Kali pertama Chanyeol bertemu dengan Baekhyun adalah ketika ia dan seekor kucing liar sedang di ganggu oleh kakak-kakak yang terlihat lebih muda dari Baekhyun. Hal yang dilakukan Chanyeol saat itu hanyalah melindungi kucing tersebut dan memunggungi sang pengganggu. Ia tidak memiliki keberanian untuk membela diri karena Chanyeol tidak berani melawan orang yang lebih tua. Namun di saat yang bersamaan; ketika Chanyeol hampir menitikkan kristal bening pada pelupuk matanya, datanglah seorang kakak yang kini Chanyeol anggap sebagai superhero.
Dan Chanyeol pikir dunia berubah semenjak hari itu.
Chanyeol menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermalas-malasan di tempat duduk. Bekal yang disiapkan oleh sang ibu sudah tak bersisa dan kini ia sedang memegang sebuah kertas berwarna hijau; yang mana kertas tersebut berisi jadwal mata pelajaran setiap hari. Hari ini adalah hari selasa, Chanyeol menempatkan telunjuknya pada kata selasa yang tercetak di sana. Lalu ia menggerakkan telunjuk ke arah kanan dan menghitung secara perlahan. Ia membutuhkan lima hari lagi hingga hari minggu datang. Bahu Chanyeol merosot saat ia pikir bahwa satu minggu penuh sangatlah lama. Sambil menghela nafas panjang Chanyeol menopangkan dagunya di atas meja, membuat seorang guru yang baru saja memasuki kelas menoleh dan bertanya kepada Chanyeol mengenai apa yang sedang ia pikirkan.
"Pak guru, apa bapak tahu bagaimana cara membuat hari minggu datang lebih cepat?" Tanya Chanyeol yang membuat sang guru terdiam beberapa detik. Guru tersebut tersenyum lembut dan berkata, "Wah, bapak juga ingin tahu bagaimana caranya."
Anak sekolah dasar itu mengangguk mengerti, "Berarti bapak tidak tahu, ya?"
Lalu sang guru mengangguk beberapa kali, "Ya, apakah ada sesuatu yang membuat Chanyeol menantikan hari minggu?"
Kemarin Chanyeol pulang bersama Baekhyun, mereka akan berpisah tepat ketika Baekhyun telah sampai di flatnya. Saat itu Chanyeol memegang ujung kemeja bagian lengan Baekhyun, bertanya kapan ia bisa kembali bertemu sang omega.
Dan Baekhyun bilang ia akan berkunjung di hari minggu.
Teringat kembali akan hal itu membuat bibir Chanyeol tertarik, tulang pipinya naik dan hazel Chanyeol menyipit. "Ya," jawab Chanyeol yang membuat sang guru terpaku; karena ini adalah kali pertama ia melihat Chanyeol tersenyum seperti itu.
.
Namun saat minggu telah tiba, Chanyeol dan kucing kesayangannya menghabiskan waktu dengan duduk di dekat pintu masuk. Wajahnya terlihat lemas namun ia pikir waktunya tidak akan lama lagi.
Hingga akhirnya sang ibu memerintah Chanyeol untuk segera mandi, Baekhyun bahkan tidak terlihat barang seujung kukupun.
.
.
Bye Bye, Alpha.
Chanbaek/Baekyeol – Romance. M.
Disclaimer : Sayonara Alpha belong to Ichinasi Kimi-sensei, I just remake it into a fiction; Chanbaek Version.
Warning; Male x Male, OOC
.
.
.
Dua orang siswi sekolah menengah kini tengah memerhatikan Baekhyun. Baekhyun kini duduk di dalam kelas, menopang dagunya dan kening Baekhyun berkerut samar. Salah seorang siswi berpikir Baekhyun terlihat murung akhir-akhir ini; walaupun ia masih tetap mempesona dan tetap menarik perhatian siswi-siswi lainnya. Baekhyun sendiri sadar benar apa yang menjadi alasan; sebenarnya kemarin ia datang ke rumah Chanyeol. Atau lebih tepatnya, ia sudah sampai di depan rumah Chanyeol. Dan di saat yang bersamaan, perasaan bersalah itu muncul kembali mengenai hal yang kemarin. Dan akhirnya Baekhyun berbalik dan menjauhi rumah Chanyeol, bersembunyi di balik sebuah dinding saat Chanyeol membuka pintu utama untuk memeriksa apakah ada orang di luar.
Singkat kata, Baekhyun mengingkari janjinya kepada Chanyeol.
Sedikit berlebihan namun nyatanya Baekhyun benar memikirkan soal itu. Mungkin saja Chanyeol marah dan tidak ingin berbicara dengan Baekhyun lagi, itu bisa saja terjadi mengingat Chanyeol yang masih kecil. Lalu jika memang Chanyeol tidak ingin bertemu dengan Baekhyun, apa yang harus ia lakukan?
"Eh, apa kau mendengar sebuah rumor?" Telinga Baekhyun mendengar seorang siswa berkata kepada teman lainnya. Baekhyun tidak sadar bahwa siswa tersebut— yang menggunakan sweater merah juga berambut hitam kini tengah meliriknya sinis, "Sesuatu yang terjadi setelah pulang sekolah."
Karena ia memang bukanlah tipe yang suka menguping, akhirnya Baekhyun berdiri. Ia mulai melangkahkan kedua kaki untuk keluar kelas. Menyusuri lorong dan tujuannya adalah atap sekolah, mungkin saja di sana akan ada udara segar.
"Ketua!"
Namun baru beberapa meter ia beranjak dari kelas, sesorang memanggil Baekhyun; yang mana adalah si sweater merah yang sempat Baekhyun lihat; bernama Kris. Kris melambaikan sebelah tangan begitu Baekhyun berbalik dan menghadap dia. Bibir Kris tertarik sebelah dan senyumnya terlihat sinis. "Apakah benar kalau seseorang pengurus OSIS adalah omega?" Lalu Kris berjalan mendekat, sedikit menunduk karena Baekhyun memang lebih rendah darinya. "Semua orang membicarakan itu, kalau minggu lalu ada aroma manis yang berasal dari ruang OSIS. Mereka pikir itu berasal dari Kyungsoo, tapi—" Kris merendahkan kepalanya hingga ia hanya berjarak satu jengkal dari wajah Baekhyun, "Ku pikir mereka menuduh orang yang salah."
Pemuda campuran darah Chinese— Kris Wu itu menarik dasi yang dikenakan Baekhyun, "Katakan ketua," Ia menatap Baekhyun sedikit mengejek. "Kau biasanya tidak masuk sekolah dengan teratur dengan alasan sakit, kan?" Tanya Kris yang sebenarnya itu adalah sebuah pernyataan. "Aku pikir itu aneh."
Sebelah alis Baekhyun menukik dan ia memasang wajah yang tidak besahabat, "Jadi katakan saja kalau aku adalah seorang omega, lalu apa hubungannya denganmu?"
Kris tersenyum semakin puas, matanya memincing sebelah dan ia menatap Baekhyun semakin lekat. "Itu terlihat kau menahannya saat heatmu datang di sekolah. Ku pikir aku bisa menolongmu." Ujar Kris lalu ia melipat kedua tangan di depan dada. Kris kembali mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Baekhyun, setengah berbisik dengan nada yang menghina, "Karena apapun yang kau pikirkan, seorang omega memang bertugas untuk membuka kedua kakinya untuk alpha dan beta."
"Kalau begitu kau mati saja," Buku yang mulanya di pegang oleh Baekhyun kini terlempar saat Baekhyun memberikan sebuah jotosan tepat di perut Kris. Kris mengaduh keras dan Baekhyun segera menjegal kaki Kris, Gerakannya cepat dan tahu-tahu Baekhyun sudah mengunci Kris dengan teknik hapkidonya. Kris memang pembuat onar, Baekhyun tahu jelas itu karena iapun pernah berurusan dengan Kris saat dikelas satu.
Kini Baekhyun melepaskan Kris dan ia membetulkan posisi dasi yang sedikit berantakan, "Orang sepertimu membuatku ingin muntah, tidakkah ibumu mengajarkan untuk tidak mengganggu orang lain?" Kata Baekhyun dan ia melangkahkan kakinya meninggalkan si pembuat onar.
Pada tempatnya Kris berdecih kasar, lengannya masih terasa sakit karena Baekhyun memutar itu saat sang ketua menguncinya "Meskipun kau memang seorang omega, kau selalu memperlihatkan kalau kau adalah seorang alpha. Dan aku—" ujar Kris yang setengah tersenyum karena ia berhasil membuat Baekhyun menoleh sedikit padanya, "akan membuat semua orang tahu."
.
Sejak ia kecil, Baekhyun selalu mendapatkan pujian. Kakek dan neneknya'pun tak terkecuali, mereka akan selalu berpikir kalau Baekhyun akan menjadi seorang alpha. Yang dulu Baekhyun tahu, menjadi seorang alpha adalah hal yang membanggakan. Kini Baekhyun sadar kalau dugaan itu salah, dan hingga saat ini hidupnya masih sempurna. Baekhyun tetap tidak dapat melawan takdir, dorongan untuk mengejar orang yang kini berada di hadapan Baekhyun meski ia sempat memberontak pada diri sendiri. Insting yang menuntun Baekhyun untuk jatuh cinta tanpa perduli yang lainnya.
"Chanyeol,"
Akhirnya Baekhyun berada disini, menemui Chanyeol yang terlihat terkejut. "Maaf.. Hari mingu kemarin, tiba-tiba.. Aku, aku tidak datang."
Chanyeol mendekat, menggapai pinggang Baekhyun dan memeluk sang omega erat. Wajahnya ia sembunyikan di balik perut Baekhyun, ia memejamkan netranya kuat-kuat dan berkata, "Baekhyun bodoh, kemarin aku menunggu sepanjang hari." Ucap Chanyeol tanpa melihat Baekhyun. Sedangkan ketua OSIS itu kini sedang terserang panik, ia merasa tulang rusuknya mengetat; membuat dada Baekhyun sesak seperti ia mau mati.
.
"Maaf, aku mengatakan hal yang buruk kepada Baekhyun."
Kini mereka berada di rumah Chanyeol, sang alpha duduk bersimpuh dengan kedua tangan di atas paha. Ia menatap Baekhyun takut-takut, mengabaikan ujung jaket yang sedang digigit kucing kesayangan Chanyeol. Disisi Baekhyun, ia tidak menganggap bahwa bodoh adalah ungkapan yang buruk.
"Meskipun kemarin Baekhyun ada sesuatu yang harus dikerjakan, atau bisa saja Baekhyun terserang demam.." Kata Chanyeol dengan mata anjing yang menciut, "Aku sudah berkata dengan egois."
Baekhyun tidak menjawab apapun saat Chanyeol beranjak dari tempat duduk dan menuju dapur. Sejauh Baekhyun menilai, ia pikir Chanyeol adalah anak yang baik. Walaupun Chanyeol masih anak-anak, tapi bukankah dia terlalu pendiam? Retina Baekhyun menatap punggung Chanyeol yang sempit, anak itu setengah berjinjit dan mengambil sebuah teko yang sepertinya panas. Berwarna cokelat yang Baekhyun pikir adalah teh.
Karena isi teko yang penuh membuat keseimbangan Chanyeol oleng. Hampir saja teh tersebut tumpah jika Baekhyun tidak dengan cekatan mengambil alih pekerjaan itu. "Aku saja, Chanyeol." Ujar sang omega.
"Karena hari minggu kemarin adalah kesalahanku sepenuhnya," Kini Baekhyun tengah menuangkan teh tersebut hingga gelas hampir penuh, "Kurasa akan lebih baik kau memberitahu apa yang kau inginkan." Kata Baekhyun menutup kalimat dan memberikan gelas tersebut kepada Chanyeol.
"Um.." Chanyeol terlihat ragu-ragu, ia memegang gelas tersebut dengan kedua tangan dan merasa malu saat Baekhyun menepuk kepalanya pelan. Chanyeol menutup kedua mata lalu menunduk, hidungnya mencium aroma teh yang kentara. "Bisakah aku memeluk Baekhyun?"
Beberapa detik berlalu dan tidak ada jawaban dari sang omega. Hingga akhirnya Chanyeol mendongak dan mendapati wajah Baekhyun yang terlihat kaku. "Apakah itu buruk?"
Baekhyun meneguk liur beberapa kali dan wajahnya memucat, karena tidak ada manusia yang dapat melawan takdir mereka. Ia membiarkan Chanyeol meraih dirinya, kini Baekhyun tengah duduk dengan kaki yang berselonjor dan Chanyeol yang setengah berdiri. Chanyeol mendekap tengkuk Baekhyun erat. Sedangkan Baekhyun sendiri mulai berkeringat, ingin batuk namun Baekhyun menahan itu. Bulir keringat telah mengalir dari pelipis sang omega dan Chanyeol tidak menyadari itu sedikitpun.
"Baekhyun, setiap aku bersentuhan dengan Baekhyun rasanya sangat nyaman. Kenapa bisa begitu?"
Tentu saja karena kita adalah pasangan. Begitu Baekhyun menjawab dalam hati. Chanyeol menyandarkan sebelah pipinya di bahu Baekhyun, menikmati betapa nyaman dirinya berada di dalam pelukan Baekhyun.
"Aku ingin menjadi seperti Baekhyun," Lalu Chanyeol melepaskan dekapannya, melihat pupil Baekhyun yang melebar dengan jelas. "Kali pertama aku bertemu Baekhyun, Baekhyun sangat keren. Baekhyun kuat.." sang alpha meraih tangan kiri Baekhyun dan memegangnya dengan kedua tangan. "cantik, dan perasaan seperti aku ingin bertemu Baekhyun sejak lama." Kini Chanyeol menempatkan tangan Baekhyun tepat di depan mulutnya, tidak sadar ia telah mencium jemari itu walau tidak kecupan disana.
Yang telah dilakukan oleh Chanyeol tentunya memberikan dampak untuk Baekhyun. Untuk kesekian kali Baekhyun kembali merasakan pacuan jantung yang sangat dahsyat. Namun kilat mata Baekhyun berubah dan ia menunduk lesu saat sesuatu terlintas dalam pikirannya. "Ha..ha," Baekhyun tertawa kering. "Tidakkah kau kecewa karena aku nyatanya seperti ini?" Ia menahan pada senggamanya yang terasa gatal; yang mana mengingatkan ia akan kata-kata Kris tadi siang. Baekhyun tahu kalau Chanyeol tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Kris mungkin benar, seorang omega memang bertugas membuka kedua kakinya untuk alpha atau beta mereka; dan ini jelas dirasakan Baekhyun ketika instingnya menuntun pada pikiran dimana Baekhyun menginginkan seseorang yang sembilan tahun lebih muda darinya. "Maksudku, omega."
Omega? Chanyeol pernah mendengar itu sebelumnya. Namun tidak ada seorangpun yang memberitahu Chanyeol apa arti dari omega. "Apakah itu sesuatu yang buruk?" Akhirnya Chanyeolpun bertanya.
"Tidak seburuk itu. Hanya saja aku selalu percaya kalau aku adalah alpha. Dan dengan semua itu, aku selalu berusaha sebaik mungkin. Tapi ternyata aku tidak akan pernah menjadi Alpha." Konyol memang, Baekhyun baru saja bercerita tentang perasaannya tanpa ia sadari.
"Baekhyun ingin menjadi alpha, bukan?" Kini Chanyeol kembali meraih tangan Baekhyun, menempatkan itu hingga mengenai dadanya. "Dan karena itu Baekhyun berusaha sebaik mungkin, Baekhyun hebat." Kemudian ia kembali mencium tangan Baekhyun, dengan sebuah kecupan yang membuat debaran hebat diantara keduanya.
"Mau Baekhyun alpha atau omega, aku masih menyukai Baekhyun." Kini Chanyeol tersenyum lembut, kedua hazel Chanyeol menyipit dan ia menatap Baekhyun dengan sayang khas anak-anak. "Baekhyun adalah Baekhyun yang bertahan disaat-saat yang sulit". Alpha itu tersenyum senang, kembali merengkuh Baekhyun ke dalam lengannya yang pendek.
Kini sang omega terdiam, ia menatap dinding dengan pandangan yang kosong. Benar, ia bergumam dalam hati karena telah menyadari sesuatu. Saat dibangku sekolah dasar Baekhyun pernah menjadi sasaran bullying anak-anak nakal. Dan sejak itu Baekhyun bertekad kalau ia akan menjadi lebih kuat. Selama ini Baekhyun selalu berjuang menjadi yang terbaik. Ia berusaha keras untuk mata pelajaran, olahraga, dan yang lainnya hingga ia mendapat pujian dimanapun. Semua orang kira Baekhyun adalah alpha yang di elu-elukan tak terkecuali Baekhyun sendiri.
Tapi ternyata hanya Chanyeol yang bisa menemukan siapa Baekhyun sebenarnya. Ia seperti itu karena usahanya sendiri.
Kedua lengan Baekhyun membalas pelukan sang alpha. Untuk kali pertama ini adalah perasaan lega yang luar biasa. Ia membenamkan wajahnya dibalik dada Chanyeol, mencium bagaimana aroma permen karet menguar dari tubuh sang alpha.
"Chanyeol," Panggil Baekhyun lembut dan ia melepaskan pelukan mereka. Pandangan mereka bertubrukan dan Baekhyun menatap Chanyeol dalam. "Akupun menyukaimu. Ini tidak ada hubungannya dengan pasangan yang ditakdirkan ataupun kau seorang alpha ataupun yang lainnya.." Ya, Baekhyun tahu kalau perasaannya ini bukan sekedar karena Chanyeol adalah pasangannya. Lebih dari itu, Baekhyun jatuh cinta kepada Chanyeol sebagai dirinya sendiri. Perasaan yang mendalam sebagai laki-laki kepada laki-laki lainnya.
"Maksudku, Chanyeo—"
"Chanyeol, ibu pulang!" Ibu Chanyeol muncul dari balik pintu, membawa sekantung belanjaan dan raut riangnya berubah saat melihat baik Baekhyun ataupun Chanyeol tersentak dengan kedatangannya.
"Apa yang terjadi disini?"
.
"Jadi kau Baekhyun?" Ibu Chanyeol menarik Chanyeol untuk berdiri dibelakangnya, membuat seolah Baekhyun akan menculik Chanyeol dan ia menatap Baekhyun dengan curiga. Berpikir kalau Baekhyun adalah seorang pedofil yang merangkap sebagai penjahat kelamin pula.
Baekhyun duduk bersimpuh, sedikit panik karena ini adalah pertama kalinya ia diinterogasi. Ia meminta izin kepada ibu Chanyeol untuk menjelaskan mengenai apa yang terjadi. Soal dia, Chanyeol, dan kenyataan kalau mereka berduapun adalah pasangan yang telah ditakdirkan. Sang ibu tentunya mengerutkan kening dan berpikir kalau ini sedikit tidak masuk akal. Bagaimana mungkin? Chanyeol bahkan belum pernah melakukan tes sehingga iapun tidak yakin kalau Chanyeol masuk kedalam tipe apa. Sedang Chanyeol kini menatap sang ibu dan Baekhyun dengan penuh tanya. Ia ingin mengerti soal apa yang kini terjadi, sungguh.
"Begini," Kini Baekhyun meremas kepalan tangannya sendiri kuat-kuat, "Aku adalah seorang omega." Kata Baekhyun memberi tahu. "Dan karena itu aku tahu kalau Chanyeol adalah alpha."
Sang ibu nampaknya mengerti, ia berjalan dan meraih kenop pintu dan membukanya. "Kalau begitu aku tidak akan mengijinkanmu berada di dekat Chanyeol. Kau bisa pergi." Pinta ibu Chanyeol dengan wajah yang sedikit keras. "Rasionalitas seorang omega akan hilang begitu saja saat ia berada di depan pasangannya."
Chanyeol berlari dan memeluk Baekhyun, membela sang omega karena ia pikir ibunya terlalu kasar. Sang ibu tidak membenci Baekhyun, sungguh. Iapun tahu kalau dalam kasus ini Baekhyun tidak bersalah. Tertarik pada alpha pasangannya dan berharap hal lebih adalah sesuatu yang wajar untuk omega. "Ini pasti sulit untukmu saat berada di dekat Chanyeol."
Dalam pikirannya Baekhyun membenarkan perkataan ibu Chanyeol. Tubuh Baekhyun memang selalu bereaksi setiap ia bersama dengan Chanyeol. Baekhyun mengerjap beberapa kali, menahan pita suaranya dan mengumpulkan keberanian sambil tetap meremas kepalan tangannya yang kosong. "Aku mengerti yang anda katakan, bu. Namun aku tetap ingin berada di dekat Chanyeol." Lalu ia menunduk dan menatap kedua pahanya sendiri, keningnya berkerut sehingga kedua alis Baekhyun saling menaut. "Tentu saja aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak sebelum Chanyeol dewasa. Aku akan meminum pil-ku dan aku berjanji akan hal-hal itu. Jadi,.." Baekhyun mengangkat wajahnya dan ia menatap ibu Chanyeol lurus-lurus, kilat keberanian terpancar namun tidak meninggalkan kesan sopan karena ia sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua.
"..hingga tiba waktunya, tolong izinkan aku untuk tetap bersama dengan Chanyeol."
.
.
.
ToBeContinued
.
.
Note :
Bagi yang nanya Age gapnya chanbaek udah kejawab yaaa. Btw mungkin chapter depan itu chapter terakhir. Untuk 3 chapter terakhir di manga aslinya aku rapel jadi dua chapter disini. Jangan lupa review ya, biar semangat aja wkwkwk :3
