Terlambat
.
.
.
Disclaimer : Aoyama Gosho
{Terlambat version dari Ran Mouri's POV}
Kau mengikuti dia berjalan di atas rumput. Kau memperhatikan dia dalam diam. Dia hanya mengatupkan bibirnya rapat, alisnya berkerut dan tangannya terkepal mengayun mengikuti langkah kakinya yang cepat.
Setiba di mobil, kau dan dia masih belum bertukar sepatah katapun. Sepanjang perjalanan kau berkali-kali mencuri pandang ke arah dia. Kau memperhatikan dia mencengkeram setir kemudi dengan erat. Dia mulai memacu mobilnya dengan kencang secara tidak sadar.
Kau cemas dan berteriak memanggil namanya ketika mobil kalian hampir menabrak mobil lain yang sedang berhenti di depan kalian karena lampu merah. Dia tersentak dan segera menginjak rem sebelum mobil kalian sempat bersentuhan. Gerakan rem yang mendadak membuat kalian tergoncang ke depan dan bahu kalian bersentuhan. Kau lalu memegang tangannya dan dia menoleh padamu sambil tersenyum lemah. Dia meminta maaf dan beralasan karena tidak berkonsentrasi akibat kurang tidur. Dia berjanji akan menyetir mobil hati-hati setelah ini.
Kau tau apa yang ada dipikirannya sepanjang siang tadi.
Kau melihat tatapan mata dia pada wanita itu dan tatapan mata itu bahkan tidak berubah setelah bertahun-tahun. Kau tau dia berulang kali memejamkan matanya dan akhirnya menundukkan kepalanya ketika pendeta datang untuk memulai pemberkatan yang diakhiri dengan ciuman kedua mempelai. Kau juga tau dia yang pertama kali bangkit sebelum prosesi pernikahan selesai lalu pergi begitu saja mengabaikan tatapan aneh para tamu dan wanita itu. Kau tergopoh-gopoh mengikutinya dan hendak memanggil namanya namun kata-katamu tersendat, tak mampu keluar.
Kau teringat ketika dia pertama kali mengenalkan wanita itu padamu. Dia bilang kalau wanita itu adalah salah satu klien yang berkerjasama dengan dia pada saat dia menghilang untuk menyelesaikan kasus beberapa waktu lalu. Ada perasaan yang mengganjal di hati begitu melihat keakraban mereka.
Ketika wanita itu menghilang untuk pertama kalinya, dia panik dan mencarinya ke seluruh penjuru Japan. Dia juga mengontak FBI untuk membantunya. Dia beralasan kalau wanita itu sebatang kara di dunia ini dan dia bertanggung jawab atas keselamatan wanita itu. Padahal kau tidak pernah melihat dia secemas itu. Kau mulai bertanya-tanya dalam hati. Apa arti wanita itu baginya. Wanita itu akhirnya kembali setelah pencarian besar-besaran.
Tapi keadaan menjadi lebih buruk.
Saat itu kalian sudah menjadi sepasang kekasih, tetapi dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan wanita itu daripada berkencan dengan kau. Dia mengabaikan kecemasanmu dengan berdalih kalau wanita itu sekarang telah menjadi partner detektifnya dan wanita itu banyak membantu dia dalam memecahkan kasus dan misteri. Kau marah dan cemburu. Tapi kau tak mengatakannya terus terang. Sahabat kau yang menyadari hal ini kemudian berinisiatif sendiri menemui wanita itu. Kau tak tau apa yang dibicarakan mereka karena setelah ini, wanita itu menghilang lagi.
Dalam hati kau merasa lega sekaligus cemas akan reaksi dia. Kecemasanmu terbukti karena dia marah besar tapi dia tidak mencari wanita itu lagi. Mungkin sebagian karena surat yang ditulis wanita itu, yang selalu disimpannya baik-baik, dan sebagian karena kau selalu menangis karena bertengkar dengan dia. Memintanya untuk memilih, kau atau wanita itu, yang membuat dirinya murung sampai beberapa saat lamanya.
Kau tau kau salah karena telah memaksanya. Tapi kau telah dibutakan oleh emosimu. Setelahnya kau berusaha sekuat tenaga untuk lebih memahami dia dan pekerjaannya. Kau sangat mencintainya dan tak rela membagi hatinya dengan wanita lain. Apalagi wanita itu.
Kau mengira dia telah melupakan wanita itu ketika dia akhirnya melamarmu walau mungkin karena telah didesak berulang kali oleh kedua orang tua kalian. Pernikahan kalian berjalan lancar. Kau merasa kau adalah pengantin paling berbahagia di dunia ini. Kau tak pernah melupakan sosok dia dalam suit and tie berwarna putih dan kalian sama-sama saling mengucapkan janji sehidup semati.
Kau merasa puas atas kehidupan pernikahan kalian walau dia malah semakin jarang di rumah karena selalu sibuk menerima kasus seiring namanya yang semakin terkenal di dunia.
Kehidupan kalian baik-baik saja hingga hari ini.
Kelakuan dia yang aneh selama seminggu ini terjawab sudah. Dia ternyata baru memberitaumu kalau wanita itu menikah hari ini walau undangan berwarna merah itu telah seminggu berada dalam laci mejanya. Kau menyesal karena tidak mengecek nama pengantin walau telah melihatnya saat mengatur isi lacinya.
Kau memutar cincin berlianmu perlahan dengan jarimu yang gemetaran. Kau tak mampu menahan kesedihan yang menyesak di dada hingga ada setetes air mata yang menyelinap jatuh di punggung tanganmu. Kau cepat menghapusnya.
Kau terlambat menyadarinya.
Walau kalian sudah bersama sekian lama, hatinya tetap bukan milikmu.
Kau tidak menyadari kalau mobil kalian sudah sampai di depan rumah kalian. Dia mencabut kunci kontak dan heran melihat kau termenung menyandar ke kaca mobil.
Matanya bertanya-tanya ketika melihat wajahmu, tangannya ragu-ragu terulur meraih pipimu membuatmu tersentak karena ternyata air matamu mulai turun tak terkendali.
Bibirmu gemetar.
Kau ingin meneriakkan pertanyaan yang berputar-putar di kepalamu sepanjang perjalanan ini.
Apa dia masih begitu mencintai wanita itu sehingga dia sendiri bahkan tak menyadarinya selama ini?
Tapi tidak ada suara yang keluar dari bibirmu, hanya tetesan air mata jatuh membasahi wajahmu.
Kau tau bahwa kau dan dia sudah terlambat.
...dan tak ada jalan kembali.
FIN
.
.
.
His hands are saying that he wants to hold her. His feet are saying that he wants to chase after her… he's probably forgotten that I'm here, beside him.
Ai Yazawa - Tenshi Nanka Ja Nai Kanzenban- Vol 1
A/N : Terlambat version dari Ran Mouri POV. Kau adalah Ran Mouri, Dia itu Shinichi dan wanita itu Shiho Miyano.
Fic ini sudah lama di komputerku jadi sekalian diupload aja hari ini. Quote tambahan di akhir gw tambah karena gw pikir sesuai dengan isi cerita.
Thanks sudah meluangkan waktu untuk membaca. ;)
