Chap 3: Admit or admire?
One Piece milik Eiichiro Oda
When first love begin it's mine
"Luffy! Makan makananmu!" setelah kejadian Law yang menindihnya, membuat Luffy merasa ada yang aneh padanya, ia selalu mencoba untuk menenangkan degupan jantungnya ketika ia berada didekat Law, tapi apa yang ingin dia lakukan tidak membuatnya semakin tenang, otaknya tidak dapat melawan respon tubuhnya, membuatnya malu. Dan ia selalu berpikir jika yang ia lakukan itu salah, menyukai... ralat, mencintai seseorang yang sama sepertinya adalah sesuatu yang salah. Tapi Luffy tak bisa memungkiri, jika ia sangat senang berada di dekat Law, meskipun Law orang yang sangat dingin, tetap saja... tiba-tiba terdengar gebrakan meja didepannya yang membuat Luffy kaget dan tersadar dari alam bawah sadarnya. Sanji sendiri menatap Luffy lurus, sedikit tajam, membuat Luffy risih.
"A-Ada apa Sanji?"
"Justru harusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada apa denganmu Lu?"
"Aku... aku baik-baik saja"
"terus kenapa kau? Diam saja... biasanya kalau didepan mata ada makanan pasti langsung disikat!"
"Memangnya aku apa?!"
"Engga... Cuma nanya kan?! Sepertinya kau sedang ada masalah... bengong aja dari tadi..."
"Aku-aku ti-tidak... hanya saja..."
"Hanya saja?..."
"Umm... tidak... tidak ada apa-apa"
"Heh? Sigh~, Luffy kalu kau ada masalah beritau saja aku, kita kan teman... seorang teman harus membantu saat dalam kesulitan, kan?"
Mendengar itu dari Sanji, Luffy hanya membalasnya dengan senyuman, ia berpikir, jika ia sangat beruntung mempunyai nakama yang sangat peduli dengannya. Setelah menghabiskan makan paginya ia langsung keluar dari kabin dan pergi ke dek untuk mencari Usoop dan Chopper untuk diajak bermain.
Sesampainya Luffy di dek, Luffy melihat Robin, Nami dan Koala sedang mengobrol sambil menyeruput minuman mereka, entah apa yang mereka bicarakan, muka Koala dan Nami sangat serius. Sepertinya mereka sangat ahli dalam hal ngerumpi,pikir Luffy.
Nami,Robin, dan Koala POV
"Nami-san... sepertinya Luffy-kun sedang berbunga-bunga" ucap Koala
"Yayaya... aku tau... " jawab Nami dengan sedikit smirk
"Tapi sepertinya Luffy-san masih malu-malu" lanjut Robin
"Dan juga... Sabo-kun sepertinya berniat yang aneh-aneh deh" ucap Koala sedikit kesal
"hmm... ya aku setuju denganmu Koala-chan" jawab nami dengan adanya pertigaan di keplanya sambil mengngguk
"Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Sabo-kun selanjutnya, ya? Ia sedikit susah ditebak jika sudah melakukan hal yang ia sukai!" lanjut Koala
"Yang penting kita harus melindungi Luffy-kun dari tangan jahil Sabo-kun" ucap Robin tegas
Normal POV
Luffy yang melihat teman-teman perempuannya sedang mengobrol,ia mendatangi mereka dan menanyakan keberadaan Usoop dan Chopper, Nami memberitau jika Usoop ada di ruangannya, dan Chopper ada di ruangan kesehatan. Luffy pun beranjak dari tempatnya dan pergi untuk menemui Chopper.
Luffy POV
'Haish... apa sih yang sedang Nami, Robin dan Koala bicarakan... telingaku benar-benar terasa panas!'
Aku pun segera membuka pintu ruang kesehatan. Tapi apa yang aku temukan? Benar-benar pemandangan yang tidak enak! Kenapa aku harus bertemu ia sekarang? Rasanya aku benar-benar mau merutuki nasibku sampai aku-bisa-bertemu-Law-disini.
"Law apa yang kau lakukan disini?" ucapku sedikit keras sambil menutupi wajahku yang sedikit merah.
"Apa? Ada yang salah?" ucapnya dengan ekspresi datar seperti tembok.
"Tidak... hanya saja sejak kapan kau di kapalku dan ada di ruang kesehatannya Chopper, Law?" tanyaku dengan nada sedikit menyebalkan.
"Tanya saja sama Chopper-san" ucapnya datar(lagi), astaaaggaaaaaaaa, Law! Sejak kapan kau menyemen mukamu? Mukamu rasanya sama datarnya dengan tembok, tau!
Setelah mendengar itu aku pun langsung keluar dari ruang kesehatan untuk mencari Chopper,tapi entah kenapa ada yang menahan pergelangan tanganku,saat aku melihat kebelakang, Law memegang taganku dengan erat dan berkata "Jangan pergi... tetaplah bersamaku, aku ingin menghabiskan waktu denganmu" mendengar itu aku hanya bisa menunduk dan menuruti apa katanya. Jantungku serasa berdegup begitu kencang, apa Law merasakan apa yang aku rasakan juga? Tanyaku dalam hati. Tangan kirinya menarikku perlahan ke-kursi yang berada di sampingnya,setelah aku duduk, ia pun segera melepaskan tangannya dari tanganku. Entah kenapa suasana di dalam ruangan itu menjadi awkward, aku diam... dia diam, rasanya ruangan ini menjadi sunyi-senyap. Beberapa saat kemudian, Law membuka topik pembicaraan.
"Luffy... apa yang kau rasakan setelah kakakmu meninggal?" tanyanya sambil menatapku lurus walaupun demikian, sorot matanya sangat menenangkan.
"Maksudmu... Ace?" tanyaku. Ia hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja.
"Jika kau tau saja, Luffy... Cora-san... juga meninggal saat ia ingin mempertahankan nyawaku" ucapnya sambil menunduk miris. Mendengar itu aku pun langsung melihat kearahnya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan... Kehilangan seseorang yang sangat berarti bagimu... itu bukanlah sesuatu yang mudah." Lanjutnya.
"Serasa cahaya dalam dirimu... keinginanmu, impianmu pasti langsung tersapu begitu saja..." Lanjut Law. Aku yang mendengarnya hanya bisa mengngguk pelan.
"Tapi aku melihat kau masih membuanyai pilar yang yang kokoh untuk menahanmu dari kejatuhan itu. Kemudian fundamen yang ada pada dirimu itu sangat kuat, sifatmu yang sangat baik, walaupun kekanak-kanakan. Kau tau... aku sering mendengar dari teman-temanmu jika kau sangat egois, terutama jika sudah bertarung. Sewaktu aku melihatmu di Punk Hazard... aku mengerti suatu hal... jika kau takkan pernah memberikan jarak yang paling berbahaya kepada teman-temanmu... kau selalu saja yang berada di garis depan, agar teman-temanmu tidak kesulitan. " ucap Law sambil tersenyum lembut padaku. Aku sedikit tesentak mendengar itu. Bagaimana ia tau? Law benar-benar memperhatikan aku? Sebenarnya aku sedikit senang mendengar itu dari Law.
Tiba-tiba Law segera menarikku kedalam pelukannya. Mendekapku dengan erat. "Okashii yo ne. Anata no soba ni iru to, tottemo ochitsuku no. Maru de zutto mae kara no shiriai mitai ni"ucapku dalam pelukan Law. "Law...suki dayo" lanjutku.
Law POV
Aku segera menarik Luffy ke dalam erat. Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya. Kehilangan Luffy. "Okashii yo ne. Anata no soba ni iru to, tottemo ochitsuku no. Maru de zutto mae kara no shiriai mitai ni"ucap Luffy dalam pelukanku. "Law...suki dayo" lanjutnya. Apa? Apa aku tidak salah dengar? Tadi Luffy bilang... Aku tak percaya ini! "Luffy... Aku juga mencintaimu." Aku pun langsung mengecup bibirnya pelan. "Aku sangat mencintaimu Luffy... sangat."
Normal POV
Akhirnya Law melepaskan pangutannya dan kembali mendekap Luffy, yang didekap pun hanya bisa diam beribu bahasa. Luffy benar-benar tak bisa mengontrol tindakan dan pikirannya dengan benar. Law pun segera melepaskan dekapannya. Dan menaruh dahinya di dahi Luffy, menatap Luffy lembut. Rasanya Luffy sangat ingin meleleh, tubuhnya sangat panas. Ia sangat malu. Tapi perasaannya telah ia sampaikan,kan? Dan juga Law balas mencintainya membuat Luffy sangat senag. Law yang melihat Luffy hanya bisa tersenyum simpul. Jujur saja, ia sangat kaget ketika Luffy memberikan pernyataan cinta seperti itu. Dari balik pintu ternyata Sabo mengupingi pembicaraan mereka.
"Law tenanglah... ini tak akan berjalan sesuai yang kau harapkan.. pasti banyak masalah di dunia ini,kan?" ucap Sabo sembari pergi dari tempatnya.
TBC
Nami: Yaaay~ saatnya Free Time dan balas Review
Robin: Bersamaku
Koala: Bersama aku juga
Robin: Terima kasih untuk Rune of Darkness yang setia mengikuti cerita ini
Koala: Author-san sangat kegirangan lho membaca Review dari anda, hehe
Nami: Yah, aku setuju... Sampai jingkrak-jingkrak lagi!
Robin: Author-san memang penuh kejutan, yah~ memang tidak aneh sih... karna di sekolahnya ia bisa lebih dari itu
Hanami(Tiba-tiba datang): Aloha minna-san! Saya akan menjawab Review dari Rune of Darkness... Arigatou untuk reviewnya! Sangat membantu. Saya juga minta maaf jika dalam chapter ini ada salah nulis dan bersangkutan dengan apapun yang salah. Saya juga senang mendapat Review seperti ini! Membantu saya mengoreksi kesalahan... Dan juga maaf sekali lagi jika ada yang salah, karna saya masih newbie... Aku deluan~ jaa~ _ (pergi lagi)
Koala: Ehh? Dia pergi lagi... isi Review-nya belum selesai lho!
Nami: Law... di r*** Sanji-kun? Aku tak bisa membayangkannya... jangan Sanji... kurang pas.
Robin: Oiya, Author-san juga sangat minta maaf jika minggu depan tidak bisa update cepat. Free Time dan Review kali ini kututup dengan, Jaa nee~
