Haloo! Akhirnya bisa update, hehehe.

Semoga bisa enjoy bacanya, maaf kalu ada kekurangan :D


Matahari hampir terbenam dan Rukia tidak tahu mau bagaimana lagi mencari gunung yang ada seorang kakek kakek quincy-nya. Di saat mereka ada di tengah pasar yang ramai, lampu remang-remang dihidupkan sepanjang jalan. Mereka sudah berkali-kali bertanya pada siapa saja tentang pedang itu, dan jawaban mereka rata-rata sama 'itu hanya cerita nenek saat akan tidur'. Jelas karena mereka cuma rakyat biasa, mereka tidak mengetahui yang sebenarnya. Saat mereka benar-benar lelah–minus ichigo, ishida dan nel– perut Renji berbunyi keras sekali.

"Hahaha! Mati kelaparan eh, Renji?" ejek Ichigo memasang seringainya.

"Enak saja, brengsek kau––"

"Kuchiki, sebaiknya kita istirahat dulu. Tenang saja, petarungan tidak akan berakhir hari ini, pasti akan lama selesainya" kata Hitsugaya tiba-tiba.

Rukia sendiri tampak lelah, tapi demi Seireitei, demi kakaknya, demi perintah Unohana... Rukia tidak bisa berhenti begitu saja, saat dia akan bergerak lagi sebuah tangan menahan lenganya.

"Kuchiki, sudah kubilang kita harus istirahat," kata Hitsugaya lagi, dengan tatapan tegas seorang taichou. Rukia tidak bisa mengelak, sejak dia belajar bankai dari Hitsugaya, Rukia selalu patuh padanya.

"Baiklah~ ayo makan Renji" kata Rukia mengalah, tersenyum tulus pada mereka semua. Renji langsung blushing, lalu berpura-pura tidak dengar dan langsung mencari tempat peristirahatan yang ada tempat makan enaknya.

Akhirnya mereka menemukan tempat peristirahatan yang benar-benar bagus, kecuali tempat makan mereka terlihat biasa saja. Tempat makan di penginapan itu ada di lantai paling dasar, tempatnya sederhana, lesehan, tapi begitu ramai. Orang-orang banyak yang dengan urakan makan sambil berteriak-teriak karena kalah judi, banyak suara tawa juga, begitu polos tanpa mengetahui bahaya apa yang akan mereka hadapi kalau-kalau Seireitei sudah berhasil ditundukan.

Rukia baru saja bergabung dengan mereka semua setelah membayar uang sewa kamar.

"Dari mana kau?" tanya Renji dengan mulut dipenuhi makanan.

"Menyewa kamar" jawab Rukia lalu mulai memakan hidangan yang ada di hadapanya, yah, mana mungkin Rukia tidak kelaparan setelah berjam-jam bertarung.

"Sebaiknya kubayar dulu makanan ini, agar aku bisa makan dengan tenang" kata Hitsugaya kalem seraya berdiri.

"Hah? Sudah kubayar semuanya kok"

Byuur~!

Ichigo dan Renji menyemburkan air yang sedang mereka minum, hingga Hisagi memukul kepala Renji karena sudah membuat wajah gantengnya basah.

"K-kau bayar semua?" tanya Ichigo, berusaha mengabaikan fakta kalau Rukia adalah bangsawan.

"Iya tentu saja semua, memangnya kau yang akan bayar? Uang shinigami saja kau tak punya" kata Rukia sambil tertawa pelan, mengejek.

Hitsugaya, Renji, dan Hisagi cuma bisa saling mamandang. Mereka pasti tahu sebentar lagi Hitsugaya yang seorang kapten akan minta naik gaji.

Dari semua yang dimeja, cuma Rukia yang makan paling tenang. Walaupun tidak menutupi kalau yang menghabiskan sebagian besar makanan di meja adalah dia.

"Hoi, ternyata kau tambah rakus Rukia" kata Ichigo sambil mengangkat alisnya, lalu tanpa sadar membiarkan Nel menyuapinya sepotong daging ayam yang masih ada tulangnya.

"Uhuuk! huuk!" Ichigo tersedak hingga seperti orang sekarat, memegangi kerongkonganya.

Renji dan Hisagi tertawa terbahak-bahak, Ishida dan Hitsugaya tertawa meremehkan, sedangkan Nel mati-matian mencekek Ichigo agar bisa memuntahkan makananya kembali.

Rukia tertawa pelan, lalu perlahan mendekati Nel dan Ichigo.

"Kau bisa membunuhnya kalau begitu, Nel kan?" kata Rukia seraya mengangkat tubuh kecil Nel untuk ditaruh dipunggungnya.

"A-apa ini~! Aku ada dipunggung seorang shinigami!" teriak Nel histeris, dia tampak ketakutan tapi juga wajahnya merah malu.

"Kau menempel di punggung Ichigo berjam-jam" komentar Ishida sambil geleng-geleng kepala.

Duuuk!

Ichigo memuntahkan tulang itu setelah Rukia memukul kelas pundak ichigo, Rukia tertawa sambil bergumam "dasar payah". Ichigo menatap Rukia galak, tapi Rukia malah tertawa melihatnya. Senang juga bisa seperti itu dengan Ichigo, seperti dulu.

Selanjutnya diisi dengan berbagai pertengkaran mereka, tapi walaupun begitu, rukia masih bisa tertawa terbahak. Entah benar atau tidak, padahal teman-temannya yang lain sedang berusaha agar tetap hidup, dia malah bersenang-senang seperti ini. Tapi entah kenapa perasaan Rukia jadi jauh lebih baik saat Ichigo bergabung, benar-benar lebih baik. Keberadaan Ichigo membuatnya tenang, lega bahwa Ichigo tidak apa-apa dan ada disampingnya.

Benar-benar tanpa sadar, Rukia tidak bisa mengalihkan matanya dari Ichigo. Parahnya, Ichigo balik menatanpnya hingga membuat Rukia jadi kaget dan cegukan. Buru-buru dia pura-pura menyeruput tehnya lagi dan mendengarkan perkataan Renji.

"Oh iya! Kau itu kan quincy juga, kacamata! Kok kau tidak bersama mereka?" tanya Renji.

"Jujur, aku tidak tahu kalau ada quincy macam mereka. Mereka kuat, dan jelas mereka tidak dari bumi, jadi aku benar-benar tidak tahu," jawab Ishida santai sekali.

"Jadi, apa alasanmu bergabung dengan kami? Maksudku, kau membantu shinigami yang akan dihancurkan ras-mu sendiri," kata Hitsugaya masih kedengaran curiga.

"Aku juga tidak begitu senang membantu shinigami, tapi entah kenapa ini jadi bawaanku sejak mengenal Kurosaki. Lagipula, aku ingn tahu tentang quincy seperti apa mereka, dan apa bedanya mereka denganku."

Rukia menguap panjang, merasa ngantuk sekali, suara perdebatan teman-temanya serasa cuma berhembus melewati telinganya. Sebelum benar-benar menutup matanya, Rukia merasa Nel menggeliat di pangkuanya, membuatnya kembali sadar. Dan betapa kegetnya Rukia saat wajah Kon hanya tinggal 2 senti dari wajahnya. Lalu tanpa di duga Kon langsung berteriak nyaring, terkesan marah,

"Ya ampuun! Bisakah kalian berhenti berteriak? Nee-san sudah hampir tertidur kalau bukan karena kalian berteriak! Bagaimana bisa membuat Nee-san ku seorang gadis cantik tidur sambil duduk dan kalian laki-laki tidak berguna semuanya hanya bertengkar teruuus!" teriak Kon dramatis sambil mencoba memukul mereka semua sebisanya.

Keadaan hening, bahkan beberapa pengunjung lain melihat ke arah mereka.

"W-whoa, itu kata-kata terpanajang yang pernah diucapkan boneka sampah sepertimu" komentar Ichigo tampak terpanjat.

Lalu seakan dijatuhi bom, mereka semua menanyakan apakah Rukia mengantuk dengan cara yang berbeda-beda. Renji paling histeris, dia segera menawarkan untuk menggendong Rukia sampai ke kamar dengan nada bercanda (wajah Renji sama merahnya dengan rambutnya ketika bilang itu). Ichigo dengan marah-marah menyuruh Rukia cepat tidur, Hitsugaya dengan nada memerintah menyuruh Rukia lekas tidur, Ishida cuma mengangguk pada Rukia.

Urat dikepala Rukia berkedut keras, lelaki-lelaki hebat ini ternyata hampir tidak ada bedanya dengan Kon yang cerewet itu. Tanganya terkepal, dia sudah siap untuk marah-marah lagi ketika ada yang menggaet pinggangnya.

"Bagaimana mungkin aku berani membiarkan seorang Kuchiki tertidur ditempat tidak layak, kau pasti lelah Kuchiki-san" kata Hisagi tiba-tiba. Lalu, tanpa ragu dia menggendong Rukia dengan kedua lenganya. Rukia sangat terkejut sampai Nel–yang sudah tidur pulas dari tadi– hampir terlepas dari dekapanya.

"H-hisagi-kun...!" pekik Rukia gagap, tapi juga agak marah. Astaga, memalukan sekali.

Dan tanpa menunggu pertanyaan-pertanyaan dari mereka semua yang sekarang berwajah syok, Hisagi mulai berjalan ke lantai atas dengan Rukia digendoganya.

Setelah berkali-kali meminta, akhirnya Hisagi menurunkan Rukia pada tempat tidur di kamarnya rukia. Rukia mendekap Nel semakin erat, tiba-tiba wajahnya benar-benar panas, karena tiba-tiba Rukia ingat komik yang pernah ia baca sewaktu di dunia manusia...

"Ada apa Kuchiki-san?" tanya Hisagi melangkah lebih dekat ke arah Rukia duduk.

"Tidak apa-apa! Aku hanya ingat, cerita yang pernah kubaca–––"

"Dan cerita tentang apa itu?" tanya Hisagi lagi, entah apa tapi dia terllihat menahan senyumnya.

"Cerita bergambar, kalau ada dua manusia laki-laki dan perempuan ada di dalam satu kamar, dan tidak ada yang lain, disitu digambarkan lak-lakinya langsung me––" Rukia menelan ludah, wajahnya terasa aneh sekali, lebih panas daripada yang seharusnya "––me-me-mencium da-dan mereka melakukan…" Rukia tidak sanggup bicara lagi, wajahnya sudah kelewat mendidih.

"Melakukan apa? Apa perlu kuingatkan dulu?" tanya Hisagi, kini dia benar-benar ada dihadapan Rukia, wajahnya dekat sekali dengan wajah Rukia yang sekarang berkeringat.

"A-aku lupa" jawab Rukia layaknya seorang idiot. Berani bertaruh wajah Rukia benar-benar mengerikan.

"Hahaha! Tidak kusangka kau lucu sekali Kuchiki-san, padahal kau galak lho tadi. Sekarang tidurlah. Maaf kami membuatmu lelah tadi," kata Hisagi enteng.

Belum sempat Rukia bicara, Hisagi sudah pergi setelah mengedipkan matanya pada Rukia.

Arghh! Well Rukia, wajahmu yang konyol itu akan diingat Hisagi sepanjang malam. Dan lihat bagaimana Hisagi tadi menyebutmu lucu–atau galak, entahlah. Yang pasti wajahnya semakin mirip Kaien jika tidak ada tato gila-nya itu!

"Ahh, siapa namamu shinigami cantik?"

Rukia mengabaikan segala godaan dari orang-orang di pasar saat dia lewat keesokan harinya, beberapa anak kecil juga ada yang menunjuk-nunjuk rombonganya seakan mereka artis saja. Hari ini langit mendung sekali, hingga membawa angin yang tidak begitu besar. Tapi cukup untuk membuat orang-orang lebih memilih berada dalam suatu tempat daripada diluar.

Angin kencang berhenbus disekitar mereka sampai-sampai Kon hampir lepas peganganya dari dada Rukia. Rukia sudah tidak begitu risih dengan adanya Kon, yah, bisa dibilang Rukia juga merindukan boneka-brengsek-nya itu.

"Argh! Kita cari saja kakek itu di panti jompo!" kata Ichigo frustasi, tanpa sadar dia menendang kerikil hingga mengenai kepala seorang anak kecil.

Anak kecil itu menoleh dengan cepat sambil memegangi kepalanya sendiri, tapi betapa kagetnya dia saat sadar ada darah mengalir dari pelipisnya. Begitu tahu, dia langsung menangis keras sekali, membuat beberapa orang menoleh pada mereka.

"Ichigo! Lihat apa yang kau lakukan tolol!" pekik Rukia mengabaikan alasan-alasan yang Ichigo buat.

Dia segera berlari ke arah anak kecil itu, "Hey, apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Rukia sambil berjongkok.

Anak laki-laki itu imut sekali, membuat Rukia sedetik meluluh melihatnya. "Apa kepalaku terlihat tidak berharga sama sekali bagimu––Eh, shinigami" kata anak itu marah-marah, tapi begitu melihat Rukia wajahnya merah padam.

"Hey kau tidak apa-apa anak kecil?" tanya Ichigo menghampiri mereka, Nel menempel terus dipunggungnya.

"S-shinigami! Banyak sekali kalian––jangan mendekat!" pekik anak kecil itu terlihat waspada ketika Renji juga menghampiri mereka.

"Hoi, kau kenapa sih?" tanya Ichigo, saat dia menempelkan tangan di kepala anak itu, dia langsung menangis keras.

"Huuuaaaa! Kakek~~!" rengek anak itu, dan entah apa yang terjadi, bisa-bisanya dalam beberapa detik seorang kakek-kakek muncul dengan gesitnya.

"Reichi!" teriak kakek itu sambil memeluk anak bernama Reichi itu, dan begitu melihat cucunya digeromboli sekumpulan shinigami aneh––rambutnya, kakek itu semakin menarik cucunya agar menjauh dari mereka.

Dia adalah lelaki yang tampak tua sekali, rambutnya putih semua dan wajahnya walaupun banyak kerutan terpancar semacam jiwa muda didalamnya. Tapi begitu melihat Rukia, wajahnya berubah aneh.

"Apa yang kalian laukan pada Reichi shinigami?" tanya kakek itu dengan nada curiga, walaupun masih memandang Rukia dengan tatapan aneh.

"Saya tidak sengaja menendang kerikil dan mengenai kepalanya kek," jawab Ichigo mencoba menjelaskan. Kakek itu memandanganya dengan penuh intimidasi, sampai Ichigo menelan ludahnya sendiri gugup.

"Shinigami busuk itu membuat kepalaku berdarah kek~!" rengek Reichi, kakeknya langsung mendelik melihat darah kecil di pelipis cucunya. Dia langsung mendelik menakutkan pada Ichigo agak salah tingkah.

"Saya tidak sengaja––"

"Sudahlah! Shinigami memang selalu tidak tahu diri, menganggap diri mereka yang paling kuat. Cih, omong kosong. Ayo pulang Reichi!" kata kakek itu sambil memandang sinis pada Ichigo dan yang lain seraya menggendong cucunya.

Rukia masih tidak percaya orang tua macam dia bisa berkata seperti itu, seakan dia mengenal para shinigami saja. Itu penghinaan bukan? Yah, tidak semua shinigami seperti yang dikatakan kakek itu kan?

"Tunggu kek, kenapa anda bicara seakan anda tahu segalanya tentang kami, hanya gara-gara teman saya tidak sengaja melukai cucu anda, bukan berarti anda bisa berkomentar omong kosong seperti itu kan?" protes Rukia panjang, membuat teman-temanya memandang tidak percaya padanya. Kakek itu juga melihat Rukia dengan pandangan yang lebih aneh lagi.

"Siapa namamu shinigami?"

"Rukia Kuchiki, dan siapakah anda?"

Kakek itu sedetik tampak kaget, tapi kemudian dia tertawa keras–mungkin gila. "Apa yang shinigami lakukan disini? Bukanya di Seireitei?" tanya kakek itu tiba-tiba sifatnya berubah drastis, membuat Hitsugaya yang maju sekarang.

"Kami mencari seorang quincy, apakah anda tahu dimana dia?" tanya Hitsugaya

Kakek itu cekikikan, "Hahaha! Mana mungkin seorang quincy tinggal di Soul Society? Jika ada, mungkin dia sudah gila," kata kakek itu masih terbahak.

"Tidak segila kau orang tua," gumam Ichigo pelan, tapi Rukia bisa mendengarnya. Walaupun Rukia menyodok perut Ichigo agar diam, tapi toh Rukia tersenyum mendengarnya.

"Menurut informasi dia tinggal di daerah gunung, apa anda tahu sesuatu?" tanya Hitsugaya mengabaikan fakta bahwa mungkin kakek itu memang gila.

"Gunung? Kalian ke gunung itu saja (Reichi menunjuk sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi dekat mereka) Coba cari saja sebelum ayam jantan berkokok, di balik tirai hujan biasanya kau akan menemukan yang bercahaya menuntunmu untuk membuka jalan" kata Reichi, mengejutkan mereka semua, sementara sang kakek cuma tertawa mendengar pernyataan cucunya itu.

"A-apa?" tanya Hitsugaya masih tidak percaya.

"Baiklah, kami pulang dulu ya! Sepertinya hujan akan turun. Oh iya, yang bisa melewatinya hanya seorang perempun lho. Sampai jumpa shinigami!" kata kakek itu tiba-tiba, dia segera angkat kaki dengan Reichi yang masih menatap Rukia penuh minat.

Hening sesaat, lalu Ichigo berkata dengan semangat seakan baru mendapat pencerahan.

"Yaa! Itu mudah sekali kan, berarti kita harus ke gunung itu membawa persembahan ayam jantan!" kata Ichigo dengan begonya. Rukia memukul kepalanya keras, lalu berkata dengan bimbang.

"Sebelum ayam jantan berkokok, jelas maksudnya kita kesana saat subuh–––"

"Di balik tirai hujan, berarti kita harus mencari air terjun di sana. Tapi apa maksudnya 'yang bercahaya' dan 'membuka jalan'?" kata Hitsugaya sambil mengelus dagunya, terlihat sangat berpikir.

"Yang penting kita tahu ada dimana quincy itu, kita berangkat sekarang?" kata Hisagi yang disambut teriakan setuju dari Nel.

Akhirnya mereka pergi ke gunung itu, walaupun Renji dan Ichigo terus berdebat seperti 'Apa kalian percaya pada anak ingusan?' atau 'Aku tidak percaya kita mendengarkan perkataan kakek yang tidak waras'

Merekapun sudah sampai kaki gunung ketika tiba-tiba hujan lebat turun, jika tidak dipaksa Hitsugaya, Rukia tidak akan mau berhenti. Tapi alasanya meyakinkan, mereka harus menunggu hingga subuh baru berangkat lagi.

Ichigo sebenarnya juga mau terus, tapi dia selalu mendapat glare dari Kon karena tidak memikirkan Rukia yang nanti kehujanan. Yah, tapi Rukia selalu begitu kan? Maksud Ichigo, Rukia tidaklah akan pingsan kalau hanya kehujanan. Dia kuat, dan Ichigo selalu mendukungnya jika berkaitan dengan petualangan seperti ini. Dia hanya ingin Rukia senang, Rukia tidak suka di kekang, seperti saat ini. Rukia dari tadi mondar-mandir dengan cemas, menunggu hujan reda. Mereka ada di sebuah gubuk yang sama sekali kosong dan jelek. Rukia dan Ichigo ada di depan, sedangkan yang lain di dalam untuk melihat-lihat.

"Bisa tidak kau berhenti mondar-mandir?" sindir Ichigo yang lama-lama jengah juga melihatnya, Nel tidak dipunggungnya, dia sedang menggambar entah apa di dekat mereka.

"Kenapa hujanya lama sekali sih, Ichigo?" protes Rukia.

Ichigo mengangkat alisnya heran, "Sudahlah, kau itu duduk saja. Toh kita masih tidur malam ini disini, besok kan kita baru berangkat," jawab Ichigo sambil menepuk-nepuk tempat kosong di kursi panjang yang dia duduki.

"Arhh! Lama sekali," kata Rukia. Tapi akhirnya dia duduk juga disebelah Ichigo.

Hujan malah deras seperti badai, angin berhembus kencang sekali hingga pohon-pohon di depan mereka bergerak-gerak kencang. Saat itu juga Nel berkata dengan riangnya pada Ichigo.

"Ichigo, lihat! Ini kau lho," kata Nel sambil mengibaskan tanganya agar Ichigo mendekat. Dengan malas, Ichigo berdiri dan melihat apa yang digambar Nel di atas tanah.

"Hahahaha! Aduh, ya ampun! Makhluk apa itu?" tawa Rukia meledak saat melihat gambar Nel yang bukan main jeleknya. Tidak bisa disebut manusia malah gambarnya, karena hidungya berbentuk kotak dan matanya sungguh seperti kotoran.

"Ini Ichigo tahu!" protes Nel cemberut melihat Rukia yang masih tertawa sampai memegangi perutnya.

Belum sempat Ichigo protes, suara petir menggelegar memekakan telinga mereka. Membuat Nel terlonjak hampir menangis dan menempel kuat-kuat di punggung Ichigo.

Ichigo melirik Rukia–siapa tahu dia takut, tapi nyatanya Rukia sedang terbelalak. Entah apa yang dilihatnya sampai menganga begitu, dia menatap kaget ke arah hutan di depan mereka.

"Ada apa?" tanya Ichigo sambil menepuk bahu Rukia.

Ichigo kaget saat Rukia meremas tangan Ichigo di bahunya, dia menggenggam tangan Ichigo kuat sekali, takut.

"Apa kau melihat itu?" tanya Rukia, dia terbelalak ketakutan menatap mata Ichigo.

Ichigo memincingkan mata untuk melihat hutan didepan mereka, hanya ada air dan pohon di depanya, "Lihat apa?"

Tapi Rukia tampaknya tidak begitu peduli Ichigo lihat atau tidak, dia sudah hampir menerobos hujan ketika Ichigo menahan tanganya.

"Apa sih yang kau lihat? Jangan kemana-mana!" kata Ichigo keras, sambil menahan kedua bahu Rukia agar tidak pergi.

Rukia terus menarap Ichigo, matanya masih melebar kaget, tapi betapa hati Ichigo mencelos saat tiba-tiba air mata Rukia jatuh.

"K-kenapa? Jangan seperti ini Rukia," kata Ichigo salah tingkah. Kenapa Rukia tiba-tiba menangis? Ichigo tidak berbuat apa-apa kan?

Rukia sendiri tampak kaget saat sadar air matanya jatuh, cepat-cepat dia menghapusnya. Ichigo jadi bingung sendiri, karena Rukia diam saja, akhirnya dia memutuskan untuk bicara.

"Kau kedinginan?" tanya Ichigo, Rukia terlihat masih agak shock.

"Tentu saja!" kata Rukia dengan nada marah-marah, Ichigo tertawa pelan. Lalu mengangkat kedua tanganya untuk diletakan di kedua pipi Rukia.

"Ini akan membuatmu hangat."

Ichigo nyengir saat Rukia menatapnya bingung, apapun itu, akan Ichigo lakukan supaya Rukia tidak ketakutan lagi. Dia senang, bisa menyentuh Rukia lagi. Di kesempatan sebelumnya, Ichigo belum benar-benar bisa sedekat ini dengan Rukia, dia belum bisa menghibur Rukia, padahal sejak pertemuan mereka kembali Rukia sudah banyak menolongnya.

"Ehemm!"

Ichigo––refleks, melepaskan tanganya dari pipi Rukia ketika Toushiro dan Ishida muncul dari dalam. Wajah Toushiro agak ketus saat berbicara, "hanya ada satu tempat tidur––itupun dari kayu dan tikar. Jadi Kuchiki saja yang tidur disana."

"Yeah, tentu Rukia harus tidur disana" kata Ichigo, kau pikir aku idiot membiarkan seorang gadis tidur di luar?batin Ichigo.

"Hei hei, sudahlah. Kau tidur duluan saja Kuchiki," kata Ishida angkat bicara. Mungkin sadar kalau aura Ichigo dan Hitsugaya memanas.

"Tapi aku–––"

"Tidur sekarang, Rukia!" bentak Ichigo tanpa sadar. Dia hanya marah kenapa Toushiro selalu ikut campur urusan Ichigo dan Rukia.

"Iya iya! Tidak perlu berteriak kan," jawab Rukia kini kelihatan tersinggung. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melewati mereka dan masuk ke dalam gubuk.

"Aku tidur diluar saja," kata Ichigo. Ichigo tidak bisa lama-lama seruangan dengan Toushiro kalau dia semenjengkelkan saat ini.

"Memang aku peduli," kata Toushiro lalu beranjak ikut ke dalam.

"SHIT!" teriak Ichigo tertahan saking marahnya, dia menendang kursi panjang didepanya. Ishida malah terkekeh, terdengar mengejek.

"Memalukan, mau sok keren ya pakai mengalah tidur diluar segala. Padahal Hitsugaya bisa tidur seruangan dengan Kuchiki sepanjang malam," kata Ishida. Belum sempat Ichigo membuka mulut, dia sudah masuk ke dalam lagi.

Wait! Benar juga kata Ishida, Rukia akan tidur dikelilingi cowok-cowok brengsek itu. Kata pepatah, laki-laki sediam apapun bisa menjadi serigala berdarah panas jika ada didekat perempuan. Oh tidak, ini pertama kalinya Ichigo ingin Rukia tidur bersamanya. Hei! Terdengar aneh sekali itu Ichigo. Kau kan juga laki-laki berdarah panas?

Hujan sudah berubah menjadi gerimis, Rukia terbangun dari tidurnya. Dia yakin kalau sudah lewat tengah malam, dia terduduk. Melihat sekeliling, semua teman-temanya masih terlelap bahkan Renji mendengkur keras. Tapi pikiran tentang yang dilihatnya di hutan tadi terus menyodok otak Rukia. Tidak mungkin Rukia melihat sosok Kaien dan dirinya sendiri dari dalam hutan tadi. Tidak mungkin!

"Huff…" Rukia menghela napas panjang, tapi napasnya langsung tercekat ketika menatap dari jendela didekatnya. Matanya melebar, sampai-sampai dia terlonjak bangun untuk memastikan dia tidak gila, karena Rukia melihat dirinya sendiri dan Kaien di kegelapan hutan, lagi.

TBC

RnR?

Makasih yg udah review~ bantu bgt! :)