Misfortune Girl

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Story idea: Fynlicht

Genre: Romance and Crime(maybe?)

Warning!

OOC, AU, Typos, dan masih banyak lagi kesalahannya. Baik di sengaja maupun tidak.

Main pair: Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

Main Chara: Haruno Sakura dibantu kawan-kawan

.

Kapitel 2

.

.

.

"Uuuh… ittai!"

Sakura meringis kesakitan saat harus membalut lengannya yang terluka dengan perban yang baru. Kau tau? Semalaman dia tidak tidur karena harus menyelesaikan tugas yang Anko-sensei berikan. Apalagi dengan lengan kanan terluka. Ia mati-matian menahan sakit saat menulis. Sesekali ia berhenti, dan saat rasa sakit yang ia rasakan tidak tertahan lagi, ia menangis.

Alhasil, paginya penampilan Sakura semakin tidak terlihat baik-baik saja. Lingkar hitam dibawah mata dan bengkak karena kebanyakan menangis juga wajah yang pucat pasi membuatnya seperti zombie. Hanya tekad kuatnyalah yang membuatnya bertahan sampai pagi dengan tujuan mengumpulkan tugas tepat waktu. Lalu, sepulang sekolah niatnya akan pergi ke Rumah sakit.

"Kami-sama, berikanlah kekuatan padaku untuk hari ini…!" do'anya dalam hati sebelum berangkat ke sekolah. Ya, apa lagi yang ia harapkan selain kekuatan?

*~ Fynlicht~*

Begitu sampainya di sekolah, ia langsung menuju ruang guru, tepatnya Anko-sensei. Sesuai dugaannya sekolah masih sepi. Memangnya sekarang jam berapa? pukul 6 tepat. Sementara bel masuk berbunyi pukul 07.30. Tapi kan Anko-sensei menyuruhnya untuk datang pagi sekali. Jadi, Sakura benat]r, bukan?

Kali ini pening menyerang kepalanya membuat tubuh kurusnya terhuyung. Tapi, ia masih sadar kok.

"Permisi," ucapnya ketika memasuki ruangan Anko-sensei. Di luar dugaan ternyata sensei killer-nya ituu sudah duduk manis dibalik meja dengan beberapa dokumen di hadapannya. Sang pemberi hukuman menyuruh Sakura duduk.

"Duduklah! Biar kupriksa hasil kerjamu."

Sakura menyerahkan hasil tugasnya pada Anko-sensei. Tangannya bergetar bukan karena gugup tapi karena menahan sakit.

"Tidak perlu gugup, santai saja!" sensei killer itu tersenyum lalu memberi Sakura sebungkus roti. "Makanlah! Berangkat sepagi ini kau pasti belum sarapan."

Harus Sakura akui pagi ini Anko-sensei baik sekali.

"Arigatou, sensei."

Sakura memakan roti pemberian senseinya itu. Dalam hati ia ucapkan banyak terima kasih pada Kami-sama yang masih memberikannya sedikit keberuntungan pagi ini.

*~ Fynlicht~*

"Ya ampun… Sakura! Lihat dirimu!"

Ino memekik kaget kala melihat keadaan Sakura. Dia baru saja sampai di kelasnya. Ketika melihat sakura sudah duduk manis di tempatnya, dia menghampiri Sakura bermaksud untuk menyapanya tapi begitu melihat keadaan sakura, Ino membelalak kaget.

"Ada apa?" Tanya Sakura bingung.

"Ikut aku!" ucap Ino seraya menarik Sakura keluar kelas. Dia membawa Sakura ke toilet. Menghadapkannya ke depan cermin besar dalam toilet. Sakura makin bingung. Ia rasa tidak ada yang salah dengan penampilannya. Kecuali wajah pucat, mata sembab dan lingkar hitam di bawah matanya saja yang membuatnya berbeda.

"Hah, kau ini! Jangan bilang kalau kau begadang semalaman karena tugas yang diberikan sensei killer itu?"

"Ino, hati-hati kalau bicara! Kalau Anko-sensei mendengarnya kau pasti akan dimarahinya!" Sakura mengingatkan.

"Peduli amat! Yang penting sekarang adalah dirimu, Sakura! Lihat dirimu! Kau terlihat… berantakan? Menyedihkan? Zombie?!"

Bagi Sakura, ucapan Ino hanya terdengar seperti racauan tidak jelas. Pusing yang menyerang kepalanya membuat pandangannya tidak focus.

"──ra? Sakura? Hei! Kau dengar aku?"

"A, i, iya?"

"Hah…"

Tiba-tiba saja Ino melepas kacamata Sakura, lalu memutar keran wastafel.

"Cuci mukamu!"

Sakura menurut saja. Ia membasuh wajahnya dengan air, lalu Ino mengeringkan wajah Sakura dengan sapu tangan. Tangannya dengan cepat merapikan poni Sakura yang sedikit berantakan.

"Apa ini? Luka di wajah? Ya ampun…"

Ah, sepertinya Sakura lupa menutup luka di pipinya itu. Dengan telaten Ino menempelkan plester untuk menutupi luka di pipi Sakura sambil tak henti-hentinya mengoceh. Dia juga mengoleskan bedak tipis ke wajah Sakura. Terakhir, dia memasangkan kembali kacamata Sakura sambil tersenyum puas.

"Nah… begini lebih baik!" ucapnya sembari menepuk bahu Sakura membuat Sakura sedikit meringis.

"Karena terburu-buru aku jadi lupa bercermin," ucap Sakura dengan tawa garingnya. Mendengarnya Ino hanya menghela nafas, lalu mengajak Sakura kembali ke kelas.

*~ Fynlicht~*

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Bel tanda pulang sekolah tidak kunjung berbunyi, dan entah kenapa hari ini semua sensei mengadakan ujian mendadak yang mengharuskan Sakura menulis dengan tangan kanannya. Seandainya saja dia kidal, pasti tidak perlu tersiksa begini.

TENG. TENG. TENG

Dan akhirnya yang ditunggu berbunyi juga. Sakura menghela nafas lega. Ia akan segera ke rumah sakit untuk mengeluarkan peluru itu dari lengannya. Ia bergegas keluar kelas, tak lupa pamit pada Ino yang biasa pulang bersamanya. Ia berjalan dnegan tergesa-gesa. Rasanya tubuhnya sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu. Belum lagi pusing yang megelayuti kepalanya. Mungkin hari ini ia bolos kerja lagi.

*~ Fynlicht~*

"Khu… khu… khu… benar-benar gadis yang malang."

"Apa kita bergerak sekarang?"

"No. no! tidak sebelum matahari terbenam."

"ck, aku bosan menunggu. Buang-buang waktu saja! Lagi pula menangkap tikus itu adalah hal yang mudah, kenapa harus di tunda?"

"Biarkan dia merasakan indahnya mentari sore untuk terakhir kalinya."

"Cih!"

*~ Fynlicht~*

Aneh. Benar-benar aneh! Yang Sakura tunggu dari tadi tidak muncul juga. Memang sih di dekat sekolahnya ini jarang di lewati Taxi, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali kan?. Padahal, ia pikir akan lebih cepat kalau naik taxi. Tau begini, dia naik bus saja tadi. Dan sekarang tidak ada bus tidak ada taxi, adakah yang lebih buruk dari ini?

Hari mulai gelap dan dia berjalan sendiri di tempat yang sepi. Entah kenapa ia teringat dengan kejadian semalam. Bagaimana kalau hal yang sama terulang lagi? Sakura jadi parno, yang jelas dia harus segera mendapat tumpangan. Setidaknya sampai pusat kota saja, setelah itu dia akan mencari taxi untuk ke rumah sakit. Rencana yang tidak buruk, bukan?

Tapi, entah kenapa jalanan begitu sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Sakura mencengkram lengannya yang berdenyut sakit. Mungkin lukanya semakin parah. Apalagi peluru masih bersarang di lengannya itu.

'Kami-sama, kumohon tolong aku!" jeritnya dalam hati. Tentu saja dalam situasi seperti ini siapa lag yang bisa di mintai tolong selain Kami-sama, dan sepertinya do'a Sakura terkabul. Buktinya sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaca mobil perlahan turun menampakkan wajah sang pengemudi. Seorang pria yang sudah tidak asing lagi di matanya. Melihat sang pengemudi Sakura mundur teratur.

"Butuh tumpangan?" Tanya pria yang duduk di samping pengemudi.

Namun, Sakura tidak menjawab. Ia mulai ketakutan begitu melihat seseorang keluar dari Porsche hitam itu. Wajahnya bertambah pucat ketika seorang pria yang sebagian wajahnya ditutupi perban perlahan mendekat.

"Hai."

Bagi Sakura, tidak perlu membalas sapaan yang tidak penting itu. Tanpa pikir panjang, gadis musim semi itu mengambil langkah seribu dari hadapan orang-orang yang telah melukainya kemarin malam.

"Kau menakutinya, bodoh!" seru seorang wanita diantara kedua pria itu.

"Tenang saja, dia tidak mungkin bisa lari jauh-jauh. Lengannya terluka." Ucap sang pria mumi santai.

"kheh, kau melukai seorang gadis?" wanita tersebut berucap sinis.

"Tidak sengaja.." si pria mumi mengangkat bahu.

"Hei hei, mengerti istilah talk less do more?" Tanya pria yang memegang kemudi sambil menghidupkann mesin.

"Kin yang mulai." Sahut si pria mumi sambil memasuki Porsche itu.

"Cih…" wanita yang di panggil Kin itu ikut masuk ke dalam mobil.

Lalu, mobil itu melaju mengejar Sakura yang sudah menghilang di balik gang-gang kecil.

*~ Fynlicht~*

DEG

DEG

DEG

Sakura terus berlari. Jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang memburu. Takut? Sudah pasti. Rasa takut membuat Sakura tidak fokus terhadap laju larinya. Ia tidak tau harus lari kemana yang jelas ia terus berlari, berharap orang-orang itu tidak menangkapnya. Seharusnya ia mencari pertolongan, tapi pada siapa? Ia bingung dan kalut. Kenapa jalanan begitu sepi? Kenapa? Kenapa di saat ia butuh pertolongan, selalu tidak ada. Kemana perginya orang-orang? Seharusnya jam segini, di waktu yang belum larut ini orang-orang masih berlalu lalang atau pun ada kendaraan yang melintas. Tapi, kenapa nihil?

Sampai di pertigaan jalan, Sakura berhenti. Sekedar untuk mengatur nafas dan menenangkan diri. Ia sudah cukup jauh berlari sehingga ia yakin mereka tidak akan menemukannya.

"Lelahh, eh?" seseorang tiba-tiba muncul di belakang Sakura. Emeraldnya membola begitu ia membalikkan badan dan melihat orang yang tiba-tiba muncul itu. Ternyata si pria mumi sudah berdiri angkuh tidak jauh dari Sakura.

'Sejak kapan?' tanyanya dalam hati.

"Percuma kau lari. Buang-buang tenaga saja." Ucap Kin yang berjalan santai di belakang Dozu sambil memainkan belati di tangannya.

"Kalau kau mau menjadi anak baik, kami tidak akan menyakitimu." Kata Dozu membujuk.

GLEK

Sakura mundur perlahan begitu kedua penjahat itu semakin dekat dengannya. Lalu, berlari (lagi).

"Sepertinya dia bukan anak yang baik," Kin berkomentar.

"Zaku, kau hadang dia di depan sana!" Dozu member perintah lewat earphone yang tersambung dengan Zaku.

"Kau terlalu lama bermain, Dozu!" Sahut Zaku sambil mengambil jalan pintas.

BRUUUKKK

"Akh…!" Sakura memekik keras saat ia jatuh karena tersandung undakan jalan beraspal. Lututnya berdarah. Dan yang lebih buruk lagi kakinya terkilir. Sehingga ia tidak mungkin bisa melanjutkan pelariannya.

"Gawatt! Apa yang kulakukan?" keluhnya.

Sementara itu, Kin dan Dozu berhasil mengejarnya. Sakura mencoba bangkit, tapi gagal. Kakinya terlalu sakit untuk digerakkan. Sementara itu mereka semakin mendekat saja.

"Kumohon… bergeraklah!" Sakura mencoba untuk berdiri tapi gagal lagi. Takut. Ia mulai ketakutan. Di tengah kekalutannya ia berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri. Sakura tidak mau kalau sampai tertangkap oleh orang-orang jahat itu. Tangannya merogoh saku megelurkan ponsel darai dalamnya. Ia berniat menghubungi polisi. Bodohnya ia kenapa tidak dari tadi yang menghubungi polisi. Di saat genting memang sulit untuk berpikir jernih, kan?. Namun percuma, jemarinya terlalu gemetar sampai menekan nomor pun sangat sulit. Air matanya mulai mengalir tak terkendali. Sesekali ia menengok ke belakang untuk melihat mereka yang semakin dekat saja. Jemarinya terus mencoba menekan nomor tapi tetap sia-sia. Ia terlalu takut sampai tubuhnya terasa lemas. Sebenarnya, Sakura salah apa sampai orang-orang jahat itu mengejarnya? Bagaimana pun Sakura tidak akan menyerahkan cincin itu pada mereka. Ia tidak akan mengingkari janjinya pada kakek itu. Tidak akan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Kin menyeringai ke arahnya.

Ditengah ketakutannya itu, Sakura mengatupkan tangan. Menautkan jemarinya. Dalam hati ia berucap, 'Kami-sama, tolong aku!' berulang-ulang. Yah, siapa lagi yang bisa dimintai tolong selain Kami-sama. Tapi, apa Kami-sama mau menolong Sakura? Sakura anak baik kan?

"Cukup main kejar-kejarannya! Kau harus ikut kami, Nona!" ucap Zaku yang yang sudah ada dibelakangnya. Mencengkram kasar lengannya dan memaksa Sakura untuk berdiri.

"KYAAAAA…! I, ittte..tte, ukh…" Sakura menjerit. Bagaimana tidak? Lengannya dicengkram dengan kuat begitu. Namun, Zaku yang tidak peduli itu menyeret Sakura menuju mobil.

"Dengar! Kalau kau berontak lagi, aku tidak akan segan-segan memukulmu, kau mengerti?" Kin menjambak rambut Sakura, sehingga kepalanya dipaksa untuk mendongak. Lalu dilepaskan dengan kasar.

"Dasar cengeng! Ejeknya.

Sakura menangis tertahan. Tubuhnya terasa sakit semua. Belum lagi dengan rasa takut yang tak kunjung surut. Membut tubuhnya semakin lemas.

"Akan lebih mudah kalau mengambil cincinnya saja," gerutu Kin tiba-tiba.

"Tapi, Orochimaru-sama menginginkan gadis ini juga," sahut Zaku.

"Anggap saja mainan baru untuk Orochimaru-sama," ucap Dozu terkekeh.

Sementara itu, Sakura semakin tersiksa saja. Pandangannya mulai tidak fokus. Langkahnya pun diseret karena dipaksa Zaku. Sedangkan mobil Porsche-nya diparkir terlalu jauh.

PSSIIUU…

"Shitt!" Zaku mengerang karena tiba-tiba saja ada sesuatu yang menembus bahunnya. Otomatis cengkramannya pada Sakura terlepas. Dozu dan Kin mulai siaga.

"Cih, ada pengganggu rupanya," umpat Kin.

Sakura dibiarkan tergeletak begitu saja. Ketiga penjahat itu berdiri mengelilingi Sakura dan membelakanginya. Sakura yang tidak mengerti situasinya berpikir, apakah ini kesempatannya untuk kabur lagi? Apakah ini bentuk pertolongan Kami-sama untuknya? Kalau iya, berarti ia tidak boleh menyia-nyikannya.

"Jangan coba-coba untuk kabur!" ucap Kin sambil menginjak kaki Sakura yang terkilir membuatnya mengerang kesakitan. Akhirnya, Sakura membatalkan niatnya untuk kabur.

"Sial! Racunnya sudah bekerja!" keluh Zaku. Ya, yang tadi menembus bahunya adalah peluru beracun membuat bahunya mati rasa.

Sementara itu, Sakura terus berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari orang-orang ini. Rupanya ia belum jera untuk kabur. Usaha apa yang belum ia lakukan dalam percobaan melarikan dirinya?

Lari? Sudah, dan itu gagal.

Sembunyi? Sudah, dan ketahuan.

Berteriak minta tolong? Ah, bodohnya dia! Biasanya, hal inilah yang pertama orang lakukan bila ada dalam bahaya seperti ini. Baiklah, dia akan mencobanya.

"to, tolong!" ini lebih terdengar seperti bisikan. Kalau sperti ini mana ada yang dengar. Untungnya, ia bukanlah gadis yang mudah menyerah. Jadi, gadis musim semi itu mencoba berteriak lagi.

"To, tolong… TOLONG! TOLONG AKU! SIAPA SAJA, TOLONG AKU!" jerit Sakura sekuat tenaga.

PLAKK

"Berisik!" Kin menampar Sakura hingga sudut bibir gadis itu sobek. Kepalanya yang pusing semakin pusing saja. Tubuhnyay sudah kuat menahan rasa sakit yang mendera. Matanya yang basah karena air mata terasa berkunang-kunang. Sakura sudah sampai batasnya. Ia tidak bisa bertahan lebih dari ini. Tubuhnya terkulai lemah di atas aspal yang dingin. Emeraldnya mulai meredup hampir tertutup oleh kelopak matanya. Ia lelah, takut, dan sakit. Gadis dengan surai merah muda itu sudah tidak peduli dengan yang akan menimpanya nanti. Ia lebih memilih merengkuh kegelapan daripada cahaya yang terasa menyakitkan itu. Kesadarannya mulai menipis. Terakhir kali yang dia dengar sebelum kesadarannya benar-benar hilang adalah suara desingan peluru.

BANG!

Lalu gelap.

Inikah akhir dari Misfortune Girl?

ToBeCon