Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kisihimoto

Warning : SasuFemnaru, typos, cursing, slight OOC-ness, semi-canon

A/N : Terima kasih banyak reviewsnya! Mohon maaf kalau terlalu banyak narasi yah, xD

Dictionary

- Wakai : Muda

- Otonai : Dewasa


Uchiha Sasuke, dua puluh empat tahun, tengah menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya ke batang pohon terdekat saat itu juga. Keadaan yang ia hadapi saat ini terasa benar-benar berantakan. Uchiha Sasuke sudah rusak sejak Perang Dunia Shinobi Keempat berakhir. Ia tidak membutuhkan masalah tambahan. Misalnya saja, masalah berupa keberadaan dua orang idiot yang selalu membuat gendang telinganya hampir pecah tiap kali mereka berbicara.

Hukuman akan semua kesalahannya sepertinya tidak bisa dimaafkan oleh sang Kuasa begitu saja. Mungkin, misteri pasca perang itu adalah hukuman tambahan atas segala kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Mungkin, portal itu adalah gerbang neraka untuknya. Sasuke ingin kembali menyesal—menyesal karena memilih untuk mempercayai insting begitu menyadari ketiadaan gulungan penting itu—tapi, Uchiha Sasuke sudah cukup dengan penyesalan.

Semua kekacauan ini berawal dari kasus pembunuhan masal di Suna dan Kumo. Insiden itu dilanjutkan dengan penyerangan terhadap Kazekage dan juga adik sang Raikage. Menurut intel Konoha, tujuan penyerangan tersebut ialah untuk mengumpulkan chakra dengan jumlah besar, dilihat dari hasil penyerangannya. Si Pelaku membunuh para korban tanpa memberi luka apa pun. Korban meninggal karena kehabisan chakra. Insiden penyerangan Kazekage dan Killer Bee pun memperkuat prediksi tersebut.

Selain karena alasan aliansi, Konoha ikut campur tangan karena Jinchūriki Kyūbi secara tidak langsung juga terancam. Hatake Kakashi selaku Rokudaime Hokage menunjuk Sasuke untuk mengumpulkan informasi mengenai masalah ini sejak satu tahun terakhir—sebuah misi yang amat Sasuke syukuri karena ia bisa keluar dari desa dan menghindari masalah pribadi yang tengah menghantuinya.

Selama sepuluh bulan pencarian, Sasuke mampu melacak jejak pelaku yang mengantarkannya pada sisa-sisa Zetsu Putih yang masih hidup pasca perang. Berdasarkan pengetahuan itu, Sasuke akhirnya menyimpulkan bahwa dalang dibalik insiden Suna dan Kumo ialah pihak yang berhubungan dengan Otsutsuki Kaguya. Itulah awal mula kepalanya diserang migren berat. Sasuke melaporkan penemuan ini pada Kakashi, dan sebulan berikutnya ia menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan antar dimensi guna mendapatkan informasi lain mengenai musuh utama para ninja di perang terakhir mereka.

Segala tanggung jawab yang dibebankan di pundaknya sama sekali tidak membuatnya mengeluh, sungguh. Sasuke menerima misi itu dengan baik. Ia menerimanya dengan pandangan bahwa misi ini merupakan salah satu langkahnya untuk menebus kesalahan di masa lalu. Setidaknya, ia dengan senang hati rela menjalankannya hingga kemudian Kakashi menyuruh Naruto bergabung dengannya, dengan harapan pencarian informasi bisa menjadi lebih efisien menggunakan kemampuan Sennin Mode milik perempuan tersebut.

Uzumaki Naruto, sosok yang selama ini Sasuke putuskan sebagai penyebab masalah pribadinya.

Sasuke mengutuk Kakashi karena ini. Tapi, seakan mengerti masalah pribadinya, Kakashi hanya memberinya senyum mengesalkan dan mengutus Sakura guna memberinya serentetan nasihat yang membuat telinganya memerah. Si pinkie sama sekali tidak membantu.

Semua kronologi masalah itu pun membawanya kemari. Ke sebuah dimensi asing—saat ini Sasuke mengasumsikannya begitu—yang berisi kehidupan lamanya, masa lalunya, nerakanya. Ia dipaksa untuk berhadapan dengan dirinya yang dulu. Dirinya yang sangat ia benci atas segala kebodohannya. Dirinya yang masih sulit untuk dimaafkan oleh ia yang sekarang.

Kami..

Sasuke bukan orang yang religius. Namun, kondisi ini secara paksa mengingatkannya pada sang Kuasa.

"Sasuke! Ah, ini benar-benar kau?! Kau versi yang ini jauh lebih hot! Nikahi aku, ya? Ya?"

Mantan rekan kelompoknya—Taka—berdiri di sampingnya, tepatnya berdiri di sampingnya dengan wanita berambut merah yang tengah menggelantungi lengannya. Sejak dulu, Sasuke sadar bahwa merekrut Karin bukanlah keputusan bijaksana. Tapi, dirinya yang dulu memang jauh dari kata bijaksana.

Setidaknya, Sasuke sudah sedikit menoleransi kesalahan tersebut. Selama dua tahun terakhir, Karin yang di sana sudah membaik. Terakhir kali ia bertemu dengannya, sang Uzumaki berambut merah mampu berinteraksi dengannya tanpa memekik dengan wajah memerah.

Diharuskan untuk bertemu lagi dengan versi remajanya…

Sasuke tahu bahwa Naruto takkan melupakan permasalahan mereka begitu saja. Ia sudah bersiap-siap untuk menerima amarah perempuan itu ketika mereka berdua bertemu. Pembalasan dendam semacam ini jelas terasa lebih kejam dibandingkan ia yang harus bertarung dengan si pirang itu.

Lagi pula, bagaimana bisa Naruto secara kebetulan bertemu dengan Taka?

Pandangan Sasuke mendarat pada figur yang berdiri kaku beberapa meter darinya. Remaja berambut raven dengan rupa identik sepertinya itu tengah menatap dengan sorot penuh kalkulasi. Sasuke seperti sedang melihat cerminan dirinya sendiri tujuh tahun yang lalu. Mata itu tampak was-was, tanggap, dan waspada. Ketika netranya menangkap sosok berjubah hitam dengan pola awan merah yang berdiri di samping Sasuke, sorot itu menajam—memperlihatkan kebencian yang luar biasa dalam.

Apakah dulu Sasuke benar-benar menatap Itachi dengan pandangan itu? Apakah kebenciannya memang sangat besar dan sulit untuk diobati?

Batinnya tertawa meledek. Tentu saja, dulu dia memiliki jenis mata itu. Tentu saja kebenciannya sulit diobati. Ia secara bodoh menyerahkan diri pada Orochimaru hanya karena benih kebencian tersebut, dammit.

Karin masih belum melepaskan lengannya dan masih terus mengocehkan sesuatu entah apa yang tidak ingin diketahui Sasuke. Otonai Naruto sedang memeluk Wakai Naruto—pemandangan teraneh yang pernah ada. Beberapa meter di samping para Naruto—mereka ada dua, ingat—berdiri Hatake Kakashi dengan mata melebar, tangannya terangkat, mengisyaratkan anggota timnya untuk tidak menyerang. Tubuhnya menyerukan kewaspadaan, tapi Kakashi berada dalam kontrol yang baik. Ia mengamati para pendatang baru dengan seksama. Mulai dari Sasuke itu, para anggota Taka, Itachi, hingga Sasuke yang ini—sosok dewasa yang menjadi penyebab utama keterkejutan sang Jōnin.

Kakashi kelihatannya tidak mengenali Naruto. Naruto yang datang bersamanya.

Tentu saja.

Sasuke menahan dengusan. Ia akan memikirkan alasan itu nanti.

Melalui sudut matanya, Sasuke melihat Sakura yang menatapnya lebar-lebar, mulutnya sedikit terbuka. Perempuan berambut merah muda itu jelas-jelas terpukau padanya. Terpukau dan terkejut. Ia menatapnya dan menatap Wakai Sasuke secara bergantian. Sakura tampak ingin berbicara, tapi usahanya tampak sia-sia saja.

Pemikiran tentang masih adanya orang yang tergila-gila padanya membuat Sasuke gerah. Ia sudah melewati masa ini, demi apa pun. Sasuke sama sekali tidak berharap dirinya akan berada dalam fase ini lagi. Pikirannya melayang pada sosok berambut pirang dengan mata biru yang lain. Uchiha Sasuke bersyukur karena ia tidak melihat Yamanaka Ino di sini.

Mencoba menjauh dari Karin, Sasuke menarik lengan perempuan yang masih menempel erat di lengannya. Mata merah tua itu menatapnya takjub, merasa bangga karena mendapatkan reaksi. Sasuke tidak pernah bereaksi apa pun padanya.

"Kau bisa lebih baik dari ini, Karin," ujarnya datar. Ia mengalihkan lengan itu dengan mudah. "Kuasai dirimu."

Dengan itu, Sasuke menjauh dari Karin. Ia mendekati dua sosok berambut pirang yang masih berpelukan, mengabaikan tatapan dirinya yang lain ketika berjalan. Tangannya terulur dan menarik rambut pirang yang dikucir di masing-masing sisi kepala temannya itu. Perilakunya mendapatkan tanggapan berupa gumaman protes dan makian yang teramat familiar di telinganya.

"Berengsek! Jangan tarik-tarik rambutku!" serunya.

"Jangan permalukan dirimu sendiri," balas Sasuke pendek. "Turun."

"Aku sedang reuni!"

Sasuke semakin mengeratkan tarikannya di rambut pirang itu. "Dia bahkan tidak pernah bertemu denganmu."

"Aku merindukan tubuhnya."

Dari sudut matanya, Sasuke melihat Kakashi yang seperti ingin tersedak. Ia pun menghela napas pelan. "Terima saja takdirmu, Idiot. Kau seharusnya sudah terbiasa setelah tujuh tahun menjalaninya."

Perempuan pirang itu merengut. Ia meloncat turun dari sosok yang masih berdiri kaku di depannya—disorientasi dengan apa yang baru saja terjadi. Sasuke menahan diri untuk tidak membuang muka ketika oniksnya bertemu dengan safir. Ekspresi dari sosok di depannya ini meluapkan kekesalan yang tak terkira. Naruto marah padanya, ia marah karena masalah mereka, bukan karena sekedar dirinya yang mengganggu acara reuni. Naruto ini marah, bukan sekedar merajuk. Naruto ini marah dan Sasuke sadar bahwa ia harus segera menyelesaikan apa pun permasalahan mereka jika tidak ingin terlibat dalam sparring mematikan.

Jika sedang marah dengan serius, Naruto takkan mudah diobati. Bahkan dengan ramen sekalipun.

"Tidak sekarang," ujarnya pendek. Perempuan pirang di depannya mendengus, masih menatapnya. "Lari lagi dan kau akan mati."

Sasuke tidak menjawab, ia tahu Naruto tidak main-main. Ia juga tahu rekannya ini mengerti bahwa dirinya akan menepati janji untuk berbicara nanti, nanti setelah mereka berada dalam kondisi yang lebih baik dari ini.

Pesan tersiratnya diterima dengan baik. Naruto mengangguk skeptis padanya sebelum berbalik dan menghampiri Kakashi. Sasuke melihat cengiran khas yang terukir di wajah manis Naruto, ia memperhatikan reaksi Kakashi dan Sakura yang jelas-jelas semakin terkejut. Sakura mendekati si pirang, menepukan telapak tangannya di pipi dengan tanda lahir khas kumis kucing itu, dan berujar dengan bingung, "Asli, bukan henge." Kepalanya menjulur untuk melihat Naruto yang masih berada di samping Sasuke, Naruto versi laki-laki. "Naruto, jutsu aneh apa lagi yang kau ciptakan?" tanyanya.

Di samping Sasuke, Naruto berujar, "Aku tidak menciptakan jutsu apa pun-ttebayo."

Berjalan di samping Naruto, Sasuke mendengar Sakura berkata, "Dia kelihatan sepertimu! Lihat, lihat!"

Kini Sasuke melihat Naruto yang berusia enam belas tahun tengah memeriksa Naruto yang berusia dua puluh empat tahun. Mata safirnya menyerukan rasa ingin tahu tingkat tinggi, ia bergumam mengenai kemungkinan dirinya yang memiliki saudari. Sebagai balasan, Naruto versi dewasa tertawa. Dari sorot mata jahilnya, Sasuke tahu apa yang dipikirkan wanita itu saat ini. Sebelum segalanya bertambah kacau, Sasuke pun melibatkan diri dengan memotong perkataan rekannya itu.

"Naru. Namanya Naru," ujarnya yang langsung mendapat sungutan kesal dari sosok yang diinterupsinya. Sasuke mendaratkan pandangan pada Kakashi. "Kami tidak bermaksud buruk, jika kau masih khawatir dengan kemungkinan itu."

Kakashi masih belum puas. Ia menatapWakai Naruto dengan tatapan bertanya. Naruto yang sudah mendengar sekilas percakapan Sasuke dengan Itachi pun langsung berujar antusias, "Ne, Sensei, dia adalah Sasuke! Dia Sasuke dari dimensi lain! Dia yang membuat Itachi menyerahkan diri dengan suka rela."

Mengerling pada sosok berjubah Akatsuki, Kakashi menampakan ekspresi ragu. Kepalanya pusing bukan main. Pemandangan yang baru saja ia hadapi sangatlah asing dan membingungkan. Ia terkejut dengan kedatangan Sasuke dan kelompok kecilnya, serta Uchiha Itachi. Tapi, ia lebih terkejut dengan kehadiran sosok yang menyerupai murid Uchiha-nya itu. Chakra keduanya begitu identik, Kakashi hampir langsung percaya ketika mendengar perkataan Naruto.

Berbicara mengenai Naruto, Kakashi juga menemukan kejanggalan dalam diri wanita berambut pirang. Ia butuh penjelasan. Penjelasan rinci, serinci mungkin. Jika tidak, otaknya kemungkinan besar akan meledak saat itu juga. Kakashi butuh Tenzo. Ia merutuki lelaki itu karena tidak kunjung kembali bersama dengan Kiba.

"Jadi, apa yang membuat kami bisa mempercayai kalian?" tanya Kakashi, nada suaranya tenang.

Otonai Naruto mengerang tidak percaya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah hitai-ate Konoha.

"Lihat? Masih ragu?" tantangnya.

Sakura mengerutkan dahi. "Kalian bisa saja mengambilnya dari orang lain."

"Serius?" tanya Naruto takjub. "Kau benar-benar berpikiran kalau aku akan repot-repot membuang-buang tenaga hanya untuk mendapatkan ini?"

Sementara Kakashi menatap Otonai Naruto dengan pandangan yang seolah mengutaran kalimat oh-yang-benar-saja, Sasuke hanya bisa menghela napas pelan. Bertahun-tahun mengenal sosok ini, Sasuke mengakui kalau Naruto tidak bodoh. Buktinya adalah, ia yang cepat belajar di lapangan jika mereka tengah bertarung dan memerlukan banyak taktik. Tapi, tetap saja, dia masih lamban dalam hal semacam ini.

"Onna-san, Onna-san! Sasuke-teme tidak menunjukan hitai-ate miliknya," timpal Wakai Naruto.

"Keloyalan seorang ninja pada desanya tidak hanya bersumber dari ikat kepala," balas Sasuke datar.

Alih-alih membantunya, Otonai Naruto malah menyambar hitai-ate Konoha yang tersampir di ikat pinggang Sasuke dan menunjukannya kepada para audiens mereka.

Namun, sialnya, ikat kepala yang ditunjukan itu memiliki garis melintang di tengahnya. Sebuah tanda nukenin.

Sebelum orang-orang bereaksi lebih lanjut, Sasuke sudah menyambar ikat kepala itu dari tangan Naruto dan menatapnya tajam. Yang ditatap hanya berujar, "Ups."

"Kami tiba di sini melalui sebuah portal antar dimensi. Asumsi awalku adalah adanya dimensi paralel yang menyebabkan kemiripan antara dunia kami dan dunia ini. Kronologi kejadiannya cukup panjang. Tapi, ringkasnya, aku tiba di sini karena mengejar orang yang mencuri sebuah petunjuk dari misi yang tengah kujalani. Makhluk itu membuka portal dan menghilang," jelas Sasuke.

Kakashi kini tampak mempercayainya. "Makhluk?"

"Makhluk—alien, entahlah. Yang jelas si sialan serba putih itu memang pengacau," timpal Otonai Naruto. Ia melirik Sasuke. "Kau melihatnya?"

Sasuke mengangguk dengan suram. "Di dunia kami, aku dan dia merupakan ninja dari Konoha. Hokage sendiri yang memberi kami misi khusus ini."

"Hanya berdua saja?" tanya Wakai Naruto dengan heran. Ia menyipitkan alis. "Bukankah misi harusnya terdiri atas tiga orang atau lebih? Jika tidak, harusnya menjadi misi solo sekalian."

Naruto mendapatkan ketukan di kepala. Ia mengaduh pada Sakura dan membalas omelan perempuan itu. "Materi di Akademi sangatlah membosankan. Bukan salahku kalau aku tertidur."

Kakashi mengabaikan pertengakaran verbal dua orang muridnya. Ia bertanya, "Kekuatan apa yang mampu mengantarkan kalian ke dimensi lain?"

"Rinnegan."

Keterkejutan Kakashi adalah hal yang wajar. Menurut Sasuke, lelaki yang ia kenal sebagai gurunya ini belum mengetahui keberadaan dōjutsu tingkat tinggi itu. Mereka mungkin masih menganggapnya mitos karena belum tahu adanya orang yang benar-benar memilikinya. Sasuke menebak bahwa Kakashi belum mengetahui Madara ataupun Pein.

Oh, dunia di dimensi ini sangat ketinggalan. Sungguh.

Detik selanjutnya, Naruto bertanya tentang apa itu rinnegan dan Kakashi pun menjelaskan dengan bahasa yang paling mudah dipahami oleh Naruto. Sasuke melanjutkan penjelasannya.

"Seperti yang kubilang tadi, makhluk yang dicurigai sebagai musuh telah melarikan diri kemari. Aku sendiri belum tahu seberapa besar kemampuannya ataupun tujuannya lari ke sini. Entah karena kebetulan atau dengan maksud tertentu. Yang jelas, mereka berbahaya."

"Mereka?" tanyaOtonai Naruto. "Aku hanya melihat satu orang saja. Makhluk sialan yang membawa senjata semacam pancing untuk mencuri chakra orang-orang."

"Tiga, ada tiga."

Penjelasan Sasuke tampak diterima dengan baik oleh Kakashi. Ia mengutarakan sesuatu mengenai mereka yang akan melanjutkan pembicaraan di desa. Setelahnya, sang lelaki berambut silver mengalihkan perhatiannya pada Sasuke asli dunia ini, anggota Taka—atau Hebi, masa bodohlah-dan Itachi. Ia menaikan alis, kembali meminta penjelasan pada dua orang asing—namun familiar—yang berdiri di depannya.

"Aku menendang bokongnya! Untuk kesekian kali! Hell, yeah. Teme tetaplah teme di mana pun dimensinya," dengus Otonai Naruto. Ia tidak menyadari kilatan mata Sasuke yang menatapnya terang-terangan. "Membawanya kembali ke Konoha seperti sudah menjadi pekerjaanku? Entahlah. Aku hanya merasa harus mengetuk kepalanya sedikit agar dia sadar."

Dari sudut mata Sasuke, ia melihatWakai Naruto yang mengerutkan dahinya. Pemuda itu tampak sedang berpikir keras, memikirkan hubungannya dengan orang yang baru saja berbicara. Sasuke menahan ujung bibirnya agar tidak terangkat. Ia ingin melihat reaksi Naruto jika mengetahui apa yang telah terjadi pada Otonai Naruto. Tapi, prioritasnya sekarang ini bukanlah bercanda. Lebih baik Naruto mengetahuinya nanti, secara natural. Ia tidak sampai hati melihat remaja itu histeris. Pengalamannya tujuh tahun lalu sudah cukup mengerikan dan… menyiksa batin.

Bahkan sampai saat ini.

Mengalihkan pemikiran itu. Sasuke menjelaskan tentang kondisi Itachi yang memang akan menyerahkan diri pada Konoha. Ia sedikit mengungkit tentang Itachi yang tidak sepenuhnya bersalah—pernyataan yang langsung membuat kakak lelakinya itu berjengit—dan akan menjelaskan rinciannya setelah mereka sampai di Konoha. Sasuke meminta Kakashi menahan Itachi dan Wakai Sasuke di penjara biasa sementara mereka mengurus peradilan keduanya. Ia sebisa mungkin akan mengusahakan agar dua bersaudara itu tidak masuk dalam penjara bawah tanah dan mendapatkan siksaan apa pun. Ia akan membantu mereka melewati legalisasi dan kembali mendapatkan status warga desa lagi.

Ketika menatap Itachi, Sasuke melihat siaratan terima kasih. Lelaki itu pun membalas dengan gumaman mengenai Itachi yang harus menyelesaikan urusannya dengan Wakai Sasuke. Sementara ini, Sasuke tidak ingin berhubungan dengan versi lamanya. Ia masih trauma, jujur saja. Tapi, mengetahui sifatnya sendiri, ia yakin bahwa versi lamanya itu pada akhirnya akan berusaha untuk mengulik informasi darinya.

Yah, setidaknya Sasuke akan menghindar sebisa mungkin.

Di sampingnya, Naruto tampak sedang mencuri lihat pada Wakai Sasuke. Pemuda itu tampak ragu untuk bertindak. Ragu mengenai apa yang harus ia lakukan pada temannya. Sasuke sendiri baru menyadari kecemasan dan keraguan Naruto. Ia tidak tahu kalau Naruto mempunyai sisi ini. Ketika ia bertanya-tanya tentang apakah Otonai Naruto juga merasakan hal yang sama dulu, ia melihat wanita pirang itu yang merangkul Naruto untuk mengalihkan perhatiannya dari Wakai Sasuke.

Seketika, Sasuke mengetahui jawaban dari pertanyaannya sendiri.

Dulu, teman baiknya ini juga bereaksi sama seperti sang pemuda pirang.

Mendengar perintah Kakashi tentang mereka yang harus menunggu Yamato dan Kiba, Sasuke dan Otonai Nauto kembali mendapatkan perhatian enam ninja Konoha itu. Ia mendapati senyum ikonik Kakashi ketika pria itu bertanya, "Nah, kalian belum memperkenalkan diri secara resmi."

Sang wanita berambut pirang tersenyum lebar. Kilatan jahil tercermin di iris safirnya. Membiarkan mulut itu berbicara adalah hal buruk. Sasuke sudah bersiap untuk menghentikan apa pun yang hendak diucapkan si pirang ketika suara familiar itu terdengar dari belakang mereka.

"Uzumaki Naruto! Uchiha Sasuke! Kenapa kalian selalu saja melibatkanku?! Mati saja kalian!"

Apa yang terjadi terlampau cepat. Sasuke belum sempat mengalihkan fokusnya dari Naruto ketika tanah di bawah kakinya amblas. Sesaat kemudian ia terlempar dan mendarat di punggungnya dengan benturan keras. Erangan sakit yang berasal dari Naruto terdengar jelas di telinganya. Selang beberapa lama, kepala Sasuke berbenturan dengan Naruto, kerah bajunya ditarik oleh seseorang yang tengah membungkuk di depan mereka.

Iris zambrud itu berkilat marah, helaian rambut merah muda menyala menutupi sebagian wajahnya.

Jika menghadapi kemarahan Naruto adalah bencana, Sasuke tidak tahu lagi bagaimana mendeskripsikan kemarahan Haruno Sakura.

Sepertinya, kami benar-benar membencinya. []

TBC

A/N :

Tim 7 versi dewasa akhirnya reuni! Jadi, aku mutusin buat datengin Sakura biar Sakura versi muda juga dapat insight baru dari sosok tuanya(?) semacam itulah.

Reply Reviews

- Fahri Luchifer : Enggak, di sini yang perempuan cuma Naruto. Alasannya bakal ada di chapter-chapter depan;)

- Narwatsu13 : Makasih banyak masukannya. Nanti kupikirkan kalau udah komitmen nulis xD

- Shinn Kazumiya : FemSasu di lain waktu aja kali ya, hehehe.

- Erilicht : yosh, makasih! aku usahain bakal seproduktif mungkin buat lanjut.

- All : Makasih dukungannya, aku masih rada shock bisa dapat feedback yang lumayan banyak. Sampai jumpa di next chapter ya!