KLEPTO 3

Pairing : KaiBaek

Cast : Nyonya Kim, Kris, Suho

Genre: ababil, angst, romance, sinetron

Rating : yang wajar-wajar aja (T)

DEPO LDH

"Jongin...eh...siapa namja imut ini" saat Kris hendak kembali marah-marah pada Kai, tak sengaja tatapan matanya melihat Baekhyun yang ada di pelukan Kai.

"Ba-Baekie takut" bukanya tersenyum seperti biasanya, Baekhyun malah semakin mengeratkan cengkramanya di baju seragam Kai yang bagian depan.

"ya...adik manis tak perlu takut denganku!"

"Jongiiiin...tiang listrik ini menakuti Baekie...huwaaaa..."

...

Semenjak kedatangan Kris kerumah keluarga Kim, suasana menjadi lebih ramai lagi, ramai karena teriakan-teriakan Baekhyun saat Kris mulai mendekatinya. Ternyata si mungil Baekhyun amat-sangat takut dengan Kris, apalagi jika namja tampan itu mulai sok akrab. Sedangkan Kai, dia terlihat semakin jengah karena suara-suara lengkinan Baekhyun dan caranya menghindari Kris dengan bersembunyi di belakang punggungnya.

"Baekie capek" ia merubuhkan tubuhnya ke atas ranjang milik Kai dan sedikit bermain-main dengan Monggu

"lalu kenapa kau dikamarku? Cepat kembali ke kamar yang sudah di sediakan eomma!" Kai mengucapkanya tanpa memandang Baekhyun, ia lebih sibuk menatap PR matematikanya yang begitu sulit.

"Baekie takut kalau namja tiang itu tiba-tiba masuk ke kamar Baekie..." posisinya sekarang duduk dan bibirnya benar-benar mengerucut ke depan, sesekali kunciranya ditiup karena terlihat sedikit berantakan dan menjuntai ke depan "Jongin jangan mengabaikan Baekie..." si mungil itu kesal karena Kai sama sekali tak memperhatikanya, dan sekarang ia sudah berdiri di belakang kursi belajar Kai sambil membawa Monggu di pelukanya.

"kau berisik, PR ku sangat sulit tahu" sesekal digaruknya kepala bersurai hitam itu, bukan karena gatal tapi karena bingung akan jawaban soal-soal dihadapanya.

"jawabanya 65" secepat kilat Kai menoleh karena mendengar jawaban dari Baekhyun yang kini sudah ikut-ikutan menunduk menatap buku matematika yang bukan miliknya

"dari mana kau tahu?"

"entahlah...tapi coba Jongin hitung pasti jawabanya 65" tanpa sadar Kai menggerakkan pensilnya dan menghitung dengan serius, butuh waktu 5 menit untuk mendapatkan jawaban yang tepat seperti jawaban Baekhyun sebelumnya. Tiba-tiba Kai menatap horror ke arah Baekhyun yang sedang bermain dengan monggu di atas ranjangnya.

"hei...hari ini apa yang kau lakukan selama aku pergi ke sekolah?" Kai meletakkan pensilnya sejenak dan merubah posisi duduknya untuk menatap Baekhyun

"tadi pagi eomma aneh sekali, masak eomma mengajak Baekie keluar tapi tangan Baekie di ikat menggunakan tali"

"eh...mengapa eomma melakukanya?" Baekhyun menggelangkan kepala pertanda tidak mengerti

"ketika Baekie Tanya, eomma tak menjawab" dengan cepat kaki Kai melangkah keluar kamar tanpa memperdulikan Baekhyun yang memanggil-manggil namanya

Sesampainya di bawah, Kai menemukan eommanya sedang asyik menonton Tv sendirian, entah kemana keponakanya yang tinggi itu hingga tak terlihat sejak selesai makan malam tadi.

"eomma..."nyonya Kim menoleh dan tanpa menjawab ia kembali menatap layar televisi, Kai berdecak sebal melihat kelakuan eommanya yang tak pernah normal "isshhh...jangan mengabaikanku" karena namja tampan itu sudah mengambil posisi duduk disebelah nyonya Kim, mau tak mau wanita itu mematikan televisinya dan memandan putranya dengan senyuman-senyuman aneh

"jangan melihatku seperti itu!" gerutu Kai kesal karena melihat eommanya yang terlihat seperti yeoja genit sedang mencari perhatian seorang namja

"apa ini masalah Baekie?"

"jika sudah tahu maka cepat ceritakan, jangan melihatku seperti melihat ajushi-ajushi yang memiliki banyak uang"

"yaaa...mana boleh kau mengatai eommamu seperti itu? Tapi sudahlah, kau ingin menanyakan soal Baekie?" Kai hanya mengangguk malas, sedangkan tanganya reflek mengambil jus jeruk sisa eommanya "tadi eomma mengajaknya ke minimarket terdekat, tanganya eomma ikat dengan tujuan melatihnya"

"melatih bagaimana maksud eomma?" sekarang tangan Kai beralih mengambil camilan yang ada di hadapnnya

"eomma membuatnya agar dia kesulitan mengambil barang di minimarket"

"lalu, apa berhasil?"

"bagaimana yah? Dia tadi mengambil 5 barang"

"benarkah? Itu kemajuan eomma?"

"apa benar? Tapi dia masih bisa mengambil barang-barang disana, padahal eomma sudah mengikat tanganya"

"eomma...apa kau tahu? Pertama kali aku bertemu Baekie, dia mengambil hampir sekantong barang yang ada di minimarket. Jadi ini tetap sebuah kemajuan"

"waaah...jadi rencana eomma cukup berha-"

"kyaaaaaaa...Jongiiiiin tolong Baekieeeeeee"

Kai dan nyonya Kim langsung berlari ke arah sumber suara itu berasal. Sekarang kita bisa melihat Baekhyun melempari Kris dengan berbagai macam benda, ada bantal, guling, sepatu milik Kai dan saat si mungil itu hendak melempar jam beker di nakas meja, Kai sudah terlebih dahulu menginterupsi kegiatan Baekhyun.

"hentikan Byun Baekhyun!" semua orang yang berada di ruangan tersebut menatap horror ke arah Kai, Baekhyun tercekat, Kris memasang tampang cengo dan nyonya Kim memasang wajah kaget. Kai mengusap wajahnya dengan pelan menggunakan tangan, kemudian menatap Kris sambil menghela nafas "Kris sebaiknya kau keluar dari kamarku" Kris seperti kehilangan pikiran karena menuruti omongan Kai tanpa protes.

Ketika Kris keluar dari kamar tersebut, nyonya Kim juga menyusul namja bermarga Wu itu tanpa banyak bicara. Kini giliran Kai mentap Baekhyun yang sedang menundukkan kepala, raut wajahnya terlihat penuh dengan penyesalan.

"Jo-Jongin Marah?" Baekhyun tak berani menatap Kai, si mungil itu malah duduk di lantai dan menenggelamkan wajahnya di lutut. "jangan pukul Baekie, Baekie janji tak akan nakal lagi" Kai yang tadinya hendak berbicara kini malah terdiam. Kakinya melangkah mendekati Baekhyun, tangan kananya terangkat dan bergerak mengelus surai kecoklatan milik si mungil itu. Meskipun terlihat agak canggung tapi ini merupakan suatu kemajuan sampai namja bermarga Kim Jongin ini mau melakukan hal yang sedikit melankolis.

"kau kira aku orang jahat sampai suka memukul orang?"

BRUUUK

Baekhyun menubrukkan tubuhnya ke badan Kai, niat sebenarnya ingin memluk tapi karena ancang-ancangnya terlalu kencang jadinya mereka berdua terjatuh deh. Baekhyun sebenarnya menangis tapi tak bersuara, ia hanya terlalu senang karena ada orang yang memperlakukanya dengan baik meskipun sudah membuat kesalahan. Kai sendiri bingung, kenapa Baekhyun tak kunjung bangkit dari posisi mereka yang tiduran di lantai. Merasakan baju bagian dadanya basah, Kai hanya menghela nafas dan menyelipkan satu tanganya ke belakang kepala dan satu tanganya mengusap punggung Baekhyun.

.

.

.

"Hei kenapa kalian tiduran dilantai? Cepat bangun!" Nyonya Kim yang tadinya hendak mengajak makan malam merasakan hal yang aneh karena di meja makan hanya ada Kris yang sibuk dengan handphonenya. Lalu dimana dua putra kesayanganya? Ternyata mereka masih tertidur dengan posisi tak berubah dengan yang tadi. nyonya Kim hanya geleng-geleng kepala dan hendak membangunkan mereka.

"eommma" Kai mulai tersadar dan-" awwwww..." ia menjerit tertahan saat tangan yang digunakan sebagai bantal tadi terasa kesemutan, sangat susah untuk digerakkan. Kalian tahu sendiri kan bagaimana rasanya. "eommma...bantu aku menyingkirkan si kecil ini!" sekarang giliran nyonya Kim yang menguncang-guncang badan Baekhyun agar bangun dan menyingkir dari atas tubuh Kai.

Wajah mengerjapnya benar-benar imut saat satu jempolmnya masih berada di dalam mulut. Mata Baekhyun berkaca-kaca karena sedikit kesal dibangunkan dengan acara tidurnya.

"uuuhhh anak eommma mau menangis, kemari biar eommma peluk" tanpa basa-basi Baekhyun memeluk nyonya Kim dan memejamkan matanya sejenak "cup...cupp jangan menangis, setelah makan malam Kai akan mengajakmu keluar"

"eomma...jangan membuat rencana sendiri" yah terkadang nyonya Kim suka seenaknya saja, tapi memang begitulah yeoja paruh baya satu ini, mau bagaiman lagi. Kai yang begitu sadar dengan sifat eommanya yang begitu menjengkelkan hanya memasang wajah kesal, lalu melangkah keluar kamar.

Benar-benar yeoja cantik pemilik marga Kim ini, ia sungguh-sungguh memaksa Kai untuk mengajak Baekhyun keluar berjalan-jalan. Kai sendiri bingung mau diajak kemana si pendek ini, hari kan sudah mulai malam. Kai sempat bertanya pada eommanya, mau dibawa ke club malam kah jalan-jalan kali ini. Dengan gerakan tangkas nyonya Kim melempar sendok sayur ke arah Kai, untung saja namja itu sempat menghindar tapi Kris tidak sempat. Jadi sendok sayur yang di lempar nyonya Kim tadi malah mengenai jidat Kris.

"bagaimana kalau membeli es krim saja?" suara Baekhyun menginterupsi tatapan kesal nyonya Kim pada Kai, menginterupsi Kai yang tadinya menundukkan kepala karena menyesal dengan perkataanya dan juga menginterupsi kegiatan Kris mengusap dahinya.

"apa aku boleh ikut?"

"Boleh"

"shirooooooooo"

Saat tadi Kris bertanya bolehkah dirinya ikut dalam jalan-jalan kali ini, Kai mengatakan "boleh" dengan santai dan Baekhyun mengatakan "shiroooooooo" dengan berteriak. Kris begitu kaget hingga tanganya yang tadi berada di dahi kini beralih ke dada, untuk membuat gerakan mengelus dada.

...

Akhirnya Bakhyun dan Kai hanya keluar berdua di malam yang cukup berangin ini. Tadinya Baekhyun hendak mengajak Monggu tapi Kai melarangnya dan ia disuruh memilih antara jalan-jalan keluar tanpa Monggu atau berdiam diri di rumah dengan Monggu. Dan si kecil itu lebih memilih berjalan-jalan membeli es krim tanpa Monggu. Namun sebelum mereka berangkat, Baekhyun berulang-ulang meminta maaf pada anjing berbulu lebat milik Kai.

Semenjak keluar dari rumah, Kai menautkan jemarinya ke jemari Baekhyun. Si mungil itu Nampak senang, terlihat sekali dari tatapanya yang bergantian memandang wajah Kai dan jemari mereka. Kai tahu bahwa Baekhyun saat ini sedang merasa senang, jadi ia membiarkanya dan hanya berjalan dalam diam.

Saat hendak memasuki toko, Kai menyuruh Baekhyun menunggu di luar dan tidak mengajaknya masuk. Baekhyun sempat memasang wajah cemberut karena ia tidak bisa memilih es krim apa yang akan di belinya, namun lagi-lagi Kai mengancam tak akan membelikan Baekhyun es krim jika ia ikut masuk ke dalam toko. Dengan berat hati si mungil itu menyetujui syarat Kai dan menunggunya di luar dengan tampang bosan.

Kai keluar dengan sebuah kantong plastic dan dengan cekatan memberikan Baekhyun es krim berbentuk ikan dengan rasa strawberry. Wajah bosan Baekhyun langsung berubah cerah saat melihat bentuk lucu es krim tersebut. Meskipun Kai hanya asal mengambil es krim yang ada di dalam feezer, tapi dia sempat was-was kalau-kalau Baekhyun protes dengan es krim pilihanya karena tidak sesuai dengan keinginan Baekhyun. Tapi sekarang Kai bisa bernafas lega saat melihat wajah Baekhyun yang tengah asyik mempermainkan es krimnya sebelum di masukkan ke dalam mulut.

Setelah mendapatkan beberapa es krim, mereka langsung pulang karena udara semakin dingin dan angin juga semakin kencag berhembus. Sebentar-sebentar Baekhyun merapat ke tubuh Kai karena kedinginan. Kai yang menyadari keadaan Baekhyun, langsung berinisiatif untuk meraih jemari mungil itu dan membawanya ke dalam saku jaket yang ia pakai. Baekhyun Nampak tak ingin protes sama sekali karena terlalu kedinginan, dank arena perbuatan Kai ia merasa cukup hangat, meskipun hanya dibagian tanganya saja.

Saat mereka melewati sebuah perempatan, mereka berpapasan dengan seorang namja paruh baya. Tubuh Baekhyun mematung seketika, Kai merasakan Baekhyun berhenti tiba-tiba. Namja berkulit tan itu memandang Baekhyun yang tengah memandang namja paruh baya yang berada di hadapan mereka. Ada raut wajah keatkutan di mata itu. Namja paruh baya yang tadinya hanya berjalan tanpa tujuan kini mulai memperhatikan keadaan sekitar karena merasa dirinya sedang diawasi.

"akhirnya aku menemukanmu anak sialan" dengan gerakan cepat, namja paruh baya yang ternyata appa Baekhyun, kini sudah mendekati tempat Kai dan Baekhyun berdiri. Baekhyun tak bisa bergerak sama sekali, hanya remasanya di jemari Kai yang mulai mengencang. Kai yang menyadari sedang berada dalam situasi yang ganjil akhirnya menarik Baekhyun pergi. Kaki mungil itu masih tak bergeming dari tempatnya sampai sebuah suar mengganggu pendengaran mereka berdua

"kemari kau anak sialan!"

"Baekhyun lari...!" karena teriakan Kai, akhirnya si mungil Baekhun kembali dari dunianya dan ikut berlari menjauh dari appanya yang sibuk mengejar di belakang. Baekhyun tak berani memandang kebelakang sama sekali, ia hanya mampu berlari dengan perasaan takut yang berhasil masuk hingga mampu melemaskan beberapa bagian tubuhnya. Kai semakin erat menggenggam jemari Baekhyun, ketika melihat semak-semak Kai menariknya dan mereka berdua bersembunyi disana.

Si namja bernama Kim Jonging terus saja memperhatikan jalanan, takut appa Baekhyun masih mengikuti mereka. Setelah 15 menit menunggu akhirnya Kai mampu bernafas lega dan mendudukkan pantatnya di atas tanah. Ia sempat melupakan keberadaan Baekhyun karena terlalu sibuk memperhatikan namja paruh baya yang mengejar mereka. Saat tatapanya memandang ke arah Baekhyun, Kai melihat pemandangan yang cukup miris.

Baekhyun menekuk kedua lututnya dan mengigit jari-jarinya bergantian. Menandakan bahwa namja mungil itu sangat ketakutan, diam-diam Kai tak tega melihat namja dihadapanya begitu banyak mengalami penderitaan. Segera Kai menangkup kedua pipi Baekhyun dan mengarahkanya agar menatap matanya. Pandangan Baekhyun masih tak fokus, ia masih berkali-kali melirik ke berbagai arah.

"hei...dengarkan aku! Orang jahat itu sudah pergi, kita aman" suara lembut Kai belum mampu menembus kebingunan Baekhyun "Byun Baekhyun sadarlah, aku disini..."

"Jongiiin...Jongiin...Baekie takut...takut Jongin" mendengar suara lemah Baekhyun, Kai malah tersenyum. Ia terlihat bahagia karena si mungil itu sudah merspon ucapanya.

"tenanglah aku disini...huuusssh" Kai membawa Baekhyun ke dalam pelukanya, dan si mungil itu langsung mencengkram kuat kaos bagian depan milik Kai

"jangan tinggalkan Baekie...Jongin jangan pergi"

"huuusss...aku tak akan pergi kemanapun"

Sepertinya Baekhyun terlalu lemas, sehingga sisa perjalanan mereka berakhir dengan Kai yang menggendong Baekhyun di punggung. Kai hanya sesekali melirik kebelakang, melirik ke tempat Baekhyun menyenderkan kepalanya. Perjalanan terasa sunyi karena tak ada yang berbicara diantara mereka, sampai akhirnya Baekhyun menyanyikan senandung kecil, hanya berupa gumaman pelan tanpa lirik. Kai sayup-sayup mendengarnya dan ikut menikmati alunan yang keluar dari mulut kecil Baekhyun.

Terkadang Baekhyun mengeratkan pelukanya di leher Kai, mengusap wajahnya pelan ke punggung yang bukan miliknya karena merasa ingin mengeluarkan air mata, tapi sekuat tenaga ia menahan tangisnya tersebut. Baekhyun tak mau jika Kai menganggapnya cengeng dan seketika itu berubah membencinya.

Sudah tak terdengar suara-suara pelan dari bibir Baekhyun, Kai menolehkan kepalanya sedikit kemudian berucap

"malam ini kau ingin tidur dimana?"

"Baekie tak mau tidur. Baekie takut jika tidur lalu appa tiba-tiba datang dan membawa Baekie pulang"

"mana mungkin itu terjadi. Lagipula di rumah ada si tiang Kris"

"memangnya kenapa kalau ada Kris? Baekie masih takut denganya"

"yah paling tidak dia bisa melindungi kita"

"berarti dia kuat sekali? Daebak" Baekhyun mengucapkanya dengan nada rendah karena sedikit mengantuk karena hembusan angina yang tiba-tiba tidak berhembus terlalu kencang.

"ehhh...ah..yah begitulah. Badanya kan tinggi, dia pasti bisa melindungi kita"

"berterimakasihlah padaku Kris Wu, karena aku memujimu di depan si kecil ini. Aku harap setelah ini dia tak takut lagi denganmu. Sebenarnya aku juga tak yakin kalau kau itu kuat, tapi demi tidak mendengarkan pertengkaran kalian setiap hari maka aku rela memujimu" Kai membatin sambil tersenyum sinis membayangkan bagaimana wajah Kris jika tahu bahwa ia memujinya.

...

Keesokan harinya Kai berangkat ke sekolah seperti biasa, sendirian sambil melamunkan kejadian semalam. Kejadian tadi malam itu benar-benar mengganggu pikiranya, apalagi sesampainya di rumah Baekhyun sama sekali tidak mau di tinggal sendirian. Jadi terpaksalah si tampan Kai menemaniya hingga pagi menjelang. Berkali-kali si mungil itu mengngigau dalam tidurnya, membuat Kai tak tenang.

Ketika Kai berangkat pagi ini, Baekhyun masih terlelap jadi ada perasaan sedikit khawatir kalau tiba-tiba Baekhyun mencarinya. Tapi tak lama kemudian Kai menepis pemikiran bodoh itu.

Sejak kapan aku suka menghkawatirkanya? Otakku sedikit bermasalah pagi ini.

.

.

.

Kris benar-benar terlihat mencolok ketika berada di tempat yang salah seperti saat ini. Rambutnya yang pirang menarik perhatian beberapa orang, namun si jangkung itu tetap pede dan mengedarkan pandanganya ke berbagai arah. Sebenarnya sekarang Kris berada di sekolah Kai, untuk menjemput keponakanya pulang meskipun sekarang belum waktnya pulang. Tapi karena di rumah ada sedikit masalah jadi ia harus bisa menyeret Kim Jongin pulang.

Masalah pertama yang harus di hadapi Kris saat ini adalah letak kelas Kai, ia benar-benar lupa menanyakan dimana kelas Kai pada nyonya Kim, apalagi handphonenya ketinggalan karena terburu-buru. Saat metanya melihat seorang namja pendek dan putih melewatinya, Kris langsung saja menghentikan pejalan kaki tersebut.

"heeeii...namja mungil, aku ingin bertanya sesuatu" namja yang dipanggil Kris dengan sebutan 'namja mungil' tadi menoleh dan menunjuk dirinya sendiri, seolah bertanya 'apa benar aku yang kau panggil namja mungil' dan Kris menganggukkan kepalanya sebagai jawaban

"seenaknya saja kau memanggilku namja mungil, kau tak tahu kalau aku ini seorang s-"

"sssssttt...aku hanya ingin bertanya sebentar" Kris memotong perkataan namja mungil tersebut sambil menaruh satu telunjukknya di depan bibir si mungil tadi "apa kau tahu dimana kelas Kai? Ini keadaan darurat aku butuh dia sekarang"

"mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Memangnya kau siapa? Tampangmu saja seperti penipu"

"heeei...jangan sebut aku penipu. Jawab saja pertanyaanku agar semua ini cepat selesai"

"aku tidak mau menjawabnya"

"Kaaau-" Kris kini sedikit berang dan mulai memojokkan namja mungil tadi ke tembok. Wajah mereka berdekatan, Kris semakin membuat wajahnya seolah-olah sedang marah. Lalu-

"yaaa...Kris, Suho Songsaenim. Apa yang kalian lakukan?" namja yang dicari oleh Kris sedari tadi, nyatanya kini sudah berada dihadapanya, datang sendiri malah. Kris buru-buru melepaskan perangkapnya dari tubuh si mungil yang ternyata bernama Suho, dan yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah fakta bahwa Suho adalah seorang Saem.

"Kai, ayo cepat kita pulang! Baekhyun tak mau keluar dari dalam kemar seharian ini" Kris sudah tak berani memperhatikan wajah Suho yang sudah menampakkan wajah sok berkuasa.

"tapi aku masih ada kelas"

"ini jauh lebih penting"

"ta-tapi?" Kai berada di posisi yang membingungkan karena saat ini belum waktunya pulang. Namun matanya tak sengaja melihat Suho yang dari tadi asyik mendengar percakapanya dengan Kris "Suho Saem, bolehkah aku ijin pulang? Ada hal gawat sedang terjadi di rumah" Kai yang biasanya terlihat sanagar kini memasang tampang memelas sambil menangkup kedua tanganya di depan dada

"yaaa...yaaa...pulanglah! nanti aku ijinkan kalau kau sakit. Tapi jangan lupa! Bawa juga bule jadi-jadian ini" Kris yang merasa disindir langsung saja menatap Suho sambil memicingkan mata.

"baiklah saem, aku akan membawa tiang listrik ini kembali ketempatnya"

Kai menyeret Kris pergi, karena Kris tak kunjung melepas tatapan matanya dari Suho. Sepertinya Kris terpesona dengan si mungil Suho

...

"Baekie...cepat buka pintunya! Ini aku Jongin" Kai langsung saja berlari turun dari mobil Kris saat sudah berada di depan rumahnya. Nyonya Kim yang melihat Kai berlari seperti dkejar maling tentu saja heran, tidak biasanya Kai bersikap bergitu, seperti bukan anaknya saja, pikir nyonya Kim.

CEKLEEK

"Jongiiiiiiin...hiks...hiks" setelah Baekhyun membuka pintu, ia langsung saja menangis ketika melihat Kai berdiri dihadapanya. "Jongiiin" Baekhyun masih saja menangis sambil mengusap matanya dengan satu tangan.

"uljimaaa...ssst" satu tangan Kai digunakan untuk menghapus air mata yang keluar dari mata sipit Baekhyun "aku sudah pulang. Jangan membuat orang khawatir Byun Baekhyun"

"Baekie hiks...takut Kalau appa tiba-tiba datang dan membawa Baekie pulang hikss"...Baekie takut dipukul"

"apa kau memang cengeng dari dulu?" Tanya Kai sambil menyeret Baekhyun agar kembali masuk ke dalam dan mendudukkanya di atas ranjang.

"Baekie dulu...hiks...tidak cengeng, tapi semenjak Appa sering memukuli Baekie, Baekie jadi sering menangis karena kesakitan"

"memangnya kenapa appamu memukulmu?"

"i-itu karena...karena Baekie suka mengambil barang orang lain akhirnya eomma pergi dari rumah dan semenjak itu appa suka memarahi dan memukul Baekie"

"apa kau sudah makan?" Kai akhirnya mengalihkan pembicaraan karena melihat Baekhyun hendak menangis lagi. Dan Baekhyun menggelengkan kepala sebagai jawaban.

"apa kau mau es krim seperti semalam? Ayo kita beli lagi" dan Baekhyun terlihat antusias dengan ajakan Kai.

Kai berpamitan pada eommanya dan segera membawa Baekhyun keluar. Nyonya Kim hanya memperhatikan kedua putranya dari jauh

"seperyinya Kai terlihat berbeda semenjak ada Baekie, bukan begitu Kris?" karena tak ada tanda-tanda kehidupan dari namja bernama Kris tadi, akhirnya nyonya Kim menoleh dan mendapati Kris tengah melamun sambil bersidekap. 'ada apalagi dengan anak ini? Kemana sifat pedenya yang terlalu over itu? Apa ini karena Baekie juga?'

Kali ini Kai mengajak Baekhyun masuk kedalam toko, tapi tangan Kai tak pernah lepas dari jemari Baekhyun. Saat hendak membayar di kasir, Kai menggeledah semua kantong yang ada di tubuh Baekhyun dan ia mendapatkan 3 benda seperti baterai, bolpoint dan satu snack. Kai hanya tersenyum dan membayar barang yang dibelinya serta barang yang di ambil oleh Baekhyun.

Baekhyun menunggunya diluar karena Kai yang menyuruh. Ia ingin meminta maaf karena kelakuan Baekhyun yang suka mengambil barang, namun ajushi si pemilik toko malah menjawab

"aku sudah tahu tentang penyakitnya, tapi aku biarkan saja" Kai yang tadinya hendak mengeluarkan uang dari dalam dompet hanya bisa menatap ajushi dihadapanya dengan eksprsi tercengang.

"ja-jad selama ini ajushi tahu"

"tentu saja nak. Dari kecil keluarganya hidup miskin, dia tidak seberuntung dengan teman-temanya. Terkadang ia hanya berdiri di depan etalase toko sambil memandang kedalam karena tak memiliki uang untuk membeli sesuatu"

"jadi ajushi mengenalnya dari dulu?"

"aku hanya sering memperhatikanya, Rumahnya tak jauh dari sini. Saat ibunya pergi dari rumah ia semakin sering mengambil barang-barang tidak hanya dari tokoku tapi barang milik temanya juga. Dan semakin sring juga ajushi melihat tubuhnya penuh dengan memar karena di pukul appanya"

"ajushi tak marah jika Baekhyun mengambil barang-barang di toko ini?"

"mau bagaimana lagi? Ajushi kasihan melihat hidupnya yang bergitu menyedihkan. Tak ada seorangpun yang menyayanginya. Kuharap kau jangan melakukan hal yang bisa menyakiti si kecil itu nak"

"a-akan kucoba ajushi" Kai mengangguk pelan sambil tersenyum kaku, sebelum pergi ia tak lupa menyerahkan uang es krimnya kepada ajushi si pemilik toko.

"Baek-...Baekie kau dimana?" saat Kai keluar dari dalam toko, ia tak bisa menemukan Baekhyun dimanapun. Namun ia mendengar sebuah teriakan yang memanggil namanya, seperti 'Jongggin...Jonggiiin'

Firasat Kai berubah buruk saat suara yang meneriakkan namanya semakin melemah. Dengan cekatan Kai mengitari beberapa gang sempit yang ada dipertokoan, berharap Baekhyun berada disana. Dari arah berlawanan terlihat namja mungil berlarih dengan tertatih-tatih, sedangkan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dibalakang namja tersebut masih ada namja lain yang mengejar dengan tatapan berang, tapi beruntunglah namja mungil yang ternyata Baekhyun sudah berada tepat dihadapan Kai, lalu ia bersembunyi di belakanya.

"kemari kau namja sialan"

"Baekie tak mau...hiks...appa akan memukul Baekie lagi..."

"dasar anak tak tahu berterimakasih" appa Baekhyun memandang sekitar seperti mencari-cari sesuatu, dan saat matanya berhasil menemukan sebuah kayu yang cukup besar, ia tersenyum jahat sambil memandang Baekhyun yang bersembunyi di belakang Kai. Kai menelan ludahnya kasar saat membayangkan bila kayu tersebut mengenai dahinya atau dahi Baekhyun.

"mau lari kemana lagi kalian hah?"

DAN BERSAMBUNG

Maaf sekali beibeh-beibeh karena part 3 ini lamaaa banget updatenya, mungkin kalian sampek lupa yah? Huuuft...saya g mau banyak omong, ntar malah