Mukya!! Akirnya bikin juga chapter 3 juga!!
WARNING: gaje max. Very long.
Mungkin antara chapter-chapter sebelumnya, ini sedikit tidak ada hubungannya..
Maafkan aku karena terlalu lama publishnya, ga ada waktu sih!!!
Dan mungkin chapter setelahnya bakal lebih lama karena aku sedang dead-line!! ARRRGH !!!!
_____-w-_____
Hiruma and Mamori will divorce?
Eyeshield 21
By: Murata Yusuke & Inagaki Riichiro.
_____-w-_____
"Akuma, ayo belajar!", Mamori ratusan kali bicara seperti itu.
"Aah, ibu. Aku sudah belajar sepulang sekolah tadi", jawabnya dengan santai.
"Jangan bohong, kamu kan' tadi ke ke toko CD,ayo belajar, mentang-mentang ayahmu sedang bertugas luar, kamu jadi tidak mau belajar", Mamori menegaskan.
"Iya, iya aku belajar", akhirnya Akuma membuka bukunya.
"Bagus, begitu putra ibu", puji Mamori.
"Ah! Kakak belajar ! BUKU CATATAN !", kata Chiyo tiba-tiba di daun pintu, langsung menyambar buku catatannya. Buku catatan itu pemberian Hiruma sebagai buku ancaman dan menyuruh Chiyo mencatat semua kelemahan kejadian memalukan orang lain orang lain. Tapi sifat rajin Mamori malah memperlebih catatan itu, sehingga semua yang bukan bahan ancamanpun dicatatnya seperti kejadian tadi.
"Sudah kubilang, catat kelemahan orang lain", tegas Akuma sambil menulis.
"Dan ibu sudah bilang, buku bagus begitu sebaiknya dijadikan catatan pelajaran", tegas Mamori.
"Ayah pulang kapan bu?", tanya Chiyo menghampiri Mamori.
"Besok malam", jawabnya.
"Bisakah kita jemput di bandara?", tanya Chiyo lagi.
"Tentu saja", jawabnya lagi.
"ASYIIIIIK !", Chiyo terlihat senang sekali.
"Kenapa senang sekali? Kamu senang ayah pulang? Ibu juga", kata Mamori.
"Ya,aku senang ! Selain ayah pulang, aku juga bisa beli cream puff kariya di bandara !"
Mata Mamori berubah.
"BENAR, KENAPA IBU BISA LUPA BEGINI, KITA BISA MEMBORONG KALAU ADA AYAHMU ! IDE YANG BAGUS, PUTRIKU !", Mamori berkata tajam.
"YA~HA !"
"Ehem..ehem, ada yang belajar disini, siapa ya orang yang menyuruhku belajar tapi malah menggangguku belajar?", sindir Akuma.
"Ya ampun! Maaf Akuma! Ayo Chiyo, kita pergi", Mamoripun pergi. Beberapa menit kemudian Akuma baca komik.
Esok hari malamnya
"Akuma! Chiyo! Ayo cepat, nanti ayahmu menunggu", kata Mamori memanaskan mobil, Mamori bisa menyetir mobil.
"Iya, iya", kata mereka bersama-sama.
Merekapun pergi ke bandara.
Dan merekapun bertemu dengan Hiruma.
"Ayah bawa oleh-oleh apa? Coklat? Permen?", tanya Chiyo.
"Mana mungkin aku bawa oleh-oleh begituan putri sialan,tapi aku bawa oleh-oleh ancaman baru buat kalian, anak-anak sialan", kata Hiruma terlihat lelah.
"Apa?", tanya Akuma.
"Kelemahan seorang jenderal, kekeke", kata Hiruma mengeluarkan buku ancamannya yang lama dan sukses tertulis semua kelemahan orang di Jepang dan sasaran berikutnya adalah Amerika.
"AAAAAH ! berikan padaku ! berikan padaku!", ribut Chiyo dan Akuma seolah bahan ancaman dapat menggantikan oleh-oleh sebuah TV.
Akhirnya mereka dapat ancaman itu.
Malamnya, saat dikamar Hiruma dan Mamori.
"Youichi, kau lelah?Tidur saja, tampaknya mukamu pucat", tanya Mamori terlihat khawatir (AH! Youichi ! Mamori memanggil Hiruma Youichi ! Aah !)
"Aku sehat istri sialan", cetus Hiruma sambil mengerjakan pekerjaannya.
".....Youichi..", kata Mamori pelan.
"Apa?", kata Hiruma tajam.
"Aah, tidak jadi", kata Mamori menggelengkan kepalanya.
"Bilang saja, kalau nanti aku tidak punya waktu", kata Hiruma masih terus mengetik di laptopnya.
"Errr, tidak apa-apa nih?"
"Ya"
"Bisakah kau memanggilku 'Mamori'?", akhirnya ia membranikan diri.
Hiruma diam sesaat lalu ia berkata,"hanya itu?", tanya Hiruma, menaikan alis mengangguk.
"Entahlah, itu permintaan yang menjijikan", kata Hiruma terang-terangan.
"Maksudmu namaku menjijikan?!", Mamori tersinggung.
"Bukan, permintaanmu, itu saja. Bukankah aku sudah pernah memanggil nama depanmu itu hah?", kata Hiruma.
"Itu cuma waktu pernikahan dan bulan madu ! Selain itu hanya istri sialan dan ibu sialan !!", Mamori marah-marah.
"Kenapa setelah itu kau tidak bilang padaku kau mau kupanggil ma-mo-ri?! Dengan begitu mungkin aku masih bisa memanggilmu ma-mo-ri, kalau baru sekarang kau minta, sudah terlambat", kata Hiruma yang agak sulit mengucap nama Mamori.
"Harusnya kau sadar aku mau dipanggil begitu,sikapmu juga tidak pernah berubah !", Mamori mulai naik darah.
"Kenapa jadi menyalahkan sikapku istri sialan ?!!", Hiruma juga marah-marah.
"Karen sikapmu yang arogan itu telah menular pada anak-anak ! Dulu, aku masuk anggota komite disiplin karena aku mau mengubah sikap orang-orang sepertimu, karena kamu adalah pusatnya kuputuskan untuk mengawasimu terus menerus, bukannya aku mendapat ide tuk mengubahmu aku malah jatuh cinta padamu! Dan ternyata aku jatuh cinta pada orang yang salah !", ucap Mamori panjang lebar, akhirnya ia jujur.
Kata-kata terakhir Mamori membuat Hiruma naik darah, dan tanpa sepengetahuan Hiruma tanganya mendarat dipipi Mamori alias menamparnya.(Ya iyalah, mana ada cowo' mau digituin).
"Yo...Youichi...", Mamori menangis.
Hiruma sempat memandangi telapak tangannya sendiri seakan menyesali perbuatannya tadi tapi ia berkata,"kuharap tamparan tadi bisa menggali apa yang kau ucapkan tadi dan menyambungkan pikiran dan mulutmu", kata Hiruma kembali mengetik.
Mamori diam. Sepertinya dia masih shock dan masih mencerna perkataan Hiruma tadi.
Hirumapun menutup laptopnya, lalu mengambil selimut. Dan dia berkata pelan di telinga Mamori yang masih menangis,"malam ini aku mau tidur di kamar tamu", lalu ia pergi ke salah satu kamar tamu dari 23 kamar tamu. Rumah mereka memang besar sebesar luas 3 istana moscow di gabung jadi satu(pesan moral : jangan dibayangkan besar rumahnya).
Mamori menangis sepanjang malam...
Paginya...
Merasa menyesal, Mamori bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan spesial untuk Hiruma. Setelah semuanya siap, Mamori bermaksud membangunkan Hiruma dikamar tamu. Setelah berhasil menemukan satu-satunya kamar tamu yang terkunci,Mamori mengambil nafas panjang lalu mengetuk pintu itu. Tok tok tok. Tak ada tok tok. Tak ada jawaban. Apa masih tidur?, batin Mamori. Lalu ia mencoba membuka pintu itu, masih terkunci. Ia mulai berpikir, kalau tidak salah balkonnya menyambung dengan kamar tamu di sebelahnya. Setelah mendapat ilham itu, Mamori beranjak ke kamar yang ada disebelahnya lalu menuju balkon dan ia berhasil masuk ke kamar tamu Hiruma lewat balkon. Mamori melihat Hiruma yang tertidur di depan laptop yang masih menyala. Ini kejadian yang sama persis waktu habis melawan Shinriyuji. Tepat saat Mamori mau membangunkannya, hp Hiruma bergetar! Untungnya Cuma bergetar, tidak berbunyi. Mamori mengambilnya, ternyata ada pesan masuk, Mamori membacanya:
Youichi? Kenapa tidak pulang? Padahal kukira kamu akan mampir ke rumah dulu untuk menemui Itou, dia sudah kangen tuh. Ternyata kamu langsung pulang ke Jepang..sayang sekali! Yah, tapi terima kasih untuk paket hadiahnya, Itou menyukainya. Semoga di Jepang sehat terus. Salam sayang, Hiruma Atari.
Entah kenapa Mamori geram melihat pesan itu, lalu ia melihat inbox yang semuanya nyaris dari gadis bernama Hiruma Atari. Yang ada dipikiran Mamori sekarang adalah, siapa Hiruma Atari itu?! Itou?! Pulang?! Salam Sayang?! Apa Youichi selingkuh?!. Mamori langsung membangunkan Hiruma, "Youichi, apa maksud pesan ini?!". Hiruma yang sudah bangun, memperhatikan hpnya, ia terlihat kaget. "Apa kau selingkuh di luar sana?! ", Mamori masih marah-marah. Hiruma merebut kembali hpnya, ia tak bisa berkata-kata. "Aku mau pergi dari sini !!!", Mamori buru-buru pergi dari kamar itu, tapi Hiruma tidak mengejarnya. Mamori berkemas dengan lengkap. Chiyo dan Akuma yang ingin berangkat sekolah sempat bingung dengan sikap ibunya itu, lalu ibunya berkata, "terserah kalian, kalian ingin ikut ibu atau tidak ! Pilih antara kehidupan ibu atau ayahmu! Ibu mau pergi dari sini, ibu sudah tidak tahan!". Akuma dan Chiyo yang tentu saja sudah 99,75% menjadi anak setia Hiruma hanya bisa diam menggeleng. Mamori yang kecewa langsung pergi. Akuma dan Chiyo yang berada diluar rumah memperhatikan kepergian ibunya mendengar suara bantingan keras sebuah barang. Mereka langsung mengira bahwa itu adalah ayah mereka yang membanting laptopnya.
Mamori tiba disebuah rumah. Itu adalah rumah Sena. Saat Mamori akan mengetuk pintu, ia dikagetkan dengan munculnya Sena yang berpakaian rapi. "Kak Mamori ?!", Sena kaget.
"Hai...Sena...Hiks", Mamori menangis perlahan sampai akhirnya ia memeluk Sena karena tak tahan memendam sedihnya. Mamoripun dibawa masuk.
"Kenapa You-nee bisa sebegitu jahatnya?!", omel Suzuna setelah Mamori menjelaskan semuanya pada Suzuna. Sena sudah berangkat kerja.
"Entahlah...", Mamori masih menangis,"Suzuna-chan".
"Mmm?"
"Boleh.. Aku tinggal disini untuk sementara ?", tanya Mamori tiba-tiba.
"Boleh dong! Mamo-nee kan sudah banyak membantu aku dan Sena", jawab Suzuna senang.
"Terima kasih...dan bisakah kau merahasiakannya dari siapapun termasuk Youichi?", pinta Mamori lagi.
"Oke......, Mamo-nee, aku harus ke pasar, nanti aku cepat puang kok", kata Suzuna berkemas.
"Baiklah", jawab Mamori.
Beberapa minggu kemudian...
Sudah berminggu-minggu Mamori tidak kembali ke rumah. Akuma dan Chiyo jadi sering diam. Begitu juga dengan Hiruma, ia meski terlihat diam, padahal terus mencarinya dengan bantuan budak-budak elitnya. Semua itu dilakukannya dengan serius, dan jadi jarang istirahat dan kerja. Semua itu memuncak sejak ada sepucuk surat dari Mamori yang meminta cerai. Hiruma yang setanpun shock.
"Nozomi!!!", teriak Akuma pada Nozomi yang akan pulang ke rumah.
"Ada apa Akuma-san?", tanya Nozomi.
"Mau tanya, apa kau melihat ibuku?? Ada berita penting yang harus kuberi tahu padanya!!", jawab Akuma.
"Bukankah sudah kujawab, aku tak melihatnya sejak beberapa minggu ini", Nozomi berbohong, padahal Mamori ada di rumahnya.
"Tapi siapa tahu kan kau melihatnya?! Kalau kau melihatnya, tolong beri tahu ayahku sakit !", Akuma terengah-engah.
"Hah? Setan itu bisa sakit juga ternyata ! Sakit apa?", tanya Nozomi.
"Entahlah, ia demam, tapi juga sering muntah-muntah", jawab Akuma.
"Kenapa tidak di bawa ke dokter?", saran Nozomi.
"Ayah tidak mau kalau tak ada ibu", jawab Akuma," Sudah ya! Aku harus cepat pulang, sampai jumpa kutu sialan!!!".(Kutu?).
Nozomi jadi tegang. Ia langsung pulang dengan kecepatan cahaya turunan ayahnya dan memberi tahu Mamori semua informasi Akuma.
Mamori kaget, tidak biasanya Hiruma sakit, Mamori langsung pergi menuju rumahnya tanpa peduli kalau seminggu yang lalu ia mengirimkan surat permintaaan cerai.
BRAK! Mamori mendobrak pintu, lalu berlari kekamar Hiruma. "Youichi!!", Mamori tiba dikamar. Hiruma terbaring lemah, Akuma duduk disamping Hiruma, Chiyo menyuapinya makanan. Mamori tertegun, disaat aku dibutuhkan kenapa aku harus tidak ada?! Aku memang ditakdirkan bersama mereka! Aku memang seenaknya!, batin Mamori. Ia langsung sergap duduk disamping Hiruma.
"Youichi.. kamu kenapa?", tanya Mamori.
"Apa yang kau lakukan disini istri... mantan manajer sialan?", tanya Hiruma lemah.
"Kenapa bukan istri sialan?", tanya Mamori kaget.
"Bukankah kau yang minta? Lagipula kita akan segera bercerai", kata Hiruma.
"Tidak! Akan kubatalkan cerai itu! Pokoknya sekarang kau ke rumah sakit!", tegas Mamori.
"Sudahlah...Umurku sudah tak lama lagi", kata Hiruma lemas.
Mamori langsung menampar Hiruma yang tergolek lemas. "Kuharap tamparan tadi bisa menyambungkan pikiran dan mulutmu!", kata-kata Mamori persis dengan Hiruma.
"Kau..", Hiruma meraba pipinya.
"Iya... aku sudah mengerti Youichi", Mata Mamori berlinang air mata.
"Dasar kau....Mamori sialan", dan akhirnya Hiruma bisa memanggil nama Mamori!
Bibir Hiruma yang habis bergetar karena memanggil Mamori langsung berhenti ketika Mamori menciumnya. Akuma langsung menutup mata Chiyo.
Sejak saat itu, keluarga Hiruma berjalan mulus. Semua masalah dibahas bersama. Hiruma juga sudah menjelaskan pada Mamori kalau Hiruma Atari itu adalah kakak perampuannya, dan Itou adalah putra Atari/keponakan kebanggaan Hiruma. Masalah kecil menjadi besar seperti itu jadi jarang terjadi. Maka hapily ever after (Ya... setidaknya sampai Mamori tahu kalau Hiruma itu cuma akting sakit dan bekerja sama dengan Akuma dan Chiyo).
To Be Continued
_____-w-_____
Gaje sekaleee.....
Tolong beritahu apa yang kurang dan lebihnya!
Review please...
