BODY

.

.

.

Suasana didalam sana masih begitu tenang setelah kejadian akward barusan itu. Sasuke masih terkulai lemas setelah ejakulasi pertamanya yang hebat. Nafasnya memburu dan wajahnya merah padam. Ia merasa begitu bodoh dan pervert melakukan hal memalukan semacam itu didepan Naruto. Sementara si blonde cuma bisa cengo meloading seluruh kejadian tersebut dengan tampang bodoh.

Dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, Sasuke berusaha bangkit untuk melihat keadaan pemuda blonde yang baru saja melihat ejakulasinya tersebut.

"Naruto.. Maaf..", lirihnya pelan.

Naruto yang mendapati Sasuke menatapnya dengan pandangan bersalah segera berusaha bangkit dari lamunannya. Ia berusaha tersenyum seolah tak terjadi apapun tadi.

"Tak apa teme! Jangan sungkan ne!", menggaruk kepalanya yang tak gatal, Naruto nyengir 5 jari seperti andalannya membuat Sasuke tersipu malu seketika.

Demi dewa jashin ataupun dewa-dewa lainnya diatas sana, Sasuke ingin sekali menghilang dari sana detik itu juga. Ini amat sangat memalukan untuknya. Ia melirik kearah sang blonde yang nampak baik-baik saja disana, tak ada ekspresi jijik ataupun merendahkan pada tatapannya. Ini tentu aneh, terlebih lagi dengan santainya Naruto menyeka cipratan sperma miliknya di tubuhnya lalu menjilatnya dengan antusias.

Bukankah itu menjijikan?

"Hei, stop! Itu kotor dobe! Hentikan!", Sasuke berseru keras memperingatkan.

"Ne.. Milikmu selalu manis seperti dirimu, teme. Aku menyukainya",

DEG!

Bagus bahkan sekarang si blonde bodoh itu berkata menyukai spermanya seperti itu. Ya Tuhan, ujian macam apa lagi kali ini.

Sasuke menghembuskan nafasnya lelah, ia menekuk lehernya kesamping menikmati setiap sensasi dimana Naruto tengah asyik menjilati jari-jarinya yang berlumuran sperma. Tanpa ia sadari sebuah senyum tersungging dibibir tipisnya.

Naruto yang menyadari hal itu berenang pelan mendekat lebih lagi kearah Sasuke. "Ne.. Teme, boleh aku mencicipinya lagi?", tanyanya gamblang.

"Bodoh.",

.

.

.

.

.

"HYAA.. NARUU.. HUaAA.. — NGGh! Stop it, dobe! Akhhh..", suara lenguhan panjang terdengar mengalun didalam kamar suite room tersebut.

Sasuke sang empunya suara, tengah kepayahan mengatur nafas dan libidonya manakala jemari tan nakal milik sang dominan memanjanya dibawah sana. Melihat submissive nya yang mulai lemas, seringai puas jelas terlihat dibibir Naruto. Sengaja ia memainkan jarinya disekitar lubang uretra sang raven untuk membuatnya semakin kepayahan.

"Kau suka itu, teme? Kau menginginkannya huh?", suara baritone rendah Naruto mengiang dikepala Sasuke. Bahkan telinganya pun tak luput dari jamahan lidah sang blonde yang terus mengulumnya sambil membisikkan kalimat-kalimat yang memprovokasi. Demi Tuhan, rasanya Sasuke ingin sekali meleleh saat ini juga.

"Ahhh.. Dobehh.. Jangan.. —aakhhhh..! Nggh..", desahan Sasuke tak lagi bisa ia tutupi.

Perlakuan Naruto terhadapnya benar-benar mebuat Sasuke menggila dan hampir pingsan diambang kenikmatan.

Entah bagaimana, ia merasakan sentuhan Naruto disetiap inchi tubuhnya. Membelainya di dada, leher, kaki, kepala — ahh semuanya. Terlebih ciuman dari sang blonde itu begitu memabukkan. Sasuke tak pernah merasa sebergairah ini sebelumnya. Lubang pantatnya sudah protes minta dijamah. Sudah tak bisa lagi... Ini bukan waktunya untuk malu-malu...

"Dobee...", dalam sekali gerakan, Sasuke mengakhiri jamahan Naruto pada batang kejantanannya. Ia pun perlahan menunggingkan pantatnya, melebarkan belahan pantat sintalnya dengan kedua jari untuk memperlihatkan lubung merah berkedut yang akan membuatnya semakin menggila. "Disini.. Rasanya sangat gatal.. Dobeh.. ", gumamnya polos.

Naruto menyeringai tipis melihat kelakuan submissivenya yang begitu berani menggodanya seperti itu. Dan bukannya mendekat, Naruto justru sedikit mengambil jarak dari sang raven kemudian berucap, "lakukanlah sendiri, suke! Aku ingin melihatmu melakukannya sekarang juga",

Wajah Sasuke bersemu semakin padam. Harusnya ia marah karena dominannya justru mempermainkannya seperti itu, tapi.. Entah mengapa ia sangat menyukai sensasi nya.. Sangat.. Membuatnya panas..

"Ahhhh..! DobEe.. ! Akkhhh..,!", desahan Sasuke terdengar lebih berat saat ia mulai menusukkan jarinya sendiri kedalam lubang analnya.

Jemarinya yang ramping menusuk memanja lubang berkedut itu begitu sensual. Tak lupa sesekali ia meregangkan jemarinya didalam sana guna memperlebar jalur aksesnya.

Shit! Bahkan dilihat tengah mastrubasi seperti ini oleh sang blonde sudah membuat Sasuke semakin bernafsu saja!

"Ngg — dobe! Ahhh..! Ahhh — ",

Naruto tak hentinya tersenyum manakala melihat kegiatan panas pemuda berparas cantik itu yang begitu bergairah menjamah lubang analnya sendiri. Jujur saja, ia ingin sekali sekarang juga menggagahi lubang pink mungil itu. Tapi tunggu bukankah wine lebih nikmat jika disimpan lebih lama bukan? Permainan ini akan jadi lebih nikmat pada waktunya nanti. Naruto hanya perlu menunggunya saja.

But.., sedikit bersenang-senang boleh lah...

Tanpa aba-aba sebelumnya, Naruto beranjak dari duduknya kemudian menusukkan jarinya kedalam lubang Sasuke begitu dalam.

"ARRGGGHHH! Dobeehh! STOP! IT'S HURT!",

Sasuke yang terkejut mendapati lubangnya terisi penuh oleh jemarinya dan milik Naruto cuma bisa berteriak kesakitan dengan air mata melinang di sudut mata kelamnya. Perlahan ia mulai mencabut keluar jemarinya namun Naruto menghentikan hal tersebut seketika.

"Jangan! Tetaplah didalam, kita akan bermain bersama, Sasuke..", bisik Naruto seduktif.

Bibirnya mengecup sepanjang punggung Sasuke, membuat sang empunya menggigil menahan ngilu di lubang dan ujung penisnya yang mulai berlumuran precum.

"Move Sasuke..", dan dengan sekali arahan, jemari mereka saling bergantian menusuk masuk didalam sana.

Jika Sasuke masuk maka Naruto akan keluar dan begitu pula sebaliknya.

Oh, God! Ini sangatlah menyakitkan. Tapi entahlah Sasuke menyukainya..

"Dobehh.. Aku.. Akuhh mau keluaarr... — Ngg..", ucap Sasuke terbata.

Tubuhnya sudah bergetar hebat menahan sensasi nikmat diujung penisnya yang berkedut-kedut. Ia sudah tak sanggup lagi menahan arus kenikmatan yang begitu melilit perutnya. Ia hampir saja menumpahkan seluruh air maninya jika saja Naruto tidak tiba-tiba mencabut keluar jarinya sehingga lubang analnya kini terasa dingin dan kosong. Dan Sasuke cuma bisa melenguh frustasi karena ejakulasinya kembali gagal, "Dobeehh.. Kau.. Ughhh — ", Sasuke meringis frustasi.

"Belum saat nya teme.. Bersabarlah..",

Naruto membaringkan tubuhnya diantara sela tumpuan kaki Sasuke. Seringai jahil tak lepas dari wajah maskulin miliknya. Dan dengan cepat ia menjulurkan tangannya untuk menarik penis Sasuke mendekat kearah mulutnya.

"Dobe apa yang... —AHHhhhhhh...~", Sasuke menjerit keenakan.

Penisnya sudah terasa ngilu akibat gagal ejakulasi dan sekarang Naruto malah mengulum penisnya bak ice cream loli di musim panas. Demi Tuhan ia sudah tak bisa lagi menahannya.

"Narutooh.. Narutoooooo — ", dan dengan sedikit hisapan Naruto dipucuk kejantanannya ia pun klimaks dengan sempurna.

.

.

.

Nafas Sasuke masih belum stabil, ia baru saja klimaks hebat dan Naruto masih setia menghisap penisnya seakan ingin memeras setiap sari di dalamnya hingga habis.

Penisnya masihlah sangat sensitif namun Sasuke harus menerima perlakuan sang dominan yang masih bersemangat menjahili miliknya hingga saat ini. Kakinya sudah tak mampu lagi menumpu berat badannya , Sasuke pun tergeletak lemas menindih kepala sang blonde.

"Hei, kau tak apa teme..?", seulas senyum terpatri diwajah jahil Naruto.

Ia nampak begitu puas setelah mempermainkan submissivenya sebegitu intens nya. Wajah merona Sasuke saat ini tentu sangatlah menyenangkan untuk diamati. Bagaimana surai hitam yang biasanya mencuat melawan gravitasi itu kini terkulai basah oleh keringat, lalu nafasnya yang memburu dan sisa rasa cairan cinta Sasuke didalam mulutnya yang masih terasa manis. Demi Tuhan, Naruto begitu menggilainya.

Pelan.., Naruto membelai lembut pipi bersemu milik submissivenya itu. Menyentuhnya begitu penuuh penghayatan seakan yang tengah disentuhnya adalah sebuah porcelen cantik nan rapuh.

"Sasuke...", ia berbisik lirih lalu mulai mengecup pipi, hidung dan dahi Sasuke penuh sayang.

Sasuke yang mendapat perlakuan sebegitu lembut dari sang dominan cuma bisa melenguh pelan dan bersemu malu saat didaratkan kecupan-kecupan mesra pada anggota tubuh nya. Ia begitu terlena dan mabuk akan sentuhan dari pemuda blonde menakjubkan tersebut .

Perlahan jemari tangan Sasuke bergerak menyentuh wajah sang dominan. Menangkup wajah maskulin tersebut dalam genggamannya. Merasakan kehangat disetiap pembuluh darah miliknya.

"Naruto..., aku meyukaimu... Sangat", ucap Sasuke pelan dengan air mata menumpuk dipelupuk matanya.

"Aku ... Menyukai mu.. Suka — "

"Ssstt —", dan dengan telunjuknya Naruto menghentikan pernyataan cinta sang raven.

"Stop teme.., aku tahu itu... Jangan teruskan ya", ujarnya lirih.

Naruto membawa tubuh gemetaran Sasuke kedalam pelukannya. Saling menautkan tubuh telanjang mereka untuk mengais sisa-sisa kepastian dalam hati yang tak mungkin bisa diukur dengan rumusan matematika.

Naruto mengecup kelopak pucat nya mesra. Menyesap aroma tubuh Sasuke dalam-dalam untuk mematrinya dalam otak dan memorinya.

Oh God! Naruto tak ingin kehilangan pemuda raven ini lagi.

"Dengarkan apa yang ingin aku katakan Sasuke.. — aku tak tahu apa kah perasaan ku ini pantas disebut cinta atau tidak. Aku masih belum yakin. Tetapi —aku menyukai mu Sasuke. Dengan sepenuh hatiku. Aku menyukaimu Uchiha Sasuke",

"Kau — sungguh-sungguh?",

"Ya, Sasuke — aku menyukaimu",

Ucapan terakhir dari Naruto itu benar-benar sudah menohok hati Sasuke yang terdalam. Air matanya pun telah berlinang membasahi kedua pipinya. Sasuke memeluk tubuh tan itu dalam dekapannya. "Kau bodoh Naruto.. Dasar dobe! Usuranotonkachi baka! — ", segala serampah keluar dari mulutnya yang bergetar.

Perasaan kesal dan bahagia bercampur aduk didalamnya. Membuat Sasuke mual seakan ribuan kupu-kupu bergulat didalam perutnya.

Jemarinya berhenti memukuli dada Naruto. Ia mendongak menatap 2 netra sebiru lautan itu penuh sayang.

"Kenapa lama sekali sadarnya! Dasar dobe! Tidak peka! — aku juga menyukaimu! Sangat suka bodoh!", dan sebuah kecupan manis mendarat ditepi bibir Naruto.

"Dengar Sasuke...Aku tak tahu apakah ini pantas atau tidak. Tetapi aku akan membuktikan perasaan ku ini lewat tubuhku — hanya dengan itu kau akan menyadari bagaimana rasanya",

Sasuke terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk dengan seukir senyum di bibirnya.

"Naruto.. Aku menyukaimu. Lakukanlah", ucap Sasuke lirih.

Dan Dalam sekali gerakan, Naruto membaringkan tubuh polos submissivenya itu terlentang dibawah dominasinya.

Wajah bersemu Sasuke sungguh menggoda untuk dicicipi. Naruto menghela nafas panjang merasakan nafsunya yang sudah diubun-ubun.

Ia mengecup punggung tangan sang raven mesra kemudian berbisik , "As your wish, hime-sama",

Tubuh Sasuke bergetar hebat manakala pemuda tan tersebut membelai pelan lipatan paha dalamnya. Ia merasa seperti gadis perawan yang akan mengalami malam pertama saja. Begitu tegang, takut, frustasi namun juga sangat menikmatinya. Sial! Kenapa juga sekarang ia harus bertingkah seperti seorang gadis ehh!

Menyadari ketakutan Sasuke, Naruto hanya tersenyum simpul. Jemarinya menyentuh puting pink yang menegang itu kemudian memilinnya lembut, membuat sang uchiha mendesah manja.

"Rileks Suke, kau tahu kan ini akan nikmat", bisikan seduktif dari sang blonde jelas membakar nafsu Sasuke lebih lagi.

Ia mengalungkan lengannya pada leher Naruto dan mendaratkan ciumannya pada leher dan dada bidang sang dominan. Mengecup dan meninggalkan tanda kepemilikan yang tak akan hilang dalam beberapa hari kedepan. Sasuke tersenyum puas melihat hasil karyanya itu.

"Dobe, aku menyukaimu...", bisik Sasuke pelan lalu kemudian melebarkan ke dua kakinya untuk memamerkan lubang rectum berkedut miliknya pada sang dominan.

"Dasar bocah nakal...", Naruto mendengus pelan sebelum akhirnya ia membasahi kedua jemarinya dan menginvasi lubang kelaparan Sasuke secara cepat. Mengeluar masukkan 2 jarinya dan tak lupa membuat gerakan semacam gunting untuk menyiapkan lubang tempatnya berdiam nanti.

"Aku masuk ya.. Sasuke", ucap Naruto meminta izin.

Ia menempelkan kepala penisnya pada ujung luar anal Sasuke. Menggeseknya pelan seakan memberi salam perkenalan, sebelum akhirnya dengan perlahan penis tersebut bergerak masuk meski dengan usaha tambahan.

Sepertinya ukuran penis Naruto lebih besar dari yang bisa Sasuke tampung selama ini.

"Uggh — kau sempit sekali suke — ", Naruto mendesis kesal merasakan penisnya yang tak kunjung masuk sementara rectum Sasuke meremasnya begitu kuat. "Suke — argghh! Jangan remas penis ku terlalu kuat ne", dan rasa ngilu pun semakin menjalari Naruto.

Sasuke yang sedari tadi hanya bisa menahan, kini mulai frustasi akibat rasa sakit yang tak kunjung hilang di rectumnya "Nggghh! Dobee — AKhhh! Sakit sekali! Akkkhhhh — STOP",

Asupan nafasnya seakan terhenti akibat dari rasa sakit yang teramat. Sasuke berkeringat cukup banyak hingga tangannya mendingin. Menyadari hal itu Naruto menggenggam telapak tangan sang raven begitu erat. Ia melumat bibir pemuda Uchiha tersebut berharap Sasuke dapat melunak barang sejenak. Dan kemudian, dalam sekali gerakan ia menghentak begitu keras dan dalam.

"NGGGHHHHHH — ", Sasuke menjerit dibalik lumatan bibir Naruto.

Matanya terbalik merasakan sensasi panas di bagian bawa tubuhnya itu.

Nafas Naruto memburu, tanpa buang-buang waktu lagi ia mulai menggerakkan tubuhnya tak mau membuat submissivenya malah jatuh pingsan karena kesakitan. Ia harus segera bergerak dan menemukan letak titik kenikmatan Sasuke sesegera mungkin.

"AHHH! Naruuh — AHHHH! Disana! HYAAA~ NARUTOOOo ", Dan jeritan Sasuke menunjukkan dimana tempatnya.

"Sasuke — ahhh! Kau sempurna sayang! Lubangmu ketat sekali! Kau suka penis ku eh?!",

Dirty talk yang Naruto lontarkan kepada sang raven malah membuat mood bercinta Sasuke semakin menjadi. Rasa sakit yang tadi ia rasakan kini malah berubah menjadi sensasi aneh yang membuatnya ingin lagi dan lagi saja.

"Naruuu.. HYAAA! Lagi! Ahhhhh — Hayaku!",

Berkali-kali penis Naruto mengenai sweet spot nya dengan tepat, membuat pengelihatannya memutih seketika saat rasa nikmat itu menyengat pendek bagaikan arus listrik. Bibir ranumnya terbuka dengan lidah menjulurkan tetesan saliva. Pemandangan yang begitu erotis dan membuat Naruto begitu menikmatinya.

"Sasuke — ", Naruto berucap berat.

Ia merasa klimaks akan segera menghampirinya. Terasa aneh karena rasanya baru sebentar ia menjamah tubuh sexy tersebut. Padahal biasanya ia dapat menahan ereksi nya lebih lama sampai-sampai membuat pasangan sex nya menjerit frustasi bahkan sampai jatuh pingsan. Tetapi — sungguh! Saat bersama Sasuke rasanya begitu berbeda.

"AHHH! Narutoo aku mau keluar...! AHHHH!", desahan Sasuke semakin menjadi.

Melihat submissive nya yang hampir mencapai puncaknya, Naruto mengerakkan penisnya lebih cepat dan dalam dari sebelumnya. Memberikan gerakan in-out yang mampu membuat Sasuke bergetar dengan penis yang mengacung tinggi dan lelehan spermanya yang mulai mendesak keluar.

" Sasuke... Sasu... AKHHH — ", Naruto menjerit nikat.

Ia sudah tak mampu lagi menahan dan akhirnya menumpahkan seluruh spermanya didalam lubang anal Sasuke. Sementara Sasuke pun juga sudah klimaks berbarengan dengan sang dominan.

Mereka berdua tersungkur lemas saling berpelukan diatas tempat tidur. Mengatur nafas dan suhu tubuh mereka yang tengah memuncak.

Sasuke tersenyum tipis saat merasakan kehangatan dari cairan cinta Naruto didalam tubuhnya. Begitu panas dan membuatnya sangat merasa nyaman.

Sementara Naruto pun cukup terkejut akan perasaan yang ia rasakan seusai bercinta dengan sang raven. Ia merasa sangat hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Sungguh ini baru kali pertamanya bagi Naruto merasakan ini semua.

Ia sudah berpengalaman melakukan hubungan dengan berbagai wanita, mungkin dengan pria ini akan akan jadi yang pertama namun mengapa rasanya begitu berbeda.

Kini Naruto benar-benar telah menyadari perasaannya terhadap pemuda bermarga Uchiha tersebut. Ia sudah tak ragu lagi. Dan yang kini Naruto rasakan hanyalah perasaan sayang dan rasa takut kehilangan pasangannya.

Naruto pun mempererat pelukannya terhadap sang raven. Mengecup dahi pemuda itu penuh sayang sebelum berucap, "aku mencintaimu, Sasuke" dan mereka berdua pun terlelap.

.

.

.

.

.

.

FIN

.

.

oOoOoOo

.

.

.#cerita tambahan (๑•̀ㅂ •́)و ✧

Sasori merasa jika kepalanya akan segera pecah jika saja efek dari aspirin tidak segera mengurangi rasa sakitnya.

Kembali kebeberapa jam yang lalu.

Sasori baru saja akan membangunkan sang artis untuk segera sarapan dan bersiap ke lokasi syuting pagi itu.

Begitu membuka pintu kamar milik Sasuke, yang ia dapati adalah kamar artisnya itu begitu berantakan dan lagi bau khas bercinta yang pekat menguar dari dalam sana.

Sasori berjalan melintasi helaian baju yang berserakan disepanjang lantai, Menuju ke ranjang king size milik sang artis.

Kepalanya mulai berkedut riang. Masalah dengan pemuda Hyuuga belum juga selesai ia bereskan, sekarang Sasori harus mendapati artis fenomenalnya tersebut (terlihat) "TIDUR" dengan sesosok — entahlah itu siapa.

Sasori yakin itu bukan Neji karena ia baru saja melihat pemuda flamboyan itu berjalan menuju restoran hotel. Lalu dengan siapa Sasuke tidur kali ini?

Sasori melihat sepucuk surai keemasan dibalik selimut tebal diatas ranjang Sasuke. tiba-tiba perasaannya jadi tak enak. Dan dengan cepat Sasori menyibak selimut tersebut. Hingga terlihat dua love bird a.k.a Sasuke dan Naru.. EHHH?!

.

.

.

.

Sasuke duduk dikursinya dalam diam, sudah satu jam lebih manager kesayangannya itu mengomel panjang x lebar x tinggi. Sial baginya, Sasori memergokinya tertidur bersama Naruto sehabis mereka bercinta semalam. Sasuke tahu itu juga salahnya karena bangun kesiangan sehingga managernya harus menjemputnya ke kamar. Tapi ohh! Ayolah! Siapa juga yang bisa bangun pagi sehabis semalam suntuk bercinta begitu panas?! Bahkan sampai sekarang rasanya lutut Sasuke masih sedikit bergetar karenanya.

"Kau tahu kan aku sama sekali tak mempermasalahkan dengan siapa kau tidur sekalipun itu dengan adik pacarku sendiri, kau paham maksud ku kan Sasuke?", suara Sasori meninggi satu oktaf

"Itu hak mu berkencan dengan siapapun! Tapi ku mohon, kau tahu kan hari ini kita akan mengambil gambar yang akan mengekspos tubuhmu! Lalu kenapa kau membiarkan Naruto memberikan kiss mark sebanyak itu di sekujur tubuhmu, Sasuke?!", omelnya kesal.

Sasuke cuma diam ber- Hnn ria menimpali omelan dari sang manager. Ia melipat lengannya di dada. Memperhatikan pantulan dada polosnya dicermin yang terlihat penuh oleh kiss dan bite mark.

Ia menyeruput coffe lattenya pelan, menyesapnya perlahan sambil memikirkan sesuatu dalam otaknya.

Sasuke sadar betul mengapa Sasori yang biasanya pendiam kini malah mengomel layaknya ibu-ibu penggosip. Ia juga tahu jika kelalaiannya itu akan mempersulit pekerjaannya hari ini. Tapi... Siapa yang sudi menolak tanda cinta dari sang terkasih? Oh tidak! Sasuke menyukainya! Ia menyukai setiap ruam merah ditubuhnya itu. Membuatnya merasa hard dan begitu bergairah.

"Sasori...", panggil Sasuke. "Jika posisiku ditukar dengan Neji apakah itu akan menyulitkan?", tanyanya

Sasori mengernyit heran. "Tentu saja, kau tahu kan tubuh Hyuuga tak sebagus milikmu, tentu Yamada-san tak akan mengizinkan", jawab Sasori penuh pertimbangan. "Jika saja tubuhnya lebih bagus darimu mungkin saja itu bisa..",

Sasuke menyeringai tipis mendengar jawaban dari sang manager, ia meletakkan cangkir kopinya keatas meja kemudian beranjak pergi, membuat Sasori semakin tak mengerti maksud pemuda raven tersebut .

"Asalkan tubuhnya lebih bagus dariku itu sudah cukup bukan? Kau tak perlu khawatir Sasori, aku akan bereskan itu untuk mu",

.

.

-1 month latter-

.

.

Naruto menguap keras saat keluar dari art studio kampusnya dengan wajah mengantuk. Ini sudah masuk musim panas, harusnya ia sudah bisa mendapatkan libur kuliah. Sayangnya sang dosen sepertinya tak mau melepaskan mahasiswa kesayangannya tersebut sebelum Naruto mengumpulkan presentasi terakhirnya. Walhasil, kini Naruto harus bolak-balik ke kampus meski tak suka.

Teriknya matahari begitu menyengat kulit dan membuat Naruto ingin segera sampai dirumah saja. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku jaketnya saat perjalanannya terganggu oleh sekumpulan wanita yang berteriak histeris melihat beberapa poster yang tertempel di etalase kaca pertokoan.

"KYAAA! Sasuke-kun cantik sekali ne — kawaii", salah seorang wanita memekik senang.

"Ya kau benar haruka-chan! Tetapi aku sangat penasaran siap pemuda yang tengah memeluk Sasuke-kun itu? Bukankah ia terlihat sangat sexy? Kulitnya tan, aku sangat suka", timpal wanita yang lainnya.

Naruto mendengar percakapan wanita-wanita tersebut dalam diam, ia cuma bisa mendesah pelan sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Ia menatap salah satu poster yang membuat wanita-wanita di Jepang berteriak histeris belakangan ini.

Artis terkenal Uchiha Sasuke berpose HOT dengan pemuda misterius berkulit tan yang memiliki body indah yang super maskulin. Sosok pemuda yang hanya memperlihatkan bagian punggungnya saja itu kontan membuat semua wanita histeris dan penasaran.

Naruto tersenyum simpul memandangnya kemudian berlalu pergi meninggalkannya.

Sepanjang perjalanan pulang ia tak henti-hentinya tersenyum sambil mengingat berbagai kejadian yang sudah berlalu sebulan belakangan.

Bagaimana hidupnya berubah...

Bagaimana ia menyadari cinta sejatinya..

Bagaimana ia menemukan kebahagiaannya..

Dan tentunya...

Bagaimana kekasih tercintanya itu membuat gempar seantero Jepang dengan berpose memanfaatkan punggung miliknya untuk digunakan sebagai bahan kebutuhan majalah.

Yeah, pemuda misterius di balik foto Uchiha Sasuke si artis terkanal tak lain dan tak bukan adalang dirinya. Uzumaki Naruto, mahasiswa tingkat akhir fakultas seni Tokyo yang dulunya terkenal playboy dan kini adalah seorang gay!

Ya, gay.

Dan Naruto sama sekali tak mempermasalahkan lagi soal itu.

Ia sudah terlanjur jatuh hati pada sang artis fenomenal...

Ia hanya tertarik pada Sasuke-nya saja.

Dan sekarang... Ia merasa amat sangat bahagia karena sudah memiliki pemuda raven itu seutuhnya.

"Aku pulang..!", Naruto berseru begitu memasuki rumahnya. Ia mencopot sepatunya lalu segera berjalan masuk.

Iris shapire nya melihat berkeliling mencoba mencari sesuatu yang sedari tadi dicarinya.

Dan akhirnya Naruto menjumpai sosok yang dicarinya itu tengah tertidur di sofa dengan begitu lelapnya.

Ia berjalan mendekat. Memperhatikan bagaimana Sasukenya itu tengah tertidur dengan nyamannya di sofa ruang tamu. Suara dengkurannya terdengar halus dan wajah tidurnya terlihat begitu damai. Ini sudah 3hari sejak keberangkatan Sasuke ke luar kota untuk urusan pekerjaan, dan hari ini pemudanya itu kembali lagi ke 'rumah' mereka kembali. Oh, God! Betapa Naruto begitu merindukan sosoknya beberapa hari belakangan.

Naruto tersenyum.

Lalu ia mengecup pucuk kepala pemuda yang begitu dicintainya itu begitu lembut dan penuh perasaan mencoba menyalurkan perasaan terdalamnya lewat sebuah kecupan.

"Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke. Selalu..",

,

,

,

,

~OoOoOoO~

HYAAA! Akhirnya selesai juga ne! Saya sangat bahagia saat ini.

Terima kasih sudah membaca karya saya ini.

Dan terima kasih bagi semua yang sudah me review nya. Saya sangat bahagia.

Oh ya, saya mohon maaf jika tak bisa membalas komentar minna-san satu per satu tetapi aku selalu dan akan selalu mengapresiasi semua review dari minna-san.

Dan maafkan jika lagi2 karya saya ini masih saja abal dan banyak kekurangan.

Jangan bosan membaca karya abal sayya ini ya. :D

Hope u enjoy it.

Love ya..

#mhomyoza