Ma Boy! (REMAKE)

Cast : Lee Sungmin & Cho Kyuhyun

Disclaimer : Cerita ini murni saya ambil dari mini drama "Ma Boy" yang diperankan oleh Kim So Hyun dan Sun Woong "TOUCH". Jika berkenan, kalian bisa langsung menonton dramanya di google :D Tapi tentu saja ada beberapa tambahan scene atau dialog yang author buat sendiri demi penyesuaian jalan cerita ^^

Warning : GS! Typo's! Tidak sesuai EYD!

.

.

.

"K-kau…. k-kau…."

Sungmin pun menyadari jika Irene ternyata adalah seorang lelaki. Irene yang saat ini dalam keadaan yang benar-benar sakit dan tak mampu membuat alasan sehingga ia pun terduduk kemudian bersandar di bahu Sungmin.

"Y-ya! Apa yang kau lakukan! Hmppthh!" Sungmin yang panik dan akan berteriak membuat Kyuhyun pun dengan cepat menutup mulut Sungmin.

"Aku akan menurunkan tanganku kalau kau janji tidak akan teriak." Kyuhyun berujar walaupun dengan suara yang terdengar serak hingga gadis itu pun akhirnya mengangguk tak lupa dengan raut was-wasnya.

Tak lama Kyuhyun pun menghela nafas kemudian menurunkan telapak tangannya yang menutupi mulut Sungmin, "Kau benar..aku adalah laki-laki."

JDER!

Bagaikan disambar petir di tengah malam yang sunyi, Sungmin terang saja bertambah shock kala mendengar penuturan langsung dari Kyuhyun yang saat ini tengah memejamkan matanya. Tak lupa kepala yang masih ia sandarkan dibahu Sungmin hingga gadis itu pun tak mampu berkutik walaupun bahunya kini benar-benar terasa keram akibat beban dari kepala Kyuhyun yang ternyata sangat berat tidak seperti dugannya.

Gadis itu pun menatap kepala Kyuhyun dan bahunya secara bergantian. Ia sungguh ingin sekali menyingkirkan kepala itu dari bahunya, namun ketika menyadari jika Kyuhyun saat ini sedang sakit, ia pun terang saja merasa tak enak hati jika harus melakukannya.

Tanpa Sungmin sadari, Kyuhyun ternyata sadar akan kegelisahan Sungmin hingga kepala lelaki itu pun mendongak untuk menatap wajah gadis yang saat ini tengah menjadi sandarannya.

"Kau kenapa?"

"E-eh. Tidak apa-apa."

"Bohong. Apa kepalaku ini sangat berat? Bahumu terus bergoyang sedari tadi hingga membuat kepalaku menjadi semakin pusing."

Sungmin sontak mengerutkan alis ketika Kyuhyun berucap seperti itu. Hingga perlahan, lelaki itu pun menegakkan badannya kemudian memilih untuk membaringkan tubuhnya kembali keatas ranjang.

Gadis itu hanya menatap Kyuhyun dalam diam. Hingga tak berapa Kyuhyun pun nampak tertidur walaupun sepertinya tak nyenyak seperti tidur normal pada umumnya.

.

20 menit berlalu. Sungmin saat ini tengah sibuk mondar mandir di depan ranjang Kyuhyun tak lupa sambil menggigiti ujung kuku jempol tangannya. Gadis itu tentu saja merasa bingung dan mengamati Kyuhyun yang saat ini masih dalam keadaan tidur.

Tak lama gadis itu pun mengacak rambutnya frustasi sambil menggerutu tak jelas akibat stress tak lupa dengan hentakan-hentakan kakinya. "Ini tidak masuk akal. Ini pasti hanya mimpi!"

Kyuhyun yang saat ini tengah berkeringat dingin karena demam pun akhirnya terbangun karena suara mondar-mandir dari langkah Sungmin serta gerutu gadis itu yang ternyata tidak ada habisnya, "Lalu apa yang akan kau lakukan? Ini sama sekali bukan mimpi. Berhentilah bertingkah berlebihan dan tenanglah. Aku bukan maniak."

Bukannya merasa tenang, Sungmin malah kembali berjalan mondar-mandir hingga akhirnya jatuh terduduk diatas ranjangnya sendiri tepat menghadap ranjang Kyuhyun. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Sungmin berujar frustasi dan berhasil membuat Kyuhyun menolehkan wajahnya.

"Ceritanya panjang. Ada sesuatu yang tidak bisa ku ceritakan hingga akhirnya menjadi seperti ini."

"Apa maksudmu? Sesuatu kau bilang? Aissshh… aku benar-benar tidak mengerti! Hal seperti apa yang memaksa anak laki-laki menjadi anak perempuan?"

"Sulit menjelaskannya. Aku hanya ingin kau menahannya sebentar saja. Anggap ini sebagai bantuan untukku."

"Arggghh! Tidak masuk akal!" Teriakan Sungmin sontak membuat alis Kyuhyun mengernyit bahkan pening dikepalanya malah bertambah saat ini.

Nampak jika Sungmin berpikir sebentar sambil memijat pelipisnya, hingga gadis itu pun menatap mata terpejam Kyuhyun kemudian membuangnya nafasnya kasar.

"Baik. Aku menahannya karena kau sakit. Tapi aku akan melapor pada guru besok pagi. Aku rasa itu adalah hal yang benar untuk saat ini."

Ucapan Sungmin terang saja membuat Kyuhyun marah. Masih dengan wajah pucatnya, Kyuhyun pun bangkit kemudian menatap wajah Sungmin yang ternyata sudah memerhatikannya sedari tadi.

"Lakukan saja apa maumu!" Kyuhyun pun berjalan cepat kearah jendela hingga membuat Sungmin saat ini mengerutkan alis ditempatnya.

"Kau mau kemana? Bukankah kau masih sakit?"

Seolah tidak mendengar ucapan Sungmin, Kyuhyun pun tetap saja melanjutkan langkahnya kemudian melompati jendela meninggalkan Sungmin yang hanya dapat menaikkan sebelah alisnya.

"Apa dia marah?"

.

.

Paginya…

Irene tampak ketakutan. Ia kini harus dihadapkan dengan caci maki dari semua siswa dan fansnya, juga kepala sekolah dan para guru. Mereka semua menatap Irene dengan berang hingga membuat 'perempuan' itu menatap mereka takut bahkan kini wajah cantiknya sudah memucat.

Heechul yang berada dibarisan paling depan pun mulai maju selangkah kemudian menatap Irene dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan jijik. "Jadi kau ini seorang gadis? Ck."

SREETT!

Heechul pun menarik wig Irene dengan kasar hingga terlepas dan menyisakan rambut kecoklatan sebenarnya Kyuhyun miliki.

Semua orang disana pun menyoraki Irene banyak semuanya menatap Irene dengan pandangan jijik, termasuk oleh kepala sekolah dan sekretaris kepala sekolah sekaligus wali kelas Kyuhyun, Nona Seo pun ikut memandang Irene dengan sinis.

"Pergi kau! Beraninya kau mempermainkan hati orang."

BYURRR!

Anggota Heckle dengan sengaja menyiram Irene dengan seember air hingga wajah hingga seragamnya pun menjadi basah namun semua orang disana sama sekali tidak ada yang merasa bersalah karena telah memperlakukan Irene seperti itu.

"Pergi Irene! pergi!" Teriak semua orang disana tak lupa dengan banner dan spanduk besar yang mereka bawa bertuliskan 'IRENE OUT!'.

Saat ini Irene benar-benar tampak menyedihkan. Sedangkan Sungmin yang berada ditengah kerumunan hanya dapat memandangi Irene dengan wajah bersalah.

Gadis itu hanya dapat menatap Irene dalam diam hingga sebuah suara seorang wanita membuat Sungmin tersadar dari lamunannya. Yups! Tentu saja kejadian tadi hanya ada di dalam imajinasi Sungmin.

"Lee Sungmin?"

Guru Seo memanggilnya berulang kali sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Sungmin, "Lee Sungmin! Apa yang kau pikirkan?"

Sungmin baru sadar jika ia tengah melamun pun kemudian menatap Guru Seo disebelahnya dengan kikuk sambil memainkan anak rambutnya, "O-ohh. Saya hanya berpikir kalau Irene itu...sangat cantik."

"Ah kau ini."

Kepala Sekolah yang sedari tadi memerhatikan Sungmin dan Guru Seo pun hanya tersenyum kemudian menatap Sungmin yang saat ini tengah menunduk karena malu.

"Sungmin-sshi, Aku memanggilmu karena ia ingin menyambutmu secara pribadi. Aku senang melihatmu yang tampak sangat sehat." Ujar Kepala Sekolah disertai dengan senyum sela-sela wajah keriputnya.

"Terima kasih banyak atas perhatian Bapak. Jika bukan karena Bapak, mungkin saya tidak akan bisa berada di sekolah ini."

Kepala Sekolah menggeleng mendengar ucapan Sungmin, "Ah, aku tidak banyak melakukan apa-apa. Aku hanya takut tidak bisa memberikan kesempatan pada siswa seperti dirimu. Jadi aku justru berterima kasih padamu. Sungmin, aku akan mendukungmu untuk membantu mewujudkan impianmu."

Sungmin tersenyum mendengar penuturan tersebut kemudian menatap lelaki paruh baya itu dengan semangat. "Baik, Kepala Sekolah. Saya akan belajar dengan keras."

.

.

Sungmin kini tengah berjalan kembali ke kelas. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti kala mendengar Donghae menyanyi sendirian di ruangan yang tengah dalam keadaan sepi itu.

Gadis itu pun memilih untuk menyembunyikan tubuh mungilnya disamping pintu kelas. Ia pun menikmati suara Donghae yang dari dulu hingga sekarang masih saja membuat Sungmin terkesima dan tak akan pernah merasa bosan untuk mendengarnya. Gadis itu pun tersenyum kemudian teringat akan sesuatu yang membuatnya tak akan pernah bisa melupakan Donghae.

-Flashback-

2 tahun yang lalu…

Donghae menyanyi di sebuah Rumah Sakit untuk menghibur dan memberi semangat untuk para pasien yang berumur 15 tahun kebawah.

Salah seorang gadis yang tengah memakai kupluk merah muda yang menutupi kepala botaknya kini tengah memandang Donghae dengan tatapan berbinar. Tahukah kalian jika gadis yang terus mengukir senyum lewat bibir pucatnya itu adalah Lee Sungmin? Seperti gadis sehat pada umumnya, tak henti Sungmin memamerkan senyum manisnya bahkan gadis itu sangat mengagumi seorang Donghae, idola sekaligus lelaki pujaannya.

Setelah selesai menyanyikan part terakhir lagu tersebut, Donghae pun berdiri dari duduknya kemudian menyapa seluruh pasien beserta para staf rumah sakit dan memberikan pertanyaannya. "Apa ada yang mau menyanyi sebagai hadiah untuk oppa/hyung ini?"

Seorang anak perempuan pun mengangkat tangan dengan girang hingga membuat Donghae tersenyum manis padanya.

"Ya?"

"Ada." Anak perempuan itu menoleh ke arah Sungmin yang berada disampingnya kemudian menatap Donghae lagi dengan tatapan berbinar, "Eonni selalu bilang ia adalah fans-mu Oppa! Eonni bilang ia benar-benar mencintai Donghae Oppa."

Mendengar penuturan anak perempuan itu sontak saja membuat seisi ruangan itu tertawa dan hal itu saja membuat Sungmin menjadi malu. Tapi walaupun begitu, Sungmin tetap maju kedepan untuk menyanyi walaupun dadanya merasa deg-degan ketika harus berdiri bersebelahan dengan Donghae.

Gadis itu pun melirik sebentar kearah Donghae yang ternyata juga memperhatikannya. Donghae pun menyadari jika Sungmin saat ini tengah gugup sekaligus bingung. Ia pun mempersilahkan Sungmin untuk duduk di depan piano.

Sekali lagi Donghae pun memberikan senyum tulusnya kepada Sungmin, kemudian lelaki itu pun memilih untuk mendudukkan diri diatas kursi yang ditempati Sungmin sebelumnya. Sedangkan Sungmin kini tengah menarik nafasnya pelan, kemudian mendekatkan bibirnya kearah microphone sambil memandang seluruh pasien yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit, sama seperti dirinya.

"Pelangi akan muncul setelah adanya hujan dan karena pelangi di langit biru itu, aku percaya semua impian kita akan terwujud. Semangat!" Setelah mengucapkan kata mutiara itu, Sungmin pun mulai menyanyikan lagu Over The Rainbow.

Ternyata suara Sungmin itu bagus sekali hingga Donghae pun menegakkan duduknya dan tampak kagum ketika mendengar suara merdu Sungmin. Donghae benar-benar menikmati alunan merdu suara dan melodi dari piano yang gadis itu nyanyikan. Hingga lagu itu pun selesai, Donghae lah yang pertama kali memberikan tepukan tangannya untuk Sungmin.

Kepala Sekolah Daehan yang juga berada di tempat itu pun ternyata merasa kagum dengan Sungmin. Kepala Sekolah merasa jika Sungmin adalah seorang calon bintang yang sudah memiliki bakat yang luar biasa hingga gadis itu hanya butuh sedikit latihan lagi untuk penyempurnaannya.

Kepala Sekolah sangat yakin jika gadis itu akan menjadi sukses nantinya karena terlihat jika ia adalah contoh gadis pekerja keras dan tak pantang menyerah. Banyak juga informasi baik yang Kepala Sekolah dapatkan dari seorang suster yang merawat Sungmin hingga itulah awalnya mengapa Lee Sungmin bisa diterima di Sekolah Seni Daehan di tengah semester.

.

.

Setelah dari ruang kepala sekolah, Sungmin pun kembali ke kelas kemudian duduk di kursinya. Ia pun menoleh kearah kiri, namun ia baru menyadari jika hari ini Irene tidak masuk.

"Apa dia masih marah?" Gumam Sungmin ketika mengingat jika sejak kejadian tadi malam, hingga pagi tadi Irene belum juga pulang ke asrama. Ingin sekali Sungmin menelpon Irene, tapi ia baru sadar jika sampai sekarang ia tidak pernah meminta apalagi meminta nomor telepon teman sekamarnya tersebut.

Tak lama Guru Seo pun masuk kelas hingga membuat suasana kelas berangsur hening. Wanita itu pun menatap seluruh penjuru kemudian memberikan senyuman untuk para siswa siswi nya.

"Perhatian semuanya. Ibu mengumumkan jika kita semua akan mengadakan festival Sekolah Seni Daehan."

Mendadak kelas menjadi ramai kembali hingga berbagai macam ekpresi pun mereka tunjukkan bahkan kentara sekali jika mereka merasa sangat tertarik dan ingin berpartisipasi dalam event tersebut.

"…Kelas kita dipilih untuk tampil di bagian final. Ibu akan mengadakan workshop untuk memilih grup mana yang pantas tampil. Semua semangat."

"SEMANGAT!" Teriak satu kelas dengan tak kalah bersemangatnya, termasuk Sungmin yang saat ini sibuk menerawang, kira-kira apakah ia bisa ikut berpartisipasi dalam event tersebut atau tidak.

.

.

Sepulang sekolah.

Sungmin pergi ke kantor management Irene sendirian. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Irene karena sampai sekarang ia masih memikirkan keadaan perempuan-…ani lelaki yang menyamar sebagai perempuan tersebut.

Setelah bertanya kepada salah satu staf yang lewat, Ia pun berjalan ke salah satu ruangan bertuliskan 'Manager Choi's Room' kemudian mengetok pintu kayu tersebut dari luar.

"Masuk."

Sungmin pun menarik knop pintu kemudian perlahan melangkah masuk dan kini malah mendapati seorang wanita cantik yang sedang sibuk mengunyah ayam ditangannya.

"Annyeong haseyo." Sapa Sungmin kepada wanita tersebut hingga wanita itu pun berhenti mengunyah kemudian mengelap tangan lentiknya dengan tissue.

"Ne. Annyeong haseyo. Duduk lah dulu." Sungmin pun memilih untuk ikut mendudukkan diri di atas sofa panjang didepan wanita tersebut.

"Apa kau akan ikut audisi? Kau sudah membawa berkasnya? Apa sudah lengkap? Tunggu ne, sebentar lagi manager Choi akan datang-…" Lanjut Kibum sambil meminum segelas cola yang menganggur diatas meja.

"Bukan. Saya adalah teman sekamar Irene."

"Teman sekamar-…Ne?!"

Kibum mendadak panic hingga matanya kini tengah membulat sempurna, "Teman sekamar Irene? Kenapa kau kesini?!"

Tepat saat mengatakan itu, tiba-tiba saja Kyuhyun berjalan keluar dari salah satu ruangan lain dan hal itu tentu saja semakin membuat Kibum terserang panic-attack. Ketika Kyuhyun semakin mendekat kearah sofa, dengan teganya Kibum pun berusaha menutupi rambut Kyuhyun dengan kresek bekas ayam yang berada diatas meja.

"Sembunyikan wajahmu?! Ada teman sekamarmu disini?!" Bisik Kibum panic namun Kyuhyun malah menjadi marah karena rambut yang barusan ia cuci kini malah menjadi bau ayam goreng.

"Ya! Hentikan! Apa yang Noona lakukan? Tidak apa-apa. Dia sudah tahu." Kyuhyun berujar kesal setelah kresek itu berhasil menjauh dari rambutnya.

Kibum pun saat ini hanya bisa terdiam. Bingung harus menunjukkan ekpresi seperti apa. Akhirnya wanita cantik itu pun memilih untuk duduk kembali kemudian memandang tak enak kepada Sungmin.

"Mianhae. Aku kira kau belum tahu jika Kyuhyun sebenarnya adalah laki-laki."

"Kyuhyun?" Tanya Sungmin ketika baru pertama kali ini mendengar nama tersebut kemudian Kibum pun mengangguk sambil menatap Kyuhyun yang saat ini tengah sibuk menata kembali rambutnya.

"Ne. Nama Irene sebenarnya adalah Cho Kyuhyun. Apa dia belum memberitahumu?"

Sungmin pun menggeleng hingga Kibum pun mengangguk mengerti dan memilih untuk melanjutkan acara makan ayamnya kembali.

Kyuhyun saat ini masih sibuk dengan tatanan rambutnya, sedangkan Sungmin sibuk menatap Kyuhyun secara diam-diam. Sempat Kyuhyun menyadari jika dirinya tengah diperhatikan dan menoleh kearah Sungmin, namun cepat-cepat gadis itu membuang wajahnya hingga membuat Kyuhyun pun mengernyitkan alisnya.

'Dia kenapa?'

.

.

Siwon pun menyajikan sebotol cola untuk Sungmin. Gadis itu pun menerimanya walaupun ia kini dalam keadaan canggung sekaligus bingung.

Siwon pun hanya tersenyum mendapati tingkah Sungmin karena lelaki itu tentu menyadari apa yang terjadi pada gadis manis didepannya. "Aku berterima kasih karena Nona Sungmin mau datang jauh-jauh kesini karena mencemaskan Irene. Tapi kau belum mengatakan apapun kan?"

Sungmin pun melirik kearah Siwon sebentar kemudian ia pun tersenyum canggung sambil menggelengkan kepalanya. "Belum, tapi aku bingung."

"Aku mengerti. Ini memang sulit dijelaskan." Siwon pun melirik kearah Kyuhyun sebentar yang saat ini tengah sibuk dengan mp3 ditangannya. "Dia juga masih harus menyesuaikan dengan kehidupan sekolah. Jika masalah ini terungkap akan menjadi bencana baik bagi Irene maupun untuk Kyuhyun. Kau pasti mengerti dengan maksudku kan?"

Sungmin hanya diam mendengar pernyataan tersebut hingga Siwon pun hanya dapat menghela nafasnya. "Baiklah jika kau tidak ingin menjawabnya. Tapi bisakah kau menganggap lelaki yang menjadi teman sekamar mu ini hanya sebagai Irene saja. Hanya Irene. Hm?"

Kibum yang memperhatikan mereka berdua pun akhirnya mulai angkat bicara, "Kau juga bukan tipe-nya Kyuhyun, jadi jangan khawatir. Sekamar dengannya tidak akan mungkin terjadi apa-apa padamu. Percayalah."

Siwon dan Kyuhyun sontak membulatkan mata mereka mendengar penuturan mengerikan dari wanita tersebut. Bahkan Siwon pun menatap istrinya dengan pandangan 'Apa yang kau katakan!'

"Memangnya aku bicara apa?" Tanya Kibum dengan suara nyaring hingga membuat Siwon mendadak kikuk ketika dipandangi dengan tatapan aneh dari Sungmin.

Siwon pun hanya dapat menggaruk belakang kepalanya yang memang dalam keadaan gatal kemudian memandang Sungmin tak enak. "A-aa.. .Bagaimana kau bisa tahu tipe Kyuhyun?" Ujarnya cengengesan sambil melirik Kibum lalu beralih menunjuk Sungmin. "Coba lihat dia, dia cantik, dia punya kharisma. Aku justru menawarkan kesempatan debut padamu Nona Sungmin jika kau mau. Otte?"

Permintaan yang mengarah pada arah sogokan itu terang saja membuat Sungmin menggeleng kemudian melirik Kyuhyun sebentar yang saat ini seolah masih tidak peduli dengan keberadaannya. "Aku tidak membutuhkan itu, aku hanya tidak ingin ada yang terluka karena ku."

Ucapan itu sontak membuat Kyuhyun menoleh ke arah Sungmin dengan tatapan herannya. Sedangkan manager Choi kini malah merasa lega kemudian memandang Sungmin dengan senang, "Terima kasih. Terima kasih banyak kalau begitu."

Ia pun mengambil ayam goreng milik Kibum yang masih tersisa 1 kresek penuh kemudian menyajikannya di depan Sungmin, "Ini silahkan dinikmati sebelum pergi. Tapi aku masih ada urusan setelah ini. Akrab lah dengan Kyuhyun dan istriku Kibum." Siwon sudah berniat untuk pergi namun tiba-tiba saja gadis itu menatapnya.

"Tapi!" Siwon bergegas duduk lagi dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan Sungmin selanjutnya. "Aku merasa ini tidak benar. Berbohong pada semua orang itu adalah suatu hal yang jahat. Aku akan pura-pura tidak tahu untuk sementara ini. Tapi tolong selesaikan masalah ini tanpa menyakiti orang lain. Aku akan merahasiakan masalah ini sampai saat itu semuanya sudah selesai."

"Baiklah. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini dengan baik."

"Tunggu!" Siwon sudah mulai ingin pergi lagi namun ternyata Sungmin belum selesai bicara, dan! Siwon akhirnya duduk kembali, "Ya?"

"Aku merasa tidak nyaman ketika Kyuhyun mendiamkanku seperti orang asing padahal kami berada dalam satu kamar yang sama. Jadi, aku minta Kyuhyun untuk mendengarkanku setiap waktu agar komunikasi diantara kami selalu terjalin."

Kyuhyun sontak menoleh kearah Sungmin dengan mata membulat karena merasa tidak terima dengan ucapan Sungmin. "Kenapa aku harus melakukannya?"

Siwon pun menjitak kepala Kyuhyun kemudian memarahi idol kesayangannya, "Issh, kau ini!"

Manager Choi pun kembali menatap Sungmin kemudian memberikan senyum menawannya, tanpa peduli dengan wajah Kyuhyun yang saat ini tengah memerah karena menahan sakit akibat jitakan Siwon yang ternyata sangat keras.

"Dia akan melakukan apapun yang kau inginkan."

Sungmin pun tersenyum ucapan tersebut kemudian mengangguk mengerti. Gadis itu kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya kemudian menunjukkannya pada ketiga orang tersebut hingga mereka bertiga sontak mendekat kearah kertas tersebut.

"Apa ini?" Tanya Kibum dengan alis berkerut namun Sungmin masih tetap menunjukkan senyum manisnya. "Baca lah."

Aturan tinggal bersama :

1. Ketuk pintu sebelum masuk ke kamar.

2. Ganti baju di luar kamar/di kamar mandi.

3. Jangan pernah meminjamkan kamar mandi kepada teman asrama lain.

4. Nyalakan lampu ketika tidur.

5. Dilarang keluar asrama setelah jam malam.

"Kau mengaturku?" Kyuhyun berucap tidak terima namun Siwon kembali memandang tajam lelaki tersebut kemudian kembali meminta maaf.

"Maafkan sifat Kyuhyun yang cerewet ini, ne? Ku harap kau bisa membiasakan diri untuk menghadapinya."

Gadis itu hanya mengangguk, tak peduli dengan Kyuhyun yang tengah memasang wajah masam. Tapi yang jelas Sungmin puas dengan segala aturan-aturannya.

.

.

Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Kyuhyun pun akhirnya keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan kaos dalam. Sekarang giliran Sungmin yang panik kemudian menutupi matanya.

"Apa yang kau lakukan!" Teriak Sungmin dari atas tempat tidur namun Kyuhyun tetap acuh dan berjalan mendekati ranjang.

"Kau sudah tahu kan aku adalah laki-laki, jadi apa lagi? Kita hidup dengan nyaman saja. Bahkan aku sudah berusaha untuk membiasakannya, masa kau tidak?"

Sungmin sontak memandang Kyuhyun dengan kesal bahkan ia baru tau jika dibalik sifat Irene yang terlihat polos diluar, tersimpan jiwa lelakinya yang amat sangat menyebalkan. "Siapa yang setuju dengan itu, huh? Apa kau pikir tidak masalah kalau hanya kau yang merasa nyaman. Tapi bagaimana denganku? Kau tidak mengerti perasaanku kan?"

"Tidak." Jawab Kyuhyun dengan datar hingga membuat Sungmin bertambah kesal. 'Lelaki ini benar-benar?!'

Masih dengan acuhnya, Kyuhyun pun mengambil t-shirtnya yang terletak diatas ranjang yang berada tepat didepan Sungmin. Menyadari jika Kyuhyun telah mendekat, Sungmin sontak saja menutup matanya karena merasa malu jika melihat ada seorang lelaki yang hampir toples didepan matanya.

Merasa jika tidak ada pergerakan, perlahan Sungmin pun mengintip dari sela jarinya dan ia tiba-tiba saja terdiam kaku. Dilihatnya saat ini Kyuhyun tampak berkilauan ketika lelaki itu mengibaskan rambutnya dengan gaya slow motion dan tentu membuat siapa pun akan meleleh melihatnya.

Kyuhyun yang menyadari jika Sungmin sama sekali tak bersuara, lelaki itu tentu merasa heran kemudian menoleh dan mendapati Sungmin yang tengah menatap tanpa berkedip kearahnya.

"Kenapa? Aku ini anak laki-laki tapi lebih cantik daripada dirimu kan?"

Sungmin pun tersadar kemudian menggelengkan kepalanya merasa tak terima dengan ucapan narsis dari Kyuhyun, "Ck. Terlalu percaya diri." Gadis itu pun perlahan menarik selimutnya kemudian melirik Kyuhyun yang saat ini sudah duduk diatas ranjang.

"Tetap ikuti saja aturannya. Ku harap kau tak akan melanggarnya."

Sungmin pun merebahkan tubuhnya membelakangi Kyuhyun yang saat ini tengah mengernyitkan alisnya, kemudian tak lama berdecak sambil mengacak sedikit rambutnya.

"Kau ini mirip seperti induk ayam." Ejek Kyuhyun namun Sungmin berusaha tidak mendengar, namun senyum tipis perlahan terukir dari bibir mungilnya.

.

.

Esok paginya, Sungmin benar-benar memulai harinya sebagai induk ayam bagi Kyuhyun. Gadis itu terus menempel pada Kyurinie-panggilan Sungmin untuk Kyuhyun sebagai Irene dan terang saja membuat satu sekolah menatap aneh kearah mereka.

'Sejak kapan anak baru itu menjadi dekat dengan Irene?' Itulah pertanyaan yang paling banyak terlihat dari wajah mereka namun Sungmin seolah tak peduli dan malah menikmati kegiatan barunya.

Ketika di koridor, Sungmin melihat Irene bersama fans-nya didekat jendela dan fans-nya berdiri terlalu dekat dengan Irene. Sungmin sontak merasa takut jika Kyuhyun akan ketahuan. Ia buru-buru menggandeng tangan Irene dan mengajaknya segera masuk ke dalam kelas. Fans Irene tentu saja merasa geram dan tatapan mematikan itu terus mereka layangkan pada tangan Sungmin yang berada di lengan idol mereka.

"Baru kali ini kita bisa bicara sedekat ini." Sungmin nyengir sendiri ketika berbisik pada Kyuhyun kemudian menatap Kyurinie dengan mata berbinarnya , "Kau bisa berterima kasih padaku nanti."

Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas hingga Sungmin pun hanya terkekeh tanpa sadar jika tangannya masih bertengger dilengan Kyuhyun sedari tadi.

Ketika jam olahraga, Sungmin meminta Kyuhyun untuk ganti baju duluan di toilet wanita sedangkan gadis itu menunggunya didepan pintu. Sungmin pun menempel pemberitahuan 'Toilet Rusak' di depan pintu dan berjaga untuk Kyuhyun.

Lain lagi halnya ketika di Kantin. Kyuhyun kini tengah minum dan tanpa sadar memperlihatkan jakunnya. Hal itu terang saja membuat Sungmin panic apalagi ketika melihat the Heckle berjalan mendekat kearah meja mereka.

Sungmin cepat-cepat menutupi jakun Kyuhyun dengan wig yang Kyuhyun kenakan. Tapi dari pandangan the Heckle yang selalu berpikiran negative tentang Sungmin, mereka bertiga pun kompak berpikir jika gadis itu seperti mencekik Irene.

"Kupikir anak baru itu sudah gila!" Bisik Ryeowook pada Key disebelahnya namun juga berhasil didengar oleh Heechul yang terus menatap Sungmin dengan jengkel. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan langkah mereka, sedangkan Sungmin yang sedari tadi memperhatikan ketiga gadis itu pun akhirnya bisa bernapas dengan lega.

"Akhirnya mereka pergi juga." Sungmin pun melirik Kyuhyun yang saat ini sudah selesai dari acara makannya kemudian menarik Kyuhyun untuk beranjak pergi lagi, dari pada harus dihadapkan dengan tatapan 'ingin tahu' dari seluruh isi Kantin yang benar-benar membuat gadis itu merasa risih.

Setelah kejadian di Kantin tadi, Sungmin pun mengajak Kyuhyun untuk kembali ke kelas, namun tiba-tiba saja lapisan dada sebelah kanan Irene jatuh ke lantai hingga membuat Sungmin kembali panic bukan main.

Sungmin berusaha menyelamatkan lapisan dada Irene yang jatuh kemudian mengajaknya kearah pojokkan. Gadis itu pun berusaha untuk memasukkan kembali lapisan itu ke 'tempat'nya. "Aku bisa sendiri!" Bisik Kyuhyun jengkel kemudian menyumpalkannya sendiri hingga akhirnya berbentuk kembali hampir mirip seperti milik gadis puber yang seumuran dengan Sungmin ini.

Setelah selesai, Kyuhyun pun kembali menarik Sungmin agar mereka tidak terlalu lama berada dipojokkan karena terlalu mencurigakan jika mereka harus berdiri disana. "Kau justru akan membuatku ketahuan. Bersikap sewajarnya saja karena sejak tadi kau terlalu berlebihan."

"Mianhae. Aku takut jika kau akan ketahuan. Bukan hanya kau mendapat masalah, aku juga pasti akan terkena imbasnya juga kan?"

Ucapan gadis pendek didepannya ini sebenarnya ada baiknya juga. Kyuhyun pun akhirnya mengalah sambil menatap gadis itu pasrah. "Terserah kau saja."

Sungmin pun terkekeh mendengarnya hingga matanya tertuju pada atas bibir Kyuhyun yang terlihat janggal, "Kau mulai berkumis? Disitu mulai terlihat hitam." Tunjuk Sungmin hingga membuat Kyuhyun kaget kemudian menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

"Jinjja?"

"Eum. Tidak terlalu terlihat. Tapi malam ini kau benar-benar harus mencukurnya. Pulang dari sekolah kita ke mini market terlebih dahulu untuk membeli pencukur dan cream-nya."

Lelaki itu pun mengangguk mengerti kemudian mereka pun kembali berjalan beriringan untuk masuk kedalam kelas.

Namun mereka tidak menyadari jika fans Irene mengamati mereka dari jauh dengan wajah kesal. Mereka menyangka jika Sungmin seperti mengganggu Irene.

"Kalian lihat? Irene terlihat tak suka dengan keberadaan gadis baru itu. Bahkan Irene menutup mulutnya ketika wajah gadis itu berada dekat dengan nya. Aku rasa nafas gadis itu bau." Shindong berujar asal namun ternyata Henry dan Kangin malah mengangguk mengiayakan.

"Kau benar. Tumben hari ini kau pintar? Ku kira kau taunya hanya makan saja." Celetuk Kangin hingga Shindong pun terkekeh karena merasa bangga dengan pemikirannya.

Tak berapa lama, tiba-tiba saja Grup Heckle datang kemudian menghadang Grup Ahnkle. Dua grup Looser itu pun saling melayangkan tatapan tajam. Heechul pun maju duluan kemudian memandang Kangin, ketua grup Ahnkle dengan remeh.

"Kami yang lebih dulu ingin berurusan dengan Sungmin. Jangan harap kalian bisa mengganggu target kami!" Heechul berujar memperingatkan namun Kangin hanya mendecih sambil menatap malas kearah wanita kurus didepannya.

"Hei, harusnya kami yang mengatakan itu. Sungmin adalah target kami! Urus saja ikan kalian sana!"

Jika diibaratkan, nampak jika aliran listrik bertegangan tinggi yang saling terhubung dari mata mereka masing-masing tak lupa dengan suara gertakan gigi yang saling bersahutan dari kedua kubu tersebut.

Anehnya mereka kini malah berdebat untuk memperebutkan hanya siapa yang boleh membully seorang Lee Sungmin. Hingga sebuah suara teriakan kepala Sekolah yang menyuruh mereka untuk tidak bertengkar dari arah pojok sana pun membuat kedua kubu itu bubar walaupun masih kentara aura permusuhan diantara mereka.

.

.

Suasana taman yang sedang sepi membuat Donghae yang sedari membuntuti Irene pun kini mulai mendekati 'perempuan' itu lagi dan kali ini dengan gaya yang ia buat se-keren mungkin.

"Hai, Irene." Sapa Donghae ketika lelaki tampan itu berhasil mendudukkan diri disamping Irene yang ternyata sedari tadi sibuk melamun dan baru menyadari jika dirinya tidak lagi sendirian disini.

Irene pun melirik Donghae sebentar kemudian memberikan senyum manis ala Irene sendiri hingga membuat darah Donghae berdesir kemudian menatap mata Irene dengan tatapan teduhnya.

"Kudengar kau juga suka dance. Ini ide bagus kan? Kita berdua sama-sama menyukai dance. Aku sungguh senang mendengarnya jika kita memiliki hobi yang sama." Donghae nampak menerawang dengan segala pemikirinnya, berbeda dengan Irene yang kini tengah menunjukkan ekpresi bingungnya. 'Bagaimana dia tahu tentang itu?'

Merasa jika Irene saat ini benar-benar merasa bingung, lelaki itu pun menghadapkan tubuhnya tepat kearah Irene tak lupa dengan mata berbinarnya.

"Aku tau kau pasti bingung untuk menjawabnya kan? Tapi tak masalah. Kalau kita tidak punya waktu latihan bersama, kita bisa latihan sendiri-sendiri. Setelah itu, kita bisa menggabungkan tarian kita dengan singkat sebelum workshop. Kita bisa akhiri dengan couple-dance untuk workshop tahun ini. Bagaimana? Apa kau setuju?"

Donghae sangat berharap jika Irene akan menyetujuinya dan siapa sangka jika Irene mengangguk. Perempuan itu pun pergi meninggalkan Donghae yang tentu saja merasa sangat senang sekali. Ia pun berlari mengejar Irene dan kembali menggoda perempuan tersebut.

Namun mereka tidak tahu jika Reporter Kang sedari tadi sudah menyamar jadi tukang kebun dan merekam semuanya yang telah terjadi barusan. Reporter Kang merasa sangat senang dengan hasil jepretannya dan berniat untuk segera pergi, namun beruntung Kibum yang saat itu tengah berkeliaran disekitar sekolah Kyuhyun dengan cepat menyadari hal ini dan menarik Reporter Kang ke dalam mobilnya.

"Y-ya! Kau ini wanita tapi kenapa tenagamu kuat sekali, eoh?!"

Seolah tak perduli dengan ucapan Reporter Kang, Kibum pun merampas kamera yang tergantung di leher Kang hingga pria itu pun membulatkan matanya.

"Ya! Aku tidak mengambil gambar. Tolong kembalikan kameraku! Aku benar-benar membutuhkannya saat ini!"

Kibum tetap tidak mengembalikan kamera itu dan kini mengambil memori didalamnya kemudian menyimpannya tepat didalam saku didepan kemeja bagian dadanya.

"Yaish! Apa yang kau lakukan wanita gila?!"

"Kau yang gila! Ini kameramu! Pergi menjauh sana dan berhentilah menggaggu Irene!" Usir Kibum hingga lelaki itu tertendang keluar dari mobilnya.

Dalam hitungan detik, mobil Kibum pun berlalu kencang meninggalkan Reporter Kang yang hanya dapat merutuki nasibnya akibat dari 2 memori kameranya sudah diambil semua oleh pasangan suami-istri yang menurutnya sama-sama mengerikan dan tidak waras.

"Haishh!"

.

.

Malamnya, Kyuhyun ingin menyelinap lagi keluar asrama. Dengan langkah pelan, ia pun melirik ke atas ranjang Sungmin dan mendapati jika tubuh pendek itu sudah terbungkus sempurna dibalik selimut.

'Kurasa gadis itu sudah tidur.' Pikir Kyuhyun dengan wajah sumringah kemudian kembali memasang wig dan berdandan ala Irene kembali.

Ia pun membuka jendela kamar dan melompat. Setelah mendarat dengan sempurna di atas tanah, Kyuhyun pun kembali berdiri namun terkejut ketika ada seorang gadis yang berdiri tepat didepannya.

"OMMO!"

Ternyata Sungmin lah yang kini sudah berkacak pinggang sambil memperlihatkan kertas peraturan yang telah ia buat kemarin ditangannya.

"Kau menakutkanku!" Kaget Kyuhyun sambil mengusap dadanya ketika menadapati Sungmin yang ternyata tidak tidur dan kini malah terlihat segar seperti baru saja selesai mandi.

Tak peduli dengan ucapan Kyuhyun, gadis itu pun menunjuk peraturan no. 5, 'dilarang keluar asrama setelah jam malam' yang berhasil membuat Kyuhyun jadi kesal bukan main.

"Memangnya kau siapa berani melarangku?"

"Ck. Kau seharusnya 100x lebih hati-hati dibanding anak lainnya. Kau benar-benar berani, bagaimana bisa kau seenaknya menyelinap keluar malam-malam seperti ini? Aku sudah merasa kepalaku akan meledak karena pura-pura tidak tahu kalau kau adalah anak laki-laki. Terus kau mau aku pura-pura tidak tahu kalau kau menyelinap pergi? Aku juga akan mati kalau kau ketahuan." Gerutu Sungmin dengan sangat kesal namun Kyuhyun malah bersikap santai sambil melanjutkan langkahnya.

"Aku tidak akan tertangkap, jadi kau jangan khawatir."

Langkah Kyuhyun kembali terhenti kala Sungmin menahan pergelangan tangannya. Kyuhyun yang tak terima pun berusaha menyingkirkan tangan gadis yang hobi sekali mengunci lengannya.

"Lepaskan!"

"Tidak mau! Katanya kau mau mendengar apa kataku. Aku pasti tidak akan melepaskanmu."

"Ku bilang lepaskan!"

"Tidak akan!"

Keduanya pun akhirnya menjadi ribut sendiri hingga menarik perhatian Penjaga Sekolah. Menyadari jika ada sinar lampu senter yang lewat dibelakang Sungmin, dengan cepat Kyuhyun pun menarik Sungmin untuk merunduk dibalik semak hingga membuat Sungmin terkejut.

"Ada apa-…hmmppthh!" Dengan cepat Kyuhyun pun membungkam mulut Sungmin hingga gadis itu membulatkan matanya.

"Diamlah! Jangan berisik! Kau tidak ingin kita ketahuan disini kan?"

Tak lama gadis itu pun mengangguk hingga Kyuhyun pun menghela nafasnya. Lelaki itu pun kembali bangkit dan memastikan apakah si penjaga sekolah sudah pergi atau tidak, hingga ia pun mendapati lelaki tua itu sudah berada di ujung lapangan dan berbelok untuk memasuki gedung asrama.

"Kita sudah aman. Ayo pergi!"

Kyuhyun pun menarik Sungmin dari tempat persembunyian mereka hingga akhirnya Kyuhyun mengajak ke studio latihannya.

Hanya mereka berdua di ruangan berukuran sedang yang dikeliling oleh cermin tersebut. Gadis itu pun memilih untuk duduk pinggir ruangan sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudutnya.

"Apa kau pergi ke studio ini setiap malam?"

Kyuhyun tidak menjawab. Lelaki itu lebih memilih untuk menyalakan musik dan mulai menari. Sungmin yang melihat tarian itu pun terang saja menjadi kagum dan terpesona melihatnya.

"Aku tidak menyangka jika kau adalah seorang dancer yang handal." Kyuhyun hanya tersenyum mendengar pujian tersebut hingga lelaki itu pun mengakhiri tariannya.

Setelah latihan, Kyuhyun pun mengajak Sungmin untuk naik ke rooftop studio hingga mata mereka kini disuguhkan dengan pemandangan indah kota Seoul di malam hari.

Gadis itu pun menarik nafasnya pelan, kemudian memandang Kyuhyun yang saat ini tengah sibuk memandang langit malam dengan kepala yang mendongak.

"Hei, aku ingin tahu apa yang dikatakan Donghae padamu tadi siang."

"Kau melihatnya?"

"Eum. Aku baru saja akan mendatangimu tapi tidak jadi karena ada Donghae disana."

Kyuhyun pun mengangguk mengerti kemudian kembali menatap langit diatasnya, "Dia ingin menari pasangan untuk evaluasi nanti. Dia berpikir untuk membuat suatu kenangan atau semacamnya."

Sungmin geli sendiri mendengar ucapan Kyuhyun kemudian ikut membayangkan bagaimana jadinya jika mereka dapat menari bersama. "Donghae dan Irene akan menjadi pasangan terbaik."

"Aku berpikir untuk mencuri beberapa teknik dance-nya saat menari bersamanya." Senyum Sungmin sontak memudar mendengar ucapan Kyuhyun kemudian alisnya kini mengernyit tak suka.

"Kalau begitu aku menentangnya. Jika kau melakukan itu berarti kau hanya memanfaatkan hati Donghae."

Kali ini Kyuhyun yang menjadi kesal kemudian memandang gadis itu tak suka, "Apa kau begitu menyukai anak itu hingga kau segitu membelanya?"

"Jangan bicara tentang Donghae seperti itu. Bagiku dia itu sangat istimewa."

"Istimewa apanya." Cibir Kyuhyun masih merasa jengkel, tanpa menyadari jika ekpresi Sungmin saat ini sudah berubah menjadi sendu tidak seperti biasanya.

"Aku sakit-sakitan. Sampai tahun lalu aku masih di Rumah Sakit sepanjang waktu. Kau pernah dengar penyakit leukimia kan?"

Ucapan lemah Sungmin sontak membuat Kyuhyun nyaris tersedak kemudian menatap gadis itu dengan mata membulatnya. "A-apa?"

"Seperti yang ku katakana. Pengobatannya juga sangat menyakitkan. Aku takut sekali, memikirkan masih berapa lama aku bisa hidup. Tapi aku menyukai dan suka mendengarkan lagu-lagu Donghae. Aku merasa seperti anak-anak lain yang sehat saat itu."

"… Suatu hari Donghae datang ke Rumah Sakit dimana aku dirawat. Seperti keajaiban..."

Donghae kini tengah memberikan foto dan tanda tangannya untuk Sungmin. Ia pun memberikan semangatnya sambil mengepalkan tangannya di udara, "Kau harus semangat dan berjuang. Aku akan mendukungmu. Kita ketemu lagi kalau kau sehat nanti. Janji?"

Donghae pun mengulurkan jari kelingkingnya pada Sungmin dan keduanya membuat janji dengan kelingkingnya. Setelah jari itu bertaut, Sungmin pun tersenyum disela bibir pucatnya kemudian memandang Donghae dengan tulus, "Janji."

"…dan kata-kata itu memberiku kekuatan yang luar biasa. Janji untuk bertemu lagi saat aku sudah sehat. Aku benar-benar ingin memenuhinya."

Kyuhyun tertegun ketika mendengar cerita mengejutkan tersebut kemudian memandang Sungmin dengan tak enak hati. Menyadari ekpresi yang Kyuhyun berikan, Sungmin kini malah tertawa kemudian mendorong lengan Kyuhyun agar lelaki itu tersadar dari acara diamnya, "Kau kaget ya? Jangan khawatir, aku sudah sehat sekarang."

Ucapan senang disertai senyuman itu entah mengapa membuat darah Kyuhyun menjadi berdesir hingga tanpa sadar lelaki itu pun ikut mengukir senyum tulus melihatnya.

Lama mereka terdiam hingga Sungmin pun menoleh kearah Kyuhyun yang ternyata juga sudah lebih dulu menatapnya. "Tapi kenapa kau begitu keras belajar menari?"

Nampak jika namja itu terdiam sebentar kemudian tak lama menghela nafasnya pelan dengan wajah murungnya. "Aku ingin bagus dalam menari."

"Tapi kau seperti tidak menyukainya."

"Apa?" Tanya Kyuhyun ketika bingung dengan apa yang Sungmin maksudkan.

"Sepertinya kau tidak menikmati melakukannya. Kelihatannya kau seperti bergumul dengan tarian."

Ucapan Sungmin sontak baru menyadarkan Kyuhyun dari apa yang menjadi masalahnya dalam menari selama ini, "Bergumul dengan tarian?"

Lama Kyuhyun terdiam hingga akhirnya lelaki itu menoleh kearah Sungmin denga senyum memikat yang baru pertama kali Sungmin lihat dari Irene sebagai seorang lelaki.

"Terima kasih, Lee Sungmin."

.

.

.

-to be continued-

.

.

.

Chapter.3 is UPDATE!

Minal aidin wal faidzin semuanya. Mian kalo Author pernah membuat kalian tersinggung dan sebagainya. Mian juga untuk keterlambatan update nya. Bahkan saya juga telat satu hari buat bisa update di perayaan JOY Day.

Tak lupa Author ngucapin Happy JOY Day 10th untuk uri bumonim! Kyaaa… senengnya udah 10 tahun aja ya? Semoga dalam beberapa waktu dekat ini akan banyak kode-kode yang mereka berikan lagi buat kita dan berharap banget kalo uri Mommy kembali lagi kedalam pangkuan Kyu Dad T.T

Ottae ottae? Semoga chap ini gak mengecewakan yak? Ditunggu lagi review dari kalian semua ^^

Salam, JOYers!

Thanks to :

Harusuki Ginichi, Dwimin chan, Harukiee, ovallea, abilhikmah, lydiasimatupang2301, Frostbee, , bluepink137, innae, nakyu, orange girls, joy04, PaboGirl, nama yang lupa kesebut dan silent readers ^^