Chapter 3 Update !

Semoga pembaca semua suka dengan chapter 2 ! Maaf kalau humor di Chapter 2 itu garing banget. Saya nggak jago bikin humor, jadi tolong maafkan saya kalau tidak menarik humornya. ._. Oh ya, sekedar pemberitahuan, Shion disini Shion yang masih muda (masih imut).

Baik, nggak banyak bacot, silahkan membaca Chapter 3 !

Disclaimer : Saint Seiya bukan punya saya, tapi punya Masami Kurumada.

Rate : T

Pairing : SagaKanon, slight ShakaMilo (Friendship), slight ShionCamus

Genre : Humor, Romance, dll

Warning : Sho-Ai, OOC, Miss Typo, dll.

Selamat membaca !

-OooOooO-

"Milo, mau minum apa ?" tanya Shaka sambil membuka mini bar di pesawat itu.

"Shaka, saya nggak ditawarin, nih ?" Saga tersenyum. Shaka menghela nafas. Dasar, teman-temannya ini memang antik semuanya, deh. "Iya, iya. Baiklah, Saga, Kanon, kalian mau minum apa ?"

Senyuman di bibir Saga melebar. "Teh saja." Kanon mengangkat kepalanya dari paha Saga yang dijadikannya sebagai bantal. "Shaka, aku mau jus jeruk saja."

Mendengar kata minuman, Milo yang memang sudah haus langsung menyahut. "Aku minta susu."

"Milo ?"

"Hah ?"

"Susu Milo ?"

"Haahh ?" *nggak ngerti*

*sigh* "Scorpio Milo, disini adanya Susu Milo. Mau apa tidak ?"

"Oh, susu merknya Milo. Kupikir susunya Milo. Boleh, kok."

Kanon terkikik. "Kalau kau bilang susunya Milo, itu berarti kamu minum susumu sendiri." Shaka dan Saga juga tertawa, sementara Milo cemberut.

"Maaf ya, tapi aku tidak menghasilkan susu !" gerutunya.

"Salah sendiri punya nama Milo !"

"Bukan salahku, dong. Salah yang ngelahirin aku !" balas Milo tak mau kalah.

"Berisik, ah !" PMS-nya Kanon kumat lagi.

"Lha, yang mulai duluan siapa ?"

"Berisiiikkk !" *nutup telinga*

"Kamu yang berisik !" *nyolot*

"Kamu !"

"Kamu !"

"Kamuu !"

"Nggak, kamu !"

"Yang berisik itu kalian, tahu." *sweatdrop*

"OOOMMM-"

"Maafin kita, Shaka !" *nyembah-nyembah kaki Shaka*

*Bingung* "Kalian kenapa ? Saya bukan mau nyerang kalian, kok. Tadi ada nyamuk."

"Shaka nggak marah, berarti…" *ngeliat Kanon*

"…kita bisa berantem lagi, kan ?" *ngeliat Milo*

Hening sejenak.

"MATI KAU KANOOONNN ! SCARLET NEEDLEEE !"

"RASAKAN INII ! GALAXIAN EXPLOSIOOOONN !"

"Kalian berdua sakit !" Saga menjerit panik.

Dan begitulah selanjutnya, mereka saling menyerang satu sama lain dengan jurus mereka masing-masing sampai-sampai pesawat yang mereka tumpangi bergoyang kesana kemari.

Bagaimana dengan Shaka dan Saga ? Shaka sibuk komat-kamit semua doa yang ia bisa supaya nantinya bila pesawat mereka terjun bebas gara-gara Milo dan Kanon, ia bisa selamat entah bagaimana caranya. Sementara Saga memeluk Shaka erat-erat sambil jerit-jerit nggak karuan saking paniknya.

"Bla…bla…bla...hwezz…hwezz…hwozz…" *doa dengan khusyuk*

"SHAKAAA ! JANGAN BERDOA TERUSSS !" *meluk Shaka* "HWAA…SHION, MAAFKAN SAYA ! SAYA PERNAH BUNUH KAMUU ! AIOLOS, SAYA JUGA MINTA MAAF KALAU SAYA PERNAH MEMFITNAH KAMUU ! HWAAA !" *histeris*

Akhirnya, baik Kanon maupun Milo berhenti sendiri. Pesawat pun kembali ke posisi semula, dan Saga dan Shaka menarik nafas lega setelah beberapa menit mereka digantung-gantung diatas lubang menuju dunia bawah(?).

"Milo, Kanon, kalian tidak apa-apa, kan ?" Shaka yang ternyata seorang worrywart terutama kepada sahabatnya, membuka kedua matanya dan hanya bisa sweatdrop makin parah ketika melihat kondisi mengenaskan kedua sahabatnya yang lama kelamaan menjdi sinting itu.

Milo tergeletak tengkurap di lantai, sementara Kanon berbaring telentang diatas Milo. Kondisi mereka sama, tepar alias tewas terkapar.

"Shaka, mereka nggak mati, kan ?" Saga khawatir kalau-kalau kekasih sekaligus adiknya itu mati. Nanti siapa yang bakal jadi kekasihnya ? Dan untuk tambahan, Saga tidak suka selingkuh. Dia setia sampai mati sama pasangannya. Kecuali kalau pasangannya itu seperti Aphrodite.

Shaka hanya mengangkat bahu. "Tergantung kamu mau bantuin mereka sekarang atau tidak."

Sedetik kemudian Saga sudah membawa kotak P3K.

-OooOooO-

"Camus, kau sedang menganggur, kan ?" suara kalem Shion membangunkan Camus dari lamunannya. Camus mengangkat kepalanya, menatap Shion sebelum mengangguk.

Shion duduk di samping Camus. "Kau keberatan bila saya bertanya beberapa hal kepadamu ?"

Pemuda penjaga Kuil Aquarius itu menggeleng. "Tidak, Pope. Saya sama sekali tidak keberatan apabila Pope ingin bertanya kepada saya."

"Apapun itu ?"

"Apapun." Jawab Camus tegas. Pope Shion tersenyum kecil. Ia sedikit bersyukur Camus bukanlah orang yang sulit untuk memberikan informasi apabila ditanya. Apalagi yang akan menanyainya adalah seorang Pope yang merupakan pimpinan tertinggi dari para Saints.

Dengan lembut Shion melingkarkan lengannya di bahu Camus, menariknya mendekat. Ia sedikit menunjukkan gestur yang bersahabat seakan-akan Camus adalah sahabat dekatnya. Dengan begitu, pemuda penjaga Kuil Aquarius itu akan sedikit lebih santai dan tenang dalam menjawab pertanyaannya nanti.

Camus sedikit terkejut dengen gestur Shion tersebut. Namun ia tak bergeming. Sampai pada saat Shion mengeluarkan suaranya.

"Camus, kamu ada masalah dengan Milo ?" hubungan Camus dan Milo memang sudah diketahui oleh orang seisi Sanctuary, termasuk Athena. Bahkan, para Specter, Hades, dan kedua dewa kembar Hypnos-Thanatos juga sudah mengetahui kalau Camus dan Milo adalah sepasang kekasih. Jadi menurut Shion tidak masalah apabila ia langsung bertanya kepada Camus, tidak berbasa-basi terlebih dahulu.

Pemuda berambut Turqoise itu sedikit tersentak. Pipinya sedikit memerah dan ia memalingkan wajahnya dari Shion. "K-kenapa Pope bertanya hal seperti itu ? Apa saya ini mudah ditebak, ya ?" ia balas bertanya.

Shion mengeratkan rangkulannya di bahu Camus. Senyum masih tersungging di wajahnya. "Tidak kok, Camus. Kamu itu sulit ditebak malah. Tapi entah kenapa saya mendapatkan firasat kalau kamu sepertinya ada masalah dengan Milo. Mau menceritakannya kepada saya ?"

Camus tidak menjawab.

"Kau bertengkar dengan Milo ?" ia bertanya menyelidiki. Camus menggeleng. "Tidak, Pope. Saya mungkin tidak pernah bisa bertengkar dengan Milo." Ia memeluk kedua kakinya semakin erat.

"Kalau begitu, apa yang menyulitkanmu ? Cerita saja kepada saya." Dengan tangan yang tadi merangkul bahu Camus, Shion mendorong wajah pemuda itu sehingga kedua mata Camus menatap kedua mata Shion. "Mungkin saya bisa membantu. Dan saya berjanji tidak akan bilang siapa-siapa."

Camus menghela nafas. Ia tak bisa mengelak lagi. Shion memiliki intuisi yang kuat, dan ia tak bisa untuk berkata 'tidak' ataupun menolak permintaan Shion.

"Pope, saya tidak bertengkar dengan Milo. Saya hanya…"

"Lanjutkan, Camus. Saya akan mendengar." Suara Shion menenangkan jantung Camus yang berdetak dengan sangat kencang.

"Pope tahu, kan, kalau saya ini bukan tipe orang yang bisa menunjukkan perasaan sayang dan cinta saya secara terang-terangan ?" Shion mengangguk, menatap Camus serius. "Bagaimana pun saya mencintai orang itu, saya tidak bisa menunjukkan kasih sayang saya kepada orang yang saya cintai itu. Saya tetap akan berlaku dingin seperti biasanya, walaupun di dalam hati saya sangat mencintai orang itu." Ia mengambil nafas panjang.

"Dan hal itu berlaku juga kepada Milo." Entah kenapa, saat berbicara, mata Camus terasa panas, dan dadanya terasa sesak, seakan-akan ada yang meremas kuat dadanya, sehingga ia sulit untuk bernafas. "P-pada awalnya, Milo tidak pernah protes apabila saya tidak pernah memanjakannya ataupun berkata 'Aku mencintaimu' kepadanya. Milo selalu menerima saya, sekalipun saya bukanlah seorang kekasih yang baik. Sampai hari ini…" Camus merasa semakin sulit untuk bercerita kepada Shion.

"Tidak apa-apa, Camus. Lanjutkan. Pelan-pelan saja, ya." Lagi-lagi suara Shion berusaha untuk menenangkan Camus.

Pemuda itu mengangguk, kemudian melanjutkan ceritanya. "Sanpai hari ini, tadi pagi Milo meminta saya untuk mengatakan bahwa saya mencintainya. Tapi saya tidak mengatakannya. Bukan karena saya tidak mau, tetapi karena saya takut. Saya takut tak bisa mengatakan perasaan saya dengan baik, dan mengakibatkan Milo kecewa kepada saya. Maka saya diam saja. Tapi ternyata, hal itu malah membuat Milo sedih. Baru saja saya akan berbicara kepadanya, mendadak Kanon datang, katanya ada misi dari Pope untuknya.

Shion mengangguk mengerti. "Ya. Saat itu saya memang memanggilnya untuk misi bersama Saga, Kanon, dan Shaka. Lalu ?"

Suara Camus bergetar. "Saat ia kembali, ia berkata kepada saya bahwa misi yang akan ia lakukan sangat berbahaya, dan mungkin dapat merenggut jiwanya. Pada saat itu, saya sangat terkejut, namun saya tetap bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Setelah itu, ia sekali lagi meminta saya untuk mengatakan perasaan saya kepadanya. Tapi lagi-lagi, saya takut. Saya takut jika saya berkata bahwa saya amat mencintainya, ia akan pergi dan tidak kembali lagi. Jadi saya diam saja. Saya… saya…"

Shion terkejut ketika melihat dua butir air mata mengalir di pipi Camus. Ia menatap Camus, dan mendapati Camus menangis.

Sorot mata Shion berubah menjadi sedih. Dengan lembut disentuhnya pipi Camus, berusaha menghapus air matanya.

"…saya tidak ingin kehilangan Milo, Pope."

Masih membelai pipi Camus, Shion berkata dengan nada pelan. "Sshh…tidak apa-apa, Camus. Kau boleh berhenti kalau kau tidak mampu untuk bercerita lagi."

Camus menggeleng. "Ketika Milo mendapati bahwa saya tidak berkata apapun, ia menjauh. Ekspresi wajahnya seperti biasa, tetapi saya tahu, kalau sebenarnya ia sangat sedih. Setelah itu, ia berkata 'Masih ada waktu lain kali. Kau bisa mengatakannya saat kau siap.' sambil tersenyum. Tapi entah kenapa, saya merasakan sebuah firasat bahwa 'waktu lain kali' itu sudah tidak ada. Kemudian sebelum ia berangkat, saya memberikannya belahan dari kalung ini." Camus menunjukkan kalung hati peraknya.

"Sampai pada saat terakhir, saya tidak berkata saya mencintainya, ataupun menujukkan sedikit kemesraan dengannya. Dan bodohnya lagi, ia malah berkata 'Jaga diri, Camus.' sambil melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Bukankah seharusnya saya yang berkata seperti itu ? Saya benar-benar bodoh…" pemuda itu tersenyum miris, sebelum kemudian air mata mengalir semakin deras.

Camus terisak. "Saya tidak mau kehilangan Milo, Pope. Saya sangat mencintainya. Seandainya saja masih ada satu kesempatan lagi. Satu saja, saya akan berkata kepadanya bahwa saya mencintainya. Seandainya saja…" tangis Camus meledak.

Dengan penuh simpati, Shion memeluk Camus erat, dan membiarkan pemuda itu menangis di bahunya, membasahi jubah yang ia kenakan. Sementara kedua tangan Camus mencengkram erat jubah Shion, dan isakannya semakin keras.

Shion membelai kepala Camus lembut. Ternyata, masalah Camus seperti itu. Di satu sisi, ia lega karena Camus sudah mau bercerita dengan jujur kepadanya. Tapi di satu sisi lain, ia juga merasa khawatir, karena misi yang ia berikan berbahaya. Dan baginya tidak mungkin untuk menarik kembali misinya, karena saat ini Milo sudah di perjalanan. Ia menggeretakkan giginya. Seandainya saja ia tahu masalah Camus dan Milo, ia takkan menyuruh Milo untuk melaksanakan misi itu. Ia merasa sangat bersalah, terutama kepada Camus. Pemuda dingin itu sampai menangis, itu berarti baginya masalah itu sangat kompleks.

"Tenang saja, Camus." Shion berbisik di telinga Camus. "Kesempatan itu masih ada, saya yakin. Milo pasti akan kembali bersama dengan yang lainnya. Saya yakin. Oleh karena itu, Camus, jangan menangis, ya ?" ia mengangkat wajah Camus, dan menghapus air mata di pipinya menggunakan kedua tangannya.

Camus mengangguk. Entah kenapa, ia merasa sedikit lebih lega sudah bisa bercerita kepada Shion. Meskipun kekhawatirannya belum hilang, namun setidaknya ia tahu, ada orang yang bisa menenangkannya.

-OooOooO-

"Kanon, kamu nggak apa-apa, kan ? Nggak ada yang sakit, kan ?" tanya Saga khawatir setelah Milo dan Kanon sadar.

Kanon memegang kepalanya. "Pusing… (=_=)" keluhnya sambil bersandar di dada Saga. Dengan penuh kasih sayang Saga membelai kepala Kanon lembut. Sementara Kanon makin manja kepada Saga, mengetahui bahwa Saga sangat khawatir padanya.

"Milo, apa ada yang sakit lagi ?" kalau Saga mengkhawatirkan Kanon, Shaka mengkhawatirkan Milo. Pasalnya, kalau kalajengking satu itu terluka, yang repot adalah dia sendiri.

"Hatiku."

"Hah ?"

"Hatiku sakit…"

"Milo, kepalamu tidak terbentur sesuatu kan, tadi ?"

"Aku kangen Camus…"

"…" Shaka menggaruk kepalanya bingung. Ampun deh, ia tidak tahu harus bicara apa sama pemuda ini. Tapi ia tetap berusaha sabar. Karena menurut Shaka, orang sabar disayang Tuhan. "Milo, kalau kangen sama Camus memangnya kamu mau apa ?" Shaka mengelus dada.

"Mau peluk Camus !" sambil meneriakkan kalimat tersebut, Milo menerjang Shaka dan memeluknya dengan sangat erat, sampai-sampai pemuda berambut pirang itu kehabisan nafas.

"Mi…lo…le…pas…kan…ugh…" penjaga Kuil Virgo itu meronta dari pelukan Milo yang tak hanya bisa meremukkan tulang-tulangnya, tapi juga membuat suplai oksigen untuknya bernafas kurang.

Tapi sepertinya Milo tidak mendengar erangan protes dari Shaka, karena ia masih tetap saja memeluk (baca : meremukkan) Shaka.

"Camus, aku kangen~"

"Saya bukan…ukh…Camus !"

"Camus~ rambutmu lembut sekali~" *mainin rambut Shaka*

*merinding* "Milo, saya bukan Camus ! Camus di Sanctuary !" 'Mu, saya minta maaf. Saya tak bermaksud selingkuh… :'(' batin Shaka sambil menangis, dalam hati tentunya.

"Camus, kenapa kau dingin sekali padaku~ ?" *mau nyium Shaka*

*tambah merinding* "HIII, JANGAAAN !" *panik* "KANON, SAGA, BANTUIN SAYA !"

"Saga, bantuin Shaka, yuk."

"Boleh, boleh. Tapi kepalamu sakit, nggak ?" *masih khawatir*

"Sedikit, sih. Tapi sudah lumayan, kok."

"Kalau masih sakit, nggak usah bantuin Shaka, lho."

"KENAPA KALIAN MALAH NGOBROL BEGITU ? TOLONG SAYA !" *histeris*

"Camus~" *makin jadi, ngeraba-raba badan Shaka*

"HIIII !" *frekuensi tingkat tinggi* "KANOOONN ! SAGAAAA !"

*nutup kuping* "Kak, ayo bantu Shaka. Kasihan tuh. Nanti Mu nggak bisa dapat Shaka yang masih perawan."

*mikir* "Benar juga. Nanti Milo memperkosa seseorang yang bukan Camus."

"TOLOONGG !"

"Iya, iya." *geret Milo* "Milo, ayo lepas. Ini Shaka, bukan Camus. Shaka itu punyanya Mu."

*mengamankan Shaka* "Shaka nggak apa-apa, kan ? Saya takut kalau-kalau nanti kamu jadi tidak perawan lagi."

"Hii…saya…saya…" *ketakutan*

"Camussss~" *meronta dari Kanon* "Kembalikan Camus-kuuu~"

*melihat Shaka dan Saga* "Tadi kepalanya PASTI terbentur sesuatu. Nggak mungkin tahu-tahu dia jadi gila begini."

"Mau dimasukin RSJ di Moskow ?"

"Nggak, kasihan Camus nanti, selesai misi pacarnya jadi gila."

"Terus diapain ? Saya nggak mau diperkosa Milo." 'Kalau Mu yang merkosa sih nggak apa-apa.' *batin*

"Dibuat tidur dulu aja."

"Gimana caranya, Non ?"

"Gini, nih."

BLETAK.

Gubrak.

"Nah, tuh udah tidur." *nunjuk Milo yang pingsan*

"Kanon, saya(aku) kira kamu juga sudah gila…" *sweatdrop*

-OooOooO-

"Camus, sudah puas menangisnya ?" tanya Shion sambil masih memeluk Camus yang kini hanya menangis sesegukan, tidak histeris seperti sebelumnya.

"Y-ya, P-Pope…hiks…S-Shion…" meskipun ia bilang 'ya', namun suaranya masih sedikit bergetar. Shion kembali mendekapnya erat. "Kalau belum puas juga tidak apa-apa. Saya akan tetap disini."

Camus meremas jubah Shion. "Pope Shion ?"

"Ya, Camus ?"

Pemuda itu membenamkan wajahnya ke dada Shion, dan berbicara dengan suara yang masih bergetar. "Terima kasih sudah mau mendengarkan saya. Saya baru sadar, bahwa saya sangat kesepian. Seandainya saja Pope Shion tidak ada, saya tidak tahu harus menangis kepada siapa." Bisiknya samar, namun telinga Shion masih mampu untuk menangkapnya.

Shion tersenyum. "Tidak masalah, Camus. Saya hanya berusaha untuk menjadi sosok ayah sekaligus pemimpin bagi para Saints." Tangan Shion mengacak rambut Camus. "Kalian sejak kecil sudah berada di Sanctuary, jauh dari kampong halaman, jauh dari orang tua. Pada waktu itu, saya sebenarnya tidak tega melihat kalian semua yang masih kecil, tapi sudah haru menanggung beban berat seperti ini. Makanya saya berusaha untuk menjadi pengganti orang tua kalian."

"Saya tahu, Pope."

Senyuman Shion melebar. "Dulu, kamu adalah bocah yang paling pendiam dan pemalu."

Camus mengangkat kepalanya. "Bukannya Mu juga pendiam dan pemalu, ya ?"

Dengan jari telunjuknya, Shion menyentuh ujung hidung Camus. "Tapi Mu masih mau berbicara dengan Shaka atau Aiolia. Sedangkan kamu ? Kamu hanya menyendiri di pojok, dan sibuk membaca bukumu." Pipi Camus memerah. "W-Waktu itu saya tidak tahu harus bagaimana, Pope."

"Saya mengerti, kok. Oleh karena itu, saya sangat bersyukur waktu Milo pertama kali datang kepadamu, dan mengajakmu bicara."

Mata Camus melebar ketika mendengar nama 'Milo'. "Pope, dia tidak mengajak saya bicara."

Shion menaikkan sebelah alisnya. "Lalu ? Padahal jelas-jelas waktu itu saya melihat Milo berbicara denganmu."

Camus menunduk, pipinya masih merah. "Dia menunjukkan saya kalajengkingnya yang bernama Camus-chan."

Seketika Shion tertawa keras.

To Be Continued

-OooOooO-

Akhirnya selesai juga. Maaf kalau Chapter ini lebih pendek daripada yang sebelumnya. Dan untuk pemberitahuan, Shion disini penampilannya masih muda, bukan kakek-kakek. Dohko juga. Jadi, jangan salah kira, ya.

Akhir kata, tidak ada yang bisa saya ucapkan, selain…

R&R Please !