An: hueehh... beneran deh...
Mikuo: apaan?
An: bingung banget buat nih cerita, huee
Mikuo: lah? trus kenapa ga dari awal ga usah bikin nih cerita? #deadglare
An: ga dengar! ga dengar! #gulung-gulung ala sushi sambil nutup telinga (?)
Mikuo: ==" #gelindingin An ke jurang
Ehem... Ano... maafkan ke GJan perkapan ini, habis ini permintaan temen BakAutor kita sebut saja Miley-hime (biar seneng dikit deh) yang tidak jauh nggak benernya sama Author...
An: ngapain basa-basi? bacain deslamernya juga ooii! #teriak dari jurang
Mikuo: disclaimer... =="
An: eaaa ntuh! bacaiinn!
Disclaimer: Vocaloid untungnya punya Yamaha ama Crypton ama Tuhan yang maha kuasa, bukan punya Author sarap disana!
Mikuo: #langsung ninggalin Author
An: Eh! deslaimer apaan ntuh! eh! oii! Mikuo! tolongin ane kek! oi! Mikuuuooooo!
He Is Me ?
Mikuo POV
Aku duduk disofa sambil memayunkan bibirku, menggigit bibirku, dan menggembungkan pipiku. Bagaimana bisa memayunkan dan menggigit bibir secara bersamaan? Itu hanya sebagian rahasia ilahi milikku.
Meiko memandangku dengan khawatir. Sedangkan Kaito... memandangku dengan gemas. Pandangannya sangat menakutkan, rasanya Kaito ingin menelanku bulat-bulat. Memang bagaimana wajahku saat ini?
"Mi-mikuo.. kamu tidak apa-apa?" tanya Meiko.
"Iya." Jawabku singkat.
"Mi-mikuo... kamu... imut sekali~ kyaa!" ujar Kaito yang lalu memelukku.
Orang ini... paling tidak bisa membaca suasana. Aku sedang badmood dia bilang imut. Memikirkannya saja sudah membuatku... Argh! Jengkel.
"Aku kekamar dulu." Aku bangkit dari posisi dudukku, dan melepaskan pelukan Kaito dengan paksa.
"Mikuo.." panggil Meiko. Aku tidak merespon panggilannya, tetap berjalan menuju kamar.
[Blam]
Kututup pintu kamarku perlahan, aku tak mau membuat keributan. Kemudian kurebahkan diriku di kasur.
"Hah..." Bayak hal yang terngiang dikepalaku. Apalagi ekspresi Rin saat itu. Mengingat wajahnya, membuatku merasa sangat bersalah. Apa aku mengambil keputusan yang salah? Apa harusnya aku katakan hal ini lebih awal?
"Akh!" semua ini membuatku STRees. Ingin sekali aku melupakan hal ini. Tapi, melupakan lebih sulit daripada mengingat. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa pada Luka. Kira-kira apa reaksinya ketika tahu aku pindah ya? Hah, sudahlah. Lagipula aku(Miku) tidak akan bertemu dengan mereka lagi...
(Keesokan harinya)
"Ne.. Mikuo..." ujar Kaito membuka pembicaraan.
"Hn?"
"Apa kamu akan terus berpenampilan seperti itu?"
"Seperti apa?
"Seperti perempuan. Memakai rok dan... rambutmu yang panjang itu..."
"Aku masih ingin menikmati berpenampilan ini." Ujarku, sambil membaca sebuah buku.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku ingin melepasnya."
"Hah? Berapa lama itu?"
"..."ku hentikan kegiatan membacaku, dan berpura-pura melamun.
"Sekarang." Aku beranjak dari sofa. Rambutku yang sangat panjang, berayun ke arah wajah Kaito. Alhasil, berhasil mengenai wajah bodohnya.
"Hmphh! Mikuo... rambutmu..." "aku akan memotongnya, ini mengganggu." Aku memotong pembicaraan Kaito sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Aku tahu apa yang ingin dia katakan.
"Wah... Baiklah... Mau kuantar?" tawar Kaito.
"Aku bisa pergi sendiri." Ujarku dingin.
"Bahaya kalau perempuan dibiarkan keluar sendir..." "Aku. Laki. Laki." Kutatapkan tanganku yang memegang buku berjudul 'Be A Man' ke wajah Kaito, tidak sampai membentur wajahnya tentunya.
"Huft... Aku kan hanya ingin mengantarmu." Ujarnya sambil memasang wajah memohon.
"Baiklah. Aku ganti baju dulu."
"Ok~ oh ya, Mikuo! Ini!" Kaito melemparkan baju kearahku. Sebuah kaos berwarna biru yang senada dengan warna rambut Kaito, kutatap baju dengan tatapan bingung.
"Coba kau kenakan itu." Ujar Kaito. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membawanya menuju kamar.
Begitu keluar kamar setelah ganti baju, aku tidak mendapati sosok Kaito di ruang tamu.
"Kemana Kaito-san?" ujarku bingung.
'KRIIINGGG! KRIIINGGG! KRIIINGGG!' tiba-tiba terdengar sebuah suara bel. Seperti bel sekolah dan bel penjual es krim. Tidak mungkin ada bel sekolah disini, jadi pasti bukan. Lalu apa penjual es keliling datang jam segini?
Karena penasaran, aku keluar untuk memastikan.
"Miku~ Sini~" panggil Kaito. Dia sedang mengandarai sepeda, dengan gaya bodohnya, dia melabaikan tangannya. Aku jadi cengo dibuatnya.
"Itu apa?" tanyaku.
"Sepeda." Jawab Kaito, dengan memasang wajah (OAO).
Berikut wajah-wajah kami selama percakapan.
"Sepeda siapa?" (==)
"Sepeda kita." (O3O)
"Sejak kapan ada disana?" (==)
"Um... sejak... tadi?" (=A=)a
"Dapat darimana?" (==)
"Beli kok! Nggak nyuri!" (=3=)
"Beli dimana?" (==)
"Tetangga sebelah. Katanya dijual." (OuO)
"Uang darimana?" (==)
"Nabung." (OvO)
"Itu, yang bunyi tadi apa?" (==)
"Bel~ Ini~" 'Kring-kring! Kring-kring!' (*u*)
"Ada bel nya?" (==)
"Iya~" (OwO)
"Kenapa ada bel nya?" (==)
"Biar sama kaya penjual es krim keliling~" (*w*)
Sudah kuduga.
'Kring-kring! Kring-kring!' yak, lagi-lagi Kaito memainkan bel itu.
"Um... ya sudahlah.." aku naik ke boncengan belakang, dengan pasrah. Kaito memandangiku yang menaiki sepeda.
"Apa?" tanyaku. Jujur saja, dipandangi itu tidak nyaman.
"Penampilanmu... keren! Aku jadi tidak sabar bagaimana jadinya setelah ini~" jawab Kaito. Keren? keren bagaimana? Aku hanya mengenakan pakaian yang Kaito berikan tadi, dan celana coklat peninggalan ayahku waktu masih muda, lalu kurangkap dengan jaket hitam. Agak acak-acakan juga sih, darimananya yang keren? (an: yak, para mikuo lover, silahkan dibayangkan sendiri)
"Yah.. lihat saja nanti." Ujarku.
Kaito pun mulai mengayuh sepedanya. Ada 1 hal yang membuatku ragu. Apa Kaito bisa mengendarai sepeda ya? Sebelum ini kan belum pernah aku... "Gyyaaa!" tiba-tiba Kaito berteriak , lamunanku jadi buyar seketika.
'BRUUKK'
"Ukh..." aku merintih kesakitan. Ternyata kami menabrak tong sampah di halaman rumah orang. Hah? Bagaimana bisa kami terdampar disini?
"Kaito-san... apa yang terjadi...?" tanyaku.
"Maaf Mikuo... aku lupa kalau aku tidak bisa mengendarai sepeda..." jawabnya.
"Hah... kenapa tidak bilang dari tadi, Kaito-san?" ujarku agak emosi.
"Aku... lupa."
"Sini, biar aku saja yang menyetir."
"O-oke.." Sekarang Kaito naik ke boncengan belakang, dengan cara duduk kesamping sambil memeluk pinggangku. Hah? Pinggangku!
"Kaito-san! Apa yang kau lakukan! Malu dilihat orang tahu! Kaito-san kan laki-laki! Apa tidak malu bersikap seperti? Cepat lepaskan!" amukku tiba-tiba, tidak lupa dengan wajah memerah karena malu.
"Go-gomen!" akhirnya Kaito memperbaiki posisi duduknya yang sangat manis itu. Aku pun mulai menjalankan sepedanya.
"Mau model seperti apa nona?" tanya pengawai salon.
"Seperti laki-laki, yang bagus ya. Jangan terlalu gimbal, juga jangan terlalu pendek mendekati gundul." Jawabku. Sang pegawai salon malah cengo sambil memegangi rambutku.
"Hah? Anda yakin nona? Rambut seindah ini, mau anda pangkas?"
"Ya, tolong ya."
"Mi-miku-chan! Kenapa dipangkas? Dibiarkan panjang saja seperti pacar Luka!" ujar Kaito.
"Pacar Luka? Si Gakupo? OGAAH!" tolakku tegas. Masa mau menyamai si kepala terong itu? Arigatou Gozaimasu deh...
"Ba-baiklah." Pegawai mulai memangkas rambutku dengan ragu.
"Um," lama... aku jadi mengantuk. Aku melirik ke arah Kaito yang ternyata sudah ngorok di kursi tunggu. Akhirnya, aku memilih untuk mengikuti jejak Kaito yang tertidur.
"Tuan... Ah, Nona... sudah selesai..." ujar sebuah suara yang berbisik ditelingaku.
"Um? UUAAA!" begitu membuka mataku, aku melihat sesosok laki-laki yang terpantul di depan cermin. Hampir saja aku jatuh dari kursi karena kaget. Muka laki-laki itu sangat mirip dengan ku, hanya saja panjang rambutnya yang... tunggu dulu. Itu aku kan? Ya tuhan... bagaimana aku bisa tidak mengenali diri sendiri layaknya orang bodoh?
"A-ada apa Miku-chan!" Kaito langsung terbangun bergitu mendengar teriakanku.
"Tidak ada apa-apa Kaito-san.." aku menengok kearah Kaito-san dengan ragu.
"Mi-Miku-chan...? Kamu dimanaa?" ujar Kaito kebingungan mencariku.
"A-aku disini Kaito-san..." sahutku pada Kaito-san.
"Hah? Aku bahkan tidak dapat melihatmu! Aku malah melihat seorang pria tampan yang sangat persis denganmu didepanku!" ujar Kaito-san panik
"Kaito-san! Ini aku, MikuO!" ucapku dengan menekannya pada bagian 'O'.
"Hoh~ Mikuo ternyata itu kamu~ Aku sempat kaget sekali! Habis kau berbeda sekali!" ujar Kaito lega sambil memelukku. Aku dan pegawai salon itu hanya bisa sweatdrop melihat aksi Kaito. Semoga saat aku kaget tadi tidak terlihat bodoh seperti Kaito...
Normal POV
"A-apa! Pindah?" ujar seorang perempuan berambut pink dengan kaget begitu mendengar berita mengejutkan.
"Iya, dia pindah hari ini..." ujar temannya yang menceritakan berita itu.
"Kau jangan bercanda seperti itu Rin, aku tidak suka." Ujar perempuan itu pada Rin setengah emosi.
"I-itu benar Luka... aku pikir Luka sudah tahu, jadi aku bermaksud untuk menanyakan hal ini pada Luka..." jawab Rin cemas.
"Kenapa dia tidak menceritakan apa-apa padaku?" ujar Luka sambil mengepalkan tangannya.
"Dia juga tidak menceritakan apa-apa padaku dan Len, aku kira Miku memberitahumu, Luka."
Hah, apa maksud semua ini? Aku bahkan tidak tahu apa-apa.
Dengan cepat Luka meraih ponselnya dan segera mencari nama Miku di kontaknya. Begitu menemukannya dia langsung menekan tombol call.
'tut... tut... tut...'
Miku...
'tut... tut... tut...'
Ayolah, cepat angkat!
'tut-tut-tut'
"Ck!"
"Ba-bagaimana Luka?" tanya Rin.
"Tidak diangkat." Ujar Luka kesal.
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Rin. Luka hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Rin. Luka bingung apa yang harus dia lakukan.
"Um, Rin. Apa sekiranya Miku masih ada dirumahnya?" jika ada kemungkinan, mungkin Luka bisa segera menuju rumah Miku untuk bertemu dengannya. Tapi bagaimana kalau Miku sudah...
"Um... Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya... 'Luka! Kamu mau kemana?" Luka berlari menjauhi Rin, lebih tepatnya menuju rumah Miku.
Tak ada waktu lagi untuk membicarakan hal ini. Jadi, maaf Rin, aku memotong pembicaraanmu...
"Hosh... hosh... hosh... itu dia." Ujar Luka tersenggal-senggal begitu mendekai rumah Miku.
"Aneh... tidak ada tanda kepindahan... apa Rin hanya berbohong padaku ya? Lebih baik kupastikan saja." Luka mulai menekan bel rumah Miku.
Sementara itu seorang wanita dari dalam rumah itu sedang mengawasi Luka dari jendela.
"Celaka. Itu kan Luka, teman Mikuo. Bagaimana ini? Apa kudiamkan saja sampai dia pulang? Akh, tapi tidak sopan membiarkan tamu. Apa harus kubukakan pintu saja? Tapi, nanti ketahuan kalau Mikuo tidak pindah dong? Gyaaa, bagaimana ini?" ujar Meiko sambil mondar-mandir ditempat.
"..." sudah berkali-kali Luka menekan belnya, tapi tidak ada jawaban. Dia berinisiatif untuk mengintip lewat jendela.
Meiko yang menyadari Luka yang menuju jendela langsung menunduk dibawah jendela. Luka yang mengintip kedalam, tidak menemukan seseorang didalam.
"Aneh... perabotannya lengkap, tapi tidak ada orangnya. Apa mereka pindah tanpa membawa apapun ya?" Luka yang kebingunngan masih saja berusaha mencari seseorang jika Luka lebih memasukkan kepalanya ke jendela dan menoleh ke bawah, dia bisa langsung menemukan sosok Meiko dibawah jendela.
Karena putus asa disana atas pencariannya yang nihil. Luka mencoba menemui Rin lagi, untuk bertanya kemana Miku pindah. Padahal Luka membawa ponsel, bukankah lebih cepat menghubungi Rin daripada menemuinya? Tapi, semua itu tidak Luka pikirkan sekarang ini.
"Hah... maafkan aku Luka... ini demi kebaikan Mikuo..." ujar Meiko yang memandangi kepergian Luka dari balik jendela.
Mikuo POV
Aku merasakan ponselku bergetar. Begitu melihat ponselku, aku mendapati nama 'Luka' yang tertera disana. Hah, aku mulai dicari ya...
Aku tidak mengangkat panggilan Luka hingga ponselku berhenti bergetar.
"Lho? Tidak diangkat Mikuo?" tanya Kaito.
"Tidak, ini dari Luka." Jawabku.
"Kalau begitu... tidak ada keinginan untuk mengangkatnya?"
"..." aku hanya diam menanggapi omongan Kaito. Sebenarnya aku ingin sekali mengangkatnya, tapi pasti Luka akan menanyaiku macam-macam, dan itu pasti memakan waktu lama jika pulsa atau baterai tidak menghentikannya.
Hanya sekali. Dia tidak berusaha menghubungi untuk yang kedua kalinya. Yah, sudahlah.
"Kami pulang." Ujarku dan Kaito bersamaan.
"Kaito, Mikuo. Selamat dat... Si-siapa lelaki ini?" tanya Meiko.
"Dia Mikuo, Meiko." Jawab Kaito.
"Wah~ aku sampai pangling. Kau tampan sekali Mikuo!" puji Meiko. Wajahku jadi memerah seketika.
"Oh ya, Mikuo, tadi Luka-chan datang kesini."
"Hah? Luka? Untuk apa?" tanyaku kaget.
"Sepertinya dia ingin mencarimu, mungkin lebih tepatnya memastikan kamu pindah atau tidak."
"Lalu bagaimana?"
"A-aku bersembunyi sampai akhirnya dia pulang dengan kecewa. Maaf..." ujar Meiko menyesal.
"Tidak apa-apa... dia juga menghubungiku tapi tidak aku angkat." Ucapku sedikit sedih.
Hari demi hari berlalu, lambat laun terjadi banyak perubahan dariku. Meiko dan Kaito juga banyak membimbingku.
Disela-sela hari itu, ratusan pesan Luka dan Len menghujaniku, kecuali Rin. Tapi tak ada satu pesan pun yang kubalas. Sekarang aku bukan lagi Miku. Jadi, untuk apa membalas pesan yang ditujukan bukan padaku. Hm.. Mungkin sekarang aku menjadi lebih dingin.
Hari ini awal semester baru, seragam baru, dan aku yang baru.
Aku mulai memasuki arena sekolahku. Rasanya seperti baru kemarin aku keluar dari sini. Ingatanku tentang sekolah ini, teman-teman yang ada disini, sikapku yang dulu, harus kuhilangkan semuanya. Yang perlu kulakukan hanya membuat diriku seperti anak baru.
Yang kurasakan ketika memasuki sekolah ini adalah... tatapan. Begitu memasuki arena ini semua orang menatapku, saat kucoba mencuri-dengar, sepertinya bisikan para perempuan tertuju padaku. Begitu aku membalikkan kepalaku pada perempuan-perempuan itu, mereka langsung blushing. Kenapa mereka?
"Kyaa! Lihat itu! Dia menoleh kearah sini!" ujar salah seorang dari mereka.
"Ke-kereen sekalii! Kyaa!"
"Kyaa! Kyaa! Kyaa!"
Ada apa dengan mereka? Hah, dari pada menghiraukan mereka. Lebih baik aku mencari kelasku.
"Permisiiiiii!" aku mendengar seseorang berteriak kearahku. Begitu aku menoleh...
'BRUK'
...Perempuan ini menabrakku hingga aku terjatuh. Badannya menimpaku, kalau cuma menabrak sih tidak apa-apa, masalahnya badan orang ini... "...Berat..." ujarku kesakitan.
"A-apa! Berat? Siapa yang kau maksud!" hah? Orang ini malah mengomeliku. Sepertinya aku mengenali suara omelan ini.
"Minggir dari atasku." Gerutuku kesal. Sudah menabrak, masih mengomeli. Aku jadi ingin tau siapa orang ini.
"Ma-maafkan aku!" ujar perempuan ini seraya beranjak dari badanku. Begitu bangkit aku langsung menatap orang yang menabrakku ini. Posturnya kecil (padahal berat), matanya berwarna azure, rambutnya berwarna honeyblond sebahu, dan memakai pita besar dikepalanya. Glek! Orang ini!
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tidak segendut seperti perkira... Mi-mi...ku?"
RIINN!
To Be Continue ...
An : yo~ chap 3~ OwO)/
hah... saya apdet lelet banget yak, mengecewakan sekali...
typonya bertebaran-bertebaran... #jadi keinget temen saya
ceritanya juga... huft... tambah lama ga menarik ya? (dari awal ga menarik kayaknya)
kapan abisnya ya nih crita, kok rasanya jauh digapai endingnya... I can't walk I can't fly.. #Plakk (BakAuthor)
oh ya, saya suka ama buku yang dibaca Mikuo, 'Be A Man'~ XD (Lol u know what it's mean)
yak, saya mohon kritik n sarannya~ MTP (Mind To Preview)?
