Setelah kejadian itu Baekhyun menjadi kembali lebih ceria namun terkadang ia melamun tak bersemangat, ia merasa heran dengan rasa mual dan muntah muntah yang selalu melandanya setiap pagi hari. Dia pikir itu morning sickness, tapi bukankan ia tidak hamil? Lalu kenapa dengan mual mual itu?
Seperti pagi ini, Baekhyun merasa perutnya sangat mual, untung saja Chanyeol sudah berangkat ke kantor sejak pagi pagi buta. Jadi Baekhyun tidak merasa khawatir jika Chanyeol melihatnya muntah muntah.
"Sebenarnya aku ini kenapa?" Baekhyun membasuh mulutnya di wastafel dan mengeringkannya dengan tisu. Memandang pantulan dirinya di cermin. Ia merasa wajahnya pucat. Baekhyun melirik jam dinding yang menempel di luar kamar mandi dan membelalakkan matanya.
Astaga ini sudah pukul duabelas. Dan dua puluh menit lagi bimbingan skripsi Baekhyun akan dimulai. Dosennya pasti sedang menunggunya saat ini.
Ia lalu bergegas mengganti pakaiannya dengan dress selutut berwarna krem, dipadukan dengan tas selempang berwarna cokelat yang terlihat manis. Ia sedikit memoleskan pelembab wajah dan lipstick berwarna orange, sangat kontras dengan kulitnya. Ia terlihat manis dengan pakaian itu, ditambah sepatu flatnya dan rambut yang di gerai membuat aura anggun terpancar dari tubuhnya.
Setelah sampai di kampus, Baekhyun segera mendatangi ruangan dosennya yang sudah terlihat sangat kesal akibat keterlambatan Baekhyun.
"Joeseonghamnida seonsaengnim."
Hahhh.. Ini akan menjadi hari yang paling melelahkan-pikir Baekhyun.
.
.
Bimbingan selesai pada pukul empat belas, ini memang sudah sedikit terlambat untuk makan siang, tapi bukan berarti tidak boleh makan bukan?
Salahkan dosen pembimbingnya karena dia mempersulit Baekhyun karena terlambat mendatanginya.
Kini Baekhyun dan Luhan sedang jalan-jalan di sekitar Myeongdong. Baekhyun memaksa Luhan untuk menemaninya belanja beberapa pakaian dan sepatu. Dan tentu saja Luhan tidak dapat menolak permintaan si cerewet Byun ini.
Entah apa yang sedang merasuki Baekhyun. Tapi saat ini Baekhyun sangat sangat ingin memakan bacon dan sup rumput laut. mmmm memikirkannya saja membuat liurnya keluar.
Dengan berjalan sedikit tergesa dan tangan yang menyeret lengan Luhan, ia lalu memasuki restoran cepat saji yang menyediakan makanan yang sedang diinginkan Baekhyun. ia lalu memesan pesanannya dengan semangat.
Selagi menunggu pesanannya datang, Baekhyun tak henti hentinya membicarakan kebiasaan anehnya setiap pagi.
Dimulai dari ia selalu muntah-muntah, ingin bermanja-manja pada Chanyeol, sampai ia selalu ingin memakan makanan berbau daging, padalah Baekhyun selalu menghindari makanan berbau daging. Diet katanya.
Luhan sempat mengatakan bahwa Baekhyun hamil. Tetapi langsung di bantah oleh baekhyun dan mengatakan jika sebulan yang lalu ia baru saja memeriksanya dan hasilnya negatif.
Pesanan mereka pun akhirnya datang. Dengan lahap Baekhyun menyantap hidangan di depannya. Luhan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Wajahnya saja imut, tapi makannya seperti king kong yang tidak pernah makan selama sepuluh tahun-pikir Luhan
"Haaahhhh..." Luhan menghela nafas kasar.
"Kau seharusnya memeriksakannya ke dokter kandungan, Baek. Bisa saja kan testpack itu rusak atau semacamnya?" Baekhyun memandang luhan dan mengangguk sambil mengunyah baconnya.
"Betul juga."
"Kenapa tidak kepikiran ya?" Baekhyun kembali memakan baconnya sambil mengangguk-angguk.
Luhan memutar bola matanya malas, sahabatnya ini benar-benar idiot setelah menikah dengan CEO Park itu..
Suasana kembali hening, saat Luhan ikut larut dengan makanannya. Tak ada yang bersuara di antara mereka kecuali dentingan sendok dan mangkuk sup rumput laut Baekhyun dan kebisingan dari orang-orang sekitarnya.
KRING-
Seseorang datang.
Uhuk..
Luhan yang sepenuh hati menyesap teh rendah gulanya tiba-tiba terbatuk melihat orang yang baru saja masuk ke restoran itu.
Baekhyun yang khawatir lalu menepuk-nepuk tengkuk Luhan sambil memberinya tisu karena ewh... Teh yang baru saja Luhan minum itu menyembur dari mulutnya dan membasahi kemejanya.
"Perhatikan cara minummu itu Xiao Lu, ini menjijikkan." Baekhyun menggerutu, sementara Luhan terbengong melihat orang yang baru saja masuk itu.
Seseorang yang baru masuk itu melirik ke kiri dan kekanan hingga pandangan mereka-orang itu dan Luhan bertemu. Orang itu tersenyum tampan lalu menghampiri meja Luhan. Luhan yang merasa ke ge-eran lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan tertunduk sambil menahan senyumnya agar tidak merekah.
Baekhyun mengerutkan keningnya heran. kenapa dengan sahabatnya itu?-pikir Baekhyun.
"Baekhyun noona." Baekhyun menoleh ke belakang dan mendapati Sehun sedang berjalan menghampirinya sambil tersenyum tampan. Mau tidak mau, Baekhyun balik tersenyum pada Sehun.
"Oh.. Sehun-ah.." Baekhyun melambai pada Sehun. Dia melirik ke arah Luhan yang sedang menundukkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang memerah.
Seringaian muncul di bibir tipi Baekhyun. Ia lalu mempersilahkan Sehun duduk dan memperkenalkannya pada Luhan. Sehun duduk di sebelah Baekhyun, omong-omong.
"Sehun-ah.. Perkenalkan ini Xiao Lu, sahabatku. Dia single, asal kau tau." Sehun tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. Luhan memandang Baekhyun dengan tatapan 'ku-bunuh-kau-nanti' yang membuat Baekhyun semakin menyeringain.
"Nahh.. Xiao Lu, ini Oh Sehun. Dia murid Chanyeol dulu." Ucap Baekhyun. Luhan kemudian membalas uluran tangan Sehun dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya. Membuat Baekhyun memalingkan wajahnya dan ber-ekspresi ingin muntah karena menurutnya itu sangat 'Sok Imut'
Sehun menaikkan kedua alisnya ia sedikit terkejut melihat wajah manis Luhan yang jujur saja menurut Sehun lebih manis dari pada Baekhyun yang ia kagumi sejak masuk ke KAIST university. Kulitnya yang putih, mata rusanya yang bersinar dan senyumnya yang seperti memberi pesona lebih. Uhh cantik..
"Sebenarnya namaku Xi Luhan. Tapi Baekhyun selalu memanggilku seperti itu, asal kau tau Oh Sehun."
"Mmm, apa Luhan-ssi juga kuliah di KAIST?"
Pertanyaan Sehun membuat ekspresi berbeda keluar dari dua gadis ini. Luhan dengan wajah terkejutnya, dan Baekhyun dengan wajah menahan tawanya. Jujur saja, Sehun baru pertama kali ini melihat gadis dengan mata rusa itu. Ia tidak pernah tau jika Byun Baekhyun berteman dengan gadis rusa ini. Hmmm.
"Apa kau tidak tahu? Yatuhan Oh Sehun. Dia ini Xi Luhan, Xi Luhan.. Astaga~" okay, sepertinya sifat asli Baekhyun mulai keluar.
"Xi Luhan seorang gadis asal China yang kuliah di KAIST university jurusan jurnalistik?dan Dia itu seorang model majalah Etude House." Sehun memandang Luhan yang tersenyum canggung.
"Baek, kurasa kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Maksudku tentang pekerjaanku." Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sehun lalu tersenyum lebar.
"Oh, maafkan aku nona Xi, aku tidak tau kau dan pekerjaanmu. Aku tak pernah membeli kosmetik brand itu dan... Oh maafkan aku."
"Tak apa.. Sehun-ssi, aku mengerti. Kau 'kan laki-laki, dan tidak mungkin kau membeli kosmetik. Dan kau bisa memanggilku Luhan, tak perlu seformal itu."
Sehun menganggukkan kepalanya dan mulai memanggil Luhan denan panggilan "Luhan noona"
Sepertinya mereka mulai akrab, pikir Baekhyun. Ia lalu melihat alrojinya dan pura-pura terkejut.
"Yatuhan ini sudah pukul empat, suamiku akan segera pulang, dan aku belum menyiapkan makan malam. Aku harus segera pulang. Xiao Lu, Sehun-ah mianhae aku harus pulang duluan." Sehun mengangguk, sementara Luhan memelototkan matanya.
"Aku pergi dulu oke? Sampai jumpa teman-teman." Baekhyun menyampirkan sling bagnya dan meninggalkan Luhan dan Sehun berdua.
"Hati-hati Baekhyun noona"
.
.
Baekhyun berjalan menuju rumahnya sambil cekikikkan memikirkan apa yang terjadi pada Sehun dan Luhan setelah dia keluar dari restoran? baekhyun harap mereka menjadi lebih dekat.
'Kau seharusnya memeriksakannya ke dokter kandungan, Baek. Bisa saja 'kan testpack itu rusak atau semacamnya?'
Ia kembali teringat perkataan luhan beberapa waktu lalu.
Benar! Baekhyun harus memeriksakan kandungannya ke dokter. Atau setidaknya dia membeli testpack yang baru.
Baekhyun lalu berlari kecil ke sebuah apotek dan membeli sebuah test pack.
"Bisakah aku meminjam toiletnya?" Tanya Baekhyun. Apoteker itu mengangguk dan menunjukkan arah menuju toilet.
Setelah mencelupkan testpack itu kedalam cairan urinnya, Baekhyun lalu menarik nafas panjang dan membuangnya kasar saat melihat garis yang terlihat.
"Yatuhan. Rasanya aku ingin menangis." Baekhyun membekap mulutnya menahan isakannya agar tidak keluar.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh malam. Baekhyun sudah siap dengan hidangan makan malamnya untuk menyambut Chanyeol. Tak lama setelah itu suara mesin mobil terdengan di telinga Baekhyun.
"Aku pulang.."
Ucap seorang lelaki bertubuh tinggi itu sambil melepaskan sepatunya dan berganti menjadi sandal rumah.
Baekhyun, sang istri yang sedang berada di dapur langsung berlari kecil menghampiri sang suami yang baru saja pulang bekerja.
Baekhyun memeluk Chanyeol, dan di balas olehnya kemudian mengecup kening istrinya lembut.
"Aku sudah menyiapkan makan malam dan air hangat untukmu. Kau ingin makan malam dulu atau mandi dulu?" Tanya Baekhyun sambil menerima tas dan jas kerja Chanyeol.
"Aku ingin mandi dulu. Bisa kau siapkan pakaianku?"
Tanya Chanyeol, dan di jawab anggukkan oleh Baekhyun. Padahal tanpa di suruh pun Baekhyun akan melaksanakannya.
Selama Chanyeol berada di kamar mandi, Baekhyun menyiapkan piyama untuk Chanyeol.
Piyama dengan motif strawberry itu kini melekat di tubuh Chanyeol dan Baekhyun yang memang sudah menggunakannya sedari tadi. Mereka berdua jadi terlihat seperti pasangan pengantin baru. Sungguh menggemaskan.
Chanyeol berjalan menuju dapur sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.
"Apa kau yang memasak semua ini?" Tanya Chanyeol sambil menyampirkan handuk kecil itu di bahunya.
"Ya, tentu saja. Siapa lagi memangnya?"
Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sedang duduk di meja makan sambil menyesap susunya. Baekhyun mengambil alih handuk di tangan Chanyeol dan mulai menggosok rambut hitam basah itu.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
Tanya Baekhyun sambil mengeringkan rambut Chanyeol.
"Tidak terlalu baik, investor dari Jepang membatalkan investasinya karena Jongdae meninggalkan satu berkas penting di rumahnya."
Baekhyun berhenti sejenak.
"Benarkah? Bagaimana bisa Jongdae selalai itu? Setahuku dia orang yang sigap."
Chanyeol hanya mengedikkan bahunya dan kembali menyesap susu miliknya. Sepertinya moodnya sedang tdak baik.
Chanyeol mulai menyantap makan malamnya dan diikuti dengan Baekhyun.
"Chanyeollo." Panggil Baekhyun.
"Ya sayang?" Chanyeol menjawab.
"Tadi aku memperkenalkan Sehun kepada Luhan."
UHUK
Chanyeol tersedak makanannya. Baekhyun panik, ia menuangkan air dan memberikannya kepada Chanyeol dan menepuk punggungnya pelan
"Jangan terburu-buru yatuhan, bahkan makanannya masih banyak. Kau ini." Baekhyun bernafas lega dan meminum airnya.
"Ini bukan soal makanan. Uhuk.. Kau yakin mereka akan saling menyukai? Maksudku kau tau kan jika Sehun itu... Menyukaimu?"
UHUK
Baekhyun tersedak dan menyemburkan minumannya.
"APA?"
"Baek! Kau menyemburkan minumnya ke wajahku." Chanyeol mengelap kasar wajahnya.
"Aku tidak tau jika Sehun menyukaiku."
Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Tentu saja. Kau 'kan salah satu dari sepuluh wanita paling tidak peka di dunia ini."
"Kau berlebihan." Baekhyun menunjuk wajah Chanyeol dengan sumpitnya.
"Uh.. Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak menunjuk wajah suami mu dengan peralatan dapur?" Chanyeol menjauhkan sumpitnitu dari wajahnya.
"Maafkan aku Chanyeollo." Baekhyun mengemut sumpit itu sambil mengerucutkan bibirnya imut.
"Aku sudah selesai.." Chanyeol bangkit lalu berjalan menuju kamar mereka. Sementara Baekhyun membereskan peralatan makan mereka yang kotor.
.
.
Baekhyun memasuki kamarnya setelah membersihkan bekas makan Chanyeol dan berjalan menuju ke lantai dua, kamar mereka.
Ia melihat Chanyeol sedang menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang sambil memperhatikan sebuah benda kecil yang ia hafal betul apa itu sambil mengerutkan kening.
Baekhyun tersenyum lembut sambil membawa sebuah pelembab wajah dari meja rias.
Ia lalu duduk di pangkuan Chanyeol yang tengah berselonjor. Membuka tutup krim pelembab wajah dan mulai mengoleskannya ke seluruh wajah Chanyeol. Itu kebiasaan Baekhyun saat mereka akan tidur. Dan Baekhyun sangat menyukai kegiatannya ini.
"Kau tidak bilang jika kau sedang hamil, sayang." Chanyeol merangkul pinggang istrinya, sayang.
Baekhyun terkekeh dan meratakan pelembab wajah yang berada di wajah Chanyeol.
"Harusnya itu kejutan ulang tahun pernikahan kita besok, tapi kau malah tahu duluan."
Setelah selesai, baekhyun mengecup bibir tebal Chanyeol lalu turun dari pangkuan Chanyeol dan berbaring, diikuti pula oleh Chanyeol.
Chanyeol memeluk Baekhyun yang berbaring menghadap kearahnya dan meraih kaki mungil Baekhyun dengan kakinya.
"Yatuhan akhirnya.. Jadi sudah berapa lama usia bayi kita?" Tanya Chanyeol antusias sambil mengelus-elus punggung Baekhyun, membuatnya nyaman.
"Menurut prediksiku, sudah tiga bulan lebih aku tidak menstruasi, kemungkinan bayi ini juga berusia tuga atau dua bulan." Baekhyun tersenyum sambil mengusap pipi Chanyeol yang memerah karena senang.
"Tapi.. Bagaimana mungkin? Bukankah satu bulan yang lalu kau sudah memeriksanya. Dan..." Baekhyun terkekeh dan mengelus lengan kokoh Chanyeol.
"Ya. Awalnya aku juga heran karena sudah tiga bulan aku tidak menstruasi dan aku tidak hamil. Ternyata testpack itu sudah kadaluarsa sayang."
Senyum Chanyeol mengembang di bibir Chanyeol.
"Seharusnya aku tau, ada yang salah dengan testpack itu." Chanyeol mengelus surai Baekhyun dan mengecup keningnya sayang.
"Apa kau senang Chanyeol?" Tanya Baekhyun, usapan di tangannya berhenti dan ia menatap Chanyeol lekat.
"Aku bahkan merasa sangat senang hingga rasanya aku ingin berteriak, sayang.. Aku bahkan seribu kali lebih bahagia dari orang yang paling bahagia di bumi ini." Chanyeol mengeratkan pelukannya, semakin menghimpit Baekhyun dan mengecupi keningnya.
Sementara Baekhyun, ia tersenyum bahagia dan balas memeluk erat Chanyeol dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya itu.
"Ayo kita pergi ke dokter kandungan besok!" Ajak Chanyeol antusias.
"Kau kan harus bekerja, sayang." Baekhyun menjawabnya sambil menutup mata. Sepertinya ia mulai mengantuk.
"Aku bisa izin sayang. Aku ingin menemani istriku ke dokter kandungan."
"Tidak bisa. Kau harus menyelesaikan dulu pekerjaanmu. Kau bisa mengantarku setelah kau pulang dari kantor. Lagi pula ini hari kamis." Chanyeol mengangguk dan tersenyum semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.
"Sayang, jangan terlalu erat. Kasihan bayi kita." Baekhyun menjauhkan dada Chanyeol dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aigoo.. Maafkan aku sayang. Mian baby." Chanyeol memerosotkan tubuhnya menghadap perut Baekhyun dan mengecupnya.
Baekhyun mengelus rambut Chanyeol, sayang.
"Aku ingin anak ini laki-laki, dan akan ku beri nama Jackson."
Ucap Baekhyun.
"Wae? Kenapa harus Jackson?" Protes Chanyeol.
"Karena aku menyukai Jack sparrow." Ucap Baekhyun dengan mata berbinar. Chanyeol berdecih.
"Kalau begitu aku ingin anak ini perempuan, dan akan ku beri nama Sandara." Baekhyun yang tadinya mengantuk kini mulai tersadar sepenuhnya dan melebarkan matanya.
"MWO? kau mau ku bunuh? Kau fikir aku mau memberi nama anakku dengan nama Sandara? Tidak! Bisa bisa kau menyukai anakku seperti kau menyukai Sandara Park itu!"
Baekhyun membalikkan tubuhnya membelakangi Chanyeol dan menyelimuti tubuhnya sampai kepala.
Chanyeol terkekeh geli.
"Aigoo.. Apa istriku sedang cemburu?" Goda Chanyeol.
"Berisik!"
"Aigoo. Kenapa saat cemburu pun kau terlihat sangat menggemaskan, eum? Sebenarnya berapa umurmu nyonya byun? Apa kau yakin kau adalah seorang ibu rumah tangga yang akan mempunyai seorang bayi?"
Chanyeol mendekap Baekhyun dari belakang.
"Aku serius Park Chanyeol berhenti menggodaku." Baekhyun menggoyangkan tubuhnya.
"Baiklah-baiklah, maafkan aku Baek, nahhh ayo berbalik. Aku ingin melihat wajah istriku sebelum tidur."
Baekhyun membalikkan tubuhnya kembali menghadap Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol.
"Selamat malam sayangku."
"Welcome Little Park." kecupan singkat di kening dan bibir Baekhyun menjadi penutup hari yang penuh kejutan ini.
.
.
Pagi hari menjelang, Baekhyun sudah bersiap di dapur dengan pisau dan apronnya. Ia bangun cukup awal, karena waktu baru menunjukkan pukul enam.
Ini adalah hari kamis, gambar hati berwarna merah telah melingkari angka 4 di kalender di ruang tengah. Ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka -Chanyeol dan Baekhyun.
Ia mulai memasak makanan kesukaan Chanyeol dan juga makanan kesukaannya. Ini cukup spesial karena Baekhyun jarang memasak makanan yang sulit. Satu jam sudah ia berkutat dengan dapur hingga akhirnya masakannya selesai.
Setelah makanannya terhidang di meja makan, Baekhyun kemudian mengambil kotak bekal dari atas lemari dan mulai menata makanan di dalam kotak itu untuk bekal suami tercintanya.
"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang kedua ibu Park." Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang dan mengecup pipinya.
"Selamat ulang tahun pernikahan juga ayah Park." Baekhyun terkekeh.
Chanyeol sudah siap dengan kemeja putih dan tas kerjanya, hanya saja dasinya tidak terpasang, hanya tersampir di bahu kanannya.
"Apa yang kau masak sayang?" Chanyeol menarik kursi dan mendudukkinya.
"Makanan kesukaanmu. Chickhen pepper dan beberapanya makanan kesukaanku." Baekhyun mendekati Chanyeol dan mengambil dasi yang berada di bahu Chanyeol. setelah menelapkan tangannya pada apron tentu saja.
"Jika aku tidak ada dirumah, siapa yang akan memasangkan dasimu sayang? Belajarlah memasangkan dasi!"
Chanyeol hanya tersenyum sebagai jawaban dan menyesap kopinya. Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan mengecup perutnya yang mulai terlihat membesar.
"Morning little Park." Baekhyun tersenyum melihat bagaimana berserinya wajah Chanyeol. ia lalu mengusap rambut Chanyeol.
Chanyeol beranjak dari duduknya sambil melihat alroji yang melingkar di tangan kirinya.
"Aku akan kembali setelah meeting siang ini. Sekitar pukul dua, kurasa. Dan aku akan segera mengantarmu ke dokter kandungan."
Baekhyun memakaikan jas dan menyerahkan tas kerjanya.
"Baiklah. Jangan lupa makan siang sayang. Ini bekalmu." mereka berjalan beriringan sampai ke depan pintu.
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun lembut.
"Happy anniversary my love. I love you more."
Chanyeol menaiki mobilnya dan pergi. Baekhyun melambaikan tangannya setelah mengucapka kata 'i love you too.' Pada Chanyeol.
"Terimakasih telah hadir diantara kami Little Park. kami mencintaimu."
Baekhyun mengelus perutnya sayang.
