Chapter 2 : Kido's Land Haunted House

.

Setelah menenangkan diri selama beberapa menit, mereka pun mulai mencoba untuk menganalisis isi dari surat itu. Beberapa dari mereka tampak sangat panik dan tegang saat ini.

"Kalian yakin ini bukan bagian dari rencana Athena-sama?" Tanya Saga untuk yang kelimapuluh kalinya. Seiya dan yang lainnya hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan Saga.

"Mungkin dia ingin membuat kejutan untuk kalian juga," ucap Aphrodite menduga. "Bisa saja kan? Kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya."

"Aphrodite benar sih, tapi kalau hilang mendadak seperti ini dan memberikan penawaran pada kita.." Kanon menghentikan ucapannya saat Shion memberikan tanda agar mereka semua tenang.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain mengikuti apa yang di inginkan oleh si pengirim surat. Kalian pergilah ke Kido's Land besok siang. Aku dan Dohko akan mencoba untuk menyelidikinya lagi. Mungkin kita bisa meminta bantuan dari Graud Foundation," jelasnya.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi disana, Pope. Mungkin saja itu sebuah jebakan." Tampaknya Aiolia keberatan dengan rencana ini. Dia menatap teman-temannya berharap mendapat dukungan, tapi semua tidak berjalan dengan apa yang ia harapkan. Bahkan Aphrodite yang biasanya lebih tertarik pada produk kecantikan dan Deathmask yang hanya peduli pada diri sendiri tidak mendukungnya.

"Aku tidak memaksa kalian semua untuk pergi. Kalau memang ada yang keberatan dan tidak ingin pergi, kalian bisa tinggal dan menunggu disini," jelas Shion. Dia mengambil surat itu dari tangan Kanon. "Pikirkan baik-baik, besok pagi berikan aku keputusan kalian."

Setelah Shion pergi dengan Dohko, terjadilah perdebatan di sana. "Bagaimana menurut kalian? Apa kita harus membagi team dalam hal ini?" Tanya Seiya yang sedari tadi diam saja.

"Aku akan pergi ke sana terlebih dahulu untuk memastikan kalau ini bukan jebakan. Setelah itu aku akan mengabari kalian agar kalian datang," kata Aiolos pada semuanya, tapi Saga tidak setuju.

"Kurasa si pengirim surat tidak akan beraksi kalau hanya kamu yang datang, Los. Mau tidak mau beberapa dari kita harus datang dan menemuinya," saran Saga. "Kita harus melakukan apa pun untuk menyelamatkan Athena."

Semuanya menatap Saga tidak percaya. Mereka tidak menyangka kalau Saga sangat amat terobsesi untuk menyelamatkan Athena Saori yang menyebalkan padahal dialah orang yang selalu direpotkan oleh gadis itu. Mungkin loyalitas dia sangat tinggi.

"Ada yang punya rencana lain?" Tanya Milo bosan.

"Bagaimana kalau beberapa orang dari kita pergi dulu ke Kido's Land untuk mengecek seperti apa yang Aiolos bilang tadi dan sebagian lagi menunggu di rumah." Aphrodite pun membuka mulutnya untuk memberitahu apa yang ia pikirkan sejak tadi. "Kurasa Bronze Saint harus keluar dari rencana ini."

"Kenapa?" Tanya Shun bingung. "Ini kan misi untuk menyelamatkan Saori-san. Apa kamu tidak mempercayai kami?"

"Bukan begitu, Shun. Maksud Aphrodite itu kalian harus keluar karena kalian sudah terlalu banyak mengorbankan diri kalian untuk menyelamatkan Athena-sama, tapi kami yang seorang Gold Saint tidak bisa melakukan apa-apa bahkan kami malah menentang Athena-sama," jelas Shura pada para Bronze yang mulai memasang wajah tidak terima.

"Tapi menyelamatkan dan melindungi Athena adalah tugas kami juga, Shura. Kami tidak mungkin duduk diam di rumah di saat kalian berususah payah untuk menyelamatkannya," tolak Seiya tidak mau mengerti.

"Kejadian ini mengingatkanku pada saat Holy War melawan Hades." Mu malah tersenyum melihat perdebatan di hadapannya. Begitu juga dengan Aldebaran dan Shaka yang mengangguk setuju.

Karena perdebatan antara Seiya dan Shura tidak kunjung menemukan hasil, Camus pun memutuskan untuk ikut dalam usaha Gold Saint lain untuk menghentikan mereka. Dapat di rasakan suhu mulai menurun.

"Umm.. Sensei?" Hyoga menatap gurunya itu. Dia tahu apa arti dari turunnya suhu yang sangat drastis seperti ini.

"Camus, bisakah kamu tidak melakukan hal itu? Aku kedinginan disini?" Tanya Milo kedinginan. Tubuhnya sedikit gemetar akibat ulah sahabatnya.

Aiolos menghela napas. Dia mungkin yang paling sabar di antara teman-temannya, tapi bukan berarti dia tidak bisa kehilangan kesabarannya. Ya walaupun dia tidak akan meledak seperti sahabatnya, Saga, saat benar-benar stress.

"Seiya, bagaimana kalau kamu dan teman-temanmu membiarkan kami, para Gold Saint, untuk bekerja kali ini? Kalau kami benar-benar tidak bisa melakukannya, kita akan menghubungi kalian."

Seiya, Shiryu, Hyoga, Shun, dan Ikki saling melemparkan pandangan. Mereka tampak berdiskusi sebentar sebelum mencapai keputusan mereka. "Baiklah, kami akan menunggu disini."

"Bagus!"

"Nah, sekarang kita harus putuskan siapa yang akan pergi ke sana terlebih dahulu," ucap Kanon. "Mu, Aldebaran, Saga, Shaka, Aiolos, dan aku?"

"Bagaimana dengan yang lain? Kalian setuju?" Tanya Aiolia pada akhirnya. Dia pun memutuskan untuk mengikuti keputusan sang kakak.

Semuanya mengangguk setuju.

"Bagaimana keputusan kalian?" Tanya Shion pagi itu saat mereka sarapan pagi.

"Mu, Aldebaran, Saga, Kanon, Shaka, dan aku akan pergi terlebih dahulu untung mengecek. Apa pun yang terjadi di sana kami akan menghubungi Gold Saint lainnya dan kalau kami benar-benar tidak bisa mengatasinya, Bronze akan maju," jelas Aiolos.

"Bagaimana menurutmu, Shion?" Tanya Dohko yang duduk di sebelahnya.

"Baiklah, kalian akan pergi jam sepuluh nanti."

Setelah selesai sarapan, Shion dan Dohko memutuskan untuk segera pergi ke Graud Foundation. Sedangkan yang lain memutuskan untuk menyiapkan energi. Mereka pikir mereka harus selalu siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi nanti, tapi ada beberapa dari mereka yang menghabiskan waktu dengan hobi mereka. Camus membaca buku, Milo duduk di sebelahnya untuk menonton tv, dan Aphrodite menanam bunga di halaman belakang Kido's Mansion itu. Siapa yang mengira dia akan mendapatkan bunga dari laci meja di kamarnya?

"Aphrodite," panggil si pemegang Cloth Capricorn. Dia berjalan mendekati Aphrodite. "Tidak biasanya kamu memberikan ide di saat-saat seperti ini."

Pemuda cantik itu menganggkat wajahnya untuk bisa melihat Shura. "Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan."

"Karena saat kita di bangkitkan oleh Hades kamu dan Deathmask tidak bisa melakukan apa-apa, huh?" Goda Shura lalu tertawa saat wajah Aphrodite menunjukan kalau dia tidak suka dengan hal itu.

"Bicara soal Hades, hilangnya Athena saat ini tidak ada hubungannya dengan dia kan?" Tanya Aphrodite malas. Dia kembali melanjutkan aktifitasnya, yaitu menggali tanah dan memasukan bibit-bibit.

"Aku tidak tahu. Hades sudah berhasil Athena-sama kalahkan. Tapi itu tidak menutup kemungkinan kalau dia kembali di bangkitkan seperti kita, kan?" Shura malah balik bertanya pada Aphrodite. "Apa pun yang terjadi, kita harus bisa menyelamatkan Athena-sama atau Evil Saga akan muncul."

"Ya, kamu benar." Aphrodite menutup lubang-lubang yang ia buat lalu menyiram semua hasil kerjanya dengan air. Setelah selesai dia pun berdiri dan berjalan masuk ke dalam mansion bersama Shura. "Sudah jam 10 kurang 5 menit. Mereka akan pergi sebentar lagi dan kita akan menyusul."

"Ya, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk disana."

Sebuah mobil datang untuk menjemput tepat saat jam menunjukan pukul sepuluh. Saga dan yang lainnya pun pergi ke Kido's Land yang berada cukup jauh dari sana. Semua yang tersisa duduk dalam diam di ruang keluarga mansion itu. Berharap agar si pengirim surat dan si penculik memberikan penawaran mudah dan mereka bisa kembali dengan Athena ke sini. Satu jam kemudian mereka mendapat telepon dari Kanon.

"Kami sudah mengecek semua tempat disini, tapi tidak ada tanda-tanda dari Athena-sama ataupun orang mencurigakan. Kurasa Saga dan Aiolos masih mencari sekarang," jelas Kanon.

"Saga dan Aiolos? Kamu tidak bersama dengan mereka?" Tanya Shura yang kebetulan menganggkat telepon itu.

"Tidak, tiba-tiba saja mereka memisahkan diri. Dan kami tidak bisa menemukan mereka, tapi mereka berdua pasti baik-baik saja sekarang ini. Apa kalian akan datang sekarang?" Tanya Kanon.

Shura menatap teman-temannya. "Kita ke sana sekarang?" Tanyanya. Yang lain mengangguk. "Baiklah, kita akan kesana sekarang."

"Baiklah, aku akan menunggu kalian di gerbang utama."

Shura mengembalikan telepon itu keposisi semula dan mereka pun bersiap-siap. Setelah mobil datang, mereka pun segera menaikinya.

"Hati-hati ya, kalian pasti bisa melakukannya," ucap Shun memberikan semangat pada senior-seniornya.

"Kami akan menunggu di rumah sampai kalian memberikan kabar pada kami," ucap Shiryu tenang. Lalu mereka pun pergi. "Kuharap mereka bisa melaluinya dengan baik."

Setelah sampai di gerbang utama Kido's Land, mereka di sambut oleh Kanon yang menunggu mereka disana. Setelah di jelaskan secara singkat, mereka pun langsung masuk ke Kido's Land. Baru selangkah mereka masuk, seorang anak kecil mendekati mereka dan memberiakn sepotong kertas pada mereka. Aphrodite yang kebetulan menerimanya segera membaca tulisan yang ada disana.

"Selamat datang, Gold Saint. Aku sudah menunggu kalian dan akhirnya kalian semua datang kesini. Silahkan nikmati permainan yang ada disini sebelum aku memberikan penawaranku."

Hanya itu yang tertulis pada kertas kecil itu dan anak yang memberikan kertas ini sudah tidak dapat di temukan.

"Kemana dia pergi?" Tanya Aphrodite bingung. "Jangan bilang dia itu hantu!"

"Hantu itu ga ada, Dite."

"Siapa tau?" Tanya Aphrodite. "Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Bersenang-senang seperti apa yang surat itu katakan atau bagaimana?"

"Aku akan mencari yang lainnya. Kalian tunggu saja disini." Lalu Kanon berlari meninggalkan mereka. Mereka pun memutuskan untuk menikmati beberapa wahana yang ada disana. Setengah jam kemudian Kanon datang, wajahnya pucat.

"Ada apa, Kanon? Kenapa lama sekali?" Tanya Aiolia cemas. "Kamu tidak menemukan mereka?"

Kanon menggeleng. "Mereka tidak ada dimana pun. Aku sudah meminta ruang kendali untuk mencari mereka, tapi tidak satu kamera cctv pun yang menangkap gambar mereka," ucapnya panik.

"Tenang, Kanon. Disaat seperti ini kita tidak boleh panik. Lihat Camus yang masih asik dengan bukunya itu," ucap Shura mencoba menenangkan. Dia pun mendapatkan icy glare dari si Aquarius tapi ia abaikan begitu saja. "Kita cari saja mereka."

Mereka semua mencari ke seluruh tempat yang kira-kira bisa mereka lihat. Beberapa menit kemudian datanglah seorang anak kecil. Dia memberikan surat itu pada Aphrodite. Deathmask menahannya agar tidak pergi.

"Siapa yang menyuruhmu kemari dan memberikan ini pada kami?" Bentak Deathmask dan sesaat kemudian anak itu pun menangis kencang.

"Deathmask, kalau kamu bertanya seperti itu dia pasti akan menangis." Milo menghela napas. "Siapa yang memberikan kertas ini padamu?"

Anak itu tetap menangis dan meronta-ronta untuk pergi. Karena dia tidak memberikan jawaban apa-apa selain tangisannya, dia pun di lepaskan. Aphrodite membuka kertas itu dan membaca tulisan yang ada.

"Baiklah, karena aku sudah bosan kalian bisa mulai sekarang. Aku akan menunggu kalian di akhir dari 'Haunted House', wahana baru di Kido's Land yang memang sengaja di bangun untuk kalian."

"Sengaja di bangun untuk kita? Apa maksudnya? Jangan-jangan ini kejutan yang Athena-sama maksud dalam suratnya, tapi kenapa Bronze Saint sama sekali tidak tahu hal ini?" Tanya Milo bingung. Dia melihat sekelilingnya untuk mencari wahana itu. "Kenapa aku tidak melihatnya tadi? Padahal rumah itu cukup besar?"

"Ha?" Semuanya ikut melihat ke arah pandang Milo. Mereka semua pun terkejut karena tiba-tiba saja muncul rumah yang tadinya tidak ada disana.

"Kalian ingin masuk kesana?" Tanya Aphrodite tidak yakin. Dia menatap semua teman-temannya. Berharap mereka akan membagi team lagi hingga dia tidak harus masuk ke dalam rumah itu.

"Iya, kita semua harus masuk." Jawaban Camus membuat harapan Aphrodite hancur berkeping-keping. Dia tidak ingin masuk bukan karena takut, tapi karena dia tidak ingin 'sesuatu' menyentuh pakaian, rambut dan lain sebagainya yang ada pada dirinya.

Mereka pun memasuki bangunan tua itu. Semuanya terlihat normal bagi mereka karena tidak jauh berbeda dari apa yang mereka ketahui selama ini. Rumah itu gelap, pengap dan bau. Membuat Aphrodite ingin segera keluar dari sana, tapi Shura, Deathmask, bahkan Milo menahannya. Mereka berhenti saat di perhadapkan pada pilihan jalan yang akan mereka lalui.

"Ada tiga pintu. Apa kita berpencar saja?" Tanya Aiolia pada yang lainnya. Semua mengangguk setuju lalu menentukan siapa yang akan pergi dengan siapa.

"Bagaimana pun juga aku akan pergi dengan Camus!" Suara itu datang dari si pemuda berambut bluish purple.

"Baiklah, kamu akan pergi dengan Camus. Aku dan Aiolia akan melalui pintu kedua. DM, Aphro, dan Shira di pintu ketiga," kata Kanon lalu mereka semua pun berpencar.

Sesaat setelah Aphrodite, Shura dan Deathmask masuk ke pintu ketiga, si Cancer langsung berlari mengejar 'sesuatu' yang tidak di lihat oleh dua orang lainnya.

"Berhenti kamu jangan lari! Kamu akan aku jadikan koleksi di tembok kuilku!" Dia berteriak dan langsung berlari mengejar 'sosok' misterius itu.

"DM! Jangan lari sendirian seperti itu!" Teriak Shura lalu lari mengejar Deathmask. Aphrodite yang malas melakukan olahraga satu itu hanya melihat kedua sahabatnya dan berjalan santai. Dia memasuki ruang selanjutnya dan tidak menemukan sahabatnya dimanapun.

"Shura? DM? Kalian dimana? Sengaja ya mau ninggalin aku? Aku tuh ga takut," kata Aphrodite malas. Dia melihat sekelilingnya dan menemukan sebuah papan.

'Exit ke kiri. Melanjutkan perjalanan ke kanan.'

"Hmm? Jadi aku bisa keluar dari sini? Tapi bagaimana dengan mereka berdua dan yang lainnya?"

.

.

Jalan manakah yang akan Aphrodite pilih? Keluar dari permainan gila ini atau tetap melanjutkannya?

.

.

To be continue..