Pair: KaiHun

Disclaimer:

EXO ©SM Entertainment

Plot ©Rinjani Alnamira

Warning!

Sesuai dengan disclaimer yang aku buat diatas, fanfiksi yang bikin temen lamaku, buat aku. Aku cuma remake aja. Dan aku udah dapet izin buat ngeremake fanfic ini. Tadinya ini castnya SJ Lee SungminxOC, terus ku remake jd HyoHyuk. Skrg ku remake lagi.

DON'T LIKE DON'T READ!

Hyung... Ch 3

ㅡo00oㅡ

Jongin hyung terbaring koma di rumah sakit. Tubuhku dan bajuku masih bersimbah darah yang berasal dari kepalanya yang bocor. Dokter berkata bahwa ada keretakan pada tengkoraknya dan pukulan yang keras membuat pendarahan pada otaknya. Jongin hyung terbaring tak sadarkan diri antara hidup dan mati.

Ahjussi dan ahjumoni berada dalam kamar menemani Jongin hyung. Mereka bahkan tidak berkata sepatah kata pun padaku. Tidak ada makian ataupun hujatan terlontar dari mulut mereka, namun bisa kurasakan tatapan penuh amarah dari keduanya. Akulah penyebab semua ini terjadi. Akulah yang bersalah. Aku yang telah merenggut hidup Jongin hyung!

Mengapa kau bisa begitu jahat Oh Sehun? apa yang dilakukan Jongin hyung padamu?

Ia menemanimu selama bertahun-tahun, bahkan ketika kedua orang tuamu tidak hadir di hadapanmu saat hari ulang tahunmu, Jongin hyung menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padamu, menjadi satu-satunya orang yang menyanyikan lagu happy birthday untukmu, bahkan menyiapkan kue ulang tahun untukmu.

Aku teringat ketika tahun demi tahun aku mengecewakannya. Membuat usahanya menyiapkan pesta ulang tahun untukku sia-sia. Namun ia tidak pernah berhenti melakukannya di tahun berikutnya.

Aku ingat ketika ia menemaniku memotret dan melukis di pinggir danau. Membawakan makan siang untukku dan memaksaku untuk makan sekalipun aku tidak punya nafsu makan. Ia hanya tidak ingin aku sakit.

Dan setiap pagi, ia tidak pernah lupa membangunkanku, sekalipun setiap kali aku selalu marah dan langsung mengusirnya keluar dari kamarku, bahkan melemparinya dengan bantal.

"Mianhae, hyung," ujarku lirih ketika mengingat tangannya yang selalu terulur memayungiku di tengah hujan.

"Mianhae, hyung," ujarku lagi ketika mengingat malam-malam yang ia lalui sambil terjaga di samping tempat tidurku ketika aku sedang sakit.

"Mianhae, hyung," kali ini aku hanya bisa berlutut di depan kamarnya, tertunduk dan menangis, berharap ada keajaiban yang membuatnya bisa mendengarku dan bangun.

ㅡo00oㅡ

Aku mulai terbiasa mencium bau rumah sakit. Sudah hampir seminggu Jongin hyung di rawat di rumah sakit, dan keadaannya tak kunjung membaik. Ia tetap tertidur tak sadarkan diri dari koma.

Aku melangkah ke arah kamar Jongin hyung. Menarik nafas sebelum membuka pintu kamarnya.

Namun, aku tidak menemukannya di sana. Hanya ada seorang suster yang sedang membereskan tempat tidur yang dipakai Jongin hyung selama ini.

"Suster, kemana pasien di kamar ini?" tanyaku spontan sambil menghampirinya.

Suster itu segera menghentikan pekerjaannya, dan menatapku.

"Pasien di sini? Kim Jongin maksud anda? Kedua orang tuanya telah membawanya keluar dari rumah sakit ini tadi pagi," jawab suster itu.

"Mwo?"

"Katanya pasien akan dipindahkan ke rumah sakit di Amerika," lanjut suster itu menjelaskan.

Kurasakan mataku memanas, dan sedetik kemudian air mataku ah mengalir. Jongin hyung telah benar-benar pergi dari hidupku. Aneh, bukankah dulu ini yang kumau? Tapi kenapa sekarang hatiku terasa sakit dan nafasku sesak ketika menyadarinya telah menghilang dari hidupku?

ㅡo00oㅡ

Seoul, Januari 2012

Aku kembali lagi ke kota ini setelah satu tahun lebih meninggalkannya. Setelah Jongin hyung dibawa oleh kedua orang tuanya ke Amerika untuk menjalani pengobatan, appa dan eommaku yang mendengar berita tersebut segera menyuruhku kembali ke London.

Selama satu tahun lebih aku hidup di London, kali ini tidak sendirian, appa dan eomma sering pulang untuk menemaniku di rumah. Mereka khawatir dengan keadaanku yang masih syok dengan kejadian yang menimpa Jongin hyung.

Aku menyadari suatu hal yang mungkin terlalu terlambat, bahwa tanpa sadar, kehadiran namja dengan wajah penuh senyum itu telah mengubah hidupku dan hatiku. Aku mencintainya dan betapa bodohnya aku baru menyadari hal ini setelah ia tiada.

Aku tidak pernah mendengar kabar apapun darinya. Entah sekarang Jongin hyung masih hidup atau sedang melihatku dari Surga. Ahjussi dan ahjumoni tidak pernah menghubungiku dan keluargaku.

Jpreett!

Kuarahkan kameraku ke arah danau yang Jongin hyung tunjukkan padaku dua tahun lalu.

"Bagaimana? Indah bukan? Aku yakin kau pasti menyukainya," kata-kata itu terngiang di telingaku. Kutolehkan wajahku ke samping dan kulihat bayangannya, seperti dua tahun lalu, menemaniku memotret di sini.

"Ne, sangat indah, hyung, gomawo," jawabku pada bayangan Jongin hyung dihadapanku, yang tentu saja hanya aku yang melihatnya. Dalam beberapa detik, bayangan itu menghilang seperti biasanya.

Mungkin aku sudah gila, tapi bayangannya selalu muncul kemana pun aku pergi.

Aku hampir gila ketika melihatnya berjalan di tengah kota London, aku mengejarnya, dan mendapati sosoknya menghilang ketika aku menyentuh bahunya yang bidang. Aku lebih gila ketika melihatnya menyebrang jalan raya dalam keadaan lampu yang masih menyala merah, berlari untuk mencegahnya menyebrang, dan mendapati diriku sendirian di tengah jalan yang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang dan mengklaksoniku karena tiba-tiba saja berlari ke jalan. Dan aku menjadi sangat gila ketika bayangannya muncul menghapus seluruh air mataku yang jatuh karena memikirkannya.

Selama di London, bayangan dan kenangan tentangnya selalu muncul, ketika ia menemaniku memotret, memayungiku saat hujan, membangunkanku di pagi hari, dan masih banyak lagi. Namun semua itu hanya bayangan yang tercipta karena aku begitu merindukan namja yang sangat kucintai itu.

Setiap bayangannya muncul, aku selalu menjawabnya seolah ia benar-benar nyata. Mengatakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kukatakan padanya. Memanggilnya hyung, mengucapkan salam selamat pagi padanya, mengucapkan terima kasih, dan tersenyum padanya.

Aku tahu semuanya telah terlambat, dan aku cukup gila untuk bisa berkomunikasi dengan bayangannya, tapi aku tidak pernah menolak setiap kali bayangan itu muncul, karena hanya dengan cara itulah aku bisa melihatnya, dan mengobati rasa rinduku terhadapnya.

Jpreett!

Jpreeet!

Aku masih melanjutkan kegiatan memotretku, sampai ada telapak tangan yang menutupi lensa kameraku.

"Yaaa!" seruku sambil melepas kameraku dan melihat ke arah orang yang mengganggu acara memotretku. Jep! Bayangannya muncul lagi, sama seperti kebiasaannya menutupi lensa kameraku jika aku sedang memotret.

"Jongin hyung?" panggilku pada bayangannya, menatap wajahnya yang sangat kurindukan, kali ini cukup nyata dan bertahan lebih lama. Aku menatapnya hingga kedua bola mataku rasanya akan keluar, aku tak ingin menyiakan sedetikpun menatap bayangannya, karena ketika aku berkedip ia akan menghilang.

"Hyung? Kau memanggilku hyung?"

Cih, penemuan baru, kurasa aku bertambah gila, bahkan sekarang bayangan Jongin hyung bisa menanggapi ucapanku bahkan tersenyum dengan wajah berseri ke arahku.

"Yaa.. Sehun-ah, kenapa kau diam saja?"

Aku benar-benar sudah sangat gila, kurasa tak lama lagi aku harus memeriksakan diri ke dokter jiwa, bayangan Jongin hyung kini bisa melambaikan tangannya dihadapanku.

"Ku rasa aku benar-benar gila sekarang," ujarku lirih.

"Yaa.. kau ini kenapa Sehun-ah? Apa maksudmu kau sudah gila?"

Ok! Kali ini berhasil membuatku takut dan gemetar. Bayangan ini terasa nyata, apakah ini adalah roh Jongin hyung yang ingin menuntut balas padaku? Oh, jadi Jongin hyung sudah matikah?

Aku melangkah mundur, menjauhi bayangan Jongin hyung, namun bayangan itu malah maju mengikuti langkahku sehingga aku kembali mundur.

"Yaaa..Sehun-ah!" tiba-tiba saja bayangan Jongin hyung menarik tubuhku dalam pelukannya, "Kau mau mati, heh?! Mengapa berjalan mundur seperti itu? Di belakangmu itu danau!"

Bayangan Jongin hyung melepaskan pelukannya. Menatap wajahku yang kebingungan dan ketakutan. Tunggu, mengapa pelukannya terasa begitu nyata? Suaranya juga terdengar begitu jelas, bahkan aku bisa mendengar suara detak jantungnya dan merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Apa mungkin?

"Jongin hyung?" panggilku lirih.

"Ne..Waeyo?" jawabnya sambil memasang wajah penuh senyumnya.

"Kau bukan bayangan? Apa kau Jongin hyung sungguhan?"

"Mwo? Yaa.. ini aku Sehun-ah. Apa maksudmu bayangan?" tanyanya kebingungan.

Tanpa berpikir panjang aku segera memeluk tubuhnya. Aku merindukannya. Aku sangat sangat merindukannya. "Jongin hyung!"

ㅡo00oㅡ

Kami berdua duduk di kursi kayu yang terletak di tepi danau. Aku memandang Jongin hyung yang duduk di sebelahku. Jantungku berdegup kencang.

"Setelah tiga bulan menjalani operasi dan perawatan, akhirnya aku sembuh, namun aku harus memulihkan diri selama satu tahun di Amerika, dan dua minggu lalu aku kembali ke Seoul," jelas Jongin hyung.

"Bogoshippo , Sehun-ah," ujarnya lagi, "Sejak tiba di Seoul, setiap hari aku selalu datang ke danau ini dan berharap akan bertemu denganmu."

Wajahku memerah, pipiku terasa panas. Aneh, bukankah aku juga menyukainya, selama ini merindukannya, tapi mengapa lidahku terasa kaku sekarang dan tidak sepatah katapun keluar dari mulutku.

"Sehun-ah," panggilnya, aku menoleh, "Kau tadi memanggilku apa?"

Deg! Jantungku berdetak semakin cepat. Aku malu mengakuinya, tapi..

"Jongin.. Jongin hyung," kataku terbata-bata.

"Mwo? Coba katakan sekali lagi?" godanya sambil menaruh tangan di telinga dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Yaa! Aku sudah mengatakannya tadi, kau mau membuatku malu?!" teriakku dengan wajah yang terasa panas penuh rasa malu. Kim Jongin, kalau bukan karena aku sudah jatuh cinta padamu, aku pasti akan membunuhmu.

Jongin hyung mengacak rambutku, "Aku senang kau mau memanggilku hyung."

"Jongin hyung, mianhae," ujarku lirih, tangan Jongin hyung berhenti mengacak rambutku, "Jeongmal mianhae."

"Gwenchanayo, Sehun-ah," jawabnya sambil kembali mengacak rambutku sebentar sebelum menurunkan tangannya.

Kami terdiam beberapa saat, memandang ke arah danau yang agak membeku karena musim dingin. Ah! Aku ingat sesuatu. Kuambil kameraku dan kuarahkan kepada Jongin hyung yang sedang menatap keindahan danau.

Jpreett! Kuabadikan wajahnya yang sebelumnya tak pernah kulakukan. Ketika Jongin hyung pergi, aku sangat menyesal ketika menyadari tidak ada satupun foto dirinya yang aku punya karena aku selalu menolak untuk memotretnya. Sekarang aku ingin memotret Jongin hyung sepuasnya.

"Sehun-ah?" Jongin hyung terkejut ketika menyadari aku memotretnya, "Kau memotretku?"

"Ne," jawabku singkat sambil kembali memotretnya beberapa kali. Tanpa sadar air mata telah menggenang di pelupuk mataku. Lewat kamera ini aku bisa menyadari bahwa Jongin hyung di hadapanku nyata, bukan lagi bayangan yang selalu muncul namun akan segera menghilang ketika aku ingin memotretnya.

"Waeyo?" tanya Jongin hyung sambil menarik kamera menjauh dari mataku. Dan kini ia dapat melihat air mataku jatuh mengalir membasahi pipiku.

Aku segera mengusap air mataku dengan kasar.

"Sehun-ah, mengapa kau menangis?"

Aku hanya menundukkan kepalaku, sial! Air mataku tidak kunjung berhenti.

"Sehun-ah, apa aku melakukan kesalahan? Mianhae telah membuatmu menangis, padahal aku tahu kau bahkan tidak pernah menangis sebelumnya," kata Jongin hyung dengan rasa bersalah.

"Ne! Aku menangis gara-gara kau hyung!" ujarku setengah berteriak membenarkan ucapannya, "Mengapa kau menolongku malam itu, mengapa kau harus mencampuri urusanku? Seharusnya kau biarkan saja Chanyeol waktu itu dan tidak perlu berkelahi dengannya. Dengan begitu kau tidak perlu terluka dan terbaring koma di rumah sakit, orang tuamu tak perlu cemas karena kau terbaring antara hidup dan mati," aku menarik nafas sejenak, air mataku mengalir semakin deras, "Dan aku tidak perlu melihatmu tak berdaya karena aku, aku tidak perlu merasa bersalah karena telah membuatmu terkapar seperti mayat hidup."

Aku menyeka air mata yang membasahi wajahku, terlalu deras untuk bisa dihentikan. Jongin hyung hanya memandangku tak berkedip.

"Sehun-ah, mianhae," katanya lirih.

"Jangan minta maaf, karena akulah yang salah. Kau tidak pernah merusak hidupku, bahkan aku yang telah menghancurkan hidupmu. Mianhae hyung, apa kau tahu aku begitu menyesal ketika kau pergi? Aku hampir gila karena terus melihat bayanganmu dan mendengar suaramu. Bahkan saat ini pun sulit bagiku untuk percaya bahwa kau yang di hadapanku adalah nyata," aku menumpahkan seluruh perasaanku di hadapannya.

Jongin hyung menarikku ke dalam pelukannya, melingkarkan tangan kanannya di pinggangku dan tangan kirinya di punggungku. Memelukku erat dan aku menangis di dadanya yang bidang.

"Mianhae, Sehun-ah. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," ujarnya setengah berbisik di telingaku. Hatiku terasa tenang mendengar kata-katanya dan merasakan pelukannya yang hangat, ia nyata, Jongin hyung benar-benar telah kembali.

"Jongin hyung, kalau aku bilang bahwa aku tidak akan galak lagi padamu, aku tidak akan marah-marah padamu, aku akan tersenyum untukmu, aku akan memanggilmu hyung, dan bahwa aku mencintaimu, apakah sekarang sudah terlambat?" tanyaku masih dalam pelukannya.

Jongin hyung mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepalaku, "Tidak ada kata terlambat untukmu Sehun-ah, tidak pernah ada kata terlambat untukmu berubah dan memanggilku hyung, apalagi mencintaiku, karena kau adalah alasanku kembali hidup. Saranghaeyo, Sehun-ah."

ㅡENDㅡ

END juga akhirnya /?

Sekarang aku mau nanya, pas baca ini ada yang sampe terharu banget ga? Jujur aja sih, pas aku dikirim file ini sama Rinjani, aku hamper nangis. Sumpah, karakter "cowok" yang disini diperanin sama Jongin itu bener2 mengharukan. Apalagi karakter cewek yang diperanin sama Sehun disini nyebelin bgt wwkwk

Inibalesanreviewnyah:3

Rainrhainyrianarhianie : wkwk iya kayak hunkai padahal kaihun. Ini chapter terakhirnya. Makasih udah review ^^

Mr. Jongin albino : bertahan kok wkwk. Ini udah diupdate chapter terakhirnya, makasih udah review ^^

Keepbeef Chicken Chubu : wkwk Sehun parah ya/? Hehe iya tuh Chanyeol pake nyempil aje~ thanks for review ^^

Sayakanoicinoe : iya aku juga nyesek huhu,, udah dilanjut nih~ thanks for review~

Shinta . lang : Wkwkwk Sehun emang udah nyebelin dari sononya /? Thanks for review ^^

Ahrahenry897 : gapapa~ hehe makasih ya udah mau mampir dan makasih udah review ^^

Thiefhanie . fhaa : iya ini chapter terakhirnya~ thanks for review ^^

Daddykaimommysehun : ini udah dilanjut~ thanks for review ^^

BaixianGurls : wkwkwk~ jangan ngakak gede2 kak /? Iya ini udh dilanjut~ thanks for review ^^

0221cm : iya gapapa hihi~ semenye kai hehe. Iya ini termasuk happy ending gasih? Ngg~ thanks for review~

Bbuingbbuingaegyo : wkwkw iya ini jongin udah sadar /? Ini udh dilanjut, thanks for review ^^

Sekali lagi makasih ya yang udah baca + ngereview ^^ buat fic Blue Envelope, tungguin ajha eak/ aku udah ngetik sih awal-awalnya doing /? Hehe

Udah ah, review lagi boleh? :3