Naruto and All Characters belongs to Masashi Kishimoto
Story and Plot belongs to Me
.
.
DARKEST SKY
.
Bagian III
.
Well, I will warn you again, this fan-fiction not for bashing chara :))
.
Fiksi ini jauh dari kata bagus apalagi sempurna. Kritik, saran, dan pendapat diterima dengan senang hati :)
-oOo-
(Third's Point of View)
Sasuke menatap datar pada segerombolan makhluk-makhluk yang tidak jelas bentuknya. Para half-blood yang terdiri dari berbagai persekutuan menghadangnya dengan tatapan bengis. Sasuke tersenyum miring, makhluk-makhluk hina itu mengajak bangsanya berperang? Tak tahukah mereka jika para vampir itu abadi? Atau mereka telah menjadi sangat tolol?
Jubah Sasuke berkibar, seiring dengan tiupan udara yang menghantarkan rangsang bunyi pada gendang telinganya. Hening, hanya gemerisik dedaunan dari hutan tempat bangsanya bersembunyi menjadi melodi tersendiri sebelum genderang perang dikumandangkan.
Di ujung tombak pihak lawan, berdiri dengan gagah sosok pucat yang hampir mirip dengan Sasuke. Mereka memiliki mata yang sama dan perawakan yang sama. Sosok itu menyeringai, memandang dengan tatapan meremehkan sekaligus benci.
Dendam yang membelenggu keduanya amatlah pekat. Titik-titik hitam itu telah mencampuri darah mereka, merasuk dalam sendi-sendi, terpatri dalam jantung dan otak. Sekalinya mereka berdua adalah kehampaan, makhluk abadi penanggung dosa atas penghianatan pada Tuhan. Para penanggung kutukan terkutuk yang tak akan pernah merasakan indahnya kehidupan, kebahagiaan.
Para pemimpin itu berjalan mendekat, melangkah perlahan dengan debu-debu dari langkah kaki sebagai pengiring. Kedua jubah merah-hitam itu terkibar, mengikuti langkah demi langkah para tuannya. Sedangkan pasukan masih menunggu aba-aba perang dari sang pemimpin, mereka memerhatikan apa yang terjadi dari reuni dua orang sesama.
"Tidak kusangka aku bertemu denganmu, Saudaraku."
Pria yang begitu mirip dengan Sasuke itu tersenyum. Sebuah senyuman tanpa arti yang bahkan tak mampu membuat matanya menyipit. Senyuman ejekan pada sang adik yang kini telah tumbuh melampaui dirinya.
"Dan sekalipun aku tak pernah ingin dipertemukan dengan makhluk hina sepertimu." Sasuke menimpali, dengan suara datar nan menusuk.
Pria itu tertawa, "Kita jenis yang sama, Saudaraku. Tidakkah kita sama-sama hina? Kudengar, kau bercumbu dengan anak Adam penyakitan."
"Tutup mulutmu, Sai!"
Bersamaan dengan itu, penyerbuan berlangsung. Perang besar-besaran pun terjadi. Dua kubu, antar saudara. Sesama makhluk pengemban dosa yang bertikai, menyebabkan konflik yang merujuk setiap lapisan makhluk yang seharusnya tak mencampuri urusan sesamanya.
Mata gelap Sasuke berubah warna, berputar dengan cepat menjadi warna merah semerah darah, dengan tiga titik tomoe yang melingkarinya. Begitupula dengan Sai. Mata gelap mereka berdua berubah warna, menjadi merah semerah darah, intisari dari tiap kehidupan.
Sasuke menyeringai, memejamkan matanya sebentar dan beberapa detik setelahnya kembali membuka kelopak matanya. Bentuk bintang hitam dengan dasar merah tergambar jelas di bola matanya. Sai tampak terkejut, berdecih kemudian mengontrol emosinya kembali.
"Tsukiyomi, ne…?"
.
.
Mereka berdua saling menghunus, menikam, berusaha menumbangkan lawan dengan sekuat tenaga. Desingan peluru, kobaran semangat, juga debu-debu yan berterbangan di malam hari menjadi latar perang antar makhluk kegelapan. Mereka tak takut mati, karena kematian adalah mereka sendiri.
Kedua saudara itu bertikai hebat. Semburan-semburan api, hantaman-hantaman, berusaha sekuat tenaga untuk menumbangkan lawan. Meski pertarungan itu berlangsung alot, karena sebagian dari mereka adalah makhluk abadi. Desingan pedang menjadi melodi tersendiri, mengalahkan harmonisasi dari bunyi-bunyi hewan malam. Sang bulan pun hanya tersenyum pedih melihat kedua saudara yang saling membunuh.
Trang!
Kedua pedang saling teradu. Keduanya saling berbenturan dengan akurasi yang tepat dikarenakan pemegang kendali dari kedua pedang itu memiliki penglihatan dan kemampuan yang sama. Sasuke berdecih, kemudian ia membuka mulutnya dan menyemburkan api ke arah saudarannya. Sai yang terkejut, dan tentu saja kurang siap dengan serangan tiba-tiba, terluka di lengan kanannya.
Sasuke menyeringai. Berbeda dengan Sasuke yang ahli bermain pedang dengan kedua belah tangannya –yang mana diketahui bahwa Sasuke memiliki kemampuan otak yang seimbang sehingga ia mampu menggerakkan bagian tubuhnya dengan sama hebatnya, Sai lebih ahli menggunakan tangan kanan. Dan luka yang ditorehkan Sasuke cukup membuatnya kesakitan.
Meskipun ia makhluk abadi yang bisa beregenerasi dengan cepat, tapi lain ceritanya jika luka yang didapat dianugerahkan sendiri oleh bangsanya. Ia memerlukan waktu satu jam untuk luka kecil saja.
"Kenapa, Sai?" Tanya Sasuke dengan nada khawatir yang dibuat-buat. "Apa kau perlu kuambilkan perban?" Ejeknya.
Sai berdecih, kemudian ia menyemburkan api hitam Amaterasu pada Sasuke. Namun anehnya, api itu tiba-tiba terhisap, dan hilang seketika. Dan Sai menggeram melihat api itu hilang oleh pusaran dan terhisap ke dalam mata Sasuke. Salah satu kehebatan Tsukiyomi.
Mereka masih saling beradu. Menghantamkan pedang, menyemburkan api, dan segala upaya yang mereka bisa. Perang itu berlangsung alot. Karena dari kedua belah kubu sama-sama kuat, sama-sama berjuang mati-matian untuk perang besar ini.
Tiba-tiba, sang bulang purnama yang tadi masih menyusupkan cahaya di sela dedaunan menghilang di balik awan hitam. Lolongan serigala terdengar. Menggema, dan tertangkap dengan jelas di telinga mereka. Siluman Serigala, 'kah?
Perang mendadak terhenti saat langit yang semula menghitam menjadi merah. Seiring dengan seberkas cahaya yang terkumpul menjadi satu. Tubuh Sasuke tergetar. Ia benar merasa hawa keberadaan seseorang –ah, sesosok lebih tepatnya, mendekat ke arah mereka.
Shikamaru berkelebat cepat menuju tempat Sasuke berdiri. Ia membisikkan sesuatu ke arah Sasuke yang membuat tubuh vampir tampan itu menegang.
"Apa kau merasakannya?" bisik Shikamaru. "Kupikir, kau memiliki pemikiran yang sama denganku. Aku yakin benar, bahwa dia datang ke sini –setelah sekian lama."
.
.
Kabut tipis yang semula menyelimuti sekelebat cahaya mulai menghilang. Bersamaan dengan gema langkah kaki yang menapak dengan tegas. Seolah sang pemilik langkah menyalangkan jika ia tak terkalahkan. Langkah-langkah penuh wibawa itu, menggetarkan tubuh Sasuke dan Sai. Mereka berdua terpekur, lupa sejenak dengan perang yang telah dikumandangkan.
Sosok itu semakin mendekat. Hawa mencekam memeluk mereka semua yang terlibat di dalam lingkaran kebingungan. Ada apa? Siapa? Pertanyaan yang pastinya akan berulang-ulang, bergema dengan terus-menerus di dalam kepala mereka.
"Sai, Sasuke."
Suara itu dalam, nan penuh wibawa. Suara yang telah lama tak pernah lagi mereka berdua –Sai dan Sasuke, dengar. Tubuh kedua saudara yang sedang bersitegang itu mendadak kaku. Perlahan-lahan, bola mata mereka kembali menjadi gelap, sekelam malam.
"A-aniki?"
Sai yang membuka suara terlebih dahulu. Dan saat kabut itu menghilang, tampaklah sosok lelaki yang penuh wibawa tengah tersenyum amat tipis. Lelaki itu berperawakan sama seperti Sai dan Sasuke (atau Sai dan Sasuke yang persis dengan lelaki itu?).
"I-Itachi-nī…?" Sasuke masih belum percaya dengan penglihatannya.
Itu kakaknya? Kakak yang sudah lama menghilang dan amat dirindukannya? Sang kakak yang dulu selalu mendamaikannya dengan Sai saat bertengkar? Apa itu benar sang kakak?
"Sai, Sasuke," panggil Uchiha Itachi lagi. "Bukankah kalian saudara kembar?"
Mendadak suasana kembali hening. Tak ada yang menjawab, karena mereka sadar betul dengan perkataan Itachi. Sai dan Sasuke merupakan saudara kembar. Hal ini cukup unik mengingat riwayat keluarga Uchiha tak pernah sekalipun memiliki anak kembar. Dan apakah vampir juga (saat dalam rahim) mengalami pembelahan sel telur? Hal itu sulit dijelaskan.
Itachi menatap keduanya, "Kalian seharusnya tak bertengkar sehebat ini hanya karena kesalahpahaman."
Ucapan Itachi membuat kedua saudara itu membelalak.
"Apa maksudmu, nī-san?" Sasuke dengan cepat buka suara.
"Ini semua adalah salah Madara-jisama."
.
.
Madara yang tengah menyeruput darah dari gelas bening itu sedikit tersentak saat pintu ruangannya menjeblak terbuka. Ia tidak heran bisa melihat ketiga cucunya bersama beberapa vampir yang ia kenal sebagai sahabat cucu-cucunya itu. Ia hanya mendengus ketika melihat Itachi yang menatapnya dalam dendam.
Bisa dilihatnya, Sasuke berjalan ke arahnya dengan amarah yang amat kentara jelas mengelilingi tubuh tegapnya. Madara kembali menyeruput darahnya dengan nikmat. Seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Di ekor matanya, ia bisa melihat sekelebat bayangan melesat dengan amat cepat –bahkan Itachi yang notabene memiliki insting yang sangat tajam tampak tak mengetahuinya.
"Apa maumu, Kakek Sialan?!" Sasuke hampir saja menyengkram leher Madara jika saja Itachi tak mencegahnya. Itachi tahu, adik bungsunya itu sangat temperamental.
"Jaga bicaramu, Sasuke," tegur Itachi.
Sai hanya diam saja. Ia cukup terpukul dengan kenyataan yang baru saja diucapkan oleh Itachi. Sudah beberapa tahun ini ia mengasingkan diri dari keluarga Uchiha, berlatih mati-matian (jikalau boleh dikata seperti itu meski dia makhluk immortal), mengumpulkan banyak bala bantuan –dan sekarang, semuanya sia-sia. Dan semua hal yang telah dilaluinya dengan susah payah itu berujung kosong, semua ini hanya trik Uchiha Madara, katanya?
Ia bahkan rela memotong ikatan persaudaraannya dengan adik kembarannya, Uchiha Sasuke.
Lelucon macam apa ini?
"Kakek, bisakah kau jelaskan semuanya?" Itachi melipat kedua tangannya di depan dada. Ia melihat sang kakek dengan dagu terangkat, juga pandangan mengintimidasi.
Madara masih terlihat tenang, meski seluruh orang yang ada di sana memandangnya dengan tatapan menghakimi.
"Yah," Madara mendesah. "Kalian tahu, aku sudah sangat tua."
"Amat sangat tua –dan peyot, kalau boleh kukoreksi," sela Sasuke sinis.
Madara memandang Sasuke dengan bosan. Yeah, Sasuke merupakan copycat-nya saat ia masih muda dulu. Maka dari itu, ia paham betul bagaimana pemikiran, dan tingkah laku Sasuke. Tapi perkataan Sasuke lebih pedas lagi dari perkataannya dahulu.
"Oh, diamlah bajingan cilik." Madara berkata tak kalah sinis. Sasuke hanya berdecih. "Sebenarnya, yang membunuh orang tua kalian adalah aku –orang suruhanku lebih tepatnya."
Sasuke, Sai, dan teman-teman mereka terperangah. Berbeda dengan Itachi yang masih tampak tenang –sepertinya ia telah mengetahui hal ini. Apa sih, maksud Madara dengan membunuh keturunannya sendiri?
"Apa tujuanmu, Kakek?" Tanya Itachi. "Apakah kau kekurangan mainan hingga membunuh keturunanmu sendiri?"
"Tidak," Madara menjawab singkat sambil menggeleng. "Aku tidak se-psycho itu, Itachi. Aku membunuh mereka karena ada alasan di dalamnya."
Sasuke yang mulai jengah dengan perkataan Kakeknya yang berbelit-belit menggeram pelan. Ia paling benci dipermainkan. "Katakan secepatnya, Kakek!"
"Karena Fugaku akan melakukan kudeta terhadap klan Uchiha."
Jawaban singkat itu membuat semua yang ada di sana membeku. Kudeta? Kudeta apa? Penggulingan kekuasaan, kah? Penghancuran klan, kah? Untuk apa? Dan mengapa? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Fugaku?
"Apa sebab Fugaku-sama melakukan kudeta, Madara-sama?" Shikamaru akhirnya buka suara. Ada banyak hal yang menggelitik rasa ingin tahunya. "Dan darimana anda tahu jika Fugaku akan melakukan kudeta?"
Madara mendengus, "Ia dengan berani bilang kepadaku. Ia ingin menghancurkan klan dengan penghapusan kaum bangsawan dan darah murni. Hal itu tidak bisa dibiarkan. Darah murni, tetaplah darah murni. Bangsawan, tetaplah bangsawan."
"Hanya karena itu…?" Sasuke bergumam. "HANYA KARENA ITU?!"
Itachi yang melihat adiknya meledak segera menenangkannya. "Tenang, Sasuke. Tenang! Calm down."
"Lalu kenapa kau membuat kedua adikku bertengkar? Apa tujuanmu sebenarnya, Kakek? Mengapa saat aku tahu kebenaran ini, kau langsung mengasingkanku, dan menjagaku dengan ketat agar tidak membocorkannya?" Itachi kembali membombardir kakeknya dengan serentetan pertanyaan.
"Aku ingin melihat siapa di antara mereka yang akan menang," Madara menyeringai miring. "Salah satu diantara mereka harus ada yang mati karena penerus hanya ada satu. Jika salah satu diantara mereka diangkat menjadi penerus dan salah satu diantara mereka kalah, maka yang ada, perang akan terus berkelanjutan. Mereka akan saling berebut –sekalipun mereka kembar."
Semuanya terperangah mendengar perkataan Madara yang panjang lebar. Ma-maksudnya ini…?
"Aku memang sengaja mengadu domba mereka dengan hujatan dan fitnah agar mereka berkelahi. Apa yang aku dapat? Mereka bertengkar dan bermusuhan, mereka belum bisa saling percaya. Dan aku tahu benar karakteristik cucuku, Itachi. Mereka sama-sama ingin menjadi penerus klan –aku tahu benar adanya."
"Ka-kakek…."
"Kalau kau mau tahu kebenarannya, aku akan bercerita sedikit tentang masa lalu." Mada berucap, ia menghela napas. Ia sudah menantikan saat-saat seperti ini sebenarnya. "Ayah kalian berencana melakukan kudeta –aku tak terlalu tahu alasannya. Ia bekerja sama dengan manusia dan siluman serigala untuk menumpas klan Uchiha. Karena Uchiha adalah ujung tombak peradaban vampir."
"Kami berdebat seru waktu itu," ujar Madara. "Ia bilang, vampir sudah hidup terlalu lama dan lambat-laun, vampir akan terbunuh oleh peradaban. Lebih baik vampir ditumpas -para vampir tinggal menunggu reinkarnasi dan mendapat kehidupan yang lebih baik, kata Fugaku waktu itu. Aku tentu tidak setuju. Aku bilang padanya bahwa, biarkan vampir mati tergerus peradaban. Setidaknya, mereka tidak menanggung sakit hati karena telah ditumpas oleh kaumnya sendiri."
"Ja-jadi…." Sasuke mulai berpikir cepat. Di kepalanya sudah berputar-putar bagaimana watak Ayahanda dan Kakeknya. Sedikit banyak, Sasuke mulai memahaminya.
"Ia terus keras kepala ingin membantai vampir. Sebagai ketua klan, aku tentu tidak setuju," jelas Madara. Raut wajahnya yang sudah mulai menua itu menampilkan raut sendu. "Tapi aku tentu harus mengambil tindakan. Melindungi ribuan umatku dengan menghabisi anakku sendiri atau –mendukung anakku dan ribuan kaumku dibantai yang mana, pasti aku salah satu yang akan dibantai."
.
.
(Sakura's point of view)
Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Saat aku terlelap, aku merasakan tubuhku melayang dengan ringannya. Aku tak bisa membuka mata –walaupun sudah berusaha sekeras yang aku bisa, mataku tak mau terbuka. Aku merasa kedinginan dipeluk oleh angin. Rasanya tubuhku mati rasa. Ada getaran-getaran aneh saat aku berusaha menggerakkan tubuh.
Hei! Ada apa ini?
Mengapa hatiku gundah. Tiba-tiba aku teringat Sasuke-kun. Sasuke-kun? Dimana ia?
Aku gelisah dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari tidurku. Tapi rasanya tubuhku seperti terantai dengan kuat. Lamat-lamat, rasanya tenagaku dikuras habis. Kenapa ini? Aku tidak mau mati! Aku mau menepati janjiku pada Sasuke-kun bahwa aku akan selalu di sisinya.
Arrgghh!
Sial! Rasanya tubuhku sakit sekali! Ada apa ini?! Apa yang terjadi denganku?
Tenagaku semakin terkuras. Rasanya tubuhku sangat tidak nyaman. Kami-sama! Apa yang terjadi padaku? Rasanya semua sarafku membeku. Sendi-sendiku melunglai dan tulang-tulangku remuk redam. Perlahan-lahan, aku kehilangan kesadaran….
.
.
(Third's point of view)
Sasuke menatap punggung kakeknnya yang menjauh. Sosok itu adalah sosok yang dikaguminya sejak kecil. Sebenarnya, ia tak pernah membeci sosok itu. Ia hanya kesal karena semua masalah yang menimpanya seakan menghantamnya keras-keras. Ia bingung dan hilang haluan. Maka dari itu, ia yang dulu tenang, sekarang menjadi lebih tempramen.
Sai yang melihat adik kembarnya tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama tak ia perlihatkan. Rasanya, semua bebannya terlepas. Rasanya sungguh lega. Ia pun sebenarnya tak mau memusuhi Sasuke. Tapi, ia terlanjur mengagumi sosok ayahnya yang selalu terlihat tegas. Dan bodohnya ia termakan fitnah Madara yang mengatakan bahwa Sasukelah penyebab kematian orang tuanya.
Ah, sudahlah. Semuanya sudah berlalu.
"Sasuke."
Sai memanggil adiknya. Adiknya cukup terkejut, namun kemudian tersenyum. Bukan senyuman lebar. Tapi sebuah senyuman tulus nan tipis namun mampu menunjukkan lesung pipi yang dimiliki oleh Sasuke.
"Sai-…." Sasuke berdehem. "…-nī."
Sai memeluk adiknya gemas. "Maafkan aku, Adikku. Bodohnya aku termakan perkataan Madara si Peyot."
Sasuke terkekeh dan balas memeluk kakak kembarannya. "Maafkan aku juga, Sai. Aku juga bodoh."
Dan Itachi yang melihat mereka menyunggingkan senyum. Badai telah berlalu. Awal yang baik pasti akan dibuka mulai dari sini. Begitupula para sahabat Sasuke –dan Sai (mungkin). Mereka menyaksikan adegan itu dalam senyum. Setidaknya, sahabat mereka (akan) kembali seperti dulu.
Setidaknya, mereka dapat mengerti maksud Madara. Lelaki tua itu memang sangat bertanggung jawab atas tugas yang diembannya. Meski masih menyayangkan mengapa Madara membunuh Fugaku. Tapi, terbersit dipikiran mereka tentang kata-kata mutiara bangsa manusia –yang mereka rasa cocok dengan keadaan sekarang.
.
.
'Kadang, saat kau menjadi pemimpin, kau harus mengorbankan sesuatu yang sangat kau sayang demi kebahagiaan banyak orang –yang mana itu adalah orang-orang yang kau bawahi, yang kau ayomi.'
.
.
"Kakek!"
Sasuke memanggil Kakek yang disebutnya peyot itu. Dilihatnya sang kakek yang mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya dengan nyaman. Sasuke jadi berpikir, kakeknya itu terlalu sering duduk. Apa ia menderita encok?
"Apa?" Madara menyahut datar.
"Lalu kenapa kau juga membunuh Ibuku?" Sasuke menatap tajam Madara yang hanya mendesah malas. Ck, cucunya yang satu itu kenapa selalu ingin tahu, sih?
"Dia bunuh diri." Madara menjawab singkat. "Begitulah cinta."
Teringat kata cinta, Sasuke teringat tentang Sakura. Wajah lelaki itu menegang. Matanya membelalak lebar. Ia memandang Madara dengan penuh intimidasi.
"Mana Sakuraku?!"
Penuh penekanan, dan diucapkan lamat-lamat. Sasuke begitu ingin mencincang kakeknya lagi sekarang. Madara menyeringai melihat Sasuke.
"Suatu kejutan kusiapkan untukmu. Kau hanya perlu menunggu, dan bersabar. Kau akan mendapatkan yang kauinginkan."
Sasuke menggeram. "Mengapa harus begitu?! Aku mau sekarang!"
Madara menyeringai miring sambil mendengus. Kemudian ia berjalan meninggalkan Sasuke yang tengah menggeram gusar.
Kau harus bersabar lagi Sasuke…
TO BE CONTINUED…
A/N:
Holaaa~ 'w')/
Maaf banget karena lama updatenya :( Yeah, I'm stuck on the idea :'3
But yeah! Finally I can typed this chapter, ahaaayy~~~ : D
Kayaknya feelnya kurang, ya? Atau, kalian masih bingung? Chapter ini kurang greget dan gaje banget? Maaaaaaffffff :'''''''(((((((
Kalo ada yang bingung, silahkan tanya :'D Chapter ini khusus penjelasan tentang 'perang'
And well, ini banyak banget plot hole dan alurnya loncat-loncat? Emang sengaja. Soalnya aku janji tamat chapter 5 kan? Nah, mungkin bisa kuperpendek jadi 4 chapter doang : D Pokoknya paling banyak Cuma 5 chapter! : D Soalnya aku gamau banyak tanggungan #ditebas. Jadi, maaf kalo alurnya loncat-loncat :'D
Okay, enough for the 'cuaps-cuaps' :D I want to say THANK YOU FOR THE REVIEWERS, FAVERS, FOLLOWERS, AND ALSO SILENT READERS :D Really Thank You :D Makasih udah mau baca karya aku :'D
Yang review chapter kemaren, makasih yaaa ;D [ Natsumo Kagerou (Wkwk, masa sih? Aku juga yg bikin kesannya emang rada 'dark' dan bikin parno-an, hihihi. Semoga chapter ini sesuai ekspetasi kamu yaaa :p ), parinza. ananda. 9, Kiren Nia, hanazono yuri, Anka-Chan, Eysha CherryBlossom, Fivani-chan (Maaf aku updatenya lama :( Tapi ini sudah aku panjangin kok ;D), Hana Kumiko, haruchan (Iya, dia menderita. Kasian :'( #kaneloygbikin #ditendang. Tolong jangan iket kakek Madara, dia kakek akuhh #ngek.), Refunny, Uchiha Ratih, Kumada Chiyu, p.w (huhuhu, maafkan daku :'( Kamu udah PM aku berkali-kali, dan dear, akhirnya bisa update :'D), Akihime Rena, Hikari Ciel, peyek chidori, Eunike Yuen, Hotaru Keiko (btw, nama adek kandung aku di real life, nama aslinya itu Keiko, lho, hihihi), Hanna Hoshiko, mela (Well, kamu bisa liat sendiri disini. Saskey menang apa kagak, wkwkwk :p), prince ice cheery, mega. naxxtridaya, Allysum fumiko, uchihafenny, Little Bee Arikuuruki, clariza. risanti. 3, ZeZorena, YashiUchiHatake, Lhylia Kiryu, o.O rambu no baka, glenn T, Erika Liana19] You're rock guys! :D
Okay, last but not least, REVIEW? ^^
Because we are under the same sky,
-Hydrilla :)
P.s : Btw author's notenya puanjang banget ya? Kayak ficlet, wkwkwk #ditendangkepelukanKagamiTaiga (?).
