"Apa ini?" tanyanya sambil mengambil kertas itu dan membacanya.

Tsuna langsung tercengang saat melihat isinya, alisnya berkerut hingga hampir bertemu, tidak percaya apa yang dikatakan dalam kertas itu.

"I-i-ini.."

"Ada apa, Juudaime?"

"Telepon Reborn! SEKARANG!"

Secret Documents

Rated: T, maybe..

Pair: mungkin enggak ada pair disini.. = ="

Genre: Family, mungkin saja. Aku masih tidak yakin dengan genre ini = ="

Warning: banyak banget warningnya! Masih baru!

Katekyo Hitman Reborn Akira Amano

Fanfiction Tsuyoi Aozora

Happy Reading, Minna-san! ^^

Reborn sedang bersantai di kursi kerjanya, sebenarnya, sih, bukan dikatakan sedang bersantai, tapi sedang beristirahat sejenak dari pekerjaannya yang bisa membuatnya stress tingkat akut(?). Reborn menghela napas panjang, di meja kerjanya kini, ada beberapa tumpukan 'kertas kutukan'-menurut Reborn-yang disebut kertas laporan. Disamping kiri tumpukan kertas laporan itu, ada secangkir espresso hangat kesukaannya yang disediakan oleh pelayan mansion tadi. Reborn memijit kepalanya yang berdenyut-denyut, kertas laporan yang tak kunjung habis, dan kini, ia dihadapkan masalah baru dengan Azienda Famiglia yang bos-nya dikenal sebagai penjahat mafia kelas atas, Rinero il Crudele.

TRRT! TRRT! TRRT!

Tiba-tiba, handphone-nya berbunyi. Reborn mengambil handphone dari saku celananya. Saat melihat layarnya, tulisan yang tertera adalah 'Gokudera Hayato'.

Kenapa Gokudera meneleponku pagi-pagi seperti ini?

Reborn pun mengangkat telepon dari Gokudera.

"Ciaos-"

"Moshi-moshi, Reborn-san!"

"G-Gokudera… ada apa? Kenapa kau menghubungiku di pagi hari seperti ini?"

"S-sumimasen, Reborn-san. T-tapi, Juudaime ingin berbicara dengan anda!"

"Tsuna? Berikan teleponnya."

Reborn menunggu beberapa detik sampai akhirnya Tsuna menjawab panggilannya.

"Tsuna? Tsuna? Apa kau mendengarku?"

"R-Reborn…"

Suara Tsuna bergetar, seperti ada sesuatu yang ditahannya. Reborn agak berkeringat ketika mendengar suara Tsuna yang bergetar dan penuh kecemasan. Pasti ada yang tidak beres disana, pikir Reborn. Perasaan Reborn mulai tidak enak.

"Ada apa, Tsuna?"

"R-Reborn… Hibari-kun dan Kyoya…"

Reborn membulatkan matanya, seperti sudah tahu, apa yang akan dikatakan Tsuna selanjutnya. Iya, benar, Hibari dan Kyoya, diculik oleh Azienda Famiglia.

"Apa?! Lalu, mereka dibawa kemana?!"

"A-aku tidak tahu. T-tapi, di suratnya mengatakan, mereka akan membawa Hibari-kun dan Kyoya ke tempat yang jauh dari Namimori. Ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Vongola. Dan di suratnya dikatakan, jika ingin menyelamatkan mereka, bawa semua informasi tentang 'dokumen rahasia' itu."

"Tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Vongola? Aku tidak mengerti itu tempat apa, tapi jika mengenai informasi tentang 'dokumen rahasia' itu, aku sedang berusaha mencarinya. Aku juga baru mendapat kabar kalau ayah Hibari bersaudara ada hubungannya dengan Azienda Famiglia. Oh, iya, jangan lupa dengan Millefiore Family."

"Apa? Millefiore Family mempunyai hubungan dengan Azienda Famiglia itu?"

"Iya. Aku tadi menghubungi Byakuran untuk menanyakan tentang Azienda Famiglia, dan Byakuran mengatakan, ia sedang ada masalah dengan Azienda Famiglia."

"Apa permasalahan dengan material seperti uang, emas, atau yang lainnya?"

"Tidak, ini tidak seperti yang kau bayangkan, Tsuna. Ini bukan permasalahan yang berhubungan dengan material, tapi dengan cincin."

"Ci-cincin?!"

"Iya, Byakuran melaporkan, sudah ada tiga cincin Mare yang hilang, tiga cincin itu adalah cincin-cincin penjaga yang kuat. Kumo, kiri, dan arashi. Aku juga mendapatkan laporan dari Yuni, pacifier-pacifier Arcobaleno juga hilang. Bahkan, pacifier-ku juga hilang dalam penjagaan Yuni. Masih belum ditemukan pelaku pencurian benda-benda Trinisette itu."

"T-tapi, bagaimana bisa? Millefiore mempunyai pertahanan yang kuat dan ketat. Yuni juga tergabung dalam keluarga itu."

"Panjang jika menjelaskan di telepon. Kau dan para Guardian-mu lebih baik datang ke Italia. Aku akan pesankan tiket khusus untuk keberangkatan kalian semua. Aku juga ingin membahas tentang penculikan Hibari bersaudara itu. Pasti ada dalang dibalik semua ini, dan aku yakin, itu pasti menyangkut tentang 'dokumen rahasia' itu."

"Baiklah, akan kuhubungi semua Guardian-ku. Kapan kita bisa berangkat ke Italia?"

"Besok pagi, jam delapan tepat."

"Baiklah, arigatou, Reborn."

Sambungan diputus oleh Tsuna. Reborn menyandarkan dagunya ke kedua tangannya. Ia masih tidak percaya akan ucapan Tsuna tadi. Azienda Famiglia benar-benar menjalankan rencananya untuk menculik Hibari bersaudara. Reborn menggebrak meja, kesal dengan dirinya sendiri. Agak stress memikirkan masalah yang datang bertubi-tubi. Masalah dengan Byakuran dan Yuni, benda-benda Trinisette yang dicuri, dan Hibari bersaudara yang diculik oleh Azienda Famiglia. Reborn kembali memijit kepalanya yang berdenyut-denyut.

TOK! TOK! TOK!

Ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya.

"Voce!"

"Ohayo, Reborn-san. Hisashiburi ni, watashi no furuku kara no yūjin o minai."

Reborn mengenal suara ini, suara yang sangat familiar di telinganya.

"A-anata wa…"

"Hai, watashi no furuku kara no yūjin. Watashi wa dō arubeki ka, anata no mondai o kaiketsu suru tasuke ni kita?"

Reborn tersenyum penuh arti.

"Mochiron, anata no tasuke ga hitsuyō ni narimasu."

Orang itu membalas dengan senyuman.

~(03)~

"Aku tidak percaya dengan ini semua," ujar Tsuna sambil menutup handphone milik Gokudera dan menyerahkannya. "Terima kasih untuk handphone-mu, Gokudera. Akan kuganti biaya teleponnya."

Tsuna mengeluarkan dompet yang berada di tasnya.

"T-tidak usah, Juudaime. Tidak usah diganti."

"Tapi… biaya menelepon keluar negeri itu mahal, Gokudera-kun. Pulsamu akan terkuras."

"Tidak apa-apa, Juudaime. Selama itu bisa membantu Juudaime, aku tidak keberatan."

"Benarkah? Terima kasih, Gokudera-kun."

Tsuna memasukkan dompet ke dalam tasnya dan tersenyum ke arah Gokudera.

"Mmm… Juudaime, apa yang Reborn-san katakan? Aku mendengar seperti kita akan ke Italia."

"Eumm… kau benar Gokudera-kun. Reborn menyuruh kita untuk datang ke Italia besok, tentunya dengan Guardian yang lain. Jam delapan tepat, pesawat akan datang menjemput kita."

"Apakah kita menggunakan pesawat milik Vongola?"

"Sepertinya tidak, jika kita menggunakan pesawat milik Vongola, tentunya akan menarik perhatian keluarga mafia yang lain, dan terlalu mencolokkan bahwa Vongola sedang dalam keadaan bahaya besar. Itu akan mempermudah musuh untuk menambah masalah kepada Vongola yang memang dari awal mereka sudah antipati dengan Vongola."

"Hmm… aku mengerti. Lalu, sekarang, apa yang akan kita lakukan?"

"Menghubungi para Guardian yang lain, dan memberitahu mereka bahwa Reborn menyuruh kita untuk datang ke Italia. Tapi, jangan memberitahu inti masalah kita datang ke Italia, nanti mereka akan tahu sendiri saat kita sudah berada disana."

"Baiklah, aku mengerti, Juudaime."

Semoga kalian baik-baik saja, Hibari-kun, Kyoya.

~(03)~

Di suatu tempat yang tidak dikenal…

"Boss, kami berhasil menangkap mereka berdua," ujar lelaki yang bertubuh tinggi dan tegap. Lelaki itu berbicara kepada bayangan seseorang dibalik tirai bambu yang tertutup rapat dan dengan pencahayaan yang amat sangat minim.

"Hahaha! Bagus sekali, dengan begini, mereka akan susah menemukan bocah-bocah sampah itu. Kita hanya memerlukan informasi dari kedua bocah itu, setelah kita mendapat informasi itu, kita bunuh mereka. Kita tidak memerlukan manusia yang akan merusak rencana besar kita."

"T-tapi, Boss, Azienda Famiglia juga ingin mengincar mereka. Apa tidak apa-apa kita memberikan informasi yang salah kepada Vongola? Vongola adalah organisasi mafia terbesar dan terkuat, dan dibawah mereka masih ada CEDEF. Organisasi kepolisian Italia yang terkenal dengan teknologi mereka yang jitu dan dapat dengan mudah menangkap musuh yang menggunakan siasat kebohongan mereka."

"Kenapa kau harus khawatir seperti itu? Sebenarnya, Azienda Famiglia adalah keluarga mafia yang baik, dan tidak ada campur tangan dengan masalah dengan ayah kedua bocah sampah itu. Aku hanya menggunakannya untuk memancing Vongola, dan ternyata, Vongola juga terpancing oleh umpanku. Aku hanya ingin membuktikan, apakah Vongola itu organisasi yang tidak dengan mudah dibodohi oleh mafia kelas kecil."

"T-tapi, Boss, Azienda Famiglia memiliki bos bernama Rinero il Crudele-"

"Itu bohong. 'Rinero il Crudele' adalah bohong, aku sengaja membuat cerita seperti itu, agar Vongola terperdaya. Hahaha! Tidak kusangka juga, Reborn begitu mempercayai itu, padahal bos asli Azienda Famiglia sedang berada di Rusia, bukan di Italia."

"L-lalu, Boss, siapa sebenarnya bos Azienda Famiglia itu?"

"Bos asli Azienda Famiglia adalah Alexandria del Azienda."

"D-dia… perempuan?!"

"Hahaha! Tentu saja dia perempuan, dia tidak akan tahu hal ini, karena dia sedang berada di Rusia. Sedang mengurus pembentukan cabang Azienda Famiglia disana."

"Bagaimana boss bisa tahu akan hal itu?"

"Hahaha… apa kau tidak tahu, Nebbio? Aku adalah saudara kandung dari Alexandria, lebih tepatnya, kakak kandungnya."

Orang dibalik tirai bambu itu menyeringai lebar, sementara sekelompok orang diluarnya hanya tercengang mendapat penjelasan dari bos mereka. Tapi, tentu saja, orang diluar tirai bambu itu tidak mengetahui, bahwa bos mereka sedang merencanakan sesuatu yang mungkin dapat menghancurkan dunia.

"Hahaha! Tidak usah kaget begitu, ini adalah rahasia yang kusimpan selama bertahun-tahun, dan hanya orang terpilih saja yang boleh mengetahui rahasia ini. Dan… "

Sekelompok orang itu tampak tegang.

"Dan jangan beritahu siapapun tentang hal ini, jika sampai rahasia ini bocor sampai ke telinga Vongola, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya."

Suara sang bos kedengaran dingin dan tajam. Seolah-olah memperingatkan agar mereka semua tutup mulut akan hal ini. Orang-orang itu hanya mengangguk, lalu meminta izin untuk meninggalkan sang bos.

"Khukhukhu… bersiaplah menghadap pada kematianmu, Reborn, Alexandria. Setelah aku mendapat informasi tentang 'dokumen rahasia' itu, akan kuhancurkan kalian semua. Dan aku akan menjadi penguasa di dunia ini, dunia yang akan dikuasai oleh kekuatan kegelapan dan ketakutan."

Orang dibalik tirai bambu itu menoleh kepada benda-benda yang dipegangnya. Bentuk benda-benda yang dipegangnya itu hampir menyerupai bentuk cincin… dan… pacifier?

"Aku sudah mendapatkan benda-benda yang kuinginkan. Tinggal beberapa benda lagi, dan tentu saja benda milik Vongola. Saat semuanya terkumpul dan menjadi satu, aku akan mendapatkan rahasia yang dimaksud oleh 'dokumen rahasia' itu. Hahaha!"

Tiba-tiba saja, lelaki tidak dikenal dan memakai jubah panjang berwarna putih, menyelonong masuk ke ruangan tirai bambu itu.

"Naturalmente, se si ottiene le informazioni sui documenti riservati."

"Lei?!"

"Hahaha… quello che non si conose, i documenti segreti che sono protetti dal nono capo Vongola e sigillati in un luogo segreto. E sigillato con sette elementi fuoco che possono assere aperti solo dal titolare-titolare degli anelli Vongola. Stai ancora cercando un documento che dopo che io vi parli di questo?"

"Stupido, non mi interessa. Sto ancora adando a trovare un documento che, dopo tutto, ho cosec he voglio. Non sono questi oggetti possono sostituire il potere degli anelli Vongola?"

Lelaki berjubah itu terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh bos itu, tapi ia tetap tidak setuju dengan rencana bosnya yang akan mengambil 'dokumen rahasia' itu dari tempatnya.

Devo contrastare il boss piano per prendere quell documento. Vongola dovrebbe sapere questa notizia.

"Ada apa, hah? Apa kau memikirkan sesuatu? Apa kau takut jika dokumen rahasia itu berhasil kuambil?"

"Tidak, bos. Aku pamit undur diri."

Non può essere consentito! Vongola dovrebbe saperlo.

~(03)~

Bandara

"Hei, ayo cepat!" ujar Tsuna memanggil semua Guardian-nya.

Hari ini, mereka akan terbang ke Italia, tentu saja ini adalah perintah dari Reborn. Mereka sampai di bandara pukul tujuh, sementara pesawat berangkat puku delapan. Yaahh… tidak telat juga mereka datang ke bandara.

"Tunggu, Juudaime. Yamamoto sedang membeli minuman."

"Ah! Tidak ada kata-kata 'tunggu'! Cepat, kita ke waiting room, agar tidak tergesa-gesa saat panggilan pesawat datang."

"Baiklah, Juudaime. Oi, Yamamoto, cepatlah."

"Iya, iya, Gokudera. Ini aku sudah selesai."

Yamamoto berjalan ke arah Tsuna dan yang lainnya. Setelah memperlihatkan tiket, akhirnya mereka pun masuk ke ruang tunggu. Tsuna duduk di kursi yang menghadap ke arah lapangan terbang, Gokudera duduk di samping kiri Tsuna, Chrome duduk di samping kanan Tsuna. Sementara Yamamoto dan yang lainnya duduk di kursi lain.

"Nee, Chrome, kenapa Mukuro tidak ikut?" tanya Tsuna sambil membuka minuman kalengan yang ia beli di toko tadi.

"Ah, aku lupa memberitahu Bossu. Mukuro-sama sudah berada Italia sebulan yang lalu, katanya ada yang ingin Reborn-san bicarakan dengannya. Jadinya Mukuro-sama tidak ikut dengan kita," jawab Chrome sambil membuka bungkus roti yang ia bawa, untuk mengganjal perut karena Chrome belum sarapan dari tadi.

"Oh, aku mengerti. Arigatou, Chrome," ujar Tsuna lalu menghabiskan minuman kalengnya, setelah itu membuang kaleng bekas itu ke tempat sampah.

Sementara Chrome sedang menghabiskan sarapan pagi-roti-nya, Gokudera memandang handphone-nya dengan tatapan yang aneh. Alisnya berkerut hingga bertemu, Tsuna yang melihatnya agak heran sedikit.

"Ada apa, Gokudera-kun?"

"Tidak, Juudaime. Aku baru saja mendapat pesan asing."

"Hmm… apa isinya?"

"Errr… isi pesannya agak aneh. 'Serious! Hai bisogno di sapere questo, la Vongola! Se volete imparare enche questo, è venuto alla xxx albergo, non dimenticate di portare Reborn pure. Vi aspetto in hotel.' "

Tsuna mengerutkan alisnya setelah membaca pesan itu. Nama pengirimnya juga tidak ada, hanya tertera nomor asing yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Isi pesan itu mencurigakan, apalagi ia membawa nama 'Vongola' dan 'Reborn'. Sepertinya pengirim pesan itu ingin memberitahu seusatu."

"Bagaimana Juudaime bisa paham seluruh pesan itu?"

"Sangat terlihat dari tulisannya. Sepertinya pengirim pesan mengharuskan kita mengetahui 'hal' itu. 'Hal' yang sangat penting."

"Hmm… aku mengerti Juudaime."

"Baguslah."

Lalu Tsuna kembali menyandarkan punggungnya pada kursi panjang yang ia duduki kini. Tiba-tiba, intuisinya bergerak lagi. Kali ini, intuisinya mengatakan, jika sudah sampai di Italia, ia dan yang lainnya harus segera menemui pengirim pesan itu, tentu saja dengan membawa Reborn. Tsuna agak ragu-ragu dengan intuisinya yang muncul secara tiba-tiba, tapi setelah berpikir dua kali, kali ini ia tidak akan mengabaikannya. Setelah sampai di Italia, ia dan yang lainnya akan menemui si pengirim pesan itu. Tsuna mengambil handphone dari saku kemejanya dan segera meng-sms Reborn.

'Reborn, aku ingin kau dan Mukuro menjemput kami di bandara. Setelah itu, kita semua harus pergi ke hotel xxx. Kita mempunyai urusan dengan seseorang disana.' Begitulah isi pesan tersebut, setelah itu, Tsuna menekan 'send', dan pesan pun terkirim. Tsuna menghela napas berat lalu memasukkan handphone-nya kembali ke dalam saku kemeja. Pikirannya sedang kacau balau. Memikirkan keadaan Hibari bersaudara yang diculik, masalah dengan Byakuran dan Yuni yang kehilangan cincin Mare dan pacifier Arcobaleno, dan masalah dengan Azienda Famiglia terkait 'dokumen rahasia'. Sekarang, ia harus berhadapan lagi dengan seseorang misterius yang mengirim pesan agar segera menemuinya di hotel xxx, untuk mengenai sebuah urusan yang harus ia ketahui. Tsuna memijit kepalanya yang agak pening.

Hibari-kun, Kyoya, apa kalian baik-baik saja? Aku tidak bisa berhenti memikirkan kalian.

"Juudaime! Saya mendapatkan pesan lagi."

"Apa isinya?"

"Orang itu mengatakan agar kita sampai di Italia dengan cepat."

"Apa?! Tidak bisakah orang itu menunggu sebentar, pesawat kita masih akan datang setengah jam lagi?!"

"A-aku tahu Juudaime, t-tapi-"

TRRT! TRRT! TRRT!

Tiba-tiba, handphone Gokudera bergetar, pengirim pesan itu kini meneleponnya. Dengan reflek, Tsuna langsung menyambar handphone Gokudera. Tsuna menyambung panggilan itu.

"Halo?!"

"H-halo?! B-bisakah a-aku berbicara d-dengan Vongola D-decimo?!"

Suara orang itu terlihat panik, dan sepertinya… Tsuna mengenal suara itu.

"I-ini denganku s-sendiri! A-ada apa?!"

"Vongola! Cepatlah datang ke Italia! Kau harus mengetahui ini, Vongola! Ini adalah kebenaran, kalian harus mengetahui ini, sebelum terjadi pertumpahan darah yang tidak diinginkan!"

Suara sang penelepon tidak terdengar dengan jelas, hanya ada suara tembakan, gelas pecah, suara orang-orang yang berteriak dan menjerit-jerit, juga suara gaduh. Sepertinya tempat yang ditempati oleh sang penelepon sedang diserang oleh sekelompok penjahat atau bisa jadi mafia.

"Aku tidak bisa mendengarmu! Disana gaduh sekali!"

"M-m-maafkan aku, Vongola! A-aku sedang diburu oleh s-sekelompok mafia! Mereka sedang mengejarku dan ingin membunuhku! Cepatlah datang ke Italia, Vongola!"

Suara gaduh yang terdengar di telepeon makin terdengar jelas. Suara perempuan yang terkena tembakan juga terdengar jelas di telinga Tsuna.

"T-tunggu dulu! Kau sebenarnya siapa?!"

"K-kau tidak perlu tahu! Informasi ini harus kau ketahui, ini tentang Azienda Famiglia dan perencanaan pembunuhan Hibari bersaudara terkait dengan 'dokumen rahasia itu'!"

"A-APA?! Kau juga mengetahui hal itu?!"

"Dengar! Semua berita yang kau terima tentang Azienda Famiglia adalah kebohongan belaka!"

"K-k-kebohongan belaka?! Maksudmu?!"

"Semua perencanaan ini bukan dilakukan oleh Azienda Famiglia! Ada orang ketiga dibalik semua ini!"

"O-o-orang ketiga?"

"I-iya! Cepatlah datang ke Italia! J-j-jika tidak-KYAAAA!"

TUUT! TUUT! TUUT!

Sambungan terputus.

"TUNGGU!"

Tsuna menatap horror handphone Gokudera. Sambungan diputus, tapi bukan 'penelepon' itu yang memutuskan sambungan. Sebelum sambungan diputus, Tsuna seperti mendengar suara tembakan yang diarahkan padanya. Dugaan Tsuna adalah orang itu tertembak.

"T-tidak.. ini tidak boleh terjadi.."

"Ada apa, Juudaime?!"

Gokudera terkejut saat Tsuna membatu ditempat dengan raut wajah yang begitu tegang. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Yamamoto, Ryohei, dan Lambo langsung menghampiri tempat duduk Tsuna dan yang lainnya, karena mendengar teriakan Tsuna.

"Ada apa, Tsuna?! Aku mendengar kau berteriak 'tunggu'."

"T-t-ti-tidak. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan."

Tsuna bergemetar hebat, pikirannya sudah mulai tidak karuan.

"Apa maksudmu, Sawada?"

"K-k-kalian tidak akan mengerti…"

Para Guardian agak terheran dengan sikap Tsuna yang aneh setelah mendapat telepon dari orang misterius itu. Ia terus membatu ditempat, keringat dingin terus menerus keluar dari pelipisnya, wajahnya sangat tegang, tangannya gemetar dan masih menggenggam handphone milik Gokudera.

"Iie.. Sono hito ga shinubekide wanai, sono hito wa sōdenai baai, sonogo.. shinanai koto ga.."

~(03)~

"Uugghh.."

Pemuda berambut raven itu membuka matanya, sekelilingnya tampak kosong dan gelap. Hanya terlihat benda-benda bekas yang tidak terpakai, ada revolver yang tidak terpakai, pisau saku yang sudah berkarat, pedang yang sudah patah, dan semacamnya. Pemuda itu agak bergidik ngeri ketika benda-benda yang tidak terpakai itu adalah benda-benda tajam yang menakutkan. Ruangan itu sangat lembab dan bau, seperti gudang. Saat pemuda berambut raven itu ingin berdiri, ia langsung terjatuh. Ia melihat ke arah kakinya, diikat, pikirnya. Tangannya juga diikat, tapi untung saja mulutnya tidak diplester. Jika iya, ia akan kesulitan untuk berbicara. Pemuda itu menoleh ke samping kanannya, terlihat anak laki-laki yang mirip dengannya sedang tidak sadarkan diri. Kaki dan tangannya juga diikat, banyak luka-luka di sekujur tubuhnya.

"Hibari.." lirih pemuda berambut raven itu, atau biasa dipanggil Kyoya.

Anak laki-laki yang dipanggilnya, perlahan-lahan bangun lalu membuka matanya. Agak terkejut juga karena suasana yang pertama kali dilihatnya adalah suasana yang suram dan gelap. Apalagi ruangan itu lembab dan bau.

"Kyo-Kyoya-nii.."

Kyoya agak terkejut sedikit, baru pertama kali ini Hibari memanggil namanya menggunakan '-nii'. Hibari agak sedikit ketakutan, terlihat dari raut wajah yang tegang dan tubuhnya yang agak gemetaran. Keringat dingin keluar dari pelipisnya.

"Tenang saja, Hibari. Kau tidak perlu takut, kita akan selamat dari sini, aku yakin itu," ujar Kyoya menenangkan adiknya yang ketakutan.

"K-ka-kau yakin aka nada orang yang menolong kita, Kyoya-nii?" tanya Hibari masih dengan ekspresi ketakutan. Kyoya tidak suka jika adiknya bersikap seperti herbivore yang selalu ketakutan dan pada akhirnya menangis.

"Hentikan ketakutanmu itu, Hibari. Karnivore tidak seharusnya lemah seperti herbivore, kita kuat, Hibari."

Nada bicara Kyoya kali ini agak ditekan sedikit, agar Hibari berhenti ketakutan.

"Terima kasih, Kyoya-nii. Aku-"

KRIIIEEETT..

Tiba-tiba, pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang yang bertubuh tinggi dan dibelakangnya ada dua orang yang mengikutinya. Tampang orang itu sangat menyeramkan dan menakutkan. Tampang-tampang yang tidak bersahabat. Lelaki itu hanya menyeringai melihat kedua anak laki-laki itu terkulai tidak berdaya di ruangan yang serba gelap dan di lantai yang dingin. Tubuh kedua anak laki-laki itu penuh dengan luka gores dan luka hantam.

"Hahaha.. kalian sudah sadar ternyata, bocah."

Kyoya geram sekali mendengarnya, dia tidak suka dengan sebutan 'bocah' untuknya.

"Apa yang kau inginkan dari kami, herbivore? Apa kau ingin uang, emas, harta? Akan kuberikan."

Nada Kyoya sangat ditekan, dingin dan tajam. Seragam sekolah yang masih dipakainya kotor sana-sini dan robek dibagian lambang 'Namimori', kota yang sangat dicintainya itu. Begitu pula dengan seragam adiknya, tapi untunglah di seragam Hibari tidak ada bagian yang robek. Lelaki bertubuh tinggi itu hanya meyeringai dalam, semakin menyeramkan, pikir mereka berdua.

"Aku tidak ingin harta apapun, 'Hibari Kyoya', aku hanya menginginkan 'informasi' itu dari kalian."

"INFORMASI APA, BRENGSEK?! AKU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG 'ITU'!"

Orang itu menarik dagu Kyoya, lalu menempelkan ujung pisau ke lehernya yang putih bersih.

"Kalau 'Hibari Kyoya' yang ini tidak ingin menjawab, mungkin 'Hibari Kyoya' satunya yang akan menjawab."

Orang itu tersenyum licik ke arahnya, Hibari geramnya bukan main. Tidak ada orang yang boleh menyakiti kakak tercintanya, apalagi herbivore kurang ajar seperti orang itu.

"Bagaimana, jika kau tidak memberitahuku 'informasi' itu, maka nyawa kakakmu akan melayang. Bagaimana keputusannya?"

"Jangan, Hibari! Kau tidak tahu apa-apa tentang 'informasi' itu!"

"Diam kau, bocah! Aku tahu, kalian berdua tahu 'informasi' itu, dan kalian berusaha menyembunyikan itu dari kami. Iya, kan?!"

Orang itu menggores leher Kyoya, Kyoya menjerit kesakitan karena goresan pisau yang menggores lehernya. Hibari memandangnya dengan tatapan horror, ia bingung. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia ingin menyelamatkan kakaknya, tapi juga ingin menjaga 'informasi' yang diberikan kepadanya bertahun-tahun yang lalu. Tapi, melihat kakaknya disiksa seperti itu, tidak ada pilihan lain selain memberitahu 'informasi' itu.

"BAIKLAH! Aku akan memberitahu 'informasi' itu."

Hibari menarik napas dalam-dalam, berusaha setenang mungkin di depan musuh.

" 'I-in-informasi' i-itu.. t-ten-tentang-"

DUAGH!

Tiba-tiba, lelaki yang sedang menyandera kakanya jatuh tersungkur ke depan. Setelah dilihat lebih jelas lagi, ada orang yang memukul lelaki itu. Rambutnya sama seperti Hibari, hanya saja orang itu mempunyai kepangan dibelakangnya dan berbaju merah. Wajahnya hampir mirip dengan ayah mereka yang sudah meninggal.

"Fufufu.. tasuke ga hitsuyoona nitsu no oi ga aru yo ni omowareru. Un, migi, Hibari-kun, Kyoya-kun?"

"Naze anata wa oji, watashitachi no sewa o suru tame ni anata no sekinin o hanareta nochi, futatabi hyooji sa aremasuka?"

"Fufufu.. anata wa mada, Kyoya-kun watashi o nikumu nodesu ka?"

"Mochiron, watashi wa, oji ga anata o nikumu. Anata ga anata no sekinin o nokoshite, watashitachiha Vongola no bossu ni teishutsu suru to jakuta!"

"Anata wa sudeni subete o shitte iru.. Kyoya-kun?!"

Pemuda berbaju merah itu agak tegang, setelah apa yang dikatakan oleh Kyoya tadi. Ia masih tidak percaya.

"Mochiron, watashi wa shitte iru. Anata wa subete no usotsukidesu! Anata wa tadashi, watashi kara sore o kakusu tame ni shiyou to shite iru? Hibari Kyoya wa dare, oji ni damasa suru koto wa dekimasen."

Pemuda itu menghela napas berat sambil tersenyum tipis ke arah Kyoya, sementara Hibari sudah tidak sadarkan diri akibat tidak tahan akan dingin. Pemuda itu berjalan ke arah Hibari lalu berjongkok di depannya. Napas Hibari terengah-engah, keringat membanjiri tubuhnya. Saat pemuda itu menyentuh kening Hibari, panas sekali, pikirnya. Pemuda itu berdiri dan menoleh ke arah Kyoya.

"Sepertinya kalian berdua harus tahu ini."

Kyoya mengernyitkan alisnya.

"Maksudmu?"

Pemuda itu melepaskan ikatan yang melilit pergelangan tangan dan kaki Hibari lalu menggendongnya ke belakang. Ia melempar pisau kecil ke arah Kyoya.

"Pakai pisau kecil itu untuk memotong talinya."

Kyoya mengambil pisau kecil itu dan memotong seluruh tali yang melilit tangan dan kakinya. Setelah itu ia beranjak mengikuti pemuda berbaju merah itu keluar dari ruangan yang serba gelap, lembab, dan bau. Tiba-tiba, pemuda itu terhenti.

"Kini seharusnya kau dan saudaramu tahu semuanya, Kyoya."

"Apa maksudmu?!"

"Informasi ini juga untuk melindungi dirimu dan saudaramu dari marabahaya yang akan datang menghampiri. Kau harus tahu, Kyoya, apa alasanku menitipkanmu pada 'pemuda' itu."

"Kau.. pembohong besar. Kukira 'dia' hanya remaja sekolah biasa yang jenius dan bertugas untuk mengurusku dan saudaraku. Tapi, tidak kusangka 'dia' memangku jabatan yang paling tinggi di keluarga mafia yang telah membunuh ayah."

"Dengar, Kyoya, aku tidak ingin kau salah paham lagi tentang keluarga mafia itu. Keluarga mafia itu telah memberikan perlindungan terhadap ayahmu sehingga ibumu bisa melahirkanmu juga saudaramu dengan aman. Saat ayahmu hidup, ia gencar diincar oleh keluarga mafia lainnya karena rahasia yang disimpannya-"

"Tentang 'dokumen rahasia' itu, kan? Aku sudah tahu."

"Hmm.." orang itu tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya keluar dari ruangan itu. "Karena keluarga mafia itu telah memberikan perlindungan terhadap ayahmu, maka ayahmu mengabdi pada keluarga itu dan mendirikan CEDEF, kepolisian Italia yang sangat terkenal akan teknologinya untuk melacak musuh."

Kyoya hanya mendengus kesal mendengar cerita dari pemuda itu. Ia masih tidak terima dengan kematian ayahnya akibat misi yang diberikan oleh keluarga mafia itu setelah ibunya meninggal akibat penyerangan mansion beberapa tahun yang lalu.

"Karena ayahmu juga penjaga awan di keluarga itu, tentunya bos keluarga mafia itu memberikan misi pada ayahmu. Pada saat itu, ayahmu bertugas dengan penjaga badai, ia juga membawa beberapa anggota CEDEF yang pandai menjalankan misi. Tapi, saat itu juga, musuh yang dihadapinya sangat kuat, bahkan penjaga badai yang kuat pun tidak mampu menghadapinya. Saat penjaga badai sedang tidak fokus akibat luka tembak di tangannya, musuh memanfaatkan keadaan itu dan menembak jantung penjaga badai itu-"

"Tapi dihalangi oleh ayah, tembakan itu mengenai jantung ayah dan akhirnya, ayah meninggal saat menjalankan misi dari bos brengsek itu."

Kyoya menyambung cerita pemuda itu dengan kesal. Pemuda itu hanya tersenyum melihat keponakannya yang seperti itu. Keras kepala, pikirnya. Kyoya dan pemuda itu akhirnya sampai di depan mobil sedan hitam, di jok supir sudah ada temannya yang menunggu.

"Maafkan aku, Colonello," ujar pemuda itu sambil membukakan pintu untuk Kyoya dan menyuruhnya masuk. Hibari yang masih tidak sadarkan diri juga ia letakkan disamping Kyoya. Pemuda itu berjalan ke arah pintu sebelah supir lalu membukanya.

"Kau lama sekali, kora! Hampir saja aku meninggalkanmu jika kau tidak segera kesini, kora! Ngomong-ngomong, kedua anak itu keponakanmu, kora?!"

"Hmm.." ujar pemuda yang bernama Fon itu sambil masuk ke dalam mobil, tersenyum. "Tentu saja kedua anak itu adalah keponakanku, mereka mirip Alaude-san, kan?"

"Hah? Oh, iya, tentu saja, kora. Mereka mirip dengan penjaga awan itu, kora."

Lalu laki-laki bernama Colonello itu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.

"Kau ingin membawa kita kemana, hah?!" ujar Kyoya kesal.

Fon, paman Kyoya dan Hibari, tersenyum mendengar pertanyaan dari keponakannya.

"Tentu saja membawamu ke tempat 'itu'," jawab Fon, masih dengan senyumannya.

Kyoya mengerutkan alisnya, bingung. Tempat 'itu'? Jangan-jangan..

" Jangan-jangan.. tempat yang kau maksud adalah.."

"Tentu saja."

Fon tersenyum.

To be Continued

Bersambung… hehehe… gomenasai minna, aku update-nya lama. Modemku sedang kehabisan paket internet dan aku belum menyelesaikan chap 3 ini. Semoga kalian suka dengan chap yang ketiga ini. Chapter selanjutnya akan ada banyak rahasia yang akan terbongkar, tentang Azienda Famiglia, siapa orang dibalik tirai bambu itu, dan siapa pengirim pesan misterius itu. Semoga chapter selanjutnya bisa update lagi. Mohon review-nya dari kalian semua. Arigatou gozaimasu, minna! Sayonara!