.
This story inspired from Zerochan and every chapter do not related each other, just random story
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Warning : T rate/OOC/Typo(s)/Maybe contain sho-ai (dunno)
Genre : Friendship/Comedy/Slice of life
BOYS LIVING ROOM
.
Chapter 3
.
.
(Taste The Vanilla Together)
...
Cuaca siang itu memang sedang panas-panasnya. Kuroko yang biasanya rajin latihan lebih memilih ngadem di pinggir lapangan sambil menikmati sebongkah (?) es krim vanilla kesukannya. Yah, mumpung si kapten sadis sedang tidak ada untuk mengawasi, apa salahnya dia menikmati hidup sekali ini saja? Jadilah Kuroko duduk lesehan menikmati manisnya vanilla masuk ke dalam mulutnya sambil mengamati Aomine dan Kise yang sedang melakukan latihan one on one.
Lagi enak-enaknya santai muncul Murasakibara tepat di belakang dengan pandangan yang langsung tertuju ke arah es krim milik Kuroko. Alarm tanda bahaya langsung berdering di atas kepala sang phantom, nyawa es krimnya dalam bahaya, pikirnya dengan lebay. Cepat-cepat ia berdiri untuk menghindar.
"Kayaknya enak tuh. Boleh minta?" Murasakibara udah ngiler duluan ngeliat es krim yang kelihatan sangat aduhai dan bohai.
Belum sempat Kuroko menyelamatkan sang kekasih (baca : es krim vanilla), Murasakibara udah nyosor duluan. Dengan tampang tak berdosa, Murasakibara menggigit es krim yang masih dipegang sang empunya, dan setengah dari es krim tersebut raib ditelan monster.
"Kenapa kau memakan es krimku, Murasakibara-kun?" Kuroko menatap Murasakibara dengan tatapan melas. Oh, hilang sudah separuh jiwanya (separuh es krimnya).
"Jangan bersedih Kuro-chin. Masih ada setengahnya lagi 'kan." Murasakibara melirik ke arah sisa potongan es krim yang masih tertinggal.
Pluk...
Malang tak dapat dihindari, sudah kepanasan, setengah es krimnya ditelan Murasakibara, kini sisa es krimnya malah terjatuh ke lantai. Benar-benar sangat mengenaskan nasib es krim milik Kuroko, dan sang pemilik hanya bisa meratap galau.
"Es krimku..." Setelah puas meratapi nasib es krimnya yang mengenaskan, Kuroko langsung beralih menatap Murasakibara sambil manyun dengan tatapan yang berkaca-kaca. Seolah-olah air terjun sungai Niagara bisa saja tumpah dari kedua manik baby blue tersebut.
Sementara sang raksasa hanya bisa garuk-garuk bingung. Dia merasa telah berbuat nista, karena menodai es krim Kuroko. Hal yang gawat adalah, kalau sampai member keenam mereka itu menangis, atau lebih parahnya lagi mengadu kepada Akasahi, atau sang kapten melihat perbuatan bejadnya. Bisa-bisa dia diberi hukuman, dilarang memakan cemilan apapun, atau worst than that. Sejenak Murasakibara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ngeri, membayangkan Akashi melemparinya dengan berbagai macam benda-benda tajam, berlari mengejarnya dengan gergaji mesin.
Setelah otaknya puas merantau memikirkan kekejaman Akashi (tapi, gak begitu-begitu amat kali) tiba-tiba sebuah bohlam lampu yang terang-benderang muncul di atas kepalanya, menandakan sebuah ide yang (tidak) brilian masuk ke dalam otak (tak) cerdasnya.
"AHA!" Teriaknya sok-sok ikutin gaya iklan, sambil senyum-senyum sendiri dan menatap Kuroko yang masih berdiri di sebelahnya.
"Kuroko-chin..." Pemuda dengan tinggi 186 cm itu membungkuk dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia mendaratkan bibirnya tepat ke bibir Kuroko.
"Bagaimana? Es krimnya tadi masih berasa 'kan?" Tepat sekali, barusan saja Murasakibara mentransfer potongan es krim vanilla yang ada di mulutnya ke mulut Kuroko melalui bibir.
Kuroko kaget, berusaha mencerna apa yang barusan saja terjadi. Kedua bola mata baby blue itu mengerjap-ngerjap tak percaya. Baiklah, kali ini dia merasa telah ternoda karena ciuman pertamanya diambil oleh Murasakibara.
"Murasakibara-kun? Bisa kau jelaskan, kenapa kau—" Kuroko tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tenggelam oleh suara gaduh yang berasal dari Aomine dan Kise.
Benar sekali. Kedua pemuda yang tadinya sedang melakukan latih tanding one on one kini sedang berlari ke arahnya dengan wajah shock bercampur kesal dan tak terima.
"Murasakibaracchi, apa yang barusan saja kau lakukan pada Kurokocchi-ku, huh!?"
"Dasar licik! Kau mengambil kesempatan 'kan!"
Rupanya mereka berdua tadi melihat insiden pengiriman potongan es krim yang dilakukan Murasakibara lewat ciuman. Sontak saja, mereka langsung marah-marah tak terima, kenapa gak bagi-bagi (dasar maunya).
"Habisnya, Kuro-chin terlalu polos dan gampang dimodus," jawab Murasakibara mengumbar aib plus niat nistanya tadi.
Setelah mendengar penjelasan Murasakibara tadi, tiba-tiba Kise nyengir. Tampaknya sebuah ide yang tak kalah bejadnya dari si monster muncul di dalam otaknya yang berkapasitas minimalis.
"Kuroko-cchi!" Tanpa permisi lagi sang copy cat mencium anggota GoM favorite-nya. Sementara sang korban lagi-lagi hanya bisa bengong sebelum sempat menghindar. "Puah..., Kuroko-cchi manis seperti vanilla," ucapnya dengan senyum puas.
"Itu karena aku baru saja memakan es krim vanilla...," jawab Kuroko dengan tatapan datar dan mundur satu langkah dari Kise.
"Biarkan aku mencobanya juga!" Tak mau kalah dari kedua temannya, Aomine segera menarik Kuroko dan menciumnya juga. Lagi-lagi Kuroko tidak dapat menghindar. Dia benar-benar defenless untuk hal-hal seperti ini.
"Manis...," gumam Aomine setelah menyesap sedikit bibir sang sixth phantom sambil menjilat bibirnya sendiri.
"Bukankah tadi aku sudah menjelaskan, kalau baru saja aku memakan es krim vanilla?" Kuroko kembali mengambil langkah mundur menghindari Aomine, yang tampaknya ingin kembali menciumnya. Sebelum itu terjadi lebih baik dia menjaga jarak.
Tapi sayang, ketika ia melangkah mundur, tubuhnya malah seperti menabrak sesuatu (atau seseorang lebih tepatnya). Belum sempat ia bereaksi untuk menoleh ke belakang, memastikan siapa yang menubruknya (akan gawat kalau orang itu adalah Akashi), tiba-tiba saja sebuah tangan jenjang sudah menarik lehernya ke arah belakang, membuat kepalanya mau tak mau menengadah, dan Kuroko baru saja menyadari kalau sebuah ciuman kembali mendarat pada bibirnya.
"Midorima-kun..., bisa kau lepaskan aku? Leherku jadi sakit," ucapnya setelah ciuman itu dilepaskan oleh Midorima.
"Maaf," balas pemuda berambut hijau tersebut, melepaskan tangannya dari leher Kuroko, mengembalikan posisi tubuh remaja yang lebih pendek darinya ke semula.
"Tampaknya hari ini semua orang ingin mencium Kuroko-cchi!" Kise bersorak senang.
"Apakah itu berarti..., Akashi-kun juga mau menciumku...?" Kuroko menoleh ke samping, tepat ke arah di mana sang kapten kini tengah berdiri.
Sontak anggota GoM yang lain ikut mengalihkan pandangannya ke arah tatapan mata Kuroko tertuju. Di sana sang emperor tengah berdiri sambil memamerkan seringai menakutkannya kepada GoM yang lain.
"Tentu saja," ujar Akashi sambil berjalan maju mendekati anggota termuda GoM.
Sama seperti yang lainnya, tanpa banyak bicara, ia langsung mendaratkan sebuah ciuman singkat pada Kuroko, dan melepasnya dengan sebuah seringai puas. Tak berapa lama, sepasang bola mata berbeda warna itu menatap tajam ke arah GoM lainnya.
"Kalian, berlari mengelilingi lapangan 100 kali, dilarang protes, cepat laksanakan," ucapnya dengan aura-aura kegelapan yang menyeramkan.
Tanpa berpikir dua kali keempat anggota GoM itu segera berlari terbirit-birit meninggalkan Akashi dan Kuroko. "Tetsuya, kau juga akan kuhukum kalau masih memelihara sikap polos dan bodohmu itu, mengerti?" Pandangan matanya kini beralih ke arah Kuroko dan memberikannya sebuah peringatan halus.
"Eh?" Kedua manik baby blue itu membulat dan mengerjap-ngerjap. Kuroko sedikit memiringkan kepalanya.
Akashi yang mendapat tatapan polos seperti itu hanya bisa menunduk pasrah. Sepertinya mulai dari sekarang ia harus mengawasi Kuroko dari ancaman modus anggota GoM lainnya (termasuk dirinya sendiri).
End Chap 3
T
H
N
A
K
S
For read :D
