We Needs A (New) Mom

CAST :

Cho Kyuhyun as Single Father

Oh Sehun as Cho Sehun

Lee Sungmin as a Beautiful Memories (Y)

Kim Jongin as a Mr. Troublemaker

Kim Heechul as The Queen of Cho

Tan Hanggeng as The Wise Dad

Park Jungsoo as The Angel of Lee

Kim Youngwoon as The Lee's Leader

Lee Hyukjae as A Good Friend

And Many More

Summary :

" Dibalik pria sukses, dibelakangnya pasti ada wanita hebat yang selalu mendukung", kutipan ini juga (mungkin) berlaku bagi Jaksa Agung Cho Kyuhyun. Duda mapan super sexy seantero Korea Selatan. Karir yang cemerlang, latar keluarga yang super, dan ayah dari remaja tampan berumur 18 tahun yang suka berbuat onar, 5 kali pindah sekolah dalam 1 tahun, tampan tapi brutal begitulah julukkannya. Jaksa Cho sampai bosan keluar masuk ruangan konseling dari setiap sekolah sang puter; Cho jr, Sehun. Sehun sangat dimanja oleh sang ratu keluarga Cho; halmoeni cantik yang mengurus Cho jr semenjak ditinggal wafat sang isteri; Cho Heechul.

Chapter 3

Seoul dipagi hari. Tepatnya dikamar besarnya, didepan sebuah cermin besar Heechul sedang sibuk mematut diri. Dengan pakaian semi formal -floral dress selutut dan sebuah long coat berwarna cokelat muda- ia masih sangat cantik mempesona diusianya yang tak lagi muda.

" Kau masih mempesona seperti biasa," pujinya pada dirinya sendiri sambil tersenyum puas melihat penampilannya pagi ini. Rambut hitamnya yang ia rajin cat bergaya bob, ia biarkan tertata rapi tanpa hiasan hairpiece.

Heechul segera meraih clucth kulit hitamnya, dan melangkah dengan anggun meninggalkan kamarnya menuju ruang makan dilantai bawah.

Dianak tangga paling bawah dirinya sudah disambut oleh satu pelayan, pelayan itu tersenyum dan menyapanya dengan hormat dan sopan. " Selamat pagi Nyonya Cho.. Tuan muda Sehun sudah menunggu Anda untuk sarapan," ucapnya dengan rasa segan melihat langsung wajah sang Nyonya Rumah.

" Oh! Anak itu sudah siap rupanya," Heechul berjalan menuju ruang makan meninggalkan si pelayan mudaa itu yang masih diposisinya.

Lagi. Heechul disambut oleh wajah ramah yang tersenyum padanya dengan sopan, " Selamat Pagi Nyonya".

" Pagi.. Kepala Pelayan Han," balas Heechul singkat sambil melempar senyum kecil pada Kepala Pelayan yang sudah mengabdi pada keluarga Cho selama 35 tahun itu. Heechul menyapukan tatapannya keseluruh sudut ruanga makan seperti mencari sesuatu.

" Dimana Sehun? Soran bilang ia menungguku?," tanyanya.

Kepala pelayan Han tak memberi jawaban, ia hanya melakukan bahasa tubuh sebagai jawaban menggunakan kepalanya yang mengarah kehalaman belakang. Heechul mengikuti arah pandang. Dapat ia lihat seorang namja dengan memakai seragam sekolah baru yang entah sudah keberapa itu tengah memegang telepon wireless, tengah berbicara dengan seseorang. Heechul menajamkan matanya, dapat ia lihat Sehun beberapa kali berubah ekspresinya. Cemberut, berdecak sebal, dan bahkan memasang wajah malas tanpa minat. Heechul tahu siapa pelakunya.

Ia segera menarik kursi makannya dan mendudukkan tubuhnya nyaman dan mulai sibuk menyiapkan roti gandum untuk sarapannya. " Tolong kau pesankan aku taksi!," titahnya pada Kepala Pelayan Han yang tercenung ditempatnya mendengar perintah Heechul.

" Ta-ta-tapi.. Nyonya Tuan Cha baru saja menyiapkan mobil," ujar Kepala Pelayan Han. Heechul memasang wajah malas. Bukan rahasia lagi, betapa over protektifnya Tuan Besar Cho akan keamanan sang isteri. Hingga melarang Nyonya Besar Cho pergi tanpa menggunakan supir. Tetapi, terkadang Heechul menikmati keprotektifan sang suami, tak jarang juga ia merasa terkekang, kesal, dan bosan dengan larangannya. Dan bagi Heechul sudah lama ia tak membuat khawatir sang suami dengan pergi tanpa supir. Heechul rindu berpergian sendiri tanpa ada orang disekitarnya atau menungginya. Menurutnya inilah saatnya.

" Ssst! Sudah jangan banyak bertanya! Sekarang beritahukan pada Tuan Cha, tidak perlu mengantar. Aku dan Sehunnie akan pergi naik taksi," Heechul tak mau mendengar penolakkan.

" Bagaimana kalau Tuan Besar tahu?," ujar si Kepala Pelayan khawatir.

" Itu bukan urusanmu.. kau tenang saja. Membuat si Tua Cho khawatir tak ada salahnya, kan? Itu balasannya karena tak balas menghubungiku seharian," Heechul tersenyum puas, Si Kepala Pelayan tak habis fikir dengan Nyonyanya, ia segera meninggalkan Heechul menuju dapur.

Tak lama pintu geser kaca sebaagai penghubung ruang makan dengan halaman belakang terbuka, menampaka Sehun yang memasuki ruang makan dengan santai. Namja itu segera menarik kursi makan bersebrangan dengan Heechul.

" Selamat pagi, Sehunnie!," sapa Heechul tersenyum cerah pada cucu namjanya itu.

" Pagi, Halmeoni!," balas Sehun

" Apa yang dibicarakan?," tanya Heechul tanpa menatap Sehun ia mulai disibukkan dengan roti gandumnya.

" Tak ada. Tidak penting," jawab Sehun singkat seadanya. Heechul mengangguk mengerti tanpa suara.

" Apa ukurannya pas? Kau merasa nyaman?," Heechul memperhatikan Sehun, lebih tepatnya pada seragam baru anak itu. Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban.

" Syukurlah.. lain kali kau harus ikut! Untung saja perkiraan Halmeoni tepat," timpal Heechul.

" Bagaimana? Kau siap? Hari pertama sekolah?," riang Heechul sambil menggigit rotinya.

" Mau tak mau aku harus siap," respon Sehun singkat dengan ekspresi tak berarti.

Heechul mengangguk mengerti. Dan keheningan langsung menyelimuti keduanya. Ini nampak berbeda dari kediaman keluarga Lee.

.

.

.

.

.

.

" KIM JONGIIIIIN…! JONGIIIN…!".

" IRREONAAAA…. KAU AKAN TERLAMBAT..!".

" JONGIIIINN… PALLIWA….!".

" IRREONA… JONGIIIN… IRREONAAA…!".

" Aigoo.. Noona kau berisik sekali! Ini masih pagi," keluh seorang namja dengan tampang kusut khas baru bangun diambang lorong.

" Omoonaa.. Jinki-ah! Kau mengejutkanku," Sungmin berbalik memasang wajah terkejutnya yang menggemaskan. Jinki, namja itu melangkah gontai mendekati meja makan menuangkan air putih kedalam gelas yang sudah tersedia diatas meja.

Sungmin memperhatikan adik namjanya yang sebentar lagi menikah, dari ujung rambut hingga kaki. Satu kata, berantakan. Kemeja kerja -abu-abu- yang kusut berantakan dan masih memakai celana kerja berwarna hitam. Sungmin hanya menggeleng dan kembali dengan kerjaannya memasak sarapan.

Jinki menarik kursi makannya, duduk, dan segera membuka koran pagi. " Kau tidak pulang ke apartemen? Kapan kau datang?," Sungmin memecah keheningan, yang terdengar suara kertas koran yang di balik.

" Tadi subuh. Entahlah aku terlalu lelah menyetir pulang ke apartemen," ujar Jinki diakhiri desahan lelah.

" Kau lembur lagi?," kembali Sungmin bertanya dengan masih posisi sama, memunggungi Jinki.

" Aku dikejar deadline dan Key," jawab Jinki dari balik korannya.

" Ya.. resiko," respon Sungmin singkat. Ia sendiri sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya yang masih berbalut apron merah polkadot putih bertuliskan Minnie Mouse.

" Kau kerja hari ini?," kali ini Jinki yang bertanya.

" Ya, cukup 2 hari aku menelantarkan anak-anakku. Aku tak terlalu nyaman meninggalkan sekolah lebih lama lagi," aku Sungmin yang sepertinya sudah hampir selesai membuat sarapan. Kini dia sibuk mengambil piring baru untuk orang yang tak terduga akan datang setelah terakhir kali mereka sarapan bersama, 2 bulan yang lalu -seingat Sungmin-.

" Apa tugas yang aku berikan sudah selesai?," Jinki kembali membalik korannya kehalaman selanjutnya.

" Sudah. Kau tenang saja.. aku akan meng-email Key soal design kartu beserta daftar tamunya," jawab Sungmin meletakkan piring baru dihadapan Jinki, lalu mengisi gelas milik Jongin dengan susu cokelat. Namja itu mengangguk senang dibalik koran.

" Pagi!," sapa suara lainnya, Sungmin langsung menoleh kesumber suara dan tersenyum ramah. Jinki sedikit menurunkan korannya untuk menyapa Jongin.

" Hai! Pagi Jongin..," Jongin langsung memasang wajah ceria yang tampan, saat mendapati Jinki tengah duduk didapur.

" Cepat sarapan Jongin!," ajak Sungmin. Jongin segera mengambil tempat disebelah Jinki.

" Kita sarapan bersama? Kapan kau datang, Hyung?," tanya Jongin antusias.

" Jam 2," jawab Jinki singkat.

" Jinki bisa kau letakkan koranmu? Kau bisa melanjutkannya sesudah sarapan," titah Sungmin melangkah mendekati kedua adiknya dimeja makan dan mulai mengisi piring masing-masing dengan sarapan mereka. Jinki langsung menurut, ia melipat rapi bahan bacaan paginya.

" Sarapan apa kita?," tanya Jinki memandang minat.

" Omurice dan Kimchi," jawab Sungmin. " Kopi, Teh, orange juice, atau.. susu?," tawar Sungmin pada Jinki.

" Orange Juice saja," tunjuk Jinki pada salah satu rak dikulkas pada botol berisikan cairan kental berwarna kuning cerah.

Sungmin sendiri lebih memilih kopi hitam untuk paginya, yeoja itu pun segera bergabung dengan keduanya dimeja makan. Menarik salah satu kursi tepat berhadapan dengan keduanya.

Sungmin sejenak memperhatikan Jongin, " Apa kau tak tahu apa itu sisir Tuan Muda Kim?," dengan nada menyindir Sungmin memperhatikan rambut hitam cokelat Jongin yang mulai gondrong.

" Begini jauh lebih baik. Ini gayaku.. berantakan," serunya bangga sambil ber-hi five dengan Jinki yang ikut mendukung gaya Jongin sambil tertawa.

" That's so awesome, Bro!," puji Jinki. Sungmin langsung meminum kopinya malas dengan mendengus sebelumnya. Jongin sudah mulai memakan sarapannya santai diikuti Jinki.

" Sepertinya kau akan mendapat surat pelanggaran lagi dan lagi dari Kyungsoo-ssi," dengan nada mengingatkan pada Jongin yang segera memasang wajah masam.

" Kau merusak moodku, Noona! Tolong jangan bicarakan makhluk pendek itu," sungutnya kesal.

" Kyungsoo, nugu? Makhluk pendek? Siapa yang kalian bicarakan?," tanya Jinki ingin tahu melempar tatapan pada Sungmin dan Jongin.

" Dia Wakil Ketua OSIS SM Global High School, sekaligus ketua kedisiplinan dan ketertiban sekolah.. senior Jongin. Dan dia siswi terpintar no 2 seangkatannya," ada nada pujian dari perkataan Sungmin yang membuat Jongin semakin sebal.

" Wah.. daebak!," seru Jinki.

" Kau berlebihan.. dia tidak sehebat itu," sangkal Jongin santai.

" Kau bicara seperti itu, karena kau sering menerima hukuman dan surat pelanggaran darinya! Seharusnya dia yang sebal padamu.. kau benar-benar batu!," bela Sungmin sambil menunjuk wajah tampan sepupunya itu dengan sumpit makannya.

" Jinjja? Ada orang selain Noona dan Hyukjae Noona yang berani menghukum anak ini? Aku jadi penasaran?! Dia harus mendapat penghargaan," celetuk Jinki dengan wajah antusias. Itu semakin membuat Jongin dongkol dengan yeoja pendek itu.

" Ah.. sudahlah! Jangan bahas si pinguin bermata burung hantu seperti dia," sungut Jongin.

" Hei.. jangan terlalu benci. Kau tahu? Benci dan cinta itu.. beda tipis," goda Jinki pada Jongin yang tengah cemberut memakan sarapannya. Sungmin menggeleng tak ingin mencampuri.

" Jinki! Kau kerja jam berapa?," tanya Sungmin, yang langsung mengubah wajah becanda itu jadi sedikit serius.

" Jam 10.. aku ada penerbangan ke Macau untuk presentasi kerjasama bisnis, 2 hari aku akan tinggal," cerita Jinki lalu menyuapkan sesendok penuh omuricenya.

" Yak.. Hyung! Take a breath.. tinggal hitungan minggu kau akan menikah! Kasihan Key Noona sendirian mengurus pernikahan kalian!," tegur Jongin dapat Sungmin dan Jinki tangkap nada kekhawatiran disana, membuat keduanya tersenyum kecil

" Kau tenang saja, kami dibantu W.O dan Kim Eomma. Terima kasih sudah mengingatkan," Jinki reflek mengusak sayang rambut Jongin.

" Ah.. dasar kalian para Bos seenaknya sendiri," gumam Jongin sebal, Jinki dan Sungmin (lagi) melempar senyum maklum, seakan mengerti perasaan adik mereka itu tanpa disadari Jongin sendiri.

" Oh! Noona.. Eomma dan Appa akan pulang hari ini, aku sudah menghubungi mereka. Mereka sudah menolak ajakkan Perdana Menteri Jepang untuk mengunjungi villa musim panasnya," cerita Jinki.

" Mereka mengambil penerbangan jam berapa?," tanya Sungmin ditengah kunyahannya.

" Sore. Mereka pasti lelah, apalagi Appa. Jadi, aku membuatkan janji baru dengan Royal Palace Suit and Tux untuk fitting jas orang tua namja".

Sungmin mengangguk mengerti, " Mereka pulang kerumah atau rumah dinas?".

" Aku tidak tahu.. Oh! Kau sudah memberitahu anak ini, Noona? Jas bestmen sudah bisa fitting?," Jinki menatap Sungmin dan Jongin -yaang juga menatapnya- bergantian.

Sungmin mengukir senyum kecil dan menggeleng, sebagai tanda belum. " Baiklah. Jongin! Hari ini, setelah pulang sekolah kau fitting jas bestmen. Bersama Sungmin Noona, aku sudah menjadwalkannya hari ini. Tak bisa diundur lagi.. arra? Kau katakan saja bila kau merasa tidak nyaman dibeberapa bagian.. mereka akan memperbaikinya, 5 hari sebelum hari H.. kau fitting lagi," Jinki menjelaskan dan Jongin mengangguk mengerti.

" Ah.. Hyung? Sebelum.. hari H.. apa.. kau tak.. melewatkan sesuatu?," Jongin memasang ekspresi yang tak bisa terbaca oleh Jinki.

" Sesuatu? Sebelum.. hari H? Apa itu?," respon Jinki polos tak mengerti yang malah menatap kearah Sungmin, yeoja itu mengangkat bahunya acuh tak tahu.

" Aigoo.. Hyung! Sesuatu ritual..tradisi. mereka para namja biasa melakukannya 2 atau 1 hari sebelum hari H," pancing Jongin penuh kesabaran dan antusias. Sungmin yang langsung mengerti arah pembicaraan sepupunya itu, langsung teringat ketiga sahabatnya Hyukjae, Ryeowook, dan Kibum saat pernikahan mereka. Hyukjae yang murka pada Donghae, Wookie yang langsung melabrak Yesung, dan Kibum yang tidak mau disentuh saat malam pertamanya dengan suaminya ( mantan suami lebih tepatnya ) selama seminggu, karena tradisi konyol itu.

TAAAK!

Sungmin segera mempertemukan sendok dengan kepala batu Jongin, "Appooo.. Noona!," rutuk Jongin mengusap kepalanya.

" Iissh! Bocah ini," geram Sungmin menatap tajam Jongin, namja itu langsung menciut.

" Kenapa?," beo Jinki masih bingung.

" Anak ini.. membicarakan Bachelor Party! Pesta Bujang," jelas Sungmin dingin sambil melirik sengit Jongin.

" Oh! Pesta itu," seru Jinki ceria. Jongin menyeringai kecil, melihat wajah antusias Jinki, tapi mendadak hilang.

" Aku tak berani," lirih Jinki lemas ditempat.

" Key akan murka dan mengebiriku ditempat jika aku mengadakan pesta bujang sebelum pernikahan. Memang beberapa teman namja mengusulkan.. termasuk Jonghyun," sambung Jinki.

" MWOYAAA..? Jonghyun? Kim Jonghyun.. sahabatmu? Si penyanyi?," tanya Sungmin tak sabaran dengan ekspresi terkejut tak percaya, idolanya.

" Nde.. penyanyi idolamu, Noona! Bahkan dia mengusulkan ide pesta bujang itu, sayangnya Key tak sengaja mendengar percakapan kami ditelepon," adunya suram. Jongin sudah tetkikik geli dikursinya, membayangkan Calon Noona Iparnya memarahi Jinki dengan posesifnya.

Sungmin hanya mendelik pada Jongin, yang malah tersenyum jahil padanya. " La-lalu.. apa.. yang dikatakan Key?".

" Dia langsung merebut handphone-ku dan menegur, memaki, dan memarahi Jonghyun. Tak lama.. dia juga marah padaku dan mengancamku," sambung Jinki dengan wajah pasrah.

Sungmin, tak habis pikir jika Jonghyun-lah otak dari bachelor party Jinki yang gagal. Ada rasa lega dan terima kasih pada calon adik iparnya itu, Key.

" Yaah.. padahal aku ingin tahu," celetuk Jongin dengan nada dibuat-buat kecewa -namun tulus ia sungguh penasaran- yang juga diamini oleh Jinki.

" Kau itu masih dibawah umur," ucap Sungmin sebal.

" Aku.. yang sudah cukup umur tak dapat izin. Sungguh aku penasaran dengan pesta bujangku sendiri. Aku jadi iri dengan Minho," curhat Jinki tanpa sadar.

" Berarti.. kau.. kau.. pernah mengikuti bachelor party?," tanya Sungmin horor. Jinki mengangguk pelan tapi, yakin

" Aigoo.. siapa?," tanya Sungmin.

" Haneul.. Junhyuk.. Bogum.. dan terakhir Minho," beber Jinki santai. Sungmin kembali memasang wajah horornya menatap Jinki yang hanya bisa nyengir tanpa dosa dan malah mengajak Jongin ber-hi five lagi.

" Aku selesai!," Sungmin segera berdiri dari duduknya, mengangkat piring bekasnya menuju waahtafel.

" Berhubung kau kerja jam 10! Tolong kau rapikan dan cuci semuanya, nde?," titah Sungmin pada Jinki yang melongo, Jongin tertawa puas.

" Noo-".

" Aku tak terima penolakkan. Atau.. aku beritahu Key, rahasiamu tadi. Otte?," ancam Sungmin dengan nada santai dan tenang sambil melepas apronnya yang menutupi pakaian kerjanya – turtleneck hitam lengan pendek dengan pencil skirt selutut berwarna abu-abu, seuntai kalung mutiara pink melingkar manis dilehernya- dan menggantungnya ditempat semula.

" Jongin! Kita berangkat bersama hingga hukumanmu dari Kim Ahjjusshi selesai. Aku panaskan mobil," tawar Sungmin yang kini tengah memakai long cardigan wol merahnya.

" Yes! Aku tak perlu berdesak-desakkan dikereta atau menunggu bus," jerit Jongin girang seperti baru terkepas dari cekikkan tangan seseorang. Sungmin hanya menggeleng maklum dan bergegas meninggalkan keduanya.

" Senang kau?," cibir Jinki malas. Jongin mengangguk cepat.

" Tentu.. aku tak perlu bertemu dia di kereta atau pun bus. Disekolah saja sudah membuatku bosan".

" Si Wakil Ketua Osis dan kedisiplinan maksudmu?," tanya Jinki. Jongin mengangguk dengan berat hati.

" Sebegitu sebalnya, kah kau pada yeoja itu?," selidik Jinki ingin tahu.

" Sangat," jawab Jongin cepat dan pasti sambil mengunyah. Jinki hanya menggeleng, Jongin semakin tergesa memakan sarapannya. Membuat Jinki mengernyit sedikit jijik.

" Pelan-pelan saja. Kalian masih memiliki waktu 30 menit. Telan dengan benar!," nasehat Jinki seperti seorang Hyung.

" Nanti Noona meninggalkanku," kilahnya.

" Tidak. Kalau Sungmin Noona sudah berkata akan mengajakmu, dia akan menunggu. Dia, kan guru.. ya, walau dia tak mengajarmu," bela Jinki bijak.

Dengan gerakkan cepat dan mulutnya sudah kosong, Jongin meneguk habis susu cokelatnya. " Selesai. Aku duluan, Hyung!," Jongin beranjak dari duduknya dan meraih ransel sekolahnya yang ia letakkan dikursi makan kosong disebelahnya.

"Jongin!," panggil Jinki mendadak. Membuatnya berhenti sejenak diambang lorong dan menoleh.

" Wae?".

" Aku.. mengundang keluarga Jung. Keluarga mantan pacarmu.. dan..," ucapan Jinki memberitahu.

DEG!

Suara jantung Jongin berdegup cepat, saat mendengar marga mantan yeoja yang pernah ia cintai dan sukai. Jongin berusaha mengontrol ekspresinya, " Terserah, Hyung saja!," jawabnya tenang.

" Aku berangkat! Hati-hati penerbangan,nya, Hyung.. semoga harimu menyenangkan! Jangan lupa bereskan semua," Jongin segera membalik tubuhnya meninggalkan Jinki seorang diri didapur, menyusul Sungmin. Lalu, mengubah ekspresi si bungsu Lee.

" ..bukan hanya keluarga Jung. Tapi, keluarga.. Cho juga," wajah Jinki berubah melembut sendu, ia menatap koran paginya yang ber- headline " JAKSA AGUNG CHO BERHASIL MEMBONGKAR SINDIKAT JUAL BELI SENJATA ILEGAL YANG MELIBATKAN ANAK MANTAN PERDANA MENTERI KOREA SELATAN " .

" Kenapa aku jadi terlibat permainan cupid-nya, Key? Ck," gumamnya diakhiri kekehan renyah dari bibirnya.

.

.

.

.

.

Didalam sebuah taksi.

" MWOYAAA…!," seru heboh Heechul, membuat si supir taksi meliriknya melalui spion depan.

" Hari ini kau pulang?," Heechul pada lawan bicaranya ditelepon, dan merendahkan suaranya sambil tersenyum minta maaf kepada si supir.

" Memang anak itu tak memberitahu Eomma?," tanya Kyuhyun. Membuat Heechul melempar tatapan tajam pada Sehun yang tengah memejamkan matanya dengan headset yang menyumpal kedua telinganya.

" Tidak. Dia tak cerita apa-apa," jawab Heechul hingga..

PINCH!

" Aaaauuuwww.. appoooooo… Halmeoniii!," jerit kesakitan Sehun saat dengan permisi Heechul mencubit tepat diperutnya. Rasa nyeri dan panas menjalari perutnya. Ia mendelik sebal pada Heechul yang tengah menatap tanpa dosa. Dan kembali fokus pada lawan bicaranya ditelepon.

" Rasakan.. Napeun namja," gumam Heechul sebal.

Sekarang giliran Sehun yang mendapat lirikkan dari si supir taksi, Sehun memaksakan sebuah senyum paksa kearah supir. Ia kembali menyumpal telinganya, dan menyamankan posisinya, memejamkan matanya lagi sambil tangannya mengusap-usap perutnya berusaha mengurangi rasa sakitnya.

" Apa yang kau lakukan padanya? Aku mendengarnya teriak," Kyuhyun bertanya pada Heechul.

" Tidak ada," elak Heechul santai.

" Akh.. kau mengambil penerbangan yang kapan? Apa perlu Eomma menyuruh Tuan Cha menjemputmu?," tawar Heechul.

" Aku mengambil penerbangan siang ini.. perkiraan jam 3 atau jam 4 aku sudah landing. Tidak usah, aku meninggalkan mobilku di bandara," tolak Kyuhyun. Heechul mengangguk tanpa bisa dilihat Kyuhyun.

" Oh.. apa Eomma benar-benar naik taksi bersama Sehun?," selidik Kyuhyun. Heechul terkikik renyah. Kalau seperti itu, memang benar batin Kyuhyun.

" Apa kau akan ikut berkomplot dengan Appamu? Melarangku naik taksi?," tantang Heechul, Kyuhyun mendengus malas.

" Sejak kapan aku menjadi orang yang bersekutu. Kalian berdua sama saja," respon Kyuhyun tak ada batasan kesopanan.

" Aigoo.. tak akan pernah berubah, sopan sedikit padaku sehari saja tidak bisa?," tegur Heechul.

" Sedang apa anak itu?," Kyuhyun dengan cepat membelokkan pembicaraan.

Heechul melihat pada Sehun yang ada disebelah kanannya, " Sedang sibuk dengan dunianya," balas Heechul singkat.

" Kyuhyun.. Eomma sudah baca berita tentangmu di berita online. Kau selalu saja beruntung," kata Heechul yang terdengar mulai serius nada bicaranya.

" Keberuntungan tidak datang begitu saja," respon Kyuhyun singkat.

" Kalau diperhatikan kasus yang kau tangani, semakin berat dan beresiko saja. Kau harus berhati-hati dan waspada, Kyu," nasehat Heechul yang sangat mengkhawatirkan pekerjaan Kyuhyun sebagai penegak hukum, keadilan. Bukan hal aneh jika seorang Jaksa pasti memiliki musuh.

" Gwaenchana, Eomma," Kyuhyun mencoba menenangkan sang Eomma, bahwa semua akan baik-baik dan aman.

" Aku sangat khawatir, Kyu," sambung Heechul yang mengekspresikan kekhwatiran diwajah cantiknya. Membuat Kyuhyun disebrang sana melengkungkan sebuah senyuman.

Hingga ada jeda beberapa detik diantara keduanya.

" Eomma.. gomawo," Kyuhyun memulai duluan.

" Untuk apalagi?," ujar Heechul tak mengerti.

" Menggantikan posisiku untuk mengantar anak itu dihari pertamanya," jelas Kyuhyun, mengundang Heechul tersenyum hangat dan lembut tanpa bisa terlihat sang anak di Busan sana.

" Aigoo.. kau manis sekali, Kyunnie.. mmhh!".

" Oh.. tolong jangan panggilan itu! Itu menggelikan.. aku senang, lama tak ada yang memanggil dengan panggilan itu. Sekarang terdengar lagi," keluh Kyuhyun tak suka.

" Itu terdengar manis, Kyu..," goda Heechul.

" Aku akhiri, ya.. mobil kami sudah menjemput,"

" Oh.. baiklah. Sampai berjumpa nanti sore, semoga harimu menyenangkan Kyunnie..," balas Heechul, diakhiri dengan sedikit menggoda pada sang anak. Dapat Heechul dengar Kyuhyun berdecak sebal mendengar panggilan itu.

" Ya.. sampaikan salamku pada Sehun, semoga harinya menyenangkan. Dan semoga kau bersenang-senang Nyonya Cho.. pai..pai..," pamit Kyuhyun sebelum memutuskan sambungan.

" Katakan itu langsung padanya, Kyu! Baiklah.. semoga harimu luar biasa," balas Heechul.

" Jeongmal bogoshipooo.. saranghanda, Eomma," ungkaap Kyuhyun lembut.

" Nado.. Pai..," keduanya memutuskan sambungan. Heechul tersenyum kecil melihat layar smartphonenya dan memasukkan benda itu kedalam clucthnya. Setelahnya..

SRAAAK!

Ia menarik lepas headset yang menyumpal telinga Sehun, membuat si korban membuka matanya sebal menatap Heechul yang juga menatapnya tanpa minat.

" Halmeoni tahu.. kau tak tidur," tebak Heechul benar.

" Kenapa kau tak memberitahu Halmeoni jika Appamu akan pulang hari ini, haah?!," tegur Heechul penuh kesabaran. Sehun mendengus sebal, sambil menarik kembali headsetnya dari tangan Heechul.

" Apa itu penting? Bukankah sudah biasa. Dia pergi, dia pulang.. Dia datang, lalu pergi lagi. Memang seperti itu, kan siklus hidupnya?," sungut Sehun pada Heechul. Dapat Heechul rasakan bahwa Sehun merindukan Kyuhyun, mulut boleh berkata lain. Tapi, hati dan mata tak bisa berbohong. Semarah, sekesal, dan sesebal apapun Sehun pada Kyuhyun tak akan pernah lama. Karena, mereka Ayah dan Anak. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Boys will be boys. Setelah itu mereka akan kompak menjahili Heechul atau Hanggeng. Dan atau keduanya akan berakhir dengan saling bermain PS atau Nitendo Wii. Sebenarnya mereka cukup kompak.

" Bisakah kau sedikit perhatian pada Appamu? Dia itu sangat menyayangi dan mencintaimu.. asal kau tahu," Heechul mencoba menyudutkannya.

" Makanya menikah jika ingin diperhatikan," gumam Sehun pelan sambil menyumpalkan kembali headsetnya.

Heechul mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar mengenai ucapan Sehun barusan yang terdengar pelan, umur boleh menua tapi, pendengarannya masih tajam.

" Yak! Bicara apa tadi?," Heechul menggoyang pelan bahu Sehun. Yang menatapnya maalas.

" Bicara apa? Tak bicara apa-apa," elak Sehun pura-pura. Anak itu menyamankan posisinya lagi pada jok mobil. Kali ini ia tak memejamkan matanya, ia memilih untuk menatap keluar jendela.

Sedang Heechul, ia menyeringai kecil, "Sepertinya perdebat kali ini aku akan jadi pemenangnya! Akhirnya Sehun bisa menguntungkan juga.. bersiaplah Cho Kyuhyun anakku," batinnya penuh keyakinan. Ia melihat kedepan, taksinya berhenti tepat dilampu merah.

Heechul menyandarkan punggungnya nyaman, ia memilih menatap keluar jendela sama seperti Sehun. Hingga matanya menangkap sebuah billboard LED, sebuah iklan bergerak bertemakan layanan masyarakat. Dimana ada seorang namja dewasa hampir seumur dengan suaminya, Cho Hangkyung. Dengan balutan setelan formal berwarna abu-abu menunjukkan kasta sosialnya, namja itu tampak berwibawa dan hangat disaat bersamaan, dia dikelilingi oleh beberapa anak kecil, mereka tersenyum dan tertawa bersama namja tersebut. Tampak natural, hangat, menyenangkan,dan akrab.

Heechul mengembangkan senyumnya, air mukanya berubah sendu menatap LED itu. " Aku merindukan kalian, Kanginnie..," lirihnya dengan sadar sambil terus menatap wajah yang tak asing dalam kehidupannya. Wajah rasa bersalah dan rindu menjadi satu menghiasi wajahnya.

" Halmeoni mengenal Menteri Lee?," tegur Sehun tiba-tiba sesaat mobil mereka kembali melaju, menyadarkan Heechul yang langsung menoleh padanya dan tersenyum.

" Seorang sahabat lama.. Halmeoni dan Haraboji," jawabnya singkat. Sehun mengangguk mengerti.

Heechul kembali menatap kedepan, sekarang taksi mereka berbelok di pertigaan. Melaju melewati beberapa gedung tinggi pemerintahan. 15 menit lagi mereka akan tiba, begitu perkiraan Heechul.

" 15 menit lagi kita akan sampai disekolah barumu," ucapnya pada Sehun.

Heechul merasakan getaran dari dalam clucth hitamnya, Heechul melihat sebuah pesan masuk tertera dilayar smartphonenya.

FROM : ROYAL PALACE Suit n Tux

SUBJECT :

" Annyeoghasimnika Nyonya. Kami dari Royal Palace Suit n Tux, ingin memberitahukan jas pesanan atas nama Tuan Cho Hangkyung sudah selesai. Kami antarkan atau ada yang mengambil? Gamshamnida ".

Heechul mengerjap mengingat sesuatu, dia lupa mengambil jas pesanan suaminya. Padahal sang suami sudah mengingatkannya, bahkan sebelum pergi reuni Tuan Cho sudah mengingatkan sang isteri. Jas itu dibuat 3 bulan yang lalu untuk perayaan pesta ulang tahun perusahaan yang akan diadakan 2 minggu lagi, fitting terakhir sudah 3 minggu yang lalu, jadi tinggal diambil saja.

" Aigooo.. aku melupakan yang satu ini," lirihnya sedikit panik pada dirinya sendiri. Heechul segera membalas pesan tersebut.

TO : ROYAL PALACE Suit n Tux

SUBJECT :

" Gomawo atas informasinya. Diambil saja, kami akan mengambilnya nanti sore. Sekitar jam 3. Sekali lagi terima kasih. Sampai nanti sore ".

Balasnya. Tak lama ada respon dari Royal Palace Suit and Tux.

FROM : ROYAL PALACE Suit n Tux

SUBJECT :

" Baiklah Nyonya. Kami tutup jam 10 malam. Kami akan siapkan jasnya. Terima kasih atas kepercayaan Anda. Annyeonghasimnika ".

Heechul tersenyum lega, dia akan meminta jemput Tuan Cha saja untuk menjemputnya di Royal Palace. Heechul memasukkan kembali smartlphonenya. Tapi, tak lama kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk lagi dari nama yang berbeda.

" Ada apa? Baru saja dia menghubungiku," Sehun menoleh pada Heechul dan mengangkat bahunya acuh dan kembali menerawang menatap keluar jendela.

FROM : Kyuhyun

SUBJECT :

" Eomma jam berapa anak itu pulang? ".

Heechul langsung menoleh pada Sehun yang sedang menatap keluar.

TO : Kyuhyun

SUBJECT :

" Eomma tidak tahu. Nanti Eomma akan tanyakan pada pihak sekolah. Waeyo, Kyu? ".

Balasan Heechul pada Kyuhyun.

FROM : Kyuhyun

SUBJECT :

" Jangan beritahu anak itu! Aku akan menjemputnya.. aku rasa tak ada yang salah memberinya sedikit kejutan ^^ ".

" Cepat sekali anak ini membalas pesanku, ck! Apa memberi kejutan? Yang jelas kau juga kan dibuat terkejut olehnya," Heechul membatin sambil membaca pesan Kyuhyun, ia melihat kearah kepala Sehun. Tepatnya pada rambut blonde platina anak itu.

TO : Kyuhyun

SUBJECT :

" Semoga tak ada pertengkaran tak penting diantara kalian berdua! Kau jangan terbawa ego, Kyu.. beri anak itu waktu dan kesempatan untuk berubah ".

Begitu isi balasan Heechul. Heechul tahu setiap dalam keadaan seperti ini, Sehun akan diam beribu bahasa pada Kyuhyun sebagai tanda marah dan protesnya. Bagaimana tidak. Kyuhyun dengan sangat mudahnya mengirim Sehun ke Cina, kesekolah asrama khusus namja tanpa seorang kerabat pun yang dikenal disana. Ditambah kemampuan bahasa mandarin Sehun yang sangat buruk. Beruntung itu sekolah dengan dual bilingual; Inggris dan Mandarin.

Bagi Sehun itu adalah hukuman terburuk dan kejam yang Kyuhyun berikan, ia sempat berfikir Kyuhyun membuangnya. Hanya 6 bulan Sehun bisa bertahan disana, dan selama itu Kyuhyun tak pernah mengunjunginya atau sekedar menghubunginya. Sehun hanya remaja labil yang masih mencari jati diri sekaligus perhatian, ia pun mulai melakukan pemberontakan, menunjukkan sifat aslinya. Dan, voila! Pihak sekolah mengirimkan surat panggilan sekaligus surat peringatan pada Kyuhyun yang dikirim langsung kekantor Kejaksaan Tinggi Negeri Korea Selatan.

Heechul ingat betul betapa geramnya Kyuhyun saat membaca laporan-laporan kenakalan Sehun selama 6 bulan itu. Sehun sempat mendapat dispensasi dari sekolah tersebut, tapi Sehun tetaplah Sehun. Sekolah angkat tangan dan segera menelepon Kyuhyun untuk menjemput Sehun, anak itu dikeluarkan. Dan Kyuhyun menunjukkan ketegasannya dengan tak datang, yang datang adalah sebuah taksi untuk menjemput Sehun dan mengantarkan anak itu langsung ke bandara, pulang, ke Seoul.

FROM : Kyuhyun

SUBJECT :

" Aigoo.. sepertinya Sehun mendapat banyak dukungan. Tenang saja, aku melakukan gencatan senjata dengannya ".

Heechul membuang nafas pasrah.

TO : Kyuhyun

SUBJECT :

" Kebetulan Eomma harus mengambil jas Appa. Dan Tuan Cha menjemput Eomma. Kau jemput Sehunnie, kan? ".

" Apa yang Kyuhyun rencana, kan ya?," tanya Heechul dalam hati.

FROM : Kyuhyun

SUBJECT :

" Ok! ^^9 ".

Heechul segera memasukkan smartphonenya kembali kedalam clucth. Heechul merapikan tatanan rambutnya. Ia kembali melihat kearah jalanan, "Sebentar lagi sampai. Siapkan penampilanmu, Sehun!," tegur Heechul dengan nada memerintah.

" Apa yang dikatakan Jaksa itu?," respon Sehun tak nyambung, bertanya pada Heechul. Si Granny cantik itu hanya menoleh dan tersenyum tanpa dosa pada Sehun.

" Tak ada. Tidak penting," jawab Heechul membalas Sehun seperti anak itu membalasnya tadi pagi. Membuatnya Sehun cemberut yang tampak menggemaskan dimata Heechul. Yeoja itu reflek mencubit pelan penuh sayang pada pipi tirus Sehun.

" Satu sama, Sehunnie..," goda Heechul dengan nada mendayu manja. Kelakuan cucu dan nenek itu lagi-lagi menarik perhatian si supir, dia melihat interaksi keduanya dari spion dan tertawa kecil. Dan langsung membawa taksinya berhenti tepat didepan sebuah gedung instansi pendidikan.

" Sudah sampai Nyonya. SM Global High School," Si Supir taksi memberitahu.

.

.

.

.

.

Sebuah mobil sedan hitam meluncur sedang tapi, meyakinkan memasuki area sekolah menuju parkiran mobil khusus staf dan guru. Dan memarkirkannya dengan mulus.

Sungmin, yeoja itu memperhatikan keadaan sekitar parkiran dari balik kemudinya. Masih sepi, belum banyak mobil guru-guru lain yang datang terparkir. Termasuk mobil tipe SUV berwarna putih milik salah satu rekan kerjanya sekaligus sahabatnya sejak Junior High School. Yang ada mobil volkwagen berwarna cokelat bergaya vintage sudah terparkir ditempat khusunya milik Kepala Sekolah Hwang.

" Noona tidak turun?!," tegur Jongin yang segera melepaskan sit beltnya tepat di sebelah kursi pengemudi.

Sungmin hanya menoleh pada Jongin. Tapi, saat Jongin akan membuka pintu.

Grab!

" Waeyo?," Sungmin menahan pergelangan tangannya. Membuat Jongin menghentikan tujuannya.

" Aku tahu kau itu tampan Jonginnie.. tapi, akan lebih tampan jika kau merapikan penampilanmu itu. Bisa tidak sehariiii…. Saja kau berseragam rapi? Mmmhh.. kau tak bosan harus bertemu Kyungsoo untuk menilangmu dengan kau berakhir diruang konseling untuk menerima hukuman?," tanya Sungmin dengan sabar.

Jongin namja itu tampak berfikir sejenak. " Tapi, Noona..?," ada nada merengek didalamnya. Sungmin malah memberi tatapan memelas yang menggemaskan dimata Jongin. Namja itu mendengus pasrah dan kalah. Ia kembali duduk.

Sungmin tersenyum penuh kemenangan, " Jigeum.. sisir rambutmu dulu," Sungmin mengeluarkan sisir dari dalam dashboard dan sebuah hairspray.

Jongin mengernyit bingung tak percaya. " Yaaak! Untuk apa hairspray itu?," tunjukknya heboh.

" Aku tak punya gel rambut atau pun pomade.. ini fungsinya sama, kan?," jelas Sungmin polos.

Jongin berdecak sebal, tapi lagi ia menyerah dan menurut saja. " Lebih mendekat kearahku Jongin!," titah yeoja itu pada si sepupu. Dengan keterpaksaan ia mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Sungmin.

Dengan telaten dan hati-hati Sungmin menyisir rambut hitam kecokelatan itu yang mulai gondrong, layaknya seorang ibu. Sungmin melakukannya dengan lembut, " Rambutmu sudah memanjang, bagaimana hari ini kita ke barber shop? Sesudah atau sebelum fitting jas?," tawar Sungmin girang.

" Terserah, Noona saja..," respon Jongin setengah hati. Keheningan lalu menyelimuti keduanya. Sungmin fokus menata rambut Jongin. Jongin sendiri tengah menggerutu dalam hatinya yang tak pernah bisa menang melawan tatapan rubah milik Sungmin yang mematikan itu.

" Chaaa! Sudah selesai. Ini jauh lebih baik," seru Sungmin menjauhkan tangannya yang memegang hairspray dan sisir dari kepala Jongin.

" Kau semakin tampan, Jonginnie..," puji Sungmin menatap senang pada Jongin yang memasang wajah datar.

" Sekarang! Mana dasi sekolahmu?," tanya Sungmin menyodorkan tangannya pada Jongin. Namja itu menurut dengan gerakkan malas ia merogoh saku seragam cokelat celananya mengeluarkan seutas kain panjang berwarna maskulin ( navy blue ) dengan motif garis diagonal putih merah sebagai motif, memberikannya diatas telapak tangan Sungmin.

Sungmin masih memasang wajah cerah antusias. " Sini kembali mendekat padaku!," kembali Sungmin memerintah Jongin untuk mendekat. Tanpa perlawanan Jongin segera mencondongkan tubuh tegapnya pada Sungmin.

Dengan gerakkan cepat dan sudah ahli, Sungmin menyelipkan dasi itu disekitar kerah kemeja seragam Jongin. Mengatur panjang dasi dikedua sisinya dengan panjang yang sedikit berbeda, lalu mengancingkan kancing teratas kemeja.

Dan dengan ahli Sungmin membuat simpul dasi. Jongin bisa melihat wajah Sungmin dengan jarak sedekat ini, kadang namja itu tak percaya bahwa yeoja dihadapannya ini adalah sepupunya dan ia sudah berumur kepala tiga lebih. Menurut Jongin wajah Sungmin itu menipu, bahkan Jongin pernah membayangkan Sungmin masih cocok dan pantas memakai seragam senior high schoolnya. Hingga dengan sadar Jongin berkata.

" Aku tak bisa membayangkan jika kau sudah menikah, Noona.. kau akan memasangkan dasi suamimu sendiri disetiap pagi sebelum dia berangkat kekantor. Pasti menyenangkan," langsung menohok hati kecil Sungmin tanpa disadari Jongin. Pupil mata Sungmin mengecil, dengan cepat ia mengencangkan ikatan dasi Jongin sehingga namja itu terkejut.

" Yak! Kau ingin membunuhku, Noona.. ini terlalu kencang!," protes Jongin menjauhkan tubuhnya dari Sungmin. Sungmin merubah air mukanya menjadi sedikit dingin, ia sedikit tersinggung dengan ucapan Jongin.

Namja itu langsung melonggarkan dasinya, ia mendengus sebal. " Apa aku salah bicara? Aku rasa tidak," batinnya sambil menatap Sungmin yang tak menatapnya.

" Kau! Rapikan kemejamu. Dan pakai gasper sekolahmu dengan benar, aku tunggu diluar!," ucap Sungmin yang langsung berubah mood tanpa melihat pada Jongin. Ia keluar dari mobil sambil menjinjing tas kerjanya, meninggalkan sepupunya yang sedang terkejut dengan sikapnya.

Blam!

Sungmin menutup dengan cukup tenaga pintu mobilnya, membuat Jongin terkejut. Jongin memperhatikan yeoja itu yang berdiri didepan mobil membelakanginya.

Keadaan sekolah sudah mulai riuh oleh para siswa SM Global High School, seluruh murid tak jarang membungkuk hormat dan menyapa sopan dan ramah kepada Sungmin saat mereka berjalan melintasinya. Otomatis Sungmin pun membalas sapaan-sapaan itu.

Jongin lalu, keluar dari dalam mobil setelah merapikan kemeja seragamnya dengan wajah tampannya yang kusut. Sudah tak asing bagi para siswa/i melihat pemandanga si Pangeran Berandal mereka turun dari mobil Sungmin.

Dapat Jongin rasakan banyak mata menatap kearahnya dan tak jarang namja itu mendengar suara kekehan dari beberapa siswa seolah mentertawakan penampilannya sekarang. Sebuah penampakkan langka seorang begundal seperti Jongin yang setiap harinya tampil berantakan, berkesan bad bahkan sering tak melengkapi atribut seragam -dasi dan nametag-. Sehingga mengundang teguran tegas dan ketus dari si Ketua Kedisiplinan dan Ketertiban Sekolah.

Hanya Jongin yang bebal dan tak kapok apalagi takut dengan organisasi dibawah perintah kepala sekolah dan guru konseling.

Sungmin menoleh pada Jongin yang mendekatinya, Sungmin tersenyum lebar menatap penampilan sepupunya itu dari ujung kepala hingga kaki, ia sangat puas. " Kalau begini kau semakin tampan Tuan Muda Kim," puji Sungmin dengan nada menggoda.

" Tapi, aku merasa konyol," elak Jongin tak suka.

" Hei.. setidaknya hari ini kau lolos dari Kyungsoo. Kalau bisa kau pertahankan penampilan ini hingga lulus, otte? Lumayan bisa mengangkat nila-nilaimu," saran Sungmin yang mendapat hadiah decakkan sebal Jongin.

" Aku adalah Quarterback The Black Lupus -nama salah satu radi bintang dalam bahasa yunani, yang artinya serigala-! Imageku dari awal masuk ke sekolah ini bad boy.. ah.. sekarang rusak dalam hitungan menit, ck!," rutuknya tak terima.

" Kau bangga dengan image itu? Aigoo.. ubahlah sikapmu! Sebelum terlambat Jongin. Kau masih muda.. masa depanmu masih panjang, jangan sia-siakan masa sekolahmu dengan hal tak berguna! Waktu tak bisa kau putar ulang apalagi kau beli," nasehat Sungmin bijak, yeoja itu tak mempermasalahkan kegiatan American Footballnya, yang ia masalahkan adalah kelakuan Jongin. Malah gara-gara The Black Lupus, SM Global High School masuk dalam sekolah yang diunggulkan kemampuan rugbynya oleh beberapa universitas di Korea, bahkan mereka menyiapkan beasiswa cuma-cuma dan kemudahan untuk bisa melanjutkan kuliah dikampus yang terekomendasi jika kau anggota tim inti. Dan juga membawa nama sekolah menjadi semakin populer, karena mendapatkan lumayan banyak sponsor produk olahraga dari berbagai jenis, dari minuman isotonik, perlengkapan alat, dan hingga apparel.

" Sudahlah Noona jangan mulai!," ujar Jongin malas, ia masih bisa merasakan dan melihat para murid yang menatap kearahnya dengan pandangan yang berbeda-beda.

" Yak! Kau ini.. dinasehati," jawab Sungmin yang tak bisa marah terlalu pada Jongin, Sungmin juga merasakan bahwa dari tadi beberapa murid melihat kearahnya, tepatnya pada Jongin. Ia melihat jam tangan yang melingkar pergelangan kirinya.

" Cepat sana kau ke kelas 10 menit lagi bel! Aku duluan," Sungmin melangkah mendahului Jongin.

" Yaak! Noonaaa..," seru Jongin heboh memanggil Sungmin, yeoja iti menoleh.

" Wae? Ada apalagi? "

Jongin menunjuk dirinya, menunjukkan penampilan rapinya pada Sungmin, " Bagaimana ini? Kau yakin dengan penampilanku ini? Menurutku ini salah!," sungutnya.

" Yang salah otakmu!," timpal Sungmin cepat.

" Cepat sana kekelas! Jangan tertidur dikelas! Jangan bermain psp! Jangan memainkan handphone! Jangan membaca komik dan majalah dewasa! Kau pikir aku tak tahu. Dan.. yang terpenting. Jangan bolos ditengah jam pelajaran! Ingat!," mengingatkan dengan penuh penegasan. Dan berlalu meninggalkan Jongin, punggungnya semakin menjauh.

Jongin mendengus sebal, dia merasa tak percaya diri dengan penampilan rapinya. " Ck! Aku butuh ke toilet," finalnya berjalan menuju gedung sekolah dan sepertinya Jongin mulai risih tak nyaman dengan pandangan berbeda-beda. Bukan Jongin namanya jika menunjukkan kelemahannya. Ia tentu memasang sikap stay cool. Dia memikirkan, bagaimana jangan sampai terlihat oleh para anggota The Black Lupus terutama para seniornya di tim. Bisa muram harinya jadi bahan lelucon.

.

.

.

.

.

Disinilah Heechul dan Sehun, menunggu Kepala Sekolah SM Global High School duduk di bangku kayu panjang yang dipahat dengan ukiran rumit tepat didepan pintu ruang kerjanya. Sehun duduk tenang dengan menyumpal telinganya oleh headset. Heechul sendiri sibuk dengan smartphonenya. Beruntung sekolah belum terlalu ramai, masih lengang dari murid-murid SM Global High School. Hingga sebuah suara berat mengintrupsi keduanya.

" Ah.. mianhamnida membuat kalian menunggu!," Heechul mendongak ia lalu berdiri dan tersenyum cerah kepada orang itu. Menarik tak sabaran lengan Sehun agar anak itu berdiri. Sehun menurut, menegapkan tubuhnya disebelah sang nenek.

" Gwaenchana Jaehoon-ssi. Bagaimana kabarmu?," namja itu tersenyum kecil menanggapinya. Namja itu sejenak melirik kearah Sehun.

" Aku baik Heenim," jawabnya singkat.

" Ini. Kenalkan cucuku Cho Sehun!," Heechul memperkenalkan Sehun, Sehun menunduk sopan pada namja itu. Jaehoon memperhatikan penampilan namja itu dengan takjub, terutama pada rambutnya. Heechul memasang wajah harap-harap cemas memperhatikan raut teman lamanya iti.

" Kau mengingatkan pada Kyuhyun," respon Jaehoon melempar senyum ramahnya pada Sehun dan Heechul. Membuat dua orang itu tersenyum simpul pada Jaehoon.

" Kita bicara diruanganku. Mari!," ajaknya mendahului membukakan pintu kayu berkaca dengan cetakan namanya; Principal Jae Hoon, Hwang.

Namja itu menahan pintu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk lebih dulu, " Sehunnie.. kau tunggu diluar saja, ya? Ada hal yang ingin Halmeoni bicarakan dengan Kepala Sekolah Hwang. Jika sudah selesai, Halmeoni akan memanggilmu. Jangan.. kemana-mana! Duduk manis ditempatmu," Sehun mengangguk pelan menuruti permintaan Heechul. Heechul dengan anggun melenggang masuk terlebih dahulu kedalam ruang kerja Jaehoon.

Tak lama disusul si pemilik ruangan, pintu itu tertutup. Menyisakan Heechul dan Jaehoon, " Wow.. dia diluar bayanganku," ujar Jaehoon menyodorkan secangkir hangat teh madu pada Heechul yang sudah duduk dengan nyaman dibangku single berlengan dihadapan meja kayu besar yang terdapat papan nama terbuat dari kaca.

" Gomawo, Jaehoon-ah," respon Heechul tersenyum kecil menyambut keramahan si Tuan Rumah.

" Dia tak menampakkan sesuatu yang bermasalah. Dia terlihat cocok dengan seragam kami.. kecuali.. rambutnya," Jaehoon mendudukkan tubuhnya dikursi miliknya sendiri, dibalik meja kerjanya.

" Itu masalahnya. Alasan pagi ini aku menemuimu," Heechul meneggakkan tubuhnya, nadanya berapi-api.

" Apa? Aku pernah melihat warna yang lebih mengerikan dari rambut cucumu itu," celetuk Jaehoon. " Beberapa siswa pernah melakukan yang lebih parah".

" Bisakah kau.. melepaskannya untuk hari ini saja? Pura-pura tak tahu.. aku janji, besok warna itu sudah berganti," Heechul to the point dan memandang penuh harap pada Jaehoon yang menatapnya tenang.

" Apa itu simbol protes?," tanya Jaehoon tepat sasaran, mau tak mau mengakuinya Heechul mengangguk pasrah. Mengundang tawa renyah Jaehoon.

" Dia ingin memberikan kejutan pada Kyuhyun," lirih Heechul, Jaehoon terus tersenyum.

" Hal yang biasa dilakukan remaja seperti dia," ujarnya tenang dan meminum teh madunya dengan penghayatan.

" Jadi, bagaimana? Kau bisa pura-pura tak melihat rambut blonde platina sialan itu? Aku sudah berjanji pada Kyuhyun tak akan ada laporan negatif dihari pertama anaknya itu".

" Kau mengumpat Heenim. Itu yang selalu aku rindukan darimu," kelakar Jaehoon membuat halmeoni cantik itu memutar matanya malas.

" Aku akan membicarakannya dengan wali kelas dan ketua kedisiplinan dan ketertiban sekolah," timpal Jaehoon.

" Ketua kedisiplinan dan ketertiban apa? Aku tak mengerti.. kau, kan Kepala Sekolahnya. Kau yang memiliki wewenang," tanya Heechul tak mengerti.

" Singkatnya. Aku tak ikut campur terlalu dalam pada murid-murid yang bermasalah. Aku hanya membubuhkan tanda tangan untuk surat peringatan yang akan diterima orang tua mereka, cukup jadi pendengar. Kami hanya lembaga pendidik, tapi pada dasarnya dan yang terpenting adalah.. sekolah terbaik untuk seorang anak adalah keluarga, orang tua. Jadi, kerjasama wali kelas dan orang tua itu yang aku tekankan," jelas Jaehoon singkat.

" Jadi, bila Sehunnie melakukan kenakalan yang pertama turun tangan adalah wali kelasnya dan si ketua kedisiplinan.. entah namanya itu?," Jaehoon mengangguk santai.

" Tapi, kau bisakan meyakinkan wali kelasnya dan si ketua.. ketua itu?," Heechul memastikan dengan penuh penekanan dan nada sedikit memaksa.

" Kita tunggu saja.. wali kelasnya masih dalam perjalanan menuju sekolah," jawab Jaehoon kembali meminum tehnya.

" Teh madu dipagi hari memang yang terbaik," gumamnya. Dan melempar senyum pada Heechul.

" Semoga cucumu betah sekolah disini," sambungnya.

" Semoga," ujar Heechul singkat sebelum meminum teh madu miliknya.

.

.

.

.

.

Mari tengok keadaan si pangeran keluarga Cho, untuk beberapa detik ia bisa duduk nyaman. Tapi, rasa bosan menunggu mulai menggelayutinya. Ia melepas headsetnya, matikan musik yang sedang diputar diplayer smartphonenya.

Sehun meregangkan kedua tangannya, lalu lehernya. Dia bangun dari duduknya, menoleh kekanan kiri. Sepertinya mereka datang terlalu pagi, sekolah barunya masih tampak lengang dan sepi. Hanya beberapa murid yang sudah datang berkeliaran diarea sekolah, Sehun bisa menghitungnya dengan jari.

Ia berjalan mendekati jendela besar yang langsung menghadap ke lapangan besar yang luas, sebuah lapangan American Football, sangat khas. Ada tiang gawang berbentuk seperti garpu tala di kanan kiri, garis berwarna putih dan merah untuk membagi wilayah score permainan American Football mirip seperti rugby. Ia mengulas senyum kecil, saat melihat sekitarnya lagi. Terdapat beberapa lapangan berbagai ukuran dan jenis dekat lapangan American Football, Baseball Ground, lapangan Sepak Bola, lapangan Basket outdoor, lapangan tenis dan Voli menjadi satu -lapangan voli outdoor-, dan trek lari dan setafet yang digabung dengan fasilitas untuk olahraga atletik -lompat jauh, lompat tinggi, dan tolak peluru- karean Sehun melihat beberapa orang berkumpul untuk berlatih lompat tinggi.

Ini seperti gelanggang olahraga tapi, dalam bentuk kecil. Yang dapat Sehun tangkap soal sekolah barunya ini, berfasilitas lengkap, khususnya dibidang olahraga.

Sinar mentari pagi mulai menghangat, menerpa kulit putih pucatnya. Ia tampak seperti pangeran vampire saat sinar matahari menerpa wajah dan tubuhnya. Sebuah suara yeoja yang asing ditelinga, menyapanya dengan ramah tapi, penuh kehati-hatian.

" Cho Sehun!? Sehun! Kau.. Sehun, Cho Sehun, kan?," Sehun menoleh pada seseorang yang yang merasa mengenalnya dan tahu namanya. Ia mendapati seorang yeoja bertubuh pendek dengan seragam yang sama -hanya versi yeoja- tengah tersenyum ceria dan senang kearahnya, dibalik kacamata berframe hitamnya Sehun lihat kedua mata itu berbinar.

" Benar! Kau Sehun.. Cho Sehun," ucapnya lagi senang, ia melangkah mendekati Sehun dengan masih ada jarak diantara dirinya dan namja itu. Sehun tak memasang ekspresi berarti, memperhatikan yeoja itu keseluruhan. Sepertinya ia baru tiba disekolah, terlihat tas sekolahnya masih disandang.

" Nuguseyo?," tanya singkat. Membuat senyum itu semakin merekah di bibir cantiknya berbentuk hati.

" Kau lupa? Aigoo.. memang sudah lama kita tak bertemu," balas yeoja itu, membuat kening Sehun berkerut bingung. Yeoja ini mengenalnya, yeoja dari masa lalunya.

" Aku.. seniormu dulu. Kita satu sekolah saat elementary hingga junior high school. Kita juga bertetangga! Aku tetanggamu," jelas yeoja itu semakin bersemangat menjelaskan tentang dirinya. Sehun memasang wajah bingungnya sambil mengingat.

" Sunbae? Tetangga?," beo Sehun yang berusaha keras mengingat wajah yeoja berkacamata dihadapannya ini.

" Kau tak ingat? Ck! Tega sekali? Aku saja masih mengingatmu, bocah berandal!," sungut yeoja itu sebal.

" Kau yeoja aneh. Kalau tak ingat bagaimana? Aku sedang berusaha mengingat," balas Sehun yang ikut sebal.

" Do Kyungsoo! Kyungsoo.. aku Kyungsoo!," seru yeoja itu tak sabaran.

" Aku bantu menyebutkan namaku! Kau masih lupa?," sambungnya penuh pemaksaan. Ekspresi Sehun mulai berubah seperti mendapat pencerahan. Ia melangkah mendekati yeoja tersebut, sehingga terlihat perbedaan tinggi diantara keduanya.

" Itu kau, Noona?!," seru Sehun keluar dari karakter. Ia menatap menelisik yeoja itu, dari ujung kepala hingga kaki.

" Lama tak bertemu. Kau banyak.. berubah, Soo Noona! Waah..," dengan nada takjub.

" Berhenti menatapku seperti itu!," Kyungsoo mengelak agak risih dipandang intens seperti itu oleh Sehun.

" Sejak kapan kau memakai kacamata? Sudah kubilang jangan terlalu bergaul dengan buku, lihat hasilnya," komentar Sehun menunjuk kacamata yang bertengger manis diwajah Kyungsoo.

" Tidak berubah. Sejak masuk senior high school," jawab Kyungsoo. Gantian yeoja itu menelisik penampilan Sehun dari atas hingga bawah.

" Kau akan sekolah disini, Sehun-ah?," tanyanya pada Sehun yang langsung memasang wajah malas dan berat hati untuk mengakuinya.

" Wah.. daebak! Kita akan sering bertemu.. senangnyaaa.. Selamat datang kalau begitu di SM Global High School!," sambut positif Kyungsoo antusias menepuk-nepuk sisi bahu Sehun pelan.

" Kau masuk dikelas berapa?," Kyungsoo kembali bertanya pada Sehun. Anak itu menggeleng tak tahu kelasnya.

" Entahlah.. aku belum tahu ditempatkan dikelas mana. Yang pasti Noona adalah sunbaeku, kan?," ujarnya tersenyum simpul pada Kyungsoo.

" Sepertinya kau tak berubah, ya? Si Legend Cho..," tunjuk Kyungsoo pada rambut blonde platina Sehun. Sehun terkekeh kaku melirik sungkan Kyungsoo.

" Eiy.. hari ini kau selamat! Karena kau masih baru kau diampuni. Aku akan pura-pura tak melihat ada siswa yang mewarnai rambutnya dengan warna mencolok seperti ini, tapi lain kali.. jika kau melanggar kedisiplinan dan ketertiban di sekolah, tak ada toleransi," kata Kyungsoo santai tapi, penuh ketegasan.

" Maksud, Noona apa?," tanya Sehun polos tak mengerti. Membuat Kyungsoo melengkungkan senyum tipis menyiratkan sesuatu yang tak dimengerti Sehun.

" Kau akan mengetahui secepatanya, Cho Sehun. Aku harap kau tak seberandalan seperti dulu, karena aku ada di barikade terdepan dalam menjaga ketertiban dan kedisiplinan di sekolah ini, karena dua hal itulah yang membuat nama sekolah ini terjaga imejnya," timpal Kyungsoo tenang. Semakin membuat Sehun bingung bertanya.

" Kau tahu, Noona. Sekolah ini adalah sekolah ke enamku dalam satu tahun ini," ungkap Sehun enteng sambil mengangkat bahunya acuh. Dan melemparkan senyum menawannya tanpa dosa.

Kyungsoo terkejut ditempatnya, ia mengerjap menggemaskan dimata Sehun membuatnya terkekeh sambil mengusak kepala Kyungsoo. " Kau masih sama menggemaskannya seperti dulu, Soo Noona," Sehun terkekeh renyah pada Kyungsoo. Dapat yeoja itu rasakan pipinya memanas.

" Eeey.. kau merona!," goda Sehun bernada merayu.

Membuat yeoja itu salah tingkah. Kyungsoo, reflek menepuk-nepuk kedua pipinya, berharap menghapus noda merah jambu itu dari wajahnya. " Berhenti menggodaku bocah berandal!," rutuk Kyungsoo sebal menutupi sikap salah tingkahnya.

" Lebih baik aku segera pergi dari hadapanmu! Udara disini membuatku gerah," alihnya mengipas-ngipaskan tangannya sebagai pengganti kipas kewajah dan lehernya. Sehun hanya tersenyum kecil memperhatikan sikap salah tingkah Kyungsoo. Yeoja itu segan membalas tatapan Sehun padanya. Yang menurutnya, sinar sorot mata Sehun tak berubah sama sekali. Tajam, lembut, tapi sendu.

" Sampai jumpa lagi, Sehun-ah! Aku duluan.. pai! Semoga harimu menyenangkan," ucap Kyungsoo cepat melewati Sehun yang tak membalas ucapannya. Sehun menatap punggung sempit itu menjauh, berjalan menuju lorong yang menghubungkan gedung tempatnya dengan gedung lain.

" Masih manis dan innocent seperti biasa.. mmhh," gumamnya pada dirinya sendiri.

Sehun kembali mendudukkan dirinya dikursi, dan dalam beberapa menit sekolah tersebut mulai ramai. Jam sudah menunjukkan 10 menit menuju bel berbunyi. Beberapa siswa siswi mulai berlalu lalang dihadapannya, tak jarang mereka berbisik dan melirik penasaran kearahnya dan itu sangat jelas tertangkap oleh Sehun. Namja itu tak terlalu ambil pusing, bukankah anak baru pasti akan selalu mendapat respon yang sama dihari pertama hingga minggu pertama sekolah? Setelahnya perhatian dan lampu sorot itu akan memudar redup, setelahnya anak baru akan berbaur sama dengan yang anak lama. Siswa siswi itu melemparkan pandangan yang berbeda-beda, terutama murid yeoja. Kalian tahu sendirilah, jika kalian merasa yeoja melihat pemandangan baru dari pendatang baru disekolah dan itu namja dengan kualitas super -kita berbicara fisik didalamnya- untuk dijadikan target kekasih atau sekedar idola.

Mata Sehun tak sengaja melihat seorang yeoja dewasa dengan long cardigan merah mencolok memasuki area sekolah, ia sesekali tersenyum ramah dan membalas sapaan sopan dari para murid yang berpapasan dengannya, lalu ia berbelok disebuah koridor.

Satu kalimat, Sehun terpesona padanya. " Sepertinya tak terlalu buruk. Sekolah baruku," gumamnya dan langsung tercetak seringai dibibirnya. Tanpa dia sadari para siswa yeoja yang disekitarnya tengah menahan diri mereka untuk tidak menjerit histeris layaknya fangirls melihat idola mereka.

Entah apa yang terlintas diotak Sehun saat melihat yeoja dengan long cardigan merah itu. Ia menyimpan kuat-kuat diingatannya rupa yeoja itu, yang bisa Sehun tebak bahwa dia adalah salah satu guru disini.

Suara khas bel tanda masuk pun berbunyi 5 kali. Cukup mampu menyadarkan Sehun dari pikirannya tentang yeoja dewasa itu, yang tak asing baginya.

.

.

.

.

.

TO BE COUNTINUE

HUAAAAAH…! Ending macam apa itu?!

Hahahaha.. buntu ide, Sumpah! Waktu bikin chapter 3 ini..

Maaf kalau kurang maksimal dan memuaskan.. #deepbow

Terima kasih buat yang udah comment dan bahkan ada yang follow cerita ala kadar dan berantakkan ini.

Terima Kasih banyak atas dukungannya!

Dan buat salah satu guest di kolom review.. saya anggap itu pujian. Terima kasih Anda sudah sudi mengunjungi ff ini. Saya wanita yang sebentar lagi menginjak usia seperempat abad, sangat tidak dewasa dan bijak jika memperdebatkan atau membalas "pujian" Anda. 5 hal yang Anda harus tahu :

Saat tgl 13 Desember 2015 lalu, yang patah hati bukan hanya Anda. Tapi, para KMS berjamaah patah hati.

Saya sudah melewati fase sebagai fangirls yang fanatik.

Saya berawal dari kpopers netral yang tak memihak fandom manapun, hingga 2010 saya dijerumuskan teman untuk jatuh cinta dengan SUPER JUNIOR.

Saya tidak bisa membuat karakter OC atau pun OOC, karena balik lagi. Saya dulu kpopers netral yang menonton semua reality dan variety show dari idol-idol lain selain Oppadeul. Otomatis saya tahu sedikit karakter para idol -diluar itu asli atau kata hatersnya akting- saya gak peduli. Gak selamanya yang didepan kamera itu palsu dan gak selamanya yang dibelakang kamera itu asli. You know what I meant?!

Saya emang sudah lama gak nulis, bukan berarti saya hilang dari zona Ffn. Saya lebih baik jadi siders untuk ff yang menurut saya kurang atau bukan selera saya, tidak genre saya. Daripada mengotori kolom review, daripada menyakiti Author, karena menurut saya fanfiction itu kekayaan intelektual dari seseorang, sama kaya para ilmuan penemu barang-barang, pencipta. Kritikan dengan makian dan hinaan itu jauh berbeda. Itu sama saja mematikan hak asasi, dunia ffn ini bebas gak ada batasan gak ada hukum tertulisnya! Seumur-umur saya kenal FFN, saya gak pernah memaki, mengumpat, dan menghina ff dari Author lain! Karena saya percaya dengan karma. Saran Saya, piknik deh Say!

Terima Kasih,

XOXO

Buat pembaca terima kasih atas loyalitasnya!

Pikniklah! Karena piknik bikin kita relaks dan lebih menghargai hidup dan diri sendiri..

#NgomongOpoIki?! Hohoho