.
Inuzuka Kiba & Yamanaka Ino
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
AU, OOC, abal, gaje, typo(s), de-el-el
.
.
.
One-sided Love(r)
—chapter 3—
.
.
Ino berjalan cepat menuju gedung sekolah tempat kelasnya berada. Di belakangnya, Kiba mengikuti dengan memasukkan tangannya ke dalam saku. Sama sekali tidak memerdulikan orang-orang yang menatap ke arah mereka, Kiba terus saja berteriak, "Yamanaka Ino!"
Sesampainya di kelas, Ino langsung duduk di pojok kelas, dekat jendela, dan Kiba duduk di sebelahnya.
"Kau berangkat lebih siang dari biasanya," kata Kiba sambil menoleh ke arah Ino. "Aku sudah menunggu setengah jam di depan gerbang tadi, dan kau langsung meninggalkanku."
Tidak ada jawaban.
"Kalau hari ini kau tidak mau berkata apapun padaku, berarti sudah seminggu ini kau mendiamkan aku," kata Kiba lagi, kini dengan suara pelan karena guru sudah masuk. "Aku benar-benar minta maaf, oke? Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang, tapi aku selalu teringat pada perkataan terakhirmu. Ayo bicarakan soal ini. Jangan—"
"Tugas yang kemarin harap dikumpulkan sekarang," ujar Kakashi, guru yang mengajar hari ini, dengan nada bosan. "Dan kita bisa melanjutkan pelajaran."
Kiba menghela napas. Dia tahu dia salah, tidak berguna, keterlaluan, dan benar-benar jahat. Tapi dengan diamnya Ino, rasanya tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Kau benar-benar tidak bisa diprediksi, Yamanaka Ino," komentar Kiba pelan.
Ketika dia cuma mengenal Ino sebagai teman Sakura, yang dia pikirkan adalah gadis ini biasa-biasa saja—tidak ada yang unik darinya. Setelah dia tahu Ino suka dengan Sasuke, dan dia mengajaknya kerja sama, dia menganggap Ino orang yang galak dengan segala teriakan-teriakan yang gadis itu lontarkan padanya, dan terlalu naif. Ketika dia pertama kali melihat senyum Ino, dia tahu bahwa sebenarnya Ino adalah orang yang ceria dan bersemangat.
Sekarang, bahkan Kiba lupa seperti apa senyuman Ino.
Tidak terasa—dan Kiba juga sama sekali tidak peduli—bahwa bel istirahat makan siang berbunyi. Semua orang berbondong-bondong ke luar kelas. Ada yang ke kantin, perpustakaan, taman sekolah, atau lapangan bola. Kalau minggu-minggu lalu, biasanya dia dan kedua sahabatnya akan pergi ke taman setelah beli makanan di kantin, lalu duduk-duduk sambil bicara ini-itu.
Sebelum Kiba bergerak dari kursinya, Ino sudah pergi dari kelas. Ketika dia mau menyusul, tiba-tiba Hinata yang duduk dua kursi di depannya berdiri dan menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya ketika Hinata memandangnya dengan tatapan gelisah.
Hinata melirik ke arah Naruto dan Neji yang berada di dekat mereka, dan kedua lelaki itu mengangguk, lalu keluar dari kelas.
"K-Kiba-kun, er… aku tahu kalau kau begitu menyesal dan ingin meminta maaf dengan Ino-chan," ujar Hinata lamat-lamat. "Tapi itu membuatnya tidak nyaman."
Kiba mengernyit.
"Maksudku adalah—begini, bahkan meskipun Ino-chan tidak cerita ke akupun, aku tahu kalau tiap pagi dan pulang sekolah kau selalu ingin bicara dengannya, mengikutinya, dan kalau dia masih tidak menjawab kau akan berteriak-teriak padanya. Semua teriakanmu terdengar oleh semua orang, dan orang-orang akan penasaran. Rasa penasaran menimbulkan pertanyaan, dan bila pertanyaan itu tidak terjawab akan menimbulkan asumsi yang salah. Asumsi yang salah bisa mendatangkan masalah."
Kernyitan di kening Kiba bertambah. "Hinata, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi mungkin karena kau tidak tahu posisiku makanya kau tidak mengerti—"
"Aku mengerti," sela Hinata. Suaranya yang kecil terdengar tegas ketika dia melanjutkan, "Kiba-kun, kau membuat Ino-chan tidak nyaman dengan tindakanmu. Ino-chan tahu kau menyesal, jadi tidak perlu memberitahunya terus menerus. Dan kau juga membuat seluruh sekolah tahu. Dan murid kelas kita juga tidak bisu—mereka pasti cerita bahkan tanpa perlu ditanyai oleh anak kelas lain."
"Kalau Ino tahu aku menyesal, kenapa dia mendiamkanku terus?"
Hinata mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Hinata?"
"Aku—aku tidak tahu soal itu," ujar Hinata ragu.
Gadis bermata pucat itu berjalan menjauhinya, pergi ke luar kelas, dan mungkin menyusul Ino yang pergi lebih dulu.
"Apa yang Hinata-chan katakan?" tanya Naruto ketika dia sudah memasuki kelas.
"Aku harus ganti strategi," jawab Kiba pendek.
"Hah?"
Senin berikutnya, Kiba berangkat seperti biasanya. Namun dia tidak menunggu Ino di depan sekolah, dan meskipun tidak sebersemangat dulu, paling tidak wajahnya tidak lagi menunjukkan ekspresi seperti baru kehilangan anggota keluarganya.
Dia memasuki kelas, melihat Ino yang duduk di pojok kelas seakan-akan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya, dan duduk di sebelah gadis itu dengan santai.
"Ah, ini untukmu, Yamanaka," ujar Kiba sembari meletakkan sebuah catatan kecil dan selembar daun di atas meja Ino.
Dia tidak ingin mengetahui reaksi Ino, tapi bibirnya terkembang ketika mendengar gadis itu berbisik kaget, "Apa ini?"
Dan Kiba memutuskan, bahwa mulai sekarang, dia akan terus memberikan Ino catatan-catatan kecil di meja gadis bermata aqua itu setiap pagi, sampai—kalau ternyata Ino memang memutuskan untuk tidak bicara dengannya selamanya—lulus sekolah.
—"—
"Kau kelihatan lebih baik," kata Neji. "Sudah ada kemajuan, ya?"
Kiba tidak berkata apa-apa, melainkan hanya menunjuk Ino yang tersenyum ketika sedang mengobrol dengan Hinata. Gadis itu sekarang sudah duduk di depan, meskipun masih di bagian samping jendela—atau dengan kata lain, masih berada di pinggir kelas.
"Dia masih tidak bicara denganku, tapi aku tidak lagi bertindak agresif dengan menuntutnya," kata Kiba akhirnya. "Aku akan biarkan dia yang datang padaku."
Neji mengangkat alis. "Sepertinya itu tidak akan terjadi—tapi paling tidak, Yamanaka Ino tidak lagi muram. Hinata benar-benar hebat."
"Itu bukan gara-gara Hinata, tahu!" kata Kiba protes. Karena beberapa anak menoleh ke arahnya, dia memelankan suaranya ketika berkata tajam, "Itu karena aku."
"Yang kau lakukan cuma meninggalkan tulisan yang belum tentu dia baca," kata Naruto, ikut nimbrung sambil duduk di depan Kiba dan meletakkan makanan dan minuman yang baru dibelinya dari kantin di atas meja. "Dan berhenti mengganggunya."
Kiba menghela napas bosan. "Aku tahu dia membaca catatanku—meskipun setelah itu dibuang, sepertinya. Dan aku tidak pernah mengganggunya."
Naruto dan Neji saling lirik.
"Aku tahu itu tidak akan pernah cukup. Maksudku—apa bagusnya mengetahui gadis yang seharusnya bisa mengobrol dengan siapa saja yang dia mau sekarang cuma punya satu teman, dan itu semua gara-gara dirimu?"
"Tidak ada," kata Neji.
"Apa Hinata-chan pernah cerita soal Yamanaka Ino itu?" tanya Naruto sambil mengunyah melon bread-nya. "Maksudku, kau sepupunya, satu kelas dengannya, bahkan satu organisasi dengannya—kalian benar-benar dekat, ya? Kalau saja aku di posisimu—"
"Bicaramu mulai melantur, Naruto," ujar Neji. Dia mengambil teh kotak yang dibelikan Naruto untuknya, lalu menyeruputnya. "Dan Hinata tidak pernah cerita soal teman-temannya padaku. Dia, kan, bukan tukang gosip sepertimu."
Mereka semua terdiam. Kiba masih memandang punggung Ino, meskipun beberapa kali dia mengalihkan pandangannya karena Hinata memergokinya. Naruto juga melihat ke arah yang sama—tapi si gadis bermata pucat yang jadi sasarannya—dan kali ini dia sibuk memakan melon bread-nya yang ketiga. Neji sibuk membaca buku catatannya, sambil sesekali melirik lelaki berambut pirang di sampingnya dengan tatapan tidak suka karena terus-terusan memandangi sepupunya.
"Kau sudah coba ke rumahnya?" tanya Neji tiba-tiba.
"Aku pergi ke toko bunganya beberapa kali," jawab Kiba. "Tapi selalu tidak buka. Aku pikir rumahnya ada di belakang toko, tapi ternyata aku salah. Lalu aku coba bertanya pada orang yang tinggal di sekitar sana di mana rumahnya, tapi tidak ada yang tahu."
"Mungkin Hinata—"
"Dia tidak akan pernah bilang," potong Kiba bosan. "Bukannya sudah kuceritakan apa yang dia katakan padaku beberapa hari lalu? Kalau dia punya sifat seperti Temari-senpai yang galaknya minta ampun, mungkin sekarang aku sudah dihabisinya."
"Dia tidak akan begitu," kata Naruto dan Neji serempak.
"Tidak mau tanya ke Sakura?" tanya Naruto kemudian.
"Kau pikir dia mau menjawabnya?" Kiba balik bertanya. "Sudah beruntung dia masih mau bicara denganku. Dan itu membuatku makin merasa bersalah."
Hening.
"Kau payah," kata Naruto akhirnya.
"Tidak berperasaan," timpal Neji.
"Keterlaluan."
"Sembrono."
"Penakut."
"Jahat."
"Jomblo."
Kiba melempar Naruto dengan buku milik Neji.
—"—
Lima menit lagi, bel tanda masuk sekolah akan berbunyi. Untuk ke sekian kalinya Kiba menengok ke arah tempat Ino biasa duduk, lalu detik berikutnya menghela napas panjang ketika masih tidak melihat sang pemilik kursi. Hinata yang biasanya duduk di depan gadis berambut pirang itu juga tidak ada.
"Kau bilang Hinata tidak masuk, hari ini?" tanya Kiba pada Neji.
"Semalam dia bilang dia harus pergi. Kemudian pagi-pagi sekali dia sudah berangkat. Aku jadi tidak bisa menginterogasinya."
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan keras dari papan tulis dari depan kelas. Semua orang yang sedang asyik mengobrol atau bermain dengan yang lainnya langsung berhenti bergerak. Kiba buru-buru menghadap ke depan, Neji mengembalikan kursinya ke tempat semula, dan Naruto yang tertidur pulas langsung membelalakkan mata.
"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian pada pagi hari ini," kata Ibiki dengan suara keras namun dalam.
Salah seorang murid mengangkat tangannya. "Maaf, Ibiki-sensei, tapi bukannya sekarang jam pelajaran Shikaku-sensei?"
Ibiki menatap tajam anak berambut merah bata itu, lalu berkata seolah-olah tidak ada yang menginterupsinya, "Yamanaka Ino pindah sekolah hari ini."
Seluruh kelas membeku, bahkan lebih daripada after-effect dari yang ditimbulkan Ibiki beberapa menit lalu.
Sakura berkata dengan suara pelan, nyaris mencicit, "I-Ino pindah—"
Kiba langsung berdiri. Dia berjalan dengan tangan terkepal, menatap Ibiki yang mengernyit dengan tatapan seperti habis ditampar ibunya yang bahkan mencubitnya pun tidak pernah.
"Yamanaka Ino pindah? Hari ini?" tanya Kiba tidak percaya. "Dia benar-benar pindah? Kemana? Dia pindah kemana?"
"Inuzuka Kiba, apa yang kau lakukan?" tanya Ibiki gusar. "Kembali ke tempat dudukmu, karena sebentar lagi Shikaku-sensei masuk."
Kiba mengalihkan perhatiannya ke arah pintu kelas, kemudian berjalan keluar.
"Inuzuka—"
"KIBAAA!"
"HEY!"
Langkah Kiba makin cepat, tidak memerdulikan teriakan Neji dan Naruto yang menyusulnya dari belakang. Tidak memerdulikan guru-guru yang kebetulan berjalan melewatinya sambil melempar pertanyaan, "Apa yang kau lakukan?" dan pernyataan, "Ini sudah bel. Masuk ke kelasmu!" Tidak memerdulikan tatapan murid lain yang melihatnya dari kelas maupun lapangan olah raga yang dilewatinya beberapa detik lalu. Bahkan ketika dia harus berhadapan dengan satpam sekolah paling galak seantero Konoha, Asuma, dia tetap tidak memelankan langkahnya.
Toko bunga milik Yamanaka Ino adalah satu-satunya yang ada di pikirannya saat ini.
Dia berlari, sempat menggerutu ketika sadar kalau ternyata toko bunga punya Ino letaknya cukup jauh dari sekolah, tapi karena dia tidak punya waktu untuk marah, dia segera melupakan emosinya yang sudah mau keluar dari ubun-ubun. Dia cuma boleh marah pada dirinya sendiri—dan Ino, kalau dia bisa bertemu gadis itu lagi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Kiba memasuki kompleks tempat toko bunga Ino. Wajahnya yang berpeluh tidak dapat menyembunyikan kelegaan yang menyelubunginya. Tapi ekspresinya langsung berubah menjadi sekeras baja ketika dia melihat toko yang ditujunya sudah kosong melompong. Tanaman, bunga, bahkan satu-satunya benda mati di sana—meja dan almari kayu—sudah tidak ada.
"Kau yang namanya Inuzuka Kiba?"
Kiba menoleh, lalu mengangguk lemas ketika seorang perempuan paruh baya dengan rambut hitam bergelombang berjalan mendekatinya.
"Ino-san bilang kalau akan ada seorang laki-laki dengan tato segitiga terbalik di kedua pipinya datang ke tokonya pagi ini," ujar wanita itu sambil mengulum senyum ramah. "Kupikir kau orangnya."
Kiba melebarkan matanya. "A-apa oba-san kenal Ino? Apa oba-san tahu rumahnya Ino dimana?"
"Iya, tapi aku tidak tahu rumahnya di mana—"
Kiba menghela napas berat. Kalau dia perempuan, pikirnya, mungkin sekarang dia sudah menangis.
"—tapi Ino menitipkan ini padaku," ujar wanita itu lagi sambil menyerahkan sebuah surat dalam amplop biru muda dengan hiasan krisan kuning di sudutnya.
Kiba mengambil surat itu, lalu menatapnya dengan pandangan kosong.
"Se… sejak kapan toko bunga Ino sudah tidak buka, oba-san?" tanya Kiba setengah melamun.
Wanita itu terdiam sejenak, lalu berujar, "Sudah lama, kukira. Karena biasanya Inoichi-san selalu membeli makan siang di kedaiku, tapi sejak beberapa minggu lalu aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Tapi baru kemarin dia memindahkan semua barangnya dari toko ini. Kami saling berpamitan, kemudian Ino menitipkan surat ini padaku, dan memintanya supaya menyerahkannya padamu."
Karena Kiba tidak berkata apa-apa, akhirnya setelah menunggu semenit lamanya, wanita itu kembali berkata, "Kalau begitu, aku pergi dulu, ya."
Kiba membungkukkan badannya ketika wanita itu membalikkan badan dengan pikiran yang nyaris kosong. Lalu dia kembali menatap surat Ino.
"Bisa-bisanya," bisik Kiba parau, "bisa-bisanya, setelah tidak bicara denganku selama hampir sebulan, kau pergi begitu saja seolah kau ini cuma angin yang tidak dihiraukan orang-orang. Kau pikir surat ini cukup untukku? Dasar kau perempuan—"
Sambil terus menggumamkan segala macam gerutuan, keluhan, umpatan, dan apapun yang dia pikirkan, Kiba membuka amplop yang dipegangnya, lalu menarik surat dari dalam amplop itu. Dia menelan ludah ketika mulai membaca surat dari Ino.
.
.
Hai,
Kalau kau sudah menerima surat yang kutitipkan pada Kurenai-ba-san, dan kini sedang membacanya, berarti aku sudah tidak ada lagi di Konoha. Jangan repot-repot bertanya pada Hinata-chan dimana aku tinggal setelah aku pindah, karena aku juga tidak bilang padanya. Juga jangan tanya nomor telepon atau e-mail—dia pasti tidak akan memberitahukannya padamu. Jangan susahkan dia, oke?
Oh, dan jangan duduk di depan tokoku. Mungkin jalanan sepi, tapi kalau ada orang yang kebetulan lewat, kan, kau jadi terlihat aneh.
.
.
Kiba mengernyit. Isi surat yang rasanya benar-benar riang dan tanpa beban membuatnya merasa sedikit aneh karena dia sendiri melihat bekas tetesan air di surat Ino.
"Apa-apaan ini? Apa kau tertawa sambil menangis ketika menulis ini, Yamanaka?"
Dia kembali membaca surat Ino, dan kerutan di dahinya perlahan menghilang.
.
.
Ehm, sebenarnya aku tidak tahu apa yang harus aku tulis—ada banyak hal yang ingin aku katakan, tapi mungkin lebih baik aku mengatakannya lewat surat karena aku pasti tidak akan bisa melakukannya sambil melihatmu.
Jadi… yah… aku minta maaf.
Aku minta maaf untuk semua yang terjadi selama beberapa waktu terakhir ini. Untuk rencana kita yang gagal, dan akhirnya kau tidak bisa mendapatkan Sakura. Untuk kebohongan yang kulakukan sehingga kau menyalahkan dirimu sendiri, dan akhirnya kau mengorbankan waktumu hanya untuk mendapat maaf dariku, yang sebenarnya tidak pantas aku berikan.
"Kau baik, dan aku jahat". Aku yakin itu yang ada di pikiranmu sampai detik ini. Tapi kau salah. Kaulah yang baik, dan aku yang jahat. Aku begitu jahat padamu karena tidak mau bicara denganmu, pada Sakura karena aku menyukai Sasuke-kun, pada orang-orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan tapi begitu menghormati orang yang disukainya dengan tidak mengganggu hubungan mereka dengan orang yang mereka sukai.
Jangan pernah menganggap dirimu sendiri orang jahat. Kau tidak boleh melakukannya, karena itu akan menghancurkan dirimu sendiri. Ingat, semua yang kita pikirkan akan jadi cermin untuk pribadi kita. Jadi, kau harus terus berpikir kalau kau adalah orang baik, maka kau akan jadi orang yang baik—eh, dari mana aku dapat pemikiran ngawur seperti itu?
Ah… kau pasti sedih sekali sekarang. Apa kau sedang menangis? Aku juga—kau bisa melihat tetesan air mataku, kan? (^~^) Aku jadi ingin menepuk-nepuk pundakmu sambil tersenyum semanis mungkin dan bilang, "Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya kebetulan berada pada cerita yang tidak tepat—jadi meskipun kita adalah pemeran utama di hidup kita, tapi dalam cerita ini, kita bukan pemeran utamanya."
Bukan bermaksud menyindirmu, karena yang kau katakan memang benar. Aku saja yang melankolis.
Hiduplah dengan menjadi laki-laki yang kuat dan penuh semangat, seperti Inuzuka Kiba yang selalu aku lihat sebelum kita mulai lebih dekat, oke? Setelah aku pergi, kau harus kembali seperti dulu, minus dengan ke-jomblo-anmu itu, ya. Hehehe…
Eum, jadi… selamat tinggal, Inuzuka Kiba.
.
ps: terima kasih banyak untuk tulisan-tulisan yang kau berikan padaku. Itu benar-benar menghibur dan memberiku semangat.
.
.
"Kau memang jahat, Yamanaka," bisik Kiba dengan nada bergetar. "Kau jahat karena kau pergi begitu saja."
"KIBAAA!"
Lelaki berambut coklat itu menghapus air mata dari pipinya. Dia berdiri, lalu melihat Naruto dan Neji yang berlari ke arahnya sambil ngos-ngosan dengan pandangan datar.
"Kenapa kalian menyusulku?" tanyanya dingin.
Naruto tampak tersinggung, tapi Neji segera berkata dengan nada yang sama dinginnya dengan Kiba, "Kau sudah selesai? Mau kembali ke sekolah atau main saja?"
Kiba tidak bergerak dari tempatnya. Sambil menunduk, dia berkata pelan, "Ino tidak bilang sampai jumpa di suratnya. Dia bilang 'selamat tinggal'."
Naruto dan Neji yang sudah berjalan duluan, langsung berhenti. Keduanya membalikkan badan.
"Dia tidak memperbolehkanku tanya ke Hinata soal nomor handphone dan sebagainya."
"Kiba—"
"Terakhir kali kau menuruti permintaan Ino, dampaknya buruk, kan?" Neji tersenyum menenangkan. "Jangan khawatir. Kalau Hinata tidak mau memberitahukannya, aku yang akan langsung mengecek di teleponnya."
Tapi, apa yang diucapkan Neji tidak terwujud. Keesokan harinya, Hinata langsung memberikan apapun—nomor telepon, e-mail, bahkan website toko bunga Yamanaka—tanpa diminta.
Sejak saat itu, setiap hari, lalu berangsur-angsur menjadi tiap minggu—Neji melarangnya menghubungi Ino terus-terusan karena dianggap seperti tukang teror—dan akhirnya karena kesibukan Kiba yang sekolah di jurusan kedokteran hewan membuatnya harus mengurangi intensitasnya minimal menjadi tiap sebulan sekali, lelaki Inuzuka itu terus mengirim Yamanaka Ino pesan singkat yang terkadang disertai fotonya—efek samping berteman dengan Naruto.
Tidak peduli kalau Ino membaca pesannya, tidak peduli nomor Yamanaka masih aktif atau tidak, tapi yang jelas, karena Ino bilang sendiri dia menyukai pesan Kiba lewat kertas sewaktu SMA dulu, maka gadis itu, pikirnya, harus suka dengan pesan singkat yang dikirimnya.
"Dasar narsis," ejek Neji ketika Kiba sedang ber-selfie ria.
Kiba melirik Neji sebentar, lalu memonyongkan bibirnya ke arah kamera.
—"—
Masa sekarang, di depan toko bunga Yamanaka Ino, Pulau Nagi…
Kiba masih menatap Ino dengan tatapan tidak percaya—sekalipun kini bersama kedua temannya, Naruto dan Neji, yang menandakan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi.
Ino juga melihatnya dengan ekspresi yang sama. Itu juga bukti kalau sekarang dia tidak berada di dalam mimpinya.
"K-kau—?" Sapu yang dipegang Ino beberapa detik lalu sudah terhempas ke tanah.
Kiba mencoba untuk tersenyum—cukup berhasil, sepertinya.
Ino mundur sekali, tapi karena ada gadis bercepol dua yang berdiri di belakangnya, dia langsung berhenti.
Kiba tahu apa yang dipikirkan Ino. Dengan hati-hati, dia maju selangkah—tapi Ino malah bergerak seakan menghindar. Dan dalam hitungan detik, Ino sudah berlari masuk ke dalam toko dan menutup pintu toko dari kacanya itu.
"H—hei!" Kiba langsung berlari menuju pintu toko Ino. Dia menggerak-gerakkan gagang pintu yang sayangnya tidak ada gunanya—perempuan itu mengunci pintunya. Dengan kepalan tangannya Kiba menggedor pintu itu keras, tidak memerdulikan Naruto dan Neji yang menariknya menjauh.
"Ino!" panggil Kiba. "Kau mendengarku! YAMANAKA INO!"
"Hentikan, Kiba!" kata Naruto sambil terus berusaha menarik Kiba. "Orang-orang mulai melihat ke arahmu, sekarang."
"YAMANAKA INO!" teriak Kiba frustasi.
Dia menghentikan gerakan tangannya yang mungkin sebentar lagi bisa membuat pintu kaca itu hancur. Dengan kasar dia melepaskan cengkeraman Naruto dan Neji, kemudian dia mendekat ke arah pintu.
"Aku bisa melihatmu dari sini," kata Kiba keras. "Dan aku yakin kau bisa mendengarku dari sana. Keluarlah!"
Ino yang duduk di pojokan toko sambil memasukkan kepalanya di antara kedua lututnya yang ditekuk tidak merespon. Bahkan sekarang Kiba melihat bahu perempuan berambut pirang itu bergetar perlahan.
"INO—"
"Pakai ini."
Kiba menoleh. Keningnya mengernyit ketika Neji menyerahkan catatan tempel dan sebuah pena padanya.
"Melihat situasi yang sangat tidak menyenangkan ini, aku yakin dia tidak akan mau melihatmu sekarang, apalagi mendengar ucapanmu yang dasarnya cuma teriakan saja," jelas Neji. "Dia perlu menenangkan diri—dan kau perlu menyiapkan apa yang harus kau katakan padanya. Kau tahu, kan, apa yang harus kau lakukan dengan kertas ini?"
Kiba menghela napas, kemudian mengambil catatan tempel itu.
.
—to be continued—
.
.
.
Author's note: terima kasih banyak bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca—dan juga untuk Syalala Lala, zielavienaz96, Ryuui hikami, moonlightYagami, Emily Yukiko, xoxo, Miavita, inuzukarei15 yang sudah mereview… seperti biasa, kritik saran akan diterima supaya chap berikutnya lebih baik :) arigato gozaimashu \^o^/
.
