Diamond no Ace © Terajima Yuuji
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Sawamura Eijun, Miyuki Kazuya,
Kazu & Eiko (OC)
.
DIVINE
0o0o0o0o0
.
Dua malam tidurnya tidak nyeyak. Alasan pertama karena kedua anaknya sedang tidak tinggal bersama ia saat ini, yang kedua adalah reaksi Miyuki Kazuya waktu itu—walau hanya sesaat, tapi mata mereka sempat bertemu dan Eijun yakin kalau majikannya itu terpengaruh dengan feromon yang keluar saat masa heatnya. Dan yang paling menganggu pikirannya saat ini adalah alasan yang kedua.
Bukan karena ia tidak perduli dengan anak-anaknya, hanya saja ia sudah yakin kalau Miyuki Kazuya tidak akan berlaku jahat pada Kazu dan Eiko. Jadi yang perlu ia pikirkan berkali-kali adalah alasan kenapa saat itu majikannya itu terpengaruh.
Sudah sejak tujuh tahun lalu, sejak pertama kali Eijun heat setelah mendapat gigitan dari alpha yang menidurinya malam itu, tidak ada alpha lain yang terpengaruh dengan heatnya. Kebanyakan bahkan tidak sadar kalau Eijun sedang dalam masa heat. Jadi reaksi Miyuki Kazuya kemarin patut untuk ia pertanyakan.
Eijun sendiri tidak bodoh sampai tidak bisa menemukan alasannya, tapi alasan yang ia dapat itu cukup menakutkan efek sampingnya. Mengakui alasan itu sama saja dengan mengakui kalau Miyuki Kazuya adalah orang bejat. Iya, alasan itu adalah karena Miyuki yang sudah meninggalkan bekas gigitan di lehernya, ayah dari Kazu dan Eiko.
Eijun ingin menolak kemungkinan itu, tapi ia juga yang paling tahu kalau tidak ada kemungkinan lain yang masuk akal.
"Tapi kenapa bisa?"
Saat sedang uring-uringan dengan pikiran itu tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Nama Miyuki Kazuya muncul di layarnya.
"Ya, Miyuki-san?"
"Bagaimana keadaaanmu, Sawamura?"
"Sudah lebih baik dari kemarin."
"Anak-anak ingin mendengar suaramu makanya aku telepon." Samar Eijun mendengar Miyuki Kazuya mengatakan "..gantian, oke?" sebelum gantian Eiko yang menyapanya.
"Mama! Masih sakit?"
"Sudah tidak, kok. Tenang saja, sayang."
"Eiko kangen mama. Kazu juga katanya kengen mama."
"Mama juga kangen kalian. Eiko tetap jadi anak baik, kan? Tidak merepotkan paman Miyuki, kan?"
"Tentu saja tidak. Eiko tidak menangis, kok."
"Bagus kalau begitu. Sekarang biarkan mama bicara dengan Kazu juga."
"Baiklah." Ada jeda yang diisi keributan dua anaknya, kurang lebih tentang Kazu yang tidak suka Eiko bilang dia kangen mama, Kazu ingin menyampaikan perasaannya sendiri. Jeda yang membuat Eijun diam-diam tersenyum senang.
Walau sedang berjauhan, kedua anaknya itu tetap saja malaikat kecil yang sudah dewa kirimkan untuk dirinya. Sepasang pembawa kebahagiaan yang memberi Eijun arti untuk tetap bertahan hidup dan terus berjuang sampai saat ini.
"..Mama?"
"Ya, Kazu, kamu baik-baik saja, sayang?"
"Aku baik, Eiko juga baik. Paman Miyuki juga baik."
"Baguslah kalau begitu. Secepatnya mama akan jemput kalian nanti."
"Tenang saja, mama bisa istirahat sampai benar-benar sembuh, aku yang akan jaga Eiko, jadi mama tidak perlu cemas."
"Terima kasih, sayang."
"Ya sudah, paman Miyuki mau bicara lagi katanya."
Lagi sambungannya beralih pada sang majikan. "Tenang saja, Kazu dan Eiko baik-baik saja. Lebih baik khawatirkan dirimu sendiri dulu."
"Maaf karena sudah banyak merepotkan, Miyuki-san."
"Tidak masalah. Toh, aku yang menawarkan diri." Ada sedikit jeda sebelum akhirnya Miyuki Kazuya melanjutkan, "..Sawamura, pastikan kau benar-benar sudah selesai periodemu, karena setelah itu ada yang perlu aku tanyakan padamu."
"Saya juga punya beberapa hal yang ingin saya pastikan."
"Kalau begitu istirahat yang cukup. Anak-anakmu sedang menunggumu."
"Terima kasih banyak, Miyuki-san."
Sambungan diputus, detak jantung Eijun bergemuruh kencang. Miyuki Kazuya bilang ada hal yang ingin ditanyakan, jadi tanpa sadar di dalam kepalanya Eijun sudah mulai bermain tebak-tebakan apa kiranya yang akan ditanyakan.
Walaupun Kazu dan Eiko menunggunya, tapi kalau begini jangankan untuk istirahat, tidurpun akan jadi lebih sulit.
0o0o0o0o0
Kazuya beruntung karena ternyata pembantunya sudah menyiapkan beberapa makanan matang yang hanya perlu dipanaskan di dalam lemari es dapurnya. Berkat itu dia jadi tidak bingung harus memberi makan apa anak-anak yang tinggal bersamanya. Satu yang pasti junk food tidak masuk pilihan.
Sawamura Eijun bukan tipe orang tua yang suka memanjakan anaknya dengan berbagai macam makanan mewah dan jajanan aneh, bisa dilihat dari seberapa senang kedua anak itu saat mendapat cokelat dari Kazuya sebelumnya. Dan untuk menghormati cara sang pembantu mendidik anak-anaknya, Kazuya berusaha sebisa mungkin menjaga makanan kedua anak itu.
Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Kazuya kembali masuk dapur. Bukan karena tidak bisa masak, malah kalau mau dibandingkan Kazuya akan dengan percaya diri mengatakan kalau masakannya jauh lebih baik dari masakan pembantunya itu dan pembantunya dulu. Awalnya hanya karena tidak ada waktu, selanjutnya karena Kazuya terlalu malas.
"Paman masak?" Eiko dan Kazu ikut masuk ke dapur, membuntuti Kazuya yang sibuk memilih bahan mana yang sekiranya mudah namun cukup bergizi untuk menjadi makan malam anak-anak itu.
"Paman punya tahu putih, kalian suka sup tahu?"
"Eiko suka!" si adik mengangkat tangan tinggi.
Akhirnya setelah dua hari tinggal dengan dua anak itu Kazuya juga mengerti beberapa hal tentang Sawamura Eijun. Berasal dari Nagano, sudah tidak punya keluarga lain selain kedua anaknya dan seorang sepupu perempuan bernama Wakana. Baru kembali tinggal di Tokyo awal bulan lalu, sebelum acara pernikahan Furuya dan Haruichi.
Tentang Kazu dan Eiko juga tentunya. Umur mereka enam tahun, beda sepuluh menit katanya. Eiko suka dengan cerita-cerita tuan putri, sedangkan kakaknya suka dengan cerita pahlawan. Mereka tidak pernah bertengkar karena tidak ingin membuat Sawamura Eijun susah dan sedih. Sama-sama suka jajanan manis, seperti puding, cake, donat dan kue isi kacang. Kazu suka kare buatan mamanya, sedangkan Eiko suka omurise buatan mamanya. Mereka juga bukan pemilih makanan, walau Kazuya bisa menebak kalau Kazu tidak suka dengan tomat dan Eiko tidak suka dengan wortel, tapi mereka memakan semua yang ada.
Anak-anak yang sangat mengagumkan. Keduanya bahkan sudah menjalani tes golongan, sama-sama mendapat hasil alpha. Tapi melihat keduanya tidak terganggu dengan feromon yang Sawamura Eijun keluarkan kemarin Kazuya jadi semakin bingung.
Kazuya pikir Eijun sudah ditandai, sudah digigit lehernya. Harusnya kemarin Kazuya tidak merasakan efek apapun. Kemudian setelah Kazuya mulai berpikir kalau sebenarnya Eijun belum ditandai siapapun ia teringat lagi pada fakta pertama, kedua anaknya yang alpha saja tidak terganggu dengan masa heat Sawamura Eijun. Kazuya jadi semakin tidak paham.
Makanya pada makan malam kali ini, Kazuya mencoba untuk sedikit mengulik tentang pembantunya itu lagi.
"Nah, paman tidak pernah mendengar kalian membicarakan ayah kalian. Dia kemana?" gerakan makan dua anak itu terhenti, keduanya saling menatap sebelum akhirnya menaruh alat makan mereka di atas meja dan menyembunyikan kedua tangan mereka. Seketika itu Kazuya menyesal sudah bertanya, tapi jujur saja, dia penasaran.
"..kami tidak tahu." Eiko menjawab.
"Mama tidak pernah menjawab jika kami bertanya tentang itu, dan Bibi Wakana pernah bilang kalau mama juga tidak tahu." Kazu yang melanjutkan.
Kazuya sempat bingung harus bagaimana saat melihat raut wajah kedua anak itu yang berubah drastis. Kazuya juga baru sadar kalau keduanya menurunkan tangan mereka untuk saling bergandengan. Rasanya sudah tidak bisa dibahas lagi, dan sepertinya sejak awal ini mungkin topik terlarang untuk keluarga mereka.
Karena tidak pernah mendengar peringatan apapun dari Watanabe dan Furuya tentang ini Kazuya jadi tidak sengaja menginjak ranjau.
"O-oh, begitu ya. Tidak apa-apa, paman yang salah sudah bertanya pada kalian, sekarang ayo lanjutkan makannya." Mungkin jauh lebih baik jika langsung bertanya pada yang bersangkutan.
Kazuya juga jadi harus mencari ide baru untuk mencairkan suasana dan membangun kepercayaan dua anak itu lagi. Benar-benar menyesal dia bertanya tentang hal itu pada mereka.
0o0o0o0o0
Di pagi hari keempat dirinya tidak bertemu dengan Kazu dan Eiko, akhirnya Eijun memberanikan diri untuk datang ke rumah majikannya. Ingin hatinya kemarin, tapi saat bertanya pada Miyuki Kazuya, sang majikan menolak ia mentah-mentah dan mengancam akan membawa kabur Kazu dan Eiko kalau Eijun memaksa bertemu. Jadi mau tidak mau ia menurut.
Pagi ini, tanpa mengabari terlebih dulu Eijun datang dengan niat bekerja dan bertemu anak-anaknya. Tapi sungguh mengejutkan, Eijun tidak menyangka kalau ia akan melihat kedua anaknya tidur di sisi sang majikan, pulas—ketiganya sama sekali tidak bergerak saat Eijun masuk melihat mereka.
Kalau bukan karena satu perasaan sakit di ujung hatinya Eijun mungkin akan menonton adegan monoton tiga makhluk ciptaan dewa tadi tertidur. Sayang saja dadanya ngilu dan terganggu melihat itu, maka bekerja menjadi satu-satunya pilihan baginya.
Pertama sarapan, ia menyiapkan seperti biasa, porsinya di tambah sedikit untuk Kazu dan Eiko. Kemudian membenahi ruang tengah yang ia yakini jadi seperti kapal pecah berkat kedua anaknya. Eijun sampai takut membayangkan bagaimana repotnya Miyuki Kazuya mengasuh dua anak itu.
Saat dirinya sedang menjemur pakaian, mungkin sekitar satu setengah jam setelah ia menyusup masuk ke dalam rumah itu, tiga orang yang tadi pulas tidur di kamar utama mendatanginya. Dua bocah langsung lari memeluk kedua kakinya, merengek minta dipeluk balik, mengeluh kangen, dan tidak lupa memuji pria yang sudah mau repot-repot mengurus mereka empat hari belakangan.
Eijun tidak bisa berbuat banyak, mengetahui kalau kedua anaknya tidak tertekan, sedih atau takut saja sudah cukup baginya. Mendapat banyak laporan pendek dan bertubi-tubi dari Kazu dan Eiko adalah hal hebat yang bisa ia rasakan sebagai orang tua.
"Baiklah, anak-anak, ayo kita sarapan, biarkan mama kalian menyelesaikan pekerjaannya dulu." Secara nyata, itu adalah kali pertama Eijun sadar kalau kedua anaknya benar-benar menyukai dan menghormati majikannya ini. Kazu dan Eiko mengikuti apa yang Miyuki Kazuya katakan, mereka bahkan dengan santai menceritakan banyak hal sederhana di meja makan pada orang itu—padahal Eijun pikir itu adalah momen spesialnya sendiri setiap pagi, ternyata ada yang sudah ikut merasakan hal itu juga.
Hanya empat hari, dan Eijun sudah sangat cemburu melihat kedekatan anak-anaknya dengan Miyuki Kazuya.
"Oh, Sawamura, setelah ini kita harus bicara." Majikannya mengatakan itu setelah sarapan. Dia masuk kamar kemudian, tapi Eijun tahu betul kata setelah yang diucapkan tadi tidak akan lama datangnya. Dan ... Eijun tahu apa yang harus mereka bicarakan.
Butuh banyak tenaga untuk memberanikan diri mengungkit topik ini, bahkan bagi Eijun pribadi. Walau tidak menutupi, tapi bukan berarti ini adalah hal yang bisa sembarangan dibuka, terlebih dengan adanya Kazu dan Eiko. Eijun sendiri lebih suka menjadi orang tua bodoh yang tidak tahu kemana ayah anak-anaknya dari pada harus berbohong mengarang cerita, karena menurutnya begitu lebih baik.
Ketika matahari pagi mulai naik, setelah meminta kedua anak Eijun untuk bermain di halaman samping, akhirnya Eijun berhadapan langsung dengan satu-satunya orang yang menunjukan reaksi pada saat periode heatnya kemarin.
Padahal pagi itu Eijun masih meminum pil supresannya, dan mungkin karena demamnya efek pil itu jadi tidak begitu bagus. Tapi bukan berarti akan ada alpha yang bisa merasakan efek feromonnya dengan mudah juga, ingat ia sudah ditandai, di lehernya sudah ada tanda gigitan seorang alpha—walau masih belum jelas siapa orangnya. Jadi wajar saja jika Eijun bingung dan heran, bermain tebak-tebakan setelah melihat reaksi Miyuki Kazuya sore itu.
"Sebelumnya aku mau minta maaf." Sekarang Eijun duduk berhadapan di meja makan. Jarak yang bisa di katakan aman untuk saat ini. "Beberapa hari lalu aku sempat membuat Kazu dan Eiko merasa tidak enak karena sudah menanyakan tentang ayah mereka."
"Oh." Pelan, rekasi itu tidak bisa tertahan. Eijun cukup terkejut karena majikannya ternyata diam-diam ingin tahu tentang hal seperti itu. Tapi sekali lagi, karena mengingat apa yang sudah terjadi di antara mereka beberapa hari lalu mungkin itu cara paling masuk akal bagi majikannya untuk mencari tahu.
"Aku bukan orang yang suka ikut campur hal seperti itu sebenarnya, tapi ... ini sedikit aneh saja." Dari jeda sesaat tadi Eijun bisa melihat kalau tidak ada kebohongan dalam pengakuan Miyuki Kazuya. Majikannya itu memang terlihat sedikit terganggu juga dengan kondisi mereka saat ini. "Maksudku, kau ini sudah ditandai, kan?"
Eijun mengangguk. Tangannya lengusap leher bagian belakang yang tertutup dengan lilitan perban.
"Lalu kenapa waktu itu aku bisa dengan jelas mencium aromamu?"
Hanya ada satu alasan harusnya. Eijun yakin majikannya ini tidak bodoh dan pasti sudah tahu betul tentang kemungkinannya. Ini adalah hal mendasar yang bahkan sudah mereka pelajari sejak kelas tiga sekolah dasar, jadi tidak mungkin Miyuki Kazuya sama sekali tidak mengerti. Yang terpenting sekarang justru adalah ...
"Aku boleh bertanya sesuatu padamu, Miyuki-san?"
"Apa?"
"Tujuh tahun lalu, apa kau pernah menyewa seorang omega yang sedang dalam periode heat pada sebuah club?" majikannya tiba-tiba saja mematung. Reaksinya tiba-tiba saja membuat bulu kuduk Eijun meremang.
"Maaf, saya bukan bermaksud jelek ... ini mungkin sedikit memalukan untuk diceritakan pada majikan saya sendiri, tapi saya rasa anda pantas tahu." Eijun menjeda dengan helaan napas panjang sebelum melanjutkan. Ini bagian paling tidak ingin ia ungkit lagi, tapi posisinya sekarang mengharuskan diri untuk menceritakan cerita itu pada orang lain sekali lagi. "Tujuh tahun lalu saya pernah dijual oleh seseorang pada club XX saat periode heat saya sedang kembali. Dipaksa untuk tidur dan berhubungan badan dengan seorang alpha yang akhirnya membuat saya melahirkan Kazu dan Eiko, juga mendapat tanda ini."
Saat mengatakan tanda ini, Eijun mengusap belakang lehernya lagi.
"Hari itu selain diculik dan dijual saya juga sempat dipaksa untuk meminum obat aneh yang sempat membuat saya kehilangan kesadaran. Tidak banyak yang saya ingat, ketika saya bangun saya sudah berada di dalam kamar hotel dan sudah mendapat tanda 'ini'... saya sudah mencoba untuk mencari informasi tentang alpha yang membeli saya malam itu, tapi sampai saat ini saya masih belum bisa mendapat sedikitpun petunjuk." Miyuki Kazuya yang duduk di hadapannya menyimak dengan baik, bahkan bisa dikatakan hampir tidak bereaksi apapun sejak pertanyaan pertamanya tadi.
"Saya bukannya ingin menuduh, tapi apa mungkin alpha yang membeli saya malam itu ..." Eijun tidak berani meneruskan. Miyuki Kazuya di hadapannya sudah mulai pucat, bahkan tangan pria itu sudah mengepal satu sama lain sampai memutih.
Samar dari tempat mereka saat ini Eijun bisa mendengar tawa kedua anaknya yang asik bermain di halaman samping. Entah apa yang mereka lakukan, tapi Eijun benar-benar ingin segera lari dari sana membawa kedua anaknya dan tidak ingin bertemu dengan majikannya lagi.
Takut. Sungguh, walau Miyuki Kazuya masih belum mengatakan apapun, tapi dirinya sudah menarik kesimpulan paling mungkin dan kesimpulan itulah yang sangat menakutkan sekarang.
"...Sawamura."
"Y-ya?"
"Aku harus bagaimana?"
0o0o0o0o0o0
Sudah satu minggu sejak terakhir kali Eijun datang ke rumahnya. Hari itu setelah Kazuya mengakui kalau dirinya pernah membeli seorang omega di club XX tujuh tahun lalu, reaksi pembantunya itu langsung aneh.
Dia tidak mengatakan apa-apa, dan mengangguk menerima semua hal yang Kazuya katakan. Permintaan maaf, permohonan untuk diberikan kesempatan menebus dosa, dan keinginan Kazuya untuk tetap dibiarkan bertemu dengan Kazu dan Eiko tidak dijawab.
Hari itu setelah memasak untuk makan siang, Eijun langsung pamit pulang, membawa Kazu dan Eiko pergi dan menolak tawaran Kazuya untuk mengantar mereka kembali. Harusnya Kazuya lebih cepat sadar hari itu, kalau dirinya harus bergerak cepat, malah harusnya hari itu Kazuya tidak membiarkan Eijun dan dua anaknya untuk pulang.
Sekarang ia baru saja merasa menyesal sudah membiarkan Eijun pergi bersama Kazu dan Eiko.
Ketiganya tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Eijun tidak mengatakan apapun keesokan harinya saat tidak datang ke rumah Kazuya, begitu Kazuya cek ke apartemen mereka tidak ada, bahkan saat Kazuya bertanya pada pihak sekolah Kazu dan Eiko, guru-guru di sana hanya bilang kalau Kazu dan Eiko sedang ijin tidak berangkat karena ada urusan keluarga.
Bodohnya lagi, setelah satu minggu Kazuya baru sadar kalau satu-satunya orang bisa ia tanya disaat seperti ini adalah partner juniornya, Haruichi.
"Maaf, kalian sudah menunggu lama?" laki-laki dengan surai merah muda yang datang bersama dengan juniornya itu menggeleng. Begitu Kazuya mendudukan diri di hadapan kedua orang itu dirinya langsung dihujat dengan macam-macam sindiriran oleh Furuya.
"Ya-ya, aku tahu aku salah."
"Jelas kau salah, senpai. Tujuh tahun lalu kau sedang menjalin hubungan dengan Rei-chan, dan masih sempat meniduri omega dari club pula." Kalau tidak ingat dirinya ada di sana untuk meminta bantuan dari mereka, mungkin Kazuya sudah meninju muka junior kesayangannya itu.
"Tapi apa kau yakin kalau Kazu dan Eiko itu benar-benar anakmu?" sekali lagi Furuya mengajukan pertanyaan yang menuntut untuk dihadiahkan tinju.
"Melihat dari wajah Kazu saja sudah cukup jelas. Anak-anak itu kembar non-identik, dan Eiko sudah sangat jelas mirip sekali dengan Eijun-kun, jadi tidak heran jika Kazu mirip dengan ayahnya." Haruichi mengibuhi.
"Aku tahu, aku yakin, makanya aku mau mencari mereka." Kazuya tidak begitu mengerti kenapa dirinya sampai sefrustasi ini hanya karena tidak bisa menemukan ketiga orang itu. Padahal masih jelas dalam ingatan Kazuya kalau sampai pada hari pernikahan Furuya dan Haruichi dirinya masih mengeluh tidak paham dengan apa itu cinta dan kenapa manusia ingin memiliki sebuah keluarga.
Entah sejak kapan, ia bisa menerima anak-anak dan ingin seseorang tinggal disisinya seperti ini. Padahal Sawamura Eijun itu hanya pembantunya—yang tidak sengaja tujuh tahun lalu pernah dia tiduri dan melahirkan sepasang anak kembar untuknya. Apa jatuh cinta itu hal yang sangat mudah seperti ini?
Hanya karena mengetahui fakta bahwa Eijun sudah memberinya sepasang anak kembar saja sudah membuat Kazuya tidak ingin kehilangan orang itu.
Kalau jatuh cinta semudah ini, kenapa juga baru sekarang dirinya merasakan hal seperti ini? Apa saja yang sudah ia lakukan sejak dulu, sampai baru sekarang dirinya mengerti tentang arti ingin memiliki seseorang seperti ini?
"Aku bisa saja memberi tahu di mana mereka sekarang, tapi sebelum itu aku ingin memastikan dulu; kalau kau sudah bertemu dengan mereka, apa yang akan kau lakukan?"
Sepasang mata Haruichi yang biasanya terlihat ramah dan hampir tidak pernah memberi ancaman apapun selama Kazuya mengenalnya hari ini terlihat berbeda. Sebaliknya, sepasang manik itu seperti sedang mengancamnya, menuntut Kazuya untuk memberi jawaban yang cukup bagus kalau memang benar ingin dipertemukan dengan Eijun, Kazu dan Eiko.
"Tentu saja aku ingin meminta mereka untuk tinggal bersama denganku—maksudku, aku ini orang yang harusnya bertanggung jawab atas mereka, dan lagi pula, aku rasa sekarang aku mulai mengerti alasan kenapa semua orang ingin berkeluarga."
"Kau pikir Eijun-kun akan langung memberi jawaban 'ya' kalau kau datang padanya dan meminta dia untuk ikut bersama denganmu?" Kazuya tidak bisa menjawab, terlalu takut dengan intimidasi sepasang mata Haruichi. "Bahkan jika kau bersujud di kaki Eijun-kun, aku ragu dia akan mau menerimamu. Dia sudah terlalu lama menderita, sudah terbiasa hanya hidup bertiga dengan anak-anaknya saja, menerima kehadiranmu bukan hal yang mudah, walau selama ini dia sendiri yang mencari keberadaanmu."
Ah, ya, kurang lebihnya Kazuya paham perasaan seperti itu. Tidak ingin ada orang lain yang masuk ke dalam zona nyamannya dan merusak semua yang sudah tertata rapih bertahun-tahun lamanya. Menerima kehadiran orang lain setelah mengerti rasanya ditinggal sendiri memang bukah perkara mudah, Kazuya tahu betul posisi seperti itu.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Tapi tetap, Kazuya ingin menemui mereka. Setidaknya sekarang ia mengerti dari tiga orang itu dirinya bisa belajar menjadi seperti orang lain, normal—bisa mengerti artinya ingin bersama dengan seseorang, mencintai, berkeluarga dan memiliki anak kemudian hidup sampai tua bersama.
"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah menjelaskan siapa dirimu yang sebenarnya pada Kazu dan Eiko. Kalau kedua anak itu mau menerimamu, kau akan punya dukungan besar untuk meyakinkan Eijun-kun, senpai."
0o0o0o0o0o0
"Eijun, terima kasih banyak. Kau sangat membantu disaat seperti ini."
Segaris senyum tipis menjadi hadiah untuk kawannya itu, Hideaki, partner dari mantan kekasihnya, orang yang bersedia dengan senang hati menyembunyikan keberadaan dirinya dan juga anak-anak.
"Aku tidak melakukan apapun yang berarti. Sebaliknya kau dan Kanemaru yang justru sudah sangat membantuku, Hideaki."
Siang setelah pulang dari rumah manjikannya Eijun langsung menghubungi pasangan itu, memohon bantuan untuk disembunyikan sementara. Tentu saja Eijun menjelaskan kondisi yang sedang dihadapinya saat ini.
Setelah mendengar pengakuan Miyuki Kazuya siang itu seperti ada sesuatu yang hancur dalam diri Eijun. Kecewa tentu saja, orang yang selama ini ia sanjung dan ia anggap baik; hampir sempurna, ternyata adalah alasan dirinya hampir gila tujuh tahun lalu. Juga, lebih dari apapun, ia terganggu dengan perasaan takut yang tiba-tiba menyerangnya setelah mengetahui jika orang yang selama ini dicari-cari sudah berada begitu dekat.
Eijun bukannya tidak ingin Kazu dan Eiko bertemu dengan ayah mereka, hanya saja jika ia membiarkan kedua anaknya tetap dekat dengan Miyuki Kazuya, berarti ia juga harus siap, pertahan yang sudah ia bangun sejak tujuh tahun lalu dalam dirinya harus dihancurkan—menerima kehadiran Miyuki Kazuya bukan perkara mudah intinya.
"Kau membantu cukup banyak, Eijun." Tangannya di sentuh, sangat lembut, sampai rasanya tidak mungkin menepis sentuhan itu. "Disaat seperti ini, memiliki teman yang lebih berpengalaman dan mau mendengarkan keluh kesah itu sangat membantu, aku merasa lebih baik hanya karena kau ada di sini menemani. Kazu dan Eiko juga membuat suasana rumah ini jadi lebih ringan, Shinji jadi lebih bisa menahan diri dan menjaga emosinya juga."
Sedikit tentang pasangan ini; saat ini Hideaki sedang mengandung anak pertama mereka, sudah memasuki minggu ketiga puluh, dan karena lingkungan sekitarnya sedang dalam masalah, belakangan Hideaki sering merasa tidak enak badan, mudah sekali jatuh sakit—dokternya bilang dia stress.
Yah, itu bukan hal aneh. Eijun pernah ada di posisi seperti itu juga, walau alasannya beda. Mungkin cukup sulit juga bagi Hideaki untuk menahan diri tetap tenang saat organisasi yang dikomando Kanemaru sedang dalam masalah, setiap hari aja saja laporan yang mengganggu pikirannya. Mendengar tentang serangan ini dan itu yang harus dihadapi Kanemaru bukan hal yang mudah untuk Hideaki saat ini, tentu dia akan takut, khawatir dan gelisah.
Sedikit memalukan memang, tapi Eijun mengakui ia sedikit bersyukur dirinya bisa ikut bersembunyi di rumah besar keluarga Kanemaru bersama dengan anak-anaknya, walau sang empunya rumah sedang dalam keadaan tidak baik. Sedikit banyak ia juga paham, saat ini justru bukan saat yang baik untuk tinggal di tempat itu, konflik yakuza kadang (sering kali) memberi imbas yang luar biasa luas, bisa jadi dirinya ikut terlibat walau bukan siapa-siapa di sana, tapi di saat yang sama kediaman Kanemaru adalah tempat yang paling aman baginya berlindung dari Miyuki Kazuya.
Benar kata orang, selalu ada sisi buruk dari hal baik dan sebaliknya pula.
Sekarang yang bisa Eijun lakukan hanya menghindari Miyuki dan berusaha untuk tidak terlibat dengan konflik yang sedang mendera keluarga dan organisasi Kanemaru.
"Omong-omong, kau yakin Miyuki Kazuya itu ayah Kazu dan Eiko?"
"Kalau boleh, aku tidak ingin percaya hal itu, tapi tidak ada alasan lain yang bisa menjelaskan kenapa dia masih bisa mencium aroma feromonku saat periode heat."
Hideaki mengangguk-anguk paham. Memang hanya ada satu jawaban masuk akan untuk menjelaskan hal seperti itu. Lagi pula setelah melihat Kazu juga semua jadi lebih jelas, anak itu sangat mirip dengan Miyuki Kazuya, semua jadi lebih masuk akan hanya dengan membandingkan wajah anak itu dengan majikannya.
"Lalu kenapa kau justru tidak ingin menemui dia? Bukannya tujuh tahun ini kau sudah bersusah payah mencari informasi tentang dia?"
"Iya, aku juga heran." Ia sendiri tidak menyangka akan seperti ini. Sejak tujuh tahun lalu, tujuannya mencari alpha yang sudah meninggalkan bekas gigitan di lehernya karena ia ingin anaknya bisa hidup dengan seorang ayah. "Aku pikir aku akan berani menuntut pertanggung jawaban di hadapannya. Sejak dulu aku tidak pernah terpikir kalau akan se-menakutkan ini hanya karena bertemu dengan orang itu."
"Takut?"
Eijun mengangguk. "Aku tahu dia bukan orang jahat. Walau dulunya mungkin bejat, tapi yang aku kenal sekarang dia bukan orang yang akan berdiam diri dan pura-pura buta dengan semua tindakannya dimasa lalu. Dia pasti akan langsung mengiyakan jika aku minta pertanggungjawabannya. Karena itu juga aku jadi sedikit takut."
"Hah, kenapa? Bukannya itu bagus?"
Kali ini Eijun menggeleng. Usapan tangan Hideaki pada punggung tangganya ia hentikan, ia tahan. "Dia tidak hanya pernah tidur denganku. Bagaimana jika ada omega lain yang juga mencari dia dan membawakannya anak? Aku tidak yakin akan sanggup untuk menerima orang lain lagi dalam kehidupanku. Kazu dan Eiko juga, meraka akan ikut sakit jika tahu seberapa buruk ayah mereka sebenarnya."
"Hal seperti itu rasanya tidak mungkin, Eijun. Kalian bisa bertemu kembali saja karena kebetulan—keajaiban dari takdir. Mana mungkin akan ada kebetulan lain seperti itu."
"Tidak-tidak, kau tidak mengerti, Hideaki." Tangannya gemetar, tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak menunjukan itu pada sang kawan. Pembicaraan ini membuat isi kepalanya kacau, macam-macam bayangan aneh mulai tercipta dengan seenaknya. "Kebetulan itu hal yang benar-benar ajaib, aku tidak bisa menampik kemungkinan kalau hal yang sama akan terjadi lagi. Dunia ini mungkin luas, tapi disaat yang sama terasa sangat sempit bagiku."
0o0o0o0o0
16/06/2019
Yuhuu~ chapter tiga datang!
Terima kasih banyak buat yang ninggalin jejak kalian, itu memberi semangat buat aku. Senang kenal kalian!
Kali ini nggak banyak yang pengen aku sampaikan, tapi berhubung kemarin lebaran (walau udah lewat jauh), aku mau minta maaf sama semua teman-teman di Fandom DNA ini, aku pasti punya banyak salah sama kalian, dan akan aku maafkan kalau ada yang ngerasa punya salah sama aku ^.^
Aku mau minta maaf sama Bebe Koushuu yang jarang aku bikin FF-nya padahal aku cinta kamu. Minta maaf sama Wamura yang selalu aku sakiti. Minta maaf sama Miyuki yang selalu aku buat jadi BEJAD! MAAFKAN DAKU
Oke, dan sekali lagi,
Terima kasih untuk yang meninggalkan jejaknya.
Segitu aja dariku.
Bye~
