Author Note:
Hai hai semuanyaaaa. Saya kembaliiiii ... eh, aku lagi seneng sama fic 'Green dan Akashi' ini loh, sampai-sampai buat banyak fanart tentang fic ini, dan juga ada doujin side story tentang masalalu dari SasuSaku. Aku beri judul doujin itu 'My Cherry' baru tiga halaman sih. Heheh.
Bagi teman-teman sekalian yang penasaran dengan fanart dan doujinnya, siahkan cek akun instagram aku, ada di bio kok. Kalau doujinnya, yang versi lengkapnya nanti isyaallah akan aku publish di akun deviantart. Bagi yang tertarik silahkan kunjungi akun2 itu.
Oke karena mungkin pada penasaran dengan umur mereka semua, penjelasannya udah aku buat ya di fic chapter ini. Kalau masalah hubungan Sasuke dan Sakura, lihat aja penjelasannya di chap ini dan chap berikut2nya. Hehe, yang jelas mereka punya hubungan kok pastinya. Dan ada sesuatu yang telah terjadi dalam hubungan Sakura dan Sasuke, hal itu yang menyebabkan Sakura begitu takut kepada Sasuke, sedangkan Sasuke begitu terobsesi dengan diri Sakura.
Dan karena Sasuke pula karakter Sakura banyak berubah dan menjadi gadis tomboy yang suka mencari masalah.
Oh ya, aku gak maksud buat Bashing Sasu kok. Tapi, ini karena udah ketentuan cerita dan konflik pastinya, jadi pembaca sekalian jangan salah paham terhadap diriku ini ya. Daku kan juga Savers. Hehe.
Pokoknya daku gak ada maksud bashing chara ya.
.
.
.
Green & Akashi
Story by: Cherry Philein
Naruto©Kishimoto Masashi
[Haruno Sakura & Rei Gaara] Uchiha Sasuke
Genre: Romance/Crime
WARNING:
No lemon, rate M for conflic, Bad Sasuke, EyD?, OOC, Typo, RnR dan lain-lain.
.
.
.
0 Selamat Membaca 0
Don't Like? Don't Read!
Sakura Haruno / Green Cherrry: 21 tahun.
Gaara Rei / Sabaku no Akashi: 27 tahun.
Sasuke Uchiha / King Ares: 26 tahun.
.
.
.
"Suu-chan, aku membuat kue dengan okaa-san, loh. Lihat, sudah jadi! Dan ini untukmu, Suu-chan." Gadis kecil berusia tidak lebih dari sepuluh tahun itu kelihatan berlari-lari kecil dan menghampiri seorang lelaki remaja yang tadi dipanggilnya dengan nama 'Suu-chan'.
Dengan senyum lebar dan mata yang berbinar, kue itu pun ia berikan kepada lelaki di depannya. Mereka berdua kelihatan sangat akrab satu sama lain, walau memiliki jarak umur yang lumayan jauh.
"Wah, ini enak, Cherry. Kau semakin pintar memasak." Lengan si lelaki membelai lembut kepala sang gadis kecil sehingga membuat wajah gadis yang dipanggil 'Cherry' itu kembali memasang senyum puas dengan wajah tersipu. Merasa senang karena kue buatannya dipuji enak.
.
.
.
"Pokoknya, Suu-chan jadi kakakku, ya!" jemari kecil si gadis pun menggenggam jari-jari besar milik lelaki yang berbaring telungkup dengan wajah yang sedang menghadap dirinya yang sedang duduk.
Mereka sedang berada di kamar si gadis kecil itu dan masih saling menghadapkan wajah satu sama lain. Gadis itu sekarang berusia dua belas tahun dan sedang diajari pekerjaan rumah (PR) oleh lelaki yang berusia tujuh belas tahun itu.
Dengan membalas genggaman tangan gadis yang dipanggilnya Cherry, sang lelaki pun mulai berbicara.
"Kau itu calon pengantinku, Cherry."
Tatapan kesal langsung dihadiahkannya untuk seorang lelaki yang masih setia menggenggam tangannya.
"Gak mau!" ucapnya dengan raut wajah yang cemberut.
Dengan pandangan percaya diri, sang lelaki lalu mengubah posisinya dan duduk berhadapan dengan gadis kecil itu, ia lalu berbicara dengan seringai yang tak lepas dari wajahnya.
"Kau tetap milikku, my Cherry."
.
.
.
.
.
Chapter 3
Tap.
Mata Sakura berkedip beberapa kali setelah ia sadar dari ingatan masalalu yang tiba-tiba datang ketika maniknya yang seindah dedaunan itu menangkap siluet seorang lelaki yang berdiri beberapa meter tak jauh dari hadapannya.
"Suu— ti-tidak mungkin." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya, bibirnya pun mulai gemetar, apalagi dengan detak jantung yang bertalu-talu. Sakura panik. Ia harus segera lari dari lelaki itu, kaki-kakinya mulai melangkah ke arah kerumunan orang-orang yang sedang ramai berlalu-lalang. Lengannya tak lupa ia gunakan untuk mengambil ponsel miliknya dan menghubungi kekasihnya yang bernama Gaara.
Tidak mungkin! Kenapa? Kenapa dia berani menampakkan wajahnya? Bukankah selama dua tahun ini ia hanya menyuruh Taka untuk mematai atau menculikku, lalu kenapa sekarang ia berani menampakkan wajahnya? Tidak. Gaara, cepat datanglah.
Perasaan takut dan kalut mulai menghantui Sakura, gadis itu terus saja berlari seperti orang kesetanan, tidak peduli banyaknya orang yang mengumpat dan memaki karena ia dengan beringas menabrak bahu mereka.
"Hah ... hah." Terus berlari, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Tatapan Sakura sekarang beralih kepada beberapa mobil asing yang mengikutinya, ada beberapa mobil hitam, dan sebuah mobil dark blue yang sekarang malah hanya beberapa meter di sampingnya, di jalan raya.
Sakura mengingat jelas seringai yang tadi dilihatnya di wajah lelaki itu. Dan setelah delapan tahun tidak berjumpa, ia merasa semakin tidak berdaya karena melihat sosok itu terlihat sangat kuat dengan tubuh tinggi tegapnya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu pun mengambil keputusan untuk melewati sebuah gang sempit yang berada di samping area pertokoan Shiro. Meski napasnya sudah tidak beraturan, tapi langkah itu tetap berlari semakin cepat.
Brukk.
Tersungkur karena tersandung kaki sendiri, Sakura mendarat di aspal becek yang ada di gang sempit itu. Mata seindah dedaunan itu sempat berkunang-kunang karena menahan rasa sakit dan gilu di tubuhnya, apalagi dagunya juga terbentur cukup keras dan menimbulkan ruam merah dengan hiasan darah yang tercium amis.
"Sial." Dengan napas tersegal, ia mencoba bangkit dari jatuhnya dan itu tak semudah yang ia kira. Rasa ngilu semakin mempersulitnya.
Tertatih-tatih Sakura berjalan dengan baju yang kotor dan basah, ia masih bersyukur lelaki itu tidak mengikutinya, ia hanya bisa berharap agar sang kekasih cepat menemukannya dan menampakkan wajahnya.
Grebb.
"Apa kau baik-baik saja—"
Sakura merasa seluruh tubuhnya gemertaran karena ada seorang lelaki yang berhasil memeluknya dari belakang dan tanpa sepengetahuannya sedari tadi berada tidak jauh di dekatnya. Erat. Lelaki itu memeluknya sangat erat sambil menghirup aroma tubuhnya yang sudah bercampur dengan bau tanah becek dan karat darah.
Matanya ia pejamkan karena tidak berani melihat siapa orang di belakangnya ini, dan napasnya semakin tersegal dengan detak jantung yang kembali tak terkendali.
"—my Cherry."
"Tidakk. Lepaskan aku, Brengsek! Lepassss." Sakura memberontak dengan sepenuh tenaganya dan berteriak sekuat mungkin.
Dengan apa saja anggota tubuhnya yang terus berusaha memukul lengan lelaki itu dan mencakarnya, menggigit lengan kokoh itu sampai mulut Sakura masakan karat darah.
"Tenanglah!" Lelaki itu membalikkan tubuh Sakura yang terus memberontak.
"Green, ini aku. Buka matamu." Gaara membelai wajah Sakura yang sudah pucat pasi, keringat dingin pun menghiasi wajah gadis itu.
"Hah ... Hah." Mata emerald-nya perlahan terbuka, menampakkan siluet lelaki yang memiliki rambut merah gelap di pengelihatannya. Mereka saling bertatap lama, dengan Sakura yang masih terus menyadarkan dirinya dari ketakutan yang sedang menderanya.
"Green?" Gaara mengeluarkan suara yang sarat dengan rasa khawatir. Belum lagi dahinya yang mengerut karena menatap kekasihnya yang kelihatan amat menderita ini.
"G-gaara?"
Sakura langsung memeluk tubuh lelaki itu dan membiarkan kekasihnya ini menahan berat tubuhnya karena seluruh tubuhnya serasa menjadi jeli. Ia lemas. Napasnya masih terengah dan Sakura masih belum mau melepas tubuh Gaara yang juga sedang mendekapnya. Ia merasa amat nyaman dan terlindungi dalam dekapan lelaki berambut merah itu.
"Kukira yang memelukku dari belakang itu adalah dia, dan aku seperti mendengarnya memanggilku dengan nama itu. G-gaara, syukurlah."
Lelaki yang memiliki nama lain Akashi itu mengeratkan pelukannya, ia dapat merasakan tubuh kekasihnya yang masih gemetaran, rahang lelaki itu mengeras tiba-tiba karena melihat kekasihnya yang sedang berada dalam kondisi memprihatinkan. Ini pertama kalinya ia melihat Sakura yang seperti ini, rapuh dan lemah. Bahkan, gadis ini selalu bertingkah angkuh walau dihadapkan dengan beberapa orang preman yang mencoba memerasnya. Atau berhadapan dengan seorang pembunuh yang mencoba menyakitinya pun, Sakura tidak akan seperti ini. Termasuk saat berhadapan dengan Taka, gadis ini masih bisa kabur dan merasa biasa saja. Tapi, sekarang Gaara menjadi kebingungan dengan hal apa yang menyebabkan Sakura ketakutan seperti ini.
.
.
.
Sasuke menatap kedua orang yang masih berpelukan itu dalam diam dengan tatapan mata yang dingin dan menyimpan aura murka. Jika saja ia tidak dihentikan oleh Kabuto, mungkin sekarang ia akan mendapatkan kembali Cherry-nya.
"Sabarlah, King. Kondisi kita sedang sulit karena Akashi membawa beberapa anggotanya. Sebaiknya kita cari waktu yang tepat. Kita kalah jumlah, King Ares." Kabuto pun akhirnya merasa lega karena bosnya itu mengurungkan niatnya untuk merebut gadis gulali yang sekarang sedang direngkuh erat oleh Akashi. Masalah akan semakin panjang jika harus memulai pertikaian ditempat seramai ini.
Lelaki berambut kelam itu pun memasuki mobilnya dan kembali memutar arah.
"Kau tetap pada tugasmu," ucap Sasuke sebelum pergi meninggalkan Kabuto.
Mobil itu melaju kencang dan tiba-tiba berhenti di pinggiran sungai, jemari kokoh itu terlihat sedang meremas stir mobil yang tidak berdosa. Menggebrak beberapa kali pada kemudi dan kursi mobilnya. Tatapannya kian menajam, dengan gigi yang terus bergemeletukkan.
"Brengsek, Akashi." Umpatan itu keluar dengan geraman rendah yang mengiringi suara Sasuke.
Matanya terpejam dengan kepala yang ia sandarkan ke kursi, mengatur napasnya dan mengendalikan emosinya yang sempat membara.
Memang benar apa yang dikatakan Kabuto, kalau situasi saat ini masih belum mendukung dirinya untuk menyelamatkan Cherry dari tangan kotor makhluk yang bernama Akashi itu. Akashi si Iblis Pasir Merah memang cukup berbahaya, namanya bahkan terkenal dan sangat ditakuti di dunia hitam. Tapi, tentu saja ia tidak pernah takut dengan Akashi. Apapun itu, semuanya akan ia lewati demi mengambil Cherry-nya kembali. Menghidupkan kembali mesin mobilnya, Sasuke lalu kembali melesat dengan kencangnya di jalan yang sepi itu.
.
.
.
Apartemen Gaara kelihatan sangat sunyi ketika gadis berambut gulali itu terus membungkamkan bibir indahnya. Setelah Ia mengobati luka kekasihnya, tentu saja dirinya menyarankan agar Sakura menceritakan apa yang telah dialaminya sampai-sampai membuat dirinya menjadi sangat ketakutan seperti sekarang ini. Tapi, sepertinya itu adalah hal yang mustahil karena sampai sekarang Sakura tidak mau mengatakan hal apa yang telah terjadi dengannya.
"Baiklah, jika kau tidak ingin cerita. Habiskanlah susu kedelainya. Aku heran, kenapa setiap ada masalah kau lebih memilih meminum susu kedelai daripada bercerita dengan kekasih tampanmu ini, hm?" Gaara mulai menggoda Sakura dengan tujuan untuk memperbaiki mood gadis itu. Dan hal itu kelihatannya berhasil karena Sakura mulai mendelikkan matanya yang indah.
"Tentu saja, karena ini lebih enak daripada kau."
Gaara menyeringai karena mendengar penuturan tentang dirinya yang sedang dibanding-bandingkan dengan segelas susu kedelai. Catat itu.
"Hooo ... benarkah?" lelaki berperawakan tegap itu mulai naik ke atas ranjang yang diduduki Sakura dan mulai mendekati gadis itu.
Menyentuhkan telapak tangannya ke arah wajah sang gadis, Gaara mulai menggoda Sakura dengan cara mencium-cium kecil tulang rahang gadis itu.
"Mendesahlah." Bisik Gaara tepat saat bibirnya mencium telinga Sakura.
Ciuman-ciuman kecil itu berakhir di bibir Sakura dan Gaara yang menemukan bibir menggoda itu pun tidak tinggal diam dan memberikan ciuman yang lebih panjang dan menggoda.
"Gaara."
"Hm?"
Sakura menatap kekasihnya yang masih berjarak sangat dekat dengannya, mereka sekarang sedang menempelkan dahi satu sama lain, dan Sakura sangat menyukai hal itu. Mungkin tidak ada yang tahu kalau Akashi sekarang ini sangatlah penyayang dan over protective terhadapnya. Ia pun terkikik kecil karena memikirkan hal itu.
Meletakkan tangannya di dada Gaara, Sakura mulai membuat jarak dengan lelaki itu, tetapi mereka masih tetap berhadapan dengan adanya jarak sekitar dua jengkal telapak tangan.
"Aku tidak tahu apa yang direncanakannya, tapi kenapa dia tiba-tiba muncul?" menundukkan kepalanya, Sakura kembali teringat saat dengan jelas ia melihat senyum mengerikan dari Sasuke.
Gaara yang paham ke mana arah pembicaraan kekasihnya ini pun mulai menenangkan sang gadis dengan kembali membelai kepala merah jambu itu, menggenggam tangan yang lebih kecil darinya dan menciumnya dengan penuh kasih.
"Kau bertemu dengannya, dan hal itu membuatmu sampai seperti ini. Aku tidak menyangkan kalau akibatnya akan seperti ini terhadapmu. Kau bahkan sampai terluka. Hal apa yang menyebabkanmu begitu ketakutan saat berhadapan dengannya?"
Gadis berparas bak bunga musim semi itu sekarang hanya kembali terdiam dan tidak menjawab atau menanggapi apa yang telah diucapkan kekasihnya, ia hanya membisu dan untuk beberapa saat hanya suara jam yang terdengar di antara mereka. Gaara hanya bisa menghela napas, bagaimana pun juga ia tidak bisa memaksa Sakura untuk menceritakan segala kebenarannya. Yang ia tahu, antara Sakura dan Sasuke pasti memiliki suatu hubungan dan telah terjadi sesuatu sampai-sampai si gila itu begitu terobsesi terhadap kekasihnya ini.
"Ya sudah, istirahatlah agar luka-lukamu cepat sembuh, aku akan menyuruh orang untuk menyelidiki dirinya lagi. Mungkin hanya kita berdua yang tau kalau pemimpin Taka yang bernama King Ares itu memiliki nama asli Uc—"
"Jangan sebut namanya, Gaara." Lelaki berambut merah itu menyeringai karena sang kekasih yang begitu terusik hanya dengan nama asli King Ares. Dan ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"Aaa ... kalau begitu 'Dia yang tidak boleh disebut' akan segera kuselidiki lagi." Gaara terkekeh kecil.
BUG.
Pukulan tiba-tiba dihadiahkan oleh Sakura kepada wajah tampan kekasihnya.
"Berhentilah menggodaku, SHANNARO. Baka. Ck, sial, Gaa—" selanjutnya Gaara tidak mendengarkan lagi ocehan dan gerutuan gadis itu karena dirinya keluar dari kamar dengan senyum tipis di bibir robeknya.
.
.
.
"Hiks ... hiks, Okaa-san, Otou-san, apa yang terjadi dengan Suu-chan. Kenapa kepala Suu-chan diperban? Suu-chan, bangunlah. Saki di sini dan akan selalu bersama Suu-chan." Gadis kecil yang menyebut dirinya sebagai Saki pun menggoyang-goyang kecil lengan lelaki yang tengah tak sadarkan diri itu.
Perban di kepala dan tangannya terbelit indah, selang oksigen juga terpasang di hidung mancungnya. Lelaki itu masih dalam keadaan koma karena benturan hebat yang mengenai kepalanya. Tidak tahu entah apa yang terjadi dengan lelaki itu.
"Saki, tenanglah, Nak. Suu-chan sebentar lagi pasti akan sadar. Jadi, Saki harus berdoa kepada Tuhan agar Suu-chan segera sadarkan diri." Sang ibu pun mulai membujuk anak perempuannya itu.
Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya, bertanda kalau ia mengerti, lalu ia pun dengan cepat menghapus air matanya yang menganak sungai di wajah cantiknya. Anak perempuan itu lalu memejamkan matanya dan menengadahkan tangannya, bertanda ia sedang berdoa kepada yang maha kuasa.
Setelah ia berdoa, dengan ajaibnya mata sang lelaki yang tak sadarkan diri itu bergerak dan perlahan terbuka, tentu saja ia memekik gembira karena Suu-chan-nya telah sadarkan diri. Saki pun memeluk lelaki itu dengan bahagia.
"Suu-chan, aku sangat menyayangimu. Saki janji tidak akan meninggalkanmu, Suu-chan. Tapi, Suu-chan juga harus berjanji tidak boleh meninggalkan Saki. Hiks."
.
.
.
Angin dingin membelai wajah seorang lelaki yang tengah duduk sendirian di balkon kamarnya, sama sekali tidak gentar dengan gejolak angin yang terus merayunya agar cepat masuk dan menutup pintu balkon untuk tidur di balik hangatnya selimut. Tidak, lelaki itu masih saja duduk dengan gagahnya, matanya yang terpejam kini terbuka perlahan dan menampilkan bola malam pekat yang sangat tajam dan dapat menjerat siapa pun yang menatapnya.
"Kau sudah berjanji, Cherry."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Salam sayang dari istrinya Itachikoi,
zhaErza.
