Disclaimer: Naruto'll always be Masashi Kishimoto's. I don't take any profit from using the characters on this story.

Warning: typos yang pasti akan selalu ada, gajeness alert, crack ( maybe ), minim dialog, Sakura's POV di awal, 3rd POV pada cerita inti, kembali pada Sakura POV diakhir cerita ( pusing? Emang, saya juga pusing. ), AU, incest ( maybe? )


Dan seiringnya waktu, berlembar-lembar kisah terus tertoreh dalam buku takdir, mencatat tiap detil cerita tanpa satu detik pun terlewatkan.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun … Kami hidup selayaknya saudara. Setelah Nii-san bersedia mencurahkan isi hatinya padaku, sedikit demi sedikit dinding kasat mata yang memisahkan kami mulai terkikis termakan waktu.

Nii-san melanjutkan hidupnya di luar negeri, melanjutkan pendidikannya dan menapaki dunia karier yang memiliki prospek lebih cerah di luar sana, sementara aku terus terkungkung dalam dunia lama kami sambil memperhatikan perkembangan zaman yang mulai tampak.

Setelah aku lulus kuliah dan bekerja selama kurang lebih tiga tahun, Sasuke-kun―cinta pertama dan terakhirku―meminangku dan mengajakku untuk meniti kehidupan baru bersama―yang tentu saja aku terima dengan senang hati. Tou-san, Kaa-san dan Nii-san pun menerima hubungan kami dengan baik.

Saat kami mengikat hubungan kami di depan altar, Nii-san bahkan menyempatkan diri untuk pulang ditengah kesibukannya yang amat padat.

Dan setelah sekian lama, Nii-san memutuskan untuk kembali pada dunia yang menyimpan sejuta kenangan kami―rumah. Satu tahun setelahnya, Nii-san menikahi seorang gadis yang amat cantik―dengan usia yang lebih muda dua tahun dariku. Pernikahan mereka berlangsung dengan bahagia.

Dan roda kehidupan terus berputar. Dari generasi lama, hadirlah generasi baru yang akan meneruskan tujuan hidup generasi lama tersebut. Dan seiringnya waktu, raga yang dahulu muda dan membara digantikan oleh raga tua yang tenang dan bijaksana karena telah merasakan garam dunia cukup lama.

Kadang hidup itu adalah pilihan, dan kadang kita ditemukan pada pilihan yang sulit. Namun pilihan apapun yang kita ambil itu pastilah adalah pilihan yang terbaik.

Dan pilihanku adalah, hidup bersama dengan Nii-san, seperti janji kami dulu.

Bahwa kami tidak akan pernah dipisahkan. Kami akan saling melindungi satu sama lain.

Kami akan hidup selamanya sebagai saudara.

.

.

.


Ikatan

By: taintedIris


Ikatan ini, ikatan yang tak akan pernah terlepas


Epilogue

3rd people POV


Suara klakson mobil memecah keheningan komplek perumahan tua tersebut. Dan dari mobil Nissan berwarna perak itu, terlihatlah sosok wanita berusia 80 tahunan di sana. Seorang lelaki dengan rambut sekelam malamnya beranjak dari kursi supirnya―membukakan pintu bagi sang Obaa-san yang kelihatannya tidak sanggup untuk membuka pintu di sampingnya.

"Obaa-san, hati-hati turunnya." lelaki itu memegang tangan wanita yang dipanggil Obaa-san itu dengan lembut dan hati-hati―menuntun sang wanita hingga kaki rentanya dapat memijak tanah dengan mantap. Sang wanita pun tersenyum lembut pada cucunya. Terlihat keriput-keriputnya mengerut sementara lengkungan dibibirnya tak kunjung mengendur.

"Aku masih bisa turun sendiri, Eichi-kun. Bilang pada Daichi-kun aku akan menginap di sini sampai akhir minggu ya. Kadang Tou-sanmu seperti orang kesetanan kalau tahu aku tidak ada di rumah."

Lelaki yang dipanggil Eichi itu hanya bisa tertawa geli sambil menganggukkan kepalanya.

"Ha'i, Obaa-san. Ayo, kita masuk dulu." Lelaki itu pun menuntun sang nenek sambil membuka pagar bercat hitam yang berada di depannya. Di belakang mereka terdapat seorang wanita yang tengah membawa tas kecil berisi pakaian milik wanita tua di depannya.

Baru saja mereka membuka pintu, seorang anak kecil berusia 7 tahun langsung menerjang tubuh ringkih si wanita tua. Untunglah ada sang cucu yang sigap menopang tubuh sang nenek kapan saja.

"Sakura-Obaachan! Aku kangen sekali!~" pekik si gadis dengan surai kecoklatannya itu dengan nada riang. Wanita tua yang dipanggil Sakura itu kembali mengembangkan senyum jenakanya sambil mengelus-elus pucuk kepala sang gadis kecil dengan lembut. Tak lama, terlihat seorang wanita dengan rambut kecoklatan datang dari arah dapur dengan langkah tergopoh-gopoh.

"Aduh, Mari-chan, jangan begitu dong sama Obaa-chan. Nanti kalau Obaa-chan jatuh bagaimana?"

Si gadis yang dipanggil Mari-chan itu menatap wajah sang Kaa-san dengan wajah cemberut.

"Tidak akan kok. 'Kan ada Eichi-Niichan yang selalu menjaga Obaa-chan."

Kata-kata yang lebih pantas dikeluarkan oleh si lelaki yang sedaritadi berdiri di samping sosok Obaa-channyaitu meluncur dari bibir gadis berusia 7 tahun tersebut. Gelak tawa sontak keluar dari bibir Eichi.

"Kata-kata itu lebih pantas diucapkan oleh Nii-chanmu ini, Mari-chan." ujar Eichi sambil mengacak-acak rambut Mari.

"Nana-Neechan, aku titip Kaa-san ya minggu ini. Katanya ia kangen ingin bertemu Sasori-jiisan." Suara feminim terdengar dari belakang sosok Sakura. Di sana berdiri Uchiha Mitsuko, menantu dari Sakura. Senyum pun terkembang dari bibir wanita yang dipanggil Nana tersebut.

"Tentu saja akan kuterima dengan senang hati, Mitsuko-chan. Lagipula Tou-san kelihatannya sangat kesepian semenjak Kaa-san meninggal tiga tahun yang lalu. Kalau ada Sakura-Baasan pasti Tou-san akan tersenyum lagi."

Percakapan kedua ibu rumah tangga itu pun berlanjut, sementara Sakura tengah bermain bersama sang cucu perempuannya. Si cucu laki-laki pun menemani kedua sosok wanita dan gadis yang amat ia sayangi sebagai keluarga itu sambil tersenyum.

.

.

"Kami akan menjemput Kaa-san minggu sore ya. Selama itu, jangan rindukan kami," ujar Mitsuko jenaka kepada sang Kaa-san yang mengangguk sambil tersenyum.

"Kalian yang seharusnya jangan rindukan aku. Aku yakin rumah pasti akan sepi kalau tidak ada aku di sana." Gelak tawa kembali meluncur dari trio Uchiha itu. Dan perlahan, mobil yang dikendarai sang cucu pun mulai bergerak, meninggalkan sosok nyonya besar Uchiha itu bersama keponakannya dan cucu perempuannya.

Sakura yang sedaritadi menatap mobil yang mulai menjauh itu pun tersadar ketika sebuah tangan menepuk pundaknya lembut.

"Sakura-Baasan, masuk yuk. Hari sudah menjelang siang lho."

Wanita tua itu pun membalikkan tubuhnya. Senyum kembali terkembang dari wajahnya yang telah terkikis kecantikan masa mudanya oleh waktu.

"Baik, baik."

.

.

Sakura menapaki lantai rumah bergaya tradisional nan besar itu dengan langkah pelan dan tenang. Tak tampak guratan lelah dari wajahnya, meskipun ia telah berjalan cukup jauh. Mungkin inilah yang tak pernah dikikis sang waktu dari tubuhnya―semangat yang membara.

Tujuh tahun sudah ia ditinggalkan oleh sang pendamping hidup tercintanya, dan tujuh tahun sudah ia melakukan aktivitas yang sama―mengunjungi sang Nii-san yang tinggal di luar kota. Meskipun jauh, namun ia masih bisa mengunjungi Nii-sannya itu dua minggu sekali. Berterima kasihlah ia pada sosok anak dan cucunya yang senantiasa berusaha meluangkan waktunya hanya untuk mengantarnya.

Dan Nii-sannya itu selalu menyambutnya dengan wajah tersenyum disetiap kedatangannya. Mereka bermain bersama setiap hari, dan tidur bersama di malam hari―seperti yang mereka lakukan di masa lalu.

Beruntungnya ia, kebiasaannya itu tidak mengganggu istri sang Nii-san―mengingat sosok Nee-sannya itu tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit sejak beberapa tahun yang lalu karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Nii-sannya itu pasti sangat sedih dan kesepian.

Langkah kaki rentanya diiringi oleh suara gemerisik yang ditimbulkan oleh angin sepoi-sepoi yang berterbangan disela-sela dedaunan―membuat daun-daun itu bergesek satu sama lainnya. Dan dapat Sakura rasakan semilir angin yang sejuk menerpa lembut tubuhnya.

Senyuman kembali terkembang di bibirnya ketika ia melihat pintu yang menjadi tujuannya―pintu yang berada di ujung koridor yang amat panjang itu. Sakura mempercepat langkahnya namun tidak berlari, mengingat ia bukanlah anak kecil seperti dulu lagi.

Jantungnya berdebar lebih cepat, dan adrenalinnya seakan semakin berpacu ketika ia semakin mendekati pintu di depannya. Dengan gerakan pasti, Sakura pun membuka pintu di depannya.

Kedua iris viridiannya itu menangkap sosok sang Nii-san yang tengah bermain bersama boneka beruang kesayangannya dan beberapa boneka lainnya. Dapat terlihat beberapa set peralatan minum teh dari bahan perak menghiasi kamar dan meja kecil di depannya. Dan dapat terlihat di sana beberapa camilan minum teh pada piring dari perak itu, dengan aroma teh sakura yang memenuhi ruangan itu.

Sosok itu pun membalikkan badannya. Kedua iris hazelnya yang tak kunjung padam kehangatannya itu mengerjap-kerjap beberapa kali, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa matanya tidak rabun.

Di depan lelaki itu berdiri sesosok gadis kecil dengan rambut merah muda pendeknya yang dikuncir dua. Nafas gadis itu tersengal-sengal. Bibirnya pun terbuka―terlihat berusaha memasok udara guna mengisi stok oksigen pada paru-parunya. Pada tangan gadis itu, terdapat sekantung permen jelly beraneka warna kesukaannya. Senyum lebar pun terkembang dari bibir gadis manis beriris viridian tersebut.

"Nii-chan, ayo main!"

Senyum pun terkembang dari bibir pria tua renta itu. Dari wajahnya, terlihat jelas kerutan-kerutan yang semakin mengkerut tatkala bibir itu membentuk senyuman lebar.

"Ayo, Imouto!"

.

.

.


Sosok itu terlihat tengah memunggungiku tatkala siluet kehitaman tengah melindungi punggung ringkihnya dari terpaan hujan yang cukup deras. Sesekali dapat tertangkap oleh mata rabunku, beberapa getaran yang ditimbulkan oleh punggung itu. Entah itu permainan mata atau apa, namun rasanya mataku masih cukup normal untuk melihat getaran itu.

Kuhampiri sosok yang masih memunggungiku itu. Dan pandanganku pun terfokus pada batu nisan yang berada di depanku tersebut. Perlahan, kutepuk punggung sosok yang terlihat begitu rapuh itu. Senyum pun kuberikan padanya.

"Nii-san, aku akan selalu menemanimu. Aku berjanji akan selalu bersamamu. Aku akan berusaha untuk menggantikan posisi Nee-chan."

Sosok itu berbalik, mememperlihatkan kepadaku kerapuhan yang telah lama sekali tak dapat kulihat. Kerapuhan yang dulu ia perlihatkan kepadaku berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sosok itu sesegukan.

"Kau … janji?" tanyanya serak. Aku pun menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Nii-san. Aku berjanji."

Ah, déjà vu. Rasanya aku seperti pernah mendengar kata-kata itu dulu. Aku ingat, itu adalah janji masa kecil kami, hanya saja dulu Nii-sanlah yang mengucapkan janji itu. Janji yang secara tidak langsung telah mengikat kami, janji yang dulu dibuat atas dasar kepolosan pikiran anak-anak tanpa tahu betapa dalamnya arti janji itu.

Namun sekarang aku mengerti betapa kuatnya ikatan janji itu. Janji itu yang membuat ikatan kami terus bertahan, ikatan itulah yang membuat kami terus bersama―berjalan beriringan dalam roda kehidupan yang tak berhenti berputar.

Aku dapat melihat senyum tipis terbentuk dari bibir Nii-san yang sedikit pucat karena kedinginan. Aku pun mengeratkan peganganku pada lengan Nii-san, dengan senyum yang tak lepas dari bibirku.

"Ya, Imouto, kita akan selalu bersama …"

.

.

.

.

.

Fin


okee, saya kembali dengan lanjutan fic ini. dan dengan chapter ini fic ini selesai.

dan saya mau mengucapkan banyak terima kasih buat mereview. :DDD review kalian menambah semangat saya buat neglanjutin fic ini.

akhir kata, mind to RnR?