-Karena Cinta Dan Balas Dendam-
Disclaimer : Mashashi Kishimoto
Warning : AU, OOC
aduh.. aya kurang yakin sama chapter 3 ini.. makin lama makin gaje aja.
.
.
Last chapter :
"Sepertinya calon istriku ini sedang mual. Maklum, kebiasaan orang hamil. Oleh karena itu kami pulang dulu ya, Mikoto-sama." Mikoto hanya mengangguk. Hinata masih menundukkan kepalanya. Sai masih merangkul pinggang Hinata dan membawanya keluar dari mansion Uchiha.
Mikoto yang masih terpaku menatap kepergian mereka yang sudah semakin jauh lewat pintu utama mansion Uchiha bergumam..
"Lihat saja nanti, siapa yang akan menang dalam permainan kalian ini." Gumam Mikoto seraya menyeringai jahat.
.
.
Chapter 3
Seorang pria berambut raven melajukan mobil BMW hitamnya dengan lihai. Mata hitam pekat yang tertutupi oleh kacamata hitamnya menambah kesan keren. Dengan balutan jas hitam dan kemeja putih yang memamerkan dadanya dengan membuka 2 kancing atasnya memang terlihat berantakan. Dasi hitam panjangnya ia longgarkan dan jatuh tak beraturan. Namun ia tetap terlihat mempesona dengan style-nya yang seperti ini.
Uchiha Sasuke, sengaja pulang lebih awal dari biasanya. Di tengah penatnya pekerjaan kantor sebagai Direktur Uchiha Hotel yang membelenggunya, ia lebih memilih untuk pulang dan bersantai di rumah. Jabatan sebagai Direktur memang terasa memberatkan pria yang masih berumur 20 tahun ini. Kakaknya yang semula menjabat sebagai Direktur Uchiha Hotel dipindahkan ke luar negeri untuk mengurus beberapa perusahaan Uchiha di sana. Dan terpaksa jabatan tersebut dialihkan kepada sang Uchiha muda yang lebih suka bekerja dengan pekerjaannya sebelumnya yaitu menjadi aktor sekaligus pesonil salah satu band terkenal yang sekarang sudah bubar karena kesibukan masing-masing personilnya.
Dan kini, ia dihadapkan dengan setumpuk berkas-berkas yang harus ia tangani sebagai salah satu pewaris Uchiha Corporation. Ia merasa pusing dan tertekan, walaupun ia bisa menangani berkas-berkas itu dengan baik. Kehidupan ini bukanlah dirinya. Ia lebih suka hidup santai. Apalagi ketika ia ditemani seorang wanita berambut indigo dan beriris lavender yang dirindukannya.
Ah.. Lagi-lagi ia berkhayal yang tidak mungkin. Sudah satu bulan ia tidak melihat wanita itu lagi. Ingin sekali ia melihat wanita tersebut dan mengatakan bahwa dirinya masih mencintai wanita itu. Juga mengatakan bahwa dirinya ikut berdukacita atas kepergian ayahnya. Menenangkan hatinya, menemaninya, juga menjaganya bersama anak-anaknya sampai ajal menjemput.
Namun hal itu rasanya tidak mungkin lagi. Wanita itu pasti membencinya. Merasa sakit hati, dan tidak mau bertemu dengannya lagi.
Sasuke melamun memikirkan wanita itu terus menerus. Bayang-bayang wanita terseburt tidak pernah absen menghadiri mimpinya. Ia kini benar-benar sadar, bahwa wanita itu sungguh berarti untuknya.
Namun melamun di saat sedang menyetir bukanlah hal baik. Pandangannya kosong tak terarah sehingga ia tidak menyadari bahwa di pertigaan sana lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Mobil yang ia kendarai hampir menabrak seseorang yang sedang menyebrang.
.
-o.o.o.o.o-
.
"Kenapa kau lakukan itu Sai-kun?" tanya Hinata yang sekarang pinggangnya sudah bebas dari rangkulan tangan pucat Sai.
"Lakukan apa Hinata?" tanya Sai seraya menolehkan kepalanya memandang Hinata yang sedang berjalan di sampingnya.
Kedua insan itu tengah berjalan pulang menuju flat milik Sai. Mereka telah keluar dari mansion Uchiha yang membuat emosi Hinata meluap-luap saat itu. Masih tampak rona merah di kedua pipi pualam sang gadis bermata lavender. Ia tidak menyangka bahwa Sai akan berakting sedemikian rupa di depan Mikoto. Ia juga tak menyangka bahwa Sai mengatakan bahwa dirinya bersedia menikahi Hinata. Ikut membesarkan bayi di kandungan Hinata yang tidak memiliki ikatan darah sedikitpun dengannya.
"Mengapa kau meminta kepada wanita itu untuk merekrutku sebagai karyawannya? Apa sebenarnya rencanamu?" tanya Hinata seraya menatap balik mata hitam pekat yang jauh berbeda darinya itu.
Sai diam sejenak, sebelum menjawab, "Tentu saja membantumu menjalankan permintaan terakhir Ayahmu. Yaitu balas dendam."
Balas dendam? Ia tidak pernah meminta Sai untuk membantunya balas dendam. Kenapa ia lakukan itu?
Hinata menghentikan langkahnya. Mau tidak mau, langkah Sai ikut terhenti karenanya. Mata lavender dan onyx saling bertemu. Ia menatap mata Sai dengan lekat. Mencoba memahami isi hati sahabatnya. "Tapi Sai, kau tahu sendiri kalau balas dendam ti—
"Tidak akan menyelesaikan masalah. Ya, aku tahu itu," sela Sai sebelum Hinata menuntaskan perkataannya. "Tapi Hinata, aku tahu alasanmu tidak menjalankan permintaan Ayahmu bukan hanya karena alasan itu 'kan? Alasan yang sesungguhnya karena kau masih mencintai Sasuke 'kan? Aku tahu Hinata. Tapi cobalah kau ingat, Sasuke adalah orang yang menghianatimu. Dan coba kau pikirkan perasaan Ayahmu disana. Ia tidak akan tenang sebelum kau menjalankan permintaan terakhirnya, Hinata. Cobalah untuk belajar. Belajar untuk melupakan Sasuke. Disini ada aku. Aku siap untuk membantumu melupakan Sasuke. Aku siap untuk menjadi figur seorang ayah untuk bayi yang ada di kandunganmu, Hinata." Lanjut Sai seraya menatap Hinata dengan tatapan sendu dan memohon.
"Jadi.. maukah kau menikah denganku?" tanya Sai menggenggam erat kedua telapak tangan Hinata dan mengangkatnya sampai setinggi dada. Kedua mata itu terus bertemu pandang. Mata Hinata memandang lekat mata Sai untuk mencari kepastian akan perkataannya barusan. Dan dia tidak menemukan keraguan di raut wajah Sai yang terlihat serius kali ini.
"Ayolah Hinata, demi anakmu.." bujuk Sai.
Hinata sungguh bingung kali ini. Ia tidak mencintai Sai. Ia lebih menganggap Sai sebagai sahabat sekaligus malaikatnya. Sungguh aneh memang hidup Hinata ini. Di kala ada orang yang benar-benar baik, dan tulus untuk menikah dengan Hinata, tapi ia tidak mencintai orang itu. Sementara pria yang telah menyakitinya, menghancurkan keluarganya, membuat perusahaan ayahnya bangkrut, malah dicintainya.
Tapi untuk kali ini ia rasa ia tidak boleh mementingkan ego-nya. Di samping ia tidak sanggup menolak permintaan Sai yang sudah terlalu baik padanya, ia juga memikirkan masa depan anaknya kelak. Bagaimana jika anaknya tumbuh besar tanpa figur ayah yang mendampinginya? Ia tidak peduli apa kata cemoohan orang nanti kepadanya. Tapi ia takut, kalau anaknya akan dicemooh orang lain sebagai anak haram, atau sebagainya. Bagaimana kalau anaknya bertanya siapa ayahnya sebenarnya? Ia tidak mungkin mengharapkan Sasuke terus untuk bertanggung jawab atas kandungannya ini. Itu tidak mungkin lagi.
Hinata menghirup nafas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak. Setelah hatinya merasa mantap, ia buka kelopak berbulu mata lentik itu, memperlihatkan mata lavendernya ke arah mata onyx Sai, dan mengangguk pasti seraya tersenyum ke arah Sai yang telah menanti jawabannya.
Sai tersenyum senang melihatnya. Tidak ada yang meminta, tidak ada yang menyuruh, mereka saling berpelukan. Sungguh tidak elit memang, memamerkan kemesraan di tempat seperti ini. Tapi mereka tidak peduli.
Aroma parfum yang Sai kenakan sungguh menyejukkan Hinata yang menyandarkan kepala di dada bidang Sai. Hinata memejamkan mata tanpa mengurangi senyum yang merekah di wajah cantik sang gadis Hyuuga. Sai memang sungguh baik. Ia sungguh perhatian terhadapnya. Hinata sungguh beruntung bisa mengenal Sai. Malaikatnya.
DDRRRTTT.. DDRRRTT.. DDRRRTTT..
Suara getar handphone terdengar dari saku celana jeans hitam Sai. Sai melepas satu tangannya yang ia tempelkan di punggung Hinata dan menyelamkannya ke saku untuk mengambil sang biang pengganggu itu. "Moshi-moshi?" sapanya ketika benda elektronik itu ia tempelkan di telinganya.
"Apa?" tanyanya tenang pada suara di sebrang sana. "Hn, baiklah.. aku sudah dekat kok." Ujar Sai lalu menekan tombol merah di handphonenya.
Mereka melepas pelukan mesra mereka. Setelah itu pertanyaan Hinata adalah hal yang menjadi perhatian Sai kini. "Siapa Sai-kun?" tanya Hinata sambil menatap Sai ingin tahu. "Kabuto. Dia ingin aku ke studio sekarang juga. Tidak apa 'kan kalau kau pulang sendiri?" tanya Sai khawatir terhadap Hinata.
"Hn, pergilah. Bosmu itu nanti marah kalau kau telat datang ke sana," jawab Hinata lembut. Sai senang melihat Hinata seperti sekarang. Tidak seperti tadi yang emosi, atau seperti kemarin yang bersedih. Hinata yang terlihat damai, Hinata yang terlihat tanpa masalah, Hinata yang terlihat tanpa beban. Ia suka Hinata yang seperti ini.
Sai menaruh tangan kanannya di pinggang ramping Hinata. Sementara tangan kirinya ia simpan di belakang kepala Hinata. Mendorongnya kedepan hingga wajah mereka berdekatan, dan mencium keningnya lembut, penuh perasaan. "Jaga dirimu." bisiknya sebelum pergi kearah yang berlawanan dari arahnya tadi. Hinata hanya tersenyum menatap kepergian Sai, calon suaminya.
Ia melanjutkan langkahnya hingga ia berada tepat di pertigaan jalan. Ia hendak menyeberang jalan raya yang ramai itu. ia menunggu lampu hijau yang berbah menjadi kuning, lalu merah. Setelah warna lampu berubah, ia menyeberang jalan seorang diri.
Hinata membelalakkan matanya ketika ia menoleh ke arah jalan dan mendapati sebuah mobil BMW berwarna hitam yang dengan cepat melaju kearahnya yang sedang menyebrang.
.
-o.o.o.o-
.
"KYAAAAAA!" teriak gadis berambut Indigo spontan yang langsung meringkuk dan merundukkan kepalanya ke kedua lutut, dan menarauh kedua tangannya di kepala. Meminimalisir benturan di kepalanya jika sampai mobil itu berhasil menabraknya. Mata lavendernya terpejam takut. Detak jantungnya terpompa cepat sekali. Ia tak sempat menghindar.
Pria berambut raven yang mengemudikan mobil tersebut dengan spontan menekan pedal rem mobilnya secara seketika.
CKIIIT..
Suara gesekan ban dan aspal yang ditimbulkan dari mobil yang berhenti secara tiba-tiba sebelum menabrak gadis yang sedang meringkuk takut di tengah zebra cross. 'Apa dia tidak apa-apa?' pikir pengemudi itu yang langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri gadis berambut panjang yang sedang meringkuk tepat di depan mobilnya.
"Anda tidak apa-apa nona?" tanyanya khawatir setelah tepat berada di depan wanita tersebut seraya merundukkan badan dan menyentuh pundaknya.
'Suara itu..' Sang gadis yang mendengar suara familiar dari lelaki itu menengadahkan kepalanya perlahan untuk menatap mata onyx dari sang pemuda yang tertutupi kacamata. Seketika mata lavender pucat gadis tersebut terbelalak ketika menatap langsung pria berjas hitam yang sedang membungkukkan badannya sehingga bayangannya menutupi sang gadis dari cahaya matahari. Mata perempuan Hyuuga yang menatap lekat wajah yang ia benci atau ia rindukan ini tak teralih pada apapun. Termasuk pada suara klakson mobil yang tepat berada di belakang BMW hitam yang tadi hampir menabraknya, karena lampu lalu lintas kini telah berubah menjadi hijau kembali.
Tak hanya Hinata yang terbelalak. Mata onyx sang pemuda-pun terbelalak di balik kacamata hitamnya. Wajah wanita yang berada di hadapannya ini sungguh persis seperti wajah gadis yang ia rindukan, ia cintai, ia kasihi, ia sayangi, dan ia hianati. Atau memang gadis itu benar-benar dirinya? Ya, tidak salah lagi. Mata lavender yang Sasuke rindukan menatapnya. Warna indigo rambut yang Sasuke sukai terpampang jelas di hadapannya.
'kami-sama.. dia..' batin mereka serempak.
Sasuke melepas kacamata yang ia kenaka untuk melihat lebih jelas sosok wanita yang di hadapannya.
"Hinata?" gumamnya setelah melihat dengan jelas wajah Hinata yang masih terlihat syok. Syok karena hampir tertabrak, ditambah syok karena pertemuan kembali dua insan yang pernah menjadi sepasang kekasih ini.
"S-Sasu.." bulir-bulir air mata kembali menggenang di kelopak mata lavender Hinata. Ia tak mau terlihat menangis di hadapan pria yang menghancurkannya ini. Ia tidak ingin lagi. "argh.." Hinata melepaskan tangan Sasuke dari pundaknya. Setelah itu ia berdiri dan lari menyebrang jalan itu. Ia terus berlari ke arah flat milik Sai tanpa menolehkan pandangannya pada sosok berjas hitam yang membuatnya sakit hati. Kenapa ia harus bertemu dengan orang itu lagi? Orang yang kini ia coba untuk benci.
"Hinata!" panggil Sasuke. Namun wanita yang tengah berlari menjauhinya itu tidak memperlambat laju larinya apalagi menghentikannya.
Sasuke berlari mengejar Hinata. Ia tidak peduli berapa banyak keributan yang ditimbulkannya gara-gara menghentikan mobilnya di tengah jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Yang ia pedulikan hanya Hinata. Mengutarakan hal yang sebenarnya kepadanya dan mengatakan bahwa ia bersedia bertanggung jawab atas kandungan Hinata, yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu, apa masih dipertahankannya atau sudah digugurkannya.
Ia hanya ingin bilang, bahwa ia bersedia lari. Pergi kemanapun wanita itu mau. Asal hanya ada dia dan Hinata. Tanpa Hyuuga yang membenci Uchiha. Tanpa Uchiha yang membenci Hyuuga. Hanya ada Sasuke dan Hinata, tanpa nama depan mereka.
"Hinata!" Sasuke mencegat lengan Hinata dan berhasil membalikkan tubuh mungil wanita tersebut menghadapnya. Kedua tangan Sasuke mencengkram lengan atas Hinata. Menahannya agar tidak menghindar lagi.
Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya. Melihatnya secara langsung rasanya lebih perih daripada melihatnya di foto atau di televisi. Ia tidak ingin menatap mata hitam pekat dari orang yang telah menghancurkan hidupnya ini.
Dengan susah payah ia menahan tangis. Namun usahanya sia-sia ketika satu tangan Sasuke terlepas dari lengan atasnya, menarik dagu gadis ini lebih tinggi untuk menatap matanya. Seketika itu juga bulir bening itu jatuh, menapakkan jejaknya di pipi pualam Hinata yang kemerahan, ketika dengan langsung ia menatap mata onyx yang dimiliki Sasuke.
Tangan Sasuke yang berada di dagu Hinata, merangkak naik ke pipi.
"Hinata.." panggilnya lirih seraya menghapus jejak air mata Hinata. Air mata yang juga membuatnya sedih, karena itu bukanlah air mata bahagia. Sebaliknya, itu adalah air mata kesedihan. Dan air mata itu keluar karena dirinya. Karena Sasuke.
"Mau apa lagi kau?" tanya Hinata ketus di sela tangisnya seraya menepis tangan Sasuke dari pipinya dengan kasar.
"A-aku.. aku mau mengatakan.." Sasuke menelan gumpalan yang berada di pangkal tenggorokannya. Ia merasa gugup. Setelah itu ia menghirup nafas panjang, mempersiapkan mentalnya untuk mengajak Hinata lari dari kota ini.
"Aku bersedia menikah denganmu Hinata. Ayo kita lari dari kota ini dan tinggal di rumah yang sederhana bersama anak kita!" Seru Sasuke tak lupa menampakkan senyum. Berharap Hinata bersedia dan mengatakan 'ya'.
Hinata membelalakkan matanya. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal ini hari ini. Ia menatap Sasuke tak percaya. Oh.. Sasuke pasti sedang mempermainkannya lagi. Dan kali ini ia tidak mungkin tertipu untuk yang kedua kalinya oleh ular seperti Uchiha. Oleh orang licik seperti Sasuke.
"Kau pikir aku akan percaya ha?" tanya Hianta terdengar sangat dingin seraya tersenyum sinis ke arah Sasuke.
"Jawabannya, tidak." lanjut Hinata dengan menekan kata 'tidak' di nada bicaranya yang dingin. Senyum di wajah Uchiha Sasuke yang membuatnya terlihat semakin tampan itu, seketika memudar. Ia sungguh kecewa dengan penolakkan Hinata. Jadi ia masih mengangapnya penipu? Tentu saja. Kemana ia selama ini? Kenapa ia tidak mengatakannya dari kemarin-kemarin? Kenapa saat itu ia menolaknya dan berkata tidak mau? Semuanya sudah terlambat. Hinata sudah tak percaya lagi padanya.
"Kenapa Hinata?" tanya Sasuke terdengar sangat sedih. Terdengar sangat lemah di telinga wanita bermata lavender yang telah menolak ajakan mantan kekasihnya itu mentah-mentah.
"Aku tidak akan tertipu oleh orang licik seperti kalian lagi. Satu pengalaman sudah cukup membuatku sadar untuk tidak mengulangi kesalahanku akibat percaya padamu Sasuke. Aku juga tidak mungkin menghianati dan meninggalkan calon suamiku. Aku tidak mungkin meninggalkannya setelah ia berbaik hati bersedia menikah denganku, bersedia menjadi ayah dari bayi yang aku kandung sekarang, dan kebaikan-kebaikan lainnya yang masih banyak lagi." Hinata menghela nafas panjang, setelah itu ia melanjutkan kata-katanya. "Aku tidak mungkin sepertimu yang sehabis manis, sepah dibuang. Untuk itu, aku harap kau tidak usah urusi kehidupanku bersama keluarga kecilku nanti. Karena aku membencimu Sasuke. Membencimu." Ucap Hinata panjang lebar. Sepertinya ia sudah benar-benar menemukan kebencian di hatinya untuk Sasuke. Dan menutup hatinya rapat-rapat untuk Uchiha yang terlihat sedih di hadapannya ini.
"Jangan ikuti aku." Setelah berkata demikian, Hinata pergi meninggalkan Sasuke untuk pulang menuju flat Sai.
Sasuke masih berdiri terpaku di tempatnya tadi. Hatinya sakit, melihat kebencian wanita itu terhadapnya. Hatinya terasa tersayat, karena hadis itu sudah tidak mempercayainya lagi. Hatinya terasa tercabik-cabik, mendengar kalau gadis itu telah menemukan pria lain di hatinya yang pastinya lebih baik dari dirinya.
'Ia benar-benar membenciku..' pikirnya sedih.
.
.
.
.
_TBC_
.
Huh, akhirnya beres.
Sasukenya udah muncul tuh.. gimana? Puas? Belum ya?
Habisnya romance sasuhinanya juga kurang karena Hinata-nya benci sama sasu. Penasaran cerita selanjutnya? Ditunggu aja ya..
ah, kayanya apdetnya bakal rada lama, yang the sweetest valentine juga. abisnya selain saya harus mempersiapkan MOS, kompi saya juga rusak lagi.. nyebelin..
Hinata jadinya mending sama Sasuke apa Sai ya? Ayo.. dukung siapa? Ikutin terus aja ya...
Review please.. ^.~
