BURN

PURE BLOOD OF NEMESIS

Pair HunKai, Sehun (seme) X Kai (uke)

Cast EXO Member and others

Warning: BL, Typo

Previous

"Baik Tuan." Kevin memilih berbicara sopan setelah merasakan amarah Sehun.

Sehun lantas turun dari mobil membuka pintu penumpang belakang. Kai mendongak menatap Sehun dengan bingung. "Kau semakin kurang ajar Kai. Harusnya kau menghormati ayahmu dan anggota keluarga yang lain termasuk Gikwang dan Yeri."

"Mereka bukan keluargaku!" Kai bersikeras.

Sehun tersenyum sinis. "Kau ingin tahu kehidupan sebelum perdamaian? Baiklah, kuharap setelah ini kau bisa berpikir lebih dewasa."

"Jangan bercanda denganku."

"Aku tidak sedang bercanda." Sehun menggeram pelan tangan kirinya bergerak cepat, menarik lengan kanan Kai menariknya keluar dari mobil.

"Apa yang kau lakukan?! lepaskan!" Kai berusaha memberontak namun tentu saja Sehun beratus kali lebih kuat darinya. "Ayah!" Kai menoleh ke belakang, menatap sang ayah, namun ayahnya mengabaikan. "Brengsek lepaskan!"

"Kau harus diberi pelajaran." Sehun membalas dengan suara rendah.

BAB TIGA

Sehun membawa pergi Kai paksa, dengan menyeret anak itu menuju mansionnya. Berulang kali Kai berteriak meminta pertolongan namun semua orang dan vampire yang dia temui seolah menulikan telinga mereka. "Apa yang kau lakukan?!" Kai berteriak sekali lagi, Sehun tetap menyeretnya pergi. Mendorong Kai memasuki mansion.

Sehun membawa Kai ke ruang makan dengan meja panjang dan puluhan kursi berjajar di sisi kanan dan sisi kiri meja. Perapian menyala redup. Sehun mengambil sebilah pisau dari mangkuk buah.

Kai melangkah mundur, aura Sehun terasa menekan dan menyesakkan dadanya. Vampire setelah meminum darah tidak terkalahkan, namun darah murni lebih mengerikan ketika mereka terbakar amarah. "A—apa yang akan kau lakukan?" Kai tidak peduli jika suaranya terdengar menyedihkan sekarang.

Dia hanya ingin meloloskan diri dari amarah Sehun. Dia tidak ingin mati. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan. Sehun terus melangkah mendekat dengan pisau terhunus, Kai melangkah mundur. "Berhenti!" ucapnya. "Aku bilang berhenti!" Kai berteriak, mengeluarkan taringnya dan membiarkan matanya berubah warna.

Kai sadar apa yang dia lakukan sekarang justru terlihat konyol, dia hanya menggertak, seperti seekor kucing yang dihadapkan pada seekor Singa. Siapa pemenangnya sudah bisa ditebak tanpa susah payah.

"Aku tahu, ada banyak pertanyaan di dalam kepalamu. Tentang Nemesis, tentang perdamaian, tentang peperangan, darah campuran, darah murni, manusia, dan semua pertanyaan lain yang sangat mengganggu ketika aku memasuki pikiranmu."

"Se—Sehun." Kai memanggil nama Sehun putus asa. Punggungnya menabrak teralis besi jendela. Kedua tangannya menggapai-gapai mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membela diri. "Hentikan sekarang juga."

"Dan semua pertanyaan itu membuatmu berubah menyebalkan, aku mengasihani ayahmu. Dia benar-benar sabar menghadapi bocah brengsek sepertimu." Kedua mata Sehun berwarna merah menyala, dia terus melangkah maju. "Sekarang, aku memberimu kesempatan untuk mendapat jawaban dari semua pertanyaanmu."

Sehun bergerak cepat, menyayat pergelangan tangan kirinya, membiarkan darah segar mengalir keluar kemudian melesat ke hadapan Kai dan memaksa Kai mencicipi darahnya. Kai tidak memiliki pilihan lain, kecuali menelan aliran darah kental dari pergelangan tangan Sehun.

Ketika cairan merah itu menyentuh lidahnya, semua benar-benar berbeda dari darah manusia yang dia konsumsi. Darah Sehun, darah vampire murni membuatnya pening. Membuat tubuhnya seolah remuk. Tubuhnya tidak menginginkan darah itu memasuki pembuluh. Kai berusaha mendorong Sehun namun Sehun tak bergeming.

Lalu, semua ingatan Sehun terpampang jelas, seperti sebuah film yang diputar untuknya. Ingatan tentang Luhan, kematian Luhan, desa-desa miskin dengan penduduk kelaparan, tindakan semena-mena para vampire, penyiksaan, kerja paksa, perbudakan, pemerkosaan, pembantaian. Semua hal buruk yang membuat perut Kai melilit mual. Kyungsoo, Minho, Taemin, serigala-serigala besar, hutan.

Dan dia disana. Nemesis. Kai melihatnya begitu jelas berdiri di padang lavender, menoleh, menatapnya, tersenyum. Lalu seorang vampire menerjangnya dengan cepat. Vampire itu pergi, lenyap. Kai berlari sekuat tenaga berusaha menggapai sang Nemesis tapi dia berubah menjadi asap. Padang lavender berubah menjadi medan perang dengan tubuh-tubuh bergelimpangan dan aroma amis darah menggantung di udara.

Kai menjatuhkan tubuhnya, terduduk di antara tubuh-tubuh tak bernyawa. "Ah!" dia berteriak ketika seseorang menyentak bahu kanannya kasar. Nemesis kembali, Jongin kembali. "Jongin?" Kai bertanya namun Jongin hanya tersenyum. "Kau Nemesis?"

Jongin menggeleng pelan. "Kau." Jawabnya singkat.

"Apa?!" Kai berteriak karena bingung.

"Kau Nemesis. Perhatikan punggungmu."

"Jongin? Jangan pergi!" Kai bangkit dari tanah dengan cepat kemudian berlari tergesa menyusul Jongin yang mulai melangkah pergi. Jongin terlihat berjalan normal namun entah mengapa Kai merasa kuwalahan mengejarnya. "Jangan pergi! kau harus menjelaskan semuanya padaku! Jangan membuatku bingung!"

Jongin lenyap, langkah kaki Kai terhenti. Ladang peperangan dan mayat-mayat mulai menghilang. Dia kembali ke tempat semula, dengan darah Sehun yang terpaksa harus ditelannya, dan punggung menabrak teralis besi jendela. Tubuhnya terasa terbakar, Kai menyentak tangan Sehun mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga.

BRAK!

Tubuh Sehun terpental menabrak deretan kursi makan di sisi kanan meja. Dia cukup terkejut dengan kekuatan Kai. Sehun melihat Kai terjatuh ke atas lantai membungkuk dan memuntahkan semua darah miliknya yang dia telan. Sehun mengernyit, seharusnya darah campuran bisa mengkonsumsi darah yang diberikan seorang darah murni. Reaksi penolakan hanya akan terjadi jika seorang darah murni meminum darah murni yang lain.

"Ahhh!" Kai berteriak kesakitan. Perutnya nyeri, tenggorokannya panas terbakar, dan dadanya terhimpit. Kedua tangannya mencengkeram karpet tebal pelapis lantai erat. Rasa sakitnya tak tertahankan.

Sehun bangkit dan melesat menghampiri tubuh Kai. "Kai?!" Sehun tidak bisa menutupi kepanikannya.

"Jangan menyentuhku!" tolak Kai. "Kau ingin membunuhku!"

"Tidak!" teriak Sehun. "Aku tidak berniat menyakitimu, maafkan aku." Sesal Sehun, ia duduk di hadapan Kai kemudian memeluknya erat.

Memejamkan kedua matanya erat, Kai tidak memiliki tenaga lagi untuk menolak Sehun. "Aku—aku selalu merasa ada sesuatu yang mengawasiku. Dan aku merasa terancam." Bisik Kai sebelum dia jatuh pingsan.

"Maafkan aku." Bisik Sehun.

.

.

.

Ketika Kai membuka kedua matanya kembali, dia mendapati dirinya berada di kamarnya sendiri. Di rumah sederhana milik keluarganya. Kepalanya terasa berat. Ia belum pernah merasakan sakit sehebat ini, bahkan ketika terjatuh lukanya akan sembuh dengan cepat sebelum dia sempat merasakan sakit.

Mendesis pelan menahan rasa nyeri yang menyerang ketika dia mencoba bergerak, Kai memaksa dirinya untuk turun dari ranjang tempat tidur. Ia melihat pakaiannya telah berganti, dia langsung meraih jam di atas nakas. Melihat angka kalender di bawah jam, Kai benar-benar tidak percaya.

"Dua hari," gumamnya. "Aku pingsan selama dua hari. Memalukan sekali." Keluhnya sambil mengembalikan jam di tangannya ke atas nakas.

Dengan langkah gontai Kai berjalan menghampiri pintu kamar. dia berhenti ketika mendengar suara Sehun dan ayahnya mengobrol.

"Maafkan aku, aku hanya berusaha menunjukkan pada Kai bahwa apa yang dia anggap benar adalah salah. Dia harus merubah sikapnya, dia bukan anak kecil lagi."

"Tidak apa-apa Sehun. Kau bermaksud baik."

"Aku membuat Kai sakit."

"Seharusnya Kai baik-baik saja ketika meminum darahmu. Dia bukan darah murni." Ucap Junyong.

Kai menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, bersandar pada kaki ranjang tempat tidur. Menekuk kedua lututnya. Setelah bertemu dengan Jongin di dalam mimpi atau dimana tempat itu seharusnya disebut. Kai merasa ketakutannya semakin nyata.

Semua mimpi itu. Jika dirinya seorang Nemesis, entah berapa banyak yang menginginkan pertolongannya atau kelenyapannya. Kai tidak sanggup menerima tanggung jawab sebesar itu. "Kai?!" Junyoung berlari menghampiri putranya kemudian memeluknya erat. "Kau merasa sakit lagi?!"

"Ayah apa aku Nemesis? Apa aku akan mati? Apa aku akan dibunuh seseorang?" Kai meracau sambil memeluk erat sang ayah.

"Kau akan baik-baik saja. Ayah berjanji padamu, semuanya akan baik-baik saja."

"Sehun." Kai menyebut nama Sehun ketika vampire itu terlihat ingin melangkah pergi.

"Kau ingin berbicara dengan Sehun?" Junyoung merasakan putranya mengangguk dalam dekapannya. "Hanya berdua?"

"Ya." Kai menjawab lemah.

"Baiklah." Junyoung melepaskan pelukannya, kemudian berdiri dan mengajak yang lain untuk pergi. meninggalkan Sehun dan Kai berdua.

Sehun masih berdiri di dekat pintu tanpa niatan untuk melangkah memasuki kamar Kai. Sementara Kai terlalu nyaman dengan posisinya bersandar pada kaki ranjang. "Maafkan aku, membuatmu jatuh sakit."

"Aku memang pantas diberi pelajaran." Kai menatap kedua mata Sehun lekat. "Aku—bertemu dengan Jongin. Entahlah, aku mungkin bermimpi tapi aku bertemu dengannya dan kami berbincang sedikit."

"Tentang?"

"Dia menunjuk padaku dan mengatakan jika aku Nemesis, lalu memintaku untuk mengawasi punggungku."

"Kalian—membicarakan hal yang lain?"

Kai menggeleng pelan. "Kihyun."

"Kihyun?"

"Saat aku dalam perjalanan menuju rumah Taeyong, aku bertemu seorang vampire. Aku yakin dia darah murni dan entah bagaimana aku bisa mengetahui namanya. Seolah dia mengatakannya dengan sangat jelas, aku yakin aku bukan darah murni dan aku tidak memiliki kemampuan membaca pikiran."

Sehun pada akhirnya mengambil langkah-langkah pelan mendekati Kai. Lalu duduk di hadapannya. "Jongin."

"Aku bukan Jongin. Jangan mengulanginya lagi." Peringat Kai. "Dulu kau sempat melihat Jongin sama seperti Luhan, jadi jangan samakan aku dengan Jongin. Kami berbeda."

"Maaf." Sehun menggumam pelan.

"Apa yang akan terjadi padaku? Pada keluargaku? Aku selalu dihantui firasat buruk, sesuatu akan terjadi."

Kedua tangan Sehun bergerak pelan menangkup wajah Kai membuat Kai tersentak. "Tidak akan terjadi apa-apa, semua akan baik-baik saja. Aku berjanji padamu." Sehun berucap pelan kemudian memeluk Kai erat.

Kai memejamkan kedua matanya, membalas pelukan Sehun. Mereka tidak pernah berpelukan sebelumnya. Interaksi yang terjadi di antara dirinya dan Sehun hanya sebatas obrolan dan mungkin sedikit nasehat dari Sehun yang akan selalu dia abaikan. Namun, ia merasa Sehun begitu dekat dengannya dan berada di dalam pelukan Sehun terasa tepat.

"Kali ini, kau tidak akan pergi lagi dariku." Kai mengangguk pelan mendengar ucapan Sehun.

Selanjutnya, Sehun membantu Kai berdiri dan menaiki ranjang tempat tidurnya. Menaikkan selimut Kai sebatas dada, mengusap pelan puncak kepala Kai sebelum pergi meninggalkan kamar.

Sehun berdiri bersama Gikwang, Yeri, Taemin, dan Minho di dekat pintu kamar. Jongin dan Kai mereka berbeda. Kai tidak terlahir di masa-masa sulit, dia tidak dipaksa untuk menjadi kuat dan melawan. Kai terlahir di masa damai, ketika semua orang terlena, jika peperangan atau pertikaian terjadi, Sehun Kai tidak akan selamat.

Sehun melangkah mundur setelah menggumamkan permintaan maafnya. Kevin menunggu di luar duduk di atas kap mobil sambil memainkan ponselnya dan sesekali tertawa. "Kevin."

"Ah!" Kevin tersentak. "Aku sedang…," Kevin mencoba mencari alasannya memainkan ponsel.

"Kau mengenal Kihyun?"

Alis Kevin bertaut. "Aku hanya mengenal seorang bernama Kihyun. Kau bermasalah dengannya?"

"Kurasa Kihyun penasaran dengan Kai."

Kening Kevin berkerut kemudian dia mengisyaratkan kepada Sehun untuk bergegas menaiki mobil, dia tahu, mereka harus berbicara di tempat yang aman. "Aku sudah mengirim pesan untuk menjaga rumah keluarga Kai seperti yang kau minta, dan memperpanjang jam patroli."

"Terimakasih Kevin."

"Aku tidak menyangka hanya dalam waktu singkat, keributan akan muncul kembali." Kevin mengeluh disela kesibukannya mengemudikan mobil. "Jika Kihyun yang kau maksud sama dengan Kihyun yang aku kenal, Aku memiliki daftar nama siapa yang mungkin berada di balik Kihyun. Tapi, kita harus melakukannya secara tenang dan tersembunyi. Jangan memancing keributan."

"Aku tahu Kevin."

"Maafkan Saya tanpa mengurangi rasa hormat saya Tuan Oh." Kevin cepat-cepat meminta maaf cemas dengan kelancangannya.

"Astaga Kevin." Balas Sehun kemudian tersenyum tipis. "Kau jangan berubah canggung di hadapanku."

Kevin membalas senyum Sehun. "Memperketat penjagaan dan mengawasi Kai selama dua puluh empat jam, kurasa itu cara paling efektif untuk menjaga keselamatannya sebelum kita tahu pasti siapa yang memburunya."

"Kai akan merasa terganggu."

"Dia tidak memiliki pilihan. Kau tidak memiliki pilihan. Kihyun dia—dia menjadi yang terbaik dalam pasukan elit kerajaan. Dia ahli senjata, ahli strategi perang, dia cerdas, dan berdarah murni. Mesin pembunuh."

"Dia sama sepertimu."

"Ya, dia sama sepertiku. Tapi aku tidak yakin apa masih memiliki ketajaman yang sama sekarang."

"Kau ingin mengujinya?"

"Dengan siapa?"

"Denganku."

"Tidak Tuan!" Kevin menolak cepat. "Saya akan berlaku sangat tidak sopan jika melakukan latihan bersama Anda."

"Jika aku yang memintanya?"

Kevin tidak langsung menjawab, ia memikirkan setiap jawaban dengan cermat. "Saya tidak bisa menolak perintah seorang penguasa, tapi untuk bisa mengeluarkan kekuatan maksimal saya harus meminum darah dan melepaskan semua kesadaran dan menyerah pada insting bertahan hidup."

"Kau merasa keberatan untuk melakukannya?"

"Sejujurnya iya, karena tidak ada hal baik yang terjadi setelah menyerah pada insting bertahan hidup."

"Aku tidak memaksamu dalam waktu dekat Kevin. Aku hanya ingin tahu apa kau masih memiliki ketajaman yang sama."

"Tentu Tuan."

"Dan bisakah kau mencari sisa prajurit dalam pasukan elit kerajaan sambil mencari tahu siapa mereka, yang berada di balik punggung Kihyun?"

"Saya akan melaksanakan perintah Anda dengan baik Tuan."

"Perintah pertamamu, yang hanya diketahui oleh kau dan aku. Kumpulkan sisa prajurit elit kerajaan." Kevin mengangguk pelan. "Kuharap tidak semua dari sisa prajurit elit kerajaan berada di balik punggung Kihyun."

"Iya Tuan."

"Kevin aku ingin kau..," Sehun menghentikan kalimatnya. "Tidak, kurasa aku bisa mengatasi yang satu ini." Kevin hanya mengangguk pelan, dia tidak berhak mempertanyakan keputusan Sehun meski dirinya adalah pengawal pribadi Sehun.

TBC

Terimakasih review kalian doubleuu, Jinchanjimin1, kim, wxyehet, Ndiwhy, cute, VampireDPS, alv, kthk2, Hana, Fairy floss, Guest, Sonyun, chogiwillis, Park RinHyun Uchiha, jeyjong88, Kim Jongin Kai, novisaputri09, elidamia98, Albus Convallaria majalis, jongiebottom, GaemGyu92, Kim762, k1mut. See you next chap.