Disclaimer:

-Naruto © Masashi Kishimoto-

.

Warning:

-OOC/Canon/Typos/Romance/AR-

-Mohon beri tau jika terdapat kesalahan dan kerancuan dalam penulisan karena saya masih junior yang masih perlu bimbingan para senior. Terimakasih ^_^-

.

Spesial to:

-, -Animea Lover Ya-ha, .9 , Melanie Joseph, jiro yujikku, nara yuki, Sabaku Yuri, GhienaShikaTema and readers -

- Sebelumya saya ucapkan terimakasih pada Senpai-Senpai yang udah kasih saran membangun untuk ceritaku ini, dan saya juga ucapkan terimaksih kepada siapa saja yang sudah mau berkunjung ke sini ^_^ -

.

-^-^-^-^-Happy Reading-^-^-^-^-

.

Shikamaru PoV

Langit menunjukkan Fajar, Sang Surya perlahan muncul dari timur, angin dingin perlahan menghilang, oksigen mulai bertambah banyak. Dari celah jendela kamarku, sinar emas dari sang surya masuk, tepat menyinari mataku yang tertutup. Hal yang kurasakan pertama adalah merasa terganggu karena sinarnya membuat tidurku tidak nyeyak. Setelah kucoba untuk kembali tertidur, ternyata itu sulit. Akhirnya kuputuskan untuk bangun lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan buang air kecil. Hal pertama yang kupikirkan dan ingin kutemui setelah keluar dari kamar mandi adalah calendar. Hal yang menjadi patokan untuk mengingatku pada hari dimana hari merepotkan sebentar lagi tiba, pernikahanku dengan gadis suna.

Aku berjalan menuju sisi pintu, dimana calender itu aku gantung tak lupa membawa pencil yang akan menandai hari yang akan kucoret. Setelah sampai aku mulai menghitung hari yang sudah coret satu per satu, ternyata sudah hari ke-3 dan sekarang menjadi genap hari ke-4. Berarti waktuku tinggal 2 hari lagi untuk menikmati indahnya Konoha, sungguh berat rasanya meninggalkan desa yang kucintai ini.

Bulan ini merupakan bulan Maret, bulan dimana awal musin semi tiba, bulan dimana perayaan Hanami menjadi perayaan favorit yang ditunggu semua orang, namun perayaan Hanami akan meriah pada awal bulan april, orang-orang akan berbondong-bondong mengajak kerabat atau pacar untuk bersama-sama menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran, namun itu tidak akan didapat olehku karena aku sudah pindah ke tempat tandus dan berpasir yang tidak akan pernah kutemui harumnya bunga sakura satu centi pun. Sungguh malang nasibku ini, saat orang berbahagia dengan dunianya aku malah merana ditempat asing.

Mereka sangat menginginkanku untuk cepat menikah di bulan semi tanggal 7 Maret, mereka memilih waktu yang sangat tepat, tanggal 7 merupakan angka keberuntungan yang melambangkan kesucian, dimana Shichi-fuku-jin (1) menjadi sesuatu yang disucikan dan diagungan keberadaannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena sejak awal aku telah mengiyakan apa yang menurut mereka adalah 'Misi Istimewa' namun bagiku ini adalah 'Misi merepotkan' sepanjang hidupku.

Hari ini aku putuskan untuk berkunjung ke makam guru yang sangat kuhormati, Asuma Saratobi, yang mengajarkanku apa arti raja yang sebenarnya harus kulindungi. Tiba disana, kulihat guru Kurinei sedang berdiri di depan nisan suaminya, sedang menaburi sesuatu di atas nisan Asuma, ternyata sesuatu berwarna merah muda yang kutebak adalah sebuah bunga.

Aku tak berani mendekat, biarkan guru Kurinei dengan dunianya, karena aku tau guru Kurinei sedang mengenang kebersamaan yang dulu bersama Asuma. Jika aku kesana, aku hanya mengganggu. Kuputuskan untuk menunggu, sampai akhirnya guru Kurinei selesai dengan apa yang menjadi urusannya. Saat Guru Kurinei berjalan ke luar pemakaman, aku bersembunyi di balik pohon yang menaungi keberadaanku.

Setelah sosok Kurinei menghilang dari pemakaman. Aku berjalan ke tujuanku semula, makam Guru Asuma. Kulihat berbagai jenis bunga ada di pinggiran nisan Asuma. Aku tersenyum lalu memejamkan mata, menikmati sejenak hiliran angin.

"Guru ?" panggilku "ada satu hal yang membuatku iri padamu" aku sejenak diam "apa kau ingin tahu. ! ada satu hal yang belum aku dapat seperti guru, dan satu hal itu yang membuatku iri padamu." Sejenak aku menghela nafas, membuat diri sendiri setenang mungkin. " kau beruntung ada seorang perempuan yang mencintaimu dengan tulus, bahkan sampai detik ini dia selalu memikirkanmu, mendo'akan untuk kebaikanmu setiap saat. Guru, aku ingin seperti guru, mati dengan meninggalkan kenangan yang membuat kau selalu di ingat, tak pernah terlupakan." Kemudian aku menghela nafas sejenak, menghirup dalam-dalam udara yang masuk ke paru-paruku. "Tapi aku tidak mau mati secepat itu, entah kenapa aku ingin menikmati dulu masa muda yang merepotkan ini, juga ada hal belum aku selesaikan. Aku ragu guru akan setuju dengan keputusanku ini."

Beberapa detik berlalu dengan perbincangan satu sisi dariku yang mungkin sedikit tidak berguna. Tiba saatnya untuk aku pergi. Sebelum aku pergi aku mengambil sampel bunga untuk aku bawa ke toko bunga Yamanaka, menanyakan jenis apa bunga ini sampai Guru Kurinei memberinya untuk Asuma.

Aku sudah tiba gerbang masuk pemakaman, tak disangka aku bisa bertemu guru Kakashi di tempat seperti ini, aku tebak, sepertinya guru Kakashi baru saja berkunjung ke salah satu makam teman atau pun saudaranya. Ku putuskan untuk bertanya, dan benar saja guru Kakashi baru saja berkunjung dari Makam Obito dan Rin, sahabat setimnya dulu.

"Shikamaru." aku mendengar suara Guru Kakashi memanggil, aku pun menoleh ke arahnya. Guru Kakashi yang sedang ada dibelakangku, otomatis aku membalikan badan.

"Ya, ada apa guru memanggilku?"

Guru Kakashi berjalan mendekat ke arahku dengan memasukan tangan di saku celana, sementara aku diam ditempat, tidak ada pegerakan khusus dariku. Guru Kakashi sudah ada di samping kananku, lalu mulai mengatakan sesuatu.

"Aku sudah tau semuanya dari Sakura. Ku harap, ini tidak menjadi beban bagimu, aku hanya ingin mengatakan ini padamu 'Orang yang melanggar peraturan memang disebut sampah tapi orang yang tidak memperdulikan temannya dia adalah orang yang lebih rendah daripada sampah.' Kau bukanlah sampah tapi kau adalah anak emas, kau melakukan ini demi teman dan orang-orang yang desa. Terimakasih, Shikamaru. Kau telah melakukan yang terbaik."

Dari bahu kananku, kurasakan tepukan singkat dan seulas senyum, tepukan itu berasal dari tangan Kakashi yang bergerak dan seulas senyum itu berasal dari sesuatu yang tersembunyi dibalik masker Kakashi . Aku masih tak percaya, dia mengatakan itu. Tepukan singkat itu menandakan sebuah kepercayaan besar terhadapku. Sepertinya guru Kakashi sudah bisa menebak apa yang kurasakan, dan apa alasanku berkunjung ke makam Asuma. Aku masih diam terpaku ditempat, sementara Kakashi sudah mendahului langkahku berjalan keluar pemakaman.

"Guru Kakashi. !" Panggilku, terlihat guru Kakashi menoleh tanpa berkata-kata apa-apa. Aku lalu mengejar langkahnya.

"Ada sesuatu yang ingin kuberikan." Ujarku, lalu dengan pandangan 'ada apa?' dari Kakashi, segera aku menyerahkan bunga berwana ungu yang aku ambil sebagai sampel dari makam Asuma – bunga itu dari Kurinei untuk Asuma. aku tidak tau apa artinya. Aku hanya ingin mengucapkan rasa berterimakasih karena telah membuatku sedikit tenang. Hanya itu, tidak lebih.

Setelah menyerahkan bunga berwarna ungu itu pada Kakashi aku lalu berlari meninggalkan Kakashi yang diam terpaku. Sekarang aku akan pergi ke Toko Yamanaka.

"Bukankah ini bunga Lilac berwarna ungu yang artinya Cinta pandangan pertama." Kakashi mengamati bunga pemberianku. "Apa mungkin, Shikamaru… " Kakashi mulai berpikir aneh-aneh tentangku "Ahh tidak tidak, tidak mungkin Shikamaru…" Kakashi kembali menggelengkan kepala sampai pikirannya benar-benar tenang. Ada yang salah paham rupanya, Semoga saja ketika bertemu denganku, Kakashi tidak bertingkah konyol.

###

Ternyata setelah dijelajahi cukup dalam, Konoha ini benar-benar luas. Sebenarnya aku belum sampai ke tujuan utamaku, Toko Bunga Yamaka. Aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan menikmati suasana Konoha yang nanti tidak akan kutemui lagi

Orang pertama yang kutemui saat aku berjalan di distrik Hyuuga adalah Hinata Hyuga, Naruto Uzumaki, dan satu lagi yang membuatku terkejut Hiashi Hyuga. Tidak biasanya mereka berjalan bersama. Setelah ku amati cukup teliti, raut muka Naruto terlihat tegang dan ketakutan, sementara raut muka Hiashi tampak mengawasi dengan teliti pergerakan dari bocah berambut blonde bahkan sekali-kali matanya terlihat merubah mode ke mode byakugan membuat Naruto semakin merinding, sementara Hinata tampak kaku. Posisi mereka terbilang seperti direncanakan, Naruto dan Hinata ada

di depan sedangkan Hiashi ada di belakang.

Aku tebak, sepertinya Naruto mengajak Hinata kencan tapi dengan syarat tertentu, yang pasti syarat itu diberikan oleh petinggi Hyuga untuk mengawasi kelakuan bocah rubah terhadap anak gadisnya.

"Hinata apa kau lapar. Kalau kau lapar, aku akan membawamu ke kedai makanan, bagaimana?" Naruto bertanya pada Hinata dengan sedikit gelisah, takut-takut jika seseorang yang dibelakang akan marah karena anak gadisnya akan di bawa ke suatu tempat. Sementara aku sedang bersembunyi dibalik sebuah bangunan, mengamati mereka dalam jarak cukup jauh.

Hinata mengangguk sebagi pengganti jawaban ya, dan Naruto nampak tersenyum, sementara yang sedang mengawasi mereka, Hiashi Hyuuga sedang bersidekap dengan raut muka yang cukup membuat Naruto ketakutan. Naruto menelan ludah perlahan, melihat sikap calon mertuanya. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Detik demi detik, menjadi sebuah ketakutan tatkala sebuah penolakan keluar dari mulut Hiashi.

Naruto menatap calon mertuanya dengan tegang, Hiashi terlihat memenjamkan mata lalu menghela nafas dan saat membuka mata, Hiashi akan memberi jawaban.

Aku yang mengintip ikut-ikutan tegang menanti jawaban dari Ayah Hinata, semoga bukan hal yang buruk, kasian Naruto, perjuangannya kini menghadapi sang calon mertua yang Overprotektifdan posesif.Aku senang, Naruto sudah sadar dengan perasaan yang dulu membuatnya pusing, antara Sakura dan Hinata. Semua ini berkat Pain, Hinata menjadi terbuka dan Naruto mulai membuka perasaannya. Sudahlah itu kenangan lama, sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana kehidupanku kelak.

Aku bosan jadi pengintip, jadi kuputuskan untuk berhenti menjalani aktifitas mengintip. Jika mereka bertanya kenapa aku bisa ada disini, aku akan menjawab 'sedang berjalan menikmati suasana konoha' bukan mengatakan bahwa 'aku sedang menjadi seorang pengintip', jika mengatakan itu aku akan sangat kerepotan.

Aku berjalan dan pada akhirnya sampai dititik pertemuan dengan Naruto. Naruto yang pertama menyapa duluan dan bertanya "Kenapa aku bisa ada disini?" seperti dugaanku, aku pun menjawab dengan prediksiku pertama "sedang berjalan menikmati suasana konoha".

Naruto menjawab dengan seruan "Ohh" lalu aku berpura-pura bertanya

"Kau mau pergi ke mana, Naruto?" lalu Naruto menjawab dengan tidak dipikirkan dahulu.

"Aku akan mengajak Hinata kencan ke kedai Ichiraku bersama calon mertua merepotkan."

Aku pun menjawab dengan seruan "Ohh" pula. Aku berharap, semoga saat aku pergi Naruto akan baik-baik saja, Ayolah aku berharap itu akan menjadi kenyataan.

Terbukti saat aku berjalan 5 langkah , keadaan masih terdengar membaik tidak terngiang hal-hal seperti bentakan atau kecerewetan, saat langkah ke 10 pun sama. Sepertinya hubungan mereka sudah membaik, Syukurlah! Namun saat aku berbalik terlihat telinga Naruto sedang diseret-seret sementara Hinata terlihat sedang memohon-mohon. Aku hanya bisa bergeleng-geleng kepala. Hubungan yang sungguh rumit.

Sampai detik ini, aku belum bertemu Ino. Aku kecewa saat tiba di Toko yamanaka, ternyata tokonya di tutup. Saat aku bertanya pada orang setempat, ternyata keluarga Yamanaka sedang tidak ada ditempat, paman Inoichi sedang menjalani Misi penyelundupan bersama Ayahku dan Paman Chouja ke desa bunyi, untuk mengumpulkan informasi tentang Orochimaru, sementara Ibunya Ino sedang ada keperluan bersama Ibunya Sakura ke Negri Tani untuk melakukan kerja sama bisnis di bidang pertanian masalah impor beras, mereka menjadi diploma dari Konoha sebagai penghubung kekerabatan antara Konoha dan Negri Tani. Sementara Ino, aku tidak tau dimana keberadaannya, mungkin dia juga sedang menjalani misi. Ah, jadi untuk apa aku membawa bunga ini, lebih baik aku buang saja.

Di saat yang tidak terduga, aku pun membuang bunga yang sedang ku pegang ke sembarang tempat. Lalu di detik berikutnya, aku mendengar suara rintihan, apa mungkin itu berasal dari bunga yang aku lempar lalu mengenai seseorang sehingga membuat orang itu merintih, tapi yang aku herankan, apa bunga bisa melukai seseorang, kalau bunga di analogikan batu, itu cukup masuk akal. Dari pada berkutak dengan hal yang tidak masuk akal, aku putuskan untuk mencari tau sendiri sumber rintihan itu.

"Sai!" nama itu yang kusuarakan. Dan Sai lah orang pertama yang ku temui di taman pelatihan, yang dulu menjadi tempat aku berlatih bersama Choiji, Ino dan Asuma saat di akademi.

"Apa yang kau lakukan?" Aku mengekedutkan dahi melihat Sai sedang mencium tanah dengan begitu mesranya, apa ini merupakan salah satu hobi Sai.

Aku dengan heran ingin sekali menyenderkan tubuhku di batang pohon, dekat dengan Sai. Aku pun menghantamkan tubuhku sedikit keras ke batang pohon yang akan menjadi senderanku, otomatis membuat daun kering sedikit tergoyangkan dan akhirnya gugur.

"Baru saja aku terja.." Gubrak, terpaksa Sai harus menghentikan ucapannya karena sesuatu benda menghantam kepalanya dan akhirnya kembali mencium tanah.

Aku mengambil benda yang membentur kepala Sai, lalu kuamati, terlihat goresan indah membentuk sebuah seni yang artistik di atas kanvas dengan berbingkai kayu di ke-empat sisinya. Rupanya Sai baru saja melukis pemandangan taman pelatihan di atas pohon.

Aku tak tega melihat Sai masih dengan posisi mencium tanah, ku ulurkan tangan sebagai tanda bantuan dan Sai pun menerimanya. Setelah tegak, Sai membersihkan bajunya yang sedikit berdebu dengan kedua tangannya.

"Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"aku meminta Sai menjelaskan kejadian yang membuat dirinya harus mencium tanah. Sai pun mulai memberi penjelasan.

"Tadi aku sedang melukis pemandangan di atas pohon, lalu aku terkejut karena ada benda terjatuh dipangkuanku, karena kaget akhirnya aku terjatuh. Lalu kau datang dan menyederkan tubuhmu di pohon tempatku melukis dengan cukup keras, sementara di atas pohon itu masih ada lukisanku yang lain, karena diletakan pada posisi yang tidak seimbang, dengan sedikit goncangan akhirnya lukisan itu terjatuh menimpaku lagi."

"Maafkan aku Sai, kau terjatuh karenaku, tadi aku melempar bunga ." aku tersenyum sambil menggarukan kepala dengan ada bersalah. Sai terlihat menerima alasanku. Kemudian aku melihat Sai kembali melukis, setelah kulihat ternyata bunga yang ku lempar yang Sai lukis.

"terlalu sayang jika bunga seindah ini dibuang, akan lebih baik jika keindahannya diabadikan dalam sebuah lukisan."

Sekarang aku tau apa alasan Sai suka melukis, ia ingin mengabadikan apa yang dilihat oleh matanya sebelum semuanya nanti berubah.

Dari kejauhan, kudengar suara hantaman kunai yang beradu, sepertinya ada pertarungan. Karena penasaran, kuputuskan untuk mencari tahu. Sai pun ikut dalam penyusupanku. Sampai disana, aku bersembunyi dibalik semak-semak bersama Sai. Kulihat wanita dengan rambut di cepol dua, memakai baju khas Cina sedang bertarung dengan Pria cantik berambut panjang dengan mata polos khas byakugan, memakai Kimono putih khusus pria jepang.

Sang wanita dengan cepol dua terlihat menjulurkan gulungan yang bertuliskan simbol-simbol rumit lalu dari ibu jari kanan yang berdarah, ia gesekan dengan gulungan tersebut. Sesaat kemudian muncullah ratusan kunai dengan berbagai jenis. Sepertinya mereka sedang berlatih.

Sementara Sang Pria cantik menyiapkan kuda-kudanya. Dengan mata aktif byakugan, ia melancarkan sebuah jutsu penangkis yang menghentikan pergerakan kunai-kunai dari sang wanita.

"Kaiten"

Sebuah putaran berotasi tercipta membuat sebuah lapisan lingkaran pelindung cakra, ratusan kunai pun terjatuh, tergelak di tanah, lalu disusul dengan suara hempasan tubuh dari seorang Konoichi yang kehabisan cakra, Konoichi itu terlihat merentangkan tanganya lelah, nafas yang berlomba pun menjadi bukti bagaimana lelahnya ia bertarung.

"Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam sebuah pertarungan, kau selalu berhasil menangkis seranganku, Neji."

"Selama kau tidak menyerah, kau mungkin saja bisa mengalahkanku di lain waktu, Tenten"

Seseorang yang dipanggil Neji itu sudah kembali ke mata mode biasa, setelah itu ia berjalan mendekati Konoichi yang sedang terbaring kelelahan dengan wajah ditekuk karena kalah. Lalu ia mengulurkan tangan pada Konoichi itu, memberi pertolongan untuk Tenten berdiri.

"Tapi kau memang Shinobi hebat, Neji. Sampai kapan pun juga aku tidak bisa mengalahmu."

"Berhenti mengeluh seperti itu, bagaimana pun juga kau telah membuatku kewalahan, berarti kau juga hebat."

Lalu dengan tidak disangka-sangka, saat Neji akan menarik tubuh Tenten untuk tegak berdiri, tiba-tiba kaki kanan yang menyangga tubuhnya, terkilir. Otomatis keseimbangan terganggu dan akhirnya Neji terjatuh menimpa tubuh Tenten. Daun-daun kering di sekeliling Tenten pun terbang, terbawa efek angin dari jatuhnya Neji.

Aku terkejut melihat pemandangan roman yang jarang terjadi ini. Mereka benar-benar pasangan yang romantis. Sementara Sai yang ada disampingku terlihat sedang sibuk mengabadikan pemandangan indah di depan mata dalam sebuah lukisan.

Beberapa detik berlalu, mereka masih asyik dengan posisi itu. Sampai akhirnya aku terpaksa berdehem, mereka terlihat malu saat aku datang mendekat, keluar dari tempat persembunyian. Namun mereka masih tetap saja dengan posisi itu, namun tatapan Tenten seolah menyiratkan sebuah bantuan padaku.

"Butuh bantuan.?" Aku mengulurkan tangan pada Tenten.

"Sebelum menolongku, tolong singkirkan tubuh Neji dari tubuhku."

"Baiklah." Aku menurut.

Sekarang kami semua sedang duduk disebuah batang pohon yang roboh, Tenten terlihat sibuk menyembuhkan kaki Neji yang terkilir, namun bukan menggunakan jutsu medis melainkan, melainkan cara manual, dengan sebuah pijatan tangan 'lembut' yang membuat Neji harus merintih.

"Aww pelan-pelan, Tenten. Kau membuatku mati rasa, Aww. Jika aku jadi Nona Tsunade kau sudah ku pecat dari ninja medis"

"Berhenti mengeluh atau kakimu akan bertambah sakit. Aku heran kenapa kau bisa terkilir seperti ini. Hanya butuh sedikit tekukan, maka kakimu akan sembuh. Bersediaaa.." Tenten terlihat senyum devil membuat Neji bertanya-tanya.

"Hei-hei apa yang akan kau lakukan ?!"

Tenten menghitung mundur untuk memulai aksinya. Saat hitungan sudah mencapai satu, di detik berikutnya Neji berteriak cukup keras membuat burung-burung yang bertengger di dahan pohon terbang.

"Tenten, aku tidak suka dengan caramu ini.!" Neji berdiri dengan tidak sadarnya di hadapan Tenten, ia marah dengan sikap kasarnya Tenten. Sampai Neji harus menginjak-ngijakan kaki ke tanah-tanpa sadar, karena kesal terhadap Tenten. Namun Tenten terlihat senyum karena cara manual ini berhasil dengan sukses, mulanya Tenten ragu, tapi setelah di coba ternyata berhasil. Kalau gagal saja, Tenten bisa di tuduh malpraktek. Beruntungnya, Kami-sama telah menolongnya.

Aku sudah tidak mau lagi mendengar percekcokan Neji dan Tenten yang lebih terlihat seperti percekcokan antara suami istri. aku putuskan untuk keluar dari taman pelatihan, mencari hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar taman pelatihan ini.

Sebelum aku benar-benar keluar, aku baru ingat, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Sai mengenai mimpi tentang calon istriku. Sudah beberapa hari ini aku bermimpi bertemu dengan calon istriku, tapi di mimpi itu tidak diperlihatkan jelas seperti apa wajahnya, hanya berupa tanda-tanda kecil. Kali saja, Sai akan membantu, Sai 'kan ahli melukis.

Aku kembali ke tempat pelatihan Neji dan Tenten dimana Sai berada. Aku langsung bicara ke inti permasalahan.

"Sai, aku ingin meminta bantuanmu untuk melukis seseorang? Apa kau keberatan?"

"Tidak, aku tidak keberatan. Semoga lukisanku bisa membantumu."

"Terimakasih, Sai. Aku hanya akan menyebutkan bagaimana deskripsinya, kau yang menggambar bagaimana wujudnya dari pendeskripsianku."

"Baik, aku mengerti." Setelah itu Sai menyiapkan berbagai peralatan menunjang untuk membuat sebuah sketsa, seperti pensil, penghapus, kertas sketsa polos.

Aku mulai mengingat-ngingat bagaimana sosok itu di mimpiku. Dengan memejamkan mata, aku mulai meresapi sosok cantik yang selalu datang di mimpiku itu.

"Wajahnya tidak begitu bulat, kulit wajahnya halus. Warna kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu gelap, ideal, tulang pipinya sedikit menonjol, manic matanya seperti permata hijau dilautan, begitu teduh, dagunya lancip, hidungnya tidak terlalu menonjol ke bawah dan tidak terlalu menonjol ke depan, ideal, alis matanya tegas, "

"Terimakasih, kau telah menyembuhkanku." Ucapan itu sedikit membuat konsentrasiku buyar. Ku tebak, pasti itu suara Neji yang senang karena kakinya sudah tidak apa-apa lagi. Lalu setelah itu kudengar suara halus Sai yang meminta mereka untuk mengecilkan volume dan diam.

"Maaf, tolong pelankan suaranya. Kalian membuat konsentrasi Shikamaru buyar." Mereka pun mengganguk, menyetujui usulan Sai. Karena mereka tidak boleh mengganggu konsetrasiku, akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri Sai, melihat apa yang sedang di kerjakan Sai.

"Shikamaru, tolong lanjutkan." Pinta Sai. Aku pun kembali menerawang pikiranku.

"Bulu matanya lentik, rambutnya tegak di ikat dua, tidak tidak tapi di ikat empat, ikat pelindungnya ada di dahi, memakai Poni rambut yang terbelah di bagian depan, Poninya tidak telalu panjang tidak membuat mata tertutup, warna rambutnya pirang, bibirnya tidak terlalu lebar dan tidak terlalu kecil, tapi terlihat ideal dan menarik, ketika tersenyum giginya tidak pernah diperlihatkan, hanya berupa lengkungan kecil yang menawan"

Aku perlahan membuka mata, lalu setelah itu bertanya pada Sai, aku berharap Sai tidak membuat aku kecewa.

"Apa kau sudah selesai, Sai?"

"Tinggal membuat sebuah lengkungan bibir, maka sketsa pun jadi."

Aku menunggu dengan begitu sabar hasil karya Sai, kulihat Tenten tersenyum begitu pun Neji, aku jadi semakin penasaran.

"Selesai." Sai meletakan pensilnya, dan Tenten semakin mengembangkan senyumannya.

"Sempurna, Sai. kuharap kau tidak terkejut, Shikamaru." Tenten memperingatkan.

Sai pun menyobehkan secarik kertas dari buku sketsaya lalu menyerahkan hasil karyanya padaku dengan gambar sketsa dibawah sehingga aku tidak melihat langsung hasil sketsanya saat Sai berikan.

Aku menarik nafas sebentar, lalu setelah yakin aku membalikan posisi gambarnya ke depan. Kuamati setiap incinya, cantik, itu yang kurasakan saat pertama melihatnya, dia tersenyum membuatku ikut tersenyum, Sai sengaja melukis saat ekspesinya sedang tersenyum. Namun saat kuamati sekali lagi, lebih lama dan lebih detail. Sketsa ini begitu mirip dengan wajah seseorang.

"Dasar anak cengeng" kalimat itu yang pertama muncul di benakku, itu mengingatku pada seorang wanita merepotkan yang selalu menjadi patner kerjaku di ujian Chunin. Dengan rasa ketidak percayaan yang tinggi, aku langsung melempar sketsa itu seolah barang yang menjijikan yang haram di pegang

"Huua jauhkan sketsa itu dariku"

"Apa yang kau lakukan, Shikamaru. Kau itu sama sekali tak menghargai usaha Sai." Tenten mengambil sketsa itu lalu menyerahkannya pada Sai. Lalu setelah itu memolototiku sambil mendecakan pinggang.

"Tak ada niatan seperti itu, Tenten. Aku hanya sedikit ngeri melihat hasil karya Sai."

"Berarti kau menghina sketsa Sai.!"

"Sudahlah Tenten. Mungkin saja benar kata Shikamaru, sketsaku memang mengerikan." Sai ikut dalam perbincangan kami.

"Hanya orang bodoh yang mengatakan sketsamu jelek, Sketsa seindah ini yang mempunyai Seni artistik tinggi, tidak pantas dibilang murahan. Kau telah mencapai tingkat sempurna dalam seni rupa, Sai !"

Kenapa yang terlihat tidak suka adalah Neji bukan Shikamaru. Saat Tenten memuji Sai, sikap Neji berubah bahkan ekspresinya terihat dingin. Saat Sai menatap Neji, Neji langsung memalingkan wajah tidak suka.

"Aku tidak mengatakan bahwa Sketsamu jelek, Sai. Dalam hal seni lukis, kau lah maestronya. aku hanya tidak suka dengan apa yang kau lukis. Bukan berarti sketsamu jelek dan aku tidak menghargainya, justru aku sangat berterimakasih karena kau telah membantuku. Aku tekankan sekali lagi, aku tidak suka dengan wajah wanita yang kau gambar itu. Dia adalah wanita yang sangat merepotkan"

Semua orang yang disana diam, tidak ada yang berani untuk mengawali pembicaraan. Mereka terlihat tidak berkedip mata, apa mereka masih tak mengerti apa yang kubicarakan. Kuulangi sekali bahwa

"Aku tidak suka dengan sketsa wajah itu. Dia adalah wanita yang sangat merepotkan." Namun kulihat mereka malah menghela nafas dan memalingkan wajah. Mereka sangat aneh, memangnya apa sedang terjadi. Tanyaku dalam hati.

"Siapa yang kau sebut wanita merepotkan.?"

Dari belakang punggungku, kudengar suara seorang wanita. Saat berbalik, alahkah kagetnya aku, sampai jantungku berdetak satu kali dengan kencang, ternyata orang yang dalam sketsa itu sudah ada dihadapanku bersama 2 orang pengawal dari Konoha, Ino dan Sakura. Seperti ketiban durian dua kali lipat, aku benar-benar dibuat tidak bergerak dengan kehadiran Temari.

Temari bersama 2 pengawalnya berjalan mendekati Sai. Sai terlihat senang karena Sakura menghampirinya, begitu pun dengan Ino karena bisa bertemu Sai yang merupakan pemuda yang menjadi idamannya, sedangkan Sakura terlihat biasa-biasa saja ketika bertemu Sai.

"Boleh aku melihat sketsanya, pemuda pucat" Temari mengulurkan tangan. Temari belum tau siapa Sai karena baru pertama melihatnya.

"Namanya Sai Temari" Ino meluruskan

"O, yah, maaf. Sai, boleh aku melihat sebentar sketsamu?" Pinta Temari dengan seulas senyum.

Sikap ramah Temari, membuat Sai dengan tidak keberatan menyerahkan sketsa di tangannya. otomatis, sikap baik hati Sai membuatku panic. Aku terlambat mencegah Sai, Ingin kabur namun sudah dicegat Neji dan Tenten. Di saat seperti ini, bukannya mereka membantu meloloskan diri malah berkomplot membuatku terkurung, tidak bisa diajak komproni, menyebalkan.

Temari memandang sketsanya begitu lama, seperti sedang mengagumi. Namun hal itu justru membuat dadaku tak henti berkontraski dengan begitu cepat. Sesuatu ini telah membuat hatiku gusar.

Kini semua orang termasuk aku sedang menunggu reaksi Temari selanjutnya. Aku berharap bukan sesuatu yang buruk. Aku menelan perlahan, melihat Temari sudah menyerahkan sketsa ke tangan Sai. Kini aku sedang menunggu reaksi berkelanjutan dari Temari.

"Terimakasih Sai, Sketsamu bagus, tak heran Ino sangat mengagumimu."

Temari memperlihatkan seulas senyum menawan pada Sai, Sai pun balas dengan memberi senyuman terbaiknya. Namun di detik berikutnya, Sai tampak mempertimbangkan apa yang diucapkan Temari. Temari dengan tidak sadar baru saja mengatakan hal yang dilarang pengucapannya oleh Ino.

"Dan kau !" Temari langsung membalikan tubuh dan langsung menunjukku, jantungku benar-benar dibuat gusar olehnya.

"Ikut aku !" Temari langsung menyeret tangan Shikamaru tanpa permisi. Jelas, aku benar-benar ketakutan, hal pertama yang kupikirkan adalah 'semoga aku baik-baik saja.' Saat diseret aku memohon pada Ino untuk menolongku, namun Ino malah melambaikan tangan. Kemudian aku mencoba memohon ke teman yang lain, hasilnya sama, mereka tak ada yang peduli. Apa mereka senang melihatku teraniaya, teman yang tidak solid.

"Selamat bersenang-senang, Shikamaru." Ino, Tenten dan Sakura melambaikan tangan bersama, memberinya salam perpisahan.

Kini dalam taman pelatihan tinggal mereka, Tenten, Neji, Ino, Sai dan Sakura. Apa yang akan mereka lakukan, orang yang menjadi sasaran empuk untuk dikerjai sudah pergi, suasana kini menjadi kaku, hening tidak ada yang mau mengawali pembicaraan. Bosan, Sakura yang tidak tahan dengan suasana ini melancarkan kekesalannya dengan sebuah tendangan kecil.

Niat semula untuk menendang sebuah kerikil yang kena malah sebuah buku sketsa tebal. Kaki Sakura sedikit meringis namun tidak sampai tahap kesakitan. Dengan penasaran, Sakura mengambil buku Sketsa itu, membuka lembar demi lembar seni yang terlukis, dari buku sketsa itu terlukis pemandangan konoha dengan detail dan rapi yang dapat terlihat jika kita pergi ke bukit monumen, lalu berbagai jenis bunga ada dalam buku sketsa, Pemandangan Naruhina sedang duduk dibangku taman dengan Naruto sedang meletak sebuah bunga ke telinga Hinata dengan wajah Hinata yang sedikit malu-malu dan dibelakang mereka terlihat sosok pria berumur sedang bersikedap dengan wajah nampak kesal yang dikenali adalah Hiashi, ayah Hinata. Sakura kaget karena 'kenapa bisa ada lukisan Naruto dan Hinata?' sepertinya Sai telah menjadi seorang penguntit, lalu saat kembali membuka lembar baru , ada sketsa lukisan Sakura sedang tersenyum.

Sakura mulai bertanya-tanya 'kenapa Sai melukis wajahku'. Lalu Sakura kembali membuka lembar baru, dan melihat sketsa wajahnya sedang tertawa, lalu membuka lembar baru lagi, masih melihat sketsa wajahnya sedang membaca buku, lalu kembali membuka sampai lembar kelima, masih ada sketsa wajahnya. kalau dipikir-pikir, jika buku sketsa di buka cepat dengan menyisir dibagian Sakura akan menghasilkan animasi bergerak dengan pergerakan ekspresi wajah Sakura yang berbeda.

Sakura mulai heran, kenapa Sai suka menggambar wajahku, apa jangan-jangan Sai, Sakura mulai berpikir bahwa Sai menyukainya. Tapi Sakura beberapa kali menolak prediksi itu dengan berbagai alasan.

"Baiklah, jika pada lembar keenam, masih ada sketsa wajahku. Aku putuskan Sai memang menyukaiku." Bisik Sakura.

Sakura perlahan membuka lembar keenam dengan mata tertutup. Saat lembar keenam benar-benar terbuka, Sakura membuka matanya perlahan. Dalam hati, Sakura berharap itu bukan sketsa wajahnya, jika lembar keenam adalah sketsa wajahnya, Sakura akan benar-benar memutuskan bahwa Sai menyukainya. Maka saat bertemu dengan Sai, Sakura akan terlihat kikuk, itu akan membuat hubungan Tim 7 sedikit kaku.

Saat membuka mata dan melihat dengan jelas gambar Sketsa itu, Sakura terlihat tidak percaya. Pemandangan roman dari Neji dan Tenten membuat otaknya mencair untuk menjahili dua insan tersebut. Tanpa permisi, Sakura menyobeh gambar tersebut, gambar dimana bagian Neji sedang mencium pipi Tenten—saat Neji terjatuh karena kakinya terkilir.

"Hei semua lihatlah. Ada sesuatu yang ketemukan."

Sakura mengacung-ngacungkan kertas sketsa tersebut. Mendengar seruan Sakura, mereka semua berbalik menatap Sakura. Tenten terlihat fokus. Saat benar-benar jelas apa yang dilihatnya, pipi Tenten memanas lalu menghampiri Sakura dan mencoba mengambil kertas sketsa tersebut.

"Kembalikan Sakura.!" Pinta Tenten.

Sakura berjinjit, semakin mengacungkan sketsa tersebut lebih tinggi. Setelah itu Sakura berlari menghindari kejaran Tenten sambil menyuarakan bahwa "Neji Tenten pacaran." Namun Tenten menyanggahnya "Tidak kami hanya berteman." Sementara Neji dengan sikap dinginnya mengatakan "Menggelikan!" lalu berlalu pergi meninggalkan taman pelatihan.

Tinggallah Sai dan Ino yang ada ditempat ini, semula mereka tertawa melihat tingkah konyol Sakura dan Tenten lalu sikap dingin Neji yang menggelikan. Namun saat semuanya telah pergi, Suasana menjadi kaku, itu karena keteledoran Temari yang tidak bisa menjaga mulutnya. Ino menjadi kikuk jika berdekatan dengan Sai.

Dengan sikap acuh tak acuh, mereka melangkah tanpa saling pandang. Namun takdir berkata lain, mereka harus saling bertabrakan karena posisi langkah mereka yang menyilang. Otomatis Sai sedikit menyangga tubuh Ino yang akan terjatuh namun tidak dengan posisi merukuk melainkan tegak. Mata mereka bertemu pandang. Namun Ino menghentikannya.

"Maaf."

Mereka langsung membenarkan posisi. Dengan kikuk Ino memberanikan diri berucap.

"Silangkah, kau saja yang terlebih dahulu pergi."

"Tidak, kau saja yang terlebih dahulu." Sai mempersilahkan. Tanpa basa basi, Ino langsung melangkah mendahului Sai. Namun saat akan melangkah jauh, Sai menghentikan pergerakan Ino dengan sebuah ucapan. Jatung itu terpaksa harus memompa dengan skala abnormal.

"Tunggu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?"

Ino berbalik dengan jantung yang berdetak kencang. Berharap bukan menanyakan masalah pengakuan Temari tadi, berharap itu hal lain.

"Kau merasa kehilangan sesuatu.?"

Tanya Sai, membuat jantung Ino yang semula diatas skala frekuensi normal menjadi kembali normal seperti biasanya, namun ada sedikit kekecewaan dalam hati Ino. Ino terlihat bingung, karena tidak tau barang apa yang telah hilang di dirinya

Sai yang melihat gelagat Ino, langsung mengacungkan benda yang dimaksud. Ino baru sadar ternyata ia baru saja kehilangan sebuah ikat pelindung yang menjadi identitas suatu desa. Setelah sampai ditempai Ino, Sai langsung menyerahkan benda tersebut ke tangan Ino langsung, lalu dengan lenggangnya berlalu pergi meninggal kekecewaan dihati Ino, sebelum pergi Ino sempat menanyakan suatu perihal yang membuat hati Ino benar-benar kecewa. Sepertinya Sai benar-benar tidak pekak mengenai sebuah perasaan.

"Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lagi.?" Tanya Ino.

"Tidak ada, hanya itu."

Ino tertunduk bersamaan dengan kepergian Sai, harapan ini telah membuat hati Ino terluka, memang benar apa kata Ibu 'Jangan pernah berharap pada seseorang, karena harapan itu akan menjadi benalu dalam kehidupanmu, sakit, itulah rasa yang akan muncul ketika harapan itu pudar'mungkin Ino tidak seharusnya berharap banyak terhadap Sai, karena benalu itu ada dalam diri Sai.

"Ino ada hal yang kulupakan.?"

Dengan masih ada perasaan kecewa, Ino berusaha memberontak apa yang dikatakan hatinya. hatinya masih berharap pada Sai. 'Jangan berpikir aneh-aneh, Ino, kuatkan hatimu, ini hanya perasanmu saja'. Bisik Ino dalam hati.

"Apakah yang dikatakan Temari itu memang benar?"

Deg. Ino terkejut diluar dugaan, badannya menjadi kaku, jantungnya memompa cepat. Ino lalu menghela nafas beberapa kali, berusaha untuk menenangkan jantungnya sambil menyuarakan sebuah kalimat.

"Tenangkan dirimu, Ino. Ini cuma masalah kecil kau mampu melewatinya" ucap Ino sedikit berbisik.

"Apa ada masalah denganmu?"

Ino menegakan wajahnya, lalu kaget karena Sai sudah berada di hadapannya cukup dekat. Ino buru-buru melangkah mundur

"Sai, jangan datang tiba-tiba, kau membuatku kaget."

"Maafkan aku. Kau belum menjawab pertanyaanku, jadi apa jawabannya?"

Dengan sedikit tersenyum, Ino menjawab.

"Apa kau benar-benar ingin tau, atau hanya sekedar ingin tau saja"

"Bagaimana kalau aku benar-benar ingin tau.?"

Ino berbalik memunggungi Sai dengan telunjuk di dagu seolah sedang berpikir keras. Melihat ekspresi Sai yang penasaran membuat Ino ingin sedikit mempermainkannya, jika benar-benar Sai menginginkan sebuah jawaban dan bukan untuk dipermainkan, Sai akan terus mengejarnya sampai jawaban itu didapat, Ino cuma ingin memastikan bahwa Sai sedang tidak mempermainkannya.

Sai merupakan pemuda masih polos, yang baru mendapatkan emosinya setelah mengalami beberapa hal dengan Naruto dan Sakura serta Yamato dalam misi membawa Sasuke kembali. Dalam misi pribadi untuk mengembalikan emosinya, Sai selalu membaca buku tentang memahami sebuah perasaan, sekarang buku itu menjadi patokannya bagaimana dia harus berkata, bertingkah dll.

Sebuah kejutan besar, ternyata Sai sangat mengangumi Sakura. Sai baru menyadari perasaanya terhadap Sakura ketika membaca buku tentang 'perasaan cinta' . dalam buku mengatakan "Cinta itu ketika kau mengingat wajahnya akan selalu tersenyum, sebelum kau tidur dia selalu hadir dalam pikiranmu, ketika kau berdekatan dengannya jantungmu selalu berdetak cepat, ketika dia mendekat kau akan tersenyum dengan senangnya, dll" . itulah yang Sai rasa. Jadi Sai putuskan sendiri bahwa Sai mencintai Sakura, tapi apakah benar, hanya Author yang tau (makanya ikuti terus ceritaku ini, hehe Viss).

"Emm bagaimana yah.?"Ino mengerak-gerakan telunjuk ke dagunya sambil berjalan menjauhi Sai.

"Jadi apa jawabannya?" Sai mengejar langkah Ino.

Lalu Ino berbalik menghadap Sai, lalu tangan kanan Ino bergerak mengarah ke dada bidangnya, menekan sedikit, lalu mengatakan sesuatu yang menjadi jawaban dari pertanyaan Sai. Dengan segenap perasaan, Ino mulai berucap dengan seulas senyum.

"Terserah bagaimana hatimu menginginkan itu, itu jawabanku"

Lalu Ino kembali berbalik memunggungi Sai yang tengah diam terpaku, bingung apa yang dikatakan Ino. Kemudian Ino melangkah menjauhi Sai menuju tujuan yang sekarang ingin ditujunya, Toko Bunga Yamanaka. Ino mulai menghitung maju dari 1 sampai 3, jika angka sudah menunjukan 3 dan Sai menghampirinya, berarti Sai benar-benar tidak sedang mempermainkan,

1

2

3

"Ino.."

"Berhasil." Seru Ino dalam hati. perasaan Ino benar-benar senang karena Sai merespek. Seperti langit berada dalam pangkuan Ino, sebuah hadiah terindah. Bagaimana tidak senang, mendapat sinyal bagus dari orang yang dikagumi.

####

Normal Pov

Langit seperti terjatuh dan menghempas keras ke tubuh Shikamaru, puluhan durian seperti terhempas keras memukul kepalanya, ular seperti mengingit tangannya, sebuah kesakitan timbul karena ulahnya, masalah ini timbul karena mulutnya tak bisa berhenti mengatakan kalimat 'merepotkan' yang membuatnya harus dilanda perasaan gelisah setiap saat. Tiap detik dalam lingkaran kegelisahan, ia selalu berharap bahwa esok masih bisa dia gapai, mentari masih bisa ia rasakan, bulan masih bisa ia pandang,

Temari, orang yang telah membuat Shikamaru gelisah ini masih menyeret lengannya, entah kemana ia akan melabuhkan kakinya, Shikamaru masih bingung.

"Hei wanita merepotkan, kau akan membawaku kemana?"

"Diam, nanti kau akan tau sendiri?"

Dalam hati yang masih gelisah kemana Temari akan melabuhkan kakinya, Temari dengan mendadak melempar Shikamaru kasar, membuat bokong Shikamaru harus mengalami kesakitan luar biasa.

"Bisakah kau sedikit lembut dalam memperlakukan seseorang, benar-benar wanita keras kepala. Lelaki, mana ada yang suka dengan wanita keras kepala sepertimu" Cemo'oh Shikamaru sambil sibuk membersihkan baju belakangnya yang kotor.

"Diam ! atau benar-benar kubunuh.!" Bentak Temari kasar.

Lalu terlihat Temari melepas kipas besar di punggungya, menariknya kedepan, membuka kipas dengan lebar lalu mengangkatnya dengan kedua tangan. Sepertinya Temari benar-benar ingin membunuh Shikamaru. Melihat gelagat tidak baik dari Temari, Shikamaru segera menyiapkan jurus pengikat bayangan untuk mengunci pergerakannya.

Temari dan Shikamaru bersiap dengan jurusnya. Bayangan Shikamaru terus bergerak ke arah Temari. Temari terlihat siap mengibaskan kipasnya kasar. Dalam hitungan detik, Shikamaru berhasil mengunci pergerakan Temari, Temari diam tidak bergerak dengan posisi sedang mengangkat kipas.

"Sekarang kau benar-benar tidak bisa menggunakan jurus kipas besarmu itu. Wanita merepotkan"

"Sial" umpat Temari dalam hati

Shikamaru yang tadi berjongkok berdiri dari posisinya. Dalam posisi Temari masih mengangkat Kipas. Shikamaru yang menggunakan jurus pengikat bayangan, segera menyampingkan kedua tangan yang terkepal ke sebelah kanan lalu yang dari kepalan itu, perlahan merengkahkan sampai benar-benar kepalan itu hilang. Gerakan Shikamaru diikuti oleh Temari. Temari tak kuasa menghentikan pengerakan tangannya. dan sampailah pada titik dimana dengan sengaja Shikamaru menjatuhkan kipas yang tergengam ditangan Temari. Brakk.

Dengan senyum seringai penuh rasa bangga. Shikamaru melangkahkan kaki diikuti dengan Temari yang memperlihatkan wajah kepucatan. Hati Temari tak berhenti mengumpat. Sial, Temari benar-benar dalam kuasa Shikamaru, sudah berapa kali berontak tetap tak bisa lepas. Temari tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mentari tidak bisa mendukungnya, karena mentarilah yang membuat bayangan semakin memanjang.

Jarak diantara mereka semakin mendekat, membuat jantung Temari agak sedikit berdetak.

"Dasar anak cengeng, apa yang ingin kau lakukan."

Dengan senyum yang dipenuhi aura jahat. Shikamarau menjawab

"Bagaimana kalau aku ingin sedikit bermain-main denganmu."

Temari tak kuasa untuk membulatkan matanya lebar-lebar. Dengan wajah tidak menyenangkan seperti sedang kerasukan makhluk halus. Temari membalas.

"Apa ! kubunuh kau jika kau melakukan sesuatu yang aneh-aneh padaku."

"Dasar otak mesum, apa itu yang selalu kau pikirkan. Baiklah jika kau menginginkan hal itu akan kulakukan dengan senang hati untukmu."

Shikamaru menyeringai. Membuat Temari benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Perasaannya kini penuh kegelisahan. Tak akan ada yang menolongnya. Andai ada Gaara atau Kankuro, sudah pasti sekarang bocah itu sudah babak belur dihajar mereka.

Shikamaru terus melangkah perlahan, dekat dan semakin dekat. Harum bau badan mereka akan semakin tercium, wajah mereka sebentar lagi akan berhadapan begitu dekat. Temari semakin panik, dia berusaha memberontak namun Shikamaru berhasil menahan. Dan akhirnya mereka benar-benar dekat dan saling berhadapan satu sama lain.

"apa yang sebenarnya yang ingin kau lakukan bocah kurang ajar?" tantang Temari dengan wajah sombong.

"Bagaimana, apa kau benar-benar menginginkan hal itu." Shikamaru malah berkata seperti itu, apa benar-benar dia akan melakukannya. Padahal dalam hati Temari tak pernah ada niatan hal aneh-aneh. Mungkin otak Shikamaru saja yang sudah teracuni dengan pikran-pikiran negatif. Temari benar-benar heran dan geram padanya.

Dengan wajah yang saling berhadap-hadapan. Shikamaru menatap Temari, namun Temari menatapnya geram penuh dendam dan amarah. Lalu terbersit dorongan untuk menyentuh wajah Temari yang terlihat indah. Shikamaru perlahan menggerakan tanggannya menemui wajah indah Temari, Temari pun sama sebagai imbas dari jurus pengingat bayangan, namun Temari tak ada niatan untuk melakukan itu.

Sial, aku benar-benar dalam kuasa Shikamaru. Geram Temari dalam hati

Sampailah dimana tangan Shikamaru benar-benar sudah dekat dengan epidermis wajah Temari. Dengan tatapan lembut dan senyuman menawan, Shikamaru mengelus pipi Temari lembut, merasakan bagaimana kelembutan wajah dari wanita tempramental yang susah di atur, sungguh sebuah kelembutan dan keindahan terpancar luar biasa dari wajah Temari, itu yang dirasakan Shikamaru. Namun tatapan Shikamaru menyiratkan bahwa ia bukan sedang menatap Temari. Melainkan membayangkan sosok lain yang spesial dihatinya. Entah siapa itu, sepertinya sosok yang menjadi pujaan hatinya.

Kelembuatan yang ditampakan Shikamaru, membuat Temari terbayang sosok ayah yang telah meninggal. Saat kecil, sebelum Temari tidur. Ayahnya selalu membacakan cerita dogeng pengantar tidur tentang sebuah putri kerajaan yang menemukan cinta sejatinya atau membacakan fabel kerajaan binatang, mungkin kebayakan anak akan didongengkan oleh Ibu. Namun sang Ibu telah meninggal saat melahirkan Gaara, waktu itu usia Temari 3 tahun sedang Kankurou 2 tahun. Lalu setelah benar-benar Temari menggantuk. Sang Ayah akan membaringkannya bersama Kankurou diranjang berbeda, tak lupa tatapan lembut dan kecupan ringan menjadi pengantar kami menuju alam mimpi. Temari tak tau apakah Gaara mendapat perlakuan sama dari Ayah.

Dorongan yang semula paksaan, berubah menjadi dorongan keikhlasan. Temari membayangkan bahwa yang sedang membelai pipinya adalah sosok ayah yang telah lama dirindukan. Temari yang memang mendapat imblas dari jurus tersebut, ikut merasakan kelembutan epidermis dari wajah seorang pemuda malas berwajah tampan itu. Dibelainya wajah tersebut dalam-dalam. Temari membayangkan bahwa sang Ayah sedang tersenyum tatkala ia pandang.

"ayah, aku merindukanmu." Tiba-tiba Temari mengatakan hal itu. membuat lamunan Shikamaru buyar.

"Kenapa aku melakukan ini" Ungkap Shikamaru dalam hati.

Shikamaru yang baru sadar, kaget. Ternyata seseorang itu bukanlah 'dia' melainkan Temari. Namun Shikamaru heran melihat tingkah Temari yang terus menatapnya, tatapan itu bukankah tatapan geram yang selalu Temari tunjukan melainkan tatapan sendu penuh kerinduan.

Ada apa dengannya. Bisik Shikamaru.

Shikamaru tak betah berlama-lama ditatap seperti itu, ia seolah manusia menyedihkan yang mati dengan cara tragis. Akhirnya Shikamaru menggunakan akalnya untuk membuat suasana tidak sendu lagi.

"Ekhm.. Tanganmu benar-benar kasar sekali yah." Shikamaru berusaha mencairkan suasana.

Seketika bayangan sosok Ayah yang ada dalam diri Shikamaru menghilang. Dan betapa kagetnya Temari, ternyata yang telah dibelainya bukanlah sosok Ayah, melainkan sosok pemuda menyebalkan. Seketika suasana hati Temari berubah, mimik wajah pun menunjukan ketidaksukaan.

"Menyebalkan. !" Umpat Temari.

"Kau juga sama, menyebalkan" ungkap Shikamaru. Membuat mimik wajah Temari berubah menjadi cemberut. Dan itu nampak terlihat lucu dimata Shikamaru.

"Emm sebenarnya kau tidak menyebalkan juga sih"

"baru sadar.!" Sembur Temari dengan sedikit judes.

"tapi kau merepotkan"

"Kau..!" gertak Temari.

"Hahaha"

"Kenapa tertawa?" Temari masih memasang tampang judes.

"Memangnya tidak boleh." Buru Shikamaru.

"Perasaan kenapa sekarang kau yang lebih banyak bicara."

"Tidak boleh yah."

"Hanya sedikit aneh saja"

"Baiklah aku akan diam"

Seketika Shikamaru diam, tidak ada kata yang terucap untuk beberapa detik yang lalu. Kediamaan Shikamaru, membuat Temari risih. Pasalnya yang dia lakukan adalah menatap matanya tanpa berkedip. Membuat bulu kuduk Temari merinding seketika. Dibenak Temari, Shikamaru seperti orang yang salah makan obat, Sikapnya seperti seorang Autis. Selalu melakukan hal yang aneh-aneh.

"Bisa kah kau berhenti menatapku, ini terlalu menakutkan."

"Menakutkan untuk dipandang atau menakutkan hati tercuri"

"Apa kau sudah minum obat, sikapmu aneh sekali hari ini."

"Aku baik-baik saja. O,yah Temari, coba kau Tatap mataku"

"untuk apa, hanya membuang-buang waktu saja."

"Itu berarti kau pengecut. Kau takut memandangku kan? "

"T-tidak. Siapa yang takut?"

"Baiklah kalau begitu, coba kau tatap aku."

"Akan kulakukan."

Mereka berdua pun saling pandang dalam beberapa detik. Pikiran mereka satu sama lain terbalik, berbeda 180 derajat. Shikamaru berpikir bahwa mata Temari seperti mutira hijau yang ada dilaut timur. Sementara Temari berimajinasi bagaimana kalau hidung Shikamaru dibuat bulat lalu dicat warna merah, lalu pipinya dibuat mengembang, sepertinya Shikamaru akan mirip dengan badut.

Saat menatap Shikamaru, Temari tak kuasa tergelitik menahan tawa karena membayangkan wajah Shikamaru yang seperti badut, ditambah dengan perut buncit, serta rambut kriwil. Perut Temari akan semakin kesakitan menahan tawa.

Sementara benak Shikamaru mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia mulai membayangkan wajah Temari seperti melon yang bergerak-gerak terkadang semangka, papaya,jeruk, apel, semua buah-buah yang ia suka terbayang. Bahkan ketika Shikamaru melihat rambut Temari ia seolah melihat bihun dan mie ramen yang sangat melezatkan. Seperti Shikamaru sedang kelaparan, karena seharian belum makan.

Dan yang paling parah lagi, Shikamaru ketika melihat bibir Temari seolah melihat sepotong dading cincang bergerak yang dibentuk tabung, atau boleh dikatakan seperti sedang melihat sosis babi yang bergerak. daging cincang itu amatlah menggiurkan lidahnya. Shikamaru benar-benar sedang kelaparan ingin segera mencicipinya.

Ia pun mulai mendekati wajah Temari yang seolah piring saji. yang Shikamaru bayangkan adalah sebuah hidangan makanan. kedua bola mata adalah telor rebus, pipi adalah potongan daging, hidung adalah leher ayam, sementara bibir adalah segulungan sosis. Rasanya tidak sabar mencicipi hidangan lezat itu.

Namun sikap aneh Shikamaru, segera disadari oleh Temari. Pada jarak 1 cm, dimana hampir mendekati finis. Temari berteriak sekencang-kencangnya. Membuat imajinasi Shikamaru sadar.

"Hentikan. Akan kutebas jika kau berani macam-macam!" Teriak Temari, membuat gendang telinga Shikamaru hampir pecah.

"Ah ternyata bukan makanan." Ucap Shikamaru yang sudah sadar.

"Memangnya wajahku seperti makanan apa. Kurang ajar !" Umpat Temari.

Namun umpatan itu terdengar remang-remang ditelinga Shikamaru, tidak begitu jelas tertangkap. Yang nampak malah ekspresi kesal Temari. Karena saat itu yang Shikamaru dengar dan rasakan adalah suara asam lambung yang bergejolak.

Kruyukkkkk Kruyukkkkkkkk.

Nada Mayor dari Sang Maestro terdengar menyedihkan. Nada itu begitu Fals, tak kuasa untuk mendengarnya. Ternyata suara itu dari Sang Maestro Kagemane.

"Aku lapar" Suara menyedihkan terdengar mengalun.

Dan saat itu juga adalah kesempatan bagus untuk Temari membalas dendam. Karena secara mengejutkan, jurus pengingat bayangan itu lepas sendirinya. Itu terjadi karena cakra Shikamaru sudah menipis, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menahan. Salah sendiri belum makan dari pagi.

Shikamaru kini lengah, kedua tangannya sibuk menahan gelojak lambung yang terus menggila.

Temari lalu melangkah mundur untuk mengambil Kipasnya yang terjatuh. Setelah itu berjalan menemui Shikamaru yang kini posisinya berjongkok dengan tangan menahan perut, dengan pandangan ke tertunduk.

Dengan tatapan devil, Temari mengacungkan Kipas setinggi-tinggi yang ia bisa. dalam hitungan maju sampai 3 ia akan melakukan serangan.

1 Kipas teracungkan

2 Temari menyiapkan siku-siku

3 siap menyerang.

"Bersiaplah, Shikamaru." Erang temari

"Bersiap untuk apa?"

Seketika Shikamaru pun mendongkak, lalu ia tertohok, karena Temari sudah bersiaga menyerang. Yang bisa dilakukan Shikamaru hanyalah merundukan wajah dengan kedua tangan diatas kepala, berusaha menahan serangan. Karena jika pun berlari tetap saja tak berguna, sia-sia, karena sudah terlambat ditambah dengan kekuatan yang tak memungkinkan. Kini, Shikamaru hanya bisa memasrahkan nasibnya. Syukur-syukur bisa selamat. Tapi apa mungkin.

"Kipas, bersiapah. Hiiiaatt.." Teriak Temari

BRUAKKKKK... burung-burung terbang dari tempat bertenggernya, daun-daun kering berjatuhan ke tanah, tanah sekitar menjadi pecah-pecah, debu-debu mengepul menyelimuti pandangan, langit menjadi kelam dan Temari terlihat tersenyum penuh kemenangan.

Bagaimana nasib Shikamaru selanjutnya. Tunggu di chapter depan. See you again. Bye bye

.

.

.

Bersambung