"Designer of My Wedding Dress"

..

FanFiction by BaekbeeLu present

..

Main Cast : SEHUN and LUHAN

..

Other Cast : Chanyeol, Baekhyun, Kai, Kyungsoo, and other

..

Genre : Romance, Drama, Angst

..

Rate : T+ / M

..

GS for Uke

..

Leght : Multichapter

..

Warning : Typo, gak sesuai dengan EyD, Genderswith,

Don't like don't Read guys ^^

..

Happy Reading!

CHAPTER 2

Aroma pekat khas obat-obatan mengguar ke seluruh penjuru ruangan yang di dominasi warna putih itu. Beberapa ranjang dilapisi sprei putih tunggal ukuran sedang juga tersusun dengan berbaris rapi di sana. Di sisi kanan kirinya terdapat gorden biru cerah yang menggantung seolah menjadi pembatas antar ranjang satu dengan yang lainnya. Jendela kaca tertutup rapat dengan satu di tengah yang terbuka cukup lebar, mengundang angin sejuk musim semi masuk lalu menggoda gorden yang bergantung di sana untuk di ajaknya menari hula-hula. Berhadapan dengan jendela yang terbuka, sebuah ranjang di dekatnya terisi oleh seorang lelaki bertelinga peri yang duduk di atas, dengan seorang gadis yang duduk di kursi mengobati luka pada lututnya secara telaten.

Sejak awal, lelaki ini memang tidak pernah melepaskan senyum dari bibirnya ketika gadis itu merawatnya dengan sangat baik. Bahkan, bila Ia mengalami sakit yang mengharuskannya untuk mendatangi dokter Ia tidak perlu melakukannya ketika memiliki perawatnya sendiri tanpa harus di bayar dan bahkan sangat istimewa hingga selalu mendatangkan rasa hangat dan nyaman dalam jiwanya. Tidak perlu merasa khawatir, bila tidak mendapatkan pelayanan terbaik dari perawat cantik, nyatanya Ia selalu punya bidadari di dekatnya. Yakin, itu akan membuat kaum adam yang lain memekik iri padanya.

Chanyeol. Ia terus memperhatikan bagaimana Baekhyun membersihkan lututnya dengan cairan antiseptic yang tentu bukan hal biasa perihnya, namun Chanyeol tidak merasa sakit sekalipun tangan mungil Baekhyun yang menyentuh setiap lukanya. Baekhyun itu seperti obat bagi Chanyeol, ia akan ada di saat kegundaan menguasai batinnya hingga Baekhyun membuat sebuah ruang hati yang kosong seperti terisi kembali bahkan dengan beribu bunga musim semi di dalamnya. Tidak pernah, Chanyeol tidak pernah merasa bahwa berdekatan dengan Baekhyun membuatnya muak bahkan risih. Justru sebaliknya, gadis itu selalu membawa kehangatan melalui prilakunya yang ramah juga senyumannya yang bahkan lebih indah dari pada aurora di langit kutub utara. Seperti melihat pelangi sehabis hujan.

Chanyeol mengangkat tangannya yang menganggur mengusap puncuk kepala gadis itu pelan. Si mungil mendongak dan Chanyeol memberikan senyumnya.

"Kenapa tidak menjadi dokter saja, Bee? Kau tau, kau cukup ahli dalam merawat pasien"

Si mungil tertawa menggemaskan dan menggeleng pelan "Hm, kalau aku menjadi dokter nanti bukan hanya oppa yang akan menjadi pasienku. Lagi pula mendekati jarum suntik saja aku masih ketakutan" lanjutnya lagi menyelesaikan pekerjaan tangannya pada lutut Chanyeol

"Jadi dokter itu pekerjaan mulia, Bee. Membuat orang sehat adalah suatu ibadah yang berpahala tinggi" katanya masih mengusap kepala Baekhyun

Baekhyun menyusun kotak obat itu ketika selesai "Kalau setiap orang sama cerobohnya dengan oppa, aku mau menjadi dokter" lalu Ia mendengus geli "Dan sejak kapan oppa jadi penceramah mulia seperti ini?"

Chanyeol mencubit kedua pipi chubbynya "Sejak kau datang kemari tanpa memberi tahu oppa. Kau, tidak menyayangiku lagi?" katanya dengan nada merajuk. Sejenis rajukan yang membuat Baekhyun memutar bola matanya malas

"Aku ingin memberi kejutan. Tapi, pertemuan pertama kita malah menyebalkan seperti ini. Jadi tidak surprise kan?"

Lalu Ia berjalan mendekati Chanyeol dan duduk disebelahnya. Mereka bertatapan

"Bahkan aku jauh lebih terkejut ketika melihat ada bidadari yang turun dari kayangan hanya demi untuk menolong pemuda biasa yang ceroboh sepertiku"

Baekhyun tertawa kecil, jenis tertawa yang sanggup membuat kedua lutut Chanyeol lemas hanya karena mendengar suaranya. Menyenangkan.

"Pemuda biasa yang sialnya tampan. Jadi oppa, aku akan tinggal di London dan melanjutkan kuliahku sampai wisuda bersama kalian! Aku akan lama tinggal" Baekhyun bersorak senang hingga sedikit menguncang tubuh mungilnya dan mencondongkannya ke hadapan Chanyeol. Jarak yang terbilang dekat dengan angka 15cm itu sanggup membuat Chanyeol bungkam dan membeku di tempat duduknya. Matanya yang bulat berhenti berkedip ketika menelik lebih dalam pada kedua mata puppy Baekhyun yang berbinar terang. Seperti ada cahaya yang kilaunya mengalahkan kecantikan sinar bulan, lebih indah dari seribu kunang-kunang yang bertebaran di udara.

Tanpa sadar Chanyeol melirihkan suaranya dan menggumamkan kata "Cantik sekali". Hingga membuat Baekhyun mengerjapkan matanya polos dan menimbulkan senyuman manis yang semakin membuat Chanyeol berkali-kali lipat lebih mengaguminya.

Baekhyun merunduk "Gumawo oppa" lalu dagunya diangkat, hingga Ia kembali mendongak menatap pada Chanyeol yang masih tidak lepas mengganti tatapan kagumnya.

Sekarang malah Baekhyun yang merasa gugup, Ia berkali-kali mengerjapkan matanya cepat dengan bola mata yang bergulir gelisah. Suasana hening tercipta dengan di dukungnya nuansa kamar UKS yang sunyi. Hanya terdengar sedikit suara kerincing dari gorden jendela yang tertiup angin gemulai. Rambut Baekhyun yang di cepol tinggi, Chanyeol ambil jepit berbentuk kerang itu dari sana –sempat terikat ketika mengobati luka Chanyeol tadi- hingga membuat helai panjangnya jatuh dengan sangat indah. Mengguarkan aroma strawberry yang manis ketika helainya di terpa oleh angin musim semi.

Baekhyun merona. Tatapan Chanyeol sangat dalam dan Ia bisa melihat ketertarikan lelaki itu dari sana. Jantungnya memompa gila hingga suhu panas tubuhnya naik sampai ke batas telinga. Ini bukan seperti yang biasanya, terlalu lama mengenal lelaki itu membuat Baekhyun tahu bahwa Ia baru kali ini mendapat prilaku yang berbeda. Seperti ketika tangan lelaki itu merambat menuju pipinya yang bersemu dan membelainya dengan sangat halus. Menelengkan kepala dan menggulirkan pandangannya menatap Baekhyun intens, mulai dari matanya hingga turun ke bibirnya yang sedikit terbuka kecil.

Wajah lelaki itu juga sedikit demi sedikit maju hingga membuat Baekhyun refleks menutup matanya pelan, siap menanti apa yang akan terjadi di detik selanjutnya.

Aroma maskulin Chanyeol semakin tercium dan mengantarkan rasa nyaman, deru nafasnya yang hangat juga menyapa permukaan kulitnya hingga sedikit membuat bulu-bulu halus di kulitnya meremang.

Oh, Baekhyun merasa Ia seperti terkena demam. Ketika sebuah benda hangat bertekstur kenyal menyapa bibirnya yang tipis, mengantarkan sengatan listrik yang menyenangkan hingga Baekhyun merasa seperti ada sesuatu yang sangat sesak di perutnya. Seperti beribu kupu-kupu yang siap untuk dilepaskan. Seperti ada jutaan kelopak sakura yang berguguran di atas mereka, membuat hujan dengan nuansa pink yang cantik. Membuat seluruh wajah gadis mungil ini memerah padam. Dan perlahan, tangan lelaki itu turun menuju tengkuknya. Sedikit menekan hingga membuat pagutan mereka semakin dalam. Lumatan-lumatan kecil saling beradu, deru nafas mereka saling bertukar. Hanya sebuah kecupan manis yang sangat romantis dengan Chanyeol sebagai pihak yang lebih dominan.

Mereka berciuman. Ciuman pertama untuk Baekhyun seumur hidupnya, dan sebuah ciuman pertama pula yang di rasakan untuk Chanyeol.

..

Siang yang cukup terik siang ini. Cahaya matahari yang hangat menyengat menyinari seluruh bumi yang tidak berpelindung. Menerangkan setiap apa saja yang berada di lingkungan luar.

Tapi, tidak dalam sebuah tempat yang memiliki keteduhan di atasnya. Ruangan yang di dominasi cat orange dan putih itu hanya mengandalkan sinar cahaya matahari yang merambat lurus melalui celah ventilasi di atas jendela dan pintu. Di tambah dengan cahaya lampu pijar yang selalu menyala untuk membantu penerangan ruangan perpustakaan ini seluruhnya.

Suasana hening dengan keadaan ruangan yang sepi, hanya terdengar detingan detik demi detik dari jarum jam di dinding bagian atas. Hanya ada sepasang anak manusia yang saling bertatap muka dalam kondisi yang cukup romantis. Pemuda dengan tinggi 183 cm, bertubuh gagah, dan berwajah tampan sedang menggendong seorang gadis mungil ala bridal style yang mencucurkan air matanya.

"Ah, kau menangis?! Aku sudah menolongmu. Tidak apa-apa" tanya Sehun heran dengan nada sedikit khawatir. Lalu menurunkan Luhan hingga gadis itu berdiri dengan kakinya sendiri

Luhan tersadar. Benar, rupanya Ia menangis karena perasaan aneh yang merajai alam bawah sadarnya beberapa saat yang lalu. Ia mengerjapkan matanya dan menghapus sisa jejak air mata yang tanpa diperintah itu tadi menetes "Ah, maafkan aku. Aku hanya merasa terlalu terkejut. Dan terimakasih karena sudah menolongku, Sehun-ssi"

Lelaki yang di panggil Sehun menganggukkan kepalanya dua kali "Oh, kau sudah tahu namaku? Padahal kita belum saling memperkenalkan diri" lalu Ia menjulurkan tangan kanannya pada Luhan "Namaku, Oh Sehun. Kau bisa memanggilku Sehun. Ah, satu lagi aku mahasiswa baru di kampus ini"

Luhan tersenyum dan menyambut uluran tangan itu "Hm, aku melihat name tag yang kau pakai. Namaku Xi Luhan, mereka biasanya memanggilku Luhan. Dan, selamat datang di kampus ini. Senang berkenalan denganmu, Sehun-ssi. Ah, sampai lupa! Terimakasih karena sudah menolongku dua kali" sedikit membungkuk untuk memberi sikap sopan pada seseorang yang baru dikenalnya.

Sehun melirik name tag yang menggantung di lehernya "Oh, tentu. Aku baru ingat kalau sedang memakai ini" Lalu dia memohon menatap Luhan "Dan tolong, jangan terlalu bersikap formal seperti itu padaku, Luhan. Santai saja, dan cukup panggil aku Sehun. Kau orang Korea juga?"

Luhan mengangguk lucu tidak lupa dengan senyumannya yang manis

Gadis cantik yang ramah –pikir Sehun menilai

"Hmm, Ayahku orang Korea. Tapi, Ibuku keturunan China. Bisa dibilang darah campuran mengalir dalam diriku" lalu Ia terkekeh kecil setelahnya melirik arloji coklat muda mungil yang melingkari pergelangan tangan kirinya "Ah, maaf. Sepertinya aku harus pergi, Sehun. Jam kuliahku akan dimulai beberapa menit lagi. Sekali lagi terimakasih, semoga kita bisa menjadi teman yang baik"

Sehun juga sama melirik arloji rolex yang dikenakannya "Ah, aku juga. Bersama saja. Lagi pula aku masih ingin berbicara banyak denganmu"

Luhan sedikit tersentak, hingga ia seperti merasa gugup. Lelaki ini baru saja mengenalnya namun sudah ingin berteman lebih akrab. Seketika Luhan merona, Ia sedikit canggung dengan ini. Belum pernah ada seseorang yang seperti Sehun sebelumnya, biasanya lelaki yang mendekati Luhan pasti akan bersikap kaku alih-alih menyenangkan. Mungkin Sehun berbeda, setidaknya Luhan menyukai kepribadian lelaki ini yang supel dan pandai membaur dengan orang baru.

"Tentu" lalu mereka mengambil langkah bersama keluar perpustakaan.

..

Drap! Drap! Drap!

Derap langkah lari yang saling beradu itu terdengar sangat keras di koridor kampus. Menghiraukan beberapa mahasiswa lain yang menatapnya tidak suka, menghindari beberapa dari mereka yang menghalangi jalan. Seorang gadis berperawakan mungil dengan kedua mata owlnya yang bergulir gelisah memimpin aksi kejar-kejaran, di ikuti dengan lelaki tampan berkulit tan yang berstatus sebagai kekasihnya itu mengekor di belakang. Berusaha mengimbangi derap langkah gadisnya yang ternyata sangat cepat itu.

"Chagiya, mengapa kau terus berlari eoh? Bekal makanan kita belum habis"

Sedikit lagi, lorong terakhir yang akan di capainya terlihat menanti di depan mata. Sebuah lorong berbelok kiri yang mengarah langsung pada ruangan perpustakaan. Kyungsoo, tidak menghiraukan sama sekali beberapa teriakan protes orang yang merasa terganggu atau pun kekasihnya yang merengek bagai seorang bocah. Hal yang paling penting sekarang bukanlah mereka semua. Melainkan sahabat kecilnya yang tertinggal, gadis rusa mungil dengan dress selututnya yang cantik.

Kyungsoo berbelok, Ia bisa melihat Luhan dari kejauhan. Sedang tertawa bahagia dan mengobrol ringan dengan seseorang di sebelahnya. Seorang lelaki yang Kyungsoo tahu siapa dia. Tapakan kakinya terhenti, Ia langsung berdiam dengan pandangan yang sulit di artikan. Bagai patung yang tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Kaku.

Kai juga ikut berhenti ketika melihat kekasihnya itu, ia mengikuti arah pandangan Kyungsoo. Kepada Luhan juga lelaki tinggi di sebelahnya. Itu Sehun.

"Mereka sudah bertemu"

Kyungsoo menarik nafas panjang "Iya, aku akan menghampiri Luhan"

Lalu Kyungsoo mulai berjalan lagi, sangat pelan bahkan sampai Kai menggenggam tangannya dan lebih memimpin di depan.

..

"Ku pikir seorang designer hanya mementingkan style untuk para pengikutnya. Ternyata designer itu sendiri harus memperhatikan stylenya agar terlihat lebih mencolok untuk mereka" kata Sehun sedikit menggoda Luhan hingga gadis cantik itu mencibir dan mendelik Sehun sebentar

Luhan berhenti, menghadap Sehun yang tersenyum "Tentu saja, kami para designer harus tampil lebih baik. Jika kau berpikir bahwa mereka yang menikmati desainku hanya bisa merasa senang. Kau salah besar, Sehun" menggelengkan kepala diikuti dengan jemari telunjuknya yang ikut bergerak ke kanan dan ke kiri "Mereka sebenarnya sangat iri, Jika aku boleh memberi tahu" sedikit berbisik setelah melirik keadaannya yang sangat sepi

Sehun memasang wajah penasaran "Benarkah? Bagaimana bisa? Kau yakin sekali"

Luhan mencebil dan bersedekap "Tentu saja! Aish, coba kau lihat bagaimana penampilanku ini" Luhan memutarkan tubuhnya sekali, dan Sehun menaikkan satu alisnya "Biasa saja"

"Ish! Ini bukan biasa. Maksudnya penampilanku pasti lebih berkelas di bandingkan mereka yang menikmati rancangan yang kubuat. Dress imut ini aku membuatnya sendiri tahu. Bahkan saat aku melakukan pemotretan menggunakan ini lalu mengpostingnya di akun social media milikku, semua pengikutku berkomentar. Kebanyakan dari mereka menginginkan aku membuat dress seperti ini untuk di perdagangkan. Tapi, sayangnya aku tidak ingin melakukannya. Karena aku ingin menikmatinya sendiri" Luhan tersenyum sembari mengangkat sisi mekar dari dressnya. Dress selutut yang di rancangnya sendiri, dipadukan dengan parka hoodie berwarna kuning cerah. Belum lagi flatshoes senada yang membungkus kedua kakinya yang kecil.

Sebenarnya Sehun memperhatikan semuanya. Seluruh yang dikenakan oleh seorang gadis yang baru dikenalnya itu beberapa menit lalu. Penampilannya memang sangat berkelas namun tetap terkesan sederhana dan casual. Sangat cerah dan bersinar.

Wajahnya yang baby face. Sepasang mata rusa berkilau, hidung bangir, serta bibirnya yang ranum. Senyum manis dan suara tawanya yang terdengar renyah. Penutur katanya yang sopan, belum lagi prilaku serta pembawaannya yang hangat.

Sehun yakin, Luhan merupakan gadis yang sangat terdidik akalnya. Orang tuanya pasti memberi gadis ini pengajaran serta kasih sayang yang teramat tulus. Gadis ini juga tidak memiliki sikap canggung meski mereka baru tahu satu sama lain. Sehun sendiri juga tidak merasa ada kecanggungan sama sekali ketika berinteraksi dengan Luhan. Malah Ia tidak sadar, serasa ingin terus berbicara dan menghabiskan banyak waktu bersamanya.

Seperti mereka sudah berteman sangat lama sekali.

Seperti mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, jauh dari hari ini.

Seperti Sehun yang sangat tahu tentang kepribadian Luhan.

Seperti Sehun dan Luhan yang sudah banyak menghabiskan banyak waktu bersama.

Seperti Sehun merasakan perasaan aneh ketika pertama Ia menatap Luhan di London Eye.

Seperti…..

…seperti seseorang yang sangat Sehun kenal namun dia tidak ingat itu siapa.

..

"Luhan"

Luhan menoleh kebelakang dan terkejut ketika mendapati sahabat kecilnya itu datang. Lalu, Ia mengerucutkan bibirnya dan memberengut terhadap Kyungsoo

"Kau kemana saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana, Kyungi. Aku menunggumu di perpustakaan namun kau tidak datang . Aku mengambil bukuku sendiri hingga hampir terjatuh dari bangku. Untung saja ada Sehun yang menolongku, jika tidak apa yang akan terjadi bila aku terjatuh?!" adunya dengan nada merajuk. Namun Kyungsoo tidak terlalu memahami perkataan Luhan, pandangannya teralih kepada Sehun.

Seolah dapat memahami situasi, Kai membukakan suaranya. Sebelumnya Ia lebih menggenggam erat tangan Kyungsoo "Aigoo, kasihan sekali uri Luhannie. Maafkan, Kyungsoo. Dia benar-benar lupa kalau punya janji denganmu, Lu. Syukurlah kau tidak apa-apa"

Luhan mendesah pelan dan menggangguk malas. Ia menelengkan kepalanya menatap Kyungsoo yang bergeming "Kyungi kenapa melamun?" menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Kyungsoo

"Ah, ya-ya hannie" Kyungsoo tersadar ketika merasakan remasan tangannya mengerat karena Kai. Lalu Ia tersenyum dan membawa Luhan kedalam pelukannya "Mianhae ne. Aku sungguh melupakan janji kita tadi"

"Bisa dimaafkan, 'kok. Ah, kenalkan ini Oh Sehun. Dia mahasiswa management bisnis yang baru saja pindah dari New York"

"Hmm. Biar Kai saja yang menemani Sehun. Sekarang kita ke kelas ya, hari ini kan presentasimu" lalu Kyungsoo memberi isyarat pada Kai lewat tatapan matanya dan membawa Luhan meninggalkan kedua pemuda itu di sana.

Kai yang terus melihat Kyungsoo dan Luhan yang bayangnya sudah hilang di koridor. Setelahnya mendelik terhadap Sehun "Eyy, dasar namja albino sialan. Baru sehari kau kuliah, tapi sudah menjerat yeoja idaman seperti Luhan. Kuperingatkan jangan dekati dia Sehun!" Kai serius dengan ucapannya.

Namun Sehun hanya menatap datar "Pacarmu itu, tidak sopan sekali. Bukannya membalas perkenalanku, malah main ambil Luhan begitu saja"

"Kan dia sudah bilang biar aku yang memperkenalkan, lagi pula apa kepentinganmu untuk tahu tentang pacarku hah? Kau juga sudah tahu namanya. Aish, seharusnya kau ada di kelasmu. Ayo cepat!" Kai mengambil tangan Sehun untuk di gandengnya namun Sehun menepisnya kasar

"Tidak usah pakai acara bergandengan segala! Jijik"

"Yak! Sialan kau"

..

Luhan seperti salah satu dari anak emas seorang dewa. Merupakan putri ketujuh dari ribuan bidadari yang tinggal di kayangan. Kesempurnaan melekat dalam dirinya. Pengambaran putri kerajaan negeri dongeng dimilikinya pula. Kecantikannya bahkan mengalahkan Cinderella, putri khayalan dengan gaun putih yang kehilangan satu sepatu kacanya di tengah malam usai pesta dansa di tempat sang pangeran.

Senyumnya akan selalu menjadi pusat perhatian. Suaranya bagai mantra yang membuat semua orang bergeming. Menjadi kaku tidak bergerak seperti patung. Dan ketika kata yang terucap dari kedua belah bibir ranumnya terhenti, mereka semua kembali pada kesadarannya.

"Terimakasih" Luhan membungkuk sopan dengan semakin kerasnya tepukan riuh yang menjadi arti dari kata 'kau hebat' sebagai pujian yang tak terucap.

Tidak ada yang bisa membantah bila Luhan sudah menyelesaikan presentasinya. Gadis cerdas Korea yang juga berdarah China itu selalu memberikan hasilnya yang terbaik. Luhan tidak pernah mengecewakan para dosennya. Ia akan selalu menjadi panutan dari para teman seperjuangannya. Untuk itulah meski belum mencapai puncak wisuda, rancangannya sendiri sudah sering diperkenalkan ke dunia fashion.

Setiap tantangan yang diberikan akan selalu Ia lakukan meski itu akan banyak menguras tenaganya. Dan kalau Luhan bisa, mengapa Ia harus takut untuk menolak. Namun terkadang, ada sebuah tantangan yang mungkin memang tidak sulit untuk melakukannya. Semua calon designer sukses harus bisa melakukannya. Termasuk ketika tantangan yang diberikan itu adalah sebuah hal yang sesungguhnya agak Luhan hindari. Bukan. Bukan karena Ia tidak bisa, melainkan Luhan hanya takut. Bila mencoba maka hatinya sedikit mengalami sesak.

Miris memang, tapi Luhan harus melakukannya. Ini demi cita-citanya juga nilai penting agar Ia bisa keluar dari kampus dengan gelar sebagai mahasiswa berprestasi. Mencoba…..tidak ada yang salah, selagi Luhan bisa mengendalikan hatinya.

"Kau yakin ingin mencoba?" Kyungsoo tahu apa yang sangat Luhan pikirkan. Melihat ada raut sedikit pucat di wajah cantik sahabatnya itu, Kyungsoo mengelus punggung belakangnya menenangkan.

Luhan mengambil nafas panjang sekali, membuangnya perlahan. Dan tersenyum melihat pada Kyungsoo "Tentu. Aku yakin, aku bisa. Membuat sebuah gaun bukanlah hal baru untukku, Kyungi. Kau dan Baekhyun hanya perlu memberiku semangat"

"Tapi inikan lain, hannie. Kau sendiri selalu berusaha untuk menolak membuatnya. Aku hanya takut kau teringat kembali"

Baekhyun yang sejak tadi ikut memperhatikan Luhan, menambahkan dirinya bergabung bersama Kyungsoo. Duduk di sebelah Luhan yang lain "Kyungi benar, Lu. Coba kita membujuk Mrs.Trisya –dosen Luhan- untuk memberimu ujian lain. Mungkin saja bisa berubah, tidak harus membuat gaun pe-"

"Baek…." Luhan memotong cepat perkataan Baekhyun sembari menggenggam satu tangan masing-masing dari para sahabatnya itu "Aku yakin, aku bisa. Kalian tidak perlu khawatir, cukup memberiku dukungan. Oke"

Baekhyun dan Kyungsoo saling melempar tatapan, lalu berakhir dengan mengangguk pasrah. Luhan memang sulit untuk dibujuk, bila itu menyangkut tentang desainnya.

Saat ini mereka sedang berada di kafetaria kampus. Setelah presentasi tadi, Luhan menjadi haus dan lapar. Untuk itulah ia mengajak kedua sejolinya ini, rasanya menyenangkan bisa terus bersama. Selalu bertiga dan tidak terpisahkan. Walau kadang kesibukkan masing-masing sering menyita waktu kebersamaan mereka, namun bila ada waktu luang mereka tidak akan membiarkannya menjadi sia-sia.

Baekhyun dan Kyungsoo dari kelas yang sama. Mereka memiliki suara yang bagus juga permainan piano dan harpa yang mengagumkan. Mereka mengambil jurusan Art, sedangkan Luhan sendiri mengambil Designer. Terdampar di tempat orang. Sendiri tanpa dampingan kedua sahabatnya.

Menjadi seorang designer awalnya tidak pernah terpikir dalam benak seorang Xi Luhan. Dulu Ia juga ingin menggeluti bidang Art, Luhan punya suara lembut yang sangat nyaman ketika nyanyiannya mulai terdengar. Alunan music dalam gesekkan senar biolanya juga selalu mendapat nilai A+ ketika Ia duduk di bangku sekolah. Orangtuanya juga tidak pernah memaksakan Luhan harus masuk dalam kuliah jurusan apa, mereka tetap mendukung apapun itu asal demi kebahagian putrinya seorang.

Ketika Luhan berumur 10 tahun, Ia pernah bermimpi yang sangat indah. Dalam mimpinya, saat Luhan menginjak dewasa Ia menjadi seorang violinist yang sangat terkenal. Mendapati dirinya sedang memainkan alat music kesukaannya dengan banyaknya ribuan orang yang menonton aksinya. Sejak saat itu, Luhan sangat yakin Ia bisa menggapai impiannya dalam musik. Ia selalu berusaha dalam waktu senggangnya, berlatih dan belajar. Prestasi yang diraihnya juga tidaklah sedikit. Mulai dari piala, piagam, serta sertifikat-sertifikat keberhasilan pun Luhan punya banyak di surat-surat berharga dalam brangkas Ayahnya.

Namun, entah mengapa semua mimpi itu lenyap. Menghancurkan angan-angan Luhan yang sudah Ia tata sebaik mungkin. Terhapus dalam takdirnya, dan tidak dapat Ia raih. Membanting stir dengan mengubah pendirian untuk menjadi seorang designer. Memilih pensil dan kertas polos sebagai sahabatnya, alih-alih biola kesayangannya. Merangkai sebuah pola-pola mengagumkan dari pada mengalunkan nada indah dalam gesekan senar biola. Melupakan mimpi mendapat gelar violinist terkenal. Menjadi seorang designer ternama.

Bukan karena terpaksa Luhan melakukan ini. Membuang mimpinya begitu saja dan menyambut mimpi yang baru. Luhan melakukan ini karena suatu alasan. Alasan yang sangat nyata hingga mempengaruhi pikirannya. Alasan kuat yang membuatnya tak bisa berkutik. Sebuah mimpi baru milik seseorang. Seseorang yang sudah lama meninggalkan semua kenangan manis. Pergi tanpa ucapan 'selamat tinggal' dan menghilang tak kembali tanpa jejak.

Ini pilihannya. Melanjutkan mimpi orang itu agar Luhan bisa selalu mengingatnya. Agar Ia tidak lupa, dan menyimpannya dengan rapat dalam memori pikirannya. Kenangan manis yang sangat Luhan suka. Ketika kebersamaan mereka akan menjadi suatu hal yang membuatnya nyaman. Berdekatan dengan orang itu hingga tanpa sadar waktu akan berganti. Merangkai senyuman dan tawa ceria sepanjang hari. Hingga sadar, orang itu sangat berharga untuk Luhan. Seseorang yang pergi dan meninggalkan mimpinya yang tertinggal.

Mimpi orang di masa lalu Luhan.

..

Musim semi tidak akan selalu mendapati hari yang cerah. Terkadang cuaca gelap yang menumpang lewat, berganti juga ikut menyapa dunia. Ketika malam mulai menyapa, langitnya Ia bersihkan dari ribuan bintang-bintang. Dan setelahnya mulai luruh setetes air langit hingga tumpah membasahi bumi. Angin dingin dengan aroma khas tanah yang merambat naik, sedikit menghimpit paru-paru kala bernafas.

Luhan mengeratkan parka hoodienya saat hembusan angin jahat mulai menghantam kulitnya yang hangat.

Telapak tangannya Ia gesekkan demi menghalau rasa dingin, hembusan hangat dari nafasnya juga Ia tiup-tiup di sana. Hari ini Luhan pulang malam, tidak terlalu malam juga karena jam London masih menunjukkan pukul 08.00. Jadwal kuliahnya cukup padat akhir-akhir ini, untuk itu terkadang Ia harus lebih lama berada di kampus. Kedua sahabatnya sudah kembali pulang sejak sore tadi, alhasil Luhan harus pulang sendiri dengan naik taxi atau bus –karena dia tidak membawa mobilnya- .

Hampir menghabiskan sekitar satu jam setengah gadis ini duduk di halte. Melindungi kepalanya dari sejuta limpah air langit yang meluruh. Meringkuk semakin erat ketika angin jahat lebih banyak menyapa kulitnya. Berkali-kali kepalanya mentoleh ke kiri dan kanan. Berusaha melihat adakah taxi atau bus melintas di depan, namun nihil. Malam ini cukup sunyi hingga sedikit rasa takut mulai merajainya. Duduk sendiri di tempat umum, dengan kondisi hujan dan jalanan yang merenggang.

Luhan merasa dia harus cepat sampai di apartementnya. Berendam dalam air hangat bathtube dengan garam mandi serta aroma mawar kesukaannya. Membaluti tubuhnya dengan piama, lalu pergi tidur di atas ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Hangat dan nyaman.

Tapi tak kunjung datang kendaraan yang sedari tadi Ia tunggu. Yang melintas hanya mobil-mobil pribadi yang melaju dengan kecepatan tinggi. Luhan ingin menangis, mengutuk mengapa ponsel pintarnya bisa kehabisan daya di saat genting seperti ini. Menyumpat serapah tas Pradanya yang di dalamnya tidak ada powerbank untuk mencharger ponselnya.

"Ahh, bagaimana ini? Bagaimana caranya aku pulang. Mama tolong Lulu" raut wajahnya juga mendadak pucat. Bibirnya mulai bergetar, dan seluet genangan air mulai memburami pandangannya. Luhan siap menangis.

Lalu saat Ia mulai merunduk, tiba-tiba ada sebuah mobil La Ferrari putih yang berhenti di depannya. Luhan mengadahkan kepala lalu mengrenyit khawatir.

Apa itu orang jahat? Apa Ia akan jadi korban penculikan? Demi Tuhan, Luhan mulai was-was sekarang!

Ia ingin mengambil langkah pergi dari halte itu namun seseorang turun dengan payung bening sebagai pelindung di atasnya. Luhan semakin meringkuk dan menyembunyikan kepalanya dari celah kedua lututnya yang merapat.

'mama Lulu takut! Tolong Lulu mama' -pikirnya ketakutan dengan isak tangisnya yang mulai keluar.

Seseorang tadi berjalan mendekat, lalu mengusap puncuk kepala Luhan yang bergetar "Luhan, ini aku Sehun. Tidak perlu takut"

Lagi-lagi penyelamatnya datang! Luhan berhenti menangis ketika lelaki itu berucap. Ia mengadahkan kepalanya cepat, dan di sungguhi oleh senyuman tampan malaikat yang menenangkan "Se-Sehun…" bibirnya sedikit bergetar karena menggigil.

"Iya ini Aku. Kau tidak apa-apa? Kenapa tidak pulang hm?"

"A-aku tidak membawa mobil, Sehun. Aku pu-punya banyak jam kuliah hari ini"

Sehun duduk di sampingnya. Menghapus jejak air mata Luhan lalu membelainya lembut "Biarku antar kau pulang. Aku tidak sengaja lewat dan melihatmu sendirian di sini. Tidak baik seorang gadis sendirian di tempat yang sunyi, apalagi ketika malam hari. Ayo kita pulang, kau mau kan?"

Tidak ada jalan lain, pikir Luhan. Lebih baik Ia mengiyakan ajakan Sehun dari pada harus menunggu lebih lama lagi. Lagi pula setidaknya Luhan mengenal Sehun walau baru di hari ini kan? jadi Ia tidak perlu merasa khawatir. Dan pada akhirnya Luhan mengangguk, dan mengikuti Sehun yang menggenggam tangannya di bawah payung bening yang di guyur hujan.

..

Roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang. Menembus hantaman hujan yang mencoba menghambat laju jalannya. Samar-samar cahaya lampu jalanan selir berganti menerangi di dalamnya. Melodi demi melodi dari sebuah lagu ballad membuat suasana nyaman sedikit, meski keheningan lebih menguasai.

Luhan bergerak agak gelisah di tempat duduknya. Parka hoodienya tidak cukup hangat untuk membuat menggigilnya hilang, suhu di dalam mobil juga tidak cukup berdampak. Ia sungguh kedinginan, giginya bergelatuk samar-samar dan Luhan menyembunyikannya dengan menggigit bibir. Agar Sehun tidak perlu mendengarnya.

Namun, telinga seorang Oh Sehun cukup peka untuk menangkap suara itu. Dan Ia memberhentikan mobilnya di saat ada sebuah perempatan. Lampu merah menyala, Sehun melirik ke arah Luhan.

"Luhan"

"Hmm" Luhan menjawab lewat gumaman, tatapannya masih tetap mengarah pada jalanan yang basah.

Sehun menghela nafas sejenak. Lalu menggerakkan tangannya yang panjang(?), mengambil sweeter tebalnya yang menganggur di jok belakang.

"Pakai ini, Luhan. Aku tau kau kedinginan"

"Eh?" Luhan menoleh dan mengerjap sambil menatap sweeter milik Sehun.

Hening

Sehun gemas, terhadap respon Luhan yang lambat. Lalu Ia memakaikan gadis itu sweeternya sampai Luhan membelalakkan matanya kelewat lebar. Sehun terkekeh melihat wajah imut Luhan yang sudah kembali sepenuhnya, bahkan Ia bisa melihat rona merah menggemaskan di pipinya yang sedikit chubby. Sehun mengusap puncuk kepala Luhan dan tersenyum senang "Sudah hangat? Pakai saja"

Luhan membeku, jantungnya berpacuh lima kali lebih cepat bukan lagi dua kali. Rasa hangat menjalar-jalar keseluruh tubuhnya dan penuh sampai ke wajahnya hingga memerah. Belum lagi senyuman Sehun yang membuat tangannya bergetar. Luhan dirasa seperti meleleh ketika Sehun mengusap puncuk kepalanya. Hatinya menghangat dan Luhan sangat nyaman saat merasakannya. Berasa ada bunga-bunga yang bergoyang dikelilingi ribuan kupu-kupu cantik dalam hatinya.

Luhan tersenyum manis, sangat tulus seperti Sehun kepadanya "Terimakasih, Sehun. Aku merasa tertolong kembali"

"Hmm, tidak perlu sungkan. Sekarang dimana apartementmu, Lu? Lampunya sudah mau hijau" Sehun melirik detik yang berjalan mundur terpampang di sebelah lampu lalu lintas itu.

"One Hyde Park. Aku tinggal di sana"

Sehun menyetir La Ferrari kesayangannya dan berbelok. Lalu menoleh ke arah Luhan "Kau tinggal di sana? Berarti kita menetap di Apartement yang sama. Aku juga baru pindah lusa lalu"

"Benarkah? Mungkin kita tetangga" lalu suara decak tawa anggunnya terdengar. Hingga menimbulkan senyum tipis di bibir Sehun.

..

Luhan sebenarnya hanya bergurau dengan ucapannya sewaktu di mobil tadi. Mengatakan bahwa mereka akan bertetangga. Namun, siapa yang bisa menyela kalau hal itu sungguh terjadi? Bahkan Luhan tidak bisa menyangkal jika hal itu benar. Ketika Luhan mengatakan bahwa Ia tinggal di kamar nomor 1220, Sehun langsung menunjukkan wajah tidak percayanya dan mengatakan pula Ia tinggal di kamar nomor 1221. Sungguh! Sebuah kebetulan yang seperti di rekayasa namun nyatanya ini benar-benar bukan kebetulan.

Luhan senang? Tentu saja. Pada akhirnya Ia bisa menemukan teman satu kampusnya walaupun itu tidak pada satu fakultas yang sama. Memiliki teman ketika Ia merasa kesepian.

Tapi kan Sehun laki-laki! Namun Luhan tidak mempersalahkan itu sama sekali.

Justru karena itu nantinya bisa memberinya sedikit keuntungan. Kala Luhan tidak siap membawa mobilnya, bukankah ada Sehun yang bisa jadi tempat tebengannya? Kala lampu di kamarnya mati, bukankah Sehun yang tinggi bisa membantunya memasang lampu yang baru? Benar, bertetangga dengan teman lelaki itu menguntungkan bagi Luhan.

Mereka berjalan di lorong dengan sedikit obrolan ringan. Semua kamar tertutup rapat, mungkin penghuninya sudah pada tertidur. Luhan sampai di depan pintunya lalu membalik kepada Sehun yang juga berdiri di depan pintunya.

"Terimakasih untuk hari ini Sehun. Aku berhutang banyak padamu"

"Simpan saja rasa terimakasihmu, Lu. Mungkin nanti aku juga butuh pertolonganmu"

"Tentu. Katakan saja, dan sweeternya…."

"Pakai saja. Kau bisa mengembalikannya kapan pun kau mau"

'kapanpun? Benarkah?' –entah mengapa mendengar itu, membuat hatinya menghangat. Luhan jadi bebas mencium aroma maskulin papermint Sehun kan? harum yang begitu nyaman ketika sampai di pernafasannya. Harum yang membuatnya bisa tertidur lebih nyenyak setiap malam. Luhan suka harum dari yang Sehun miliki.

"Hmm" Luhan mengangguk dan mengetik passcodenya yang sudah di hapalnya di luar kepala "Aku masuk ya. Sekali lagi, terimakasih"

Sehun tersenyum, mengetik passcode yang sama sudah di hapalnya. Lalu mereka masuk bersamaan dengan pintu keduanya tertutup.

..

Sehun langsung merebahkan tubuhnya ketika acara mandi basahnya telah usai. Memakai kalos putih polos dan celana pendek. Ia menempatkan punggungnya di sandaran ranjang. Mengetik sesuatu pada ponselnya yang menampilkan aplikasi social media kakaotalk. Sehun menuliskan apa yang harus di balasnya, lalu menunggu seseorang di sana membacanya.

Telponnya berdering. Seseorang yang merindukannya dari kejauhan. Sehun tersenyum

"Wae, umma?"

"Bagaimana hari pertamamu di kampus, hun-ah. Umma harap kau enjoy di sana"

"Tentu saja. Bukankah ada Kai dan juga Chanyeol hyung? Bahkan aku mendapat teman seorang gadis di sini"

"Jinjja?! Eyy, anak umma yang tampan ini sudah mulai mendekati anak gadis rupanya, hm?. Ceritakan pada umma bagaimana dirinya Sehun. Umma ingin tau!"

Sehun terkekeh kecil. Memang Ibunya itu adalah jenis seorang wanita paru baya yang cantik dengan segala keinginan tahunya yang tinggi. Namun, wanita ini lah yang paling utama Sehun cintai seumur hidupnya.

"Dia….cantik, umma. Sikapnya juga hangat, ramah, dan tata kramanya sangat terdidik. Senyumnya juga sangat manis, dan…."

"Dan apa?! Apa?!"

"Dan….yang paling membuat semua orang akan tertarik padanya adalah sepasang mata rusa yang dimilikinya. Seperti melihat kilauan bintang yang bertabur di langit malam. Sangat cerah dan cantik"

Sehun tidak berbohong. Dia memang sangat memuji apa yang Luhan miliki. Hampir semua yang ada padanya adalah kesempurnaan. Di awal pertemuan mereka memang matanya lah yang paling menarik perhatian Sehun. Sejauh Ia mengenal seorang wanita, belum ada yang memiliki mata bening seperti Luhan. Bulu matanya sangat lentik, hingga Sehun berpikir mungkin Ia bisa berseluncur di sana. Tatapannya sangat hangat dan teduh. Bagai Ia merasa tersihir ketika mereka saling pandang. Ini aneh! Sangat. Sehun merasa sudah akrab dengan tatapan itu.

Ketulusan yang dipancarkannya bagai sinar matahari pagi. Hangat dan lembut. Mata itu…..Sehun menyukainya. Sangat cocok dengan kepribadian Luhan yang ramah. Kedekatan mereka pun membuat Sehun sedikit heran, sejauh Ia menjalin hubungan pertemanan dengan seorang gadis. Belum pernah di pertemuan pertama sebaik ini. Hal canggung dan kaku pasti akan merajai di awal.

Namun, ini sungguh berbeda.

Sehun menggelengkan kepalanya ketika pikiran ngelantur mulai menghampiri. Ia masih menunggu jawaban Ibunya yang tiba-tiba hening.

Sehun mengrenyit "Umma?"

Lagi lagi Hening.

"Umma?" Sehun sedikit menaikkan nada bicaranya

"A-ah Sehun. Maaf, umma melamun. Ta-tapi….boleh umma tau nama gadis yang kau kenal itu?"

Kata-kata yang Jaejoong –Ibunya Sehun- ucap. Ada sebelit kata terbata juga kalimatnya yang mendadak terdengar gugup. Kenapa dengan Ibunya? Apa sampai segugup itu ketika Sehun menjelaskan temannya yang cantik.

Sehun mengedikkan bahunya dan menjawab santai "Luhan. Namanya Luhan, umma"

"Lu-Han…..di-dia bermarga Xi? Dia keturunan China?"

"Umma ini kenapa?. Tapi yah, dia orang korea yang juga berdarah China. Tunggu. Tunggu. Bagaimana umma bisa mengetahui marga serta asal-usulnya? Bahkan aku belum mengatakan itu" katanya terkejut

Sehun dapat mendengar helaan nafas panjang dari ujung sana. Namun, pernyataan lirih Ibunya lah yang sangat membuat Sehun penasaran. Apa maksud dari kalimat itu?

"Selamat bertemu dengan Luhan, Sehun-ah. Umma harap kau bisa mengenalnya lebih baik lagi…."

Lalu sambungan terputus secara sepihak. Hingga Sehun tidak bisa menebak ada apa dengan perubahan sikap serta kata-kata terakhir percakapan Ibunya itu. Sehun harus menanyakannya nanti.

..

..

..

..

..

..

To Be Countinue

..

..


29 OKTOBER 2016


..

Annyeong Chingudeul

Kali ini Nad membawa 'CHAPTER 2' dari DMWD!

*tebar-tebarkembang*

Dan di Chapter sebelumnya saya mau minta maaf bila ada yang merasa tidak enak dengan lebih banyaknya moment 'Chanbaek' T.T

Tapi, sungguh. Saya sengaja menaruh moment CB dan KS lebih dulu itu karena memang HunHan nya di pertemukan di Paragraf akhir atau mendekati TBC.

Lalu, moment mereka –CB KS- juga sangat di perlukan untuk alur cerita, karena peran mereka berempat sangat di butuhkan pada 'konflik' FF ini nanti.

..

Dan, saya adalah CBS juga KSS ya. Tapi memang lebih ke HunHan, untuk itu saya adalah HunHanHardShipper. Jadi kalian gak perlu khawatir kalau moment HunHannya akan sedikit. Karena sesuai dengan 'MainCast' di atas, moment HunHan akan lebih banyak 'kok seiring berjalannya chapter aja.

..

Oke, kembali membahas Chapter satu kemarin.

Ternyata udah pada menebak ya kalau Sehun lupa ingatan?

Atau Sehun yang sengaja dijauhkan dengan Luhan karena hubungan masa lalu?

Jangan-jangan bukan Sehun lagi lelaki yang melamar Luhan di umurnya yang ke 18 tahun?

Lalu hubungan Baekhyun dengan Chanyeol?

Hihi pada penasaran? Saya suka membuat readers penasaran, maka dari itu saya membuat lebih banyak tanda tanya di FF ini untuk kalian para readersku. Namun, saya belum bisa ya menjawab pertanyaan kalian, nanti malah kebongkar lagi alur ceritanya kan jadi gak seru. Haha.

Cuman satu yang bisa saya jawab yaitu Sehun dan Luhan memang di jauhkan. Ada alasan kuat mengapa mereka tidak boleh bertemu. Nanti juga ke jawab kok. Tapi nanti yaaaa *smirk*

..

Preview Next Chapter

"Aigoo, Kau ini lucu sekali. Berapa umurmu Luhan? lima tahun ya. Kenapa wajahmu ini sangat baby face, hm? Astaga kau benar-benar lucu" Sehun tertawa.

"Luhan. Luhan. Ada apa? Apa aku menyakitimu? Kenapa kau menangis?!"

-Sehun-

..

Luhan menangis?

Hayooo, kenapa Luhan bisa menangis…..

Sehun nakal yaaaa, haha xD

..

Kalau sudah membaca, Hadiahi Nad dengan Review kalian ya *Cup*

Jangan jadi siders, okey *kedipmata*

Sudah dulu Nad cuap-cuapnya…

Sekali lagi terimakasih akan saran juga pendapat kaliaaaan (^_^)

..

Gumawo Saranghaeyoo

..

HHS JJANG! HHS FOREVER! WE LOVE HHS!