PERFECTLY IMPERFECT.
by: byunchips
Byun Baekhyun x Park Chanyeol
and other.
CHANBAEK
BOYS LOVE / YAOI / RATE-M
CHAPTER 03
.
.
.
"Sehun?"
Sehun berdehem menjawabnya.
"Kenapa kau menyukai basket?"
"Karena aku suka olahraga."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya di belakang Sehun. Matanya menyipit karena wajahnya di terpa angin kencang membuat anak rambutnya berterbangan sesekali mengenai wajah mungilnya. Bagaimana tidak, sekarang ia dan Sehun sedang menaiki motor. Namun, hanya Sehun saja yang memakai jaket dan helm. Sedangkan Baekhyun, ia bahkan tidak memakai jaket dan helm.
"Kalau kau suka olahraga kenapa memilih basket? Kenapa tidak yang lainnya?"
Sehun terdiam. Sebenarnya ia malas sekali menjawab pertanyaan Baekhyun. Dirinya menyesal telah mengantar Baekhyun, seharusnya ia mengatakan bus mana yang akan mengantarkan Baekhyun kemudian pergi begitu saja. Masalah selesai.
Suasana hening. Tidak ada pembicaraan antara Baekhyun dan Sehun. Baekhyun juga terdiam dan tidak menanyakan apapun lagi pada Sehun. Baekhyun tersadar sepertinya Sehun memang tidak ingin berbicara dan Baekhyun mengerti bahwa dirinya sungguh cerewet kepada orang yang baru saja dikenalnya.
"Basket sangat menyenangkan,"
"Wah benarkah? Aku juga berpikir seperti itu. Walaupun tinggi badanku seperti ini, tapi aku sangat menyukai basket!" Nadanya terdengar ceria sekali setelah Sehun menjawab pertanyaannya. "Apa menyenangkan sekali bisa mengikuti pertandingan basket?"
"Ya. Menyenangkan. Rasanya seperti—kau tahu ketika kau menyukai sesuatu dan melakukannya dengan hebat kemudian memperlihatkan skillmu kepada orang lain?"
"Wah! Rasanya pasti menyenangkan sekali, iyakan?"
Sehun terkekeh mendengar Baekhyun yang tertawa seperti anak kecil, sesekali meliriknya lewat kaca spion.
"Bagaimana denganmu di Amerika?"
"Aku memang mengikuti basket, tapi selama aku mengikuti klub basket aku tidak pernah mengikuti pertandingannya,"
"Kenapa?"
"Masalah tinggi badan,"
"Hahaha—" Tanpa sadar Sehun tertawa membuat Baekhyun memukul pundak pria di depannya dan mengerang protes. "Kau juga kalah tinggi dengan pemain basket disekolah ini,"
"Aku akan menunjukkan skillku," Baekhyun mengepalkan tangannya dengan semangat, "Sehun, bagaimana penampilanku tadi? Apa nanti Chanyeol akan memilihku?" Sehun terkekeh di balik helmnya, tentunya Baekhyun tidak mengetahui.
"Kurasa permainanmu tadi cukup bagus. Entahlah, ini menurut pandangan Chanyeol saja nantinya,"
Baekhyun memikirkan yang lain, haruskah ia bertanya bagaimana Chanyeol di sekolah dengan Sehun? Hitung-hitung Baekhyun akan mulai mendekatkan diri kepada Chanyeol. Walaupun Chanyeol mengancamnya agar tidak mendekatinya, namun bagaimanapun juga Baekhyun harus bisa mendekati Chanyeol demi Ibunya.
"Sehun, Chanyeol itu bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Baekhyun bergerak tidak nyaman di belakang Sehun. Ia sedikit malu bertanya seperti ini, Sehun pasti akan mengatakan bahwa dirinya akan menggoda Chanyeol. Siapa dia yang tiba-tiba bertanya tentang Chanyeol.
"Apakah Chanyeol itu pintar? Atau bagaimana?"
"Kenapa kau menanyakan tentang Chanyeol? Kau menyukainya?"
"E—eh," Tangkas Baekhyun cepat, dirinya menggelengkan kepalanya membuat rambutnya bergerak liar di terpa angin. Sehun tertawa kecil karena gelengan kepala Baekhyun membuat tubuhnya bergerak juga, "Si—siapa bilang?"
Sehun berhenti di depan restoran La Vest. Baekhyun merasa bersyukur karena akhirnya ia sampai di restoran La Vest. Karena sungguh, jika mereka belum sampai maka Sehun pasti akan mengatakan hal hal aneh lagi tentang Chanyeol dan Baekhyun sungguh malu. Sehun sangat salah mengira dirinya menyukai Chanyeol.
Baekhyun turun dengan terburu-buru, dirinya berdiri di depan Sehun dan membungkuk. Tak lupa mengucapkan terimakasih pada Sehun. Sehun berdehem canggung dan segera pergi dari hadapan Baekhyun.
Baekhyun sendiri kini mengusap usap dadanya yang berdegup kencang berkat pertanyaan aneh dari Sehun. Baekhyun membawa tas punggungnya (yang awalnya di perut) ke belakang punggungnya. Baekhyun menoleh ke arah kanan melihat restoran La Vest begitu bersinar di matanya. Karena Baekhyun sungguh lapar, ia memutuskan untuk membeli cupcake dan akan dimakan di perjalanan pulang ke rumah Chanyeol.
Tanpa tahu sebuah mobil berhenti di depan restoran La Vest dan sang pengemudi keluar dari mobil tersebut.
Baekhyun keluar dari restoran La Vest dan hendak ingin memakan cupcakenya ketika sebuah tangan menarik lengannya membuat cupcakenya terjatuh. Baekhyun sungguh terkejut sekali ketika cupcake miliknya terjatuh sia-sia namun ia lebih terkejut lagi ketika melihat seseorang yang tengah menarik lengannya untuk masuk ke dalam mobil dimana orang itu adalah Park Chanyeol!
"He—hey?"
"Berisik,"
Pintu tertutup dan Baekhyun terdiam ketika Chanyeol membuka pintu mobil pengemudi dan masuk dengan cepat. Ia menghidupkan mesin mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Sama seperti Baekhyun yang terdiam melihat bagaimana Chanyeol membelah kota Seoul.
.
"Kalian pulang bersama?"
Disana, sudah terdapat Ayah Chanyeol, Ibu Baekhyun, dan kakaknya—Baekhee. Baekhyun sendiri tersenyum kikuk sementara Chanyeol sudah melenggang pergi tanpa berniat menjawab pertanyaan Ayahnya.
Baekhee menatapnya dengan tatapan tidak suka dan menyelidik, Baekhyun dapat melihat hal itu, "Tidak Paman, kebetulan kami bertemu diluar rumah,"
"Yasudah kalau begitu kau masuk ke kamarmu dulu Baekhyun, Paman sudah menata rapi kamarmu,"
Baru saja Baekhyun akan mengatakan terimakasih—
"Katakan terimakasih Baekhyun, kau harus sopan,"
—Ibunya sudah membentak untuk mengatakan terimakasih kepada Paman. Seolah-olah Baekhyun adalah seseorang yang tidak tahu bagaimana mengucapkan rasa terimakasih kepada orang yang sudah membantunya.
Baekhyun mengangguk kecil dan membungkuk kepada Paman Jaehwa, "Terimakasih, Paman."
"Jae, lain kali jangan seperti itu oke? Kami tidak ingin merepotkanmu. Lagipula Baekhyun bisa melakukannya sendiri, iyakan sayang?"
Bukan pertanyaan melainkan perintah yang terselip di nada Ibunya. Baekhyun melihat tatapan Ibunya. Hanya ada raut kebencian di matanya tanpa sama sekali memperlihatkan adanya rasa sayang ketika ia menatap Baekhyun. Baekhyun menunduk mencoba untuk memahami semuanya seperti yang ia biasa lakukan.
Baekhyun mengangguk kecil menjawab pertanyaan Ibunya. Kepalanya menunduk, ia menjadi sedih ketika Ibunya memperlakukan Baekhyun seolah-olah Baekhyun adalah anak yang tidak tahu sopan santun. Baekhyun sendiri permisi kemudian menuju kamarnya.
"Jujur saja kau pulang bersama Chanyeol 'kan?" Tiba-tiba Baekhee membuka pintu kamar Baekhyun membuat Baekhyun yang hampir merapikan buku-bukunya menoleh dan menggeleng. Ia tahu, jika ia mengatakan 'ya, aku pulang bersama Chanyeol', Baekhee akan marah besar padanya. Baekhyun tahu betul, Baekhee tidak suka jika dirinya lebih cepat akrab bersama Chanyeol dibandingkan Baekhee. Dan tidak akan pernah suka jika dirinya akrab bersama Chanyeol.
"Tidak Baekhee, aku bertemu dengannya di luar rumah."
Baekhee menatapnya dengan pandangan menyelidik, ia sungguh tidak mempercayai ucapan Baekhyun, "Bohong!"
"Ti—tidak!" Tanpa sadar Baekhyun sedikit menaikkan volume suaranya membuat Baekhee semakin mengepalkan tangannya. Baekhyun sadar jika ia baru saja menaikkan volume suaranya. Baekhyun semakin menundukkan kepalanya, ia bahkan tidak berani menatap Baekhee yang berada di ambang pintu.
"Kau berani membentakku, Ethan?"
"Eve—ak—aku—" Baekhee menatapnya tajam membuat Baekhyun kembali menundukkan kepalanya yang sebelumnya ia sempat mengangkatnya untuk melihat wajah Baekhee, "Maaf,"
"Melihatmu seperti ini aku jadi yakin bahwa Chanyeol tidak menginginkan satu mobil bersama orang sepertimu, pecundang." Baekhee menutup pintu kamar Baekhyun dengan keras. Baekhyun sedikit menaikkan bahunya karena terkejut. Dirinya menghela nafas, ketika ia dipanggil pecundang oleh kakak kesayangannya sendiri rasanya seperti ditikam beribu-ribu jarum tepat di bagian dadanya. Rasa sakit perlahan-lahan terasa.
Seharusnya Baekhyun sudah terbiasa, ia tidak dianggap selama beberapa tahun lalu oleh kakak dan Ibunya. Seharusnya ia tidak sedih, seharusnya ia baik-baik saja, seharusnya ia melawan, seharusnya seperti itu. Tapi kenapa hatinya selalu saja merasa nyeri dan sedih ketika Ibu atau kakaknya bersikap dingin padanya?
Baekhyun tidak bisa menyangkal semuanya bahwa ia merindukan pelukan sang Ibu.
Dan rasanya kehangatan seorang kakak.
.
"Hai Chanyeol," Panggil Baekhee yang masih berada di tangga ketika melihat Chanyeol yang keluar dari kamarnya. Chanyeol meliriknya membuat Baekhee berlari kecil menaiki tangga kemudian berdiri di depan Chanyeol.
Baekhee tersenyum. Jujur saja, Baekhee itu cantik. Apalagi ditambah dengan badannya yang seperti model dengan tubuh yang pas—lebih tinggi dari Baekhyun—, langsing, dan berlekuk. Chanyeol yang statusnya sebagai pria bahkan menatap Baekhee dengan tatapan memuja seperti pria pria yang melihat Baekhee. Chanyeol menatapnya dari atas hingga bawah, apalagi kini Baekhee hanya memakai celana pendek yang membuat paha mulusnya terlihat di mata Chanyeol.
Jika Chanyeol berhasil menaklukkan Baekhee, Chanyeol yakin ia akan mendapatkan jackpot. Bagaimana tidak, ia sudah mendapatkan Haneul kemudian mendapatkan Baekhee lagi. Tapi Chanyeol yakin, bahwa Baekhee yang akan bertekuk lutut padanya, karena sebenarnya Chanyeol itu sama. Ia juga dipuja puja oleh para wanita.
"Mau kemana?" Nada suara yang berbeda ketika Baekhee berbicara dengan Baekhyun.
"Bawah."
Hanya itu respon dari Chanyeol membuat Baekhee menjadi semangat untuk mendekati Chanyeol.
"Ngomong-ngomong kita belum berkenalan," Baekhee memberikan tangannya pada Chanyeol, "Namaku Evelyn Byun, cukup panggil Eve atau Baekhee." Dan Chanyeol menerimanya dengan menjabat tangannya. Kulit tangan Baekhee sungguh jauh berbeda dengan kulit tangan Baekhyun. Menurut Chanyeol, kulit Baekhee halus dikarenakan perawatan, sedangkan kulit Baekhyun halus dikarenakan ia memang memiliki kulit yang halus seperti bayi.
"Kau sudah tahu namaku 'kan? Aku Park Chanyeol," Chanyeol tersenyum membuat Baekhee ingin segera mencium Chanyeol. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Park Chanyeol? Bahkan Baekhee sendiri yang menjadi calon saudara tirinya saja tidak bisa.
"Chanyeol kau kelas apa?"
"12-B."
"Astaga! Kau pintar sekali!" Baekhee bertepuk tangan di depan Chanyeol membuat Chanyeol terkekeh dengan reaksi Baekhee.
"Tidak juga. Banyak yang lebih pintar dariku, bahkan orang-orang di kelas 12-A,"
"Kelas 12-A tidak terlalu pintar. Hanya nama saja yang pintar tapi orang-orang di dalam sana tidak pintar,"
"Darimana kau tahu? Seperti kau sekolah disana saja," Chanyeol mendengus dan Baekhee terkekeh.
"Apakah orang-orang disana sangat tampan?" Baekhee menaikkan kedua alisnya bertanya kepada Chanyeol.
"Kau mau tahu standar ketampanan sekolah kami?" Baekhee mengangguk semangat. Jika masalah siswa tampan, Baekhee akan selalu bersemangat, "Kau lihat saja aku."
"Hey! Percaya diri sekali," Baekhee mencibir masam mendengar Chanyeol tertawa dengan suara berat yang membuat Baekhee semakin jatuh terpesona. Baekhee terdiam kemudian ia membuat gaya berpikir, "Biar kutebak, kau mengikuti klub basket. Benar tidak?"
"Kenapa kau tahu? Kau menguntitku?" Chanyeol menatap Baekhee dengan tatapan memicing dan menyelidik membuat Baekhyun merasa kesal dan memukul lengan Chanyeol pelan.
"Hey! Aku tidak menguntitmu! Hm, dilihat dari tubuhmu kau itu seperti pemain basket."
"Kenapa dengan tubuhku? Terpesona? Ingin melihat perutku?" Chanyeol memegang bajunya dan membuat pergerakan untuk menarik bajunya ke atas berniat menggoda Baekhee, melihat reaksi Baekhee yang terdiam, Chanyeol menurunkan bajunya sebelum perutnya terlihat, "Kau itu mesum sekali."
"Si—siapa bilang?" Baekhee tergagap dan panik karena ia sadar bahwa ia dipermainkan oleh Chanyeol, "Huh, aku juga ingin mengikuti klub cheers."
"Kau memang berniat mengikuti klub cheers atau berniat menggoda para pemain basket dengan memperlihatkan paha dan celana dalammu?"
Wajah Baekhee semakin memerah ketika Chanyeol kembali menggodanya, "Lihat! Siapa sekarang yang mesum!" Baekhee berlari kecil dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia sungguh malu bertemu dengan Chanyeol bahwa Chanyeol terus-terusan menggodanya. Bagaimana jika Chanyeol melihat wajahnya yang memerah? Ia pasti akan lebih menggodanya.
Chanyeol terkekeh melihat reaksi Baekhee dengan wajah yang memerah setelah ia menggodanya. Sepertinya, Baekhee tidak seburuk yang Chanyeol kira. Baekhee memang pintar berinteraksi dengan orang baru dan ia sungguh cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kemudian Chanyeol turun ke bawah untuk mengambil air sebagai tujuan awal kenapa ia keluar kamar.
Senyuman Chanyeol luntur melihat seseorang dengan punggung sempit sedang memasak di dapur. Melihatnya, amarah Chanyeol kembali muncul dan meluap. Chanyeol tidak mengerti kenapa ketika ia melihat Baekhyun rasa tidak sukanya muncul begitu saja berbanding terbalik dengan ketika ia melihat Baekhee. Sungguh perasaan yang sangat berlawanan ketika Chanyeol melihat kedua saudara kembar di dalam rumahnya. Baekhyun itu terlihat seperti orang bodoh atau bahkan orang yang berpura pura bodoh demi mendapatkan perhatian.
Chanyeol mengambil air minum di dalam kulkas kemudian menutup kulkas dengan kencang.
"Ah!" Pekik Baekhyun kecil. Ia sungguh kaget dengan suara keras yang berasal dari belakang tubuhnya membuatnya ketika ia ingin memasukkan ramyeon ke dalam panci ia malah ikut memasukkan tangannya ke dalam panci yang panas. Segera Baekhyun menarik tangannya yang sudah memerah dan meniup kecil tangannya.
Baekhyun menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang membuat suara keras tersebut namun ia tidak menemukan siapapun.
Baekhyun kembali meniup-niup tangannya dan mengibaskannya. Sungguh ini sangat perih sekali ketika telapak tangan sepenuhnya masuk ke dalam air panas di dalam panci. Wajahnya mengerut kesakitan. Ia mengatur nafasnya tenang mencoba melupakan rasa perih yang ada di telapak tangannya. Baekhyun kembali mempersiapkan beberapa bahan, mencoba melupakan rasa perih yang makin lama semakin menguat membuatnya ingin menangis saja.
"Kemarikan tanganmu,"
Chanyeol datang menarik tangan Baekhyun yang memerah kemudian mengusapnya sembari meniupnya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun hingga mendekati wastafel dan membilas tangan Baekhyun disana. Baekhyun sedikit meringis, Chanyeol memang mengusapnya akan tetapi dengan gerakan yang tidak sabaran. Baekhyun hampir saja menarik tangannya lepas jika Chanyeol tidak menarik kembali tangan Baekhyun.
"Bodoh!" Chanyeol berteriak. Nafasnya memburu, "Sudah tahu tanganmu masuk ke dalam panci dan kau masih bertindak bodoh? Dimana otakmu?"
Baekhyun menghapus tetesan kecil di sudut matanya, rasanya perih sekali ketika Chanyeol semakin mengeratkan genggaman di tangannya.
"Kau bodoh, lambat, lemah, dan aku benci orang sepertimu," Chanyeol tetap berteriak dan membentak Baekhyun yang menunduk memperhatikan tangannya yang cekatan membalut tangan Baekhyun menggunakan perban yang diberi obat. Dengan gerakan yang tidak sabaran membuat Baekhyun sedikit meringis akan hal itu.
"Terimakasih Chanyeol," Kata Baekhyun bersamaan dengan Chanyeol yang sedang membereskan peralatannya. Chanyeol melihatnya dengan tatapan memicing kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun yang tersenyum kecil.
Chanyeol tidak seburuk itu. Kau tahu.
.
"Sehun!"
Sehun menoleh ke arah kanan sembari menutup lokernya. Matanya menatap Baekhyun yang berada di ujung sedang berlari kecil menghampirinya.
"Kau datang pagi pagi sekali," Baekhyun memegang lututnya terengah-engah. Sehun tidak mengerti kepada Baekhyun sampai kelelahan begitu padahal jarak antara dirinya dan Baekhyun tidak terlalu jauh apalagi Baekhyun hanya berlari kecil.
"Aku selalu datang jam segini,"
"Benarkah? Aku kira kau datang agak siang, hehe,"
"Kau menganggapku sebagai orang seperti itu?"
"E—eh, bu—bukan begitu," Baekhyun menggeleng cepat mencoba untuk meluruskan pernyataannya agar Sehun tidak merasa tersinggung dan tidak salah paham.
"Tenang saja. Semua orang memang berpikir seperti itu, bukan hanya kau. Oke?" Sehun menipunya dengan pura-pura marah dan Baekhyun mendengus kemudian berkacak pinggang.
"Ah ya!" Baekhyun sampai melupakan kantong plastik yang ia bawa. "Ini—" Baekhyun menyodorkan kantong plastik yang ia bawa ke hadapan Sehun. Sehun menaikkan sebelah alisnya dengan pandangan bertanya. "Aku membelikanmu cappuccino sebagai tanda ucapan terimakasih bahwa kau mengantarku kemarin. Maaf jika kau tidak menyukainya," Baekhyun meringis ketika Sehun tanpa sengaja menyentuh tangannya yang memerah akibat tercelup air panas.
"Kenapa tanganmu?" Buru-buru Baekhyun menggeleng dan membawa tangannya yang di perban ke belakang.
"Tidak apa-apa. Ah—kau harus memberitahuku minuman apa yang kau sukai, oke?" Baekhyun tersenyum kecil membuat Sehun pertama kalinya melihat senyuman seseorang dengan sangat tulus di hadapannya. Tidak ada yang pernah tersenyum seperti yang Baekhyun lakukan. Senyumnya terlihat polos seperti tidak ada beban yang hinggap di benaknya.
"Sampai jumpa di kelas," Baekhyun melambaikan tangannya pada Sehun kemudian berjalan meninggalkan Sehun yang melihat punggung sempit Baekhyun. Ia melirik kantong plastik yang diberikan Baekhyun kepadanya.
Sehun tidak terlalu menyukai cappuccino, ia lebih menyukai bubble tea. Sempat terlintas di benaknya untuk memberikan minuman ini pada orang lain, tapi pikiran itu menghilang begitu cepat di benaknya. Sehun memutuskan untuk meminumnya saja karena mengingat Baekhyun yang memberikan minuman ini dengan senyum yang begitu membuat Sehun merasa tenang.
.
"Hun, aku sudah memilih calon anggota basket," Chanyeol tiba-tiba datang ke bangku Sehun dan duduk di belakangnya, membuat Sehun memutar tubuhnya menghadap Chanyeol.
Chanyeol memberikan selembaran kertas putih itu pada Sehun kemudian Sehun mengambilnya dan melihat siapa saja yang dipilih oleh Chanyeol.
Byun Baekhyun. 12-B
Sehun terdiam ketika melihat nama Baekhyun. Anak itu, pasti akan senang sekali mengingat kemarin malam ketika Sehun mengantarnya sampai restoran, Baekhyun terus saja mengoceh bagaimana dirinya sangat menyukai basket hingga tidak pernah mengikuti pertandingannya. Sehun mengingat itu semua. Bagaimana tidak, anak itu sangat cerewet sekali dan tentu saja perkataan itu terus berputar di kepala Sehun. Sehun bahkan dapat membayangkan bagaimana wajah Baekhyun ketika ia mengumumkan bahwa dirinya lolos untuk menjadi anggota basket.
"Hai,"
Chanyeol dan Sehun menoleh ke sumber suara. Disana Haneul berdiri mendekati mereka membuat Chanyeol mendongak dan tersenyum ketika Haneul duduk di pangkuan Chanyeol dan melingkarkan lengannya di leher Chanyeol. Tangannya mengusap pipi Chanyeol kemudian menciumnya tepat di bibir membuat Chanyeol memeluk pinggang Haneul dan memperdalam ciuman mereka.
Sehun memutar bola matanya malas kemudian memutar tubuhnya untuk menghadap ke depan. Untung saja kali ini kelas sedang sepi, hanya ada beberapa orang yang masih bisa dihitung jari. Mereka sama sekali tidak peduli dengan adegan ciuman Chanyeol dan Haneul.
Sehun menggeleng kecil, pasangan mesum ini sama sekali tidak tahu tempat untuk melakukan hal seperti itu. Sehun sendiri tidak mengerti, bahkan Chanyeol tetap menggoda perempuan lain jika tidak ada Haneul. Tidak masalah, karena Chanyeol dan Haneul memang tidak mempunyai ikatan lebih selain pemuas nafsu.
Tiba-tiba Sehun mendongak dan matanya menatap Baekhyun berdiri di depan pintu, terlihat kebingungan. Sehun tahu masalahnya. Baekhyun hanya bingung untuk masuk ke dalam atau kembali ke luar. Pasalnya, Chanyeol duduk di tempat Baekhyun dan Chanyeol sedang berciuman dengan Haneul.
Sehun memutar tubuhnya, "Yeol, yang punya tempat duduk sudah datang. Lebih baik kalian melakukannya di ruang kesehatan." Hanya itu yang Sehun katakan dan sukses membuat Chanyeol mendorong Haneul hingga Haneul berdiri.
Hanya decakan yang keluar dari mulut Chanyeol setelah itu matanya melirik ke arah Baekhyun yang sedang menggigit bibirnya ke bingungan.
"Ck, kenapa kau suka sekali mengganggu, Oh Sehun?!" Sehun hanya menaikkan bahunya tidak tahu kemudian kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan.
"Sudahlah Haneul, aku harus belajar untuk quiz nanti." Chanyeol berdiri kemudian lengannya sudah di tahan oleh Haneul yang menatapnya dengan tampang memelas seolah-olah mengatakan 'ayo ke ruang kesehatan' namun Chanyeol menepis lengah Haneul kasar dan segera menuju bangkunya. Kemudian mengeluarkan bukunya dan membacanya.
Haneul melihatnya dengan wajah raut kesal. Ia akan membenci Chanyeol jika Chanyeol sudah mengambil bukunya. Anak itu selalu ke asyikkan membaca tanpa peduli dengan orang lain di sekitarnya. Haneul menghentakkan kakinya kemudian melangkah keluar kelas.
Baekhyun berjalan tergesa-gesa menuju bangkunya. Dirinya sungguh lapar sekali akibat kemarin tidak makan malam akibat insiden tangannya yang tercelup ke dalam air panas. Setelah Chanyeol mengobatinya, Baekhyun langsung mematikan kompor kemudian membuang ramyeonnya karena dirinya tidak bisa memasak ketika tangan kanan yang tercelup ke dalam air.
"Minuman yang aku suka—" Sehun tidak melajutkan perkataannya ketika ia berbalik dan melihat kotak bekal Baekhyun.
Baekhyun kembali berbalik menghadap ke depan setelah selesai mencari sendok di dalam tasnya, ia hampir saja berdoa ketika matanya menatap Sehun yang menghadapnya. Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa?"
"Apa itu?" Sehun menunjuk bekal Baekhyun menggunakan dagunya. Baekhyun tersenyum kecil, karena sungguh ia ingin memperkenalkan masakan Ibunya yang sangat lezat pada teman barunya.
"Ini ayam, lalu tahu, lalu—"
"Bukan." Sehun menggeleng cepat membuat Baekhyun tidak mengerti. Bukankah tadi Sehun bertanya padanya tentang bekal, "Kenapa bekalmu seperti itu? Terlihat berantakan?" Sehun hanya tidak mengerti kenapa bekal Baekhyun terlihat berantakan sekali seperti kuah dan ayam yang menjadi satu hingga penataan nasi beserta lauk pauk yang tercampur serta Sehun merasakan bekal itu tidak terbuat oleh cinta yang biasa Ibunya berikan padanya. Seperti ada sesuatu yang berbeda ketika Sehun melihat bekal Baekhyun dengan tampilan seperti itu. Padahal Sehun berpikir, Baekhyun datang pagi, dan mustahil jika Baekhyun mengatakan bahwa ia buru-buru memasukkan makanan ke dalam bekalnya.
"Ah ini, aku tadi terburu-buru." Baekhyun mengatakannya dengan senyuman justru membuat Sehun tidak percaya akan hal itu namun Sehun tetap mengangguk untuk menjelaskan bahwa ia cukup puas dengan jawaban Baekhyun. Kemudian ia berbalik menghadap depan.
Senyuman Baekhyun luntur begitu saja ketika seseorang mengomentari tentang bekalnya. Baekhyun sudah mencoba untuk menepisnya tapi kenapa ucapan Sehun tetap terngiang di kepalanya? Terlihat berantakan. Itulah yang Sehun katakan tentang bekalnya.
Baekhyun tidak menyangkalnya, ia membenarkannya bahwa anak kecil saja akan tahu jika makanan yang berada di kotak bekalnya sangat berantakan. Seperti tidak ada cinta di dalamnya. Bahkan seseorang dengan tergesa-gesa seperti itu tetap tidak akan mengalahkan bekal Baekhyun saat ini.
Baekhyun menghela nafasnya perlahan, entah mengapa rasa nafsu makannya hilang begitu saja. Baekhyun mengambilnya dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan perlahan-lahan.
Bekal ini di buat oleh Ibunya. Dengan kotak berwarna biru polos. Baekhyun sudah sangat bersyukur Ibunya masih mengingat bahwa ia memliki dua anak yakni Baekhee dan Baekhyun. Kenapa Baekhyun masih saja protes dengan penataan makanan yang ditata oleh Ibunya? Makanan itu masih bisa dimakan dan tidak terlihat menjijikan, selama ini Baekhyun menerimanya dengan senang hati dengan perasaan bahagia ketika Ibunya membuatkannya bekal.
Baekhyun pernah melihat bagaimana Ibunya menata kotak bekal makanan Baekhee dengan kotak berwarna merah muda polos. Ibunya tersenyum dan sangat pelan-pelan sekali seolah-olah jika ia melakukan kesalahan sedikit saja maka nyawanya akan melayang. Baekhyun pernah melirik kotak bekal Baekhee ketika Baekhee membukanya. Baekhyun dapat merasakan perasaan yang berbeda ketika melihat kotak bekal makanan Baekhee dibandingkan dengan dirinya.
Baekhyun tahu akan hal itu. Ketika Ibunya menata kotak bekal makanan Baekhyun, ia hanya menaruhnya asal dan dengan cepat. Namun, Ibunya tidak pernah memberikan Baekhyun dengan porsi sedikit atau bahkan jenis lauk pauk yang berbeda dengan Baekhee. Semuanya sama persis. Kecuali penataan makanan dengan Baekhyun yang terlihat berantakan.
Baekhyun bersyukur Ibunya masih mengingat dirinya. Baekhyun yakin, selama ini Ibunya masih meletakkan cinta di hatinya untuk Baekhyun. Suatu saat Ibunya pasti akan melirik Baekhyun kembali.
.
Baekhyun mengetuk jemarinya berulang kali. Dirinya berpikir keras bagaimana cara menyelesaikan soal ini. Baekhyun mengingat kejadian tadi pagi di sekolah, ketika sedang quiz, Chanyeol mendapatkan nilai paling tinggi kemudian disusul oleh Sejeong dan Eunji. Jujur saja, Baekhyun tidak menyangka jika Chanyeol adalah sosok yang pintar.
Haruskah ia bertanya pada Chanyeol bagaimana menyelesaikan soal ini, ataukah bertanya pada kakaknya.
Jawaban yang terbaik adalah bertanya pada kakaknya. Karena bertanya pada Chanyeol adalah hal yang lebih menakutkan daripada kakaknya yang pasti akan menolak untuk mengajarinya.
Baekhyun bangkit kemudian membawa perlengkapannya, menuju pintu dan membukanya perlahan. Baru saja Baekhyun akan naik ke lantai atas, pendengarannya menangkap bahwa Ibunya sedang berbicara di telepon dan Baekhyun memutuskan untuk mencari Ibunya di dapur.
Ibunya sedang kesulitan karena ia sedang memasak dan berbicara di telepon. Baekhyun meletakkan bukunya di meja kemudian berjalan mendekati Ibunya.
"Mom, can I help you?" Ibunya melirik sebentar kemudian tanpa menjawab kembali berkutat dengan masakannnya. Baekhyun menaikkan bahunya, mungkin saja Ibunya mengijinkannya. Ibunya juga terlihat sibuk dengan menerima panggilan sedangkan dirinya sedang memasak, Ibunya pasti membutuhkan bantuan.
Dengan cekatan, Baekhyun mengambil beberapa sayuran yang kemungkinan akan dibutuhkan oleh Ibunya. Kemudian ia mengambil pisau kecil dan memotongnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Ibunya tiba-tiba berteriak dan mendorong Baekhyun membuat Baekhyun tanpa sengaja menjatuhkan beberapa bahan makanan ke lantai hingga berantakan. Ibunya menatapnya geram dan tanpa memikirkan apapun dirinya menampar Baekhyun.
Menampar Baekhyun hingga membuat hatinya sakit.
"Mom!" Baekhee datang dan berjongkok membantu Ibunya membereskan beberapa bahan makanan yang jatuh ke lantai dengan pecahan piring. Baekhyun hanya diam, dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Kakinya sangat sulit bergerak seperti wajahnya yang enggan mendongak.
Baekhee tiba-tiba berdiri dan berkacak pinggang di depan Baekhyun, "What the fuck are you doing? Kalau kau tidak bisa melakukan apapun jangan menjadi orang yang sok pintar!"
Baekhyun meremas celananya. Kepalanya tetap menunduk seolah-olah lantai adalah hal terindah yang pernah Baekhyun lihat, "I'm sorry—I just wanna help Mom,"
"Dengan menjatuhkan bahan makanan yang sedang di masak? Itu yang kau maksud?"
Baekhyun menggeleng, pelan.
"Lihat aku!" Baekhee meraih dagu Baekhyun kemudian mendongakkannya dengan keras dan mencengkram dagunya. "Jangan harap setelah ada Chanyeol dan Paman Jaehwa kau bisa seenaknya saja disini. Kau itu pembuat masalah. Seharusnya kau tidak lahir bersamaku!"
Seharusnya kau tidak lahir bersamaku.
Sehina itukah Baekhyun bagi Ibunya dan kakaknya?
Baekhyun mencoba memahami mengapa kakak dan Ibunya membencinya. Semua ini salahnya. Semua ini salah Baekhyun. Seharusnya itu semua tidak terjadi. Seharusnya Baekhyun tidak egois. Seharusnya ia memberikan sedikit kebahagiaan pada kakaknya. Ini salah Baekhyun dan Baekhyun mengerti itu.
Baekhyun menatap mata kakaknya. Tidak ada tatapan sayang dan cinta di dalam sana hanya ada kebencian di sorot matanya ketika menatapnya. Persis seperti Ibunya.
Baekhyun mengangguk setelah Baekhee melepaskan tangannya dari dagu Baekhyun. Baekhee memberi isyarat untuk memerintahkan Baekhyun pergi dengan dagunya. Baekhyun mengerti bahwa Baekhee memerintahkan dirinya untuk masuk ke dalam kamar. Segera, Baekhyun perlahan menjauh dari dapur dan mengambil buku yang terletak di meja.
Ketika Baekhyun berbalik matanya bertubrukkan dengan manik mata Chanyeol yang berdiri menatapnya diam.
Apa Chanyeol mendengarnya?
Baekhyun memutuskan kontak mata mereka. Kemudian Baekhyun menundukkan wajahnya dan berjalan pelan menuju kamarnya sembari menggenggam bukunya erat. Ia yang berniat bertanya pada Baekhee tentang pelajaran yang tidak dimengerti justru mendapatkan rasa kesedihan akibat mendengar perkataan Baekhee.
"Chanyeol," Chanyeol berhenti dan menoleh ke arah dapur melihat Baekhee yang memanggilnya sementara Bibi Hayoon sedang membereskan beberapa makanan yang jatuh ke lantai. "Maafkan kami telah memecahkan piringmu." Baekhee terlihat sedih, "Maafkan Baekhyun, tadi kami sudah menyuruhnya untuk diam, tapi ia tetap menganggu hingga akhirnya menjatuhkan piring. Kemudian ia pergi begitu saja tanpa berniat membantu."
Chanyeol hanya diam tanpa bereaksi apapun.
"Maafkan kami Chanyeol. Kami akan memberi pelajaran pada anak nakal itu." Kini Ibunya bersuara dan Baekhee beserta Ibunya membungkuk di depan Chanyeol. "Ah ya, Chanyeol. Besok antarkan Baekhee berkeliling sekolah ya, besok Baekhee akan pindah ke sekolah yang sama denganmu," Ibunya mengedip pada Chanyeol membuat Baekhee memukul pelan pundak Ibunya.
"Mom!" Rengek Baekhee yang malu karena Ibunya seperti menggoda pacar Baekhee yang akan membawa Baekhee untuk berjalan jalan.
Chanyeol hanya tersenyum tipis, "Baiklah. Aku pergi dulu,"
"Hati hati Chanyeol," Baekhee melambaikan tangannya ke arah Chanyeol tanpa ditanggapi karena Chanyeol sudah berlalu begitu cepat.
"Mom, kurasa kita semakin dekat," Baekhee melirik Ibunya malu-malu. Entah mengapa membicarakan bahwa Baekhee dan Chanyeol semakin dekat membuat Baekhee menjadi malu. Ibunya melirik dengan tatapan ingin menggoda Baekhee.
"Kau itu seperti anak muda yang sedang jatuh cinta saja, Baekhee,"
Baekhee memukul pundak Ibunya pelan. Siapa yang senang di goda seperti itu Huh. Tapi kenyataan itu benar, siapa yang tidak menyukai Chanyeol yang tampan, tinggi, pintar, dengan tubuh atletis seperti itu? Hanya dengan lirikan selama tiga detik saja seseorang pasti akan jatuh cinta padanya tidak terkecuali Baekhee sendiri yang akan menjadi calon saudara tirinya.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE.
Halo semuanya! Maafin aku yang telat update ini kayaknya udah 4 bulan lebih ya? Ehehe. Aku kena wb dan kadang-kadang males banget nulis. Jadi karena beberapa hari terakhir ini niat banget, jadinya aku ngelanjutin fanfic ini. Aku ngga janji untuk update cepat tapi aku usahakan untuk secepatnya update supaya kalian ngga lama nunggu juga dan kelupaan sama jalan ceritanya.
Aku ngga ngebaca ulang jadi aku gatau ada typo atau ngga. Mohon maaf kalo ada typo ya xD
jangan lupa tinggalkan jejak, xoxo.
