Three
Sakura
Aku tidak menyangka aku bisa bertahan hidup dengan nenekku yang cerewet dan Uchiha Sasuke yang jutek itu selama beberapa bulan belakangan. Sejak kejadian di kampus beberapa waktu lalu dia selalu menatapku seolah-olah aku ini mangsanya. Kurang ajar. Asal dia tahu ya semua yang kulakukan itu karena pacar berambut merahnya yang menyebalkan itu. Hah! Memangnya hanya dia yang bisa berperilaku seperti itu, aku juga bisa. Lihat saja.
Tapi, walaupun tinggal dengan manusia bermata elang itu aku terbilang sangat menikmati kehidupan baruku ini karena selain si Sasuke itu, semua anggota leluarga Uchiha sangat baik padaku terutama bibi Mikoto, dia selalu memperhatikanku seperti anaknya sendiri dan selalu membuatkanku bekal makan siang. Itachi-san juga sangat baik, tapi aku jarang melihatnya karena ia adalah seorang tentara yang sering berpergian. Paman Fugaku... entahlah, aku juga jarang melihatnya. Kata bibi Mikoto suaminya sangat sibuk, kalau tidak salah, seingatku ayah Sasuke dan Itachi mempunyai perawakan seram dan aku sangat gugup bila berada di sekitarnya, cukup membuktikan sifat Sasuke berasal dari mana.
Hari-hariku di Sekolahpun terbilang biasa saja. Aku hanya datang-belajar-bersosialisasi-pulang. Aku tidak mengikuti kegiatan klub karena mustahil siswa tingkat ke-tiga mengikuti klub, tapi agar aku tidak dicap 'kutu buku' atau 'culun', kadang aku ikut nongkrong dengan teman sekolahku atau Ino sepulang sekolah. Dibully saat kau menjadi anak baru dan berada di tahun ke tiga sangatlah tidak elit. Tapi, ada yang berbeda dengan sekolahku kali ini, dulu saat aku masih sekolah di Amegakure, setiap hari aku pasti akan selalu dihukum karena sering berbuat onar, di sini, aku tidak bisa. Selain ancaman nenek mengusirku dari rumah, wali kelasku, Kakashi-sensei yang juga teman nenekku menghambatku berbuat sesuka hati, padahal aku ingin membuat sesuatu yang berkesan sebelum aku lulus.
Bersekolah selama hampir satu semester di Konoha, membuat kepalaku pusing dan hampir muntah. SMA-ku memang kejam, setiap hari aku hanya bertemu materi-soal-PR, ditambah aku harus mengikuti kelas musim panas hanya karena aku murid baru. Tidak masuk akal. Gara-gara kelas itu aku harus tetap ke sekolah saat yang lain menghabiskan waktu mengenakan bikini di pantai. Menyebalkan.
"Akh!" aku menarik rambutku sambil meneram. Aku butuh piknik! Rasanya aku akan muntah melihat buku pelajaran. Aku merebahkan tubuhku sejenak dan melihat meja belajarku dari posisi ini, masih ada segunung PR musim panas yang belum aku sentuh. Aku mengeram sekali lagi sambil menendang-nendang meja belajarku yang kecil. Aku akan masuk rumah sakit jiwa kalau begini terus. Aku menghela nafas dan menarik tubuhku agar terduduk. Baiklah akan kuselesaikan tugas ini dan bersenang-senang awal pekan depan.
"Sakura? Kau baik-baik saja?" suara pintu geser dibuka terdenga ditelingaku, nenekku bertanya sambil melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.
"Tidak, sepertinya aku mabuk." Jawabku. Ya, aku mabuk karena setumpuk PR, dan aku baru menyelesaikan satu mata pelajaran.
"Murid SMA tidak boleh mabuk Sakura. Aku yakin kau tahu peraturannya." kata nenekku, kini terdengar sura lemari dibuka dan suara baju terlepas. Aku tidak memperhatikannya, mataku masih terfokus pada PR di depanku.
Aku meletakkan pensilku dengan kasar di atas buku yang terbuka, lalu memutar tubuhku, aku melihat nenekku sedang menarik gaun hitam panjangnya agar menutupi bagian bawah tubuhnya dan secepat kilat dia beranjak ke meja rias di seberang meja belajarku.
"Aku sudah dua puluh tahun, aku boleh mabuk." Kataku. Dia hanya bergeming dan mulai sibuk merias wajah dan menata rambut pirangnya. Aku memperhatikan nenekku sekejap, tumben sekali dia berdandan malam-malam begini.
"Jangan menatapku seperti itu." Katanya sambil menatapku dari cermin. Ia memutar kepala beberapa kali dan memajukan wajahnya ke arah cermin memastikan ia sudah sempurna. Aku memandangnya curiga.
Nenekku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya setelah selesai dengan rumah sakit, ia akan langsung pulang dan makan malam denganku dan keluarga Uchiha atau sesekali ia pergi minum dengan rekan dokternya sampai mabuk. Aku benci poin yang ke dua.
"Nenek mau kemana?" tanyaku penasaran, nenekku tidak pernah mengenakan gaun seseksi itu untuk minum-minum.
"Aku hanya akan menghadiri undangan temanku, Sakura."
"Selarut ini?" tanyaku heran, aku melirik jam di atas meja belajarku yang menunjukkan pukul 21:00.
"Ini baru jam sembilan, Sakura..."
"Tidak ada alkohol." Kataku dengan nada mengancam. Tidak ada yang menjamin nenekku akan pulang dalam keadaan sadar setelah menghadiri suatu perayaan.
Dia memandangku dengan tatapan memohon, "satu gelas?"
Aku menggeleng tegas.
"Kau jahat Sakura! Ini kan pesta, kenapa aku tidak boleh minum-minum!?" katanya,
"Pesta?"
"Ehm, ya..." dia melirikku lalu menghela nafas sejenak, "kau tahu betapa beratnya pekerjaanku di rumah sakit. Pasien-pasien itu membuatku stres, Kau tahu? Jadi biarkanlah nenekmu ini menikmati pesta dan minum-minum." lanjunya, kali ini sangat sugestif.
Aku tahu pekerjaannya sangat sulit, dan aku mengerti tingkat kestressannya. Tapi, membiarkan nenekku mabuk adalah hal terburuk. Terakhir kali ia menghadiri pesta, tadaaaa~ aku harus mencuci dan mandi tengah malam karena terkena muntahannya. Pesta bagi nenekku adalah surga, tapi bagiku, NERAKA!
Aku menghela nafas, "aku juga stress, tapi lihat, aku tidak berpesta, apalagi minum-minum sampai mabuk." aku menunjukkan semua PR musim panasku.
"Anak SMA memang sudah sewajarnya belajar dan mengerjakan PR, bukan berpesta, apalagi mabuk." Nenek bangkit dari duduknya dan kini sedang mengobrak-abrik isi laci mencari sesuatu. Ia memutar tubuhnya setelah menemukan dompet yang ia cari dan duduk berhadapan denganku. Aku mendengus, aku benci menjadi anak SMA. "Kalau kau dulu memutuskan untuk tinggal di sini dan bersekolah, kau mungkin bisa berpesta sekarang." Katanya. Ia tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Aku mengerutkan hidung sambil melipat tanganku di depan dada, "sekarang, nikmati hasil keputusanmu dulu, sayang." Lanjutnya dengan senyum mengejek.
"Akh...!" teriakku lagi. Shanaroo.
"Kau bisa dibantai oleh semua klan Uchiha dengan suaramu itu, Sakura." Nenek membuka pintu dan memasang sepatu tujuh sentinya. Sebelum pergi ia menoleh ke arahku sekali lagi dan berpamitan sambil tersenyum.
Setelah kepergian nenekku, aku kembali memusatkan pada bencanaku lagi. Nenek benar, aku harus menikmati hasil keputusanku dulu. Ya dia benar. Dia selalu benar. Dan aku sebal dia selalu benar. Aku menghela nafas, mata dan otakku berfokus pada buku pelajaran. Setengah jam kemudian, aku merasa kepalaku panas karena angka dan rumus matematika. Sepertinya otakku kebakaran. Aku menyapukan tangan kananku ke atas kepala untuk menghilangkan asap yang mungkin timbul akibat kebakaran di otakku sambil memfokuskan mataku pada deretan angka di buku tulis yang terlihat membayang. Aku melempar pensilku dengan kasar.
"Persetan dengan matematika!" gerutuku. Aku menyerah. Matematika telah membakar otak dan kepalaku. Aku butuh sesuatu untuk menyiram kebakaran di otakku.
Aku merenggangkan tubuhku sejenak dan berjalan dengan enggan ke arah halaman. Udara malam tidak begitu sejuk, mungkin salah satu pengaruh musim. Aku segera mengenakan sendalku dan bergegas menyebrangi taman menuju dapur keluarga Uchiha. Lampu masih menyala ketika aku tiba tapi meja makan sudah bersih karena kegiatan makan malam sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Aku memutar tubuhku ke arah lemari es dan aku melihat Sasuke di depan lemari es dengan celana olahraga panjang dan kaus belel abu-abu. Satu tangannya menggosok-gosok rambutnya basah sehabis keramas, tangan kanannya dengan lihai menarik pintu lemari es agar terbuka dan tubuhnya membungkuk mencari-cari sesuatu.
Aku menyandarkan sebagian tubuhku ke kinter dan menunggu.
Sasuke membuka dan menenggak isi bir kaleng itu di depan pintu lemari es yang masih terbuka. Benjolan ditenggorokkannya naik turun mengikuti arah air yang masih melewatinya dan itu membuat udara sekelilingku terasa pengap dan aku kesulitan untuk nafas. Aku bersumpah dia seperti model pria seksi untuk iklan minuman di televisi. Dengan tambahan tetesan air yang melewati sisi wajahnya. Dia lebih seksi dari Takuya Kimura!
Bantingan pintu lemari es yang ditutup menyadarkan lamunanku, Sasuke membalikkan tubuhnya dan ia menatapku. Tangan kanannya memegang kaleng bir. Tanpa memperdulikanku ia menenggak bir itu sekali lagi dan dengan cepat ia melengos dan melewatiku lalu duduk di meja makan. Udara disekelilingku normal kembali dan aku tersadar apa tujuanku masuk dapur.
Aku sibuk menggeledah isi dapur mencari kantung es batu yang digunakan untuk mengompres badan saat demam. Ya, aku membutuhkan benda itu untuk memadamkan otak dan kepalaku kalau kalian ingat. Setelah menemukannya, aku langsung memasukkan semua es yang ada di freezer ke dalam kantung dan duduk di sebrang Sasuke. Aku melirik Sasuke dia duduk dan meminum birnya sambil menyandarkan kepala ke kepala kursi. Kenapa dia seksi sekali malam ini?
Aku meletakkan kepalaku di atas meja dan langsung menaruh kantung es di kepalaku. Dingin. Deretan angka di buku pelajaranku benar-benar merusak otakku.
"Dasar matematika sialan! Kau membuat kepalaku terbakar!" kataku merancu tidak sadar dengan apa yang kukatakan. Angka-angka yang tadi kulihat sepertinya berhasil membuatku tidak bisa berpikir jernih, "kau harus bertanggung jawab! Memangnya kau tidak tahu perawatan kulit kepala itu mahal?" kantung es terjatuh ke atas meja.
Aku menegakkan kepalaku dan menaruh kantung es itu ke kepalaku tadi dan memeganginya. Sasuke ada di depanku dan dia menatapku wajahnya tanpa ekspresi.
"Jangan menatapku seperti orang aneh begitu!" kataku "aku butuh sesuatu yang dingin karena matematika membuat kepalaku berasap. Apa kau tidak lihat asap yang keluar dari kepalaku?" aku menunjuk kepalaku seperti orang bodoh, mulutku menjadi tidak bisa berhenti bicara. "kau tahu, kehidupanku sangat berat. Setiap hari ada PR, tugas, belum lagi ujian mendadak dan aku harus ikut kelas musim panas saat semua temanku bersenang-senang di pantai!" Stop Sakura, kau merancu seperti orang mabuk! Tidak, aku tidak mabuk aku sadar seratus persen. Ehmm tidak, aku mabuk... tidak.. akh!
Sasuke diam, sedetik kemudian dia beranjak dari kursi dan melangkah pergi. Wah, dia tidak punya perasaan. Seharusnya dia mendengarkanku bicara, bukannya pergi begitu saja. Menyebalkan. Aku menghela nafas dan ikut bangkit dari kursi. Sebelah tanganku masih mengompres kepalaku, tanganku yang lain mengambil kaleng bir sasuke yang tertinggal di atas meja dan tanpa otakku memerintah, PUK!
"Jekpot!" seruku saat kaleng itu tepat mengenai kepala Sasuke. aku tertawa, dan langsung berlari ke arah kamarku.
"Itachi-san, kau pulang hari ini?" tanyaku, wajah cemberutku karena udara panas dan segudang pelajaran berubah menjadi senyum lebar saat melihat Itachi duduk di kursi ruang tamu.
"Sakura!" ia bangkit dari kursi dan memelukku, "aku merindukanmu" Katanya aku tertawa dan memeluknya sambil berkata aku juga merindukannya. "Oh, ini sepupuku, Uchiha Shisui." Itachi melepaskan pelukkannya dan menunjuk laki-laki yang sedang duduk di sofa. Yang ditunjuk langsung berdiri dan mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku mengulurkan tanganku dan menjabatnya. "Haruno Sakura." Dia tersenyum. Aku menaruh tas sekolahku di lantai dan ikut duduk bersama Itachi dan Shisui.
"Dia cucu Tsunade Senju, dan tinggal bersama kami." Jelas Itachi. "dia adikku yang lain. Manis bukan?" aku tertegun, adik? Tanpa sadar aku tersenyum sumringah. Aku adalah adik Itachi? Aku punya kakak? Sudah lama aku ingin punya kakak, menjadi anak tunggal sangat tidak menyenangkan. Aku punya kakak laki-laki yang keren! Yuhu!
"Senang bertemu denganmu Sakura." Katanya.
"Aku juga." Kataku dengan memasang senyum semanis mungkin. "gen Uchiha memang luar biasa!" Gumamku, aku ingin tahu apa yang dimakan leluhurnya sampai bisa menciptakan laki-laki yang tampan seperti ini. Tuhan aku mau yang seperti ini untuk menjadi suamiku, tapi tolong jangan Sasuke, sifatnya membuatku jengkel. Moodku berubah kesal lagi.
"Shisui-nii?" panjang umur. Sasuke muncul dari lantai dua dengan celana olah raga dan kaus belelnya yang aku lihat beberapa hari lalu. Dia tidak tampan Tuhan, tolong coret dia.
Shisui menhampiri Sasuke dan memeluknya kemudian mulai tertawa-tawa. Tertawa? Aku menggelengkan kepalaku memastikan ini nyata. Benar, Sasuke tertawa. Aku tidak pernah melihatnya tertawa selama ini. aku masih memandang mereka berdua—tidak, aku hanya memandang Sasuke tepatnya, ini pemandangan langka, aku tidak boleh ketinggalan ini. Lima belas juni dua ribu lima, pertama kali aku melihat Sasuke tertawa dan dia terlihat... manis, dan detak jantungku meningkat. Oh Tuhan...
"Sakura?" suara Itachi menyadarkanku, aku menoleh ke arah sumber suara.
"Ya?"
"Bagaimana sekolahmu? Menyenangkan?" tanyanya.
Aku mendesah lalu menghempaskan tubuhku ke sofa, aku menceritakan PR yang banyak dan matematika yang membuatku hilang akal sampai aku melempar orang (aku tidak menyebut Sasuke) dengan kaleng bir. Itachi tertawa dan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"...aku mabuk dan tidak sadar waktu itu. Eh, tidak. Aku sadar tetapi mabuk... ah.. entahlah. Tiba-tiba aku melemparnya saja." Kataku diakhir cerita. Aku merebahkan kepalaku ke sofa, Sasuke dan Shisui ikut bergabung.
Itachi masih tertawa, "aku tidak menyangka ada orang yang mabuk karena matematika." Ia menatapku dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Sekarang kau tahu." Kataku.
"Sasuke pintar matematika. Dia bisa membantumu." Itachi melirik adiknya, "benarkan Sasuke?"
Yang ditanya hanya diam. Aku sudah tahu arti diamnya, itu adalah jawaban atas pertanyaan Itachi, dan jawabannya pasti tidak. Aku tahu karena aku sudah mencoba meminta bantuannya kemarin setelah aku menceritakan keluh kesahku pada bibi Mikoto dan dia mengatakan untuk meminta bantuan Sasuke, karena anak bungsunya itu dulu adalah juara olimpiade matematika se-Konoha. Lalu, tanpa pikir panjang aku langsung meminta tolong padanya tanpa perduli perang dingin di antara kami.
"Sasuke-san." Panggilku. Sasuke berhenti di tangga nomer dua dan membalikkan tubuhnya ke arahku. Dia diam, tangannya ia masukkan ke kantung celana menungguku bicara.
"Eh, anu.. itu..." aku tidak suka berbasa-basi, tapi jujur aku bingung ingin bicara apa. Sial!. Sasuke membalikkan tubuhnya. "Tunggu!" dengan sigap aku menahannya. Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga dan sekarang berada di hadapannya, satu anak tangga lebih tinggi.
"Oke, begini...maukah kau mengajariku matematika? Aku dengar kau sangat pintar dan juara olimpiade." Aku bicara setenang mungkin dan berhati-hati agar ia tidak tersinggung atau apalah.
Ia mendesah lalu melirikku. "Tidak."
Aku melentangkan kedua tanganku agar ia tidak bisa melewati tangga. Aku putus asa. Benar-benar putus asa. "Aku mohon?" kataku dengan nada memelas. Sasuke tidak menjawab dan langsung melewatiku lewat celah di bawah tanganku. Aku mendesah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, PR terakhirku di SMA harus kukerjakan dan mendapat nilai sempurna. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Kalau begini terus kakashi-sensei bisa mengomel dan aku akan dilempar dari rumah ini oleh nenekku. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus lulus SMA dan menjadi mahasiswa.
"Apa kau masih marah padaku?" kata-kataku membuatnya kembali berhenti. "seingatku, aku aku sudah meninta maaf padamu termasuk insiden kaleng bir itu." Kataku kejadian kaleng bir beberapa hari yang lalu teringat lagi. Dan aku ingat aku sudah meminta maaf keesokan harinya. "apa kau tidak bisa melupakannya? Tidak bisakah kita bersahabat? Bagaimanapun, kita tinggal di rumah yang sama, apa yang ibumu pikirkan nanti?" kataku, lalu melanjutkan, "Oke, aku memang bersalah padamu. Aku masuk kamarmu, tidur di kasurmu, menjambak rambut pacarmu, menginjak kakimu, dan oh, melemparmu dengan kaleng. Tapi itu karena ibumu mengatan hal yang salah, lagipula aku sudah minta maaf." Jeda sejenak, aku menghela nafas,
Sasuke melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan aku juga melakukan hal yang sama.
"Oke, tapi mengenai pacarmu, aku menjambaknya karena pacarmu yang memulainya. Dia mendorongku, aku bersumpah. Dan aku minta maaf karena menginjak kakimu juga, tapi itu karena aku kesal denganmu kau lebih membela si Jalang Merah itu daripada aku padahal aku yakin kau tahu pacarmu salah. Aku hanya butuh keadilan sat itu. Tapi toh kakimu baik-baik saja bukan? Tidak patah." Kami tiba di depan kamar Sasuke, ia memutar knop pintunya dan mendorongnya agar terbuka namun belum masuk, aku memanfaatkan ini, "masalah kaleng itu, aku tidak sengaja. Aku mabuk." Kataku. "Ya, anggap saja begitu" lanjutku dengan suara lebih pelan. Aku memegang tangannya yang masih menempel di knop pintu menahannya agar dia tidak masuk ke dalam.
Sasuke menatapku, kali ini lebih bersahabat. Aku tersenyum, pertanda baik. "Jadi kau akan membantuku?" ucapku semanis mungkin.
"Tidak." Ia menyentak tanganku dan masuk ke dalam kamarnya lalu membanting pintu tepat di depan wajahku.
"Hei!" teriakku "Dasar Tuan muda sombong menyebalkan! Kau pasti menyesal melakukan ini padaku!" teriakku, aku menendang pintu kamarnya sebelum pergi.
"Tidak." Kata Sasuke.
Benar bukan apa kataku. Itachi dan Shisui menatapnya keheranan dan tak percaya. Sudah kubilang kan… Itachi membuka mulutnya akan bicara namun aku potong.
"Tidak apa-apa, Itachi-san, Sasuke-san pasti sangat sibuk..." aku menatap tajam Sasuke, kesal dengan sifat sombongnya itu. Aku tersenyum pada Itachi dan Shisui "aku bisa mengerjakannya sendiri, lagi pula masih banyak waktu."
Malamnya, setelah makan malam dengan seluruh keluarga Uchiha, Itachi dan Shisui berpamitan untuk menghadiri suatu acara, Paman Fugaku dan bibi Mikoto menikmati waktu kebersamaan mereka di ruang tv. Aku kembali ke kamar untuk mengambil buku PRku lalu kembali lagi di dapur. Hari ini aku memutuskan untuk mengerjakan PR matematika sialanku yang sudah beberapa hari tidak kusentuh di meja makan agar bisa langsung mengambil es jika kepalau tiba-tiba mengebul lagi. Nenek sedang dinas malam jadi hanya aku sendiri sekarang.
Aku tidak memperdulikan sekitarku dan fokus pada angka-angka di hadapanku. Selama beberapa menit aku hanya memutar-mutar pensilku sambil memikirkan jalan keluar. Masih banyak waktu yang kubilang waktu itu menjadi limit dan aku baru bisa menyelesaikan tiga sola selama lima hari? Aku tidak percaya ini.
Aku membelalakkan mata melihat bukuku yang tiba-tiba bergerak sendiri. Dunia sihir hanya buatan J.K. Rowling bukan?. Aku mengikuti arah jalannya bukuku dan bukuku berhenti tepat di hadapan Sasuke. WHAT? Sasuke?
"Mana yang tidak kau mengerti?" tanyanya, matanya fokus pada deretan angka di buku cetakku.
Aku menampar pipiku. Sakit. Ini bukan mimpi. Tangan kananku melayang dan berhenti di jidat Sasuke dan tangan kiriku memegang jidatku. Sama. Dia tidak demam. Sasuke menghela nafas dan memisahkan telapak tanganku dari jidatnya.
"Aku tanya, mana yang tidak kau mengerti?"
Hening.
"Kau tadi terpeleset di kamar mandi?" aku mengabaikan pertanyaan Sasuke dan balik bertanya kepadanya. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang—maksudku siapapun tidak akan percaya. Orang yang ingin membunuhmu sejak hari pertama mereka bertemu, mendadak berubah menjadi malaikat.
Sasuke mendesah, ekspresinya berubah jengkel dan ia menunjukkan aba-aba akan pergi. Dengan sigap aku menahan tangannya dan menyuruhnya duduk kembali. Well, aku harus memanfaatkan situasi bukan? Mumpung Sasuke sepertinya habis terbentur atau tersambar petir tapi tidak mungkin dia tersambar petir, musim hujan sudah lewat.
Beberapa jam setelahnya kami menghabiskan waktu untuk menyelesaikan soal-soal di bukuku. Sasuke menerangkan dengan mudah sehingga aku cepat mengerti. Dia sangat sabar mengajariku dan menjawab semua pertanyaanku, beda sekali dengan Sasuke yang aku kenal selama ini.
"Akhirnya..." kataku setelah menyelesaikan soal terakhir. Aku menyerahkan bukuku pada Sasuke dan dia memeriksa jawabanku. Aku meregangkan tubuhku sejenak lalu beranjak dari kursi untuk mengambil beberapa minuman dari lemari es sambil menunggunya mengoreksi hasil kerjaku.
"Apa ada yang salah?" tanyaku sambil meletakkan kaleng bir untuknya dan jus jeruk untukku. Sasuke memperhatikan jawabanku lalu berkata :
"Tidak." Katanya. Ia menutup bukuku dan meraih kaleng birnya lalu meneguknya. Ia memandangku, "kau bukan tipe murid bebal, tapi kenapa kau sampai stress begitu?" tanyanya.
Wow, Sasuke bicara padaku? Biacara padaku dengan ramah? kepalanya memang terbentur sesuatu. Aku mengabaikan pikiranku itu dan teringat guru matematikaku dan mendesah. "Aku memang bukan murid yang bodoh. Kau bisa tanya nenekku kalau tidak percaya." Aku menenggak jusku lalu melanjutkan, "aku kesulitan memahami pelajaran karena selama hampir dua tahun aku tidak sekolah. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku mengikuti kakekku berpetualang ke berbagai tempat karena aku tidak mau tinggal dengan nenekku yang cerewet." Aku menjeda sejenak, "Aku sempat sekolah dan menyelesaikai tahun keduaku, tapi karena kondisiku yang berpindah-pindah, aku memutuskan tidak melanjutkan sekolahku dan hanya main-main saja." Aku menghela nafas,
Sasuke masih duduk dan sepertinya mendengarkan, jadi aku meneruskan, "aku berpikir hdupku akan sia-sia jika terus sperti itu, makanya aku memutuskan pindah ke sini dan melanjutkan sekolahku walaupun dengan resiko kupingku sakit mendengar nenekku yang cerewet." Aku menghela nafas, "aku bisa mengikuti pelajaran di sini, tapi, guru matematikaku membuatku gila. Dia sudah tua dan aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan dan dia terangkan, ditambah suasana kelas yang berisik saat pelajaran makin membuatku sulit memahami matematika." Kataku, aku meneguk jus-ku sampai habis. Apa yang barusan aku katakan? Aku baru saja menceritakan masa laluku? Aku menepuk mulutku. Mulutku ini tidak mau diam jika sudah bergerak
Aku melirik Sasuke lagi, dia meneguk birnya sampai habis dan meletakkan kalengnya di atas meja.
"Sasuke-san?"
"Hn."
Aku menatapnya, ada pertanyaan yang sejak tadi ingin aku tanyakan, "Kenapa kau mau membantuku?" aku memang tidak suka basa-basi. Huh~
Sasuke mengambil kaleng birnya dan bangkit untuk membuangnya ke tempat sampah. Mataku memperhatikan setiap gerakannya.
"Itachi menyuruhku." Katanya setelah meneguk segelas air putih. Eh? Itachi? Aku memandangnya tidak percaya. Itachi pasti punya mantra yang hebat. Aku harus menanyakannya sebelum dia bertugas lagi barangkali aku membutuhkannya jika kepalaku berasap lagi. Sasuke berjalan ke arahku dan merapikan bangku yang tadi didudukinya dan beranjak pergi.
"Sasuke-san." Panggilku. Ia berhenti tanpa berbalik, mendadak aku jadi salah tingkah dan bingung akan berkata apa aku melirik ke sekeliling dapur lalu berhenti di mata Sasuke, "eh.. mmm.. anu.. terima… terima kasih." Kataku pada akhirnya.
"Hn."
To Be Continue
