Preview chapter :
"AYAH! ADA APA DENGAN KEDUA KAKAKKU?!" / "Angkat peti itu!" / "Seperti itulah kau. Kekanakan!" / "Yang ibu bicarakan adalah masa depanmu... keinginanmu, Tsunade."
.
.
.
.
POISONOUS CONNECTION
Chapter 3 : Janji
Disclaimer : Naruto dan segala antek-anteknya adalah milik MK-sensei. Sementara ceritanya adalah murni saya punya.^^
HAPPY READING!
.
.
.
.
"FOKUSLAH, TSUNADE!" teriak seorang pria yang sedang menjadi lawan putrinya berlatih taijutsu di lapangan latihan milik klan.
Tsunade, gadis yang dibentak ayahnya itu, berusaha bangkit sambil terengah-engah kehabisan napas, tapi dia tak bisa mengabaikan memar di betis kirinya, belum lagi hawa dingin dini hari yang menusuk-nusuk kulitnya.
Dia terjatuh lagi.
"AYO BANGUN!" komando ayahnya yang kini menjulang penuh murka di hadapannya.
Tsunade mendongakkan kepala, menatap kedua mata amarah ayahnya.
Mengikuti hatinya yang terbakar emosi, Tsunade segera bangun, mengabaikan memar di betisnya dan rasa dingin yang menyengati kulitnya. Dia memasang kuda-kuda dan mengaktifkan sharingan satu tomoenya lagi.
"HYAAAAA!" teriaknya sembari menyerbu sang ayah.
TAP! TAP! TAP!
Kedua tangan Tsunade saling beradu dengan kedua tangan ayahnya. Mencoba gerakan menebas, mematuk, dan memukul secara bertubi-tubi. Tapi...
BRUG!
Tsunade kembali tersungkur mencium tanah. Napasnya tersenggal, dan memperoleh sebuah memar baru di pipi kirinya.
"APA HANYA INI?" teriak ayahnya lagi.
Tsunade semakin marah. Dengan segera ia melesat dan mencoba menjegal kaki ayahnya. Dan seperti dugaan, sang ayah dengan mudahnya membaca gerakannya. Karena itu, ketika ayahnya melompat untuk mengindari serangan, Tsunade menyarangkan tendangannya ke atas menuju ayahnya.
Namun, lagi-lagi ayahnya berhasil menghindar, bahkan sempat menyerang balik Tsunade dengan menyarangkan tinju tepat pada wajah putrinya itu.
Tsunade terkejut! Dia memutuskan berputar dan berhasil! Tsunade berhasil menghindari serangan ayahnya untuk pertama kali dalam sesi latihan kali ini. Tapi, sang ayah tak menyerah!
DUG!
Sebuah tendangan berhasil mengenai punggung Tsunade.
Tsunade tersungkur dan kali ini dia tak mampu bangun lagi, karena tubuhnya sungguh sakit semua. Sang ayah mendekati tubuh putrinya itu sambil memicingkan mata.
"Kau masih lemah." Kata yang meluncur itu begitu melukai hati Tsunade, dan seperti minyak yang disiramkan pada kobaran api, Tsunade semakin benci dengan ayahnya juga dengan semua latihannya.
"Itu karena sharinganmu hanya satu tomoe," lanjut beliau.
Tsunade terdiam, bukannya mendengarkan, Tsunade justru sedang berusaha mengatur napasnya yang belum juga tenang. Karena, dia sudah bosan dengan topik sharingan-satu-tomoe ayahnya itu. Lagipula, bagaimana bisa dia tenang jika hatinya masih saja diliputi kemarahan?
Di kejauhan terdengar pekikan ayam, menandakan fajar akan segara tiba dan orang-orang akan segera terbangun.
"Kau tahu kenapa kita selalu berlatih dini hari?" ujar sang ayah sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tsunade masih terdiam sambil berusaha menekan kemerahan yang meluap-luap.
"Karena kemampuanmu masih belum pantas untuk mereka lihat."
Kedua tangan Tsunade mencengkeram tanah. Giginya bergemeretuk.
Sang ayah membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan lapangan. Hingga akhirnya, secepat kilat Tsunade bangun dan menyarangkan tinjunya pada punggung ayahnya, mengabaikan segala bagian tubuhnya yang menjerit kesakitan.
TAP!
Serangan Tsunade berhasil di tahan, dan kedua orang itu kini saling tatap. Sepasang sharingan dengan satu tomoe menatap penuh kebencian pada sepasang sharingan dengan tiga tomoe yang balas menatap tajam.
"Aku tahu semua itu, ayah," sahut Tsunade yang kemudian menyarangkan tendangan pada perut ayahnya secepat kilat.
Sang ayah terkejut. Dia terlambat menghentikan tendangan Tsunade, sehingga ia terjatuh.
BRUK! Ayahnya memandang Tsunade penuh ketidakpercayaan.
"Terima kasih untuk latihan hari ini," ujar Tsunade sambil membungkukkan tubuh, lalu meninggalkan ayahnya yang masih terduduk.
Akhirnya, sesi latihan mengerikannya telah selesai. Tsunade segera melangkahkan kaki keluar lapangan dengan langkah sangat cepat sambil menggerutu sendiri tentang ucapan ayahnya tadi.
"Menyebalkan!" umpatnya sambil berlari menahan nyeri di betisnya. Bertekad menerobos dinginnya udara pagi hari, menuju tempat dimana ia biasa menenangkan diri tanpa memperdulikan tatapan heran orang-orang yang mulai keluar rumah untuk beraktivitas.
Tsunade menyusup melalui pagar pembatas wilayah klan sisi utara yang tak dijaga seperti biasanya. Dan berlari menerobos hutan yang rimbun.
Udara yang masih mengandung embun membuat basah baju dan wajahnya. Dan sesekali, Tsunade gemetar menahan dinginnya udara pagi itu.
Tsunade semakin semangat berlari saat pepohonan di hadapannya terlihat semakin jarang, dan suara aliran air yang menyatu bersama suara gesekan kerikil-kerikil yang ia injak semakin keras terdengar.
"Hah... hah..., akhirnya...," ujarnya sambil tersengah-engah setelah berlari tanpa henti.
Tsunade jatuh berlutut di tepi sungai. Dia memandangi arus sambil berkali-kali menarik napas dalam-dalam.
Burung-burung bercicit riang, awan-awan berarak pelan, dan udaranya sangat segar. Sungguh suasana yang benar-benar bisa menenangkan pikiran kacau Tsunade.
Tsunade kini mendudukkan tubuhnya, sambil meluruskan kedua kakinya. Dia menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang ia letakkan agak ke belakang. Kepalanya mendongak memandangi kanopi-kanopi hutan yang mulai berwarna keemasan oleh sinar matahari pagi.
Dan tiba-tiba, segala ucapan ayahnya kembali dipaksa berputar di otaknya. Rasa marah kembali menguar dari hatinya, tapi semua itu terganggu oleh bunyi kecipak air sungai di hadapannya.
Nafasnya sekarang sudah mulai teratur seiring dengan semakin lebatnya keringat yang bermunculan di wajah juga tubuhnya, membuat tubuhnya terasa lengket saja.
Tsunade kemudian menurunkan pandangannya pada sungai yang sungguh tampak segar. Ah! Mungkin akan menyegarkan jika ia mencelupkan kedua kakinya pada sungai itu, sekalian ia harus membasuh muka.
Tsunade merangkak mendekati sungai itu, memandangi pantulan wajahnya. Dia menyadari rambut panjangnya berantakan, dan dia pun melepas kunciran rambutnya. Menyibakkan ke belakang kepalanya.
Kemudian, ia mengambil air sungai itu dengan menangkupkan kedua tangannya. Tsunade bergidik saat air itu menyentuh kedua telapak tangannya. Dan sambil mengusir imajinasi seperti apa dinginnya nanti, Tsunade membasuh wajahnya secara perlahan.
Dia gemetar saat dinginnya air sungai itu serasa membekukan wajahnya, apalagi saat mengenai memar di pipi kirinya. Tapi, Tsunade menyadari bahwa alam pikirnya pun kini menjadi lebih dingin.
"Segarnya!" serunya sambil tersenyum simpul. Dan tak hanya sekali, ia membasuh wajahnya berpuluh-puluh kali, membuat bajunya turut basah kecipratan air sungai.
"Ah, ya! Sekarang kaki," ucapnya sambil mencelupkan kedua kakinya yang telanjang pada air sungai itu.
Rasa dingin menjalar, merembes melalui kulit-kulit kakinya dan seakan menenangkan otot-ototnya karena berkali-kali terjatuh saat latihan juga karena ia berlari tadi. Betisnya yang lebam pun kini terasa lebih rileks.
Senyuman tipis mengembang dan mencerahkan wajahnya yang semula mendung itu.
Sambil menikmati dinginnya air pada kedua kakinya, Tsunade mendongakkan kepala memandangi kanopi yang kini benar-benar telah disinari matahari. Rasanya damai sekali. Sungguh berbeda jika dia ada di dalam pagar klan.
Tsunade memejamkan mata. Membiarkan hangatnya matahari pagi membasuhi wajahnya, membiarkan angin pagi yang menggigilkan membelai lembut rambutnya.
"SIAPA ITU?!" seru Tsunade tiba-tiba. Sekarang ia menatap tajam pada hutan yang ada di seberang sungai itu. Sharingan satu tomoenya aktif dan ia yakin merasakan keberadaan sebuah chakra yang sangat kuat dari sana saat ini.
Semak-semak di seberang sungai mulai berkerosak, membuat Tsunade bangkit sambil merogoh saku celananya. Namun, alat yang ia cari—kunai, tidak ada di sana.
"BODOH!" umpat Tsunade saat ia menyadari tak membawa satu senjata pun.
Dia benar-benar tidak bisa melawan sekarang. Taijutsunya masih lemah dan tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya, bahkan dia tidak bisa menggunakan eleman api meskipun sekarang ia telah berusia lima belas tahun. Dengan gelagapan, Tsunade menatap ke segala arah, mencari senjata. Setelah satu sentakan keterkejutan, Tsunade menundukkan tubuh, mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangannya.
"KEMARI KALAU BERANI, AKAN KUBUNUH KAU! AKU TIDAK TAKUT!" teriak Tsunade sambil berusaha menekan rasa takutnya.
"Kau mau bermain lempar batu?!" seru sosok itu tiba-tiba. Tsunade terdiam.
Siapa orang itu? Rambutnya sepanjang punggung, memakai yukata berwarna putih, dan sepertinya ia hanya beberapa tahun lebih tua dari Tsunade, mungkin sekitar empat tahun lebih tua. Kulitnya agak kecoklatan dan tatapannya... Tsunade sepertinya tak asing dengan tatapan itu, karena sekarang ia membelalakan mata saat dirinya saling menatap pada laki-laki aneh di seberang sungai itu.
"JANGAN BERCANDA! AKU SERIUS!" seru Tsunade mengabaikan rasa deja vu-nya.
"Apa kau ingin membunuhku dengan cara melempar batu itu padaku?" balas laki-laki itu dengan polosnya.
Tsunade emosi.
"DIAM! AKU BISA MEMBUNUHMU!"
Laki-laki itu tertawa, "Haha! Kau lucu untuk seorang Uchiha," ujar laki-laki itu yang kemudian menatapnya.
Apakah dia menghinanya? Entahlah, tapi Tsunade ketakutan sekarang! Dia takut karena laki-laki itu mengetahui nama klannya. Dan dia tersentak saat menyadari bahwa ia lupa me-non-aktifkan sharingannya. Padahal, ayahnya telah berpesan agar tidak menggunakan sharingan seenaknya di depan orang selain klan Uchiha.
Menyadari kelalaiannya, Tsunade merutuki diri sendiri. Rasanya dia ingin memukulkan batu yang ia pegang itu pada kepalanya, tapi hal konyol itu tidak mungkin terjadi, terutama pada kondisi seperti ini.
Dengan segera Tsunade menonaktifkan sharingannya. Jantungnya berdegub. Keringat semakin deras mengucur. Apakah akan terjadi pertarungan? Apakah dia akan dibunuh?
Tsunade mundur dua langkah. Meski kedua matanya membulat ketakutan, tapi ia memaksa untuk tetap mengawasi jika laki-laki itu melakukan gerakan mendadak. Tsunade mengambil posisi bersiap melempar batu yang ia pegang itu.
"Tung-tunggu! Aku tidak akan melukaimu, kok!" seru laki-laki itu sambil menggoyangkan kedua tangannya pada Tsunade.
"AKU TIDAK PERCAYA!"
Tsunade diam dalam posisinya, begitu juga laki-laki itu. Mereka saling menatap, dan kemudian Tsunade mengaktifkan sharingannya lagi. Ya, dia harus berhenti ketakutan sekarang karena sepertinya ini adalah kesempatannya.
"KAU SUDAH TAHU AKU SEORANG UCHIHA! KARENA ITU KAU HARUS MATI!"
"Jika ini masalah saling menyebutkan nama klan, aku akan menyebutkan nama klanku dengan senang hati agar kita impas," seru laki-laki itu cepat-cepat.
Tsunade menelaah ucapan laki-laki itu. Tanpa sadar, ia menunggu ucapan selanjutnya laki-laki itu.
"Aku... dari klan Senju," ujar laki-laki itu.
Tsunade terdiam mematung.
Senju... klan yang telah membunuh kedua kakaknya... klan yang telah merubahnya...
Tsunade meremas batu itu kuat-kuat penuh dengan kebencian yang mendadak berkobar dalam hatinya.
"Jadi, kau seorang Senju...," ujarnya dengan nada bergetar menahan amarah. Laki-laki yang ada di seberang sungai itu agaknya mengangguk pelan.
"KALAU BEGITU KAU HARUSNYA MATI!" teriak Tsunade yang kemudian dia berlari menyeberangi sungai sambil mengayunkan batu yang ia bawa pada kepala laki-laki itu dengan kecepatan tinggi hingga rambut panjangnya berkobar.
"KALIAN... ORANG-ORANG... JAHAT... YANG... TELAH... MEMBUNUH... MEREKA!" teriak Tsunade sambil mencoba mengayunkan batu itu ke arah wajah laki-laki di hadapannya kini setiap kali ia mengeluarkan sebuah kata.
"Tunggu!" seru laki-laki itu sambil berusaha menghindari setiap ayunan batu gadis di hadapannya.
Tsunade berhenti mendadak. Dia terengah-engah sambil menatap tajam laki-laki itu dengan sharingannya yang kini terbasahi oleh air mata.
"Kembalikan mereka!" ucap Tsunade pelan. Air matanya kini mulai berjatuhan.
Laki-laki itu menatap Tsunade penuh tanda tanya, "Apa maksudmu?"
"KEMBALIKAN KAKAK-KAKAKKU!" teriak Tsunade sambil kembali menyerang laki-laki itu.
TAP!
Tsunade terkejut. Laki-laki itu mencengkeram pergelangan tangan kanan Tsunade yang menggenggam batu itu. Melihat kesigapannya dalam menahan serangan, laki-laki di hadapannya ini pastilah seorang shinobi hebat. Tsunade kembali menahan ludah. Jantung Tsunade berdebar, dia sangat ketakutan sekarang.
Namun, Tsunade memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap mata laki-laki itu. Dan Tsunade kini justru semakin terkejut menyadari laki-laki itu sekarang balas menatap Tsunade dengan tatapan... pedih?
Tsunade tidak tahu apa yang harus ia lakukan, diam-diam dia terhanyut dalam sepasang netra legam itu, hingga dia sadar harusnya dia tidak terkecoh oleh musuh.
"Apa kau mencoba mengasihaniku?" ujar Tsunade sambil menyeka dengan cepat kedua matanya dengan tangannya yang bebas. Laki-laki itu terdiam. Dan mereka berdua kini saling menatap.
"LEPASKAN!" sentak Tsunade sambil menarik-narik tangannya.
Laki-laki itu terkejut. Berkali-kali ia mengedipkan kedua mata. Lalu dia segera melepaskan cengkeraman tangannya.
"Maafkan aku," ucapnya pelan. Tsunade terkejut. Seorang musuh minta maaf?
Dan detik berikutnya, laki-laki dari Senju itu berlutut di hadapan Tsunade sambil menundukkan kepalanya.
"Pukul saja sesukamu. Aku tahu klanku telah bersalah," ucapnya tiba-tiba dengan kepala masih menunduk.
Tsunade terperangah menatap kepala itu. Ia ingat kata-kata ayahnya bahwa apapun yang terjadi, dia tidak boleh dengan mudahnya menyerahkan diri di hadapan musuh. Tapi sekarang, dia melihat seorang anggota dari klan musuh terbesar Uchiha menyerahkan diri!
Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ada kesempatan besar di hadapannya sekarang, yakni membunuh orang yang berasal dari klan yang telah membunuh kedua kakaknya. Tapi, itu bukanlah tindakan yang mencerminkan dirinya! Membunuh lawan saat sedang lemah bukankah itu tindakan pengecut?!
Hingga pecahan ingatan di mana dia selalu merasa kesepian di rumah mulai menggerogotinya. Rasa kesepian yang membuatnya malas melakukan apapun, termasuk berlatih. Dan itu membuatnya menjadi anak bandel dan tidak memiliki teman. Lagipula, siapa yang mau berteman pada orang bodoh sepertinya?
Tsunade kembali diliputi amarah yang berkobar. Dia pun akhirnya mengangkat batu itu, dan bersiap-siap mengayunkannya pada kepala laki-laki itu.
"Bersiaplah untuk mati!" gumam Tsunade sambil mengayunkan batu itu sekuat tenaga, menerobos udara pagi yang damai, dan...
DUK! Batu itu mendarat dengan keras di tanah, di samping lutut kanan laki-laki itu.
Laki-laki itu mendongakkan kepala, menatap Tsunade dengan kedua mata yang membesar. Dia terkejut.
"Aku tidak akan membunuhmu dengan keadaan seperti ini. Aku bukan orang lemah!" ujar Tsunade tajam sambil balas menatap laki-laki itu dengan sharingannya yang kini menjadi dua tomoe!
Laki-laki itu begitu terkejut melihat fenomena bertambahnya tomoe sharingan secara langsung itu.
"Suatu hari nanti, aku akan membunuhmu di medan perang," lanjut Tsunade sambil membalikkan tubuh lalu melesat berlari menyeberangi sungai. Laki-laki itu masih saja terdiam melihat Tsunade dengan wajah penuh keterkejutan.
"Hingga saat itu tiba, kau harus berjanji untuk menungguku menjadi kuat. Aku akan berlatih dengan keras. Lihat saja nanti!" seru Tsunade saat ia telah berada di seberang sungai.
Laki-laki itu diam sejenak, menatap seberang sungai dengan pandangan mengenang.
"Baiklah!" balas laki-laki itu sambil menegakkan tubuhnya.
Mereka saling menatap.
"Siapa namamu?" tanya Tsunade.
Laki-laki itu tersenyum.
"Kita sudah tahu nama klan masing-masing. Jadi, panggil aku Senju saja," balasnya.
Tsunade mengangkat sebelah alisnya.
"Dan aku akan memanggilmu Uchiha," lanjut laki-laki itu.
Tentu saja, pada dasarnya mereka masih belum saling percaya, pikir Tsunade.
"Begitu, ya. Tidak buruk!" komentar Tsunade.
Tsunade menyeringai, bersamaan dengan laki-laki Senju itu yang kini tersenyum optimis.
TBC
.
.
.
Ini chapternya tentang pertemuan ke-'dua' ^^, Hehe...
Maaf telat update, soalnya ini author masih bingung bagi waktu.
Maklum, udah jadi anak tertua di SMA.
Chapter empat, bakal author usahain lebih keren!
Thanks for read and review please^^
