REMAKE NOVEL By : Shanty Agatha

You've Got Me From Hello

Cast : Oh Sehun, Park Chanyeol, Kris Wu, Byun Baekhyun, and others.

Warn : GS, typo

-ooOoo-

.

.

-oOo-

"Ada kesalahan-kesalahan dalam percintaan yang bisa dimaafkan, tetapi pengkhianatan tidak termasuk salah satu di antaranya."

Chapter 2

Ponsel Sehun berbunyi sore itu, dan dia langsung mengangkatnya ketika mengetahui bahwa yang menelepon adalah eommanya.

"Sehunie?" eommanya langsung berbicara seperti kebiasaannya. "eomma harus memperingatkanmu."

"Memperingatkan apa eomma?" Dahi Sehun mengeryit dan langsung waspada. eommanya tidak pernah berucap dengan nada seserius ini sebelumnya.

"Kris" Suara eommanya setengah berbisik. "Dia datang kemari pagi ini dan memohon kepada eomma untuk memberikan informasi di mana dirimu."

"eomma tidak memberitahukannya kepadanya kan?" Sehun langsung panik. Percuma dia pindah ke lain kota kalau pada akhirnya Kris mengetahui dia ada di mana.

"Tentu saja tidak sayang." Sang eomma menghela napas panjang. "Tetapi sepertinya dia tidak menyerah, dia bilang pada akhirnya kalau eomma tidak mau mengatakan di mana dirimu, dia akan tetap tahu karena dia akan menghubungi kantor penerbitmu"

Sehun mengernyit kesal. Kalau Kris menghubungi kantor penerbitnya, tentu saja Kris akan tahu dimana dia berada. Dia mendesah kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, Sehun hanya tidak menyangka kenapa Kris sekeras kepala ini mengejarnya. Apakah lelaki itu tidak bisa menerima bahwa Sehun tidak bisa memaafkannya?

"Terima kasih sudah memperingatkanku eomma, ada kemungkinan bahwa dia sudah tahu di mana aku berada, aku menginformasikan kepindahanku dan alamat baruku kepada penerbit. Aku akan bersiap kalau Kris nekat dan mendatangiku."

"Kau tidak apa-apa Sehun?" suara eommanya tampak cemas di seberang sana, membuat Sehun tersenyum haru.

"Tidak apa-apa, eomma, aku bisa bertahan." Jawabnya mencoba sekuat mungkin meskipun dalam hatinya dia meragu.

-oOo-

Perempuan itu datang lagi malam ini, dan memesan segelas anggur untuk teman menulisnya. Chanyeol mengernyit, dari info yang didapatnya dari Jongdae, Sehun adalah seorang penulis novel romance. Tetapi sepertinya Sehun sedang murung karena beberapa kali perempuan itu hanya menghela napasnya di depan laptopnya, lalu mengawasi layar laptop itu dengan tatapan mata kosong.

Chanyeol merasa seperti pengintip yang memalukan ketika berdiri di depan kaca balkon atas dan mengamati Sehun seperti ini, tetapi dia tidak bisa menahan diri. Sudah beberapa hari ini Sehun selalu datang. Setiap pukul sembilan lalu akan menulis sampai dini hari sebelum kemudian pulang ketika terang tanah menyentuh langit.

Chanyeol tidak bisa menahan ketertarikannya untuk mengintip ke bawah, menanti kedatangan Sehun. Dan sejauh ini, perempuan itu tetap datang.

Ada keinginan tertahannya untuk mendekati perempuan itu, tetapi dia menahan diri. Dia takut kalau dia terlalu mengganggu, Sehun akan merasa segan dan kemudian tidak akan datang lagi.

"Perempuan itu datang lagi." Jongdae yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruang kerja Chanyeol bergumam sambil tersenyum penuh pengertian, mengamati Chanyeol. "Kau sepertinya sangat tertarik kepadanya."

"Kenapa kau bisa berpikiran begitu?" Chanyeol mundur dari kaca itu dan melangkah menuju kursi kerjanya. Jongdae adalah tangan kanannya, orang kepercayaannya. Lelaki itu dulu adalah pegawai setia ayahnya, dan orang yang paling dipercaya oleh ayahnya. Setelah ayah Chanyeol meninggal dan dia mewarisinya jaringan kerajaan bisnis hotel dan restoran ini, Jongdae yang selalu membantunya, memberinya pendapat dari sisi pengalaman, melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Chanyeol.

Karena itulah Chanyeol menghadiahi Jongdae cafe ini, tetapi lelaki setengah baya itu menolaknya. Dia hanya ingin tinggal di sebuah apartemen mini di bagian atas cafe dan tetap ingin bekerja menjadi pelayan meskipun Chanyeol sudah melarangnya. Tetapi Jongdae bilang bahwa menjadi pelayan cafe ini bisa membantunya tetap hidup. Dia kesepian dan bercakap-cakap dengan para pelanggan bisa menyembuhkan sepinya, karena itulah Chanyeol mengizinkan Jongdae menjadi pelayan di Garden Cafe ini.

Jongdae meletakkan kopi panas untuk Chanyeol dan tersenyum, "Kau menyapanya malam itu, kau bahkan tidak pernah menyapa pelanggan lain sebelumnya."

Chanyeol tersenyum kecut, rupanya dia terlalu mudah terbaca oleh Jongdae.

"Tetapi bukan berarti aku tertarik kepadanya." Jawab Chanyeol.

"Oh ya?" Jongdae mengangkat alisnya. "Sebelumnya kau tidak pernah menginap di cafe ini."

Seperti halnya Jongdae, Chanyeol mempunyai apartemen sendiri di sisi lain di bagian atas cafe ini. Tetapi dia memang jarang memakainya, karena dia selalu pulang ke rumahnya, kawasan hijau dan sejuk di perbukitan pinggiran kota, dekat dengan area resor hotelnya.

"Dan aku hitung, sejak kau menyapa perempuan itu, kau selalu datang kemari setiap malam, tanpa absen."

Chanyeol terkekeh mendengar perkataan Jongdae, "Aku memang tidak bisa membohongimu ya."

"Aku sudah mengenalmu sejak kecil." Jongdae tertawa. "Kau tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya dengan perempuan manapun." Jongdae berdehem pelan. "Begitu juga ketika dengan Kyungsoo"

Chanyeol tertegun ketika nama Kyungsoo disebut. Wajahnya sedikit memucat, dia lalu memalingkan muka dengan murung.

"Tetapi pada akhirnya semua akan tetap sama bukan?" gumamnya sedih. "Seberapa besar pun aku tertarik kepada perempuan itu, aku tidak akan pernah bisa memilikinya."

"Kau bisa memilikinya kalau kau mampu mengambil keputusan tegas."

"Tidak." Chanyeol mengernyit seolah kesakitan. "Aku memang bukan orang baik. Tetapi aku masih punya hati."

Tuhan tahu dia sudah tidak mencintai Kyungsoo, tunangannya. Tetapi dia masih punya hati. Kesalahannya harus dibayar, meskipun perasaannya yang dikorbankan.

-oOo-

"Chanyeol oppa?" Suara lembut Kyunsoo menggugah Chanyeol dari lamunannya, membuat Chanyeol menoleh dan langsung tersenyum lembut.

"Iya sayang?" balas Chanyeol sambil menyelipkan rambut panjangnya yang indah di belakang telinga Kyungsoo, dan tersenyum lembut.

"Ada apa? Kau tampak begitu murung." Tanya Kyungsoo.

Chanyeol mendesah, "Ah..iya... mungkin aku sedikit tidak enak badan."

Itu yang sesungguhnya. Dia sungguh merasa tidak enak badan, dia tidak suka berada di sini, tetapi dia harus. Setiap akhir pekan setelah kesibukan kantornya berakhir, dia harus berada di sini, menghabiskan waktunya bersama Kyungsoo, tunangannya. Tetapi pikirannya mengembara, ke cafe itu, tempat perempuan bernama Sehun itu selalu datang dan menulis di sana sampai dini hari.

Chanyeol tidak sabar untuk segera pergi dari sini dan menuju Garden Cafe, mengamati Sehun dari kejauhan.

"Pulanglah." Bisik Kyunsoo lembut, penuh pengertian. "Mungkin kau kelelahan dan butuh istirahat."

Kyungsoo selalu seperti itu, begitu lembut dan penuh pengertian. Apapun yang dilakukan Chanyeol dia selalu mengerti. Apalagi yang sebenarnya Chanyeol cari?

Ditatapnya Kyungsoo dengan senyuman lembut, kemudian dia menarik Kyungsoo mendekat dan mengecup keningnya, "Kau mau kuantar masuk?"

"Tidak oppa, pulanglah, aku bisa masuk sendiri." Jawab Kyungsoo tanpa kehilangan senyumnya.

Chanyeol menghela napas, lalu menyentuhkan jemarinya di rambut Kyungsoo dengan lembut. "Terimakasih Kyungsoo, sampai ketemu lagi besok ya."

Kyungsoo mengangguk, memundurkan kursi rodanya dan memutarnya memasuki rumah. Chanyeol menunggu sampai pintu rumah itu tertutup, lalu melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.

-oOo-

Dalam perjalanannya pulang dari rumah Kyungsoo, Chanyeol merenung. Dulu semuanya baik-baik saja. Chanyeol melabuhkan cintanya kepada Kyungsoo, dan memutuskan untuk melamarnya. Tetapi kemudian dia larut, sibuk dalam pekerjaannya dan lupa untuk memberikan perhatiannya kepada perempuan itu.

Kyungsoo yang kehilangan cintanya, akhirnya memutuskan untuk mencari perhatian dari lelaki lain. Dan dia mendapatkannya dari sosok lelaki bernama Jongin, yang ternyata adalah seorang bajingan.

Bajingan itu merenggut kegadisan Kyungsoo yang sedang rapuh karena diabaikan oleh Chanyeol. Lalu kemudian meninggalkannya begitu saja dalam kondisi hamil.

Masa-masa itu sangat menyakitkan bagi Chanyeol, ketika Kyungsoo datang kepadanya dan mengakui semuanya, tentu saja Chanyeol marah besar. Mereka sedang berkendara di mobil, di tengah hujan deras ketika Kyungsoo mengakui semuanya kepada Chanyeol. Chanyeol yang marah menginjak gas begitu kencang untuk meluapkan emosinya hingga kehilangan kewaspadaannya. Mereka lalu mengalami kecelakaan fatal, kecelakaan yang membuat Kyungsoo keguguran anak hasil hubungannya dengan Jongin, dan tidak bisa berjalan lagi selamanya.

Chanyeol sendiri hanya mengalami lecet-lecet, dia mendengar kenyataan bahwa Kyungsoo akan lumpuh dan merasakan penyesalan yang luar biasa. Dialah penyebab semua ini, Kyungsoo menjadi lumpuh seumur hidup karena dirinya, karena dialah mereka mengalami kecelakaan parah itu.

Padahal perselingkuhan Kyungsoo kalau ditelaah adalah karena kesalahannya, Chanyeol terlalu sibuk dengan bisnisnya sehingga melupakan Kyungsoo. Bahkan dia hampir tidak punya waktu untuk tunangannya itu, jadi wajar kalau Kyungsoo sampai mengais perhatian dari lelaki lain.

Lalu Chanyeol mutuskan bahwa dia harus bertanggungjawab. Dan pagi itu pula ketika Kyungsoo tersadarkan diri dari kecelakaan, menangis ketika mengetahui bahwa dia tidak bisa berjalan lagi. Chanyeol memeluknya dan mengatakan bahwa dia akan selalu mendampingi Kyungsoo selamanya. Dia memaafkan kekhilafan Kyungsoo dan bertekad untuk melangkah ke depan, meninggalkan yang lalu.

Chanyeol mengira itu akan mudah. Toh dia mencintai Kyungsoo sebelum kejadian itu, dipikirnya dia hanya perlu memaafkan dan kemudian menjalani keadaan mereka seperti sebelumnya. Tetapi kemudian dia merasakan perasaannya mulai terkikis dan musnah, setiap menatap perempuan cantik itu. Lalu menyadari kenyataan bahwa Kyungsoo telah mengkhianatinya dan membiarkan dirinya disentuh oleh lelaki lain sampai sedemikian jauhnya.

Hari demi hari berlalu, sampai di titik cintanya musnah begitu saja. Dia menjalani harinya dengan Kyungsoo hanya karena dia merasa harus melakukannya. Chanyeol yakin dia bisa melakukannya, toh hatinya sudah mati rasa.

Sampai kemudian dia melihat Sehun, dan terpesona lalu tertarik kepadanya.

Jongdae memang benar, Chanyeol tidak pernah tertarik kepada perempuan lain sebelumnya. Begitu kuat, begitu memabukkan, membuatnya tak bisa memikirkan yang lain. Membuatnya ingin mencoba mendekat bahkan meskipun dia sadar bahwa dia tidak bisa memiliki perempuan itu.

Sejenak Chanyeol ragu, dia berada di persimpangan jalan, satu menuju ke arah rumahnya dan yang lain menuju ke arah Garden Cafe. Pada akhirnya Chanyeol mengarahkan mobilnya ke arah Garden Cafe. Dia ingin melihat Sehun, perempuan yang telah menarik perhatiannya.

-oOo-

Ketika dia memasuki pintu cafe itu, matanya mencari di sudut yang biasa, dan menemukan Sehun. Perempuan itu sedang mengetik seperti biasa ditemani segelas anggur merah yang tinggal tersisa setengahnya.

Sejenak Chanyeol ragu, tetapi kemudian dia mendekat.

"Aku heran anggur itu tidak membuatmu mengantuk." Ucap Chanyeol.

Sehun langsung mendongak mendengar sapaannya, ada tatapan terkejut di sana ketika melihat Chanyeol berdiri di depannya. Tetapi kemudian dia tersenyum lembut.

"Aku punya penyakit susah tidur akhir-akhir ini. Kata Jongdae-ssi anggur ini bisa membantuku, tetapi sepertinya aku kebal."

Chanyeol tersenyum, "Kalau kau ingin mengantuk jangan ikuti nasehat Jongdae, minumlah susu putih."

"Susu putih?" Sehun mengeryit. "Aku tidak suka susu putih, rasanya terlalu gurih dan menguarkan aroma yang aneh di hidung, membuatku mual."

Kali ini Chanyeol benar-benar terkekeh geli, "Aku baru kali ini mendengarkan deskripsi yang begitu menarik tentang susu putih." Godanya, "Apa yang sedang kau tulis?" Tanpa sadar Chanyeol menarik kursi dan duduk di depan Sehun.

"Roman percintaan." Pipi Sehun memerah, menyadari bahwa dia ditatap oleh lelaki yang begitu tampan, dengan mata cokelat tua yang jernih dan rambut berantakan yang tampak sangat menggoda. Tetapi kemudian dia mengeraskan hati. Semakin tampan seorang lelaki berarti semakin berbahaya dirinya. Gumamnya dalam hati.

"Roman percintaan? Dan sepertinya kau sedang kehabisan ide?"

Bagaimana lelaki ini tahu?

Sehun mengangkat bahunya. "Tokoh utama di ceritaku saling membenci, dan aku merasakan dorongan kuat untuk membiarkannya seperti itu."

Chanyeol terkekeh, "Tetapi kau tidak bisa membiarkannya seperti itu?"

"Tidak bisa." Gumam Sehun penuh penyesalan, "Karena ini cerita roman, dan cerita roman karanganku harus berujung Happy Ending."

"Kenapa?" tanya Chanyeol penasaran.

"Apanya?" Sehun mengenyit bingung.

"Kenapa harus Happy Ending?" Chanyeol menatap ke arah Sehun dengan tajam, membuat Sehun sedikit salah tingkah.

"Karena di kehidupan nyata kadangkala Happy Ending bukanlah milik kita." Ingatan Sehun langsung melayang kepada Kris dan dia tersenyum pahit. "Karena itulah setidaknya novelku bisa menjadi pengobat luka hati."

"Kau benar-benar penulis novel yang baik dan memikirkan perasaan pembacanya." Gumam Chanyeol sambil tersenyum, yang ditanggapi Sehun dengan mengangkat bahunya.

"Aku hanya ingin menyajikan kisah yang indah untuk pembacaku."

"Misi yang luar biasa baik, dan aku yakin itu bisa membantu semua orang, karena kadang di dunia nyata ini kita tidak selalu berakhir indah." Chanyeol bangkit dari duduknya dan menganggukkan kepala sopan, "Silahkan lanjutkan menulis, maaf atas gangguanku."

-oOo-

Chanyeol sedang mengenakan dasinya untuk berangkat ke kantor pusatnya di area resor hotelnya ketika pintu apartemen pribadinya di lantai dua cafe itu diketuk. Dia mengernyitkan keningnya, hari masih pagi. Cafe di bawah memang buka duapuluh empat jam, tetapi yang pasti tidak akan ada yang berani mengetuk pintunya sepagi ini. Bahkan Jongdae pun tidak akan melakukannya.

Dengan jengkel sekaligus ingin tahu, Chanyeol membuka pintu ruang kerjanya dan menemukan Cheondung berdiri di sana. Saudara kembarnya.

"Kenapa kau kemari pagi sekali?" Chanyeol mengernyit, menatap adiknya ingin tahu. Chanyeol dilahirkan lebih dulu 3 menit sebelum Cheondung. Karena itulah dia selalu menganggap dirinya sebagai kakak. Lagipula, secara kepribadian, dia memang lebih dewasa dibandingkan Cheondung.

Cheondung terlalu berpikiran bebas, dia bahkan tidak mau memegang perusahaan warisan ayah mereka dan memilih mengejar impiannya menjadi seorang pelukis. Kadang Chanyeol merasa iri kepada Cheondung karena kemampuannya untuk merasa bebas dan lepas dari tanggung jawab.

Chanyeol sendiri tidak bisa. Perusahaan ayahnya harus dikendalikan. Dan karena Cheondung tidak bisa diandalkan, maka dia mengambil alih seluruh tanggung jawab itu di pundaknya.

Mungkin dia memang ditakdirkan untuk selalu memikul tanggung jawab terhadap orang lain di pundaknya, pikir Cheondung pahit.

Sementara itu Cheondung tampak tidak peduli, dia melangkah masuk ke apartemen Chanyeol dan membanting tubuhnya di sofa.

"Aku sedang menerima proyek melukis untuk desain kantor di dekat resor kita. Pekerjaan itu baru selesai tadi pagi dan aku memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu pagi ini sekaligus menumpang tidur. Tetapi kata pelayan sudah berhari-hari kau tidak ada di sana dan tidur di Garden Cafe." Cheondung merengut, "Jadi aku terpaksa menyusul kemari."

Chanyeol meraih jasnya dan melirik adiknya tanpa ekspresi, "Kau bisa menumpang tidur di kamar." Gumamnya tenang, "Aku harus bekerja."

"Kau tampak tidak sehat." Gumam Cheondung ketika mengamatinya, "Dan kurus. Apakah memimpin perusahaan ini membuatmu begitu sibuk sampai lupa mengurus dirimu?"

Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, hampir enam bulan lebih. Itu karena Cheondung memutuskan ke Belanda, untuk mengunjungi guru melukisnya di sana. Adik kembarnya itu baru pulang sebulan yang lalu, tetapi mereka sama-sama sibuk hingga sekaranglah pertemuan mereka yang pertama setelah enam bulan berlalu.

Chanyeol sendiri mengamati adiknya yang tampak begitu segar dan tanpa beban, lalu mengernyit, "Salah satu dari kita harus menjalankan perusahaan ini."

"Kau tidak perlu melakukannya, kau tahu itu." Cheondung memundurkan tubuhnya dan menyandarkan dirinya di sofa, "Perusahaan itu bisa saja kau serahkan kepada para tangan kanan ayah, selama ini bukankah mereka juga yang menjalankannya?"

"Tetapi perusahaan ini tetap butuh seseorang yang mengendalikannya, Cheondun-ah." Chanyeol bergumam tajam. "Aku bukan orang bebas yang bisa melepaskan tanggung jawab seperti dirmu." Sindirnya.

Cheondung malahan tertawa, "Dan kaupun memikul tanggung jawab itu, ciri khas seorang Chanyeol."

Wajahnya berubah serius, "Sama halnya seperti yang kau lakukan kepada Kyungsoo"

"Aku tidak mau membicarakannya." Chanyeol langsung memalingkan muka, berusaha memutus percakapan. Mereka pasti akan berakhir dengan adu argumentasi ketika membicarakan Kyungsoo.

Cheondung adalah salah satu orang yang menentang keras ketika Chanyeol melanjutkan pertunangannya dengan Kyungsoo. Dia tentu saja tahu tentang pengkhianatan Kyungsoo dan menganggap Chanyeol bodoh karena memikul tanggung jawab terhadap Kyungsoo. Padahal kecelakaan yang dialami Kyungsoo seharusnya bukanlah kesalahan Chanyeol.

"Tidakkah kau bertanya-tanya bahwa sebenarnya ada jodohmu di luar sana?" Cheondung terus mengejar, tidak peduli akan ekspresi membunuh yang dilemparkan Chanyeol kepadanya, "Tidakkah kau ingin tahu bahwa pasangan jiwamu sedang menunggu jauh di sana? Menanti untuk kau temukan? Kalau kau terus terpaku pada Kyungsoo, yang jelas-jelas tidak kau cintai, kau akan kehilangan kesempatanmu untuk menemukan jodohmu yang sesungguhnya."

"Aku tidak menyangka kau bisa begitu puitis." Chanyeol berusaha menghindar dari bahasan tentang Kyungsoo. Dia sedang tidak mau memikirkannya.

"Aku seorang seniman, meskipun aku pelukis, tetap saja aku bisa puitis." Cheondung tertawa, "Berbeda dengan dirimu yang begitu kaku." Wajahnya melembut, "Aku hanya ingin kau berhenti menyiksa dirimu, Hyung"

Apakah sejelas itu?

Chanyeol berusaha memasang wajah datar, "Kalau kau ingin aku sedikit lebih baik, bantulah aku di perusahaan."

"Tidak." Cheondung langsung menjawab cepat, "Berkemeja rapi, memakai jas dan dasi bukanlah gayaku. Aku bisa mati bosan kalau bekerja di kantor." Dengan santai dia melangkah berdiri dan menuju kamar Chanyeol "Selamat menikmati harimu" Gumamnya santai lalu menghilang ke dalam kamar.

-oOo-

Sehun sedang melangkah keluar dari pintu putar apartemennya, hendak menuju ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan sebagai pengisi kulkasnya ketika langkahnya membeku di trotoar.

Mobil warna biru itu dengan pelat nomor yang sangat dikenalnya.

Itu mobil Kris...

Dan benar saja, lelaki itu melangkah keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di depan Sehun,

"Hai Sehun" Sapanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka "Apa kabarmu? Aku kemari untuk mengunjungimu, aku merindukanmu." Bisiknya lembut.

Bisikan itu dulu pernah membuat hati Sehun hangat. Tetapi sekarang tidak lagi, dia menggertakkan giginya dengan marah.

"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Sehun dingin.

Kris mengangkat bahunya, "Mengunjungimu tentu saja, kau pikir apa? Aku harap setelah kau puas dengan tingkah kekanak-kanakanmu kita bisa bercakap-cakap dengan kepala dingin."

Tingkah kekanak-kanakannya, katanya?

Sehun menahan dirinya untuk maju dan menampar Kris. Berani-beraninya lelaki itu muncul di depannya seolah tidak bersalah dan mengganggu ketenangan hidupnya lagi.

"Aku tidak mau bercakap-cakap denganmu. Minggir." Gumam Sehun marah, ketika Kris dengan sengaja menghalangi jalannya di trotoar yang sempit itu.

Tetapi Kris tidak bergeming, dia malahan semakin sengaja menghalangi Sehun lewat.

"Kita harus bicara Sehun, ayolah hentikan sikap kekanak-kanakanmu itu dan berbicaralah dengan dewasa."

"Aku rasa aku sudah mengambil keputusan dewasa dengan mengakhiri pertunangan kita. Menyingkirlah Kris dan biarkan aku lewat."

Sehun berusaha mencari jalan melewati Kris, tetapi karena lelaki itu menghalangi jalannya, dia merengut kepada Kris dengan tatapan menghina, "Ah sudahlah!" Gumamnya marah lalu membalikkan tubuhnya, hendak berbalik dan meninggalkan Kris.

Sayangnya gerakannya kurang cepat, Kris sudah meraih lengannya dan mencekalnya,

"Dengarkan aku dulu Sehun, kau harus mendengarkan aku!" seru Kris mulai emosi. Lelaki itu bahkan tidak peduli akan lirikan orang-orang di sekitar mereka.

Sehun malu, sungguh-sungguh malu. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cekalan tangan Kris di lengannya, berusaha melepaskan diri dari Kris. Dia jijik, dia benci, dan dia sangat muak kepada laki-laki ini.

Di tengah usahanya melepaskan diri, sebuah mobil berwarna merah menyala menepi ke trotoar di dekat mereka. Chanyeol turun dari mobil dan mengernyit, dari kejauhan dia sudah melihat lelaki itu mencengkeram lengan Sehun dan Sehun yang berusaha melepaskan diri. Pada akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk mendekat.

"Bisakah kau lepaskan perempuan itu? Tampaknya dia tidak mau berurusan denganmu." Gumamnya dingin.

Membuat Sehun dan Kris menoleh bersamaan.

.

.

.

.

TBC

Maaf kalo masih nemu typo typo :" aku udah berusaha buat menghindari hal itu, bahkan udah baca berulang-ulang, tapi kadang masih ad yang kelewat :". Namanya juga manusia ya...harap maklum :"

Dan maaf juga buat yang review namanya gabisa aku sebutin di sini, karena entak kenapa reviewnya jadi ga kebaca, aku mohon maaf :' ini juga bukan kehendak aku. Aku janji kalo review kalian kebaca aku akan tulis itu diakhir chapter. Kerena itu sebagai bentuk apresiasi aku terhadap kalian yang ydah review

Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian

Review