat tangan, tapi akhirnya dilepas karena deheman lembut si indigo.

"Troublesome, aku antar kalian berdua ke dalam ya." Shikamaru mengajak mereka masuk ke rumah mewah itu. Tidak enak berlama-lama di luar kalau nyatanya hari sudah menjelang malam. Apa lagi kalau sampai ada orang yang lihat dan berfikir macam-macam.

Setelah Shikamaru dan kedua malaikat itu masuk ke dalam. Mereka berdua langsung dipersilahkan Shikamaru duduk di ruang tamu.

'Sudah lama aku tidak ke sini.' Batin Hinata sambil melempar pandangan seisi rumah yang pernah dulu jadi miliknya. Ia hanya bisa tersenyum simpul.

"Silahkan diuduk." Ujar Shikamaru kepada kedua tamu yang mengejutkan ini.

Hinata dan Ino mengangguk. Segera saja mereka berdua duduk di atas sofa itu. Kemudian barulah Shikamaru yang ikut duduk di sana. Masih dengan kebingungan dan keheranan yang terlanda di hatinya ini.

Rumah lama Hinata sangat besar dan mewah. Ruang tamunya penuh dengan keramik dan pigura unik. Beberapa foto dan lukisan ada yang dipajang di dinding menghiasi tempat ini. Masih seperti yang dulu. Sekali lagi Hinata tersenyum sendiri.

Ino menatap salah satu sebuah foto di ruang itu yang tergantung rapi di dinding. Foto seorang pemuda berambut cokelat sedang duduk di sebuah kursi dengan tato taring warna merah di pipinya. Pemuda itu tengah merangkul seorang gadis indigo berambut pendek di sampingnya. Mereka tersenyum satu sama lain. Di foto itu tertera tanggal pengambilan gambar. Foto itu sudah lama, Sekitar tiga tahun.

"Ini... kau tiga tahun yang lalu?" tanya Ino masih dengan menatap apa yang dilihatnya itu dari tempat duduknya.

Hinata mengangguk. "Ini fotoku sewaktu SMA." Rasanya memang sudah lama sekali foto itu. Ia merasa beruntung dapat melihat kembali suasana itu.

Gadis di foto itu tampak sedikit berbeda. Di foto itu mukanya lebih pucat dari sekarang, dan tubuhnya kelihatan kurus serta dipenuhi dengan perban yang mungkin menutupi lukanya. Itu lah yang sedikit membuat Ino ingin bertanya kembali.

"Ada apa denganmu yang dulu? Kenapa tubuhmu dulu dipenuhi perban? Di foto ini kau juga memakai kursi roda."

Hinata diam sebentar—wajahnya tertunduk, ia agak terkejut dengan pertanyaan dari Ino tadi, "Vendel'o eranu, Ino-san." (tolong bantu aku melupakannya, Ino-san)

"Kenapa?" Ino masih merasa penasaran. Ia harus mengetahuinya walau sedikit saja.

"I-itu adalah pengalaman yang pahit bagiku." Hinata menyempatkan menghela napas terlebih dahulu—mungkin lebih baik tidak menutupi masa lalunya pada sahabtnya sendiri, "Du-dulu aku pernah me-ngalami kecelakaan dan d-divonis cacat. La-lu, d-dokter bilang u-umurku tidak akan lama lagi." hanya mengingat saja itu sudah cukup membuay hatinya perih. Ia harus tegar dan kuat. "I-itu mem-bbuatku sedih dan trauma. Dulu Kiba-kun se-selalu menghiburku, walau cacat dia masih mau menerimaku pa-padahal teman-teman di sekolah dulu selalu menghinaku. Aku terus bertahan selama dua tahun, menjalani berbagai operasi dan berusaha untuk sembuh tapi sia-sia."

Shikamaru yang masih berada di sana berusaha menyimak dengan baik cerita dari Hinata (atau bukan Hinata) ini walaupun nyatanya ia juga sudah mengetahui cerita itu. Pria itu menjadi sulit bernapas dengan fakta yang di hadapannya ini. Tenang Shikamaru, tenang.

Hinata kembali melanjutkan kata-katanya setelah gadis itu melirik Shikamaru sebentar, "Setahun lalu aku sekarat. Di ambang kematian aku menyampaikan pesan terakhir untuk Kiba-kun."

"Apa yang kau katakan waktu itu?" Ino menyela cerita Hinata.

"Aku memintanya untuk merelakan kepergianku. Namun sekarang aku bisa menemuinya lagi." Jawab Hinata dengan wajah sedih.

Ino hanya bisa tertegun sejenak, ia merasa sedikit iba dengan sahabatnya ini—yang ternyata memiliki hal pahit dalam hidupnya yang berkisar beberapa tahun itu. Mengapa Hinata tidak bercerita tentang ini dari dulu? "Aku paham Hinata, itu memang pengalaman yang pahit. Kau sudah berusaha untuk melupakannya tapi kita harus mencari Sakura sekarang!"

Hinata menatap mata aquamarine sahabatnya. Seulas senyum menyungging dari bibir mungilnya. "Benar, aku harus tegar Ino-san. Kita tidak boleh buang waktu lagi. Shikamaru-kun, tolong antarkan kami ke tempat Kiba-kun, boleh tidak?"

Shikamaru masih tertegun atas lontaran kata Hinata yang nyatanya memang tidak ada yang salah, tapi masih ada satu lagi yang mengganjal di hatinya—mengingat ia seorang jenius ini harus diselidiki, "Ta...tapi kau belum menceritakan semuanya. Bagaimana kalau sampai Kiba melihatmu yang seharusnya sudah meninggal?"

"Ti-tidak ada waktu lagi, na-nanti akan kujelaskan juga pada Kiba-kun." Hinata mulai berdiri dari duduknya.

"Tenang dulu Hinata, sekarang sudah malam. Tempat kos Kiba berada jauh dari sini, sekitar satu setengah sam ke sana. Tidak mungkin kita langsung ke rumahnya malam-malam begini!" Shikamaru menatap arlojinya yang ternyata menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Ah, waktu memang berjalan lebih cepat sekarang.

Hinata kembali duduk di sofa dengan lemas, harapan yang menggebu-gebu ternyata memang harus ditunda dulu karena waktu.

"Sebaiknya kalian istirahat saja dulu." Tawar Shikamaru dengan maksud baik. "Dan maaf Hinata, sebelumnya aku masih belum mengerti dengan semua ini." Tambahnya seraya menatap lurus ke hadapan gadis indogo itu. Ia masih berfikir mana mungkin seorang yang sudah meninggal hidup kembali. Memangnya para ilmuwan sudah menemukan obat pembangkit manusia yang sudah mati lagi? Kalau ada kenapa pria nanas itu belum mengetahuinya?

Hinata hanya bisa tersenyum untuk sekedar mencairkan keadaan. Entah mengapa ketika Shikamaru memandang senyum Hinata ia menjadi luluh dan tidak ingin bertanya lagi seolah ia terkena sihir kuat dari balik senyum tipisnya. Dan yang dirasakannya sekarang ia mulai mengantuk.

"Ba-baiklah, kita menginap disini dulu Ino-san." Hinata mengajak Ino bangkit dari duduknya. "Kamarku masih di tempat yang lama kan Shikamaru-kun?"

Shikamaru hanya mengangguk.

"Terimakasih." Setelah itu Hinata langsung menarik lengan Ino yang sebenarnya enggan ditarik itu menuju ke suatu kamar yang letaknya masih diingat oleh Hinata. Mungkin kamar yang ditujunya adalah kamar Hinata dulu.

.

.

.

Back to Sakura

-02.00-

Suasana sunyi menyelimuti taman Konoha malam itu, hanya terdengar suara jangkrik yang menjadi alunan lagu disuasana sepi malam menjelang pagi ini.

Entah sudah berapa kali gadis pink itu menghela napas. Ia masih betah duduk di bangku taman—yang tadi sore adalah tempat ia duduk istirahat bersama pemuda jabrik itu.

Entah mengapa perasaannya takut dan cemas saat ia jauh dari rumah kos itu. Sebenarnya ia ingin mengeluarkan air mata, tapi ia bukan anak kecil yang cengeng dan selalu dihibur orang. Ia bukan lagi gadis di bawah umur yang tidak mengetahui apa-apa. Ia juga bukanlah gadis yang hanya pasrah dengan keadaan.

Ia malah yang membantu percintaan remaja, ia juga selalu mengetahui semua perasaan orang yang berada di dekatnya. Termasuk perasaan tanda-tanda pria blonde itu. Ia tahu pria blonde itu mulai tertatik kepadanya karena gadis cherry ini sadar ia sendirilah yang memancingnya. Itulah penyesalan dan kesalahannya.

Walau gadis pink ini tidak menoleh atau menatap ke belakang. Ia tahu ada sesuatu yang mendekat kearahnya. Perasaannya lah yang menyampaikan itu. Semakin lama langkah kaki yang menggema kecil itu semakin dekat.

"Fandu dath belore?" (siapa disana?) dengan gugup Sakura memberanikan diri memutar badannya melihat siapa yang datang.

Suara langkah itu semakin terdengar. Dan sialnya jantungnya seakan mau loncat dari tempatnya. Sekali lagi Sakura melempar pandangan dibalik arah lampu jalan di pinggir taman. Arahnya dari tempat yang tidak terkena cahaya lampu taman karena itu Sakura tidak bisa melihat siapa yang datang.

Sosok itu mendekat dan akhirnya terlihat setelah terkena sinar lampu taman. Seorang pemuda berambut blondie dengan mata biru shappire-nya.

Sakura hanya membatu sesaat. "Naruto?"

"Kau ternyata memang disini Sakura-chan." Naruto bicara dengan napas tersengal, kelihatannya pria ini habis berlari, "A-aku benar-benar khawatir." Segera saja Naruto langsung mendekat gadis pink itu. Ia menatap Sakura dengan pandangan sejuta kali khawatir dari dalam benaknya, mengapa ia sangat mengkhawatirkan gadis ini? Ia bukan siapa-siapanya dan bukan orang yang begitu dikenalnya.

Sakura berdiri takut dari duduknya, rencananya ia memang akan bertindak—lari dari sana.

"Sakura." Naruto langsung menarik Sakura mendekap ke dalam dada bidangnya, berusaha menormalkan pikirannya yang memang masih sangat mengkhawatirkan gadis ini.

Sedangkan Sakura hanya pasrah sebentar dengan posisi yang terpaksa terbekap. Ia juga tidak habis pikir mengapa badannya selalu mengejang jika diperlakukan seperti itu.

Sepertinya Naruto sangat suka memeluknya. Tanpa sadar pria bondie itu memejamkan matanya sejenak—meresapi tiap wangi helaian rambut Sakura yang tepat berada di depannya ini. Ia suka saat seperti ini. dan itu tidak bisa ia pungkiri sekarang. Gadis ini beda. Ia sangat beda. Ia mampu membuat diri pria blondie ini mampu kehilangan jati diri.

Andai wanita itu dari dulu datang di kehidupannya…

Namun sedetik kemudian saat kesadarannya pulih ia memilih untuk meronta, "Lepaskan! Aku tidak memintamu untuk mencariku!"

Naruto masih dalam posisinya—tidak mau mengendurkan sedikit pun dekapannya, pria blondie itu malah semakin mengeratkan pelukkannya agar Sakura sadar ia bersungguh-sungguh. "Sakura-chan, kumohon ikutlah denganku." Bisik Naruto dengan nada lembut memohon, namun nyatanya ia memang tidak berhak bilang seperti itu, "Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi." kalau perkataan yang ini Sakura yakin tentang masalah yang negatif.

'Jujur bukan itu Naruto yang ku pikirkan sekarang. Kau tidak mengerti.' Mungkin percuma jika Sakura benar mengatakan hal itu.

Jadi ia hanya mengatakan ini, "Sudahlah, aku memang harus mencari saudariku sendirian. Lagipula aku tidak ingin merepotkanmu lagi"

"Aku tidak keberatan Sakura-chan, tapi bahaya kalau kau keluar malam-malam begini." Naruto masih saja mendekap Sakura. Ia malah mengelus punggung gadis itu—masih berusaha meyakinkan perasaannya. Naruto bukan orang yang pandai bicara dalam hal mengkhawatirkan atau semacamnya. Ia paling tidak bisa akan hal itu.

"Ja-jangan ikuti aku lagi Naruto..." dengan kekuatan seadanya Sakura akhirnya mampu mendorong tubuh pria itu—melepaskan pelukkannya. Dirasakannya di mata emerald-nya sesuatu yang akan merebak keluar . Ia akan menangis. Ia sudah melukai pemuda yang sudah menerimanya dengan baik. Maaf.

"Tapi..." Naruto agak terhuyung ke belakang selangkah.

"JANGAN IKUTI AKU LAGI! KAU MENGERTI?" tanpa kesadaran yang pasti Sakura membentak dengan keras.

Dan kali ini giliran Naruto yang membatu sesaat. Ia rasa memang ia tidak berhak bicara seperti itu, "Baik! aku tidak akan mengikutimu lagi. Sekarang kau bebas pergi!" entah mengapa emosi sedang melanda jiwanya sekarang, pria itu mengatur napas berusaha menormalkan dirinya kembali. Awalnya memang Naruto masih tegak di sana.

Hening

Dilihatnya lagi kearah Sakura. Gadis itu menunduk—wajahnya tertutup poninya. Entahkah apa yang dipikirkannya sekarang. Mungkin ia harus lari dari sini. "Maafkan aku. Jaga dirimu baik-baik." Setelah mengucapkan kata itu Naruto langsung berbalik dari sana. Ia sempat menghentikan langkahnya sebentar berharap gadis itu berubah pikiran.

Namun sepertinya ia harus membunuh rasa berharapnya itu. "Aku harap aku bukan orang pengganggu dalam hidupmu, terimakasih karena kemarin kau sudah memberikanku harapan yang tak pasti." Kali ini dengan perasaan yang bercampur aduk pria itu menguatkan dirinya menjauhi gadis itu. di tengah malam seperti ini. di saat semua orang terlelap dalam tidur. Ia harus merelakan seorang gadis berada di luar rumah walau memang itu bukan kehendaknya sendiri—setidaknya ia bisa melindunginya saja. Namun nyatanya gadis itu tidak memberikannya kesempatan yang tak pasti. Benar-benar tak pasti.

Naruto harus melupakannya. Ia harus merelakannya dan membiarkannya. Ah, namun membiarkannya sangat tidak bisa ia lakukan. Semakin ia melangkah memperjauh jarak pada gadis itu ia semakin merasakan sesak di dadanya. Ia semakin merasakan dirinya orang yang terbodoh di dunia. Orang yang tidak punya perasaan. Orang yang paling munafik.

Mungkin. dia tidak akan pernah bisa memiliki dirimu luluhkan dirimu.

Meski apa pun yang kau lakukan seluruh jiwa raganya.

Di dalam hatinya mungkin ada dirinya yang mungkin tidak peduli dengan perasaan sendiri.

Adakah celah di hatimu yang memungkinkan untuk memasukkinya walau sedikit saja.

Masih dalam keadaan menunduk, Sakura merasakan sesuatu benda terjatuh—keluar dari dalam matanya. Kristal-kristal itu sangat dingin malam ini dirasakannya. Lelah.

Air itu mengucur dengan cepat walau tanpa perintahnya. Ia menyeka dan terus berusaha menghentikan aliran air yang sangat susah dibendung ini. Sakura duduk kembali di bangku taman, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi taman sambil menutupi wajah menangisnya.

.

Dalam perjalanan pulangnya, entah mengapa hati Naruto masih merasa tidak tenang. Tanpa pikir panjang lagi pria itu melangkah kembali lagi ke tempat Sakura. Apa lagi setelah ia mengingat yang dikatakan Shion padanya tentang Akatsuki, ia takut terjadi sesuatu. Apalagi malam-malam begini.

Langsung saja pria jabrik itu diam-diam bersembunyi dari balik pepohonan yang gelap tanpa disinari lampu taman setelah ia sampai kembali ke taman. Dan pendengarannya menangkap sesuatu sebelum ia memulai pengintaiannya...

"KYAAAAAA..."

Mata Naruto melotot besar. Hatinya mencelos akan keluar sangking terkejutnya. Ada apa ini?

"Sakura-chan?" Naruto tidak jadi mengintai, langsung saja ia keluar dari tempat persembunyiannya.

Langkah Naruto berhenti ketika pandangannya menangkap sesuatu yang berada di hadapannya. Tepat di dekat bangku taman itu, dilihatnya dua orang memakai jubah bermotif awan warna merah yang berdiri di sana. Kedua tampang orang itu bisa dibilang menyeramkan. Lagi, Naruto terkejut sesaat. Ia sempat kehilangan akal dan pikirannya kalau saja ia tidak menyadari sesuatu. Dan sialnya salah satu dari mereka sedang menggendong Sakura yang mungkin... pingsan. Bisa dilihat dari tempat Naruto berdiri, wajah gadis itu pucat pasi seperti membeku. Badannya terkulai lemah di sandaran bahu orang itu.

Merasa ada yang datang, salah satu dari mereka menoleh kearah Naruto yang mungkin lagi membatu sekarang. Naruto berusaha agar tidak gugup dulu. Pria jabrik itu mengawasi dengan sungguh-sungguh tampang mereka. Salah satu dari mereka adalah pria berkuncir dengan rambut hitam panjang. Yang satu lagi berwajah dan berkulit biru, mirip ikan hiu. Tampak seperti makhluk jadi-jadian bekas percobaan.

Pria itu menghadap rekannya-melupakan Naruto sebentar, "Ternyata obat bius yang dicampurkan Tobi ke dalam es krim itu kurang ampuh. Gadis itu baru melemah beberapa jam kemudian. Terpaksa kita menambah dosisnya." seseorang yang mirip dengan ikan hiu itu bergumam kepada rekannya. Pria itu membawa sesuatu di tangannya. Seperti jarum suntik. Tampaknya berisi obat bius yang mungkin jarumnya baru saja mendarat di bagian tubuh Sakura.

"Sudah kuduga dia tidak bisa diandalkan. Dasar anak baru, pasti dia sembarangan memasukkan bahannya. Sekarang kita bawa dia ke tempat bos." Seru yang seorang lagi.

Lagi. Mata Naruto terbelalak lebar. "Obat bius? pantas Sakura-chan sempat pingsan!"

Salah satu dari mereka melirik lagi kearah Naruto sebagai tamu yang tidak diundang ini-yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, "Hmm... ada seorang lagi, boleh kubunuh?" bisik pria bermuka hiu pada rekannya.

"Haah, kalau kau sampai membunuh kita bisa dimarahi ketua. Baiklah Kisame, kau boleh menghajarnya tapi jangan dibunuh. Kita bisa ikut tewas kalau sampai mengundang polisi ke sini."

Naruto berdiri di tempat dengan gemetar. Tubuhnya kaku seakan terhipnotis. "Ka... kalian... Akatsuki."

.

.

.

TBC

.

.

.

Fidy: scane yang terakhir agak ngeganjel ya, soalnya sambil denger lagu India dan remix malam hari lagi hahhah. *grinssss*

Tema: Huaaaa, makin gaje aja critanya! TAT

Fidy: *Benarku mencintaimuu tapi tak beginiiii* XD lol

Tema: Hehehhe, ngegaje. Rencananya chap ini diketik sampe Saku udah ktemu Ino n Hina tapi ntar malah jadi 10000 words capeeee...

Fidy: Masih ada typo? maklum, fic ini kayaknya gak akan luput dari typo

Tema: Reders, tolong kasih saran dan kritik ya. Tapi jangan terlalu pedes, ntar kebakaran (?)

Readers: Emang cabe rawit apa? *bawa2 ember buat nyiram kolom ripiu*

Fidy: Kalo gak keberatan please ripiu! ^^ ntar aku peluk deh *kabuuur*

Thanks for reading