Chapter 3
Just Young Mage dan Dragon
Stiles mengencangkan jaket merahnya seraya menuju kafe tempat janji temunya dengan ayahnya. Semenjak ia tidak pernah pulang ke Beacon Hill, ayahnya memutuskan untuk mengunjunginya di New York. Ia memahami keenganannya pulang ke Beacon Hill, terutama setelah nogitsune. Pria itu tahu ia tidak akan kembali. Bahkan ia tidak pernah bertanya dimana ia tinggal. Selama lima tahun ini mereka hanya berhubungan lewat video call atau telepon. Ada rasa bersalah meninggalkan ayahnya seperti itu. Tapi jika ia tetap tinggal, atau tidak memutuskan hubungannya secara permanen dengan mantan pack-nya itu, Stiles tidak yakin ia bisa melanjutkan hidup.
Ayahnya melindungi rahasianya dengan tidak memberitahu siapapun dimana ia tinggal dan melarang siapapun berusaha melacak baunya. Stiles tidak perlu menegaskan pada pack bahwa ia tidak akan kembali, mereka semua tidak peduli. Mungkin hanya Scott karena persahabatan mereka lebih dari 15 tahun. Tapi Scoot punya Isaac sebagai penggantinya. Derek Hale, sejarah hubungan mereka tidaklah spektakuler. Walau Stiles berharap setelah petualangan hampir mati dan menyelamatkan satu sama lain, paling tidak membuat mereka menjadi teman. Tapi setelah mendengar perkataan kasarnya tentang bagaimana manusia bukan pack, cukup sudah. Di mata Derek, ia tidak lebih penting dari sekedar Google-magic. Dan sahabat McCall. Ayahnya bilang sudah kutukannya selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Dimulai sejak ia tahu Scoot di bully oleh Jackson. Tapi, ia juga punya batasan sejauh mana harga dirinya dilecehkan.
Scott, ia tidak perlu mengatakan seberapa besar peran dirinya membuat ex-BFF tidak mengunyah hidup-hidup orang disekitarnya. Lydia, bagaimana ia menantang Alpha Peter untuk menyelamatkannya. Allison, setelah apa yang dilakukan Gerald di ruang bawah tanah, Stiles masih mau memaafkannya. Derek, ia menyelamatkan hidup pria itu berkali-kali; dari peluru Kate Argent, memeganginya selama dua jam di kolam renang agar tidak tenggelam, membantunya menghadapi Alpha pack, ada saat ia mengalami kesedihan kehilangan Byon dan Erica.
Tapi setelah Nogitsune. Saat ia membutuhkan mereka menghadapi kegelapan dalam dirinya. Saat ia menjadi yang paling lemah. Mereka mengusirnya pergi. Seakan dengan tidak melihatnya bisa mengurangi rasa sakit kehilangan orang-orang yang mereka cintai di tangan nogitsune. Tapi luka daging miliknya, yang selama ini tertoreh dan ia kumpulkan setiap menyelamatkan mereka tidak pernah hilang. Tidak seperti Werewolf, lukanya berbekas. Begitu juga luka di hatinya.
Jadi ia mengambil satu-satunya jalan. Ia pergi. Membiarkan ayahnya mengatasi apa yang tertinggal. Pack mencoba percaya itu pilihan paling cocok untuknya. Ia aman New York, menikmati masa muda yang hilang, terlalu sibuk menjadi mahasiswa normal untuk pulang sekali waktu. Seandainya mereka tahu, Stiles tidak akan pernah bisa normal. Mimpi-mimpi buruk disiksa di ruang bawah tanah Gerald, mimpi-mimpi buruk saat menjadi Nogitsune, mempi-mimpi buruk berlari dari kejaran Alpha, mimpi digigit oleh Peter dan menjadi budaknya. Setiap malam Stiles merasa kepalanya hampir pecah. Ia hampir tak bisa percaya, dirinya bisa berfungsi normal tanpa Psikiater.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang mau tahu.
Dan Stiles memang menginginkan tidak ada yang tahu. Semua kegelapan dalam hatinya. Semua teror yang ia rasakan.
Ia tersenyum. Senyum yang dilatihnya setelah berkali-kali terjatuh putus asa. Senyum yang menjadi keahliannya, yang membuatnya tampak tolol sehingga orang lain mulai mengabaikannya.
Di New York ia bisa jadi apapun. Melakukan apapun dan membuktikan pada semua orang bahwa ia tidak selemah yang mereka bayangkan.
Saat ia sampai di coffe shop itu, ayahnya sudah menunggunya disana dengan expreso di depannya.
"Yo, Dad," sapanya. Ayahnya memperhatikannya dengan alis terangkat dan tatapan Sheriff-nya. Stiles tidak merasa berbeda, tapi mungkin lima tahun tak bertemu membuatnya pangling.
"Stiles," ayahnya berdiri sambil mengembangkan tangan. Memberikan pelukan macho padanya. "Bagaimana kabarmu, nak?"
"Hm... hm... masih kesibukan yang sama, kegiatan yang sama."
Pria itu mendengus, "Tidak pernah sebelumnya aku menggolongkanmu orang yang suka belajar."
"Well, energi yang berlebih dan ADHD butuh disalurkan pada sesuatu."
"Aku bersyukur kini kau menyalurkannya pada hal yang bermanfaat. Tidak lagi melemparkan diri dalam masalah."
Stiles menyengir. Seandainya saja ia tahu. Mungkin ia tidak lagi berhadapan dengan makhluk supranatural, tapi kegiatannya saat ini jelas lebih keren. Tidak ada yang lebih keren dibandingkan berurusan dengan superhero, atau dalam kasusnya berkas-berkas yang berhubungan dengan superhero.
"Kau memakai make-up," komentar ayahnya.
"Oh," tangan Stiles mengosok pipinya. "Hanya make-up sederhana. Kau tahu... lips gloss, eyeliner, sedikit perona pipi..."
"Kau tahu, nak... Kau dulu memang pernah berkata jika kau gay... tapi kalau kau tidak ingin membicarakannya, tidak masalah. Aku akan selalu menerimamu apa adanya."
Stiles merasakan matanya berkaca-kaca. Ia menelan ludah dan berkata lirih. "Kupikir aku bukan gay, dad... aku biseksual," ia meringis kecut, "Aku pernah jatuh cinta dengan Lydia selama 12 tahun, kau ingat?"
Ayahnya mengangguk.
"Dan aku merasa nyaman dengan semua ini..." ia merasakan pipinya memerah. "Aku merasa lebih percaya diri. Banyak orang memperhatikanku dan disini mereka tidak menganggapku aneh. Tidak ada yang menertawakan cara bicaraku atau tingkahku yang tidak bisa diam. Mereka menganggapnya cute."
Ayahnya mengangguk, "Apapun asalkan kau nyaman, nak."
"Thanks, dad..."
Mereka menghabiskan waktu sampai malam; makan di restoran Thailand, menonton konser di Central Park dan berkunjung singkat ke Star Tower. Ia bersyukur tidak berpapasan dengan Tony, walaupun ia sangat yakin JARVIS selalu punya mata tertuju padanya. Pada akhirnya, ia mengatarkan ayahnya ke salah satu hotel di pusat New York karena ayahnya hanya tahu ia tinggal di asrama. Hingga esok harinya ia akan kembali ke Bacon Hill.
Ia berharap segalanya akan baik-baik saja. Paling tidak sampai cutinya berakhir dan mengantarkan ayahnya ke bandara. Tapi sejak dulu para dewa memang tidak pernah akur dengannya. Tiba-tiba, ledakan keras terdengar di jalanan New York. Ayahnya otomatis berganti mode Sheriff, berusaha menenangkan orang-orang yang panik. Stiles melompat keluar, berusaha menganalisa keadaan. Ia melihat lesatan warna merah baju baja Iron Man di atas kepalanya dan menyusul tembakan laser pada naga (Naga?!) yang meliuk melintasi antar gedung.
"Dad! Cari tempat berlindung!" serunya sambil berlari ke arah kekacauan.
"STILES!"
Ia melihat lesatan panah dari Hawkeye yang menancap dan meledak di sayap kanan sang naga. "Shit," naga bukan makhluk yang bisa dikalahkan dengan cara itu. Ia ingat membaca berkas yang baru masuk tentang artefak dengan simbol naga dan bulan yang ditemukan SHIELD di pedalaman laut China selatan. Jika naga ini berhubungan dengan artefak itu, maka kemungkinan ia naga legendaris dari Timur. Naga itu juga tidak menyemburkan api. Ia lebih tampak ketakutan dan bingung dibadingkan murka. Bagaimana ia tahu, Stiles sendiri juga tidak mengerti. Mungkin karena pengalamannya dengan makhluk-makhluk buas meningkatkan kepekaannya. Atau mungkin makhluk supranatural ini menyentuh sihirnya.
Tapi yang Stiles tahu pasti, tidak ada yang bisa membunuh Naga itu, dengan laser Iron Man atau petir Thor sekalipun. Sisik naga itu terlalu keras untuk ditembus dengan peralatan modern. Dan jika apa yang dibacanya benar, mereka bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai. Stiles melesat berlari ke arah gedung terdekat. Meraih puncak tertinggi dan melihat Kapten Amerika melontarkan tamengnya ke moncong naga itu. "Cap!"
"Pergi dari sini. Tempat ini berbahaya." Siapa yang tidak tahu.
"Senjatamu tidak bisa mengalahkannya! Kulitnya terlalu keras untuk ditembus, bahkan dengan tameng Vibranium!"
"Bagaimana kau bisa tahu—"
"Spesialis Stiles Stilinski, Divisi Riset Pusat. Kau perlu menghentikan Iron Man dan Hawkeye menghabiskan sumber daya. Semua senjatamu hanya akan terlontar sia-sia dan arahkan naga itu ke tempat dimana ia tidak terbang di atas kepala orang!"
Kapten menengok ke samping sambil menekan telinganya. "Ya, sir," lalu ia melepas radio komunikasinya dan memberikannya pada Stiles. "Pusat komando ingin bicara denganmu."
Stiles mengambil alat komunikasi berupa bluetooth super canggih itu dengan ragu dan memasangnya di telinga. Cool, ia belum pernah memakai benda seperti ini. Terdengar bunyi statis sebelum suara seorang pria, "Agen Stilinski." Apa ia harus membenarkan soal panggilan Agen itu?
"Dengan segala hormat, sir. Dengan siapa aku bicara?"
"Kau bicara dengan Kolonel Nick Fury, Agent. Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan."
Stiles menelan ludah. Ia belum pernah bertemu langsung dengan pria satu ini. Tapi mendengar suaranya saja sudah bisa membuatnya gemetar. Menurut kabar, orang paling berani pun akan kencing di celana saat bertemu mata dengannya.
"Makhluk itu, sir, Naga Timur dan kita harus bersyukur karena jika ia naga barat, maka semuanya sudah tenggelam dalam lautan api. Jika benar Naga itu muncul dari artefak SHIELD yang aktif, aku bisa jamin tidak ada senjata dimuka bumi bisa mengalahkannya—dengan sihir Asgard sekalipun. Ada alasan mengapa makhluk itu dikurung di dalam artefak berusia ribuan tahun dan di tenggelamkan di Laut China. Tapi mungkin kita bisa bernegoisasi."
Jeda sejenak, "Apa maksudmu?" well, Stiles memang terdengar gila.
Stiles menghela napas, "Naga, sir, adalah makhluk yang sangat cerdas dan dia menghancurkan kota karena ketakutan, bukan marah. Jika kita mampu menenangkannya dan mengajaknya negosiasi..."
"Dia bisa memahami bahasa kita?"
"Naga makhluk yang lebih bijak dari pada manusia, sir."
"Anggap saja begitu, tapi kita perlu memancingnya ke tempat yang bisa dipakai untuk bernegoisasi." Dari sudut matanya ia bisa melihat Hawkeye mendarat bersama Iron Man.
"Benar sekali. Kita perlu Iron Man mengarahkan naga itu menuju ke Central Park. Disana lahan cukup luas dengan habitat yang mirip dengan tempatnya berasal. Kupikir dikelilingi gedung membuatnya bingung, sir."
"Kita lakukan sesuai saran Agen Stilinski."
"Kalian dengar itu?" Kapten berseru pada para Avenger yang tanpa disadarinya sudah berkumpul disekelilingnya. Iron Man segera melesat. Oh, shit. Stiles baru tersadar telah menempatkan dirinya sebagai tumbal yang bernegosiasi dengan naga.
"Siap bernegosiasi, Agent?" tanya Black Widow.
Stiles meringis. "Wow, negosiasi pertamaku dengan naga dan aku tidak memakai seragam. Sempurna."
Gerutuannya membuat sudut bibir Hawkeye terangkat.
"Oh," Stiles menekan alat komunikasinya, "Sir, aku akan butuh Spiker."
xxx
Iron Man memang mengarahkan naga itu ke Central Park, tapi bukan berarti ia mampu menenangkan naga itu. Naga itu meliuk, menginjak dan menabrak pepohonan, sementara Stiles mengamati kekacauan itu dari Quinjet. Ia tahu, mereka tidak bisa mendarat aman jika naga itu masih buas di bawah sana. Stiles mengambil napas dan berteriak lewat spikernya di pintu pesawat, "Dengarkan aku, Penguasa Laut!" serunya dengan bahasa tua.
Seakan suaranya menyentaknya, Naga itu memalingkan muka dan meliuk menatapnya. Sangat sulit membalas tatapan mata yang awas itu, tapi Stiles tidak goyah. Naga itu mendarat dengan anggun; sayap-sayapnya yang tipis dengan tulang-tulang tajam mengembang dan mengibas sebelum kakinya menjejak tanah. "Mage muda. Kau bisa bahasa nenek moyangku," katanya dengan gemuruh purrr mirip kucing. Quinjet mendarat dan Stiles melompat keluar dari sana, tak lupa Avenger yang segera bergerak mengelilinginya seperti yang mantan pack-nya lakukan ketika mereka bertarung bersama. Semua itu membuat dadanya terasa berat.
Stiles berjalan pelan mendekatinya, berusaha tidak membuat Naga itu gugup. Ia berhenti empat meter di depannya. Ia menelan rasa gugupnya dan berkata dengan lantang, "Apa kau tahu, kau telah menghancurkan sebagian kota, wahai sang bijaksana?"
Mata naga itu berkedip. Warna hijaunya berkilat menunjukkan kecerdasan, "Duniamu membuatku bingung Mage dan para pejuangmu menyakitiku. Lagipula, ini pertamakalinya sejak ratusan tahun aku keluar dari penjaraku. Aku tak mau dikurung lagi," ia beringsut defensif, dan otomatis para Avenger bersikap siaga disekitarnya. Stiles berusaha tidak menunjukkan rasa panik. Jika naga itu memilih bebas berkeliaran dan membuat sarang disini, tidak hanya kekacauan yang terjadi nanti.
Ia menoleh pada Thor, "Thor, di Asgard, apakah naga adalah hal yang wajar?"
"Kami menggunakan mereka sebagai senjata perang, kawanku. Walau naga-naga milik kami tidak seanggun dan sekeras naga di Midgard."
"Tapi, apakah ia akan diperlakukan dengan hormat jika SHIELD memintanya padamu."
Thor mengedip, "Kau ingin mengirimkannya ke Asgard?"
Stiles mengangguk. "Tidak ada pilihan lain. Dia tidak mau dikurung dan kita tidak mampu mengurungnya. Paling tidak sampai kita bisa menemukan 13 penyihir yang mau membunuh dirinya sendiri untuk ritual pengurungan yang merupakan tindakan tak bermoral, selain kita tidak punya banyak waktu. Tapi, aku berani menjamin ia akan sejinak kucing."
"Jika kau bisa meyakinkannya, aku bisa membuka portal ke Asgard, teman kecil. "
Stiles menghela napas, dan berseru dengan nada berwibawa; paling tidak naga itu akan mengiranya orang berkuasa, "Aku mengajukan penawaran. Aku bersumpah dengan darah Mage milikku, kau akan diantarkan ke tanah sihir paling kuat," ia merasakan sihirnya berdesir akibat sumpahnya. Ia mengerjap-kerjapkan mata, sedikit oleng ke samping yang membuat Hawkeye berdenyut disisinya seakan siap melontarkan serangan atau menangkap tubuhnya. "Disana kau bisa membuat sarang dan melanjutkan kembali keturunanmu. Dan jika kau berkenan, kau bisa berdampingan dengan pejuang-pejuang paling tangguh." Ia menjilat bibir. Merasakan dingin menyentuh tengkuknya, membuka pori-porinya. Ia berharap sumpah sihirnya mampu memberinya peluang. Karena sumpah dengan bahasa tua, apalagi yang diucapkan atas darah seorang mage, akan membawa kematian jika dilanggar.
Naga itu tampak sedikit terkejut mendengar sumpahnya. "Kenapa aku tidak boleh memilih disini?"
Stiles menahan napas, "Karena, di tempat ini kau akan diburu, dibunuh dan disakiti. Kau sudah melihatnya," jawabnya sambil mengerling ke arah Avengers.
"Mereka tidak bisa menyentuhku," ia menyeringai menujukkan taring-taring tajamnya. Iron Man mengarahkan senjatanya, Hawkeye menfokuskan anak panahnya, sementara Kapten Amerika dan Black Widow berdiri defensif.
Tapi perhatian Stiles sepenuhnya pada naga itu. Bahkan ia tak menyadari peluh yang menetes di dahinya. "Memang benar. Tapi, mereka tidak akan berhenti dan semua itu hanya akan menimbulkan kekacauan. Sedangkan, jika kau menerima tawaranku, kau bisa pergi ke Asgraf, ke tanah para dewa."
"Sekuat apa penyihir muda sepertimu membuka jalan menuju tanah dewa?"
"Penyihir muda yang berteman dengan dewa?" ia melirik Thor dan Naga itu mengikuti pandangannya. Naga itu mengamatinya sesaat, mata hijaunya terfokus padanya dan apapun yang sudah dilihatnya telah meyakinkannya. Ia mengangguk, "Aku menerima tawaranmu, Mage muda, karena keberanianmu dan ikhtikat baikmu membawa kedamaian."
Stiles tak bisa menahan senyum lebarnya. Ia mengangguk ke arah Thor yang mulai mengayunkan palunya untuk membuka portal. Ia bisa merasakan energi listrik dari sihir yang dipanggil dan darahnya ikut bernyanyi. Lalu, langit membelah, menghantarkan cahaya biru sebagai jembatannya. Thor mengiring sang naga masuk ke jembatan itu, "Aku akan memperlakukannya dengan sopan, teman kecil. Aku tak kan menghianati kepercayaan orang-orang Midgard."
Stiles mengangguk, dan mereka lenyap dalam cahaya biru.
Ia tidak sadar tubuhnya terhuyung sampai lengan-lengan kekar menyangganya. Hawkeye melingkarkan lengannya protektif di pinggangnya dan diam disana. "Uh... terima kasih?"
"Well, SHIELD yang harusnya berterima kasih padamu, Stiles. Siapa sangka Spesialis bagian riset punya bakat terpendam bernegosiasi dengan naga. Bahasamu Itu tidak ada dalam daftar, bahkan tidak dalam daftar bahasa yang sudah hilang." Tentu saja Tony punya waktu mencari hal itu.
Ia tidak bisa menahan memutar bola matanya, "Itu bahasa kuno, Tony. Dan berhentilah bersikap menyebalkan," Stiles mencebik.
Kapten Amerika menaikkan alis. Black Widow tersenyum, "Dia cute."
"Dia adorable," sahut Tony sambil mengangguk, membuat Stiles merona.
"Kurasa kita menemukan sainganmu, Stark." suara geli Hawkeye membuatnya berjengit kaget sambil mengeluarkan suara aneh, baru tersadar jika ia masih berada dalam lengan Hawkeye. Pria itu malah memutarnya hingga ia menempel sempurna di tubuh berotot itu. Bukannya ia memperhatikan atau membayangkan menyentuh otot-otot itu. Dan jika ia sedikit bersandar pada pemanah itu, tidak ada orang yang tahu.
Black Widow angkat bicara, "Apa kau mau memperkenalkan temanmu pada kami, Stark?"
Tony Stark memutar bola matanya, "Avengers, perkenalkan Agen Genim Stilinski yang lebih suka dipanggil Stiles."
"Spesialis!" semua orang memandangnya, "Uh... bukan agen, hanya spesialis."
"Well, 'hanya spesialis' yang bisa bernegosiasi dengan naga dan mengucapkan bahasa yang SHIELD saja belum tahu."
"Kubilang itu bahasa tua—"
"Yang pada intinya belum pernah ada orang yang menemukannya, apalagi mempelajarinya. Tapi kau bisa. "
Stiles membuka dan menutup mulutnya. Tony menaikkan sebelah alisnya. "Kepala bagian Divisi Riset Pusat. Ketua tim pembentukan protol berhubungan dengan makhluk non manusia, mutan atau suprnatural. Anak muda sangat pintar, kedua setelah aku tentu saja, karena ia rupanya lupa mencantumkan Naga dalam protokolnya."
Stiles memutar bola mata, "Siapa yang kira Naga masih hidup."
"Siapa yang kira naga benar-benar ada!" seru Steve tidak percaya. Jika aku tidak melawannya sendiri, aku pasti mengira itu salah satu robot buatan Stark yang lepas kendali."
"Sayangnya mereka memang nyata," Coulson berkata. "Kerja yang bagus, Agent," ia menyapa Stiles sambil mengangguk.
"Uh, secara teknis aku bukan agen, terlebih hari ini aku sedang cuti," katanya sambil mengibaskan tangannya ke seluruh badan. "Jadi, kuharap aku bisa segera kembali pada ayahku karena terakhir kali, ia melihatku menerjang reruntuhan dan aku tidak suka membuatnya cemas."
"Aku akan mengantarnya," sahut Tony sebelum Coulson bisa bicara. "Kau tidak bisa mengantarnya dengan jet, kan? Aku bisa menyuruh JARVIS mengirimkan mobil," ia berbalik, "Nah, Avengers! Siapa yang butuh tumpangan?"
Stiles, Barton dan Natasha berakhir di mobil Tony. Steve bersama ikut Phil karena sudah tugasnya untuk melapor ke Helicarrier. Entah bagaimana Stiles sampai pada fase saling memanggil nama asli dengan Avengers. Tapi lepas dari medan perang mereka memang tampak seperti orang normal. Walau pada dasarnya, sekalipun mereka melepas seragamnya, atau untuk Barton dan Natasha menyimpan senjatanya, Tony masih memiliki jantung yang dipicu oleh Arc Reactor, Barton dan Natasha masih super human, dan Steve masih senjata militer berjalan. Jangan tanya soal Banner dan Thor. Satunya mutan dan satunya lagi jelas bukan manusia.
Stiles bersyukur tidak ada mobil terbalik di jalanan atau reruntuhan yang terlalu besar untuk menghalangi sehingga mobil mereka sampai tak memakan waktu lama. Ia sudah menghubungi ayahnya untuk menemuinya di kafe. Kerusakan tidak begitu besar disana. Ayahnya memicingkan mata saat melihatnya turun dari Rolls-Royce Phantom. "Hai, dad..." katanya sambil melambai singkat. Ia menyerngit saat Natasha turun dan berdiri tak jauh darinya bersama Barton yang bersedekap dengan posisi sempuna ala prajurit. Dan meringis saat Tony Stark keluar dengan gayanya yang songong dan berjalan menuju ayahnya.
"Mr Stilinski," mereka berjabat tangan.
"Ada yang ingin kau ceritakan mengapa kau bersama Tony Stark, nak?"
"Uh... kebetulan?"
Ayahnya menaikkan sebelah alis, "Kebetulan duduk satu mobil dengan Avengers saat ada alien menyerang New York lagi?"
"Naga," koreksi Stiles, lalu meringis, "Uh... kali ini bukan alien, tapi naga?"
"Katakan kau tidak terlibat lagi dengan hal-hal berbahaya, nak."
"Oh, dia sering terlibat hal berbahaya sebelum ini? kenapa aku tidak kaget? Tentu saja karena aku sudah melihat berkas penangkapanmu karena mencuri mobil polisi saat kelas dua SMA, sungguh punya nyali." seru Tony seakan menemukan kado natal. "Kuharap kau mau menceritakan petualanganmu padaku, Stiles. Aku merasa itu hanya puncak gunung es."
Ayahnya menghela napas, "Kuharap dia tidak merepotkanmu, mr Stark."
Tony mengibaskan tangan. "Tidak lebih dari kami merepotkannya. Dia pemuda berbakat dan aku tidak menyesal bisa menawarinya kerja di Stark industri, sebagai asisten pribadiku tentu saja. Proyek besar menanti kami." Ayahnya menaikkan alis.
"Stark," Stiles memberi nada peringatan. "Dad... kau baik-baik saja?"
"Lebih baik dari pada saat melihat anakku menerjang reruntuhan. Kukira dengan pergi ke New York kebiasaanmu sudah hilang, Stiles. Tapi lihat yang kudapat, kau menangkap masalah yang jauh lebih besar dibandingkan di Beacon Hill. Avengers, Stiles?"
"Uh... aku kira mereka relatif aman, mereka superhero dan tidak punya kebiasaan mendorongku ke tembok atau mengancam merobek leherku dengan taring," sahut Stiles panik.
Dari sudut mata, Barton tampak tegang.
"Kau di-bully?" sahut Natasha sambil mengerutkan dahi.
"Taring?" Tony berseru tertarik.
Stiles tertawa garing, "Oh, hanya masalah lama. Sama sekali tidak besar."
"Tidak besar seperti kau berkali-kali sekarat untuk menyelamatkan teman-temanmu?"
"Dad..."
Ayahnya menghela napas, "Apapun yang kau lakukan di tempat ini. Berjanjilah untuk berhati-hati."
"Dad, aku bersumpah tidak berurusan dengan bahaya," tumpukan kertas dan dokumen tidak bisa memakanmu hidup-hidup, kan?
"Berjanji saja, son."
"Aku berjanji, dad," mereka berpelukan.
"Well, aku perlu mengejar pesawat sebelum terlambat,"
"Aku akan memanggilkanmu taksi," sahut Natasha.
Di depan taksi, ayahnya tersenyum sambil menepuk bahunya, lalu pada Avengers parasnya berubah serius, "Kalian. Berjanjilah untuk melindunginya. Hanya Stiles satu-satunya yang kumiliki."
"Aku berjanji, sir," sahut Barton yang diiringi anggukan lainnya. Stiles hanya menga-nga, tak paham apa yang baru terjadi. Avengers berjanji pada ayahnya untuk melindunginya? Ia tidak tahu ini keberuntungan atau mimpi buruk, karena satu Avengers berarti kekacauan, lebih dari dua? Stiles tidak bisa membayangkan huru hara apa yang akan terjadi.
Tony menepuk tangan, "Well, cukup sudah drama ayah dan anaknya! Siapa yang lapar?"
