Tak Ada Yang Tahu Rencana Bahkan Tuhan Sekalipun

.

.

Arc I: Tak Ada Yang Tahu Rencana Tuhan Bahkan Tuhan Sekalipun

Chapter II: Jadi, Inikah Yang Disebut Fanservis?

Bagian 1

Aku terbangun ketika sebuah tendangan terarah tepat ke kepalaku, dan probabilitas untuk menghindarinya bagiku adalah nol. Tendangannya memang tak terlalu keras, bahkan masih jauh dari batas resistensi yang kupunya.

Tapi momentum dan tempat tendangan itu terarahlah yang agaknya membuatku ingin meninju si pelaku sampai babak belur.

"Kyubi, bisakah kau membangunkanku dengan cara yang sedikit lebih normal?"

Yang berdiri di depanku dengan pose bersidekap dan kaki yang terangkat serta rambut acak-acakan adalah wanita pirang yangharusnya jadi berkah dari Tuhan untukku. "Jika kau bisa kubangunkan dengan cara yang kausebut dengan 'sedikit lebih normal', maka dengan senang hati aku akan melakukannya, Naruto..."

Kenapa aku pakai kata 'harusnya', yang jelas-jelas menjelaskan adanya kontradiksipada kalimat itu, adalah karena bukannya jadi berkah, si cewek ini malah kurasa lebih condong ke arah musibah. Bahkan, jika kutambahkan kata itu menjadi musibah besar, itu masih dalam taraf yang bisa ditolerir.

"... kau itu tidur seperti kerbau bau yang kerjaannya kubangan di lumpur. Jangankan karena hari sudah siang, ada gempa berkekuatan sembilan Skala Richter yang bikin satu Jepang kelabakan saja aku tak yakin dirimu akan bangun."

Yah, akujelas takkan menyebut cewek ini dengan sebutan seperti itu, kecuali si cewek ini bisa sedikit lebih tahu diri. Masalahnya, harusnya, sebagai cewek yang numpang dan bahkan kuberi makan setiap hari, mengatakan kerbau bau pada orang yang menyangga hidupnya sepertiku jelas harus dihindari.

"Perumpamaanmu sungguh sesuatu, Kyubi."

Aku mendudukkan diri. Mataku kukerjapkan beberapa kali sebelum kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sambil mengucek mata, aku menatap si cewek pirang itu. "Lagipula, ini semua juga siapa yang membuatku tidak membuatku tidur semalam?"

Semalam aku baru saja dipecat dari pekerjaanku untuk yang kesekian kalinya dalam seminggu ini. Dan walaupun aku memang sudah terbiasa untuk menghadapi situasi seperti itu, tapi ketika dirimu dipecat untuk yang kesekian kalinya dalamkurun waktu sesingkat itu, mentalmu pasti akan mencapai batas resistensinya.

Makanya, aku cukup depresi semalam. Bahkan, aku sempat berpikir, mungkin aku memang ditakdirkanuntuk menjadi pengangguran tak berguna yang kerjaannya cuma nyusahin orang lain. Walaupun bukan berarti aku ingin, tapi pikiran seperti itu tetap saja menghantuiku.

Apalagi, ketika aku pulang ke rumah, bukannya disambut dengan hangat oleh orang rumah. Aku malah diejek habis-habisan oleh rubah sialan yang mulutnya tak bisa dijaga ini.

Bahkan, meskipun di televisi berulang kali dikabarkan kalau malam ini akan jadi malam terdingin sepanjang musim panas ini, ia sama sekali tega membiarkanku tidur di sofa tanpa memberiku selimut. Malah, ia berdalih, sebagai wanita, toleransi tubuhnya terhadap dingin tidak terlalu baik, makanya selimut kami yang cuma satu harus diberikan padanya.

Padahal, seperti yang kukatakan sebelumnya, ia tidur di dalam kamar yang dilengkapi penghangat. Plus, kasur yang empuk.

Jika saja, aku tidak diperintahkan langsung oleh Tuhan untuk memelihara pirang tak tahu diri ini, mungkin sudah lama ia kubunuh.

Jadi, singkat cerita, semalam aku berakhir dengan tubuh kedinginan di tas sofa yang keras dan dalam keadaan mental yang buruk. Belum lagi, karena ini adalah musim panas, nyamuk-nyamuk yang kelaparan dengan senang hati menambah kesengsaraanku.

Akibatnya, aku baru bisa tidur ketika fajar sudah menyingsing, saattubuhku sudah tak punya rasa lagi, dan benar-benar lelah.

Sementara, aku yakin, Kyubi semalam tidur dengan nyenyak di kamar, dengan penuh kehangatan dan yang jelas tanpa gangguan nyamuk karena obat nyamuk juga dimonopoli olehnya.

Ah! Aku benar-benar ingin menenggelamkan cewek satu ini ke selat Bermuda!

"Aku tahu kalau kau itu mesum, bahkan sejak dalam pikiran, apalagi menghadapi wanita secantik diriku, Naruto... tapi bisakah kau tidak melakukan pelecahan seksual sepagi ini?"

"Heh?"

Aku tak maksud apa yang dia katakan.

"Jangan pasang muka sok bego! Lagipula, kau itu sudah bego dari pasang muka seperti itu, level kebegoanmu ter-power up ke tingkatan yang sama sekali lebih menjijikkan!" aku masih tak paham sih, tapi sumpah, cara dia bicaranya itu, membuatku benar-benar ingin menceburkannya ke Bermuda!"saat kau mengatakan 'siapa yang membuatku tidak tidur semalam', itu jelas-jelas merupakan sebuah kalimat yang mengandung makna pelecehan seksual yang terarah padaku."

"Bukannya kau juga tahu, kalau kalimat seperti itu biasa digunakan di drama-drama dengan tokoh utamanya merupakan riajuu sialan, setelah si riajuu cewek dan cowok melakukan ini dan itu?" ia kembali bersidekap, tapi kali ini, kayaknya ia melakukan hal itu lebih untuk menyembunyikan dadanya.

"Dan jika kau mengatakan itu, bukankah itu artinya kau mengatakan seolah aku dan kau semalam telah melakukan ini dan itu?"

Ah, agaknya aku paham sekarang...

"Maaf mengecewakanmu, tapi Naruto, jikapun kau adalah pria terakhir di muka bumi ini dan tak ada pilihan lain selain dirimu untuk menyelamatkan populasi manusia, maka aku lebih baik memilih untuk memutus rantai kehidupan manusia dan membiarkannya punah daripada harus melakukan ini dan itu bersamamu!"

"Dan maaf mengecewakanmu juga, tapi, aku sama sekali tak bermaksud untuk berpikiran mesum terhadapmu."dan apaan dengan permintaan maaf itu?! Hei, aku juga sama sekali tak berharap padamu, kau tahu? Sama sepertimu, jikapun kau adalah wanita terlahir di muka bumi ini, maka aku juga takkan pernah mau dipasangkan denganmu!

Memang siapa yang mau dipasangkan dengan cewek tak tahu diriyang mulutnya tak bisa diatur sepertimu?

"Oh, syukurlah, aku tak mau kecantikankuyang murni ini digunakan oleh seseorang -apalagi yang sepertimu, untuk fantasi mesum mereka."ia memutar mata, dan tangannya ia turunkan dari dada."tapi, jika memang seperti itu, ya sudahlah..."

Dengan santai ia mengangkat bahu.

Karena tahu level kenarsisan cewek ini yang memang kelewat di atas rata-rata, aku memaksakan diri untuk diam. Jika aku membalasnya, bisa-bisa jadi pening kepalaku... ditambah, fakta kalau semalam aku cuma tidur dua jam -aku tahu itu, karena aku baru bisa tidur jam enam, dan sekarang jarum pendek di jam dinding tepat terarah di angka delapan.

"Terserah apa yang kau katakan, tapi sekedar informasi, karena seperti yang kau tahu kemarin, aku baru saja dipecat dan tak punya pekerjaan hari ini. Jadi, aku mau malas-malasan hari ini."sambil bilang hal itu, aku menyandarkan punggungku pada sofa. "jadi, ada apa kau membangunkanku?"

"Naruto, kurasa aku tahu alasan lain mengapa kau sampai sekarang tetap menjadi pengangguran super sial kurang kerjaan yang menjijikkan..., selain nama dan wajahmu yang tak jelas itu, tentunya."aku bingung bagaimana ia bisa mengejekku dengan sesempurna itu. Tapi karena aku tak tahu apa yang sedang ia bicarakan, aku hanya bisa mengangkat alis. "sifat pemalas dan bakat menjadi NEET akutmu itulah penyebabnya!"

Ia mengacungkan jari telunjuknya tepat ke wajahku.

"Aku tak mau dengar itu dari cewek yang cuma bisa nonton anime dan main game sambil makan cemilan dari uang hasil kerja kerasku!"

Aku menepis jari itu dan menatapnya. Kyubi juga lantas balik menatapku sama tajamnya. "Naruto, tolong jangan buat aku seolah adalah cewek penghisap tak tahu diri yang kerjaannya cuma menyusahkanmu..."

"Aku tak membuatmu jadi seperti itu, kau memang sudah seperti itu."

Lantas, mendengar jawabanku, ia secara tiba-tiba menggeleng. "Tch, tch, tch... Naruto, sebagai lelaki kau sudah gagal."

Satu hal yang kukagumi dari cewek ini selain kebegoannya yang seolah tak terbatas adalah bakatnya membuatku bingung dengan mengubah topik pembicaraan ke arah yang tak jelas. "Maksudmu?"

"Apa kau tak sadar, dengan siapakah kau tinggal saat ini?" ia mengangkat dagunya dan membusungkan dada. Kedua tangannya bersidekap, melangkahi gestur arogan yang ia buat. "kau tinggal dengan wanita paling cantik sedunia, Kyubi no Yoko! Wanita yang bahkan melampaui semua kecantikan di muka Bumi ini, kau tahu?!"

"Sebagai perjaka mesum dengan fantasi liar dan tak punya masa depan yang cerah, dirimu harusnya sudah bersyukur dari dalam lubuk hatimu yang terdalam jika kau diperbolehkan mencium aroma tubuhku yang sempurna ini! Apalagi, kau diizinkan untuk tinggal seatap denganku, harusnya kau memberiku pelayanan layaknya budak pada tuannya!"

"Aku mulai percaya, Kyubi, jika sehari saja kau tidak hidup dengan sifat narsismu itu, mungkin kau akan sekarat."

Yang ia katakan memang benar sih.

Bagaimanapun juga, Kyubi merupakan wanita yang cantik. Sangat cantik bahkan. Di Konoha dahulu sekalipun, tak ada seorangpun di Konoha, lelakinya yang tak memerah wajahnya ketika pertama kali melihat Kyubi.

Yah, walau hanya untuk yang pertama kali 'sih, karena ketika kau bertemu cewek ini untuk yang kedua kalinya, yang tersisa hanyalah hasrat untuk menampar mukanya.

"Tapi terserah lah... aku masih beneran masih ngantuk sekarang."kepalaku juga mulai pusing dan mataku benar-benar berat. "jadi cepat katakan apa maumu!"

Aku mulai yakin, kalau aku terus meladeninya, bisa-bisa sampai siang nantipembicaraan tak berguna ini takkan selesai.

"Ah iya, aku hampir saja lupa." ia bilang begitu dengan ekspresi wajah seolah ia ada di mall dan ingin membeli sesuatu yang penting, tapi malah tergoda oleh hal lain, dan ketika sadar uang untuk beli barang itu malah sudah habis.

Beneran, seberapa bego sih orang ini?

"Kau tahu kan, semalamaku nonton ulang Madoka Magica, dan karena yang kotonton termasuk anime yang lumayan berat, aku perlu banyak asupan untuk memahami ceritanya. Jadi aku agak lepas kendali semalam. Dan ketika aku sadar, persediaan Coca Cola yang ada di kulkas sudah habis. Bahkan cemilan ringan yang kupunya tinggal dua bungkus."

Apa dia bilang, sudah habis? Bukankah ada sekitar empat botol ukuran besar di kulkas kemarin? Dan semua itu kau habiskan bahkan tanpa membiarkanku meminumnya sedikitpun?

Dasar perut karet!

"Jadi?"

"Jadi, aku minta uang buat beli lagi."

Ah, orang ini beneran tak tahu malu.

Dia bilang itu,seperti hal itu adalah wajar. Apa ia lupa kalau semalam ia baru saja bikin aku tak tidur? Dan tadi pagi kakinya dengan sengaja menendang kepalaku? Dan bukannya yang menghabiskan semuanya adalah kau?

Aku memang tak menyuruhmu sampai memohon, tapi setidaknya jangan pasang wajah angkuh seperti itu! Lagipula, "Kan dua hari yang lalukau baru kukasih uang jajan 4000 yen. Jangan bilang kalau uang itu kau habiskan untuk membeli sesuatu yang tak berguna?"

"Jangan bilang figure terbatas Madoka-tan yang hanya dijual enam biji sedunia sebagai sesuatu yang tak berguna! Aku perlu penjuangan berat untuk membelinya kau tahu! Masuk ke server pembeliannya tiga jam sebelum penjualannya dimulaiagak tak kena over tombol pembelian tepat sepersekian setelah barang itu tersedia. Berdoa agar termasuk salah satu dari 0.7% orang yang bisa beli barang itu. Memang semua itu kau pikir mudah?!"

Walau ia bilang begitu dengan berapi-api, tapi entah bagaimana aku malah sama sekali tak menangkap apa yang ia maksud. Lagipula sekedar informasi, aku sama sekali tak menyinggung soal figure,atau apapun.

"Tapi walaupun begitu, Kyubi-san..., entah bagaimanapun aku melihatnya, figure itu termasuk barang yang tak berguna."

"Woooa, sekali lagi kau bilang future Madoka-tan tak berguna, maka aku tak bertanggungjawab jika kau dapat tampolan dari seluruh penganut Madokaism di dunia."

Apa lagi itu?

Cewek ini beneran udah berubah jadi otaku.

Ya Tuhan, apa lagi gerangan kesalahan hamba di dunia ini, hingga kau limpahkan azab sebesar ini pada hamba?

Serumah dengan cewek tak tahu diri yang hidup dari uangku tapi suka marah-marah tak jelas dan otaknya bego sudah bisa membuatku berpikir kalau akhir dunia sudah dekat. Jika ditambah kalau cewek itu juga seorang otaku maka..., ah, aku menyerah.

"Pokoknya, sebentar lagi serial anime pagi akan segera dimulai, jika aku tak belanja sekarang bisa-bisa aku kelewatan. Jadi cepat kasihkan uangnya!"

"Kau tahu kan aku baru saja dipecat, makanya kondisi keuanganku sedang tidak baik sekarang. Jadi, tak ada uang tambahan. Jika uang jajannya habis, ya berarti kau harus menahan perutmu."

Lagipula, bukankah perjanjiannya 4000 yen itu jatah jajanmu empat hari? Salahmu sendiri kalau menghabiskannya terlalu cepat.

"Tapi nonton anime tanpa makanan ringan dan soda itu seperti minum kopi tanpa kopi!"

"Menonton itu butuh mata, bukan mulut. Jadi kau tetap akan bisa menonton walau tanpa cemilan." ah, mendadak aku jadi ngantuk. "sudahlah, aku mau tidur lagi. Pokoknya nggak ada uang tambahan."

"Jika kau mau uang tambahan, jual saja figure-mu itu. Kalau beneran itu barang yang berguna, maka harusnya laku mahal."

"Mana mungkin aku menjual artefak Tuhan, bego."

"Yah, kalau begitu, selamat menonton tanpa cemilan."

Aku merebahkan diri, dan bersiap untuk tidur.

"Oh, ayolah Naruto, menonton tanpa cemilan itu benar-benar terasa hambar! Aku minta sedikit saja, ya?"

Oh, dia mulai sedikit melunak.

"Nggak ada. Mau sedikit, mau banyak, tak ada lagi yang sebelum besok." tapi tentu saja ketetapanku takkan luluh.

"Tapi anime-nya kan dimulai habis ini."

"Tak ada. Sekali tak ada ya tak ada. Jadi diamlah, aku sedang berusaha tidur di sini."

"Gyaaa, orang ini beneran bikin kesel!"

Entah hanya perasaanku saja atau suaranya naik satu oktaf lebih tinggi. Dan karena aku sudah membalikan badan dan menghadap punggung sofa, aku tak bisa melihat ekspresinya.

"Nggak kebalik tu-" tepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku, sebuah tangan lentik yang lembut menggenggam leherku dengan tekanan lumayan. "Gha-ha-apha yhang khau lhakhukhan, bhego!?"

Dia mencekikku.

Dan dia kayaknya nggak main-main.

"Aku takkan melepaskanmu sebelum aku diberi uang!"

Kyubi itu sama sepertiku, ia dating dari dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia ini. Meski motifasinya dating ke dunia ini adalah untuk kembali menyuramkan hidupku, tapi selain itu ia mengalami kondisi yang sama denganku. Yang artinya, ia masih membawa ingatan dan sedikit kekuatan dari kehidupannya di dunia ninja dulu.

Dan kembali kuingatkan, Kyubi adalah salah satu makhluk yang paling ditakuti di seantero Dunia Elementer. Ia -meski agak tidak meyakinkan dengan wujudnya yang sekarang ini, adalah musang ekor sembilan bego dengan napas bau yang bisa dengan mudah menghancurkan kampung halamanku yang sialan itu jika ia serius.

Bahkan, ketika ia tidak dalam kendali penuh akan dirinya dulu, saat aku dilahirkan dulu, ia berhasil membuat satu desa kelabakan. Orang tuaku, yang merupakan seorang hokage dan ibu hokage bahkan harus repot-repot turun tangan dan mengorbankan diri mereka hanya untuk menyegel si bego otak mini ini.

Yang artinya, jikapun delapan puluh persen kekuatannya dihilangkan, ia masih bisa melawan serratus yakuza dengan katana di tangan mereka tanpa terluka sedikitpun.

Apalagi, menurut yang Tuhan katakan, kekuatan kami yang dihilangkan hanya 45%, atau setengah kurang sedikit.

Itu berarti, di hadapan Kyubi, baja adamantium yang terkenal paling keras di dunia ini, tak lebih dari sekedar kerupuk yang tak renyah lagi.

Dan sekedar informasi, leherku bukan baja adamantium, bahkan kabar buruknya, jauh lebih lembek dibanding itu.

Makanya, ketika ia mencekikku dengan kekuatan yang kurasa hampir maksimal ini, aku mulai bisa mendengar suara kretek yang mengerikan terdengar dari leherku.

Sumpah, leherku mau patah.

Tunggu, apa dia berencana membunuhku untuk mengambil hartaku? Hei, ada apa dengan perubahan suasana yang mendadak ini!?

"Khuberi, akan khuberi!"

Aku menyerah.

Sebagai mantan hewan buas, cengkeramannya benar-benar tak bisa diremehkan.

Dan sekedar informasi, aku tak mau ikut-ikutan seperti kedua orangtuaku yang mati di tangannya. Setidaknya sebelum aku bisa merasakan hidup tanpa kesialan yang Tuhan janjikan padauk, aku takkan mati untuk yang kedua kalinya!

"Beneran!?"

"Iya." jadi cepat lepasin bego!

Beberapa detik kemudian, cengkeramannya mengendur, dan akhirnya terlepas dari leherku.

"Kyubi, katakan dengan jujur, kau tak sedang mencoba untuk membunuhku kan?"

Dia memalingkan wajahnya. "Sedikit." tapi melihat dari seberapa intensnya aura membunuh yang kurasakan darinya, aku bisa memahami kalau ia tak kuberi uang mungkin nyawaku sekarang sudah melayang.

Tuhan,jika Kau tak sedang membuat lelucon denganku, tolong dengarkanlah doaku... aku tak ingin banyak, cukup gantikan cewek ini dengan orang lain, atau hilangkan saja dia dari hidupku.

"Jika kau membunuhku, memang siapa yang bakalan menanggung hidupmu?"sebagai cewek yang lebih di bagian tubuh, tapi sangat kurang dalam semua aspek lain, aku tak yakin kau bisa menghidupi diri sendiri. "tapi terserahlah."

"Seribu yen cukup?"aku mengambil dompet di saku belakangku, dan merogoh sebuah kertas bertekstur yang ada tulisan seribu di atasnya.

"Cukup."

"Ya sudah pergi sana, aku mau tidur."

Dan tanpa mengucapkan apapun cewek sialan itu dengan girang meninggalkan rumah ini.

Dia benar-benar tak tahu terimakasih.

.

Bagian 2

.

Ada beberapa hal yang bisa kukatakan tentang dunia baru yang Tuhan berikan padaku ini.

Walau hampir semua hal yang menimpaku adalah hal buruk, tapi memang kadang beberapa hal yang menimpaku memang sedikit menguntungkan. Yah, meski dalam rasio yang juga sangat begitu sedikit.

Misal, karena aku telah bergonta-ganti pekerjaan puluhan bahkan mungkin ratusan kali –aku tidak hiperbolik, aku jadi banyak punya kawan. Meski memang kuakui beberapa dari mereka agak bikin kesel, tapi kadang mereka juga membantuku mencari pekerjaan.

Bahkan yang merekomendasikanku untuk diterima di kedai pizza terakhir aku bekerja adalah kawanku bekerja di aquarium raksasa dulu. Dia adalah ponakan dari bos pemanggil hujan buatan itu. Walau ia tahu aku memiliki kemampuan mengundang kesialan dengan level yang sudah tidak bisa diraih manusia lainnya, ia tetap memohon-mohon pada mantan bosku itu untuk menerimaku.

Kadang berpikir ada orang yang segitunya ingin membantuku, membuatku mau menangis.

Jika saja, setidaknya ada lima orang saja yang mau berkawan denganku sebaik dia, mungkin aku akan melupakan segala kesialan yang telah diberikan Tuhan dan menjadi pengikut-Nya yang taat tanpa protes.

"Jadi, akhirnya paman memecatmu juga, Naruto?"

Suara itu menggema dari ponsel yang kini ada di genggamanku.

Walau aku tak bisa melihat wajah orang yang bicara denganku itu, aku bisa merasakan ada ekspresi kecut di wajahnya. Dan karena berulang kali ia menghela, ia jelas-jelas tidak dalam kondisi riang gembira.

"Ya, begitulah, seperti yang diduga. Lagipula, bisakah kau berhenti menghela? Bukankah sudah kubilang kemampuanku untuk terlibat dalam kesialan sudah mencapai level infinity."

"Tapi, setidaknya berusahalah untuk tidak terlibat dalam masalah ketika kau bekerja…, kau sudah dipecat lebih dari lima kali bulan ini loh!" suaranya yang memang biasanya cempreng naik satu oktaf dan bikin suaranya jadi jauh lebih cempreng.

"Yah, mau bagaimana lagi. Mau pakai ritual buang sial juga, dalam hitungan mili detik kesialan itu juga bakalan langsung balik."

Namanya Serafall. Serafall Sitri. Putih, tua tapi loli, agak bego, dan sering diejek karena namanya mirip game buatan EA, Titanfall. Dan karena namanya sering jadi bahan ejekan entah bagaimana aku dan dia bisa berteman.

Jika aku sering dipanggil bakso kuning, ia sering dipanggil titan loli. Yang jelas jauh lebih menyakitkan dariku karena selain menyangkut namanya yang aneh, juga kondisi fisiknya yang mengenaskan.

"Hah…." dia menghela panjang. "aku menyerah. Walau kau harusnya lebih berusaha sedikit untuk menghilangkan kesialanmu, tapi kurasa memang kesialanmu itu agak lain. Aku bahkan masih tak percaya kau dipecat dulu dari aquarium raksasa itu gara-gara tak sengaja menekan tuas pembuka sangkar ketika pengunjung masih di dalam kolam hiu."

"Yah, untung saja aku tak jadi dituntut waktu itu."

"Jika kau tak segera menyelamatkan para pengunjung waktu itu dengan nekat nyebur ke kolam hiu, aku bisa melihatmu mendekam di penjara sekarang."

"Makasih banyak, tapi nggak deh." lagipula, aku masih tak bisa membayangkan bagaimana lintah penghisap sialan tak tahu diri yang menyamar sebagai manusia bernama Kyubi itu bisa hidup kalau aku di penjara.

Walau secara teknis ia dihidupkan atas perintah Tuhan, tapi aku agak tak yakin Tuhan sempat memerhatikan hamba-Nya yang sialan itu.

Ah, dan bicara soal Kyubi, dia saat ini sedang ada di depanku, dan main game di konsol PlayStation yang ia beli dari hasil kerja kerasku selama sebulan. Dengan cemilan dan soda di sekelilingnya, ia kelihatan seolah sedang ada di surga.

Ia bahkan tak terganggu sama sekali dengan obrolanku lewat telepon dengan Serafall.

Ini sudah jam setengah satu siang. Yang artinya sudah setengah jam berlalu sejak ponselku berdering dan membuatku terbangun dari tidur panjangku. Sepertinya ketika jam makan siang dimulai, Serafall langsung meneleponku.

"Jadi, Naruto, setelah ini kau mau kerja di mana lagi?"

"Nggak tau. Aku sedang malas mikir sekarang. Hari ini aku mau santai-santaian dulu, besok baru mau cari kerja."

Uang yang kupunya setidaknya, walau sangat tipis, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisiku hari ini.

Walau mungkin aku hanya bisa makan seadanya, misal hanya dengan nasi, telur dan kecap tapi setidaknya aku bisa kenyang. Lagian, uang jajan Kyubi sudah kuberikan lebih awal beberapa hari, setelah aku dicekik tadi. Jadi, aku masih bisa bersantai untuk saat ini.

Lagipula, entah memang bantuan dari Tuhan atau apa, aku merasa kalau penghasilanku sedikit mengalir lebih baik di dunia ini. Seolah, hanya dengan sedikit usaha saja aku sudah dapat pekerjaan, dan karena semua pekerjaanku dihitung perjam, aku langsung dapat gaji.

"Walau mentalku sudah kuat menghadapi pemecatan tak terduga seperti kemarin, tapi mengalaminya sebanyak delapan kali dalam seminggu bagaimanapun agak membuatku syok."

"Yah, walau aku belum pernah merasakannya -dan semoga jangan pernah, tapi sedikit banyak aku tahu perasaanmu."

"Bagus, setidaknya kau punya motivasi untuk tidak jadi sepertiku. Karena kecuali kau mau ketiban sial setiap hari, dan harus merasakan penderitaan yang melebihi neraka, kau takkan pernah mau jadi sepertiku."

"Ini hanya perasaanku saja, atau kau memang suka sekali menistakan dirimu sendiri?"

"Penyebaran fakta bukanlah penistaan."

Lagipula, satu-satunya caraku untuk terus bertahan di antara kesialan sialan ini hanyalah dengan menistakan segala hal yang ada di sekitarku.

"Haha, terserahmu saja lah." dia tertawa sebentar, lalu nadanya berubah menjadi serius. "omong-omong Naruto, kudengar alasanmu dipecat itu gara-gara kau menyelamatkan seorang wanita dari pemerkosaan?"

Aku menatap langit-langit, sembari merenggangkan tubuhku. Hari ini adalah hari suci-ku di mana aku bebas bermalas-malasan dan sofa ini adalah sanctuary-ku, di mana aku bisa bersantai sepuasnya, jadi aku ingin menghabiskan hari ini tanpa beban sedikitpun.

"Iya, tapi pamanmu tak percaya. Lagipula, darimana kau tahu itu?"

"Sungguh? Coba ceritakan bagaimana kejadiannya?"

Sebenarnya aku ingin meminta jawaban terlebih dahulu tentang bagaimana ia bisa tahu, sementara pamannya saja menganggap hal itu sebagai lelucon. Tapi mendengar nada serius yang lumayan mengintimidasinya, aku terpaksa menjawabnya.

Dan dengan begitu, aku menceritakan kejadian kemarin, mulai dari bagaimana aku mencari jalan paling cepat menuju rumah pelanggan, hingga bagaimana aku mengantarkannya ke rumahnya. Sebenarnya, aku ingin menceritakan bagaimana paman sialannya itu memecatku, tapi sebelum itu, aku sudah dihentikan dulu.

"Yang kau ceritakan itu benar kan?!"

"Jangan tiba-tiba menjerit, bego!"

Dengan suara cemprengnya, jeritannya bisa sampai seratus desibel, dan kupingku mulai sakit sekarang. Makanya dengan reflek, aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku.

Lagipula, taka da yang spesial dari ceritaku, jadi apaan orang ini?

Apa di terkena semacam penyakit yang membuatnya harus mengagetkan setiap orang?

"Saat aku menanyakan pada paman, ia menjawab itu cuma akal-akalanmu saja. Tapi setelah mendengar dari dua orang yang berbeda dan cerita yang mereka katakana mirip seratus persen, aku jadi benar-benar percaya sekarang."

Tunggu, dua orang? "Lah, siapa orang yang menceritakan hal ini padamu?"

"Tentu saja orang yang kau selamatkan!" beneran si cempreng ini harus beli rem mulut. Jangan asal jerit, bego!

"Coba tebak siapa dia?"

"Mana kutahu, kalau aku tahu siapa dia, aku juga takkan dipecat." dari awal itu memang masalahnya. "memang kau tahu?"

"Haha!" dia tertawa dengan nada yang menyebalkan. "tentu saja! Jangan remehkan Serafall Sitri yang terhormat ini!"

"Kakak loli satu ini beneran percaya diri."

"Jangan panggil aku loli, bakso sialan!" setelah sedikit terganggu dengan provokasiku, ia berdehem, dan kembali melanjutkan penjelasannya. "yang kau selamatkan itu adalah salah satu anak manusia paling berpengaruh di negeri ini!"

Yah, itu sedikit menjelaskan bagaimana ia bisa punya rumah sebesar itu.

"Lalu, untungnya bagiku?"

"Bego! Setelah melakukan hal seperti kemarin, kau masih menanyakan 'apa untunya bagiku?'. Aku tak tahu kau itu memang baik hati atau tolol dari sananya."

"Dasar tidak sopan! Aku ini sejujurnya baik hati 'lho! Tapi karena aku keseringan bohong, jadilah begini."

"Halah, terserah deh. Yang penting, mungkin setelah semua kesialanmu itu, inilah waktunya keberuntungan datang…-" tepat sebelum ia menyelesaikan kata-kata itu, ia menjerit, lagi, dan kali ini agak bikin kesel. "-…. Aaaa!"

"Eh, ada apa?"

"Jam istirahat sudah habis!" ah iya, ini sudah jam satu. "pokoknya, nanti sore sehabis jam kerja, kau temui aku di Aquarium, harus."

"Tapi ini 'kan hari li-"

"HARUS!"

"Ah…, iya deh."

Dan setelah itu ia menutup sambungan telepon dengan tanpa basa-basi.

Dasar tak tahu sopan santun!

.

.

.

A/N: Sebenarnya ini ff mau saya selesain minggu kemaren, tapi berhubung saya masih terlalu malas untuk menyentuh alat ketik, jadi mundur seminggu.

Btw, sedikit spoiler, Serafall itu iblis, jadi dia bisa manipulasi pikiran orang, jadi jangan kaget kalau nanti perannya bakalan agak aneh. Walau saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghaluskan alur ff ini.

Dan ada ide siapa cewek yang diselamatin Naruto? Atau ada yang mau usul cewek itu mau dijadiin kaya cewek di cerita harem biasa, missal tsundere, tergila-gila sama MC, kuudere, atau bahkan yandere, atau mungkin… kaya saya bikin karakter biasanya?

Dan silahkan kritik, dan sarannya seperti biasa! Saya masih pusing ngebangun rasa biar kaya dulu lagi, jadi mungkin yang baca cerita ini bakalan bilang 'ih, apaan sih?' ketika baca cerita ini…, jadi sekali lagi, mohon kritik dan sarannya!

.

.

Moga Untung Luganda, out.