Chapter 3: Insecure!

Disclaimer: God and their self

Warning: Mature and Sexual content! Yaoi, BL, Typos, dll

Rating: M!

Pair: Sehun x Luhan


Nevermind

by Luen


Sehun tidak peduli –bahkan meskipun ia datang terlalu awal. Ia mengambil bus pagi dan pergi ke apartemen Luhan. Luhan akan kembali 3 hari lagi dan hari ini ia ingin membereskan apartemen Luhan. Ia ingin semuanya baik ketika luhan kembali.

Sejak natal dan tahun baru, Luhan kembali ke China. Hari pertama Sehun tanpa Luhan tidak begitu kesulitan melewatinya. Berhubungan dengan ponsel atau internet, ia bisa menerimanya.

Itu tak begitu terasa jauh karena setiap bagian Luhan membekas di dirinya. Hari dan hari lalu menjadi minggu. Sehun mulai merasakan kekurangan. ketika kebiasaan semakin memiliki lubang, melihat tanpa menyentuh. Terus mengingat tanpa bertemu. Luhan berada di manapun dalam ingatannya namun tak pernah benar-benar ada.

Sehun bahkan sampai tak bisa bicara baik-baik pada Luhan karenanya. Mendengar dan melihat lewat perantara teknologi, tak bisa menyentuh, atau merasakan. Tanpa kehadiran Luhan semua hal yang mengingatkan akan Luhan jadi menyakitkan.

Sehun bertahan dan tak mengeluh pada Luhan. Ia tak ingin merengek meminta Luhan cepat kembali ke Korea. Ia tak ingin Luhan terus menganggapnya remaja labil. Ia dewasa dan bisa diandalkan, ia mengerti keadaan dan bisa menahan diri.

Sebelum menjadi kekasih, hubungan mereka lebih seperti kakak adik. Meski Luhan terlihat lebih manja namun pada dasarnya ia lah yang terus di jaga dan di manja. Luhan menuruti keinginannya meski ia tak mengatakan keinginannya. Cara Luhan menatapnaya dengan pengertian sama seperti dulu ketika bahkan ia masih anak-anak.

Luhan lebih sering dan mudah menangis karena ia memang ekspresif namun meski begitu Luhan selalu dan selalu lebih dewasa. Ia membawa Sehun ke arah yang ia inginkan selalu tanpa Sehun sadari.

Halte dan halte, Sehun turun di halte ke tiga. Gedung apartemen Luhan hanya berjalan 5 menit dari halte. 5 lantai dan minimalis. Sehun melihat bagian ujung gedung di lantai 3, itu kamar apartemen Luhan. Sehun bersemangat.

Begitu sampai…

Sesuatu tidak benar, apartemen Luhan memang terkunci tapi tempat itu tak lagi kosong, ada banyak sekali barang di meja, koper yang terbuka dan belum dibereskan, makanan ringan, piring kotor, kotak makanan pesanan.

Sehun kaget karena seharusnya Luhan belum kembali, lantas apa yang ditemukannya ini? Ia tak tahu mengapa dirinya berjalan perlahan tak membuat banyak suara padahal seharusnya ia berteriak saja memanggil Luhan jika memang cowok bambi itu sudah kembali.

Lampu kamar tidur mati ketika Sehun membuka pintu sedikit, ia tak mengintip karena selanjutnya ia mendorong pintu agar terbuka lebar. Cahaya dari jendela yang tertutup tirai memang tidak banyak tapi demikian Sehun yakin apa yang dilihatnya bukan halusinasi.

Nafasnya tertahan entah sejak kapan, di tempat tidur berantakan itu Luhan berbaring, tertidur dengan pria pirang tampan di sampingnya. Luhan memang berpakaian tapi pria itu tanpa atasan sementara bagian bawah tubuh keduanya tersembunyi di balik selimut.

Ini tidak seperti mereka berpelukan atau apa tapi menemukan Luhan tidur dengan pria lain di kamar Luhan sendiri sementara seharusnya cowok bambi itu masih di China adalah hal yang cukup untuk membuat Sehun hilang fokus.

Ia menutup pintu pelan, ini bukan apa-apa. Luhan mungkin kembali lebih cepat dan tak ada waktu menghubunginya karena sibuk ya sibuk… mungkin sibuk dengan pria lain.

Tidak tidak. Luhan hanya memberi temannya tempat menginap dan lupa menghubunginya kalau ia kembali 3 hari lebih awal.

Sehun bersandar di sofa sebentar, kepalanya pusing dan nafasnya tersendat. Sesuatu menghujani dadanya dan ia takut untuk terus memikirkannya. Berpikir akan terus membuatnya mendapat spekulasi buruk saat ini.

Maka ia tanpa suara meninggalkan apartemen itu. Seakan tak pernah ke sana pagi itu.

Sore hari dan Sehun baru ingat ia belum makan, seharian ia tidur karena tak ingin memikirkan Luhan. Akan lebih baik kalau ia tak memikirkannya, akan lebih baik kalau ia tak tahu. Sayangnya ia tahu.

Kenyataan itu menanam banyak sekali pertanyaan dan kemungkinan jawaban di kepalanya dan itu menakutkan. Pria itu teman Luhan, dari China dan datang untuk melihat Korea. Alangkah bagus kalau sesimpel itu.

Mungkin teman sekolah atau mungkin sepupu jauh. Apapun selain seseorang yang menghalangi hubungannya dengan Luhan. Entah itu mantan kekasih, calon kekasih, cinta pertama, apapun yang berspekulasi buruk!

Bodoh! Harusnya ia berhenti berpikir. Ia harus percaya pada Luhan, cowok bambi itu mencintainya, tak pernah menipunya meski sering bohong dan mempermainkannya oh dan kadang juga memperalatnya.

Sehun mendesah, ia sebaiknya menghubungi Luhan. Mungkin Luhan malah sudah menghubunginya, mengabari kepulangannya. Tapi tadi ia begitu takut, bersikap pengecut dan tadi mematikan ponselnya.

Ponsel pintarnya bergetar sebelum menyala, Sehun menunggu sambil menggaruk kepala. Kepalanya sedikit pusing dan entah bagaimana aroma ruangannya tiba-tiba membuatnya kesal. Aroma pengharum ruangan yang sama dengan milik Luhan.

Sehun baru akan mendesah lagi ketika akhirnya ponsel itu menyala, mendapat sinyal dan tinggal menunggu waktu notifikasi akan bermunculan, berdesakan minta perhatian.

Benar saja, geser ke bawah dan ke atas. Lagi dan lagi. Tapi tak ada Luhan di sana. Dari sekian media sosialnya baik instan maupun bukan bahkan sekedar pesan singkatpun tak ada yang dari Luhan.

Sehun membalik layar, tak ingin melihat. Mungkin sebaiknya ia menghubungi lebih dulu. Tak ada gunanya terus berpikir tanpa bukti, yang ada hanya akan bentuk spekulasi yang makin lama makin menyakitinya.

Ini bukan apa-apa. Luhan sedang bersama temannya, ia kembali ke Korea lebih cepat dari seharusnya dan ia lupa belum menghubungi kekasihnya. Hanya tiga poin kecil yang tidak penting.

Berusaha tenang, Sehun memanggil Luhan. Nomor yang memang selalu ada di urutan pertama di semua daftar ponselnya. Terhubung tapi tak segera di angkat. Apa yang membuatnya begitu lama? Mungkin Luhan sedang mandi. Ya pasti mandi atau tertidur. Tertidur dengan pria tampan pirang di sampingnya.

Akh! Shit! Angkat Luhan!

Sehun sangat bersyukur ketika akhirnya Luhan benar-benar mengangkatnya, dengan suara ceria seperti biasa. "Sehunnie…"

"Hei…"

"Hm… kenapa? Kau terdengar… sedih?"

Sehun tersenyum tipis, ah Luhan masih menyadarinya, cowok bambi itu masih khawatir padanya. Tidak ada perubahan apa-apa. Semua seperti seharusnya.

"Aku hanya merindukanmu, kapan kau kembali?" tanya Sehun, berdoa agar Luhan menjerit padanya bahwa ia sudah kembali, lebih cepat dari yang seharusnya. Jika itu terjadi Sehun tak keberatan untuk berpura-pura tak tahu.

Ia akan datang dan mereka bisa bersama melakukan banyak hal. Sehun juga tak akan menyinggung cowok asing yang tidur dengan Luhan. Tapi kenyataannya,

"Hahaha, kita sudah membicarakannya Sehunnie, aku akan kembali 3 hari lagi."

Luhan di seberang menjawab ceria, tak ada tanda-tanda kebohongan. Luhan yang biasa, tak ada perubahan sedikitpun, tak ada cela yang akan membuat Sehun curiga. Andai ia tak tahu Luhan sudah kembali ia pasti akan percaya saja pada ucapan si cowok bambi.

Dadanya tak akan terhujani batu, tertekan oleh tulang rusuknya sendiri karena berdetak keras dengan menyakitkan. Luhan berbohong padanya, berbohong dengan lancarnya. Tanpa cela seakan mengatakan kebenaran.

Tunggu, ini bukan pertama kali, cowok bambi itu memang bukannya tak pernah berbohong tapi mengetahui kebohongan untuk hal yang membuatnya segini tersiksa membuat Sehun jadi merasa hampa, kebas dan tak tahu harus bagaiamana.

Ia menutup telepon karena takut dengan tanggapan apa yang akan ia berikan pada Luhan. Ia tak ingin hilang kendali. Ia tak boleh berpikir negatif.

Luhan… Luhan mungkin sedang menyiapkan kejutan. Benar kejuatan!

Sehun kembali berbaring, ponsel pintarnya terlepas dari tangannya begitu saja, ia mengusap dahinya. Tak ingin berpikir lebih banyak. Mengerang keras sebelum bangkit dari ranjang. Ia butuh pengalih perhatian.

Saat yang tepat karena pintu apartemennya di ketuk, dan Kai ada di balik pintu itu. Sehun langsung mencuci muka dan berganti baju. Hari ini ia akan hang out dengan Kai dan tak akan pulang sebelum pagi.

Pagi selanjutnya, Sehun bangun dengan kepala pusing dan nafas alcohol. Matahari sudah lumayan tinggi dengan Kai tidur di sampingnya. Lengan tan cowok itu menimpa wajah Sehun, membuatnya kesal.

Sehun mendorongnya menjauh dan langsung ke kamar mandi.

Ia tak ingat kemarin melakukan apa saja, sepertinya mereka mendatangi beberapa bar dan kemudian… kemudian dia tak ingat lagi. Yang pasti Kai membawanya pulang dan menguras habis tunai di dompetnya hanya untuk minum.

Selesai mandi Kai masih belum bangun. Tidur nyaman seakan di rumah sendiri. Sehun bukannya keberatan, hanya… yah… tapi kalau di pikir situasinya sekarang tak jauh beda dengan Luhan, ia idur dengan cowok lain.

Tunggu, ini beda, Kai kan berpakaian dan ia tak bohong pada Luhan juga, ia hanya tak memberitahunya kan? Tak ada poin untuknya memberitahu cowok bambi itu karena toh cowok bambi itu juga lagi sama cowok lain.

Sehun mencari-cari ponselnya. Pikirannya mulai ngelantur, ia mendapat ide-ide mengerikan karena kesal dan sedih. Ah mungkin ini bisa disebut shock juga. Bagaimanapun selama ini ia menaruh Luhan di atas segalanya. Kejadian ini tak terduga oleh nalarnya.

Tanpa disadarinya perasaan tak aman, terganggu, dan terkhianati muncul menelannya perlahan.

Sehun tak sedang menguntit, ia hanya tak sengaja bertemu Luhan dan cowok pirang tinggi itu ketika akan bertemu dengan temannya untuk makan siang bersama. Ketika melihat kekasihmu berjalan dengan cowok lain kau juga tak akan bisa mengabaikannya begitu saja kan?

Sehun menganggap ini tanggapan alami. Ia tak membalas chat Luhan pagi ini karena terlambat bangun. Tak berusaha menjangkau Luhan juga karena pikirannya sepakat untuk menganggap apa yang kemarin terjadi hanyalah imajinasinya.

Apapun alasannya Luhan tak mungkin menduakannya, ini mungkin kondisi salah paham berkelanjutan. Sehun juga tak berniat mengambil tindakan karena jauh di lubuk hatinya ia takut dengan kebenarannya.

Tapi sekarang, tengah hari cerah, di café buble tea yang tak pernah ia kunjungi dengan Luhan, di meja dalam yang tak terlihat dari luar, kekasih bambinya sedang duduk tenang dengan cowok lain, tertawa dan tersenyum seakan tak punya dosa.

Ia sempat ragu awalnya karena Luhan tak lagi berambut coklat madu, rambutnya hitam legam tak sepanjang dulu, dengan gaya sedikit terangkat memamerkan dahi dan seluruh wajahnya. Tatanan rambut yang membuat Luhan lebih manly…

Sehun terbiasa dengan Luhan coklat madu yang bertingkah imut dan sedikit frontal, tersenyum cerah dan bebas. Bukan Luhan berambut hitam bertatanan pria dan tersenyum tipis. Meski demikian entah bagaimana cowok bambi itu terlihat menikmati waktunya dengan cowok pirang teman semejanya.

Melihat itu, Sehun terganggu, seakan Luhannya bukan Luhan yang dikenalnya. Ia lantas menemukan dadanya berdetum, mendorongnya maju hingga ia lupa alasannya mendekat adalah hanya mengawasi dari jauh. Karena tiba-tiba ia sudah menghampiri meja dua cowok cakep itu.

"Sehun? Lama tak ketemu…" Luhan menyapanya, wajah mendongak bersandar pada satu tangan, tersenyum tipis. Tampan sekali, ia tak menyangkalnya. Ia tahu Luhan memang rupawan hanya tak menyangka ia masih terkesan setelah memiliki cowok bambi itu sejak lama.

"Ah… Hai…" Sehun kehilangan suaranya, ia bingung dengan apa yang harus ia katakan, apa yang harus ia lakukan?

"Temanmu?" Suara di seberang meja menarik perhatian keduanya.

Sehun menatap pria itu, suara cowok itu manly dan tenang, tipe metroseksual yang mudah menggaet tipe cewek seperti apapun dan dari kalangan manapun. Ah lihat wajahnya, postur tubuhnya, panjang kakinya… Pikiran Sehun kehilangan arah.

Luhan tersenyum dan Sehun jadi agak terganggu agak kesal.

"Kris, kenalkan ini Sehun. Dia adik tingkatku di kampus dan teman masa kecilku dulu."

Sehun terpaku, menatap tanpa fokus pada cangkir berisi cairan hitam di depan Kris. Ada yang salah, sesuatu yang datang tadi, yang dikatakan Luhan tadi ada yang salah kan? Adik tingkat? Teman masa kecil? Yang pasti ia tak bisa menyuguhkan senyum.

Otaknya berhenti bekerja dengan benar ketika rangsangan yang masuk itu terlalu sulit diterimanya, pasti ada alasannya tapi Sehun tak mampu berpikir jernih jadi ia menahan beban di dadanya. Sebelah tangannya terkepal sebelum ia tersenyum. Ah ia bisa tersenyum sekarang.

Seakan mengingat sesuatu, "ah… ya Luhan hyung… aku baru ingat aku ada janji dengan seseorang. Aku tadi melihatmu dan kupikir sebaiknya aku menyapamu karena kita sudah lama tak bertemu. Lagipula kita–"

Dua cowok itu menatapnya dalam diam. Sehun sadar omongannya mulai tak jelas, ngelantur dan tak penting. Sadar dirinya kehilangan fokus, Sehun ingin segera lari.

"Sehun, kenalkan ini Kris, dia…"

"Luhan hyung, aku harus pergi. Sampai jumpa!"

Sehun langsung beranjak, ia tak mampu, ia kehilangan kendali. Ia sudah menghancurkan usahanya sendiri. Bodoh sekali. Ia terus berjalan hingga akhirnya, kakinya kebas. Ia bersandar di teralis trotoar. Menatap ke sungai setelah trotoar.

Kenapa Luhan menyembunyikan hubungan mereka dari pria itu. Ini memang tak seperti mereka mengumumkan hubungan mereka ke publik. Tak semua orang tau tapi kebanyakan teman kuliah Sehun tau kalau ia berkencan dengan cowok bambi itu. Berbalik dengan Luhan.

Tak semua teman Luhan tau kalau Luhan berkencan dengannya. Mereka berbeda jurusan dan bahkan berbeda fakultas jadi wajar saja ada semacam misinformasi.

Sehun tak pernah mempermasalahakannya sebelumnya tapi entah kenapa hari ini, untuk pertama kalinya ia merasa sakit mendengar Luhan tak mengakuinya sebagai kekasih.

Kenapa ia takut mendengar penjelasan Luhan tadi? Kenapa Luhan tak mengejarnya? Kenapa bahkan sekarang Luhan tak mengirimnya pesan atau bahkan memanggilnya?

Luhan baru saja ketahuan berbohong padanya, cowok itu tertangkap basah sudah di Korea sebelum waktunya tapi bahkan satu pesanpun tak datang ke ponsel pintar Sehun untuk sekedar memberinya penundaan penjelasan.

Tenang… Sehun mendesah keras, berharap dapat mengurangi sesak di dadanya dengan itu. Luhan hanya sedang berhenti memperlakukannya sebagai anak-anak. Luhan pasti berpikir kalau ia bisa meunggu karena ia sudah dewasa seperti yang selalu ia katakan. Bukan lagi remaja labil yang perasaannya mudah terombang-ambing.

Oh Sehun… siapa yang sedang kau bodohi?

Sehari sebelum Luhan seharusnya kembali. Pemikiran itu membuat Sehun tak berhenti kesal, bagaimanapun kesal membuatnya dapat menahan perasaan lainnya. Entah takdir macam apa karena hari ini lagi-lagi ia bertemu Luhan dan Kris.

Kali ini di kampus, hari ini Sehun datag ke kampus karena akan mengkonsultasikan pengambilan mata kuliahnya pada dosen pembimbingnya. Sayangnya dosennya sedang tidak ada di tempat. Sehun ingin urusan ini segera selesai maka ia mendatangi dosennya yang sedang ada acara di fakultas Luhan.

Ia tak berpikir akan bertemu Luhan karena seharusnya Luhan kembali besok maka pasti ia tak akan menunjukkan hidungnya di kampus hari ini.

Entah mau menyebutnya apa karena sekarang ia duduk di kursi tunggu bersama Luhan dan Kris menunggu dosen pembimbing masing-masing. Kali ini Sehun tak menyapa dan mendapati Luhan tak menyapanya semakin membuatnya terluka. Maka mereka hening, sampai…

"Hai Sehun," Kris menyapa, sepertinya bosan.

Sehun melirik, tak tertarik. Ia tak akan basa-basi.

"Kau Sehun kan? Kau lupa aku? Kemarin kita bertemu di café. Kau menyapa Luhan kemarin. Tapi kalian hening sekali hari ini."

"Diamlah, Tak biasanya kau banyak bicara." Luhan yang membalas, tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel pintar di tangannya.

Tak biasanya? Apa itu berarti ada masa dimana Luhan dan Kris pernah dekat untuk mengetahui kebiasaan masing-masing? Mereka mengenal satu sama lain sejak lama?

Sehun mendapat pesan, ponsel pintarnya bergetar pelan. Ia mengambilnya dan menemukan Luhan sebagai pengirimnya. Sehun melirik cowo bambi itu sekilas.

-Jangan pedulikan Kris

Sehun tak merespon,

Pesan baru…

-Abaikan saja dia, jangan repot-repot mendekatinya.

Apa dirinya terlihat seperti ingin mendekati Kris?

Sehun tak ingin berpikir buruk tapi rasanya mustahil untuk tak berpikir buruk dalam kondisi ini. Mendesah tertahan, ia menyandarkan punggungnya.

Ia tak akan mendapat apa-apa dengan pasif diam menunggu tertelan asumsi negatif maka ia mengetik balasan.

-Kenapa?

Tak sampai 5 detik Luhan sudah membalas.

-Sulit dijelaskan

Sehun termenung sebentar.

-Bisakah kita bertemu besok?

Sehun memang harus melakukan ini, ia harus menghadapi dan berhenti lari, ia perlu kejelasan agar bisa menghadapi. Semua perlu diluruskan meski akhirnya mungkin menyakitinya. Ia mengambil langkah besar…

-Tidak bisa

… yang dihancurkan begitu saja.

Sehun terpaku, Luhan menolak bertemu dengannya? Cowok bambi itu menolaknya dengan ekspresi santai seakan menolak iklan operator di depan wajah kekasihnya sendiri. Sehun berpikir sesaat atau tepatnya menata pikiran.

-Karena Kris?

Pertanyaan yang berani, karena Sehun menyesal mengirimnya, ia takut dengan jawaban yang akan dihadapinya. Seperti yang sudah-sudah Luhan membalas dengan cepat. Terlalu cepat bagi Sehun untuk menata hati dan mental.

-Ya

Sehun lupa kapan menahan nafasnya, yang pasti saat akan menarik nafas sesuatu mengganjal tenggorokannya, ia takut bersuara dan matanya berusaha mencari pengalih perhatian. Meski saat pesan baru muncul matanya tetap bergerak ke layar ponsel, meneliti setiap huruf dari pesan Luhan.

-Bagaimana kalau lusa?

Sehun tak membalas karena detik berikutnya ia berdiri. Dua pria lain menatapnya bertanya.

"Maaf aku ada urusan lain. Sampai jumpa Luhan hyung, Kris-ssi…"

Luhan menatapnya pasif dan Sehun langsung angkat kaki. Tak menengok dan mengabaikan getaran di ponsel pintarnya.

TBC…


Setengah tahun terlewat lagi… Hahahaha… Maafkan Luen yang updatenya setengah tahun sekali. Masalahnya dari awal ini fanfik gak ada konflik, cuma one shot -PWP lagi... Hahaha, terus cuma ngikutin review yang minta lanjutan, makanya kasih sweet-sweet dan kini ketiga rilis… sebagai endnya…. Luen gak ingin membuat pembaca menunggu setengah tahun lagi… Makanya diabisin aja…

Tapi setelah kelar diketik, ternyata lebih dari 6 k tanpa NC, kalau gak dikasih NC kok agak gimana karena ch awal aja PWP, makanya Luen potong jadi dua chapter. Yayyyyy! #diciumLuhan #disabitreader

tapi ada gak ada NC ga masalah buat Luen… Jadi reader tercinta pilih update cepet tanpa NC atau tunggu NC nya kelar baru update? Tenang saja, gak nunggu setengah tahun kok… Hhehehe

Next, I give you all my regards… Thank you so much for reading and gimme your appreciate! I can't mention personally but I do really love you all… !

Then, how about review? Gimme ur choice…. :D