The Dark Girl

Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rating: T

Pairing: Sasusaku

Sekedar info: fanfic ini terinspirasi dari sebuah novel


Sasuke POV's

SAKURA?

"Bagaimana ia bisa berada di sini? Apa yang ia lakukan? Tunggu..." batinku.

Saat ini benakku dipenuhi oleh ribuan tanda tanya,

"O iya, menurut cerita Naruto, tadi siang, gadis ini mengancam Tayuya, kan, apa yang ia maksud adalah kejadian ini?"

Tanpa mempedulikan rambu lalu lintas, aku berlari menghampiri Sakura.

"Sasuke! Hey! Apa yang kau lakukan?" aku tak menggubris ucapan Naruto, aku terus berlari hingga sampai didepan gadis itu.

Ia mengangkat kepalanya memandang mataku. Aku sedikit merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu. Namun, aku baru sadar bahwa ia memiliki mata yang indah.

"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku akhirnya.

Gadis itu tak menggubrisku, ia terus menatap mataku.

"Hei, jawab aku! Apa kau tak bisa berbicara?" teriakku seraya mengguncang tubuh gadis itu.

Tanpa mengubah raut wajahnya, ia berkata dengan datar,

"Aku sudah memperingatinya, tapi ia tak menggubrisku, sama seperti kedua orang tuaku."

Gadis itu berjalan meninggalkan Sasuke yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

"Sasuke, kau kenapa?" Tanya Naruto saat sudah sampai di depan Sasuke.

"Aku tak apa-apa. Tadi aku melihat gadis bernama Sakura itu disini." Jawabku.

"HAH? Gadis itu lagi. Kenapa ia bisa disini. Ini semua benar-benar membuatku pusing." Teriak Kiba frustasi tanpa mempedulikan sekitarnya.


Teng...Teng...Teng...

Suara lonceng berkumandang di kota kecil ini, untuk menyebarkan berita tragis yang terjadi kemarin. Sehari telah berlalu, tapi cerita sudah menyebar luas. Sekarang Sakura selalu diejek sebagai pembunuh, penyihir, ataupun perutuk dan ia telah menjadi terkenal di sekolah ini dengan sebutan itu. Rupanya sebelum kejadian di tangga yang dilihat Naruto itu, Sakura pernah menghampiri Tayuya di suatu tempat dan mengatakan padanya bahwa ia akan mati. Sesungguhnya aku tidak terlalu percaya dengan cerita itu, mana mungkin ada orang yang bisa mengetahui hal tersebut. Itu pasti hanyalah gossip yang dibuat oleh Karin dan Kin.

"Hey, Sasuke, dari tadi kau diam saja. Apa yang kau lamunkan?" suara Rock Lee menyadarkanku dari lamunan.

"Mmm.. aku hanya terus kepikiran soal kejadian kemarin itu dan Gosip yang sekarang sedang beredar ini." Jawabku jujur.

" O, iya.. Aku juga sangat terkejut saat pertama kali mendengarnya. Tapi aku yakin, Sakura tak mungkin membunuh atau merutuknya." Ujar Tenten.

Aku berjalan menuju anak tangga

"Kau mau kemana?" Tanya Naruto.

"Aku ingin membeli minum." Aku menuruni tangga hingga aku melihat Karin dan Kin mengancam Sakura."Seperti kejadian yang dialami Naruto." Batinku. Aku tak mau terlibat lagi dengan gadis aneh itu, aku berniat melewatinya, tapi bagaimanapun juga aku penasaran dengan gadis ini. "Apa yang akan dia lakukan sekarang?" tanyaku pada diriku sendiri.


"HEY, Kau kan yang menyebabkan kejadian ini?" Teriak Karin.

"Ayo jawab. Jangan diam saja kau, Psikopad!" bentak Kin.

Namun, Sakura tetap tenang tak berekspresi. Karin yang sudah tak tahanpun mengangkat tangannya hendak menampar Sakura, tapi Sakura tak menunjukkan gerak-gerik sedikitpun. Tangan Karin hampir menampar Sakura jika saja Sasuke tak menahannya.

"Apa yang kalian lakukan? Kejadian kemarin itu hanya KECELAKAAN" bentakku.

Kedua gadis itu berlari meninggalkan kami berdua, aku membalik badanku dan menatap gadis itu. Gadis itu segera berjalan sebelum aku sempat menanyakan apapun padanya, bahkan ia tidak mengucapkan terimakasih.

Setelah kejadian itu beberapa kali aku menemukan ia di kerjai, terutama oleh Karin dan Kin. Namun, seperti tadi, ia tidak bertindak apa-apa hingga aku harus menolongnya. Mungkin, sekilas ia terlihat pasrah, tapi sepertinya tidak, dia lebih terlihat seperti sedang menunggu sesuatu. Aku sendiripun tak mengerti mengapa aku menolongnya.

"Hey, Sasuke!" panggil Naruto.

"Hn"

"Kudengar hari ini kau terus menolong gadis aneh itu saat di kerjai, ya?"

"Hn"

"Wah, kau benar-benar hebat, Sasuke. Apa kalian sudah berteman? Apa kalian sudah mengobrol?"

"Jangankan mengobrol, mengucapkan terimakasih saja tidak. Bahkan ia tak mempedulikan semua tindakkanku tadi." Kataku sedikit kesal.

"Haha.. jadi begitu, ya. Sasuke, aku pulang duluan, ya. Sampai bertemu di tempat kerja" kata Naruto seraya berlari. "Huh. Dasar!" gumanku.


Krek!

Aku berbalik melihat ke sumber suara tadi, tapi tak ada seorangpun di sana. Aku berjalan menuju tempat yang mungkin jadi tempat persembunyian makhluk yang mengikutiku itu, saat aku berbelok ke tempat itu, aku menemukan Sakura yang sudah berada tepat didepanku. "Sial! Aku benar-benar terkejut." Umpatku dalam hati. Namun, ia sama sekali tak bergeming.

"Ah! Sudahlah, tak ada gunanya aku berbicara dengan dia."


"Aku pulang!" teriakku seraya membuka pintu.

"Wah, tumben kau pulang cepat." Kata seseorang dari ruang keluarga.

"iya, hari ini tak ada kegiatan klub. Kau sendiri?" Ujarku.

"Haha.. hari ini aku merasa sedikit kurang sehat sehingga atasanku menyarankanku untuk ambil cuti." Jawabnya.

Aku menuju ruang tamu untuk menghampiri onii-san ku. Dia adalah seorang pemuda yang memiliki wajah sepertiku, dia hampir dapat di katakan sempurna. Ia baik, tampan, dan cerdas. Namun, sayang ia tak dapat melihat karena kecelakaan 5 tahun yang lalu. Walaupun demikian, hal itu sama sekali tak menggagunya, bahkan ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Ialah yang membuatku dapat seperti ini. Karena aku tak ingin terus merepotkannya, akupun bekerja sambilan di minimarket bersama Naruto dan Kiba.

Setelah berganti pakaian, aku segera berlari keluar.

"Onii-san, aku pergi dulu" seraya berlari, ekor mataku menangkap sesosok yang sudah tak asing lagi bagiku.

"Sakura? Kenapa ia bisa berada disini? Apa ia mengikutiku?" batinku.

"Ah, persetan dengan gadis itu. Aku tak mau tahu lagi tentang dia".

Sebenarnya ia tak melakukan sesuatu yang salah padaku. Hanya saja aku mulai kesal dengan sikapnya yang seakan tak ada siapapun disekitarnya itu.

End Sasuke POV


Pkl 6.05

Seorang pemuda berambut raven sedang berjalan berasama kedua temannya. Tak seperti biasanya, ketiga pemuda itu tidak melewati pusat kota, mereka mencari jalan lain untuk menuju rumah mereka. Mungkin dikarenakan kejadian tragis itu masih membekas dipikiran mereka, mereka benar-benar tak menyangka hal tersebut.

Mereka terus berjalan, ketiga pemuda itu sedikit terkejut melihat kondisi bangunan di tempat ini, rumah-rumah disini rata-rata berukuran besar dan terlihat kuno. Mereka memang tak pernah melewati jalan ini sebelumnya.

Sesesuatu berjalan kearah mereka,

glek!

Keringat mengalir deras dari tubuh mereka. Bahkan Sasuke yang biasanya tenangpun terlihat ketakutan. Sosok yang mereka lihat, terus berjalan mendekati mereka.

"Sakura?"

seru mereka bersamaan.

"Sakura, kau membuat kami kaget saja. Kau itu sepertinya selalu ada dimana saja, ya.." ujar pemuda berambut kuning itu.

"Lagipula kuheran denganmu, kenapa kau selalu memakai pakaian berwarna hitam? Apa kau tak punya pakaian warna lain."Ledek Kiba kesal.

Tapi gadis itu terus berjalan tanpa menggubris mereka, ia masuk ke sebuah rumah besar yang tak jauh dari tempat ketiga pemuda itu berdiri.

"Kurasa itu rumahnya" kata Sasuke seraya memperhatikan rumah itu.

"Ternyata rumahnya tak semengerikan dia, ya?" canda Naruto.

"Hah. Sudahlah. Tak usah membahas tentang gadis aneh itu lagi." Protes Sasuke yang masih kesal dengan gadis itu.

"hmm. Kurasa ia tak seaneh itu, Sasuke, sepertinya ia gadis yang baik."

"Wah, ada apa ini? Kenapa kau membelanya, Naruto?" tanya Kiba dengan nada mengejek.

"Mmm.. sebenarnya tadi siang, saat aku sedang berangkat ke tempat kerja aku bertemu dengan Konohamaru, ia bercerita padaku...


Flashback...

Sore ini seperti biasanya, tak ada yang berbeda. Setiap orang melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Namun, disebuah tempat yang tak jauh dari tempat tinggal Naruto. Tempat itu sedikit terpencil, hampir tak ada manusia ataupun kendaraan yang berlalulalang disana.

BRUUUKK!

Seorang anak laki-laki mendorong temannya hingga punggungnya terbentur dinding.

"Kembalikan liontin itu." Teriak anak yang didorong.

"Huh! Kau pikir kau siapa? Berani sekali membentakku seperti itu" kata seorang anak laki-laki bertubuh besar.

"Kalau kau menganggap benda ini berharga, ambil saja sendiri" lanjutnya seraya berlari meninggalkan anak laki-laki yang masih mengerang kesakitan itu.

Anak bertubuh besar itu terus berlari hingga ia menabrak seseorang. Seketika raut wajah anak itu tampak ketakutan.


Setelah rasa sakit dipunggung anak itu mereda, ia segera berlari mengejar anak bertubuh besar itu. Saat ia melihat temannya itu, ia terkejut. Bagaikan terhipnotis, anak bertubuh besar itu memberikan liontinnya kepada gadis di depannya itu. Setelah itu, ia segera berlari, ia tampak ketakutan.

Melihat gadis itu, anak itupun ikut merinding, ia merasakan ketakutan yang sama dengan temannya itu. Ia terus berjalan mundur, kakinya terasa sangat berat untuk diangkat. Sekarang, gadis itu telah sampai tepat di depan pemuda itu. Ia sedikit membungkuk dan memberikan liontin itu pada anak laki-laki itu.

"Jika ini bendamu yang berharga jagalah baik-baik. Namun, meskipun begitu, suatu saat benda ini akan rusak, begitu pula dengan foto kakekmu yang ada di dalamnya, tetapi harta berhagamu yang sesungguhnya ada ditempat aman, yaitu disini" kata gadis itu datar seraya menunjuk anak laki-laki itu,

"di hatimu, konohamaru."


"Kak Sakura, terimakasih karena tadi sudah menolongku." kata konohamaru saat berjalan dengan Sakura.

Sakura hanya mengangguk.

"Ah, itu temanku, kakak antar aku sampai disini saja. Aku akan baik-baik saja. Sekali lagi terimakasih." Ujar konohamaru seraya berlari menuju arah temannya yang berambut kuning itu.

"Kak Naruto!"

"Hai, konohamaru, apa yang kau lakukan disini sendirian?" Tanya Naruto heran.

"Tadi aku bersama kakak cenayang disana." Jawab konohamaru dengan polos.

"Kakak cenayang? Disana tidak ada siapa-siapa, kok" Naruto melihat ke arah yang di tunjuk Konohamaru.

"Tapi, tadi ia benar-benar ada disana. Kak Sakura cepat sekali menghilangnya."

"Eh? Apa Sakura yang kau maksud itu, gadis berambut panjang berwarna pink dan bermata emerald, serta berpakaian serba hitam."

"iya. Kakak mengenalnya?"

"Ia teman sekelasku. Ngomong-mgomong kenapa kau mengatakan dia 'kakak cenayang'?"

Anak kecil itu dengan polos berkata,

"karena ia bisa tahu namaku sebelum aku memberitahunya."

End Flashback


Kiba dan Sasuke tampak terkejut. "Kau tidak menambah-nambahkannya, Naruto?" Tanya Sasuke curiga.

"tentu saja tidak."

"Tapi, cenayangkan tak dapat mengetahui nama orang yang belum pernah ditemuinya."pendapat Kiba

"Iya, terlebih lagi ia bisa tahu kalau itu foto kakek konohamaru sebelum membuka liontin itu dan inipun pertama kalinya konohamaru melihat gadis itu." Sambung Naruto.

"hah..Semakin terlibat dengan gadis itu, semakin banyak hal yang tak dapat dimengerti." Ujar Sasuke


Sasuke POV

Hari sudah gelap saat ku sampai di rumahku. "Aku pulang" teriakku. Tiba-tiba saja aku mendengar suara orang berlari.

"Siapa itu? Onii-san? Tak mungkin, dengan kondisinya yang sekarang ini, ia tak mung..." kata-kataku terpotong melihat onii-sanku berlari dan memelukku.

"A..apa yang terjadi?" tanyaku terbata-bata seraya menatap kepala onii-san ku yang sekarang telah terdapat karangan bunga mawar di atasnya. "Entahlah, saat aku terbangun dari tidurku. Tiba-tiba saja aku dapat melihat kembali. Aku suda tidak buta lagi, Sasuke"


Keesokan harinya...

Aku menceritakan hal yang terjadi padaku kemarin kepada teman-temanku, mereka semua terlihat terkejut. Sama seperti apa yang kurasakan kemarin. Tapi, apapun yang terjadi, ini semua telah membuatku sangat bahagia.

"Hei, ada orang di balik pintu itu." Bisik Neji tiba-tiba. Kamipun menoleh kearah yang Neji tunjuk.

"Ha? Bukankah itu Sakura?" kata Naruto.

"Aku baru pertama kali melihatnya, ternyata ia memang gadis yang cantik. Tapi, sedang apa ia disini?" ujar Ino.

Gadis itu menatap kearahku, merasa bahwa aku lah orang yang ia cari, aku menghampirinya. Teman-temanku hanya menatapku bingung.

Gadis itu menatap mataku. "Apa ia selalu seperti ini saat menatap seseorang?" batinku.

Ia menyodorkan sebuah karangan bunga mawar kecil kepadaku.

"Karangan mawar? Benda ini sangat mirip dengan apa yang ada di kepala onii-san kemarin." Pikirku.

"Mungkinkah.." mataku terbelalak.

"Garland of roses…."

Gadis itu berkata dengan suara yang datar dan lirih, tapi sekilas aku dapat melihatnya tersenyum tipis. Senyuman pertama yang pernah kulihat dari gadis ini.

"Berarti….balasan atas kebaikan.."


-TBC-

Terima kasih banyak atas semua review dari kalian..

Terima kasih juga karena sudah baca fic ini..

Maaf banget jika masih banyak kesalahan atau tidak sesuai harapan kalian..

Tapi, tolong di review y?

Thx.. ^^


untuk semua review yang ak g bisa bales karena ak biasanya bales pakek privete messages

aku minta maaf..

Tapi selebihnya, terima kasih banyak atas pujiannya