Idol Next Door
— you gotta be there for me too —
.
.
002
; dreaming you.
.
©Jo Liyeol
first update in new year!yey
selamat tahun baru semuaaa
deadly typo!so dangerous.
...
Pagi pukul delapan, Yoongi keluar rumah usai Jungkook-Seungkwan pamit berangkat sekolah. Ia duduk di depan teras, bersiap ke kampus berbalut jaket army, jins hitam selutut dan ransel Jansport yang mengkait di sebelah pundak. Ia menunduk mengikat Vans auth-nya, membiarkan surai hitam yang di bungkus beanie senada itu nyaris menutupi mata.
Yoongi menoleh ke pintu setelahnya, menyelingak sebentar mendapati Jeonghan berdiri lama di depan kaca, "Gondrong! Bilang anak-anak aku berangkat, hari ini ada kelas pagi!" serunya otentik; jerit kencang dari rongga respirasi yang kuat.
Dibalas acungan jempol dari manusia di dalam.
Lantas Yoongi bangkit, merapihkan sejenak tatanan jaketnya sebelum melangkah keluar.
Menyempatkan diri menuangkan air ke tanah damascena yang kering di sebelah gerbang, lalu melewati dan mengunci benar jalur utama kediaman mereka.
Di saat bersamaan, Jimin keluar gapura rumah lengkap dengan celana training, topi NBA, nike sewarna celana, kaos merah polos dan segala penyamaran —masker naga, semacam tindikan sapi di hidung, juga kacamata disko warna-warni; kalau hal-hal ini bisa disebut alat penyamaran— untuk mengelabui identitas aslinya. Bersiap jogging mengelilingi kompleks.
Membelakangi Yoongi sekedar mengunci daun gerbang kediamannya. Lalu berbalik di saat yang sama ketika si Min pun melakukannya.
Membuat mereka bersitatap.
Sejenak.
—hanya untuk menjadikan Min Yoongi histeris.
Menjerit heboh seraya melompat ke belakang; hingga tubuhnya membentur tralis gerbang, "KOLOR TERBANG! Tuhanku—ada tuyul! Tuyul! Tuyul sekarang muncul pagi-pagi ya lord!"
Seketika Jimin ikut mundur merapat ke gerbang rumahnya sendiri, lalu menoleh gaduh ke sana-ke mari, "Mana?! Mana?!"
Ikut histeris hingga menjadikan Yoongi mengerjap.
Mahasiswa Universitas Seoul ini mendelik bingung, mencermati seksama jenis apa makhluk di depannya. Lantas. Bahunya merosot, respirasinya kembali lancar, ia mendesau berat seraya menegapkan diri.
Retinanya mengamati figur manusia yang masih mencari-cari persis orang linglung.
"Hei," Yoongi menegur sekali, vokalnya kembali berat seperti biasa, "Kau salah satu member SVB 'kan?"
Maka Jimin berhenti dari kelakuan unrasionalnya.
Beralih menatap Yoongi tepat di retina.
Ia berkedip beberapa kali; tidak memahami mengapa atensinya tak dapat beralih dari sosok ini; dari surai hitam yang menggantung, sekembar retina kelam di dalam proposi mata sipit, kulit pucat bersih, bibir merah ranum, juga bagaimana penempatan hati-hati yang Tuhan susun di wajah itu; tak juga mengurangi kecantikan mutlak meski tanpa raut sekalipun.
Menghidupkan sekelebat debar yang berdegup anomali di jantungnya.
Tapi kemudian, ketika Yoongi mendecak Jimin kembali ke akal sehat. Berdeham sekali lantas tersenyum gugup menjadikan masker naganya berkerut-kerut, hidungnya yang mengembang membuat tindikan besar di itu bergoyang-goyang, sementara cahaya dari kacamatanya masih berkelap-kelip.
Jimin mengangguk banyak sekali; polos, inosen, tolol luar biasa, "Yeah, yeah."
—fucking freaky, dude.
Absurd, batin Yoongi tidak habis pikir. Bagaimana bisa salah satu member dari grup idola terpanas berkeperibadian begini bodoh? Tidak dapat dipercaya sama sekali.
Yoongi mengembus napas satu kali, memutar bola mata lantas melangkah maju sekedar menepuk bahu Jimin di kiri, "As your as—whatever, i don't even care. Aku hanya menyarankan ini demi your pride, sebaiknya sana masuk lagi dan copot strange things yang menempel di mukamu itu. Kalau kau memang tidak ingin dikejar-kejar fans, sebaiknya olahraga dalam ruangan ... jangan di luar—jangan! Selama kau berpenampilan seperti ini, seumur hidup pun jangan! Atau kau bakal mati muda saat penyamaranmu terbongkar paparazi. Kutekankan, demi harga dirimu," sedikit condong, maju sebaris daun telinga hanya untuk berbisik rendah di sana, "... kalau kau masih punya harga diri," kemudian ia berlalu usai menepuk pundak Jimin dua kali, "Aku pamit, dah."
Menyisakan si Park yang termangu heran, isi otaknya amburadul sementara pangkal pikirnya terlalu kosong untuk mencerna kata-kata Yoongi.
Yang ia resapi hanya segala tentang suara berat yang memenuhi pendengarannya, paras cantik yang membelenggu pengelihatannya, dan semua hal anonim dari sosok itu yang mendebarkan jantungnya.
Mungkin setelah 19 tahun terlahir single, Jimin akhirnya mengecap rasanya jatuh pada seseorang.
Cinta pandangan pertama?
Meh, not bad tho.
.
.
Taehyung menepi di pinggir jalan dengan Mingyu dan Namjoon, keluar mobil sekedar memasuki kafe yang masih sepi. Menjaga privasi, mereka mengambil meja di lantai dua.
Ia tengah bersandar memainkan ponsel, menunggu pesanan ketika notifikasi muncul dari instagram Hoseok.
He just curious af, lantas membukanya sekedar menemukan foto si kuda yang sok tampan. Mengupload foto selfie, tersenyum lebar hingga hidungnya menganga buas sambil berV-sign ria. Tidak peduli kalau di background gambarnya ada Hansol dan Seungcheol yang tidur berpeluk-pelukan, Soonyoung terduduk di ranjang sembari menguap; muka bantal dan luar biasa blank, juga Jimin yang baru keluar kamar mandi (usai mencopot masker); melompat histeris, berekspresi horor dan super the power of kaget. Sebab terfoto telanjang dada, tercengang, hanya memakai kolor Doraemon.
Bukan masalah. Rezeki fans, kata Hoseok.
Taehyung terkekeh singkat di ujung bibir, jemarinya menscroll pelan mendapati caption yang diketik si Jung.
kelam terpupus ...
sang mentari menjejak ...
mengusir aksara malam berganti cahaya surya ...
embun pagi mengarmada bersama benderang jiwa ...
menyambut uluran Tuhan di lembar baru karunia ...
Quotes by Hoseok Jung 2K18.
happy new year, ARCA. maaf telat, schedule kami padat. unch :')
"Dasar puitis," ia mendecih pelan, sebelah alisnya terangkat.
"Kenapa?"
Taehyung menengadah mendapati ekspresi Namjoon dan Mingyu melirik heran padanya. Ia menggeleng, lantas memasukan ponsel ke saku jaket, "Bukan apa-apa. Hanya sekumpulan idiot."
Namjoon hanya tersenyum; tau betul apa yang dimaksud Taehyung. Sementara Mingyu menjatuhkan kelapa di sudut meja, menggeleng-geleng kecil tanpa ritme.
"Kapan pesanannya jadi?" ia meracau pelan, "Mau cepat pulang, Hyung."
Namjoon menepuk punggungnya, menggusak hingga leher berusaha menenangkan, "Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi."
Sedangkan Taehyung memicing sengit di sebrang, kakinya di bawah meja menendang tulang kering Mingyu. Menjadikan bocah itu menjerit, mendongak kesal, lantas menciut ketika mendapati cara Taehyung menatapnya.
"Jangan manja," si Kim menggerit sekali. Apatis; intonasinya kaku, acuh, beku, "Tadi kau sendiri yang minta ikut 'kan?"
Bukan pertanyaan.
Taehyung memasang tanda tanya di akhir hanya untuk menyudutkan Mingyu, menjadikan bocah itu terintimidasi, tidak memiliki pilihan selain menunduk dan mengangguk takut, "Mianhae."
"Tae ...," vokal Namjoon terdengar, menghadapnya tepat di retina saat Taehyung beralih padanya. Teduh, hanya isyarat menenangkan yang ia temui dari sepasang retina Namjoon menatapnya, "Jangan begitu."
Maka Taehyung menghela napas panjang, berusaha mengontrol diri untuk tidak memutar bola mata; karena ini Namjoon.
"Hyung, berhenti memanjakan anak-anak. Mereka sudah besar astaga," ia mendecak snobis, "Kami remaja—iya! Tapi kami bukan lagi bocah-bocah meler sewaktu trainee," Taehyung mendengus pelan, hazelnya berpendar gelap. Lantas menyokong diri sekedar menuntut Namjoon tanpa alih-alih, "Kau juga tidak perlu mentolerir segala keinginan Mingyu seperti itu. Dia idol, Hyung, dia harus tau mana yang boleh dan tidak boleh dia lakukan! Kalau kau terus memanjakan mau sampai kapan dia begini, hah? Kau tidak debut dengan kami saja sudah membuatku terpukul. Kalau kau terus melakukan ini, aku tidak tau harus lagi bagaimana cara untuk menatapmu!"
Menjadikan Namjoon menghela napas pelan. Tak membalas apa-apa, hanya menatap Taehyung dengan senyuman.
.
.
Pukul sebelas. Jihoon keluar kamar. Kemarin malam, setelah memakan banyak sekali kue beras ia berniat bangun sore —minggu berbunga-bunga baginya karena sekolah memberi libur dua hari— tapi matanya seketika terjaga tatkala menyesap aroma sedap. Melilitnya mati dan tanpa sadar menjadikannya terbangun utuh.
Ia mengikuti kakinya, hanya untuk menemukan Seokjin berkutat di dapur menggoreng ayam.
"Hyung," Jihoon melangkah mendekat. Sementara pemuda di sana menengadah kilat mendapatinya.
"Oy, sudah bangun?"
Jihoon memutar pandang sejenak, merasakan rumah mereka kosong, "Yang lain ke mana?"
"Sekolah lah, memang akademimu yang ngawur tiba-tiba libur?" Seokjin membalas sambil membalik gorengan di wajan, "Yoongi ada kelas pagi, Jeonghan baru saja berangkat ngampus."
Jihoon mendecak main-main, mendekati kulkas mengambil botol kola satu liter, menenggak seperempat isinya yang sisa separuh, "Kau tidak berangkat ke kampus, Hyung?" ia mengatakannya sambil menutup botol.
Seokjin menggedik sekali, mematikan kompor, mengangkat masakannya, "Nanti sore, aku niat mau ambil cuti semester."
Ucapannya lantas menjadikan Jihoon menoleh cepat, "Cuti semester? Kenapa?"
Pemuda itu melangkah sebentar mengambil piring di rak, "Mau cari kerja sambilan."
"Kitakan sudah kerja sambilan, Hyung, memang tidak bisa kau melakukannya sambil kuliah?"
Seokjin mendesis sekali, "Kau tidak mengerti, Ji," ia balik ke depan kompor, meniriskan gorengannya dari minyak, "... itu tidak cukup. Sekalipun rumah ini bukan kosan, kita punya hutang di rentenir. Aku mau cari lebih banyak pekerjaan, mungkin tidak bakal terlalu layak karena aku belum lulus, tapi setidaknya dengan begini kita bisa lebih banyak menabung. Aku tidak mau bebani anak-anak yang masih sekolah—kau, Wonwoo, Seungkwan, Jungkook—tidak. Membebani Jeonghan-Yoongi saja sudah cukup buatku."
"Ini bukan membebani, Hyung," Jihoon mendecak, "Kami tinggal juga di rumahmu loh, kita bekerja sama-sama melunasinya. Toh, aku dan Wonwoo sebentar lagi lulus. Tolong biarkan Jungkook-Seungkwan cari-cari kerja sambilan juga. Kau jangan cuti kuliah."
Seokjin meletakan masakannya di piring besar, berbalik, meletakannya di konter sebelah kulkas. Kemudian retinanya menatap Jihoon lama.
Menjadikan bahu remaja Lee itu merosot tatkala ia tiba-tiba berkata, "Ayam apa yang bikin degeun-degeun?"
Jihoon memutar bola mata jengah, "Ah ... masa bodoh. Please jangan mulai, Hyung."
Tapi Seokjin dengan besar kepala justru memicing menyebalkan sambil menangkup wajah sok imut, "Ayam miss you~"
Lantas menjadikan Jihoon menggebrak meja konter histeris, "Aku bilang masa bodoh! Kenapa masih dilanjuti, hah?!"
Akan tetapi Seokjin dengan bahagianya malah terbahak-bahak lewat cara tertawanya yang persis anak ayan.
Sumpah, kalau saja dia tidak ingat ini Seokjin. Sudah Jihoon goreng manusia di depannya jadi masakan tepung.
Fried Jin crispy tanpa tulang?
Yeah, so gore.
"Sudahlah, jangan terpesona begitu. Ini, kirim ayam-ayam ini ke tetangga depan."
Jihoon mendelik saat Seokjin menyodorkan gorengannya di piring, "Apa?"
"Kirim, cepat sana. Tanda permintaan maaf habis Yoongi pukul kepala mereka pakai kaleng kola," kemudian ia meringis dramatis, "—isinya masih penuh pula, segar sekali pasti."
Lagi, Jihoon memutar bola mata, acuh tak acuh; tanpa peduli teriakan Seokjin ia mengambil satu potong, memakannya apatis. Lantas membawa piring yang disodorkan padanya dengan paha ayam di mulut.
.
.
Jihoon memencet tombol interkom di sebelah gerbang tidak sabaran. Sumpah, memegang piring besar ayam dengan satu tangan pendeknya luar biasa susah, belum lagi paha ayam di mulutnya yang mau meloncat keluar.
Lagi, ia menekan tombol itu berulang kali. Hingga tak lama tralis gapura terbuka, memunculkan kepala bule yang menatapnya heran.
"Tetangga kemarin?" Hansol menatapnya separuh terkejut, lantas mengukir senyum cerah, "Halo."
Akan tetapi sahutan Jihoon justru pincingan sengit di mata, "Hai-hai pantatmu! Cepat buka! Ayamnya mau jatuh semua ini!"
Maka Hansol buru-buru membuka lebar gerbang kediamannya, membiarkan Jihoon beranjak begitu saja.
Usai mengunci pagar, separuh berlari Hansol mengejar Jihoon sekedar membuka buru-buru pintu masuk, "Silahkan."
Si Lee mamutar bolam mata persetan, melangkah ke dalam dan melepas sendal di depan pintu, "Permisi!" salamnya malas nyaris separuh teriak.
Lantas menjadikan Hoseok, Seungcheol, Jimin, juga Soonyoung yang berkumpul di ruang tengah menoleh ke arahnya.
"Oh?" bibir Jimin membola tipis.
Hoseok mendelik ke arah Soonyoung, "Siapa?" dibalas gedikan bahu dari si Kwon.
Sementara Seungcheol buru-buru bangkit dari duduk saat Hansol menyuruhnya masuk.
Masuk ke mana lagi, brengsek. Jihoon membatin emosional.
Jihoon menatap tajam sosok tinggi yang tengah menghadapnya; menatapnya heran. Maka ia menghela napas sejenak, "Aku tetangga depan, cuma menyampaikan kiriman Seokjin-hyung. Terimakasih kue berasnya, dan minta maaf soal kola Yoongi-hyung kemarin," ia mengulurkan tangannya cepat, "Nih."
"Oooh ... chikin!" Hoseok yang berseru heboh. Lantas melompat dari sofa sekedar mengambil alih piring di tangan Jihoon, "Kamsahamnida, tetangga-nim," berucap sok imut lalu kembali ke tempatnya duduk, langsung disambut Soonyoung yang merayah ayam di piring. Sementara Seungcheol hanya tertawa, Hansol melompati sofa; mengambil potongan sayap, sedangkan Jimin justru bangkit dari sana dan menghampirinya.
"Hei," ia menepuk sebelah bahu Jihoon sambil tersenyum lebar, "Yang kemarin melempar kami kola ... siapa namanya?"
Jihoon mengernyit tidak suka, menepis pelan tangan Jimin di bahunya, "Yoongi-hyung. Min Yoongi. Kenapa? Mau menuntutnya?" tanyanya asal.
Maka Jihoon menegang ketika Jimin menghentikan senyum, berganti menjadi sarat obsidian otoriter yang tajam.
"Iya."
Jihoon berkedip tiga kali, cepat, dan linglung luar biasa, "Hah?"
Apa ... a—apa-apaan?
Akan tetapi, ketika Jimin memegangi keningnya dramatis sambil membusur ke belakang, menekan kepalan tangan di dada lalu meringis hiperbola, Jihoon menganga dan nyaris memukul kepala orang ini tatkala ia berkata sambil lungsur di lantai, "Aku akan menuntutnya! Aku akan menuntutnya karena berani membuat jantungku berdebar! Aku akan menuntutnya karena lancang membuat pikiranku dipenuhi dirinya! Aku benar-benar akan menuntutnya karena kurang ajar membuatku jatuh cinta!" jeda, ia menunjuk-nunjuk langit ruangan, "Aku akan menuntutnya biar dia mendapat hukuman berat! Aku akan menuntutnya supaya dia di penjara—" kemudian bersimpuh membentuk emot OTL saat melanjuti, "... terpenjara di hatiku, selama-selamanya."
Kemudian Jihoon bisa lihat tulang-tulang ayam beterbangan menghantam kepala Jimin dari tiga orang di sofa, dan tepakan kasar mendarat di kepala si Park dari Seungcheol yang memicing jijik.
.
.
Sore hari, Seungkwan pulang sekolah bersama Jungkook. Melangkah di area perumahan mereka.
Si Boo banyak bicara seperti biasa, dan topik pembicaraannya sejauh ini semakin terfokus pada SVB. Sore kemarin, ia dan Jungkook menyepakati untuk merahasiakan dari teman-teman sekolah perkara ini.
Akan tetapi, semenjak tadi malam setelah si Jeon pulang membeli minuman (kola baru) Seungkwan tidak paham mengapa Jungkook tidak seperti biasa, remaja itu tak banyak menanggapi histeria fanboyingnya tentang SVB.
Hanya bergumam kecil dan mengangguk, sesekali malah tersenyum perih dengan raut yang sulit ditebak.
Tidak normal.
Biasanya, Jungkook bakal menanggapi sama histeris; soal seluk beluk photoshoot terbaru SVB, swagnya SVB di rebroadcast akun resmi KBR, fancam terup to date konser SVB bulan lalu, dan segalanya tentang SVB. Terlebih ketidak percayaan mereka soal tetangga depan rumah.
Apa Jungkook terlalu syok karena kemarin bertemu langsung (berhadap-hadapan) dengan Taehyung-hyung, biasnya yang Seungkwan paham betul jadi penyemangat hidup Jungkook selama ini.
Ah ... mungkin saja.
Atau, justru ada fakta lain yang Seungkwan tidak tau?
"Oh! Vernonie!"
Seungkwan membekap mulut heboh, tangannya memukul-mukul Jungkook; tepat sesaat usai ia mengalihkan pandang dari si Jeon.
Jungkook mendongak, mendapati Hansol yang keluar rumah membawa-bawa piring. Rautnya sumeringah sekejap, akan tetapi tak berlangsung lama tatkala ingatan tentang Kim Taehyung-hyungnya mengulang dalam benak.
—"Dengar,"—
—"Aku tidak seramah yang terlihat di televisi,"—
—"Jangan kira karena kau tetanggaku kau bisa bertindak semaumu. Aku tidak peduli kau fansku atau apa, tapi sumpah, aku benci sekali sesaeng sepertimu. Jadi kuingatkan sejak dini,"—
—"... apapun. Berhentilah sebelum kau berminat memulai apapun,"—
—"Paham?!"
Jungkook membeku di tempat, respirasinya tertahan seraya menunduk lamat-lamat. Mengalihkan pandang dari keberadaan Hansol.
Apa ... apa mereka semua memang seperti itu?—membatinnya mengudara bimbang, meraung dalam hati untuk mengatakan tidak dan tidak, namun faktanya ia telah bertemu jawaban yang terlalu jelas.
"Kook, ayo hampiri. Kita sapa Vernonie!" Jungkook mendelik menelisik antusiasme Seungkwan. Pangkal ternggorokannya nyaris mengatakan iya, tapi ia bungkam ketika persendian kakinya tak bekerja seirama.
Lantas, hanya ucapan, "Kau saja," yang ia beri dengan senyum lebar yang dipaksakan, "Kau tidak mau berduaan dengan Vernonie? Ini kesempatan emas Boo," ia berargumen berusaha mengalihkan Seungkwan dari beragam tanda tanya.
Maka Jungkook mengulum senyum utuh saat Seungkwan mengangguk riang lalu merangkulnya, "Thanks, bro."
"Yeah."
.
.
"Sedang apa?"
Hansol menoleh seketika ke sumber suara, tidak jadi berusaha membuka pagar rendah di depannya.
"Oh—kalian ... orang-orang yang tinggal di sini juga 'kan?"
Seungkwan mengangguk, sementara Jungkook tertegun sebentar.
—"Kau ...,"—
—"Salah satu dari orang-orang aneh itu 'kan?"
Jungkook tersentak di tempat, menjadikan Seungkwan juga Hansol menengok reflek padanya. Ia mengerjap banyak sekali, lalu bergumam cepat-cepat, "Aku masuk ya! Sukses Boo!"
Lantas membuka pagar dan setengah berlari masuk ke rumah.
Sial, idola kesukaannya—Taehyung-hyungnya, cinta matinya, impian masa depannya, semangat hidupnya.
Nyatanya bukan orang yang ia kenal selama ini.
"Dia ... kenapa?" Hansol berkedip berkali-kali seraya kembali menatap Seungkwan.
Sekedar menemukan si Boo menampakan cengir idiot ke arahnya.
Maka Hansol hanya menggaruk tengkuk pelan, ARCA—pasti orang di depannya ini salah satu fans mereka. Membuatnya bingung luar biasa mesti bagaimana, namun saat menunduk dan mendapati piring di tangan. Hansol buru-buru mendongak, "Oh! Piring, aku mau mengembalikan piring!"
Ia menyodorkannya ke remaja itu.
Dengan tangan gemetar, Seungkwan meraih piring bersih ini sambil berbunga-bunga dalam hati.
Ingatkan—TOLONG INGATKAN! Supaya Seungkwan memajang piringnya di kotak kaca!
"Terimakasih ayamnya, enak sekali ... kami menikmatinya," ia bicara sambil tersenyum hangat. Menjadikan si Boo membeku parah, nyaris mimisan andai kata ia tidak sempat menyadarkan diri.
Tampan sekali ya Tuhan!
Seungkwan jadi mau diperjakain!
Kemudian, terakhir kali melempar senyum ramah, Hansol menghentikan langkah saat berbalik buat kembali ke rumah ketika Seungkwan memanggilnya pelan.
"Hai!"
Hansol mengernyit tipis, hai? —batinnya heran.
Maka ia memutar tubuh, kembali menghadap remaja itu. Senyumnya terukir lagi, "Hai."
Masa bodoh lah kalau dianggap sama-sama gila.
Hansol sudah biasa menghadapi fans-fans linglung seperti ini.
Seungkwan menunduk malu-malu, "Boleh ...," jemarinya dengan tidak elit memainkan piring sok manja, "Aku memanggilmu Hansol saja?" kemudian, menggusak telinganya kikuk, "... hmm, Vernonie?"
Hening sebentar.
Hingga Hansol menjadikan Seungkwan sekarat tatkala ia tertawa singkat lewat volaknya yang berat, "Kenapa tidak? Kita tetangga?"
Hening lagi, Seungkwan mendongak menatapnya tepat di retina. Kosong dan luar biasa terpana.
"A—" Seungkwan menganga kaku, "Aaah ...," ia menghela napas tersipu. Lantas ketika Hansol mengangguk beberapa kali dan hampir kembali berbalik, si Boo bergumam pelan, "Hansol."
Member SVB itu menaikan sebelah alis persisten, "Ya?"
Seungkwan mengembangkan senyum lebar, "Hansol."
"Y-ya?" Hansol terkekeh kemudian, merasa aneh tapi juga lucu.
Akan tetapi persepsinya lenyap manakala Seungkwan diam sebentar hanya untuk kembali mendesahkan namanya, "Hansoool."
Hansol memundurkan kepala reflek.
Lalu, "Haaansoool~" kali ini si Boo sedikit menjerit mengucapkannya.
Maka Hansol meringis. Tertawa canggung sambil mengangguk, "P-permisi, aku pamit."
Lantas buru-buru membungkuk dan kabur.
Maninggalkan Seungkwan yang mengejang, histeris ditempat hingga banjir mimisan, "Akh! Hansol—akh! Hansol Hansol Hansol Hansoool!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—tbc.
[ Wattpad : joliyeol ]
Jo Liyeol's Curhat Timing!
ada ... yang .. kangen?
wkwk engga ada mungkin =w= muehehe
kucinta kalian semua dan makasih banyak buat kak Kurnia789 yang komennya kaya ngajak berantem :v sumpah loh kak, kuterharu banget. unch. ciom sini
btw, kubikin video fanfiction vkook loh! kalo ada yang berkenan atau penasaran kalian bisa cek di youtube, judulnya; Pink Circle: The Living Dark.
Ketemu dedek yooo di wattpad!
kita ngobrol-ngobrol di sana ...
.
PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): thanks for: follows, favorite, and reviews.
PS(4): see you on next chapter.
— 03.01.2018
...
tolong jangan lupa tinggalin jejak.
( review doang ga susah kan? ga ampe bikin bulukan? )
...
