C for Coffee


Jam yang tergantung diatas meja belajarnya telah menunjukkan pukul 01.40 tapi Kyuhyun tak bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Pakaian-pakaiannya—yang tak bisa dibilang sedikit—dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai—beberapa bahkan sampai menggantung di handel pintu dan lemari.

Ia menggulingkan badannya ke kanan dan tiba-tiba matanya tertumbuk ke alarm digital. Angka 01:42 dalam warna merah menyala berkedip-kedip cepat menyapa matanya. Tangannya menggosok matanya dan ia mengerang pelan. Kenapa waktu berjalan begitu lambat disaat yang tidak tepat?

Ia menyalakan lampunya, memandangi dengan nanar kekacauan yang ia buat. Mendesah pendek, ia paksa tubuhnya untuk bangkit dari tempat tidur dan mulai mengumpulkan baju-bajunya, memilahnya untuk menentukan mana yang akan ia bawa dan yang tidak, kemudian melipatnya rapi dan memasukkannya ke tas atau lemari.

Jam menunjukkan pukul 03.50 saat ia memasukkan potongan baju terakhirnya ke dalam tas. Punggung tangannya mengelap keringat di dahinya sementara matanya menyapu tiap jengkal kamarnya yang sudah rapi itu. Ia tersenyum, merasa teramat bangga dengan kerjanya.

Ia menyeret badan lelahnya ke tempat tidurnya dan langsung tertidur.


"Kyu, bangun Kyu!" ucap Siwon sembari menggoyang-goyangkan tubuh Kyuhyun yang terbalut oleh selimut tebal. Alih-alih bangun, Kyuhyun malah mendorongnya dan menaikkan selimutnya hingga ke pucuk kepala.

Siwon menggelengkan kepalanya pelan. "Kau mau kita ketinggalan pesawat?" tanyanya lirih, tangannya mengelus kepala Kyuhyun yang tertutup selimut. Ia dapat merasakan Kyuhyun tersentak dibawah sentuhan jarinya.

Siwon mendengus. "Terserah kau lah." katanya yang kemudian diikuti oleh suara pintu yang tertutup.

Kyuhyun menurunkan selimutnya dan bergumam, "apa-apaan dia?"


Kyuhyun kembali tertidur dan bangun satu jam kemudian. Ia merasakan tenggorokannya kering, dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Langkahnya terhenti ketika pandangannya tertumbuk pada Siwon yang sedang berbicara dengan orang asing di ruang tengah. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan; mungkin sesuatu yang lucu karena Siwon dan laki-laki asing itu beberapa kali tersenyum dan terkekeh.

Ia baru mau kembali melangkah ketika Siwon melihat ke arahnya dan melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. "Hei, kukira kau belum bangun!"

Kyuhyun menghiraukan Siwon, pandangannya terpaku pada lelaki asing yang duduk disebelah teman se-flat-nya itu. "Siapa dia?" tanyanya, telunjuknya mengarah lancang ke lelaki asing tersebut.

Siwon mengerutkan dahinya, dan berkata dengan nada gusar, "Kyu, tidak sopan untuk–" namun kalimatnya langsung dipotong oleh lelaki itu. "Nichkun." ujarnya sembari tersenyum, tangannya terulur ke depan Kyuhyun. Bukannya menjabat tangannya, Kyuhyun malah menatap tangan dan mata si empu dengan ekspresi "apa-apaan?"

"Nikun?"

Nichkun tertawa pelan dan menggeleng. "Nichkun," koreksinya.

"Nihun? Bihun? Pikun? Manikur?"

Siwon mengerang pelan sembari mengurut dahinya yang tiba-tiba terasa pusing. "Nichkun, Kyu! Nichkun!"

Kyuhyun mencibir. "Yakin bukan Rakun?"

"Terserahlah," kata Siwon menyerah. Kyuhyun manyun sementara Nichkun tertawa semakin keras.

"Kenapa kau ketawa Rakun?" tanya Kyuhyun mendadak sewot. Siwon melirik Kyuhyun hati-hati, ia mulai curiga kalau laki-laki yang lebih muda itu sedang PMS.

"Ah, nggak apa. Kalian terlihat sangat lucu." jawab Nichkun, tangannya mengelus perutnya yang mulai terasa sakit. Siwon dan Kyuhyun saling pandang tidak mengerti.

"Kau gila." ucap Kyuhyun gusar, yang langsung dibalas dengan kata "tidak" dan kekehan oleh Nichkun.

"Ah sudahlah, terimakasih sudah menerimaku di rumah kalian. Aku lupa pesawat kalian terbang dua jam lagi—"

"Dua jam lagi?" pekik Kyuhyun, matanya mendelik ke arah Siwon yang membatu. "Kuda bego! Kenapa kamu ga bilang dari tadi? Aku belum mandi!"

"A–aku tidak tahu," ucapnya lirih. Tatapan tajam Kyuhyun beralih ke Nichkun yang sekarang tersenyum malu-malu bak gadis SMA yang baru diterima cintanya oleh laki-laki populer sekolah. "Lu juga Rakun! Ga usah senyum-senyum najis gitu deh! Cepat anterin kita ke bandara!"

"Siap bos!" kata Nichkun dengan pose hormat. Ia dengan sigap mengangkat sofa terdekat dan membawanya ke luar.

"Duh, bukan itu yang dibawa dodol! Tapi tas kita!" jerit Kyuhyun kelewat segera berlari ke kamar Siwon dan Kyuhyun lalu menyeret backpack lalu melemparnya ke luar. Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil facepalm. Ia merasa rambut putih akan segera memenuhi kepalanya sebelum umurnya menginjak 25 tahun.

"Lu juga Won, bantu si Rakun bawa tas kita ke mobil gih. Aku mau mandi dulu." Siwon hanya mengangguk lalu pergi menemui Nichkun yang sedang bersusah-payah menyeret tas backpack mereka berdua di koridor (yang ternyata lebih berat dari sofa yang ia lempar tadi).

Kyuhyun segera berlari ke kamar mandi, mandi kilat, dan memakai sembarang baju yang ia tarik dari lemarinya. "Peduli setan dengan fashion," desisnya. Ia sedang berjuang memakai celana jins-nya—yang entah kenapa terasa lebih sempit dari biasanya—saat Nichkun mendobrak pintu kamarnya begitu saja dan berkata, "Tasmu sudah kumasukkan–" jeda canggung. "Er…. Omong-omong boxermu bagus."

Kyuhyun tanpa basa-basi lagi langsung menutup pintu kamarnya tepat di muka Nichkun.


Perjalanan mereka menuju bandara bisa dibilang… kacau. Nichkun, yang notabene punya mobil bertugas menjadi supir. Meski mengaku sudah menyetir mobil sejak umur 15, ia tidak lebih baik dari pemula yang baru belajar. Bayangkan, mobil mereka beberapa kali menabrak trotoar karena ia terlalu tajam menggerakkan setir, nyaris menyerempet seorang nenek yang sedang berjalan di trotoar, dan kejar-kejaran dengan polisi karena menerobos lampu merah yang tak hanya sekali, tapi dua kali!

"Berhenti woi! Kamu enggak dengar sirene mobil polisi itu?" teriak Kyuhyun panik. Mobil hitam-putih dengan alarm merah meraung-raung membelah jalan yang sepuluh menit yang lalu tak ada sekarang hanya berjarak dua meter dari mobil mereka. Kyuhyun menoleh ke belakang sebentar dan langsung disambut oleh logo kuda jingkrak yang bersinar. Mulutnya terbuka tak percaya. Sejak kapan kepolisian Seoul pakai Ferrari?

"Berhenti? Lau tadi pagi salah makan ya?" ujar Nichkun sambil tertawa keras. Kakinya menginjak pedal gas semakin dalam. Mobil polisi tersebut tidak kelihatan lagi–setidaknya untuk saat ini.

Siwon yang duduk disebelah Nichkun menggerutu, "apa susahnya bayar denda? Kita bayar denda terus udah deh, beres! Nggak usah dipersusah kaya gini."

Nichkun berdecak sambil menggelengkan kepala tak setuju. "Siwon, siwon, siwon," ia berdecak. "Ini bukan masalah yang, tapi…"

"Tapi apa?" tanya Siwon yang mulai emosi. Ia mulai muak dengan kejar-kejaran tolol ini. Bukan, bukan karena alaram polisi yang begitu memekakkan telinga tapi karena ia ingin muntah. Tapi muntah disaat genting seperti saat ini sangat tidak dimungkinkan, mengingat mereka sedang dikejar polisi. Berhenti sama saja cari mati.

"Tapi harga diri! Mau ditaruh dimana wajahku yang tampan ini kalau orang setampan diriku ternyata suka nyetir ugal-ugalan." ujar Nichkun berapi-api. Kedua tangannya dikepalkan untuk mendemonistrasikan betapa berapinya dia.

"Bego, yang konsen kalau nyetir!" pekik Kyuhyun yang serta merta diikuti dengan jitakan di kepala. Nichkun, masih dengan tawa berderai kembali memegang setir yang tadi sempat ia abaikan.

"Santai aja bero! Aku 'kan sudah menyetir sejak umur 15."

"15 mbahmu kayang!" sembur Kyuhyun tidak terima. "Kemampuan menyetirmu cetek begitu!"

Nichkun tidak membalas dan tertawa sedangkan Siwon hanya tersenyum.

Setelah Nichkun tertawa tidak ada yang membuka mulut. Siwon mengamati jalanan Seoul yang ramai oleh lalu-lalang kendaraan dengan bertopang dagu, Kyuhyun memainkan PSP sambil mendengarkan lagu sedangkan Nichkun berkonsentrasi ke jalan yang didepannya. Bangunan bandara Incheon mulai terlihat. Nichkun melambatkan mobilnya saat mereka memasuki gardu kedatangan untuk mengambil dan membayar tiket masuk. Wajah Nichkun yang awalnya tenang itu langsung berubah menjadi panik.

Menyadari perubahan ekspresi drastis temannya tersebut membuat Siwon tergelitik untuk bertanya, "kau kenapa?"

"Dompetku–dompetku tidak ada!" bisik Nichkun sambil menggrepe-grepe celana jeans-nya dengan panik. Perempuan yang menjaga counter melongok sedikit, nampaknya mulai curiga dengan kelakuan Nichkun yang tampak begitu aneh.

Siwon terperangah. "Kok bisa?" bisiknya balik. Nichkun hanya mengangkat bahunya.

Siwon mendesah lalu mengeluarkan selembar uang dan menyodorkannya ke Nichkun. "Nih, cepat bayar, pesawat gue bentar lagi mau take off nih!" kata Siwon dengan nada ke-betawi-an. Mungkin karena terlalu sering bergaul dengan ahjussi (?).

"Thanks!"

"Terserah, cepat bayar!"

Mobil mereka kembali meluncur menuju ke bangunan utama. Nichkun menghentikan mobilnya dan membantu Siwon mengambil backpacknya dan Kyuhyun di garasi sementara Kyuhyun, well, dia tertidur di dalam mobil.

"Jadi… sebulan huh?" tanya Nichkun, matanya terpaku ke dua backpack besar yang tergeletak di lantai, wajahnya tak terbaca.

"Mungkin. Eropa 'kan luas." jawab Siwon. "Maaf aku tidak bisa menemanimu selama liburan musim panas ini." Nichkun meluruskan punggungnya dan melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Ah, nggak apa. Lagipula kamu pasti bosan tiap liburan bareng aku terus." Ia tersenyum tetapi senyumnya terlihat sendu.

Siwon tersenyum tipis. "Aku akan merindukan ketololanmu,"

"Lucu sekali. Sudah sana kau 'kan perlu check in," kata Nichkun sambil mendorong-dorong bahu Siwon.

"Aku sudah check in lewat internet kok."

"Oh oke. Lalu," mata Nichkun beralih ke mobilnya. "Mau kau apakan Putri Tidur itu?"

Alis Siwon terangkat. "Putri Tidur? Maksudmu Kyuhyun?"

"Siapa lagi?"

"Aku tak tega membangunkannya. Biar kugendong saja dia."

"Digendong bridal style gitu?" pekik Nichkun syok.

"Ya enggak lah, dia bukan istriku tahu."

"Calon istri," koreksi Nichkun yang langsung memperoleh tonjokan pelan di bahu. Yah meskipun pelan tetap saja sakit. Choi Siwon gitu loh, secara tiap hari makan barbel terus. Eh salah ya.

Ia menggeleng. "Orangtuaku akan membunuhku kalau mereka tahu aku akan menikah dengan laki-laki." lanjutnya, "lagipula hubungan kami tidak stabil."

Ekspresi Nichkun tiba-tiba berubah menjadi serius. "Itu bukan hubungan tidak stabil, tapi hubungan suami-istri yang sudah menikah puluhan tahun."

Siwon hanya menatapnya dengan air muka yang tak terbaca. "Kau gila." gumamnya setelah beberapa detik. Nichkun tertawa lagi. "Jadi keterusan gini. Setengah jam lagi pesawatmu berangkat kan?"

Siwon mengecek jam tangannya dan mengangguk. "Sayangnya ya. Sampai jumpa?" ujarnya seraya mengulurkan tangan yang langsung dijabat oleh Nichkun dengan erat.

"Aku akan merindukanmu bro," kata Nichkun dengan seulas senyum lebar. Siwon membalas senyumnya dan mereka berpelukan selama beberapa detik yang dilanjutkan dengan saling menepuk punggung. "Aku juga." balas Siwon sambil menunjukkan jempolnya. "Omong-omong aku harus membangunkan Putri Tidur ini dulu." Jempolnya menunjuk ke Kyuhyun yang masih tertidur. Nichkun mengangguk, masih dengan senyum lebar.

Ia berjalan menuju mobil dan membuka pintunya. "Hey Kyu, bangun." Siwon menepuk bahu Kyuhyun tapi tak berhasil. Ia berdecak. Digoyang-goyangkannya pundak Kyuhyun namun apa daya, laki-laki berambut ikal itu masih terlelap. Segitu menariknya mimpinya? pikir Siwon.

"Yah, kenapa kamu senyam-senyum kaya orang gila?" tanya Kyuhyun. Siwon mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Bukannya tadi dia masih tidur?

"Woi Kuda! Kamu enggak tuli kan?" tanya Kyuhyun lagi, kali ini lebih keras.

"Tidak."

"Huh. Kita lagi dimana?"

"Bandara. Pesawatnya berangkat sebentar lagi."

Kontan mata Kyuhyun melebar. Ia mengguncang-guncang bahu Siwon dengan ganas. "Sebentar lagi! Kenapa kamu nggak membangunkanku, kuda bego?"

"Kau tidurnya pulas sekali sampai-sampai Siwon tidak tega membangunkanmu," sela Nichkun. "Ia bahkan mau—" Dengan cepat tangan Siwon sudah berada di depan bibir Nichkun tepat pada waktunya. Kyuhyun mengerutkan dahi, matanya coklatnya menatap mata hitam Siwon untuk meminta pembenaran.

Siwon menggeleng kencang sedangkan Nichkun berusaha untuk melepaskan tangan kekar Siwon dari bibirnya.

Kyuhyun menatap Siwon dan Nichkun bergantian dengan tajam. "Ngapain kalian tetap disini? Minggir, aku mau keluar." perintahnya garang. Tanpa pikir dua kali Siwon dan Nichkun menggeserkan tubuh mereka untuk memberi jalan ke Kyuhyun. Kyuhyun segera keluar dari mobil itu dan mengambil tasnya yang tergeletak di lantai kemudian menyampirkannya ke punggungnya.

"Oi Kuda! Ayo pergi, kau mau tiket kita hangus hah?"

"Nggak."

"Kalau begitu bawa tasmu dan pergi dari sini!"

Siwon tersenyum dan mengangguk. "Ya!" Ia berlari-lari kecil ke tempat Kyuhyun dan segera menyampirkan backpack-nya ke punggungnya. Sebelum mereka pergi, Nichkun berteriak, "jangan lupa bawakan oleh-oleh untukku!" sambil melambai-lambaikan tangan bak anak-anak kelebihan gula.

Siwon, sebagai teman yang baik hati dan tidak sombong membalas lambaian tangan Nichkun dengan sama semangatnya, sementara Kyuhyun malah melengos dan meninggalkan Siwon sendiri.


"Apa? Dialihkan?"

"Ya, dialihkan. Pesawat penerbangan KE653 destinasi London mengalami masalah teknis di bandara Heathrow dan penumpang kami alihkan ke penerbangan CX417," terang petugas penerbangan mereka. Kyuhyun mendadak merasa lemas. Pupus sudah harapannya melanjutkan tidurnya yang terputus tadi.

"Kapan berangkat?" tanya Siwon. Tangannya sedari tadi meremas ujung kemeja flanelnya, akibat dari emosinya yang begitu campur aduk.

Petugas penerbangan berseragam itu membalik catatan di hadapannya. Siwon menunggu dengan mengetuk-ngetukkan jarinya tak sabar di meja sang petugas. Setelah beberapa menit—yang terasa seperti penantian panjang—sang petugas menutup buku catatannya dan menghela nafas, "Kira-kira pukul 7 malam nanti. Anda tidak terburu-buru kan Tuan Choi?"

Siwon merapatkan bibirnya tidak suka. "Tidak ada yang jam keberangkatannya dekat? Jam 2 atau jam 3?"

Sang petugas menggelengkan kepalanya sungguh-sungguh. "Kami hanya memiliki dua penerbangan yang menuju Inggris: yang Tuan mau tumpangi dan pesawat yang berangkat jam 7 itu."

Siwon menderitkan giginya, emosinya sedang berada di ujung tanduk. Bagaimana bisa mereka membatalkan dan mengalihkan penerbangan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Memang mereka yang memiliki pesawat, pilot, dan tetek-bengek lainnya, tapi kan ia penumpang! Ia yang menggaji mereka semua!

"Sebentar, aku diskusikan dengan temanku dulu," sang petugas mengangguk singkat. Siwon lalu menggeret Kyuhyun menuju sebuah restoran terdekat. Restoran itu sepi; tak ada pengunjung yang datang meski lalu lalang bandara Incheon saat itu lumayan ramai. Mereka memilih duduk di ujung, jauh dari jangkauan telinga kasir dan juga orang melintas di depan restoran.

"Kau tadi dengar pembicaraanku dengannya kan?" mulainya suram. Kyuhyun mengangguk pelan. Penerbangan mereka dialihkan ke pesawat lain dan mereka harus menunggu 7 jam di bandara.

"Apa kau mau membatalkan perjalanan ke Inggris dan memilih negara lain?" tanya Siwon.

Kyuhyun menggeleng. "Aku tetap ingin ke Inggris." jawabnya keras kepala. Siwon menatapnya seolah ada kepala tambahan tumbuh di kepalanya untuk beberapa saat sebelum ia mendesah penuh kekalahan dan memijat keningnya.

"Kau yakin?" tanyanya lagi, sekadar untuk memastikan. Laki-laki berambut ikal itu mengangguk mantap.

Siwon mendesah lagi dan melemparkan tangannya ke udara. "Oke kalau itu maumu," katanya menyerah.

"Trims." gumam Kyuhyun sambil tersenyum tipis.


Mereka pindah ke ruang tunggu penerbangan internasional setelah Siwon mengurus pengalihan penerbangan–yang ternyata tidak semudah yang ia pikir. Ia dan Kyuhyun disodorkan beberapa dokumen yang harus mereka tandatangani, melakukan pengecekan ulang visa, paspor, izin tinggal serta dokumen tes kesehatannya. Agak melelahkan memang, terutama untuk Kyuhyun yang tidak mendapatka n tidur yang cukup. Ia menjadi gampang marah. Semua pertanyaan yang diajukan oleh petugas imigrasi dijawabnya dengan ketus. Ia malah hampir mencakar petugas imigrasi wanita karena alasan "warna sepatunya tidak cocok dengan warna maskaranya". Watdehel, jangan-jangan dugaan Siwon benar. Kyuhyun memang lagi PMS! Tapi… dia kan laki-laki dan dia mengeluarkan darahnya darimana? Err…

"Petugas bandara ini memang benar-benar menyebalkan!" ucap Kyuhyun sambil cemberut sesaat setelah ia duduk di kursi bandara yang tak seberapa nyaman itu. Tangannya disilangkan didepan dada, menandakan ia sedang kesal. "Apalagi mbak-mbak salah sepatu itu! Ugh!"

"Mereka hanya menjalankan tugas mereka Kyu," kata Siwon. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Kyuhyun. Keramaian yang tadi ia lihat di depan bandara rupanya tidak berlaku disini. Ruang tunggu ini, meski luas namun begitu sepi. Seperti kuburan namun dengan banyak lampu, kursi dengan sambungan besi, mesin pembuat kopi dan resepsionis.

Hanya ada dirinya, Kyuhyun, sebuah keluarga asing yang terdiri dari 5 orang dan dua orang pengusaha berpakaian resmi–satu perempuan Asia dengan perawakan sedang, satunya lagi laki-laki asing berambut coklat berjanggut tipis—yang sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Ini membuat Siwon heran; kemana penumpang yang lain?

Disaat Siwon bingung dengan absennya penumpang-penumpang lain, Kyuhyun mulai terang-terangan mengerang dan mulai merajuk bagai anak kecil. "Won! Disini dingin sekali!"

Siwon memandangnya dengan wajah kesal, "Apa?" tanyanya ketus. Lagi seru berpikir malah diganggu dengan rajukan tak penting.

Bibir Kyuhyun semakin maju. "Dingin!" serunya. Semua kepala yang ada di ruangan itu menoleh ke arah duo tidak penting itu. Keluarga asing itu melemparnya tatapan tidak mengerti sedangkan kedua pengusaha memberinya tatapan menghujat. Tapi Kyuhyun tidak peduli. Ia kembali merajuk. "Aku ingin sesuatu yang panas, seperti es krim!"

Siwon sweatdrop. "Es krim hanya membuatmu makin dingin."

"Yah, terserahlah! Pokoknya aku kedinginan!"

Siwon menghela nafas panjang. Sepertinya ia salah memilih partner untuk bertualang di belantara Eropa.

Matanya mengedar ke seluruh ruangan dan… nah! Itu dia! "Kau tunggu disini." gumam Siwon. Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari ke belakang dengan terburu-buru. Kyuhyun menatapnya bingung. Laki-laki itu kenapa?

Siwon kembali 10 menit menit kemudian dengan dua gelas kopi: satu americano untuk dirinya dan satu mochacino untukKyuhyun. Tapi alih-alih menemukan Kyuhyun yang sedang manyun dengan tangan disilangkan ke dada, ia malah menemukan Kyuhyun yang sedang tertidur bak bayi di kursi. Wajahnya yang tadi dihiasi oleh kerutan sekarang tampak begitu damai. Sedikit mengingatkannya pada malaikat di cerita pengantar tidur yang selalu dibacakan Ibunya tiap malam sebelum tidur.

Tanpa dirinya sadari, sebuah senyum tipis sedang terpatri di wajahnya yang lelah.

Well, kopi bisa menunggu 'kan?


A/N: SELAMAT ULANG TAHUN NICHKUN! Maaf ya makhluk unyu kaya kamu harus dijadikan korban ketidakadilan gue, Andictator Maha Ngaret dan Agak Miring di Kepala! Yah secara dia kemaren birthday boy jadi apa salahnya ahjussi salah gaulin sedikit? *nyengir tanpa dosa* Mungkin chapter 4 bakal delay sehari, jadi bukannya update hari Rabu tapi hari Kamis. Induk ahjussi sedang mengadakan gerakan 'latihan puasa sebelum bulan puasa' ke semua anggota rumah jadinya ahjussi agak lemes T_T

Nih buat yang minta update-nya dipanjangin. Udah panjang kan? Tapi ahjussi nggak janji update selanjutnya bisa sepanjang ini. Ahjussi tepar gilak! Ngerjain ini aja sampai puyeng.

Buat yg kemarin tanya sama ahjussi:

Anin Wonkyushipper: kenapa mereka jalan-jalan ke Eropa? Biasa mah anak orang kelebihan duit, kalau liburan pasti ke luar negeri. Ga kaya ahjussi yang harus puas didepan laptop.

Mwi: Hmm gimana ya, ahjussi juga bingung gender ahjussi apa u_u

Btw selamat buat Taena yang berhasil menebak kata untuk chapter ini. Ini boxer Ralph Lauren Siwon, ongkos boxer dan kirim tanggung sendiri ya! Dan speshul thanks buat keponakan (?) ahjussi Hyungseo yang setia mencekoki ahjussi dengan pic WonKyu haha. Selamat ketemu di chapter selanjutnya! *lambai ga jelas*

Peace, love, dan nggak gaul,

Ahjussi.