"Tsunade-sama."

"Oh kau, masuklah."

Tsunade memberi izin pria yang muncul dari balik pintu ruanganya untuk masuk kedalam. Tsunade yang masih bergelut dengan tumpukan kertas tipis yang menggunung segera ia tinggalkan, menanggalkan kacamata yang menemaninya di meja dan membawa beberapa lembar ditanganya. Lalu menghampiri pria tersebut yang masih berdiri di ruang tamu kecil miliknya.

"Duduklah Sasori," titahnya sambil duduk pada salah satu sofa single.

Sasori menurut, ia duduk pada sofa panjang yang tidak jauh dari posisi Tsunade. Raut penasarannya tercetak jelas diwajahnya yang menengah keatas seperti Sasuke, tampan.

"Ada hal yang ingin anda bicarakan Tsunade-sama?"

"Hmm, iya. Aku ingin meminta bantuanmu lagi Sasori," ucapnya membuat pria merah disamping kanannya menyerit, "Aku ingin kau membantu meringankan tugas Sasuke."

"Membantu?"

"Ya... Sasuke saat ini sedang menangani pasien yang baru dipindahkan kesini, dan dia tidak bisa mengambil 3 pasien sekaligus. Aku ingin kau yang melanjutkan perawatan pasien bernama Ken, bisa?" tanya Tsunade menatapnya.

Setelah mengatakan itu, Tsunade tidak menyadarinya. Ekspresi pria yang diajak diskusi itu berubah.

Hening. Sasori terdiam sejenak, "...Aku akan menggantikannya," sedia Sasori membuat Tsunade tersenyum senang.

"Terima kasih Sasori. Ini data Ken yang sudah ku ambil dari Sasuke," Tsunade memberikan rangkaian kertas yang sedari tadia ia pegang kepada Sasori, "Sekarang kau bisa melanjutkan pekerjaanmu."

Sasori berdiri dari duduknya, membungkukkan sedikit badannya lalu berjalan ke arah pintu keluar. Memang tidak ada siapapun disana. Namun Tuhan melihatnya, gertakan gigi kekesalan yang berasal dari pria merah itu, mengepal tangan kirinya kuat. Itu karena...

Ia selalu dinomor duakan.

"Uchiha sialan."

.

.

.

Story by NaoHK

All Charakter belong to Masashi Kishimoto

Sasuke x Sakura

Modern AU

.

"Jika aku dilahirkan kembali, aku ingin tetap menjadi diriku... tanpa penyakit ini."

.

.

That Girl with Body Weak (Chapter 2)

.

Sasuke Uchiha, seorang pria berumur 26 tahun dengan postur tubuh tinggi tegap, memiliki rambut raven berponi yang menutupi manik hitam kelam kirinya, dan garis wajah keturunan Uchiha yang digilai wanita. Menyumpah dirinya sebagai seorang dokter yang senantiasa bisa membantu khalayak. Janjinya kepada sang ibu akhirnya bisa terwujud.

Meskipun banyak rintangan yang perlu ia jalanani.

Sasuke bersama Mebuki jalan berdampingan disepanjang lorong gedung lantai 6, menuju ruangan putrinya yang ditempatkan dikamar 116. Kizashi yang sebelumnya bersama mereka pamit, karena ada hal dikantor yang sangat penting. Suasana hening sempat terjadi sebelum Mebuki sesekali mengajaknya bicara.

"Sasuke-san, sudah berapa lama bekerja disini?" tanyanya memecah keheningan.

"Tolong, jangan gunakan san. Anda bisa memanggilku Sasuke," mohonnya sopan.

Mebuki terkekeh kecil, "Maaf, kau pasti merasa seperti orang tua. Aku akan memanggilmu Sasuke-kun," Sasuke menangguk setuju, "Jadi sudah berapa lama kau disini?"

"Baru sekitar 2 tahun."

"Benarkah? Lalu apa kau bekerja dirumah sakit lain?"

"Tidak, disini pertama kalinya aku bekerja selain menjadi resident."

"Resident?" Mebuki menatap bingung.

"Istilah untuk yang sedang menjalani pendidikan menjadi spesialis, Mebuki-san," jelasnya menghilangkan jejak penasaran wanita paruh baya disampingnya.

"Haha... Maaf Sasuke-kun, aku tidak tau soal itu. Tapi di umurmu yang muda, kau sudah menjadi kepercayaan Tsunade-san. Orang tuamu pasti bangga."

Sasuke terdiam tidak menanggapi, namun dia masih mendengarkan Mebuki.

"Sepertinya kau seumuran dengan putriku. Dia dulu juga bersikeras ingin sekolah kedokteran, dan menyandang gelar dokter," ucap Mebuki mengingat putrinya,"Tapi, dia harus menggantungkan cita-citanya itu. Entah sampai kapan."

Sasuke menangkap wajah sendu seorang ibu disampingnya. Merasa terlalu larut dalam kesedihannya Mebuki segera tersadar.

"A... maaf Sasuke-kun."

"Tidak apa-apa."

"Oh, kita sudah sampai."

Kamar nomor 116 terlihat. Mereka berdua berhenti sejenak didepan pintu. Mebuki mengetuk pelan pintunya lalu menggeser pintu bercat putih, membuka jalan untuk mereka masuk.

"Silahkan, Sasuke-kun," ajaknya, "Sakura, ada dokter yang ingin melihat keadaanmu."

Manik Sasuke menangkap 2 siulet wanita yang tangah bercakap-cakap sambil tertawa ria. Wanita berambut blonde dan... wanita berambut soft pink.

"Ibu, kau sudah kembali," sapanya terseyum mengarah pada Ibunya.

Kemudian arah matanya berubah, menatap pria yang ada dibelakang ibunya. Keduanya saling pandang. Ada rasa terkejut mereka ketika mengenal satu sama lain.

"Ah iya, ini Sasuke Uchiha. Dia yang akan menjadi doktemu sayang," Mebuki mengenalkan Sasuke kepada Sakura.

"Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Sakura.

"Ku rasa begitu."

Bibir wanita itu menyungging senyum,"Aku Sakura Haruno, Mohon bantuannya Sasuke-kun," Sakura sedikit menundukan kepalanya.

Mebuki yang sempat diam mengampiri putrinya yang terduduk lemas di ranjang rumah sakit, "Aku tidak menyangka kalian sudah saling kenal."

"Kami hanya kebetulan bertemu, bu."

Siapa yang menduga kalau mereka kembali dipertemukan, walaupun keadaanya berbanding jauh. Dulu rambutnya tidak sepucat ini, matanya masih sehijau emerald, dan wajahnya masih berseri, ingat Sasuke.

"Aku akan memeriksa dan mengambil sampel darahmu," ujarnya mengambil stetoskop dari saku jasnya. Sakura mengangguk.

Tangan Sasuke terulur menyentuh dada atas Sakura dengan alatnya. Mendengarkan detak jantungnya dan cara bernafasnya.

Aneh.

Sasuke menggantungkan Stetoskop di lehernya. Mengambil bantal yang ada dibelakang Sakura sebagai sanggahan lengannya. Pelan-pelan Sasuke mengamit tangannya.

Sasuke mengikatkan torniket dilengan atasnya kemudian membantu eratan kepalan Sakura. Kemudian mengoleskan alkohol yang terserap didalam kapas, lalu segera menusukan ujung jarum kecil kedalam kulit Sakura. Maniknya menangkap ekspresi Sakura yang terpejam.

Warna merah pekat masuk kedalam wadah kecil. dirasa cukup, Sasuke menarik jarum tersebut lalu menutup bekas suntikan dengan kapas dan plester kecil.

"Apa kau memiliki keluhan?" tanya Sasuke sambil menyerahkan sampel darah ke Ino untuk segera dirapikan, digantikan catatan kecil miliknya.

"Aku rasa... perutku terasa sedikit nyeri," jawabnya.

"Lalu?"

"Kepalaku terasa pusing."

Tangan Sasuke cepat menulis keluhan-keluhan Sakura, "Ada lagi?" tanyanya lagi.

Sakura menggeleng, karena hanya itu yang dirasakan olehnya sekarang. Sasuke memasukan catatannya ke dalam saku. Berbicara lagi dengan ibu Sakura.

"Mebuki-san, sekarang aku tidak bisa menjelaskan kondisi Sakura, mungkin setelah melihat hasil darahnya akan ku beritahu. Aku akan memberikan resep obat kepada ino dan menyuruhnya mengantarkan obatnya." jelas pria itu.

"Aku akan menunggu, Terima kasih Sasuke-kun, Ino-san."

"Tolong, jangan gunakan san. Cukup Ino saja Mebuki-san," kali ini Ino yang memprotes

Mebuki mengulum senyum, "Baiklah, terima kasih Sasuke-kun dan Ino-chan."

Keduanya tersenyum.

"Kalau begitu aku pamit, selamat siang Mebuki-san dan Sakura."

"Siang."

Sasuke bergegas mundur dari hadapan mereka, menghilang dari balik pintu sambil membawa sampel darah milik Sakura. Ino yang masih ada didalam belum berniat ingin keluar, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.

"Sakura, kau sudah mengenalnya?" tanyanya, langsung mengundang minat Mebuki masuk kedalam pembicaraan mereka.

Sakura yang mendapat tatapan penasaran dari Ino dan Ibunya mencoba menjelaskan, "Tidak, aku tidak terlalu mengenalnya. Itu tahun lalu... aku bertemu denganya di taman daerah Suna."

"Terus apa yang dia lakukan disana?"

"Dia... duduk diam di tepi danau dan sore itu turun hujan, semua orang berlarian untuk meneduh kecuali dia. Jadi aku mendekati terus memayungkannya," Sakura memajukan bibirnya, "Tapi dia tiba-tiba menatap mataku tajam dan mengatai ku menyebalkan. Apa tindakan ku salah menyuruhnya meneduh? Huh?!"

Ino terkikik geli, "Itu lebih baik, Sakura. Aku sering mendengar kata yang lebih horror dibanding itu," akunya.

Yeah, itu belum seberapa dibanding 2 tahun bekerja sama dengannya.

"Aku kebawah dulu, mengambil obat mu. Mebuki-san, Sakura aku pamit," wanita blonde itu meninggalkan ibu dan anak di dalam. Kalau dia tidak cepat-cepat menghampiri Sasuke, kalimat sarkatis itu pasti keluar.

Ditinggal oleh Ino, Sakura menyambar ponsel putih miliknya diatas meja samping ranjangnya. Ibu jarinya menari, mencari aplikasi bacaannya. Sakura merindukan novelnya.

Sebelum serius dengan benda tipis yang ia pegang, Sakura mengalihkan perhatiannya, "Bu, ayah mana?" tanyanya. Dari tadi pria yang menikahi ibunya tidak terlihat.

"Ayah kembali ke Suna, ada hal penting yang membutuhlan dirinya."

Sakura beringsut sedih, saat keadaanya sedang seperti ini ayahnya selalu sibuk. Tiba-tiba tangan Mebuki menyapu lembut kepala Sakura.

"Ayah juga berjuang untukmu Sakura, mungkin besok ayah kesini," hiburnya memberi pemahaman kepada putri semata wayangnya, "Ibu juga sudah berpesan membawa novelmu kalau kemari."

Sakura tersenyum, ibunya selalu mengerti perasaanya.

"Ngomong-ngomong, Sasuke-kun tampan ya."

"Ehh?"

'Kau harus segera berteduh. Kau akan mati tersambar petir jika masih disini.'

Ucapan satu tahun lalu yang keluar dari bibir wanita yang sekarang terbaring di kamar rumah sakit menjadi perhatiannya. Saat dimana dia merasa dilema, duduk di pinggrian danau yang sedang turun hujan kala itu. Lalu takdir mempertemukannya lagi, dia menjadi pasiennya.

Hasil print out sudah keluar, suara gesekan tinta yang berhenti membuyarkan lamunanya. Dia kenapa? Kenapa tiba-tiba memikirkan sesuatu yang hanya membuang waktunya?

Tanpa memikirkannya lagi, Sasuke membaca hasil tes darah Sakura. Mengamati benar tulisan yang tercetak disana bahwa ia tidak salah mendiagnosis. Setelah hasilnya sesuai, Sasuke keluar dari ruang laboratorium membawa hasil tes darah ke ruangan Sakura.

"Oh, ada Uchiha ternyata."

Sasuke melirik pria berambut merah dihadapannya yang hendak masuk ke ruang laboratorium. Menatapnya dengan senyum mengejek. Sasuke menghiraukannya, tidak membalas ucapannya.

"Bisakah kau menyelesaikan tugasmu merawat pasien sampai tuntas? Ditengah-tengah meninggalkan mereka dan merawat pasien baru. Kau begitu serakah Uchiha," cercanya membuat langkah Sasuke terhenti.

Merasa didengar, pria itu kembali berucap, "Kau harusnya bisa bertanggung-"

"Urus pekerjaanmu sendiri Sasori," Sangga Sasuke memotong ucapannya, "Kau seharusnya bersyukur, aku masih mengingatmu. Itu lebih baik bukan dibanding berdiam diri ruanganmu."

Pria bernama Sasori menggeram kesal, kata-kata Sasuke yang ia ucap terasa menghinanya.

"Jangan sombong kau Uchiha! Akan ku ajarkan kau cara bertanggung jawab pada pasienmu!"

Sasuke hanya melambaikan tangan perpisahan sebagai balasanya. Melanjutkan pekerjaannya memberi hasil lab. Cicitan Sasori sudah tidak terdengar lagi, karena jarak mereka sudah cukup jauh.

'Ting!'

Sasuke masuk kedalam lift, menekan angka 6 untuk kembali keruangan 116.

Dengung nyanyian keluar dari bibir pucatnya,menggumankan sebuah lagu yang sedang berputar di ponsel tipis yang menemaninya sekarang. Nama 'Swimy' tertera pada label penyanyi yang diputarnya.

Sepi. Tidak ada siapapun kecuali dirinya diruangannya. Berbaring diatas ranjang rumah sakit yang berbalut kain putih –warna umum yang disukai rumah sakit. Ibunya pergi keluar untuk mencari makan, kalau dipikir sedari tadi memang ibunya belum makan. Dirinya sibuk mengurus Sakura.

Dari arah luar terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya harus melepas earphonenya. Untungnya suara yang didengar tidak membuat Sakura tuli.

"Ya, silahkan," teriaknya berusaha kencang.

Sasuke muncul dari balik pintu, masuk sambil membawa kertas ditangannya. Manik hijaunya sempat mengekor pria itu yang semakin mendekat ke arahnya.

"Ibumu dimana?" tanyanya.

"Dia sedang turun kebawah, mencari makan siang. Mungkin sebentar lagi datang."

Sasuke tidak menjawab, dia pergi ke arah sofa yang tersedia didalam kamar Sakura. Harus Sakura akui, kamarnya sekarang berbeda jauh dengan kamarnya dulu. Ini jauh lebih luas.

"Aku akan menunggunya," katanya.

"Hm, baiklah."

Hening. Pria itu tidak berbicara lagi, hanya terdiam dikursinya membuat Sakura jenuh. Akhirnya Sakura kembali berkutat dengan layar sentuh miliknya lagi. Membaca deretan kalimat sebuah cerita yang dikarang dari situs fiksi sebagai pengganti novelnya.

Onyxnya melirik wanita yang terduduk di ranjang. Tertawa kecil menatap benda tipis ditangannya. Bukannya tadi dia mengeluh pusing?

Sasuke bangun dari duduknya, mendekati Sakura yang tidak sadar dirinya sudah ada disamping ranjangnya. Masih asik dengan dunianya.

"Hei!" teriak Sakura ketika ponsel miliknya berpindah tangan. Emerald Sakura mendelik kepada onyx Sasuke yang sedang menatapnya.

"Kau harus banyak istirahat. Ini bisa jadi salah satu penyebab kepalamu sakit. Paham."

Sakura mendesah keras. Selama dirawat di rumah sakit Suna dia merasa baik-baik saja, tidak ada larangan apapun dari dokter.

"Baiklah, aku akan menyimpan ponselku jadi kumohon kembalikan," pinta Sakura halus, setidaknya dia tidak akan memainkan ponselnya selama ada dokternya.

Sasuke menyeringai, ia tahu itu tidak mungkin.

"Saat ibumu datang akan ku kembalikan," Sakuke pergi kembali ke tempat duduknya, mengantongkan ponsel sitaanya.

Sedangkan Sakura? Wanita itu pasrah diranjangnya. Tidak bisa mengambil kembali poselnya karena tubuhnya yang sakit. Hanya bisa menunggu sampai ibunya datang.

Pintu masuk tergeser, Ibu Sakura masuk dengan beberapa kantong ditangannya. Dia sempat kaget melihat Sasuke ada didalam.

"Sasuke-kun, kau sudah dari tadi?"

"Tidak, aku belum lama ada disini."

Sakura menajamkan tatapannya, membuntuti mereka berdua yang tengah mengobrol singkan, kemudian dilanjutkan membahas kertas yang Sasuke bawa. Ibunya mendengarkan serius sambil terkadang mengangguk mengerti.

"Ada satu lagi," Sasuke mengeluarkan ponsel Sakura, "Tolong anda batasi pemakaian ponselnya, dia masih harus istirahat banyak," hirauannya sambil menyerahkan ponselnya.

"Iya, Sasuke-kun. Dia kadang bilang suka bosan dan aku lupa membawa novelnya sebagai pengganti ponselnya," alasan Mebuki sambil tersenyum maklum.

"Aku mengerti, tapi untuk beberapa hari ini biarkan Sakura istirahat dulu."

Mebuki melirik Sakura yang sedang mendengarkan percakapan mereka diranjang empuknya, "Baiklah, aku akan membatasinya."

"Hanya itu saja yang ingin ku sampaikan, Selamat sore," Pamit Sasuke keluar dari ruangan mereka.

Hari ini sudah pukul 3 sore. Masih ada 2 jam lagi sebelum jadwal paginya usai, Sasuke menyempatkan diri keruangan Naomi untuk melihat keadaanya.

Ponsel Sasuke begetar panjang di saku atas jasnya. Tanganya sigap meraba sakunya untuk melihat siapa yang memghubunginya. Diliriknya layar yang tengah menyalah.

Sasuke memasukan kembali ponselnya, tidak menghiraukan panggilan yang masuk. Sementara ponselnya terus bergetar sampai beberapa kali.

Panggilan masuk...

No name

+81- 56 - 45xx -xxxx

(Bersambung...)