unedited


The Suburbia

3

Jongin sepertinya tidak bernapas. OH MY GOD. Sehun kini duduk di hadapannya, berbicara padanya, dan—dan tahu namanya. Apa Jongin berkhayal lagi? Tidak mungkin anak-anak keren seperti Sehun tahu nama Jongin. Holy shit! Jongin tidak tahu caranya berperilaku seperti manusia biasa. Ia ingin mengurung diri untuk menenangkan dirinya tetapi tidak mau melewatkan momen ini.

"Benar? Namamu Jongin?" Kepala Sehun dimiringkan, ia tidak menatap Jongin di wajah. Matanya mengarah pada ... uhm ..., oh.

Bila Lisa ada di sini dan mendengar isi hatinya, mungkin ia akan menepuk jidat Jongin keras-keras. Tidak di dunia luar dan dalam hati, Jongin ini sama-sama memalukan.

Sehun masih menatap kartu pelajar Jongin yang lupa dimasukkan kembali ke dompetnya, sebelum kemudian ia menatap Jongin di wajah. Tatapan mereka bertemu. Wow, aku berhadapan dengan masa depanku, Jongin berbatin.

"Apa aku salah baca?" Sehun sekali lagi bersuara, dan Jongin baru menyadari bahwa ia sedari tadi tidak merespon Sehun. Hanya menatapnya terkejut dan kagum. God, what a loser.

"Uhh—kau tidak salah baca. Namaku memang Kim Jongin." Baiklah, Jongin sejauh ini baik-baik saja, tidak begitu memalukan. Mom Lisa is gonna be so proud.

"Kau sendirian?" Sehun mengitar pandangannya ke samping Jongin yang tidak diisi oleh siapa pun, hanya ada tas Jongin di sana. "Atau kau sedang menunggu seseorang?"

"Uhm," Ding! Jongin melirik ponselnya yang berbunyi, ada sebuah pesan dari Lisa; aku baru selesai kelas. where r u. Ia segera membalikkan layar ponselnya dan memasukannya ke kantung celana. "Tidak, aku tidak sedang menunggu siapa pun."

"Nice. Sama denganku. Aku hanya tidak ingin duduk sendirian, kuharap aku tidak mengganggumu di sini."

"Tidak sama sekali." Ughhh. Jongin mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Jawabannya terlalu cepat, nada bicaranya juga sedikit antusias untuk seseorang yang sedang berbicara pada orang asing. Ia pun menghela napas berat dan berharap bahwa ia tidak terdengar terlalu terobsesi.

Dan doanya pun dijawab oleh Sehun yang tidak memandang Jongin aneh, mereka bahkan membuat sebuah percakapan yang tiada habisnya. Percakapannya tidak canggung, dan Jongin merasa nyaman. Holy shit. It's happening. Jongin membuat satu langkah lebih dekat dengan mimpinya.

Jantung Jongin tidak berhenti berdegup kencang, perutnya terasa sakit, ia merasa mual. Keantusiasan dan kegembiraan ini membuat telapak tangan Jongin berkeringat. Jadi ini rasanya bagaimana kedua orang tuanya begitu terobsesi dengan kekeluargaan? Hehehe. Dengan Sehun, Jongin tentu saja dengan senang hati ingin menjalin hubungan yang serius.

Apa lagi seiring berjalannya waktu, mereka mengobrol semakin nyaman. Kegugupan Jongin sedikit berkurang, dan ia dapat dengan sedikit lebih leluasa untuk terbuka pada Sehun. Mereka membicarakan ketertarikan masing-masing; tipikal basa-basi memang, tapi hey, pembicaraannya menuntun pada tiga film favorit mereka yang ternyata sama!

Jongin sulit untuk menahan dirinya dari tersenyum lebar. Tiap kali obrolan mereka membuat Sehun terlihat antusias, Jongin ingin sekali tersenyum selebar mungkin, menepuk pundaknya bangga.

Jongin berpikir 'Ternyata ada hal yang menarik dari diriku?!' tiap kali Sehun tertawa pada apa yang dikatakannya. Jongin mencoba untuk membuat percakapan ini tidak dipaksakan, ia tidak ingin sok dekat dengan Sehun. Hih. Pasti Jongin akan terlihat aneh.

Namun memang bersikap tenang pun sulit bila Sehun menatap Jongin di manik mata terus-menerus begini, dengan senyum naif yang menggemaskan.

Sehun sesekali menyantap sandwich dari kotak bekalnya, mata Jongin berusaha untuk tidak mengarah pada bibir Sehun ketika ia harus menjilat bibirnya karena remah roti. Bruhhh dem lips can kiss dis dickt anytime—kemudian bel sekolah berbunyi.

FUCKFNKSJDNF.

"Oh, no. Sudah masuk kelas lagi?" Sehun yang tadinya amat antusias karena hendak mengenang acara televisi favorit dirinya dan Jongin jadi mengernyitkan kening. Sehun terdengar kecewa. Sehun terdengar kecewa karena akan berpisah dengan Jongin?! Wow, berkhayal memang menyenangkan. "It's nice to talk to you, Jongin." Tapi Sehun memang terdengar sedikit muram dari sebelumnya. Well, percakapan mereka memang menarik dan menyenangkan, tentu saja perpisahan di saat yang menyenangkan itu tidak menyenangkan.

"Haha, yeah." Nice, Jongin harus terkekeh keren. Sulit untuk digambarkan tapi, ya begitu. Terkekeh tidak begitu antusias tapi tetap terlihat senang dan tenang dengan harapan agar terlihat super boyfriend-material di hadapan Sehun.

"Sampai bertemu lagi kapan-kapan?"

"Sampai bertemu lagi kapan-kapan." Jongin membalas ucapan Sehun, ia tersenyum dan Sehun membalas senyumnya. Saling membalas—whoa, calm down there my soon-to-be boyfriend.

Begitu Sehun hilang dari pandangannya, Jongin segera mengeluarkan ponselnya, memberikan update mengenai kisah kasihnya kepada orang tua ketiganya.

Jongin: TEBAK APA YG BARU TERJADI?!

Lisa: kau mengabaikanku dan membuatku makan siang sendirian seperti pecundang?!

Jongin: OMG MOM I'M SORRY FORGIVE ME FOR MY SIN

Lisa: tidak ada konsultasi mengenai Sehun selama seminggu

Jongin: Aku baru saja menghabiskan waktu istirahat dengan my bby

Lisa: what?

Jongin: i was chillin with my soon-to-be boyfie

Lisa: Jongin, my babie, berkhayal banyak-banyak itu tidak sehat

Jongin tidak segera membalas karena ia harus ke toilet, namun kemudian terdengar nada pesan teks dari Lisa lagi.

Lisa: wait

Lisa: R U SERIOUS?

Jongin: yes

Lisa: WTF?! HOW

Jongin mengerling malas, ia menyalin pesan teks Lisa kemudian dikirimkan kembali pada Lisa.

Jongin: "tidak ada konsultasi mengenai Sehun selama seminggu"

Lisa: "OMG /SON/ I'M SORRY FORGIVE ME FOR MY SIN"

Jongin: ok. ttyl.

Jongin memasukkan kembali ponselnya ke tas punggungnya, ia harus fokus pada kelas tambahan ini. Jongin tidak ingin gagal dalam ujian fisika lagi nanti. Ia mengeluarkan buku catatannya, pensil dan penghapusnya. Guru hadir, semua murid di kelas mulai tenang. Baiklah, murid yang lain juga sama dengan dirinya, ingin berkonsentrasi.

Seseorang menarik bangku di sampingnya, Jongin dapat mendengar suara kaki kursi yang diseret di lantai.

"Untuk tiga minggu ke depan, baik-baiklah dengan teman sebangku. Mungkin akan ada group projects, atau kalian bisa berdiskusi." Kata sang guru yang menarik perhatian Jongin penuh. Hal ini sungguh mencurigakan. Jongin tidak akan pernah dapat menduga akan bagaimana alam semesta memperlakukannya. Adegan ini adalah adegan di mana Jongin seharusnya menoleh pada teman sebangkunya, menemukan wajah seseorang yang mungkin dikaguminya? Entahlah. Biasanya dalam fiksi hal-hal seperti ini terjadi kan? Bisakah di kehidupan Jongin ini juga terjadi?

Suasana hati Jongin sedang terasa baik, atmosfernya sungguh positif. Hmm, I love life.

Jongin menoleh, adegannya terasa diperlambat, awalnya semua terasa begitu menenangkan sekaligus menggairahkan. Jongin menoleh, memutar kepalanya, bersiap untuk membuat sebuah senyum. Dalam kepalanya, Jongin telah memikirkan harus bagaimana ia menyapa Oh Sehun, hehehe.

"Hai, aku Jongin—oh, kau kan yang tadi di kafetaria?" Pura-pura tidak mengingat nama adalah taktik jual mahal yang tidak akan menyinggung.

Atau "Oh. Hey! Kita bertemu lagi—apa yang kaulakukan di sini? bagaimana ini bisa terjadi? Takdir? Kita ditakdirkan bersama? Wow. Hahaha." Uhh, yang ini pastinya tidak. Sungguh terdengar obsesif dan agresif.

"Hey, Oh Sehun, benar? Senang bertemu denganmu lagi." Hmm, yang ini terdengar lebih natural dan tidak dramatis. Jongin juga tidak perlu jual mahal, mungkin Sehun bahkan akan merasa tersanjung karena Jongin ternyata mengingatnya. Well, mereka baru bertemu berpisah beberapa menit yang lalu. Tentu saja Jongin dapat mengingat Sehun.

Karena terlalu banyak berkhayal, Jongin memang terkadang dibutakan oleh gambaran-gambaran yang hanya ada dalam karya fiktif.

"Hi, uhm," bitch, hold the fuck up, "Park Chanyeol, and you are ...?"

Jongin menatap figur besar di sampingnya. Holy shitttt. Orang tampan memang mengintimidasi, ya? Jongin akan berusaha untuk bersikap senetral mungkin, tidak boleh teringatkan bahwa teman sebangkunya ini sesungguhnya rival yang lebih keren dalam mencuri hati Sehun.

"Kim—" Jongin menelan ludahnya, ia duduk lebih tegap agar tidak terlihat kalah tinggi, "Kim Jongin."

Untung saja! Untung saja suara sang guru memotong pembicaraan di antara Jongin dan Chanyeol. Atmosfernya yang canggung dapat berhenti sampai di sini. Jongin menghela napas lega, ia harap Chanyeol tidak dapat melihat Jongin melakukan hal tersebut.

"Actually, you know what, melihat kalian semua berinteraksi dengan baik, nanti akan ada group project. Biar kupikirkan dulu bagaimana. Sekarang buka bab 5, lihat pada gambar di sana ..."

Apa Jongin sudah bilang kalau ia amat membenci fisika? Wait, maksud Jongin, apa ia sudah bilang kalau ia amat membenci hampir seluruh pelajaran sekolah?

Well, now you know why people say Jongin is stupid. Alam semesta selalu membuat Jongin membenci episode kehidupan remajanya yang seharusnya biasa saja jadi super extra di sekolah.

Jongin harus terjebak dengan Chanyeol untuk tiga minggu ke depan? Great. Hidupnya benar-benar seperti sinema.

.

.

.

.

.


[semacam ingin menulis domestik sekai; when the love falls versi non-sinetron gt,

tp yg jahat sehun gt kayak jongin sbg bapak yg baik malah dikhianatin huhuhu]