Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto.
"Siapa mereka? Aku belum pernah melihatnya."
"Sepertinya mereka anak baru."
"Kalian tidak tahu? Mereka berempat adalah anak baru di kelas 2-F itu!"
"Benarkah? Jadi mereka, anak baru yang dibicarakan Karin kemarin?"
"Sepertinya begitu."
Sakura menunduk dalam-dalam, semakin mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Sai. Ia pikir hal yang paling sulit adalah memperkenalkan diri di depan penghuni kelasnya, ternyata ia salah. Berjalan di koridor sekolah dengan puluhan pasang mata yang memperhatikan lalu membicarakan mereka berempat dengan bisikan—yang cukup keras dan sangat jelas untuk didengar, adalah hal paling sulit sekaligus menakutkan bagi Sakura.
Berbeda dengan Sakura, ketiga saudara laki-lakinya berjalan dengan tenang tanpa rasa gugup sama sekali. Seolah hal ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan pertamakalinya.
Bahkan Naruto yang berjalan paling belakang, terlihat sangat senang dengan suasana ini. Berkali-kali ia menyerukan sapaan selamat pagi dan tersenyum pada semua murid yang sedang memperhatikan mereka.
Mulanya murid-murid itu terkejut, namun menit berikutnya mereka sudah membalas senyum ramah Naruto dengan sedikit canggung.
Sedangkan Sasuke yang tidak berusaha menarik perhatian justru telah menjadi pusat perhatian sejak ia memasuki koridor dan mengambil posisi berjalan paling depan. Tak jarang beberapa murid perempuan menyapanya tanpa ragu, namun tak satupun dari mereka yang berhasil mengalihkan perhatian Sasuke yang sedari tadi terus menatap ke depan tanpa memedulikan sekitar.
Dan langkahnya berhenti saat pemuda berambut putih tiba-tiba menghalangi jalannya. Dasi berwarna hijau—murid tahun ketiga?
"Kalian berempat ikut aku," katanya yang terdengar seperti perintah mutlak. Lalu pemuda yang mempunyai dua tanda merah di dahinya segera berbalik dan berjalan ke arah berlawanan dengan kelas mereka.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Naruto bingung.
"Ikuti saja." Sasuke melengos pergi mengikuti pemuda itu.
Sai dan Sakura mengikuti di belakangnya. Diam-diam Sakura bersyukur karena kedatangan pemuda itu ia dapat lolos dari tatapan sinis dan bisikan tajam murid-murid yang sejak tadi ditujukan padanya seorang.
Out Of Character / Alternative Universe
.
Scream High School
.
by nopi
.
.
.
Chapter 3
Membuka Kotak Pandora
"Tinggal di asrama?!"
Pemuda berambut putih yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Kimimaro Kaguya itu mengangguk. "Ya. Apa Uchiha-san tidak memberitahu kalian?"
Kompak tiga orang yang berada di hadapannya segera menoleh pada Sasuke yang berdiri sambil menyandarkan badannya ke dinding ruangan pengurus sekolah ini.
"Dia sama sekali tidak memberitahu kami," desis Naruto sambil tetap memberikan tatapan tajam pada Sasuke. Sedangkan yang ditatap memilih memberi perhatian lebih pada ubin tempat mereka memijak.
"Jika kalian memang belum ada persiapan, sepulang sekolah nanti kalian bisa kembali ke rumah untuk mengemas barang-barang yang diperlukan," kata Kimimaro, sedikit memberi kebebasan untuk anak baru seperti mereka berempat.
"Tidak perlu, aku sudah membawa semuanya," celetuk Sasuke tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Sai.
"Aku sudah membawa semua barang-barang kita, jadi kita tak perlu kembali ke rumah," ulang Sasuke lagi.
Sai dan Naruto bertatapan bingung. Sejak kapan Sasuke telah mempersiapkan barang-barang mereka? Sepertinya pagi ini pemuda itu tidak melakukan hal-hal berarti seperti terlihat mengemas barang atau lainnya.
"Baiklah kalau begitu," Kimimaro mengambil alih pembicaraan lagi. "Setelah sekolah usai aku akan segera menemui kalian untuk menunjukkan kamar asrama yang akan kalian tempati. Dan sedikit pemberitahuan, di sini kami membebaskan kalian keluar masuk asrama sebelum pukul sembilan malam. Dan saat weekend kalian diperbolehkan pulang."
Sai mengangguk. "Kami mengerti, terimakasih."
"Tidak masalah, ini sudah kewajibanku untuk menjelaskan secara detail tentang hal apapun yang berhubungan dengan sekolah," jawab Kimimaro lugas. "Kalau masih ada yang kurang jelas atau ada hal lain yang ingin kalian tanyakan, aku akan dengan senang hati menolong."
Sai menggumamkan terimakasih lagi, diikuti Naruto. Ia melirik Sakura agar gadis itu juga mengucapkan terimakasih, Sakura yang bersembunyi di balik Sai hanya melihat Kimimaro sekilas tanpa ekspresi apapun. Lalu mereka bertiga segera berpamitan karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.
Saat berjalan menuju pintu Sai mendesis tertahan karena tak menemukan Sasuke di ruangan itu. Pasti pemuda itu telah keluar tanpa berkata sepatah kata pun setelah Kimimaro menjelaskan perihal asrama mereka. Dasar tidak sopan—gerutunya dalam hati.
Kimimaro masih tak bergeming saat empat saudara itu sudah keluar dari ruangan. Ia menatap pintu dengan tatapan kosong. Sampai-sampai Kimimaro tidak menyadari kehadiran kepala pirang di ambang pintu, telah memperhatikan dari beberapa menit yang lalu.
"Kaichou?"
Kimimaro mengerjap. "A-ah, tenyata kau, Shiho."
Gadis yang selalu enerjik itu tersenyum miring. Berjalan masuk ke dalam dengan riang. "Kau sedang apa?" tanyanya sambil berbalik menatap pintu, mencoba menemukan suatu objek yang—dikira-kira—telah mendapat perhatian lebih dari Kimimaro. "Kau melamun sambil melihat pintu ya?"
Kimimaro tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong, Shiho, aku penasaran mengapa kau bisa berada di sini sepagi ini."
Shiho terkekeh, tak merasa terusik saat Kimimaro mengalihkan topik pembicaraan. "Yaaa~ Aku tahu aku sering terlambat hadir di sini."
"Selalu terlambat," koreksi Kimimaro tenang.
Shiho terkekeh lagi. "Awalnya tadi aku berpikir bisa menyapamu sebentar agar kau sedikit berbesar hati untuk menerima kenyataan keterlambatanku selanjutnya," katanya. "Tapi saat melihat empat orang yang tadi di sini, aku memilih menunggu di luar."
Kimimaro berjalan ke mejanya, duduk di kursi sambil bergumam, "Begitu ya."
Shiho mengangguk, ikut berjalan ke meja Kimimaro dan merapikan kertas-kertas yang sedang—tumben-tumbennya—tampak berantakan di meja itu. Shiho mengernyit saat melihat tulisan yang tidak ia mengerti tercetak di kertas tersebut, namun ia segera melupakannya saat tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Ne, Kaichou," panggilnya.
"Hm?"
"Empat orang yang berada di ruangan ini, tadi—mereka siapa? Aku belum pernah melihat wajah mereka sebelumnya," ucap Shiho polos.
"Murid baru di kelas 2-F. Aku memanggil mereka untuk menjelaskan perihal asrama sekolah."
"Murid baru?"
"Ya. Murid baru yang telah ditunggu-tunggu kehadirannya," ulang Kimimaro tenang, sambil melirik tumpukan kertas yang berceceran di sisi lain mejanya.
Gerakan Shiho berhenti seketika. Manik di balik lensa kacamatanya ikut melirik ke arah kertas yang dilirik oleh Kimimaro. Shiho tahu bahwa lembaran kertas itu diambil Kimimaro dari ruang kepala sekolah, kemarin sore. Namun isinya baru ia ketahui sekarang; biodata lengkap, empat murid yang dibicarakan Kimimaro tadi.
.
.
.
.
Sakura mendongak saat merasakan dorongan dari kursi di depannya, kursi milik Ino. "Ssstt, Sakura," desis gadis blonde itu. "Apa Kimimaro-senpai sudah menetapkan kamarmu di asrama nanti?"
"Be-belum..."
Ino menaikan alisnya, kini dia berbalik sepenuhnya. "Belum? Serius nih? Kalau kau mau, kau bisa sekamar denganku. Sekamar dengan Tenten selama hampir dua tahun membuatku bosan. Kau tahu, rasanya seperti sekamar dengan ibuku—hobi mengatur-aturnya sama."
Tenten yang dari tadi sibuk mencatat segera menendang kaki meja milik gadis di sebelahnya. "Sialan kau, Ino."
Ino terkikik geli.
Utakata, guru matematika yang saat ini sedang menjelaskan rumus-rumus di depan kelas sejak setengah jam lalu—yang berhasil membuat sebagian murid mengantuk—terusik dengan kebisingan yang dibuat oleh Ino di bagian belakang kelas.
Sedikit catatan, Utakata adalah guru yang cukup kejam, dia tidak segan memberi hukuman berat pada murid yang tidak serius dalam pelajarannya. Kali pertama kau melihatnya pasti tidak akan percaya akan hal itu. Tapi percayalah, pembawaan tenang nan damai itu hanyalah topeng yang melekat padanya sejak lama. Jika kau sudah mengetahui dirinya yang asli, bertaruh, kau tak akan berani mencari masalah dengannya.
Seluruh murid di sekolah ini mengetahui hal itu.
"Jika kau benar-benar bosan dengan kelasku, kau bisa keluar sekarang, Yamanaka."
Detik berikutnya seluruh pasang mata di kelas tertuju pada gadis yang namanya baru saja disebut. Yang sedang diperhatikan hanya bisa meringis kikuk lalu menunduk takut saat Utakata menatapnya.
"Kau mendengarku Yamanaka?" Kini Utakata sepenuhnya mengalihkan pandangannya pada gadis blonde itu. Berkata dengan datar, "Pintu kelas terbuka lebar untukmu. Kau bisa keluar. Se. Ka. Rang."
Ino menelan ludahnya sebelum bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu. Saat melewati Utakata, dia mendengar pria berusia tiga puluh lima tahun itu berucap lagi, "Datang ke kantorku saat jam pelajaran usai."
"Ha'i, Sensei," jawab Ino lesu.
.
.
.
"Ino memang begitu, dan ini bukan yang pertama kalinya," kata Tenten, menjelaskan pada Sakura. "Saat kelas satu lebih sering terjadi; diperintahkan keluar dari kelas setiap pelajaran guru killer."
Bersamaan kalimat terakhir Tenten, gadis yang dibicarakan muncul di ambang pintu kelas. Berjalan mendekat dengan lunglai. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku ketinggalan sesuatu?"
"Ya, kau ketinggalan mendengar gosip yang baru saja kami bicarakan. Tentang murid berisik yang diusir keluar kelas," celetuk Tenten, berikutnya dia berhasil menghindar dari tendangan candaan Ino.
"Skor kita seri," ledek Tenten lagi.
Mengabaikan gadis berambut coklat itu, Ino beralih pada Sakura. "Ayo bicarakan hal itu pada Kimimaro-senpai."
"H-hal itu?" ulang Sakura sembari melahap onigiri dari kotak bekalnya.
Ino mengangguk. "Tentang kamar asrama. Aku ingin sekamar denganmu."
Tenten yang mendengar kalimat 'kamar asrama' untuk kedua kalinya, mendelik. "Ino! Sebegitu inginnya kau tidak sekamar lagi denganku, huh? Sampai kau benar-benar terlihat serius membahas hal ini."
Ino memutar matanya. "Yah, begitulah. Sudah jangan berisik, kau pergi saja ke kantin, aku akan menyusul." Ino mendorong Tenten ke arah pintu kelas, dia benar-benar tidak ingin ada gangguan saat berbicara dengan Sakura.
Selepas Tenten pergi, Ino kembali duduk di hadapan Sakura. "Omong-omong, kenapa kau selalu membawa bekal? Kenapa tidak makan di kantin saja?"
"A-aku tidak ingin membuat S-sai sedih."
"Sai yang selalu membuatkan bekalmu?"
"Y-ya."
Ino ber-oh pendek, melirik sebentar ke arah pemuda yang sedang duduk di bangku kosong di pojok kelas dengan sepasang earphone di telinganya–Sai. Ino kembai pada Sakura. "Jadi kau akan mengatakannya 'kan? Sepulang sekolah nanti kalian akan bertemu Kimimaro-senpai 'kan?"
Sakura mengangguk pelan. "Y-ya. A-akan kuusahakan..."
"Baiklah," kata Ino sambil tersenyum. "Aku ke kantin dulu ya, Sakura-chan."
Mendadak gerakan Sakura membeku, onigiri di genggamannya jatuh ke lantai. Sakura-chan? Apa aku baru saja dipanggil begitu?
Detik berikutnya Sakura tidak ingat apa-apa lagi, selain dia tiba-tiba berlari ke luar kelas. Sakura lupa kalau sekarang adalah jam istirahat—murid-murid berlalu-lalang di koridor yang penuh sesak. Ia juga tidak ingat berapa banyak murid yang baru saja ditabraknya tanpa sempat mengucapkan permintaan maaf karena Sakura terus berlari menerobos kumpulan murid-murid yang sebagian besar ingin pergi ke kantin.
Ketakutannya terhadap pandangan sinis dan aneh yang selalu tertuju padanya semenjak berada di sekolah ini, mendadak lenyap.
Untuk saat ini, yang berada di pikirannya hanyalah kilas balik masa lalu yang berputar seperti film.
Gerombolan gadis kecil...
Gambar bunga sakura...
Nilai seratus di kertas...
Hembusan napas terakhir...
Lalu... darah.
.
.
.
"Beneran nih, kau tidak mau ikut kami ke kantin, Teme?"
"Hn."
Naruto mengangkat bahu tak acuh. "Ya sudah." Lalu pergi bersama beberapa lelaki yang Sasuke ketahui adalah teman sekelasnya juga. Dia hanya mengenali Shino dan Shikamaru di situ.
Berbeda dengan Naruto yang sudah bisa akrab dengan teman sekelas mereka, Sasuke memilih membatasi interaksinya dengan orang lain. Memiliki teman dan menghabiskan waktu bersama—Sasuke tidak mengerti di bagian mana hal itu disebut menyenangkan. Dalam kamusnya, hal itu dikategorikan sebagai kegiatan membuang waktu, sia-sia.
Lagi pula, ia masuk ke sekolah ini bukan untuk mencari teman atau sejenisnya.
"Kau sudah lihat sendiri 'kan, tadi? Aku tidak berbohong—dia memang gadis yang aneh. Maksudku, betapa menjijikannya dia saat berlagak seperti gadis pemalu yang sok manis di hadapan seluruh orang."
Kalimat-kalimat yang baru saja meluncur dari mulut seorang gadis, juga tawa teman-teman segerombolannya setelah itu, berhasil mengalihkan perhatian Sasuke. Seperti gadis sekolah kebanyakan, menggosip adalah salah satu kegiatan yang cukup mengasyikkan bagi mereka. Ucapan sinis dengan nada pelan yang diakhiri dengan tawa ejekan, sering ditemui di tempat-tempat umum seperti halaman sekolah, kantin, atau di koridor seperti yang Sasuke lihat sekarang.
Sasuke mengenali gadis yang berada di tengah-tengah gerombolan itu, yang berambut merah dan berkacamata adalah teman sekelasnya yang pada hari pertama sudah mencari masalah dengannya.
"Ya, berlari di koridor dengan tampang horor, itu memang aneh dan sedikit menakutkan," celetuk gadis lainnya.
"Lebih tepatnya menjijikan," koreksi si Gadis Berkacamata.
"Tapi bagaimana kalau dia berhasil mengalahkan kepopuleranmu?"
Gadis lainnya mengangguk-angguk sambil melempar pandangan bertanya.
Ia tersenyum sinis. "Itu mustahil. Kepopuleran dan kecantikanku tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun. Terutama anak baru aneh yang selalu bersembunyi di balik rambut pingky norak itu. Tidak selevel denganku."
Derai tawa kembali terdengar.
Detik berikutnya pandangan Sasuke bertemu dengan Gadis Berkacamata itu. Ia pura-pura terkesiap lalu tersenyum simpul, "Ups, ketahuan."
Sasuke buru-buru melanjutkan langkahnya menuju kelas. Banyak orang menjijikan di sini, dan Sasuke muak saat sadar akan hal itu.
Saat ia memasuki kelas, yang pertama kali ia temui adalah keadaan sepi, tidak ada orang di sini. Lalu pernyataan terakhir itu terbantahkan saat melihat saudaranya sedang duduk sendirian di pojok kelas.
Sasuke menghampirinya lalu menarik salah satu earphone di telinga pemuda berkulit pucat itu. Delikan tajam yang dilemparkan Sai tidak berguna untuknya. "Mana Sakura?"
Sai mengangkat sebelah alisnya, melempar pandangan ke seluruh sisi kelas. "Seingatku tadi dia berada bangkunya, sedang menghabiskan bekalnya sambil berbicara dengan Yamanaka dan Tenten."
"Lalu? Sekarang dia masih ada di sana, huh?"
Sai mematikan pemutar musik. "Mungkin dia ke toilet," katanya santai. "Ada apa denganmu? Tiba-tiba terlihat khawatir, seperti bukan dirimu, kau tahu."
Kalimat terakhir yang dilontarkan Sai dengan nada cukup sinis membuat Sasuke terusik. "Aku tidak khawatir." Sasuke meninggalkan Sai dan bergegas duduk di bangkunya.
Sepuluh menit berlalu dengan tidak ada satu pun suara yang mereka berdua timbulkan. Entah mengapa jam istirahat merangkak begitu lamban dan tidak ada satu pun orang yang memasuki kelas.
"Menurutmu apa yang akan terjadi nantinya? Maksudku, tentang misi yang kita jalankan ini." Sai yang pertama memecahkan kesunyian di antara dirinya dan Sasuke. Ia sejak tadi mengawasi Sasuke melalui ekor matanya, mengamati gerak gerik saudaranya—yang walaupun sejak tadi tidak bergerak sama sekali dari posisi awal. Sai sendiri berpura-pura sedang mendengarkan musik, padahal pemutar musiknya sejak tadi belum dihidupkan kembali.
"Entahlah." Jawaban Sasuke terdengar lima menit sesudah pertanyaan Sai terlontar. Onxynya masih saja fokus pada ponsel dalam genggamannya yang sejak tadi menampilkan kolom pesan singkat yang tak kunjung diisi. Sasuke berusaha menggerakkan jemarinya untuk mengetik sesuatu di sana, tapi ia tetap tidak menemukan kalimat yang pas sehingga harus menggunakan tombol delete berulangkali.
"Ada banyak hal yang aku—kami bertiga tidak tahu," kata Sai lagi. "Tentang kita."
'Kami bertiga' yang dimaksud Sai tentu saja dirinya, Sakura dan Naruto.
"Memang sebaiknya kalian tidak tahu apapun." Suara Sasuke kembali terdengar sepuluh menit kemudian.
Bersamaan dengan kalimat itu, Sai akhirnya percaya bahwa ia dan Sasuke tidak akan pernah sepaham dalam hal apa pun. Saudara hanyalah status yang mereka pakai tanpa ada bukti yang nyata.
.
.
.
Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresi kesal bercampur cemas berada di wajah yang terkenal ramah itu. Sakura berada di depannya menunduk takut-takut. "Go-gomen...," lirihnya.
Dan satu kata itu berhasil membuat ekspresinya berangsur-angsur. Merutuk dalam hati mengapa Sakura selalu berhasil menggagalkan kejengkelannya. "Oh ayolah, Sakura-chan. Kau tiba-tiba muncul di tengah pelajaran terakhir ini dengan wajah kusut dan penampilan berantakan, bagaimana aku tidak khawatir?"
Sakura meremas ujung roknya. Harusnya tadi ia tidak muncul di kelas terakhir tadi, membolos pelajaran sejarah masih lebih baik dari pada dicemaskan oleh Naruto.
"Kau ingin cerita sesuatu padaku?"
Sakura menggeleng ragu-ragu. Ini yang membuatnya tidak ingin dicemaskan oleh Naruto; pemuda pirang itu pasti ingin mengetahui apa yang terjadi tapi dirinya tidak mampu menceritakan yang sebenarnya. Dan itu membuat dirinya merasa tak enak. "Ma-maaf..."
"Tidak perlu meminta maaf," kata Naruto, mengulas senyum lembut. Detik berikutnya ia menepuk dahinya, terkesiap. "Ya ampun! Kita sudah membuat Teme dan Sai menunggu lama. Ayo, Sakura-chan, aku sedang tidak mau mendengar omelan Rambut Ayam itu." Naruto segera menarik tangan Sakura, menggandeng gadis itu ke arah gedung kamar asrama dan segera memasuki elevator.
Sambil membayangkan kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Sasuke, Naruto menyempatkan matanya melihat ke sekeliling kamar asrama yang menurut papan petunjuk adalah kamar asrama murid kelas 2-E dan 2-F. Naruto dapat menemukan ada banyak kamar di kanan dan kiri dengan nomor urut di pintunya. Sebagian besar kamar terkunci karena pemiliknya memilih menghabiskan waktu sebentar di taman sekolah.
Ada juga pintu yang lebih besar, yang diapit dua kamar murid. Di pintunya terdapat papan bertuliskan 'Ruang Rekreasi I', begitu juga dengan pintu besar selanjutnya setelah 5 kamar berlalu. 'Ruang Rekreasi II'—begitu tulisannya.
Lalu Naruto dan Sakura menemukan Sasuke dan Sai di pertengahan jalan—ruang kosong yang tehubung dengam balkon menjadi pembatas antara asrama perempuan dan laki-laki. Sedang mendengarkan Kimimaro yang berbicara dengan suara pelan, ada seorang gadis berambut pink tua di sebelahnya.
"Yo! Selamat siang! Maaf terlambat," sapa Naruto sambil melambaikan tangannya yang bebas. Berniat terlihat menyenangkan agar terhindar dari amarah Sasuke.
Sai yang pertama kali beralih. "Kalian lama sekali. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan selama itu?"
Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, cengengesan. "Ya, maaf."
Sai mengernyit curiga. Maniknya mengamati mimik wajah Naruto dan Sakura bergantian secara teliti. Melihat mereka memasang tampang polos, Sai akhirnya beralih, namun ia tak akan lupa untuk bertanya banyak hal pada Sakura setelah ini.
Sasuke sendiri tidak berpaling barang melirik sedikit. Ia sibuk melihat-lihat sekeliling—lebih tepatnya ke arah asrama laki-laki. Tapi Naruto tahu bahwa saudaranya itu hanya berpura-pura. Cih.
"Mari kuulangi penjelasan tadi untuk Namikaze-san dan Haruno-san," kata Kimimaro memulai. "Kalian akan ditempatkan di kamar asrama yang masing-masing dihuni dua murid. Di sini fasilitasnya sudah lengkap; meja belajar, rak buku, pendingin ruangan, penghangat ruangan, televisi, kulkas dan lainnya telah disediakan."
"Toilet?" tanya Naruto.
Kini giliran gadis di sebelah Kimimaro yang menjelaskan. "Tiap kamar mempunyai toilet masing-masing. Tapi untuk berjaga-jaga, disediakan juga dua toilet di masing-masing asrama. Letaknya ada di sebelah ruang rekreasi."
"Ruang rekreasi adalah ruangan dimana kalian bisa berkumpul dan bersantai jika sedang bosan di kamar. Karena asrama perempuan dan laki-laki masing-masing mempunyai dua puluh kamar, tersedia dua ruang rekreasi yang terletak di antara 5 kamar murid. Dan sama seperti kamar murid, ruang rekreasi juga mempunyai fasilitas lengkap."
Naruto yang mulai bosan mendengar penjelasan Kimimaro mengangkat tangan. "Apa sekarang kami boleh memasuki kamar kami?"
Kimimaro mengangguk singkat. Ia meminta perangkat eletronik portable yang ukuran layarnya 7 inchi dari gadis di sebelahnya. Detik berikutnya, ia terlihat sedang memandangi sekumpulan huruf yang berada di kolom berbaris.
"Ini daftar nama murid dan letak kamarnya," kata Kimimaro menjelaskan. "Karena setiap asrama jumlah muridnya tidak sampai empat puluh orang, jadi ada beberapa kamar yang kosong atau dihuni satu orang. Kalian dibebaskan memilih."
"Apa aku boleh sekamar dengan Sakura-chan?" Naruto lagi-lagi mengangkat tangannya.
"Tidak."
"Oh, ayolah~"
"Kalian hanya boleh sekamar dengan sesama jenis."
"Aku dan Sakura-chan sama-sama manusia, kami sejenis."
"Jenis kelamin, maksudku."
"Masalahnya adalah aku mempunyai dua jenis kelamin!"
Hening sejenak.
"Pokoknya tidak," tolak Kimimaro mutlak. Ia lalu beralih pada Sasuke dan Sai, mungkin isi kepalanya sudah mulai memanas karena Naruto—walaupun ekspresi datarnya tetap tidak berubah.
"Kamar nomor 17 dihuni satu orang, 18 sampai 20 kosong. Pilihlah sesuka kalian dan sebaiknya kalian menjadi teman sekamar. Aku tidak ingin ada banyak kamar yang mempunyai satu orang penghuni."
Sasuke dan Sai mengangguk. Naruto merengut, tidak terima kenyataan bahwa ia tak bisa sekamar dengan Sakura.
"Untuk asrama perempuan, ada satu kamar yang dihuni satu orang dan lima kamar kosong," kata Kimimaro sambil menatap Sakura.
Melihat Sakura yang kebingungan, gadis berambut pink tua itu berceletuk, "Gadis itu pasti senang jika kau mau menjadi teman sekamarnya. Dia sedikit pemalu dan suka menyendiri—itu terlihat dari kamar yang dipilihnya. Kamar paling jauh dan paling ujung, nomor 20."
Sakura mendongak. "Ja-jadi me-menurutmu aku harus sekamar dengannya?"
"Tidak harus, tapi itu lebih baik. Bagaimana?"
"Se-sebenarnya aku i-ingin sekamar dengan te-temanku..."
Kali ini Kimimaro yang menyahut dengan datar. "Pertukaran teman sekamar tidak boleh dilakukan." Ucapannya berhasil membuat Sakura semakin menunduk.
"Informasi terakhir," lanjut Kimimaro, menatap empat orang murid kelas dua secara bergantian. "Di sini, aku sebagai ketua asrama laki-laki dan Tayuya—(Kimimaro menunjuk gadis di sebelahnya.)—ketua asrama perempuan. Kalian bisa melaporkan hal apa pun perihal asrama pada kami. Dan setelah kalian menentukan kamar mana yang akan kalian huni, segera laporkan pada kami. Mengerti?"
Empat kepala di hadapannya mengangguk bersama-sama.
.
.
.
Sakura menyusuri koridor dengan hati-hati, kardus yang sedang diangkutnya sedikit menghalangi pandangannya. Sakura berhenti saat ekor matanya melihat pintu nomor 20. Ia menurunkan kardus yang berisi barang-barangnya pelan-pelan ke lantai, merogoh kunci kamar di saku roknya yang baru saja diberikan Tayuya padanya.
Ceklek.
Kamar ini kosong. Maksudnya, penghuni kamar ini sekarang sedang tidak ada. Sakura membawa masuk kardusnya dan meletakkannya di sudut ruangan. Sedikit tak enak hati karena ia masuk ke dalam kamar tanpa izin terlebih dahulu oleh penghuninya—walaupun kamar ini nanti jadi kamar mereka berdua.
Sejujurnya Sakura merasa ragu untuk sekamar dengan gadis yang Tayuya maksud. Atau mungkin lebih tepatnya, merasa takut. Sakura masih baru di sini, dan sekarang ia dipaksa sekamar dengan orang yang belum dikenalnya. Rasa takut berada di sekeliling orang asing kembali membayanginya.
Bruk.
Sakura spontan berbalik saat mendengar bunyi benda jatuh.
"S-sasu... ke?"
Sasuke berada di ambang pintu, baru saja menjatuhkan kardus milik Sakura yang ia bawa dari tempat parkir sekolah.
"Tadi aku memeriksa bagasi mobilku—kupikir barang-barangku masih ada yang ketinggalan, tapi yang kutemukan hanyalah barang-barang milikmu, jadi aku membawanya ke sini," kata Sasuke angkuh. "Aku melakukannya karena aku tidak punya kerjaan lagi, jangan salah paham."
Sakura mengangguk kecil. "Te-terimakasih..."
"Hn."
Berikutnya, dalam waktu tak lebih dari setengah jam, Sakura dan Sasuke telah memindahkan hampir seluruh kardus-kardus di bagasi ke dalam kamar asrama Sakura.
"Ini yang terakhir." Sasuke menunjuk dua kardus dan sebuah koper merah muda. Pemuda itu melemparkan kunci mobil pada Sakura lalu mengangkat dua kardus terakhir. "Koper itu tidak terlalu berat, kau bisa menurunkannya sendiri, setelah itu kunci bagasinya."
Sakura mengangguk mengerti. Membiarkan Sasuke berjalan duluan memasuki gedung asrama.
"Selamat sore, Uchiha-kun."
Sasuke menghentikan langkahnya saat mendapati dirinya disapa oleh suara yang cukup familier.
"Kau sedang membantu adikmu, ya? Kakak yang baik sekali."
Cih, wali kelas sok akrab ini.
"Hn. Dia terlalu lemah untuk mengangkat semuanya."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Uchiha-kun," kata Yamato masih dengan nada suaranya yang ramah. "Haruno-san memang mempunyai badan yang lebih kecil dari murid-murid seusianya, tapi bukan berarti dia lemah dalam berbagai hal. Dia masih punya kelebihan yang luar biasa dalam satu hal yang melekat pada dirinya."
Sasuke memicing tajam. "Apa itu maksudnya, Yamato-sensei? Maaf, aku tidak mengerti."
Yamato menggaruk bagian belakang kepalanya. "Yaah~ tidak bermaksud apa-apa sih. Aku hanya ingin mengatakan itu saja, sudah dulu ya, Uchiha-kun. Ada rapat guru yang harus kuhadiri sebentar lagi.
Sasuke memandang punggung wali kelasnya itu sebentar sebelum kembali berjalan.
Elevator berdenting dan berhenti di lantai enam, dengan dua kardus besar bawaannya bukan masalah bagi Sasuke untuk menyusuri koridor panjang ini. Postur tubuhnya yang atletis tentu saja memberikan kemudahan. Dengan cepat Sasuke berhasil sampai di kamar asrama Sakura. Namun saat ia mendorong pintu kamar, ada masalah sedikit di sana.
"K-KYAAAAAAAAA!"
Di sana—tepatnya di sisi ranjang pinggir jendela, seorang gadis berambut panjang sedang berteriak dengan wajah merah padam. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya di sini. Keadaan gadis itu, yang hanya memakai kemeja sekolah dengan dua kancing atasnya terbuka, menampakkan setengah dadanya—dan yang paling parah, gadis itu tidak memakai rok atau bawahan apa pun. Kemejanya yang panjang hanya mampu menutupi kurang dari seperempat pahanya.
Sasuke yang melihat tubuh gadis itu terekspos jelas—kemeja putih itu transparan—hanya memberikan tatapan datar sebentar lalu meletakkan kardus milik Sakura di lantai. "Dengar," katanya. "Kau bisa memakai pakaianmu sekarang dan berpura-pura tidak ada yang terjadi di antara kita. Aku di sini hanya untuk mengantarkan barang-barang saudariku. Dia akan sekamar denganmu."
Dengan kalimat terakhir itu, Sasuke segera beranjak pergi ke luar kamar untuk menunggu Sakura. Sepertinya Sakura akan mengalami sedikit kesulitan—pikirnya.
Sakura muncul di hadapan Sasuke sepuluh menit kemudian. Gadis itu menyeret koper miliknya sambil menarik napas satu-satu.
"Teman sekamarmu ada di dalam," kata Sasuke.
"H-hah?" Sakura melongok ke dalam kamar. Gadis cantik dengan tampang malu-malu berdiri di sana.
"Barangmu tidak ada yang ketinggalan lagi 'kan?" Pertanyaan Sasuke kembali mengalihkan perhatiannya. "Y-ya. Semuanya sudah lengkap."
Sasuke tersenyum lembut. "Apa aku boleh pergi sekarang?"
"H-hah?" Sakura merona. "Y-ya..."
Giliran gadis di dalam kamar itu yang mendapat senyuman lembut Sasuke. "Tolong jaga Adikku—" Sasuke melirik name tag yang entah sejak kapan berada di blazer sekolah milik gadis itu. "Hyuuga-san.
Gadis itu sedikit terkejut, mengalihkan pandangannya tanpa keinginan memberi respon pada ucapan Sasuke.
"Baiklah, sampai jumpa saat makan malam, Adik," kata Sasuke sambil menepuk pelan pucuk kepala Sakura, masih dengan senyum lembut yang sama. Lalu punggung pemuda itu menjauh ke arah kamar asrama anak laki-laki.
Sakura bersumpah, ini pertama kalinya Sasuke sanggup membuat wajahnya panas dan merona.
.
.
.
"Sejak dua hari yang lalu, Sasuke Uchiha serta ketiga saudara-saudarinya telah resmi menjadi murid Sekolah Menengah Atas Konoha SSD. Mereka ditempatkan di kelas yang sama, kelas 3-F dengan Yamato sebagai wali kelasnya. Walau umur Sai Shimura dan Sakura Haruno–sebenarnya masih terlalu muda untuk berada di tingkat itu, namun mereka tetap diterima baik oleh kepala sekolah, Hiruzen Sarutobi. Dan mulai hari ini mereka telah mendiami asrama sekolah pada kamar nomor 18, 19 dan 20."
Wanita di hadapannya mengulas senyum jenaka. "Seperti biasanya, kau mendapat terlalu banyak informasi hingga aku harus mendengar kalimat-kalimat panjang itu."
Lelaki di hadapannya membenarkan letak kacamatanya. "Aku akan selalu mengerjakan tugasku dengan profesional, Nyonya."
Wanita itu tertawa kecil.
"Omong-omong, kau tidak terlihat terkejut atas informasi yang kudapatkan, bukan begitu Nyonya?"
Wanita itu memutar kursinya ke arah jendela di ruangan itu. "Aku terkejut kok—ini kejutan besar bagiku," katanya, lalu senyumnya memudar. "Tapi sebentar lagi, mereka berempatlah yang mendapat kejutan lebih besar..."
Menyadari kegetiran di nada atasannya, lelaki itu menyambut dengan nada empati, "Mereka remaja yang luar biasa, bukan begitu?"
"Kau benar..."
.
.
.
Sai berjalan pelan menuju sofa, menghempaskan diri sambil menghela napas. Ia tak bisa tidur walau jam dinding telah menunjukkan pukul dua pagi. Ingin rasanya menyalakan televisi—mungkin Sai bisa tertidur saat menonton acara-acara membosankan yang sedang tayang jam segini. Tetapi ia takut membangunkan Sasuke yang sedang terlelap di ranjang atas—ranjang tingkat mereka di kamar ini.
Apalagi ia dan Sasuke sejak dulu tidak pernah dekat—bahkan, melihat mereka mengobrol baik-baik seperti saudara saja adalah hal yang mustahil. Separah itulah hubungan mereka berdua.
Ah, andai saja Sai sekamar dengan Naruto–setidaknya pemuda pirang itu mau diajak menonton televisi di saat-saat seperti ini. Sayangnya, hari ini Naruto sedang dalam mode menyebalkan; ia bersikeras tidak ingin punya teman sekamar—Mungkin aku bisa membawa Sakura-chan diam-diam ke dalam kamarku saat Kimimaro-senpai sedang lengah—itu alasan yang Naruto bisikkan pada dirinya dan Sasuke saat mereka berdua menghujani pandangan aneh pada pemuda tengil itu. Dasar konyol.
Sai tiba-tiba berdiri, mengernyitkan dahi sambil berkonsentrasi. Hanya ilusinya saja atau bukan, barusan ia mendengar suara ketukan di kamar ini.
Tuk tuk.
Ketukan itu berasal dari jendela kamar—diketuk dari luar. Sai bergegas mendekat, ia menyibak tirai namun yang ia lihat hanyalah kegelapan dini hari. Sai berpindah ke jendela lain, kini ia menyibak seluruh tirai dan menemukan secarik kertas tertempel di luar jendela.
Baru. Satu kehidupan lama terhapus. Di bawah langit. Di atas tanah. Angin melambai lembut. Semua berimajinasi di naungannya. Mulailah.
—begitu tulisannya.
Menit berikutnya, Sai telah berlari keluar kamar dan mengetuk pintu nomor 19. Persetan dengan Sasuke yang terbangun karena debuman pintu kamar mereka, yang muncul di pikirannya sekarang hanyalah sosok Naruto dan hipotesisnya saat melihat tulisan ini.
.
.
.
Sakura berbalik ke kanan. Detik berikutnya ke kiri, lalu ke kanan lagi. Ia mengacak rambutnya pelan, frustasi karena tidak berhasil tertidur. Padahal seingatnya ia tak punya sindrom kesulitan tidur atau sejenisnya. Dan sekarang ia pun sedang memeluk boneka kelinci kesayangannya yang biasanya berhasil mengantarkannya ke dalam alam mimpi dengan cepat. Namun kali ini gagal.
Menarik kesimpulan bahwa dirinya belum terbiasa tidur di ranjang lain selain ranjang kamarnya, Sakura mendesah pelan.
Sakura melarikan maniknya mengamati isi kamar asrama yang ia bagi dengan gadis lain. Kamar ini cukup luas untuk diisi dua orang murid. Dengan dua ranjang yang bersisian—yang dipisahkan oleh meja kayu kecil yang berguna untuk menaruh lampu tidur. Di sisi lainnya, ada dua meja belajar serta kabinet. Dipisahkan oleh dinding pembatas tipis, ada ruang duduk kecil yang memuat televisi dan sofa mungil.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah ranjang sebelah—di mana teman sekamarnya sedang berada di alam mimpi, Hinata Hyuuga. Sejak tadi sore, ia dan gadis itu tidak berbicara banyak. Namaku Hinata Hyuuga, senang berkenalan denganmu; Lelaki barusan itu kakakmu, ya?; Sudah lama aku tidak punya teman sekamar, senang berkenalan denganmu—dan basa basi lainnya yang diucapkan secara formal, seperti berbicara pada orang asing.
Kalau dibandingkan, tentu saja Hinata dan Ino berbeda jauh. Sikap Hinata hampir mirip dengan Sakura—hanya saja Hinata lebih pintar mengolah kata-kata yang harus diucapkan pada lawan bicara dan gadis itu tidak tampak gugup atau pun ragu-ragu saat berbicara. Ia terlihat percaya diri, namun tidak seperti Ino dan Tenten—Hinata punya caranya sendiri, kalem dan dewasa mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan gadis itu.
Atau bisa disebut juga, sikap dan sifat seorang putri berada dalam dirinya.
Ddrrttt drrttt.
Sakura membuka pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.
Buka pintu kamarmu.
—nama Naruto tertera di sana.
Walau pun heran saat mendapati pesan tersebut—maksudnya, dalam rangka apa kakak pirangnya itu mengirim pesan pada jam dua malam?—namun Sakura tetap berjalan menuju pintu sambil memeluk bonekanya.
Membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan Hinata dan saat pintu terbuka sepenuhnya, Sakura menemukan ketiga saudaranya berada di hadapannya. Masih dengan tampang ngantuk dan piyama.
"Sakura-chan," kata Naruto tanpa basa basi. "Salah satu murid di sekolah ini telah dibunuh."
"Di-dibu...nuh?"
.
.
.
bersambung.
Catatan/Bacotan Penulis: chapter kali ini memang lebih panjang dari sebelumnya, semoga kalian nggak mumet bacanya ya^^
SapphireOnyx Namiuchimaki: rasa penasaran kamu akan terjawab satu persatu mulai dari chap depan ya^^ hm, cinta segitiga? sepertinya saya belum kepikiran sampai ke situ, karena saya pengen fokusnya sama mereka berempat dan sekolah mereka, hehe.
gnagyu: sepertinya pair SasuNaru nggak akan terjadi di fic ini, tapi saya belum jamin juga loh ya(?) mungkin ada beberapa pair yang saya selipin tapi waktunya nggak akan bertahan lama xD
Shuu-kun: terimakasih atas sarannya. yah, saya juga nggak mau sih ubah genrenya, ntar ketikan saya sebelumnya harus saya rombak lagi /bilang aja lu males nop/ suka sama sifat Saku? awas loh, ntar nyesel(?)
rincchi: ya, saya emang sengaja buat sifat sasunarusai tsundere gitu. khusus di fic ini, nggakpapalah ya mereka jadi kakak yang sok keren. (SasuNaruSai: kita emang udah keren keleus!) yap, tebakannya sudah mulai terjawab dari chap ini, hoho.
Terimakasih telah membaca.
Review?
06.01.2016
