Author's Note : Yey, update lagi. Haha … oh, ya, sebagian besar yang mereview kemarin banyak yang ketawa pas bagian cita-cita Papa Zola, ya? Jujur saja, sebenarnya aku malah kurang yakin untuk menulis bagian itu tapi syukurlah banyak yang suka. Dan sebenarnya bukan hanya kalian, saya sendiri pun, selaku penulisnya, juga merasa merinding waktu nulis bagaimana Fang memanggil BoBoiBoy dengan sebutan Cinderellaku. Rasanya, WTH, what came over me?! I'm not a fujoshi yet I wrote it?! Tapi, sudahlah. Yang terjadi biarlah terjadi dan M4dG4rl memutuskan untuk tidak mengulanginya lagi.
.
.
.
Princess Boy
Chapter 3 : Don't You Remember These?
Disclaimer : BoBoiBoy belongs to monsta
Warning : some typos (as usual), eyd (agak) kacau, and a bit ooc
Don't like, don't read
.
.
.
Setelah insiden pemukulan itu, Fang kembali dibaringkan diatas kasur UKS, dibantu dengan Papa Zola dan BoBoiBoy sementara Gopal berdiri dipojokan sendirian dalam keadaan menyedihkan dengan dua buah benjolan merah di kepala hasil karya Yaya dan Ying. Luka di kepala korban kembali terbuka sehingga Yaya terpaksa membongkar kembali balutan perbannya dan memasangkan kembali yang baru.
Beberapa murid yang masih menunggu diluar bersikeras tidak mau pulang walaupun dipaksa oleh para guru yang lain. Atas desakan dari Yaya, BoBoiBoy dengan sengaja membuat tanah disekitar sekolah bergetar dan meneriakkan gempa bumi, yang mana berhasil membuat semua temannya mengambil langkah seribu pulang ke rumah masing-masing.
"Kalau begini, kita benar-benar harus membawa Fang ke dokter, Cikgu." Kata Boboiboy setelah membuat tanah berhenti bergetar.
Si guru matematika mengusap dagunya. "Hm, oke lah. Biar nanti cikgu yang beritahu orangtuanya Fang."
"Eh, tapi cikgu …"
"Apanya yang 'tapi'?"
"Ehm, sebenarnya … " BoBoiBoy tampak ragu. "Sebenarnya kami tidak tahu siapa orangtuanya Fang."
"Apa?!" guru itu berseru keras, menciptakan percikan hujan local ke wajah muridnya. BoBoiBoy mengernyit. "Teman macam apa kamu ini?! Orangtua kawan sendiri pun tidak tahu."
"Tapi, memang Fang nya sendiri yang tidak pernah cerita." Ying memberi pembelaan.
"Ho'oh. Fang juga tidak pernah menunjukkan dimana rumah sebenarnya." Tambah Yaya. Meskipun BoBoiBoy pernah cerita bahwa Fang adalah penunggu mansion tua dekat sekolah, tidak ada satupun dari mereka yang yakin bahwa Fang tinggal disana.
Papa Zola menggeleng seperti mengasihani mereka. "Ck,ck,ck, itulah anak jaman sekarang ini kalau berkawan pasti cuma karena ada maunya."
"Alaah … cikgu sendiri tidak tahu kan siapa orangtua Fang." Gopal mencibir, belum bergerak dari posisinya di pojokan.
"Ah … ya … itu kan … " si guru tertawa sebentar. "Uhm … cikgu kan Cuma guru matematika dan penjas. Nah, kalau yang punya catatan biodata siswa, itu dipegang oleh kepala sekolah kamu."
"Bilang saja lah kalau tidak tahu."
"Oh, ehm, Ah, sudahlah!" Papa Zola kembali bersikap beribawa. "Pokoknya, kalian harus membawa Fang pulang dulu. Biar besok kalian pikirkan lagi bagaimana cara memulihkan ingatan Fang."
BoBoiBoy mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan. "Tapi …"
"Apa lagi yang 'tapi-tapi' an. Kau tidak dengar apa yang cikgu bilang tadi?"
"Bukan begitu, cikgu. Masalahnya, kami harus membawa Fang kemana? Rumahnya saja kami tidak tahu."
Papa Zola membungkuk, mendekatkan wajahnya pada si pengendali elemen hingga beberapa centi. "Kamu lihat muka saya ini?"
"Ho'oh."
"Apa muka saya ini nampak peduli?"
BoBoiBoy mengangkat sebelah alis sebelum akhirnya si guru melanjutkan dengan sebuah teriakan panjang.
"Cari sendiri rumah nya sampai dapaaaaat! Cepat, cepat. Cari sekarang."
~Princess Boy~
Dengan meminjam handphone Papa Zola, BoBoiBoy menelpon Tok Aba yang kebetulan tidak ikut menonton drama. Anak itu menjelaskan kepada kakeknya apa yang telah terjadi dan sekarang meminta untuk dijemput di sekolah dengan menggunakan mobil. Ia sudah memutuskan untuk membawa Fang ke rumahnya hanya untuk sementara waktu sampai ingatannya pulih kembali. Walaupun sebenarnya Gopal, sebagai orang yang dianggap ayah oleh Fang, tidak keberatan dengan adanya penumpang di rumahnya, tapi BoBoiBoy merasa dialah yang harus bertanggung jawab.
Ochobot menyambut mereka di rumah. Karena tidak ada kamar lebih, BoBoiBoy merelakan dirinya untuk berbagi kamar, sekali lagi, demi tanggung jawabnya.
"Jadi … " Tok Aba memulai percakapan setelah ketika si bola kuasa sedang melakukan scanning terhadap tubuh Fang. "Apa rencana kau sekarang?"
"Ya begitulah, Tok. BoBoiBoy terpaksa harus merawat Fang disini sampai dia sembuh." Bocah itu sedikit cemberut. "Ini gara-gara Adu Du. Tidak ada habis-habisnya alien itu ganggu BoBoiBoy terus."
"Jangan pasang muka sebal." Si kakek menasehati. "Ini kan juga salah kau. Sudah, sekarang kau ganti baju sana."
Si cucu menurut. Ia bangkit dan membuka lemari pakaian, mencari piyama yang biasa ia gunakan untuk tidur. "Bagaimana hasilnya, Ochobot?" Tanya nya sembari menarik sebuah kaos merah dari lemari.
Si robot kuning menyelesaikan pengamatannya. "Hmph, seperti yang aku duga. Ada yang tidak normal dengan otaknya."
"Kau tahu cara menyembuhkan hilang ingatan?"
"Mana kutahu, aku kan bukan dokter. Eh, tapi …" si robot tampak berpkir. "Kalau tidak salah, dulu kau kan juga pernah hilang ingatan."
"Uhm, iya." BoBoiBoy mengingat dirinya yang lain pada waktu menyerang teman-temannya dalam wujud Halilintar. "Terus?"
"Ingatan kau kembali waktu Probe bilang 'terbaik', kan?" si bocah bertopi mengangguk. "Nah, aku rasa kita bisa mengembalikan ingatan Fang dengan menunjukkan semua kenangan di masa lalunya."
Wajah BoBoiBoy menjadi cerah, mengerti dengan ucapan si bola kuasa. "Oh, aku paham. Biar besok aku bawa donat lobak merah kesukaan Fang."
"Jangan cuma makanan," Tok Aba menambahkan. "Kau ajak dia pergi ke tempat yang banyak kenangan dengan kalian. Biar ingatannya cepat pulih."
"Hm, iyalah, Tok. Nanti kami sama-sama bantu pulihkan ingatannya Fang."
Dan Fang harus sembuh, BoBoiBoy membatin. Harus. Ia tidak mau terus-terusan dianggap Cinderella oleh anak yang sudah jelas merupakan rivalnya sendiri.
~Princess Boy~
Untuk kedua kalinya sejak insiden kebakaran itu, Fang membuka kedua irisnya dan menemukan dirinya sudah berada di tempat lain
'Dimana lagi sekarang?' pikirnya. Tadi malam di kamar perawatan. Sebelumnya di ballroom istana. Dan sekarang … di sebuah ruangan yang menurutnya asing.
Pintu kamar terbuka. Ochobot masuk kedalam dengan membawa senampan sarapan di tangan robotnya. "Oh, Fang. Kau sudah bangun."
"Ah! Apa itu!" bocah berambut ungu itu reflex melempar sebuah bantal kearah si robot. Untungnya si bola kuasa langsung sigap menghindar sehingga tidak menjatuhkan makanan yang sedang ia bawa. "Makh … makhluk apa kau?" telunjuk kanannya mengarah si robot. "Seorang peri?"
"Uhm, aku robot, bukan peri." Jelas Ochobot.
Fang mengerutkan kening. "Robot? Makhluk jenis apa itu?"
Ochobot meletakkan sarapan diatas meja dekat kasur. "Robot itu benda yang diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia."
"Oh, syukurlah." Fang menghela napas lega. "Jadi kau seorang pelayan disini?"
"Bisa dibilang begitu." Bola kuasa itu menunduk sedih. Ia memang pelayan di kedai Tok Aba.
"Bisa kau beritahu dimana aku sekarang?"
"Kau di kamar BoBoiBoy. Semalam dia yang bawa kau kesini."
"BoBoiBoy?"
"Eh, uh, maksudku Cinderella." Koreksi Ochobot.
Setelah mendengar penjelasan dari BoBoiBoy semalam, robot itu merasa tidak ada gunanya bersikeras memberitahu Fang tentang identitas dirinya yang asli karena bagaimanapun, anak itu pasti akan menolak untuk percaya atau malah akan mengamuk. Karena itulah, suka atau tidak, untuk sementara mereka terpaksa harus membiarkan Fang menganggap semua temannya sebagai tokoh-tokoh fantasi Cinderella demi menimbulkan rasa kepercayaan Fang pada mereka.
Dengan singkat, robot itu menceritakan karangan yang ia buat semalam bersama BoBoiBoy, bahwa ia sedang mengalami hilang ingatan sebagian dan untuk sementara diasingkan dari istana sampai ingatannya kembali. Cerita bohong, tentu saja. Tapi hanya dengan begitu agar Fang tidak merasa bingung.
"Dimana dia sekarang?"
"Cinderella sekarang sedang keluar bersama yang lain." Ochobot merasa sedikit aneh saat mengatakan itu.
"Begitukah?" Fang langsung berdiri. "Kalau begitu aku harus menyusulnya."
"Eh, jangan, jangan," Ochobot mencegahnya. "Cinderella sudah berpesan agar … pangeran tetap berada disini sampai dia kembali dari seko … laah … eh, maksudku, dari rumah temannya."
Fang melipat tangannya di dada, menatap Ochobot dengan curiga. "Benarkah?"
"Uh, iya. Aku kan cuma robot pelayan. Robot tidak bisa berbohong. Hehe …" padahal, jelas sekali dia baru saja berbohong. "Sebaiknya kau tunggu dulu disini. Nanti siang Cinderella dan sang raja akan datang menjemput."
Fang terdiam sesaat, kemudian mengangkat bahu. "Yaah, sepertinya aku harus percaya padamu."
"Ehm, kalau begitu, aku permisi dulu … Yang Mulia." Ochobot menutup pintu.
Haaah, hari masih pagi tapi ia sudah mulai merasa lelah menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
BoBoiBoy, Gopal, Yaya dan Ying langsung menuju rumah Tok Aba sepulang sekolah tanpa mampir dulu ke kedai seperti yang biasa mereka lakukan. Baru saja membuka pintu, seseorang langsung menyergap si bocah bertopi dinasaurus dengan sebuah pelukan.
"Cinderella, oh, syukurlah kau baik-baik saja." Fang mendekapnya erat, kemudian melepaskan dan menatap iris BoBoiBoy dengan penuh perhatian. "Darimana saja kau? Kenapa kau pergi?" matanya bertemu denga Yaya dan Ying. "Apakah Anastasia dan Drizella menyiksamu lagi?"
Jujur saja, BoBoiBoy langsung shock dengan pelukan kejutan tadi. Ia tidak tahu bagaimana cara menggamnarkan perasaannya. Geli? Malu? Merinding?
Gopal tidak bisa menahan tawanya. "Bwahaha … ingatannya sudah semakin parah …" Ying dan Yaya memberikan tatapan bengis pada si anak keturunan india. "Oke, oke, maaf."
BoBoiBoy membalas tatapan Fang sambil merentangkan kedua tangan. "Kau … tidak melihat ada yang beda dariku?"
Fang memerhatikannya dari ujung topi hingga ujung sepatunya. "Huh?"
"Coba lihat lebih teliti lagi."
"Apa ada yang beda denganmu?"
BoBoiBoy menepuk wajahnya dengan menyesal. Dia sudah melepas kostumnya semalam dan sekarang pakaian yang ia kenakan adalah seragam sekolah untuk siswa laki-laki. Orang yang mendapat gelar terbodoh sedunia pasti tidak akan berpikir ia berjenis kelamin perempuan.
Tapi Fang tetap mengira ia anak perempuan. Sebagain kecil dari hatinya, BoBoiBoy ingin menyalahkan takdir karena telah membuatnya terlahir dengan wajah manis. Ia menyesal karena tidak memotong pendek rambutnya seperti Gopal.
Dan ia bingung kenapa suaranya tidak mirip seperti siswa laki-laki lainnya.
BoBoiBoy menarik napas panjang. Bagaimanapun, ia harus bertahan. "Duduklah dulu." Pintanya. "Lihat, aku membawa makanan. Kau pasti suka."
Sementara BoBoiBoy pergi ke dapur untuk mengambil peralatan makanan, Fang memerhatikan ketiga teman lainnya.
"Aku tidak tahu apa yng sudah kalian lakukan pada Cinderella diluar sana tadi." Ucapnya dengan nada mengancam pada Ying dan Yaya. "Tapi aku tidak akan segan menjebloskan kalian berdua ke penjara bawah tanah jika sampai kalian berani menyakitinya lagi."
Kedua gadis itu hanya memutar mata. Terserah mau bilang apa.
"Benar. Biar anakku sendiri yang akan mengadili kalian di pengadilan istana." Gopal ikut bicara. Merasa sedikit senang karena perannya sebagai raja tidak terlalu merepotkan.
BoBoiBoy kembli dengan membawa nampan berisi piring kecil dengan donat lobak merah diatasnya dan secangkir teh. Sebuah garpu dan pisau disusun sedemikian rupa agar menyerupai kesan berkelas.
"Ini," kataya sambil meletakkan di atas meja tamu. "Makanlah, Yang Mulia. Kepalamu mungkin akan cepat sembuh setelah menghabiskannya."
Fang duduk diatas kursi. Semua mata mengawasinya ketika anak itu dengan lihainya mengiris donat menggunakan pisau roti dan memasukkan ke dalam mulutnya menggunakan garpu. Benar-benar cara seorang bangsawan.
"Bagaimana?" Tanya BoBoiBoy. Ayo. Ingatlah …. Ingatlah bagaimana kecintaanmu pada kelezatan donat lobak merah.
"Hmm … " Fang mengunyah donat itu dengan wajah serius, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. "Ini …" ia tersentak. "Rasa ini … rasa ini …" disini, BoBoiBoy menunjukkan sikap tidak sabar. "Bukankah rasa ini … enak sekali …Mmmm …" ia mengiris donatnya lagi dengan semangat. "Kau yang membuatnya, Cinderella?"
BoBoiBoy menggeleng, merasa kecewa dalam hati. Makanan yang pernah membuat Fang memusuhinya pun tidak mampu mengembalikan ingatannya.
"Gopal," bisiknya. "Kau ada ide lain?"
"Hmm … " Gopal mencoa mengingat kenangan apa yang memiliki hubungan masa lalu Fang. "Ha! Aku tahu! Kita—"
"Kau tidak akan memukul kepalanya lagi kan?" potong Yaya.
"Hei! Mana ada. Begini, aku berencana membawa Fang ketempat dimana dia dan BoBoiBoy berseteru untuk pertamakalinya."
"Ke rumah hantu?" Tanya BoBoiBoy.
"Memangnya kemana lagi?"
~Princess Boy~
Sore harinya, BoBoiBoy dan Gopal mengajak Fang jalan-jalan keluar. Fang yang awalnya menolak memutuskan untuk meyetujuinya setelah BoBoiBoy menjelaskan padanya bahwa dokter sendiri yang menyarankan hal ini agar ingatannya cepat pulih.
Gopal menyarankannya untuk mengganti kostum pangerannya dengan pakaian biasa dengan alasan bahwa sebagai pangeran, nyawanya selalu dalam bahaya sehingga penyamaran sangat dibutuhkan dalam hal ini. BoBoiBoy meminjamkan satu setel pakaian yang biasa dia pakai beserta jaketnya.
"Nah, apa kau bisa mengingat sesuatu?" Gopal menguji ingatannya setelah BoBoiBoy mengikat lengan jaket disekitar pinggang Fang. Memang itu bukan jaket berwarna ungu, tapi maknanya tetap sama.
"Maksud Ayah?"
"Ah, sudahlah. Nanti kau juga pasti ingat sendiri."
Berkali-kali mereka menunjukkan Fang beberapa tempat di Pulau Rintis yang biasa dilewati olehnya ; kedai Tok Aba, gang Pak Senin Koboi, Sekolah. Tetap saja hasilnya nihil.
Langkah mereka terhenti saat mencapai sebuah pagar hitam besar yang membatasi sebuah mansion tua dengan gang kecil yang mereka lewati.
"Tempat apa ini?" Fang mengamati rumah itu. Tampak seram, memang.
BoBoiBoy membuka pintu pagar. "Ayo masuk." Ajaknya. Gopal mengikuti dari belakang.
"Ayah. Cinderella. Tunggu. Berbahaya. Mungkin ada banyak penjahat disana."
"Tidak apa. Masuk sajalah." Gopal menarik tangan Fang dan menyeretnya masuk ke halaman rumah tua itu.
Fang meneliti dari balik kacamatanya keadaan gedung tak bertuan itu dengan waspada. Seorang penyihir mungkin tinggal disini.
"Apa yang kau lakukan!" Fang dengan cepat menarik tangan BoBoiBoy dari membuka pintu rumah itu. "Lebih baik kita panggil penjaga untuk mengawal kita."
BoBoiBoy menepuk pundak temannya. "Jangan khawatir. Aku yakin setelah masuk ke rumah ini kau akan segera sembuh."
Segeromboan kelalawar melewati mereka dengan suara berdecit ketika BoBoiBoy mendorong pintu terbuka. Tampaknya sudah lama sekali sejak Fang menggunakan rumah itu sebagai markasnya.
Gopal terbatuk sebentar. Debu-debu di sekitar tembok semakin tebal sejak terakhir kali mereka menginvestigasi rumah itu. "Uhuk … seharusnya tadi aku bawa masker."
Fang menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit-langit rumah dengan mulut sedikit terbuka.
BoBoiBoy yang menyadari perubahan air muka Fang menyikut Gopal. "Lihat tuh."
Perlahan, Fang menggerakkan kakinya dan menelusuri ruang utama. Sesekali tangan kanannya menyapu debu yang hinggap di beberapa perabotan tua. "Aku … rasanya pernah kesini." Ia menoleh kearah dua orang yang ia panggil ayah dan Cinderella. "Bukankah begitu?"
"Kau … kau mengingat sesuatu?" BoBoiBoy tampak senang.
"Entahlah," Fang kembali menelusuri beberapa barang disana. "Cuma rasanya … ini terkesan familiar." Kakinya melangkah naik ke anak tangga. "Yang ini juga." Dan melanjutkan naik ke lantai atas, menyusuri bangsal disana. Matanya bertemu dengan sebuah lubang besar di salah satu sudut tembok. "Ya! Ini juga!" serunya. "Aku tahu lubang ini."
Kelegaan membanjiri BoBoiBoy dan Gopal. Setidaknya, satu pecahan memori Fang mulai kembali.
Fang mendekati lubang itu. Dari sana, ia dapat melihat pemandangan halaman depan mansion itu yang tak jauh berbeda dari yang ia lewati tadi. Sebuah gambaran samar tentang memorinya mulai mengapung. "Dulu aku pernah menyerang beberapa penyusup dan melempar mereka keluar dari sini."
"Coba ingat lagi bagaimana cara kau melempar mereka." BoBoiBoy mendorong ingatannya lebih jauh.
"Entahlah." Bocah berambut ungu itu memegangi kepalanya yang masih diperban. "Kepalaku pusing."
"Ayo, coba ingat lagi. Kau hampir bisa! Lakukan sesuatu dengan bayangan!"
Fang merasakan kepalanya seakan ditusuk ribuan jarum. Semakin mencoba ia mengingat, semakin sakit jarum itu menusuknya. "Tidak bisa."
"Kau pasti bisa!"
"BoBoiBoy. Jangan paksa dia." Bisik Gopal.
BoBoiBoy menyadari Fang yang kini tampak kesakitan dan sekarang merasa kasihan padanya.
"Maafkan aku, Cinderella." Fang meminta maaf. "Aku tidak bisa."
Perasaan keewa sedikit menyelimuti si bocah bertopi. Tapi ia tidak bisa menyalahkan siapapun. "Tidak apa-apa. Aku yakin sebentar lagi kau akan ingat."
Fang tersenyum kecil. Dan secara tiba-tiba ia memeluk bocah pengendali elemen itu sekali lagi. "Aku tahu aku sedang bingung. Tapi … kalau ada kau disini, aku merasa tenang."
.
.
Sebuah pelukan. Lagi.
.
BoBoiBoy tidak dapat membayangkan seberapa besar perasaan malu yang akan Fang rasakan jika ingatannya sudah kembali.
.
.
.
TBC
Author's Note : No, no, no. Walaupun saya memasukkan adegan pelukan, let's say it's a hug of a friend. So, calm down because no yaoi allowed here. It's completely safe and clear ;) #/lalukenapaadaadeganpelukannya?
Eh, nggak ada Adu Du dan Probe, ya? Padahal saya suka dengan duo penjahat itu. Entahlah, kayaknya untuk sementara mereka nggak ada dulu deh.
Mind to review?
