Hold the Hell
Chapter 2:
Kau sebaiknya jadi temanku saja.
Author : zyjizhang
Cast : Byun Baekhyun, Kim Jongin, Taeyeon
Rate : T
Desclaimer : Semua cast dalam ceritanya bukan milik saya, mereka milik diri mereka sendiri. Saya hanya meminjam nama dan wajah mereka untuk keperluan cerita.
.
Author Note:
Hai, aku datang bawa chapter dua nya nih. Hahaha. Ada yang nanya kenapa Taeyeon di sempilin disini? Karena well, aku nggak tau siapa lagi yang cocok di pasangin sama Baekhyun. Aku bukan Baekyeon shipper, suer deh. Tapi menurutku cocok aja kalo aku pakek dia. Walaupun waktu ngetik aku harus meringis-ringis sakit dan berdoa mudahan apa yang aku tulis nggak kejadian di kehidupan nyata *hahaha, sakit woy ngeliat bias kek gitu*
Dan kalau masalah lambat update sih tergantung mood aku nulis ya. karena di cerita ini aku berharap banget moment BaekKai-nya kerasa, jadi aku nggak bakal nulis kalau suasana hatiku lagi jelek, jelas itu bakal mempengaruhi ceritanya.
Mudahan aja di chapter ini banyak yang suka atau review. Mudahan ya….
Thanks To:
Nadia; deediah; cute;
Kkamong; Eru ryu;
Septianaditya1997;
..
..
Happy Reading
..
..
Don't be a plagiator…
..
..
Selalu, pagi hari di musim dingin selalu semuram ini. Dan bahkan dengan adanya semua penghangat ruangan di sudut rumah, aku masih menggigil.
Dengan ketergesaan yang menggelisahkan, aku merapikan bajuku. Malam ini tidak akan ada makan malam membosankan lagi. Maka aku akan menghabiskannya di tempat tongkronganku yang biasa. Dan kalau aku berencana melakukan itu, maka aku harus mengajak Taeyeon jalan-jalan hari ini, agar nanti saat aku menghabiskan waktuku bersama teman-temanku, dia tidak akan menggerecokiku dengan dalih merindukanku.
Kakiku melangkah lebih ringan ketika meniti tangga turun dari kamarku. Harusnya pagi ini di rumah kosong, karena noona dan eomma pastilah sedang dalam perjalanan ke tempat kerja mereka. Dan benar saja, ruang tengah itu tampak demikian lengang dengan tak adanya kakakku yang biasanya duduk disana.
Aku memutar ganggang pintu itu kemudian setelah aku berada di luar, aku menutupnya kembali dan mengunci pintu itu. Tidak biasanya juga aku menjadi pengunci rumah, karena biasanya aku akan pergi lebih pagi dari pada hari ini. Tapi ya sudah, berhubung Taeyeon ingin berjalan-jalan di siang hari begini, jadilah aku bangun lebih siang dari yang seharusnya.
Getaran pada ponselku menyadarkanku, kemudian tanpa berpikir panjang, aku mengangkat telepon itu.
"Yeoboseyo?" kataku persis setelah ponsel tipis itu menempel di telingaku.
"Baekki? Kau dimana?" ah, rupanya Taeyeon.
"Aku sedang dalam perjalanan kesana. Tunggulah." Jawabku. Tentu saja aku mengatakan begitu, kalau aku katakan bahwa aku masih berada di depan pintu rumahku, maka dia akan mulai mengoceh panjang kali lebar tanpa memperdulikan telingaku yang sudah memanas.
"Benarkah? Baiklah, aku tunggu. Bye, saranghae." Katanya riang. Sejurus kemudian telepon itu di matikan. Aku tersenyum kecil sebelum memasukkan ponselku ke saku jaketku. Terkadang sangat mudah untuk membuat Taeyeon senang. Dia bukan tipe wanita yang akan meminta sesuatu yang macam-macam. Aku bahkan tak pernah menemukan kesulitan untuk menyenangkannya. Terlalu mudah, dan itu bagus.
Dengan masih tersenyum kecil, aku mendekati mobil di garasi yang jarang sekali aku pakai. Hanya di kesempatan istimewa seperti inilah mobil itu akan keluar dari tempatnya.
..
..
..
Aku saat ini berdiri di depan pintu pagar rumah Taeyeon. Setelah berjam-jam mengitari kota Seoul, akhirnya aku berhasil meyakinkannya bahwa sudah waktunya bagi kami untuk pulang. Awalnya dia mencebik, tapi setelah aku mengatakan bahwa mungkin besok aku akan bisa menemuinya lagi, dia kembali tersenyum senang dan ceria lagi.
"Kau langsung pulang?" Taeyeon menanyaiku seakan dia belum mengetahui jawabannya. Dia sudah tahu aku bukan tipe laki-laki yang akan berdekam di rumah saat tak ada kegiatan apa-apa yang harus aku lakukan.
"Mungkin iya, mungkin tidak." Jawabku sambil tersenyum. Dia ikut tersenyum, kemudian dia mulai mendekatiku dan berjinjit untuk mengecup pipi kiriku.
"Kalau begitu, pulanglah." Katanya lagi. Aku hanya berhenti sebentar untuk mengusap rambutnya dan kemudian kembali memasuki mobilku.
Dengan perasaan berpuas diri, aku mengendarai mobil itu berlawanan arah dengan rumahku.
..
..
..
"Yo, Yo, Baekki! Bagaimana semalam?" Chanyeol menyambutku dengan senyuman lebarnya saat aku memasuki ruangan itu. Tempat biasa kami berkumpul. Biasanya ada orang lain yang akan duduk disana, seperti Luhan dan Chen atau Minseok. Tapi mungkin saja mereka sedang sibuk sekarang hingga aku hanya melihat Chanyeol seorang diri.
"Well, not bad." Kataku sambil mengenyakkan diriku di sebelah Chanyeol dan mengambil gitar di tangan pemuda itu.
"Tumben sekali jawabanmu seperti itu," kekeh Chanyeol kemudian dia mulai memakai mantelnya. Membuat aku menatapnya heran.
"Kau mau kemana?" pertanyaanku di tanggapi Chanyeol dengan senyuman lebar sebelum dia mulai menjawab.
"Ayo kita beli cemilan. Masa kau mau duduk-duduk disini tanpa makanan?"
..
..
..
Aku memutuskan untuk pergi seorang diri. Menyuruh Chanyeol untuk tetap di tempat dan aku berjalan kaki menuju minimarket terdekat.
Ku pikir itu ide bagus.
Sampai aku tiba di depan minimarket dan apa yang aku lihat disana mengejutkanku. Itu adalah Kim Jongin. Ingatanku tentu tak seburuk itu hingga aku melupakan seseorang yang baru aku temui semalam. Dia berdiri di dekat pintu minimarket dengan pakaiannya yang terlalu santai. Celana panjang dan sweater putih, tanpa mantel dan jaket. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan di luar sana tanpa menggigil?
Aku mendekatinya. Rasanya tidak sopan setelah aku melihatnya disana dan sama sekali tak menyapanya.
"Jongin?" kataku. Dia menoleh dan terkejut ketika melihat siapa yang menyapanya.
"Baekhyun?" Baiklah, ini bagus karena dia mengingat namaku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Jongin tampak menyayangkan keputusanku untuk menanyakan itu. Jelas bahwa dia tak mengharap aku menanyakan hal itu padanya secepat ini.
"Well, menunggu teman. Tapi dia baru saja mengabariku bahwa dia tidak bisa kesini." Jawabnya. Setelah aku perhatikan baik-baik, dia bukannya tidak menggigil, tapi berusaha kuat untuk menahannya.
"Kau tidak langsung pulang?" tanyaku heran. Kalau dia tahu temannya tak akan datang kesini, lalu kenapa dia tak segera pulang saja daripada menunggu di luar sini dalam cuaca dingin seperti sekarang?
"Rumahku jauh, dan aku kesini naik bus. Rasanya tak mungkin aku ke stasiun bus tanpa jaket." Katanya sambil tersenyum.
Sesaat kami diam. Kemudian aku tak bisa berpura-pura lagi. Dia disini seorang diri, dan aku mengenalnya. Maka hanya satu hal yang masuk akal untuk di lakukan sekarang.
"Kalau kau mau, kau bisa ikut denganku ke rumah temanku di dekat sini. Aku yakin ada banyak mantel disana yang bisa kau gunakan." Kataku. Jongin menatapku sejenak, kemudian mengangguk dengan senyumannya.
"Ku pikir itu ide bagus." Jawabnya.
"Kalau begitu, tunggu disini dulu. Aku akan membeli beberapa cemilan di dalam sana." Jongin mengangguk menanggapi perkataanku.
..
..
..
Aku akan mengutuk Park Chanyeol dalam kesempatan pertama yang aku miliki saat aku bertemu dengannya nanti. Dia menyuruhku untuk pergi membeli cemilan dalam cuaca sedingin ini, dan kemudian sekarang dia menghilang dari rumah itu, meninggalkan tempat itu sepi tanpa penghuni.
"Ini rumah temanmu? Dimana dia sekarang?" perkataan itu menyadarkanku. Aku melupakan Jongin yang saat itu ikut denganku.
Aku berbalik untuk menatap kepadanya. Jongin barangkali bukan pemuda dengan banyak ekspresi. Karena kebanyakan laki-laki itu hanya memasang wajah bosan, seakan apa yang ada di depan matanya tak memiliki kesan bagus sedikit pun.
"Ya ini rumahnya. Tapi sepertinya dia sedang pergi entah kemana. Duduklah, aku akan mencarikan mantel untukmu." Ujarku. Jongin mengangguk mendengar kata-kataku, kemudian menuruti perkataanku, dia duduk di sofa yang sudah agak usang dan mulai menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa itu.
Aku menatapnya sejenak, kemudian melangkahkan kakiku menuju satu-satunya kamar yang ada disana. Biasanya kamar itu akan digunakan siapa saja yang ingin menginap disini.
Mataku menubruk deretan mantel yang berjajar di lemari tanpa pintu itu. Kemudian tanpa aku sadari aku tersenyum dan segera mengambil mantel panjang berwarna coklat. Kenapa coklat? Entahlah, barangkali karena warna kulit Jongin seperti itu.
Dengan sedikit menepuk-nepuk mantel itu untuk menghilangkan sedikit debunya, aku melangkah keluar dari kamar itu.
Jongin sedang memejamkan matanya saat aku sampai disana. Ku putuskan untuk menaruh saja mantel itu di pangkuannya. Saat dia sama sekali tak merenspon, aku merasa penasaran. Mungkinkah dia tidur?
Sedikit berhati-hati, aku mendudukkan diriku di sebelahnya dan melambaikan tanganku di hadapannya. Dan benar saja, dia tak merenspon sama sekali. Benar-benar tertidur pulas. Aku menggeleng untuk mengutarakan ketidakpercayaanku. Bagaimana bisa dia tertidur secepat itu?
Dengan masih diselimuti rasa tidak percaya, aku mengambil ponselku dan mengutak-atiknya. Tapi dengan tiba-tiba aku taruh lagi ponsel itu, memandang wajah Jongin rasanya lebih menyenangkan.
Kemudian aku ikut-ikutan menyandarkan punggungku di sandaran sofa. Memandang wajah Jongin dari samping seperti itu, membuatku menyadari, Jongin memiliki garis rahang yang tegas ya? Laki-laki sekali, tapi ada yang keliru dari wajah itu. Ku fokuskan mataku sekali lagi untuk menatap wajah Jongin, ada yang membuatku ingin melihatnya lebih lama, bagian yang membuat aku tertarik pada sosok itu lebih dari seharusnya.
Matanya? Tapi mata itu tampak senormal biasanya. Dan garis bibirnya juga seperti kebanyakan laki-laki lainnya.
Tiba-tiba saja Jongin mengerjapkan matanya, membuat aku terlonjak kaget dan segera mengalihkan pandanganku ke depan. Walaupun di depan sana tidak ada apa-apa kecuali tembok kusam monoton.
"Oh? Ini kah mantelnya?" kata Jongin. Saat aku mencuri-curi pandang padanya, dia sedang meneliti mantel itu dengan antusias. Membolak-baliknya seakan semua sisi dari mantel itu menarik. Aneh sekali, padahal dia tampak tak pernah tertarik dengan apapun. Dan sekarang dia malah antusias sekali mengamati mantel coklat bobrok itu. "Boleh aku memakainya?"
Jongin menoleh untuk memandangku sekilas, "Tentu saja, itu kan memang aku carikan untukmu." Sahutku. Kemudian segera saja Jongin memakai mantel itu dengan suka cita dan mengeratkan mantel itu di bagian depan.
"Oh aku kira aku akan mati membeku sejak tadi." Ujar Jongin sambil melipat tangannya di depan dada dengan setengah menggulung badannya. Seharusnya gerakan itu wajar-wajar saja, tapi kenapa….
"Apakah kau tadi tidur?" tanyaku cepat-cepat untuk menghalau apapun pikiran yang sedang berusaha menyusup di otakku.
"Tidur." Jongin menjawab sama cepatnya, masih setengah sibuk untuk mencari kehangatan di dalam mantel itu.
"Dan kau terbangun secepat itu?" tanyaku lagi, keheranan. Dia tertidur dengan cepat dan bangun dengan cepat pula. Wah, sepertinya aku harus mempelajari trik itu. Setidaknya itu akan membantu saat aku harus mengikuti kelas-kelas membosankan di kampus.
"Aku pasti sudah sempat tak sadarkan diri selama semenit, dan itu cukup." Jongin mengatakannya seakan itu bukan hal yang luar biasa.
Dengan rasa penasaran yang semakin besar, aku sekarang sepenuhnya menatap Jongin. Ada sesuatu dalam diri Jongin, yang aku tidak tahu apa, yang membuatku merasa sangat tertarik padanya. Tertarik untuk berbicara lebih lama dengannya. Mungkinkah ini hanya karena dia anak seni? Biasanya seseorang yang mendalami dunia seni, selalu membuat siapa saja merasa penasaran dan tertarik pada mereka. Begitu jugakah Jongin?
"Jong?" panggilku. Aku melihat dia agak sedikit kaget saat aku memanggilnya seperti itu. Ya, tentu saja. Aku sendiri kaget, tapi rasanya lebih nyaman berbicara seperti ini, tanpa memanggil nama lengkapnya.
"Ya?" Kening Jongin berkerut tak kentara saat dia mengucapkan itu. Pasti dia sedang merasa penasaran sekarang ini.
"Kau jadi temanku saja." Jongin menatapku seakan aku sudah sinting. Tapi aku harus bagaimana lagi, memang itu lah yang ingin aku ucapkan tadi.
Jongin belum berkata apa-apa, dia hanya menatapku dalam diam. Sebelum kemudian dia menaikkan sebelah ujung bibirnya, menyeringai.
"Begitukah caramu mengajak seseorang berteman?" selorohnya, dan aku ikut tersenyum saat dia mengatakan itu. Sebenarnya biasanya bukan seperti itu prosedur untuk mengajak seseorang berteman. Hanya saja ini Jongin, dan saking tak maunya aku menerima penolakan, maka akupun mengubah kalimat yang seharusnya bernada tanya itu menjadi sebuah pernyataan.
"Mungkin." Jawabku. Jongin menaikkan sebelah alisnya, jelas dia meragukan perkataanku.
"Jadi, setelah kau memanggilku 'Jong', haruskah aku memanggilmu Baekki mulai sekarang?" dari nada bicaranya, aku tahu Jongin sedang mengajakku bercanda. Walaupun harus aku akui, kami berdua sepertinya tak berbakat sama sekali untuk membuat candaan yang tidak terdengar garing.
"Tidak, Baek saja." Tolakku. Baekki hanyalah panggilan kekanakan yang di pakai Eomma, Noona, Chanyeol dan Taeyeon. Sama sekali tak terdengar gentle.
"Bacon?" Jongin mengusulkan, kemudian tertawa terpingkal saat aku mendelik menatapnya dengan shock.
"Darimana kau tahu panggilan aneh itu?" tanyaku tak terima. Bacon puluhan kali lebih buruk daripada Baekki. Setidaknya Baekki akan terdengar seperti anjing mungil, tapi Bacon? Siapa pun tahu itu nama yang benar-benar buruk.
"Kakakmu memberi tahuku sesaat sebelum aku pulang semalam." jawab Jongin setelah dia berhasil menguasai dirinya dan berhenti tertawa. Tapi sekarang dia masih tersenyum lebar menatapku.
"Dasar nenek sihir aneh." Gerutuku, dalam benakku sudah terbayang bagaimana seringai kemenangan noona saat dia mengetahui Jongin sudah memakai nama panggilan yang jelek itu. Bagus, sepertinya Jongin akan menjadi sekutu kakakku yang nomor satu kalau begini ceritanya.
"Kenapa? Bacon nama yang bagus kok." Kekeh Jongin dan aku memandang kesal kepadanya.
"Jong!"
"Baiklah, baiklah. Aku pulang sekarang saja, sepertinya ini sudah sore." Jongin segera berdiri setelah dia mengatakan itu.
Aku memandangnya merapatkan mantel dan menaikkan tudung mantel itu untuk menutupi kepalanya. Dia tersenyum memandangku, kemudian berbalik. Berjalan lurus menuju pintu depan.
Sejenak aku masih duduk diam di tempatku, kemudian saat Jongin sudah meraih pegangan pintu itu, aku bangkit berdiri dan berkata, "Ku antar saja."
Jongin menoleh dan memandangku dengan tatapan mata cemas dan waspada. Aku tidak mengerti tatapannya. Tapi Jongin membiarkanku melangkah lebih dulu daripadanya. Setelahnya dia mengikutiku dalam diam. Melangkah pelan-pelan di belakangku. Jejak kakinya menutupi jejak kakiku, persis sama dan terlihat begitu pas. Apa ada yang bisa menjelaskan padaku, kenapa semua ini terasa begitu familiar dan menenangkan?
..
..
..
*Masih Berlanjut*
