Tittle : Fifty Shades of Kim Jongin –Chapter 3-
Main cast :
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre : Romance, Angst,BDSM,Mystery.
Summary : "My heart beats just for you,there is no moment that i'd forget you,"
.
.
.
.
Sebelum ke inti cerita mari sesi dimulai dengan membalas review dari readers sekalian;
CutRabiatul : kamu juga keren kok udah mau review ff remake ini,hehe iya-iya ini sudah dilanjut ya,ayo dibaca! ^^
Pjoye : Aduh iya saya emang baik kok,wkwk. Doohh dianu-anuin apanya ya? Hahaha. Okeh ini udah dilanjut ya, thank you buat reviewnya yang anu-anu,hahaha
Pantatsehunseksi : iya demi mengisi waktu luang daripada ga ada kerjaan dikantor mending ngeremake novel,hahaha KaiHun juga favorit *kecup basah kaihun* lol , ini sudah dilanjut kok. Makasih ya buat reviewnya dan aku juga menunggu reviewmu selanjutnya *kedip* lol
BaixianGurls : aduhh ayo dong,masa mau review aja bingung, ga jadi aku lemparin kai nih kalo bingung gitu,kkk~ ini udah dilanjut kok,silahkan dibaca ya ^^
Dobibens : filmnya gak sekeren novelnya si menurutku,mwehehehe. Tapi Jamie Dornan disitu,ugh~ cukup bikin klepek-klepek,haha. Akhirnya untuk sekian kalinya ada yang merestui KaiHun *hug* hehehe, iya ini sudah dilanjut. Makasih juga yah buat reviewnya ^^
: duhh jangan cubit-cubit Sehun, nanti Kai marah loh. Hihi. Iya ini udah dilanjut kok, makasih ya buat reviewnya ^^
Nagisa Kitagawa : duhh sialan juga kamu udah greget sama ff remake ini,kkkk~ sama aku juga lebih suka novelnya. Tapi kalo filmnya cukup suka si sama Jamie Dornan nya yang bikin klepek2 *eh,lol. Ini udah update asap lagi kok ^^
Anniewez : si kai manusia dua dunia,lol
KaiHunnieEXO : ini part terpanjang dari 2 chapter sebelumnya,kkk~ , itu sehun blak2an gegara kepo sama jongin,sedangkan jongin juga sama2 kepo ke sehun jadi kepo2an deh,*apa ini? Hahaha
Sehunskai : hehehe aku juga bahagia kamu udah mau review ff remake ini, hehehe *lempar kai* ini udah dilanjut kok, ayo-ayo dibaca! Hihi ^^
Coffe latte : yes kamu akhirnya review lagi *lempar kaihun* kkk~, duhhh adegan begitu entar juga keluar kok, ditahan ya sebentar lagi,kkkk~ *smirk bareng kai* ini udah tanggung jawab kok update cepet lagi. Ayok dibaca! Hehehe
Levy95 : Sudah ya ^^
Dazzling Kaise : huaaa~ saya juga suka kamu udah mau review dan suka ff remake ini *lempar KaiHun* , semangat juga ya buat review ff ini lagi, hehehe ^^
Awexome : hoho~ kai auranya itu ada banyak,dia berbeda setiap pribadinya. Kkkk~ kalo gitu gimana kalo Sehun ditaruh dikamarku aja jadi Sehun ga bakal tersakiti,hihihi. Align left ya? Oke, khusus request dari kamu chapter ini saya buat textnya align left. Ini sudah update cepat kan? Kalo kurang cepet bisa kali pinjem teleportnya si kai dulu,Hehehe
Kim Seo Ji : aduhh saya juga penasaran sama gimana review kamu selanjutnya, hehehe ini udah update cepat. Ayok dibaca! Hehe
Ohiyasehun : ah syukurlah chapter ini gak ngecewain,hehe eung~ sampe berapa chapter ya? *mikir keras* yang pasti si lebih dari 10chapter,hehe. Ini sudah dilanjut kok. Ayok dibaca! Hehe
: jangan bingung dong,nanti si sehun juga ikutan bingung kalo kamu bingung mau review apaan, hehehe. Ini udah dilanjut kok, ayok dibaca! Hehe
Whirlwind27 : ini udah dilanjut ya ^^
Michelle Jung : si hitam yang mana dulu nih? Hitam kan menjelaskan banyak hal,kkkk~
KeepBeef Chiken Chubu : Nah kalo gitu dibaca sama direview terus ya ff ini? Hihihi
Kireimozaku : Aw~ aku juga kok tertarik sama kamu karena kamu udah mau baca + review ff remake ini, hihihi. Iya karena mereka saling menggoda jadi gitu,hihihi. Wah kalo itu hanya Jongin sendiri itu mau dipake buat apa alat-alatnya, hehehe kita tunggu saja dichapter-chapter selanjutnya ya~
Parkodot : Hello! Welcome yah~ hehe. Wah suka buka-bukaan nih kamu, hehehe. Ah syukurlah kamu merestui jongin jadi si grey, hehehe. Yah kenapa ga berani? Padahal filmnya gak ngeri sama apa yang digambarin dinovel *nah lho author sesat. Hehe. Iya tenang aja ini juga udah dilanjut kok, ayo baca! Hehehe
.
Oke makasih ya buat yang udah pada review, serius seneng deh baca review kalian walaupun aku disini cuma sebagai pe-remake novel FSOG jadi FSOKJ, hehehe
Seneng ngeliat respon dichapter 2 kemaren pada ga ngeluh kesusahan baca kalimatnya. Hehe dan semoga di chapter ke 3 ini juga masih masuk dalam posisi enak buat dibaca ya. Hehe
Dan ini udah termasuk fast update again! Again and again! Dan yang bilang masih kurang panjang ini udah aku panjangin jadi 50 halaman di MS WORD! *kecup basah KaiHun* kkkk~
Welcome buat para New Reader , dan buat para SiDers tunjukin diri dong lewat review biar aku bisa ngerti apa kurangnya dari remake ff ini. Oke deh dari pada aku banyak omong mending langsung dibaca ya chapter 3 ini.
.
.
.
Di chapter ini lumayan menguras emosi Sehun kepada Jongin yang penuh teka-teki. Penasaran? Here we go~
.
.
.
.
"Berapa lama kau dekat dengan Byun Baekhyun?"
Oh, sebuah pertanyaan mudah untuk memulai pembicaraan.
"Sejak tahun pertama kami sekolah. Dia teman baikku."
"Hmm," jawab dia, tidak terlalu merespon banyak. Apa yang dipikirkannya?
Di lift,Jongin menekan tombol untuk membuka lift, lalu bel berbunyi segera. Pintu membuka menampilkan pasangan muda yang tengah berpelukan dengan bergairah. Ekspresi mereka terlihat terkejut sekaligus malu, mereka melompat berpisah, menatap dengan rasa salah tingkah ke segala arah kecuali kearah kita. Jongin dan aku melangkah masuk ke lift. Aku berjuang untuk menjaga ekspresi wajahku agar terlihat biasa saja, jadi aku memandang ke lantai, aku merasa pipiku mulai memerah. Ketika aku mengintip ke arah Jongin melalui sudut mataku,aku melihat ada sedikit senyum terlukis di bibirnya, tetapi sangat sulit untuk mengatakan jika itu sebuah senyuman.
Pasangan muda tadi pun tak mengatakan apapun, dan kami melakukan perjalanan ke lantai pertama dalam keheningan. Kita bahkan tidak punya obrolan basa-basi untuk mengalihkan keheningan diantara kita. Pintu terbuka dan yang sangat mengkagetkanku, Jongin meraih tanganku, menggenggam dengan jari yang panjang dingin. Aku merasa aliran darah melalui wajahku ku dan detak jantung ini sudah cepat berdentum hebat. Saat ia membawaku keluar dari lift, aku dan Jongin bisa mendengar cekikikan tertahan dari pasangan itu yang terdengar meledak di belakang kami.
Jongin menyeringai. "Ada apa dengan liftnya?" Gumamnya.
Kami melintasi lobby hotel yang luas dan ramai dari hotel menuju pintu masuk tapi Jongin menghindari pintu putar, dan aku ingin tahu apakah karena itu ia harus melepaskan tanganku atau tidak.
Di luar ini minggu dalam bulan Mei yang sejuk. Matahari bersinar dan lalu lintas sepi. Jongin berbelok ke kiri dan berjalan ke pojok, di mana kita berhenti menunggu lampu-lampu pejalan kaki untuk berganti. Jongin masih memegang tanganku. Ini di jalan, dan Kim Jongin masih memegang tanganku. Tidak ada seorangpun yang pernah menggenggam tanganku. Aku sendiri merasa pusing, dan aku merasa tergelitik pada seluruh tubuh. Ini terasa menyenangkan.
Aku mencoba meredakan seringai konyol yang mengancam akan muncul membagi wajahku jadi dua. Cobalah untuk jadi tenang, Sehun, alam bawah sadarku memohon padaku. Lampu hijau menyala, dan kami berjalan lagi. Kami berjalan empat blok sebelum kita sampai di kopi Portland House, dimana Jongin akhirnya melepaskanku untuk menahan pintu terbuka sehingga aku bisa melangkah masuk.
"Bagaimana kalau kau yang memilih meja, sementara aku memesan minuman. Apa yang kau mau? "Tanyanya, sopan seperti biasa.
"Aku mau... um - Sarapan teh Inggris, teh celup diluar."
Jongin mengangkat alisnya. "Tidak minum kopi?"
"Aku tidak suka kopi."
Dia tersenyum. "Oke, teh celup diluar. Gula?"
Untuk sesaat, aku tertegun, berpikir itu adalah sikap sayang, tapi untungnya pikiran bawah sadarku menendang dengan mengerutkan bibir. Tidak, bodoh - apakah kau pakai gula?
"Tidak, terima kasih." Aku menatap ke bawah pada jari-jari tanganku.
"Sesuatu untuk dimakan?"
"Tidak terima kasih." Aku menggeleng, dan ia menuju ke counter. Aku diam-diam menatap Jongin dari bawah saat ia berdiri di baris menunggu untuk dilayani. Aku bisa memperhatikannya saat ini ... dia tinggi, berdada bidang, dan langsing, dan bagaimana celananya menggantung dari pinggulnya ... Oh. Sekali atau dua kali dia menggerakkan jari panjang, anggun ke rambutnya yang sekarang kering tapi masih acak-acakan. Hmm ... aku ingin melakukan itu. Pikiran itu datang tanpa diminta ke dalam pikiranku, dan wajahku memanas. Aku menggigit bibir dan menunduk menatap tanganku lagi,aku benar-benar tidak menyukai kemana pikiran kotorku menuju.
"Sedang memikirkan sesuatu?" Jongin kembali, mengejutkanku. Aku jadi memerah. Aku hanya berpikir tentang mengeluskan jariku melalui rambutnya dan bertanya-tanya apakah itu akan terasa lembut ketika disentuh. Ah tidak, aku menggelengkan kepala,mencoba mengenyahkan fikiran aneh itu.
Jongin membawa nampan, ia menaruh nampan tersebut di atas meja kecil bundar dari kayu birch-veneer. Ia mengulurkan cangkir dan piring, sebuah teko kecil, dan piring sisi bantalan satu teh celup berlabel 'Twinings English Breakfast' - favoritku. Kopinya Jongin sendiri tampak ada pola daun indah dicantumkan di dalam susu. Bagaimana mereka melakukannya? Pikirku iseng.
Jongin juga membeli muffin blueberry untuknya. Meletakkan nampan kesamping, ia duduk di depanku dan menyilangkan kakinya yang panjang. Jongin terlihat begitu nyaman, begitu santai dengan tubuhnya, aku iri padanya. Inilah aku, canggung dan tidak terkoordinasi, hampir tidak bisa mendapatkan dari A ke B tanpa jatuh tertelungkup.
"Memikirkan apa?" Jongin kembali bertanya kepadaku.
"Ini adalah teh favoritku." Suaraku tenang, mendesah. Aku tidak bisa percaya diri saat ini untuk duduk kembali berhadapan dengan Kim Jongin dicoffee shop di Portland.
Jongin mengernyit. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu. Aku memasukkan teh celup ke dalam teko dan segera menarik keluar lagi dengan sendok tehku. Ketika aku meletakkan teh celup yang sudah digunakan kembali pada alas cangkir, ia memiringkan kepalanya memberikan pandangan bertanya ke arahku.
"Aku suka teh hitam," aku bergumam lagi yang sebenarnya ini bukanlah penjelasan yang penting untuk dikatakan saat ini.
"Aku lihat tadi. Apakah dia pacarmu?"
Wah ... Apa?
"Nuguya?"
"Fotografer. Kris Wu."
Aku tertawa, gugup tapi penasaran. Apa yang memberinya kesan seperti itu?
"Tidak Kris adalah teman baikku, itu saja. Mengapa kau kira dia adalah pacarku?"
"Bagaimana kau tersenyum padanya, dan tatapan Kris padamu." Tatapan manik mata hitamnya menahan milikku. Jongin terasa begitu mengerikan.
Aku ingin berpaling tapi aku tertangkap pesonanya. "Kris,dia lebih seperti keluarga," bisikku.
Jongin mengangguk sedikit, tampaknya puas dengan jawabanku, dan melirik ke bawah pada muffin blueberry. Jari yang panjang dengan cekatan mengupas kertas, dan aku melihatnya, terpesona.
"Apa kau mau?" Jongin bertanya, dan senyum misterius dan geli miliknya sudah kembali.
"Tidak, terima kasih." Aku mengerutkan kening dan menunduk menatap tanganku lagi.
"Dan pria yang aku temui kemarin, di toko. Dia bukan pacarmu?"
"Tidak Paul hanya teman. Aku sudah katakan kemarin." Oh, ini semakin konyol. "Mengapa kau bertanya?"
"Kau tampak gugup ketika berdekatan dengan pria."
Omong kosong, itu pribadi. Aku hanya gugup didekatmu, Jongin.
"Aku anggap kau terlalu mengintimidasiku." Mukaku merah membara, tapi secara mental menepuk punggungku sendiri untuk keterus teranganku, dan menatap tanganku lagi. Aku mendengar suara tarikan napas tajam.
"Kau pasti menganggapku menakutkan," Jongin mengangguk. "Kau sangat jujur. Jangan melihat ke bawah. Aku ingin melihat wajahmu."
Oh. Aku melirik Jongin, dan dia memberiku senyum menyemangati tapi terkesan kecut.
"Ini memberiku semacam petunjuk apa yang mungkin kau pikirkan," Jongin bernafas. "Kau seseorang yang misterius, Oh Sehun."
Misterius? Aku?
"Tidak ada yang misterius tentangku."
"Aku pikir kau sangat mandiri," bisiknya.
Benarkah? Wow ... bagaimana aku melakukan itu? Hal ini membingungkan. Aku, mandiri? Tak mungkin.
"Kecuali bila kau tersipu malu, tentu saja, yang mana sering terjadi. Aku hanya berharap aku tahu apa yang menyebabkannya kau sering tersipu malu seperti itu." Jongin memasukkan sepotong kecil muffin ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah pelan-pelan, tidak mengalihkan pandangan dariku. Dan seperti diberi aba-aba, aku tersipu. Sial!
"Apakah kau selalu membuat pengamatan pribadi seperti itu?"
"Aku sendiri tidak menyadari aku melakukannya. Apakah aku telah menyinggungmu?" Jongin sepertinya terkejut.
"Tidak," jawabku jujur.
"Bagus."
"Tapi kau sangat sewenang-wenang," balas aku tenang.
Jongin mengangkat alis dan, jika aku tidak salah, dia sedikit tersipu juga. "Aku sudah terbiasa mendapatkan apa yang aku mau, Sehun," bisiknya.
"Dalam segala hal." Lanjutnya.
"Aku tidak meragukannya. Kenapa kau tidak memintaku untuk memanggilmu dengan namamu?" Aku heran dengan keberanian aku sekarang. Mengapa pembicaraan ini menjadi terasa begitu serius? Pembicaraan ini tidak seperti kearah mana yang aku pikir sebelumnya. Aku tidak percaya aku merasa begitu memusuhinya.
Tatapannya saat ini seperti ia mencoba untuk memperingatkanku. "Satu-satunya orang yang memanggil nama lahirku adalah keluargaku dan beberapa teman dekat. Yang mana aku menyukainya."
Oh. Dia masih belum mau mengatakan, 'Panggil aku Jongin.'
Jongin adalah orang yang gila kontrol, tidak ada penjelasan lain, dan sebagian dari diriku berpikir mungkin akan lebih baik jika Baekhyun saja yang mewawancarainya. Dua orang yang kontrol bersama. Dan Baekhyun,dia lumayan cantik untuk ukuran seorang pria, alam bawah sadarku mengingatkanku.
Aku tidak suka memikirkan Jongin dan Baekhyun bersama. Aku menghisap tehku, dan Jongin kembali makan sepotong kecil muffinnya. "Apakah kau anak tunggal?" Tanya Jongin.
Wah ... dia terus merubah arah pembicaraan.
"Ya."
"Ceritakan tentang orang tuamu."
Mengapa Jongin ingin tahu ini? Ini sangat membosankan. "Ibuku tinggal di Seoul bersama suami barunya Tuan Lee. Ayah tiriku tinggal di China."
"Ayahmu?"
"Ayahku meninggal waktu aku masih bayi."
"Maaf," ia bergumam dan wajah sekilas bersalah.
"Aku tidak ingat dia."
"Dan ibumu menikah lagi?"
Aku mendengus. "Bisa dibilang begitu."
Jongin mengerutkan kening. "Kau tidak mau memberikan banyak info, kan?" Katanya datar, menggosok dagunya seolah berpikir keras.
"Begitu juga kau."
"Kau sudah mewawancarai aku sekali, dan aku bisa mengingat beberapa pertanyaan yang cukup menyelidik itu." Jongin menyeringai ke arahku.
Ya ampun. Jongin mengingat pertanyaan tentang 'gay'itu. Sekali lagi, aku sangat malu. Dalam tahun-tahun mendatang, aku tahu, aku akan membutuhkan terapi intensif untuk tidak merasa malu seperti ini setiap kali aku ingat saat ini. Aku harus mulai mengoceh tentang ibuku - apa pun untuk memblokir memori itu.
"Ibuku seorang yang hebat. Dia seorang romantis yang tak terelakkan. Dia saat ini bersama suami keempatnya."
Jongin mengangkat alisnya dengan heran.
"Aku merindukannya," aku melanjutkan. "Ibu punya Tuan Lee sekarang. Aku hanya berharap dia bisa mengawasi dan bangkit kembali ketika keinginan bodohnya tidak berjalan seperti yang direncanakan." Aku tersenyum sayang. Aku merindukannya tiba-tiba,ini semua karena aku tidak melihat ibuku begitu lama.
Jongin menontonku dengan penuh perhatian, menghisap sesekali kopinya. Aku benar-benar tidak harus melihat mulutnya. Ini mengganggu. Bibir itu.
"Apakah kau akrab dengan ayah tirimu?"
"Tentu saja. aku dibesarkan oleh dia. Dia adalah satu-satunya ayah yang kutahu."
"Dan seperti apa dia?"
"Tuan Choi? Dia ... pendiam."
"Itu saja?" Jongin bertanya, terkejut.
Aku mengangkat bahu. Apa sebenarnya yang orang ini harapkan? Kisah hidupku?
"Pendiam seperti anak tirinya," Jongin menambahkan.
Aku menahan diri untuk tidak memutar mata padanya. "Dia suka sepak bola - sepak bola Eropa terutama - dan bowling, dan memancing, dan membuat furnitur. Dia seorang tukang kayu. Mantan tentara." Aku menghela napas.
"kau pernah tinggal dengan dia?"
"Ya. Ibuku bertemu suami nomor tiga ketika aku berumur lima belas tahun. Aku tinggal dengan Tuan Choi."
Jongin mengernyitkan mata seolah-olah dia tidak mengerti. "Kau tidak ingin hidup dengan ibumu?" Tanya Jongin. Aku malu. Ini seharusnya benar-benar bukan urusannya.
"Suami nomor tiga tinggal di Seoul. Rumahku berada di China. Dan ... kau tahu ibuku baru menikah." Aku berhenti. Ibuku tidak pernah berbicara tentang suami nomor tiga. Kemana arah pembicaraan Jongin? Ini bukan urusannya.
"Ceritakan tentang orang tuamu," Aku bertanya.
Jongin mengangkat bahu. "Ayahku seorang pengacara, ibuku adalah seorang dokter anak. Mereka tinggal di Seattle."
Oh ... dia memiliki keluarga makmur. Dan aku bertanya-tanya pasangan sukses yang mengadopsi tiga anak, dan salah satunya berubah menjadi manusia tampan yang menguasai dunia bisnis dan menundukkannya sendirian. Apa yang membuatnya seperti itu? Orangtuanya pasti bangga.
"Saudara-saudaramu bekerja apa?"
"Suho dalam bidang konstruksi, dan adik perempuanku di Paris, belajar di bawah bimbingan beberapa koki Prancis terkenal." Mata berkabut dengan rasa terganggu. Jongin terlihat tidak ingin berbicara tentang keluarganya atau dirinya sendiri.
"Aku mendengar Paris itu indah," bisikku. Mengapa Jongin tidak mau bicara tentang keluarganya? Apakah karena dia diadopsi?
"Memang indah. Kau pernah kesana?"Tanyanya, kejengkelannya terlupakan.
"Aku tidak pernah meninggalkan daratan Amerika Serikat untuk saat ini selain Seoul dan China." Jadi sekarang kita kembali ke hal-hal dasar. Apa yang Jongin sembunyikan?
"Apakah kau ingin pergi?"
"Ke Paris?" jeritku. Hal ini telah melemparkan keseimbanganku - siapa yang tidak ingin pergi ke Paris?
"Tentu saja," aku mengakui.
"Tapi Inggris sebenarnya yang benar-benar ingin kunjungi."
Jongin memiringkan kepalanya ke satu sisi, membiarkan jari telunjuknya di bibir bawahnya ... oh. "Sebab?"
Aku berkedip cepat. Berkonsentrasilah, Sehun. "Ini rumah Shakespeare, Jane Austen, Brontë bersaudara, Thomas Hardy. Aku ingin melihat tempat yang mengilhami orang-orang untuk menulis buku yang begitu indah."
Semua pembicaraan mengenai sastra yang hebat mengingatkanku bahwa aku harus belajar. Aku melirik jam tanganku. "Lebih baik aku pergi. aku harus belajar."
"Untuk ujian?"
"Ya. Mulai Selasa."
"Di mana mobil Tuan Byun?"
"Di parkiran hotel."
"Aku akan menemanimu."
"Terima kasih atas tehnya, Mr Kim." Ia tersenyum aneh, aku punya senyum rahasia yang berarti kekalahan besar.
"Terima kasih kembali, Sehun. Dengan senang hati. Ayo,"
Jongin memerintahkan, dan memegang tangannya kepadaku. Aku menurut, bingung, dan mengikutinya keluar dari coffee shop. Kami berjalan kembali ke hotel, dan aku ingin mengatakan itu dalam keheningan. Jongin setidaknya terlihat tenang seperti biasa, mengumpulkan kesadaran dirinya. Sedangkan aku, aku berusaha keras untuk mengukur seberapa jauh acara minum kopi pagi ini. Aku merasa seperti aku telah diwawancarai untuk suatu posisi pekerjaan, tapi aku tidak yakin apa itu.
"Apakah kau selalu memakai jeans?" Tanyanya sekonyong-konyong.
"Hampir selalu."
Jongin mengangguk. Kami sudah kembali di persimpangan, di seberang hotel. Pikiranku aneh ... Dan aku sadar bahwa waktu kita bersama adalah terbatas. Ini dia. Ini Jongin, dan aku sudah benar-benar mengacaukannya, aku tahu. Mungkin Jongin punya seseorang.
"Apakah kau punya pacar?" aku berseru. Sialan - Aku mengatakan dengan keras? Bibirnya kekhasan dalam setengah tersenyum, dan ia melihat kebawahku.
"Tidak, Sehun. Aku tidak melakukan yang namanya pacaran," katanya lembut. Oh ... apa artinya? Dia bukan gay? Oh, mungkin dia - omong kosong! Dia pasti berbohong kepadaku dalam wawancara itu. Dan sejenak, aku pikir dia akan menyusul dengan beberapa penjelasan, beberapa petunjuk untuk pernyataan samar - tapi Jongin tidak. Aku harus pergi. Aku harus mencoba untuk mengatur kembali pikiranku. Aku harus pergi dari Jongin. Aku berjalan maju, dan aku tersandung, ke arah jalan.
"Awas Sehun!" Jongin menjerit. Dia menyentak tangan yang dia genggam begitu keras sampai aku jatuh kembali pada Jongin ketika seorang pengendara sepeda lewat dengan cepat, nyaris menyambarku, menuju arah yang salah di jalan satu arah. Itu semua terjadi begitu cepat - ketika aku jatuh dalam pelukannya, dan dia memelukku erat-erat di dadanya. Aku menarik napas menyedot aroma yang bersih dan vitalnya. Dia berbau linen segar habis dicuci dan sabun mandi mahal. Ya, itu memabukkan. Aku menarik napas dalam-dalam.
"Apakah kau baik-baik saja?" Bisiknya. Satu lengannya memelukku, menggenggamku ditubuhnya, sementara jari-jari tangannya yang lain menelusuri wajahku dengan lembut, lembut menyelidik, memeriksaku. Ibu jarinya menyapu bibir bawahku, dan aku mendengar napasnya tersentak.
Jongin menatap ke mataku, dan aku menahan tatapan cemasnya, tatapan yang terasa membakar sejenak atau mungkin selamanya ... tapi akhirnya, perhatianku tersedot ke bibirnya yang indah. Oh. Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun, aku ingin dicium. Aku ingin merasakan bibirnya diatas bibirku. Cium aku sialan! aku mohon, tapi aku tak bisa bergerak.
Aku lumpuh dengan keinginan yang aneh dan asing, benar-benar terpikat olehnya. Aku menatap mulut Kim Jongin yang indah seperti pahatan, terpesona, dan Jongin menatapku, tatapannya menyipit, matanya gelap. Jongin bernapas lebih keras dari biasanya, dan aku sudah berhenti bernapas sama sekali. Aku dalam pelukanmu. Cium aku, aku mohon.
Jongin menutup matanya, menarik napas dalam, dan kepalanya memberiku goyang kecil seolah-olah menjawab pertanyaan diamku. Ketika ia membuka matanya lagi, dengan tujuan baru,tekad baja. "Sehun, kau harus menghindariku. Aku bukan pria yang tepat untukmu," bisiknya.
Apa? Darimana asalnya ini? Tentunya aku seharusnya yang memutuskan itu. Aku mengerutkan kening ke arahnya, dan kepalaku berputar karena penolakan.
"Tarik napas,Sehun, bernapas. Aku akan membantumu berdiri dan membiarkan kau pergi," katanya pelan dan dengan lembut Jongin mendorongku. Adrenalin telah mengalir melalui tubuhku, dari nyaris tertabrak pengendara sepeda atau mabuk karena berdekatan dengan Jongin, membuatku tegang dan lemah.
TIDAK! Jiwaku berteriak saat ia menarik diri, membuatku seperti kehilangan sesuatu. Jongin meletakkan tangan di bahuku, memegangku dalam jangkauannya, melihat reaksiku hati-hati. Dan satu-satunya yang bisa aku pikirkan adalah bahwa aku ingin dicium, sepertinya cukup jelas, dan ia tidak melakukannya. Jongin tidak menginginkan aku. Jongin benar-benar tidak menginginkan aku. Aku benar-benar telah menghancurkan acara minum kopi pagi ini.
"Aku sudah berdiri," aku bernapas, menemukan suaraku.
"Terima kasih," Aku bergumam dibanjiri dengan perasaan hina. Bagaimana mungkin aku salah membaca situasi di antara kita sama sekali? Aku harus menjauh dari Jongin.
"Untuk apa?" Ia mengerutkan kening. Jongin tidak menarik tangannya dariku.
"Untuk menyelamatkanku," bisikku.
"Idiot itu menggunakan jalur yang salah. Aku senang aku di sini. Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padamu. Apakah kau ingin masuk dan duduk di hotel sebentar?" Jongin melepaskanku, tangan di samping tubuhnya, dan aku berdiri di depannya merasa seperti orang tolol. Dengan mengoyang kepala, aku menjernihkan pikiranku. Aku hanya ingin pergi. Semua harapan samarku yang tak terucapkan telah putus. Jongin tidak menginginkanku.
Berpikir apa aku ini? Aku mengomeli diri sendiri. Apa yang akan Kim Jongin inginkan darimu? Pikiran bawah sadarku mengolok-olok. Aku memeluk diri sendiri dan berbalik menghadapi jalan dan lega bahwa lampu hijau telah menyala. Aku segera berjalan melintasi jalan, sadar bahwa Jongin berjalan dibelakangku.
Di luar hotel, aku berbalik sebentar untuk menghadap padanya tapi tidak bisa menatap mata. "Terima kasih atas teh dan pemotretannya," bisikku.
"Sehun ... aku ..." Jongin berhenti, dan kesedihan dalam suaranya menuntut perhatianku, jadi aku terpaksa sedikit menatap ke arahnya. Manik mata hitamnya suram saat ia membelai rambutnya.
Jongin tampak sedih, frustrasi, ekspresinya tegang, semua kontrol hati-hati miliknya telah menguap.
"Apa, Jongin?" Tukasku kesal. Aku hanya ingin pergi. Aku hanya ingin membawa pergi harga diriku yang rapuh dan terluka menjauh darinya dan entah bagaimana caranya merawat kembali sampai sehat.
"Semoga berhasil dengan ujianmu," bisiknya. Hah? Inilah sebabnya mengapa ia terlihat begitu putus asa? Inikah ucapan perpisahaannya? Hanya memberiku ucapan semoga berhasil dalam ujianku?
"Terima kasih." Aku tidak bisa menyembunyikan nada sarkasme dalam suaraku.
"Selamat tinggal, Mr. Kim." Aku berbalik, samar-samar kagum bahwa aku tidak tersandung, dan tanpa memandang untuk kedua kalinya, aku menghilang di trotoar menuju garasi bawah tanah.
Setelah berada di garasi beton gelap dan dingin dengan cahaya neon suram, aku bersandar di dinding dan menyandarkan kepala di tanganku. Apa sebenarnya yang kupikirkan? Air mata tanpa diminta dan tidak diinginkan menggenang di mataku. Mengapa aku menangis? Aku merosot ke lantai, marah pada diri sendiri untuk reaksiku yang tak masuk akal. Menekuk lututku, aku merapatkan pada diriku sendiri. Aku ingin membuat diriku sekecil mungkin. Mungkin rasa sakit yang tidak masuk akal ini akan semakin mengecil ketika aku menyusutkan diri.
Menempatkan kepalaku berlutut, aku membiarkan air mata ini jatuh tak terkendali. Aku menangis karena kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku punyai. Bagaimana konyolnya. Berduka pada sesuatu yang pernah ada - harapan, mimpiku yang hancur dan perkiraan yang buruk. Aku belum pernah berada pada posisi ditolak.
Oke ... aku mungkin orang yang terakhir dipilih oleh tim basket atau voli - tetapi aku mengerti bahwa - berlari dan melakukan sesuatu yang lain pada saat yang sama seperti memantulkan atau melempar bola bukan keahlianku. Aku punya kekurangan serius dalam bidang olahraga. Secara romantis, aku tidak pernah menempatkan diriku di luar sana, sekalipun. Rasa tidak aman seumur hidup . - Aku terlalu pucat, terlalu langsing, tidak terkoordinasi, daftar panjang kesalahanku takkan habis. Jadi aku selalu menjadi orang yang menolak pengagum yang mendekat. Ada yang cowok di kelas kimiaku yang menyukaiku, tapi tak seorangpun pernah memicu minatku - tak satupun kecuali Kim Jongin terkutuk.
Mungkin aku harus lebih ramah terhadap orang-orang seperti Paul Clayton dan Kris Wu, meskipun aku yakin tidak satu pun dari mereka ditemukan menangis sendirian di tempat gelap. Mungkin aku hanya perlu menangis.
Stop! Berhenti Sekarang! - Pikiran bawah sadarku secara kiasan berteriak padaku, lengan dilipat, bersandar pada satu kaki dan mengetuk-ngetukkan kakinya dengan frustrasi. Masuk ke mobil, pulang, segera belajar. Lupakan tentang Jongin ... Sekarang! Dan berhenti berkubang pada tindakan mengasihani diri sendiri.
Aku menghela napas dalam, memantapkannya dan berdiri. Kuatkan diri Sehun. Aku berjalan menuju mobil Baekhyun, menyeka air mata dari wajahku. Aku tidak akan memikirkan Jongin lagi. Aku hanya akan menulis kejadian ini sebagai pengalaman dan berkonsentrasi pada ujianku.
-oOOo-
Baekhyun sedang duduk di meja makan dengan laptopnya ketika aku tiba. Senyumnya yang ramah memudar ketika ia melihatku.
"Sehun apa yang terjadi?"
Oh tidak ... bukan saatnya penyelidik Byun Baekhyun beraksi. Aku menggeleng padanya seakan mengatakan mundurlah sekarang Baekhyun - tetapi aku mungkin juga akan berhadapan dengan, si buta, bisu, tuli.
"Kau habis menangis," Baekhyun punya bakat yang luar biasa untuk menyatakan sesuatu yang sudah jelas kadang-kadang.
"Apa yang bajingan itu lakukan padamu?" ia menggeram, dan wajahnya - ya ampun, dia menakutkan.
"Tidak ada Baekhyun." Itulah masalah sebenarnya. Pikiran itu membawa senyum kecut di wajahku.
"Lalu mengapa engkau menangis? Kau tidak pernah menangis," katanya, suaranya melembut. Baekhyun berdiri, matanya menatap penuh dengan keprihatinan. Dia mejulurkan tangannya dan memelukku. Aku perlu mengatakan sesuatu agar Baekhyun tidak mengejar untuk bertanya lagi.
"Aku hampir saja ditabrak seorang pengendara sepeda." Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan, tapi ini mengalihkan perhatian Baekhyun sejenak dari ... Jongin.
"Ya ampun Sehun - apakah kau baik-baik saja? Apakah kau terluka?"
Baekhyun memegangku di lengan panjang dan melakukan pemeriksaan cepat secara visual padaku.
"Tidak Jongin menyelamatkanku, "bisikku. "Tapi aku cukup terguncang."
"Aku tidak terkejut. Bagaimana kopinya? Aku tahu kau benci kopi."
"Aku minum teh. Dan baik-baik saja, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku juga tidak tahu mengapa dia meminta aku."
"Dia menyukai kau Sehun." Dia turun tangan.
"Tidak lagi. aku tidak akan bertemu dia lagi" Ya, aku berusaha terdengar acuh.
"Oh?"
Sial. Baekhyun tampak tertarik,masih penasaran. Aku berjalan ke dapur sehingga Baekhyun tidak bisa melihat wajahku.
"Ya ... dia sedikit diatas kelasku Baekhyun," kataku sedatar yang aku bisa.
"Apa maksudmu?"
"Baek, itu sudah jelas." Aku berputar dan menghadapnya saat ia berdiri di ambang pintu dapur.
"Bukan untukku," katanya.
"Oke, dia punya lebih banyak uang daripadamu, tapi ia punya uang lebih banyak dari kebanyakan orang di Amerika!"
"Baekhyun dia-" aku mengangkat bahu.
"Sehun! Demi Tuhan - berapa kali harusku katakan? Kau total babe," potong Baekhyun.
Oh tidak. Dia mengomel ini lagi. "Baekhyun, tolonglah. Aku perlu belajar." Aku memotongnya. Ia mengerutkan kening.
"Apa kau ingin melihat artikel itu? Sudah selesai. Kris mengambil beberapa foto bagus."
Apakah aku memerlukan pengingat visual dari Jongin , aku-tidak-ingin-kau Jongin?
"Tentu," aku menyulap senyum di wajahku dan berjalan ke laptop. Dan itu fotonya,terasa menatapku dalam warna hitam dan putih, menatapku dan menemukan segala kurangku. Aku berpura-pura membaca artikel, sepanjang waktu membalas tatapan mantap manik mata hitamnya, mencari foto untuk mendapat petunjuk mengapa ia bukan pria yang tepat untukku - katanya sendiri padaku. Dan tiba-tiba, jadi jelas sekali. Dia terlalu tampan. Kita adalah kutub terpisah dan dari dua dunia yang sangat berbeda. Aku punya visi diriku sebagai Icarus terbang terlalu dekat ke matahari dan jatuh dan terbakar sebagai hasilnya. Kata-katanya masuk akal. Dia bukan pria yang tepat untukku. Inilah yang ia maksudkan, dan itu membuat penolakannya lebih mudah diterima ... nyaris. Aku bisa menerimanya. Aku paham.
"Sangat bagus Kate," ujarku.
"Aku akan belajar." Aku tidak akan memikirkan Jongin lagi untuk sekarang, aku bersumpah pada diri sendiri, dan membuka catatan revisiku, aku mulai membaca. Hanya ketika aku di tempat tidur, mencoba untuk tidur, aku membiarkan pikiranku melayang pada pagiku yang aneh. Aku terus kembali ke kutipan, 'Aku tidak melakukan yang namanya pacaran', dan aku marah karena aku tidak menerkam informasi ini lebih cepat, ketika aku masih dalam pelukannya secara halus memintanya dengan setiap sel dari tubuhku untuk menciumku.
Sedangkan Jongin mengatakan di sana dan saat itu juga. Dia tidak menginginku sebagai pacar. Aku berbaring menyamping. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya apakah mungkin dia hidup dengan pemikiran rumit? Aku memejamkan mata dan mulai melayang. Mungkin Jongin menunggu seseorang. Yah bukan untukmu, alam bawah sadar kantukku melakukan tarikan akhir padaku sebelum melepaskan diri pada mimpiku. Dan malam itu, aku bermimpi tentang manik mata hitam, pola berdaun dalam susu, dan aku berlari melalui tempat-tempat gelap dengan jalur pencahayaan yang menakutkan, dan aku tak tahu apakah aku berlari menuju sesuatu atau menjauhinya ... itu tidak jelas.
-oOOo-
Aku meletakkan penaku. Selesai. Ujian akhirku sudah berakhir. Aku merasakan senyum puas terlukis di wajahku. Ini mungkin pertama kalinya sepanjang minggu aku sudah tersenyum. Ini Jumat, dan kita akan merayakan malam ini, benar-benar merayakannya. Aku bahkan mungkin mabuk! Aku belum pernah mabuk sebelumnya. Aku memandang ke seberang aula olahraga pada Baekhyun, dan dia masih sibuk menulis, lima menit sebelum akhir. Ini dia, akhir karir akademisku. Aku tidak akan pernah duduk di deretan mahasiswa cemas dan terisolasi lagi. Di dalam kepalaku, aku melakukan jungkir balik anggun, memahami dengan sangat baik bahwa satu-satunya tempat aku bisa melakukan jungkir balik anggun hanya ada disana.
Baekhyun berhenti menulis dan meletakkan pena ke bawah. Dia melirik ke arahku, dan aku menangkap senyum puasnya juga. Kita kembali ke apartemen bersama-sama dalam Mercedesnya, menolak untuk membahas tugas akhir kita. Baekhyun lebih peduli tentang apa yang akan dia pakai ke bar malam ini. Sedangkan aku sibuk merogoh tas untuk mencari kunci.
Mengapa engkau tidak bilang padaku ada bahaya? Mengapa engkau tidak memperingatkanku? Para wanita tahu apa yang harus mereka jaga,karena mereka membaca novel-novel yang mengatakan pada mereka tipuan-tipuan ini...tapi aku juga pria yang bisa mengerti dalam hal ini.
"Sehun, ada paket untukmu." Baekhyun berdiri di tangga ke pintu depan memegang bungkusan kertas cokelat.
Aneh. Aku tidak memesan apapun dari Amazon baru-baru ini. Baekhyun memberiku bungkusan dan mengambil kunciku untuk membuka pintu depan. Ini ditujukan kepada Tuan Oh Sehun. Tak ada alamat atau nama pengirim. Mungkin itu dari ibuku atau Tuan Choi. "Mungkin dari keluargaku."
"Bukalah!" Baekhyun sangat tertarik saat ia menuju ke dapur untuk mengambil Champagne.
Aku membuka bungkusan itu, dan di dalamnya aku menemukan kotak terbuat dari separuh kulit berisi tiga buku yang tertutup kain yang tampaknya identik dengan kain tua dalam kondisi sempurna dan kartu putih polos. Ditulis di satu sisi, dengan tinta hitam dengan tulisan tangan bersambung rapi, adalah: Aku mengenali kutipan dari Tess. Aku tertegun dengan ironi saat aku baru saja menghabiskan tiga jam menulis tentang novel-novel Thomas Hardy di ujian akhirku. Mungkin tak ada ironi ... mungkin itu disengaja. Aku memeriksa buku dengan teliti, tiga volume Tess of the D'Urbervilles. aku membuka penutup depan. Ditulis dalam huruf tua di plat depan adalah: 'London: Jack R. Osgood, McIlvaine dan Co, 1891.' Ya tuhan - ini adalah edisi pertama. Buku-buku ini pasti bernilai tinggi, dan aku segera tahu siapa yang mengirimnya.
Baekhyun ada di bahuku menatap buku-buku itu. Dia mengambil kartunya.
"Edisi Pertama," bisikku.
"Tidak." Mata Baekhyun melebar seperti tak percaya.
"Jongin?" Aku mengangguk.
"Tak mungkin orang lain, pasti dia."
"Apa maksud kartu ini?"
"Aku tidak tahu. Aku pikir itu peringatan - sejujurnya dia terus memperingatkanku. Aku tak tahu mengapa. Aku tidak menggedor pintunya setiap saat." Aku mengerutkan kening.
"Aku tahu kau tak ingin membicarakan tentang dia,Sehun, tapi Jongin serius menyukaimu. Memperingatan atau tidak."
Aku tidak membiarkan diriku menggerutu tentang Kim Jongin selama seminggu terakhir. Oke ... jadi manik mata hitamnya masih menghantui mimpiku, dan aku tahu itu akan butuh waktu sangat lama untuk menghapus sentuhan tangannya di tubuhku dan aromanya dari otakku. Mengapa dia mengirimkan ini? Jongin mengatakan kepadaku bahwa aku tidak tepat baginya.
"Aku telah menemukan satu edisi pertama Tess dijual di New York seharga $ 14.000. Tapi punyamu dalam kondisi jauh lebih baik. Buku ini pasti berharga lebih mahal lagi." Baekhyun sedang berkonsultasi dengan baik temannya: Google.
"Kutipan ini - Tess mengatakan kepada ibunya setelah Alec D'Urberville telah melakukan sesuatu yang jahat dengan dia."
"Aku tahu," renung Baekhyun. "Apa yang coba dia sampaikan?"
"Aku tak tahu, dan aku tidak peduli. Aku tak bisa menerima ini dari dia. Aku akan mengirimnya kembali dengan kutipan sama membingungkannya dari bagian tak jelas dari buku ini."
"Cacian dimana Malaikat Clare bilang pergilah?" Tanya Baekhyun dengan wajah benar-benar datar.
"Ya, cacian itu." Aku tertawa. Aku suka Baekhyun, dia begitu setia dan mendukung. Aku mengepak ulang buku-buku itu dan meninggalkannya di meja makan. Baekhyun mengulurkan segelas sampanye.
"Untuk selesainya ujian dan kehidupan baru kita di Seattle," Baekhyun menyeringai.
"Untuk selesainya ujian, kehidupan baru kita di Seattle, dan hasil yang sangat baik."
Kita menyentuhkan gelas satu sama lain dan minum.
-oOOo-
Barnya bising dan penuh dengan mahasiswa yang akan segera lulusan untuk segera menganggur. Kris bergabung dengan kita. Dia akan lulus satu tahun lagi, tapi dia dalam mood untuk party dan membuat kita masuk kesemangat kebebasan baru dengan membeli satu pitcher margarita bagi kita semua. Saat aku minum gelas kelimaku, aku tahu ini bukan ide yang bagus setelah minum sampanye.
"Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini Sehun?" Kris berteriak padaku mengatasi kebisingan.
"Baekhyun dan aku akan pindah ke Seattle. Orang tua Baekhyun telah membeli sebuah tempat tinggal di sana untuknya."
"Dios mio, bagaimana orang lainnya hidup. Tapi kau akan kembali untuk pertunjukanku."
"Tentu saja, Kris, aku tidak akan melewatkannya." Aku tersenyum, dan ia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku mendekat.
"Ini sangat berarti bagiku jika kau datang pada acaraku Sehun," bisiknya di telingaku.
"Margarita lagi?"
"Kris Wu- apa kau mencoba membuatku mabuk? Karen aku pikir itu tidak akan berhasil." Aku tertawa.
"Aku pikir lebih baik aku minum bir. Aku akan pergi mengambil pitcher buat kita."
"Tambah minumannya, Sehun!" Baekhyun berteriak.
Baekhyun sendiri terlihat bersama cowok yang berperawakan sebesar sapi. Lengan Baekhyun diatas pundak Levi, salah satu mahasiswa sesama jurusan Inggris dan fotografer di koran mahasiswanya. Dia terlihat menyerah mengambil foto dari kemabukan yang dia rasakan. Matanya hanya tertuju pada Baekhyun. Aku, hanya pakai Converse dan t-shirt tipe casual, tapi aku mengenakan celana jinsku yang paling bagus. Aku melepaskan diri dari Kris dan bangkit dari meja kita. Whoa. Kepalaku berputar. Aku harus berpegangan bagian belakang kursi. Tequila berbasis Koktail bukan ide yang bagus.
Aku berjalan ke bar dan memutuskan bahwa aku harus ke ruang rias sementara aku masih bisa berdiri. Ide bagus, Sehun. Aku terhuyung-huyung melewati kerumunan. Tentu saja, ada antrian, tapi setidaknya itu tenang dan sejuk di koridor. Aku meraih ponselku untuk meringankan kebosanan mengantri.
Hmm ... Siapa yang yang terakhirku telpon? Apakah Kris? Sebelum itu ada nomor yang tak kukenali. Oh ya. Jongin, aku pikir ini adalah nomor teleponnya. Aku tertawa. Aku tak tahu jam berapa sekarang, mungkin aku akan membangunkannya. Mungkin ia dapat memberitahuku mengapa dia mengirimkan buku-buku itu dan pesan samar. Jika Jongin ingin aku menjauh, ia seharusnya tidak menggangguku. Aku menekan seringai mabukku dan menekan panggilan otomatis. Jongin menjawab pada dering kedua.
"Sehun?" Dia sepertinya terkejut mendengar suaraku. Nah, terus terang, aku juga heran aku meneleponnya.
Lalu otakku yang bingung segera sadar ... bagaimana Jongin tahu ini aku?
"Kenapa kau mengirimkan aku buku?" Cercaku padanya.
"Sehun,apa kau baik-baik saja? Kau kedengarnya aneh." Suaranya penuh perhatian.
"Aku bukan orang anehnya, kau yang aneh," Tuduhku. Nah - yang bilang padanya, keberanianku didorong oleh alkohol.
"Sehun, kau minum?"
"Apa pedulimu?"
"Aku - ingin tahu. Dimana kau?"
"Di sebuah bar."
"Bar mana?" Jongin terdengar putus asa.
"Sebuah bar di Portland."
"Bagaimana kau pulang?"
"Aku akan menemukan caranya." Pembicaraan ini tidak seperti yang aku harapkan.
"Bar apa namanya?"
"Kenapa kau mengirimkanku buku, Jongin?"
"Sehun, di mana kau, katakan sekarang." Nada suaranya begitu sangat diktator, gila kontrol seperti biasanya. Aku membayangkan dia sebagai sutradara film jadul memakai celana menunggang kuda, memegang megafon kuno dan cambuk kuda. Gambaran ini membuatku tertawa terbahak-bahak.
"Kau begitu...mendominasi." Aku tertawa kecil.
"Oh Sehun,sialan! Dimana kau sekarang?" Kim Jongin menyumpahiku. Aku tertawa lagi.
"Aku di Portland ... itu jauh dari Seattle."
"Portland sebelah mana?"
"Selamat malam, Jongin."
"Sehun!" aku menutup telepon. Ha! Meskipun ia tidak memberitahuku tentang buku itu. Aku mengerutkan kening. Misi tidak tercapai. Aku benar-benar lumayan mabuk - kepalaku berputar tidak nyaman saat aku masuk antrian.
Yah, tujuan dari ini adalah untuk mabuk. Aku telah berhasil. Inilah rasanya - mungkin bukan pengalaman untuk diulang kembali. Barisan ini telah bergerak, dan sekarang giliranku. Aku menatap kosong pada poster di belakang pintu toilet yang menganjurkan kebaikan seks yang aman. Ya ampun, apa barusan aku menelpon Kim Jongin? Sial. HPku berdering dan itu membuatku melompat. Aku menjerit kaget.
"Hai," aku bicara takut-takut ke telepon. Aku tidak memperhitungkan hal ini.
"Aku datang untuk menjemputmu," katanya dan menutup telepon.
Hanya Kim Jongin yang bisa terdengar begitu tenang dan begitu mengancam pada saat yang sama. Ya tuhan. Aku menarik keatas celana jeansku. Jantungku berdebar-debar. Datang untuk menjemputku? Oh tidak. Aku mau muntah ... tidak ...Aku baik-baik saja. Tunggu dulu. Jongin hanya bermain-main denganku. Aku tidak mengatakan di mana aku berada. Dia tak akan menemukanku di sini. Selain itu butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke sini dari Seattle, dan kita sudah lama pergi saat itu. Aku mencuci tangan dan memeriksa wajahku di cermin. Aku terlihat memerah dan sedikit tidak fokus. Hmm ... tequila. Aku menunggu di bar sepertinya lama sekali untuk dapat satu pitcher bir dan akhirnya kembali ke meja.
"Kau sudah pergi begitu lama." Baekhyun menegurku. "Darimana kau?"
"Aku antri di kamar kecil."
Kris dan Levi sedang berdebat panas tentang tim bisbol lokal kita. KRis berhenti dalam omelannya untuk menuangkan bir pada kita semua, dan aku meneguk dengan rakus. "Baekhyun, aku lebih baik keluar sebentar buat menghirup udara segar."
"Sehun, kau benar-benar peminum kelas ringan."
"Aku akan kembali dalam lima menit." Aku berjalan melewati kerumunan orang lagi. Aku mulai merasa mual, kepalaku berputar tidak nyaman, dan kakiku sedikit goyah. Lebih goyah dari biasanya. Minum di udara malam nan dingin di tempat parkir membuatku menyadari betapa mabuknya aku.
Pandanganku mulai terpengaruh, dan aku benar-benar melihat segala sesuatu menjadi dua seperti di film kartun Tom and Jerry. Aku pikir aku akan muntah. Mengapa aku membiarkan diriku seperti ini?
"Sehun,"
Kris telah bergabung denganku. "Kau baik-baik saja?"
"Aku pikir aku terlalu banyak minum." Aku tersenyum lemah padanya.
"Aku juga," bisiknya, dan mata gelapnya mengamatiku dengan penuh perhatian.
"Apakah kau perlu bantuan?" Kris bertanya dan melangkah lebih dekat, menempatkan lengannya di tubuhku.
"Kris, Aku tak apa-apa. Aku bisa berdiri." Aku mencoba dan mendorongnya dengan agak lemah.
"Sehun, ayolah," ia berbisik, dan sekarang dia memegangku dalam pelukannya, menarikku lebih dekat.
"Kris, apa yang kau lakukan?"
"Kau tahu aku menyukaimu Sehun, kumohon." Tangannya yang satu ada di punggungku, yang lainnya di daguku mendongakkan kepalaku. Ya ampun ... dia akan menciumku.
"Tidak Kris, berhenti...tidak." Aku mendorongnya, tapi Kris seperti dinding otot yang keras, dan aku tak bisa menggeser dia. Tangannya telah tergelincir ke rambutku, dan dia memegang kepalaku.
"Ayolah, Sehun, cariña," ia berbisik didepan bibirku. Napasnya lembut dan bau terlalu manis - dari margarita dan bir. Kris menjatuhkan ciuman sepanjang rahangku sampai ke sisi mulutku. Aku merasa panik, mabuk, dan tak terkendali. Perasaan itu membuatku seperti tercekik.
"Kris, tidak," Aku memohon. Aku tidak menginginkan ini. Kau adalah temanku, dan aku pikir aku akan muntah.
"Aku pikir pria itu mengatakan tidak." Sebuah suara dalam kegelapan berkata pelan. Ya ampun! Kim Jongin, dia ada di sini. Bagaimana bisa?
Kris melepaskanku. "Jongin," katanya singkat.
Aku melirik cemas ke arah Jongin. Dia menatap tajam Kris, dan dia marah. Sial. Perutku bergejolak, dan aku membungkuk, tubuhku tidak lagi bisa mentolerir alkohol, dan aku muntah dengan hebat ke tanah.
"Ugh - Dios mio, Sehun!" Kris melompat mundur dengan jijik.
Jongin meraihku dan menariknya keluar dari jalur semburan dan dengan lembut menuntunku ke petak bunga di tepi tempat parkir. Aku perhatikan dengan rasa syukur yang mendalam, bahwa disini relatif gelap.
"Jika kau mau muntah lagi, lakukan di sini. Aku akan memegangimu." Satu lengannya ada di bahuku - yang satunya memegang pinggangku. Aku mencoba dengan canggung untuk mendorong dia pergi, tapi aku muntah lagi ... dan lagi.
Oh sialan... Berapa lama ini akan berlangsung? Bahkan ketika sudah kosong dan tidak ada yang keluar, muntahan kering yang mengerikan melanda tubuhku. Aku bersumpah dalam hati bahwa aku tidak akan pernah minum lagi. Ini terlalu mengerikan untuk dikatakan. Akhirnya, berhenti. Tanganku bertumpu pada dinding bata dari bedeng bunga, hampir tidak kuat menyangga - muntah dengan deras itu melelahkan.
Jongin menarik tangannya dariku dan mengangsurkan padaku saputangan. Hanya dia yang punya saputangan linen bermonogram yang baru dicuci, KJI. Aku tidak tahu kau masih bisa membeli ini. Aku tidak bisa untuk menatapnya. Aku dibanjiri dengan rasa malu, jijik dengan diriku sendiri. Aku ingin ditelan oleh azalea di petak bunga dan di mana saja kecuali disini.
Kris masih ada didekat pintu masuk bar, mengamati aku dan Jongin. Aku merintih dan menutupi wajahku. Ini pasti menjadi momen terburuk dari hidupku. Kepalaku masih berputar saat aku mencoba untuk mengingat saat yang lebih buruk dibanding saat ini - dan aku hanya bisa mengingat penolakan Jongin - dan ini begitu, begitu banyak nuansa gelap dalam hal penghinaan.
Aku mengambil risiko mengintip Jongin. Dan dia menatap ke arahku, wajahnya tenang, tak memberikan tanda apapun. Berbalik, aku melirik Kris yang dia juga terlihat cukup malu dan seperti aku, terintimidasi oleh Jongin. Aku memelototi Kris. Aku memiliki beberapa pilihan kata untuk apa yang disebut teman, tidak ada yang aku bisa ulang di depan CEO Kim Jongin.
Sehun sedang dengan siapa kau bercanda, dia barusan melihatmu terlempar ke tanah dan masuk kedalam tanaman lokal. Tak ada yang menyamarkan kekuranganmu dari perilaku pria terhormat.
"Aku akan emm ... bertemu denganmu di dalam," Kris bergumam, tapi kita berdua mengabaikan dia, dan dia ngeloyor kembali ke dalam gedung. Aku sendirian dengan Jongin. Dobel sialan. Apa yang harus kukatakan padanya? Minta maaf untuk panggilan teleponku.
"Maaf," aku bergumam, menatap sapu tangan yang aku genggam dengan khawatir. Ini sangat lembut.
"Apa yang kau sesalkan Oh Sehun?" Oh sial, dia ingin menyiksaku dengan pertanyaannya.
"Terutama panggilan telponku, menjadi mabuk. Oh, dan seterusnya,"bisikku, merasakan kulitku meningkat warnanya. Tolong, bisakah aku mati sekarang?
"Kita semua berada di sini, mungkin tidak sebegitu dramatis seperti kau," katanya datar. "Ini tentang mengetahui batasmu,Sehun. Maksudku, aku orang yang suka mendorong sampai batas, tapi sungguh ini tak ada apa-apanya. Apa kau membuat kebiasaan berperilaku semacam ini?"
Kepalaku berdengung karena kelebihan alkohol dan rasa risih. Apa hubungannya dengan Jongin? Aku tidak mengundang dia di sini. Dia terdengar seperti pria paruh baya memarahiku seperti anak yang bersalah. Sebagian dari diriku ingin mengatakan, jika aku ingin mabuk setiap malam seperti ini, maka itu keputusanku dan tidak ada hubungannya dengan dia - tapi aku tidak cukup berani. Tidak sekarang ketika aku barusan muntah di depannya. Kenapa dia masih berdiri di sana?
"Tidak," kataku menyesal. "Aku belum pernah mabuk sebelum dan sekarang aku tidak punya keinginan untuk mengulangnya lagi." Aku hanya tidak paham mengapa Jongin ada di sini. Aku mulai merasa lemas. Ia melihatku goyah dan meraihku sebelum aku jatuh dan menarikku dalam pelukannya, memelukku dekat dengan dadanya seperti anak kecil.
"Ayolah, aku akan mengantarmu pulang," bisiknya.
"Aku perlu memberitahu Baekhyun." lagi-lagi...aku dalam pelukannya.
"Saudaraku dapat memberitahu dia."
"Mwo?!"
"Saudaraku, Suho. Dia sedang berbicara dengan Tuan Byun."
"Oh?" aku tidak mengerti.
"Dia bersamaku saat kau menelepon."
"Di Seattle?" Aku bingung.
"Tidak, aku menginap di the Heathman." Masih? Mengapa?
"Bagaimana kau bisa menemukan aku?"
"Aku melacak ponselmu, Sehun." Oh, tentu saja seperti itu. Bagaimana itu mungkin? Apakah itu legal? penguntit, bisikan bawah sadarku melalui awan tequila yang masih mengambang diotakku, tapi entah bagaimana, karena itu Jongin, aku tidak keberatan.
"Apa kau bawa jaket atau tas?"
"Err ... ya, aku kesini membawa keduanya. Tolong, aku perlu memberitahu Baekhyun. Dia akan khawatir." Bibirku serasa ditarik menjadi garis keras, dan Jongin mendesah berat.
"Jika kau memaksa." Jongin memegangiku, dan, menarik tanganku, membawaku kembali ke bar. Aku merasa lemah, masih mabuk, takut, lelah dan pada tingkat yang aneh merasa senang luar biasa.
Jongin mencengkeram tanganku - seperti jalur emosi yang membingungkan. Aku perlu setidaknya seminggu untuk memproses semuanya ini. Ini berisik, berdesakan, dan musik sudah mulai sehingga ada banyak orang di lantai dansa. Baekhyun tak ada di meja kita, dan Kris telah menghilang. Levi tampak bingung dan sedih sendiri.
"Di mana Baekhyun?" Aku berteriak pada Levi mengatasi kebisingan. Kepalaku mulai terasa dipukul seiring irama bass.
"Menari," Levi berteriak, dan aku bisa bilang bahwa dia marah.
Levi melirik Jongin dengan curiga. Aku berusaha memakai jaket hitamku dan menempatkan tas kecilku dipundak sehingga menempel dipinggulku. Aku siap untuk pergi, begitu aku telah melihat Baekhyun.
"Dia di lantai dansa," aku menyentuh lengan Jongin dan berteriak ke atas di telinganya, menggesek rambutnya dengan hidungku, bau bersih, bau segar. Oh. Semua perasaan asing terlarang yang telah aku coba untuk menolak muncul dan mengamuk melalui tubuh lemahku. Aku memerah, dan pada suatu tempat yang dalam di ototku menegang nikmat. Dia memutar matanya ke arahku dan meraih tanganku lagi dan membawa aku ke bar. Dia dilayani dengan segera, tidak ada kata menunggu untuk Mr.'gila-kontrol' Jongin. Apakah segala sesuatu datang begitu mudah padanya? Aku tidak bisa mendengar apa yang Jongin pesan.
Jongin mengulurkan gelas yang sangat besar berisi air es. "Minumlah," Dia meneriakkan perintahnya padaku.
Lampu-lampu yang bergerak memutar dan berubah ketika mengiringi musik memunculkan cahaya berwarna aneh dan membayangi seluruh bar dan orang didalamnya. Mereka bergantian warna menjadi hijau, biru, putih, dan merah setan. Jongin memperhatikanku dengan penuh perhatian. Aku meneguk air dengan hati-hati.
"Semuanya," teriak Jongin.
Jongin begitu sombong. Tangannya menyisir rambut acak-acakannya. Dia tampak frustrasi, marah. Apa masalahnya? Selain gadis mabuk konyol meneleponnya di tengah malam sehingga dia pikir dia perlu diselamatkan. Dan nyatanya dia perlu diselamatkan dari seorang teman yang tergila-gila padanya. Kemudian melihat dia menjadi muntah dengan payah di kakinya. Oh Sehun ... apa kau akan hidup seperti ini? Bawah sadarku secara kiasan berdecak dan memelototiku.
Aku bergoyang sedikit, dan Jongin meletakkan tangannya di bahuku untuk menstabilkan tubuhku. Aku melakukan apa yang dia bilang dan minum semuanya. Itu membuatku merasa mual. Mengambil gelas dariku, ia meletakkannya di bar. Aku melihat secara kabur apa yang Jongin kenakan; kemeja linen longgar putih, celana jeans nyaman, sepatu Converse hitam, dan jaket bergaris-garis gelap. Kancing kemejanya terbuka di bagian atas. Dalam pikiran gugupku, Jongin terlihat menawan.
Jongin mengambil tanganku sekali lagi. Ya tuhan - ia membawaku ke lantai dansa. Sial. Aku tidak suka menari. Jongin bisa merasakan keenggananku, dan di bawah lampu warna-warni, aku dapat melihat senyum geli, sedikit sinis. Jongin memberikan tarikan tajam di tanganku, dan aku dalam pelukannya lagi, dan Jongin mulai bergerak, membawaku dengan dia.
Oh, Jongin bisa menari, dan aku tidak percaya bahwa aku mengikuti setiap langkah demi langkahnya. Mungkin karena aku mabuk hingga aku bisa mengikutinya. Jongin memelukku erat-erat didekapannya, tubuhnya menempel tubuhku ... jika dia tidak mencengkeramku begitu erat, aku yakin aku akan pingsan di depannya. Di belakang pikiranku, peringatan ibuku yang sering dia ucapkan datang padaku: Jangan pernah percaya seorang pria yang bisa menari.
Jongin membawa aku melalui kerumunan ramai penari ke sisi lain dari lantai dansa, dan kita ada di samping Baekhyun dan Suho, saudara Jongin. Musik yang berdetak keras dan curiga diluar ada didalam kepalaku. Aku terkesiap. Baekhyun mengeluarkan jurusnya. Dia menggoyang pantatnya, dan dia hanya melakukan itu apabila dia menyukai seseorang. Benar-benar menyukai seseorang. Ini berarti akan ada kita bertiga sewaktu sarapan pagi besok.
Baekhyun! Jongin membungkuk dan berteriak di telinga Suho. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Suho lumayan tinggi dengan bahu lebar, rambut hitam rapi, dan mata bersinar jahat berkilauan. Aku tidak bisa mengatakan warnanya di bawah sorotan lampu. Suho menyeringai, dan menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, yang mana ia dengan senang hati menjadi ... Baekhyun! Bahkan dalam keadaan mabukku, aku terkejut.
Baekhyun baru saja bertemu dengannya,dan Baekhyun mengangguk pada apa pun yang Suho katakan dan menyeringai padaku dan melambaikan tangan. Jongin menarik kita menjauh dari lantai dansa dalam waktu cepat. Tapi aku tak sempat bicara padanya. Apa dia baik-baik saja? Aku bisa mengira menuju kemana akhirnya mereka berdua. Aku perlu menguliahi dia tentang seks yang aman. Di bagian belakang pikiranku, aku berharap dia membaca salah satu poster di belakang pintu toilet. Pikiranku saling bertabrakan dalam otakku, melawan mabuk, rasanya berputar. Ini sangat hangat di sini, begitu bising, begitu penuh warna - terlalu terang. Kepalaku mulai berputar, oh tidak ... dan aku bisa merasakan lantai sepertinya mendekati wajahku atau apa yang kurasakan semacam itu. Hal terakhir yang aku dengar sebelum aku pingsan dalam pelukan Kim Jongin dan umpatan kerasnya. "Brengsek!"
-oOOo-
Ini sangat tenang. Tak ada cahaya. Aku nyaman dan hangat, di ranjang ini. Hmm ... aku membuka mataku, dan untuk sesaat, aku hening dan tenang, menikmati lingkungan asing yang tidak aku kenal. Aku tak tahu dimana aku berada. Sandaran kepala ranjang di belakangku berbentuk matahari besar. Ini sedikit aneh. Ruangan besar yang lapang dan mewah dihias warna cokelat dan emas dan krem. Aku pernah melihat itu sebelumnya.
Dimana ini? Otakku bingung berusaha mencari ingatan visual. Ya ampun. Aku di hotel Heathman ... dalam kamar suite. Aku pernah berdiri di ruangan yang mirip dengan ini bersama Baekhyun. Ini terlihat lebih besar. Oh sial. Aku di suite Kim Jongin. Bagaimana aku sampai di sini? Kenangan samar dari malam sebelumnya datang perlahan-lahan kembali menghantuiku. Minum-minum, oh tidak, panggilan telepon, muntah-muntah. Kris dan kemudian Jongin.
Oh tidak. Aku menjerit ngeri dalam hati. Aku tak ingat datang ke sini. Aku memakai t-shirt,dan celana dalam. Tanpa kaus kaki. Tanpa jeans. Ya ampun. Aku melirik meja di samping rajang. Di atasnya adalah segelas jus jeruk dan dua tablet. Advil. Meskipun dia gila kontrol, dia memikirkan semuanya. Aku duduk dan mengambil tablet. Sebenarnya, aku tidak merasa terlalu pusing, mungkin jauh lebih baik daripada yang pantas aku rasakan. Jus jeruk rasanya nikmat sekali. Minuman ini penghapus dahaga dan menyegarkan. Tak ada yang bisa mengalahkan jus jeruk segar untuk memulihkan mulut yang kering. Ada ketukan di pintu. Jantungku seperti melompat ke dalam mulutku, dan aku tidak bisa menemukan suaraku.
Jongin tetap membuka pintu dan berjalan masuk. Jongin terlihat seperti barusan berolah raga. Dia memakai di celana training abu-abu yang longgar dan singlet abu-abu, yang gelap dengan keringat, seperti rambutnya. Keringat Kim Jongin, pikiran itu memyebabkan sesuatu yang aneh bagiku. Aku mengambil napas panjang dan memejamkan mata. Aku merasa seperti anak umur dua tahun, jika aku menutup mata maka aku tidak benar-benar ada di sini.
"Selamat pagi, Sehun. Bagaimana perasaanmu?" Oh tidak.
"Lebih baik dari yang kurasakan," gumamku.
Aku mengintip ke arahnya. Dia menempatkan tas belanja besar di kursi dan menggenggam setiap ujung handuk yang ia taruh di lehernya. Jongin menatapku, manik mata hitam gelap, dan seperti biasa, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Jongin menyembunyikan pikiran dan perasaannya dengan baik.
"Bagaimana aku sampai di sini?" Suara aku kecil, menyesal.
Jongin mendekat dan duduk di tepi ranjang. Dia cukup dekat bagiku untuk kusentuh dan untuk mencium bau tubuhnya. Ya... keringat dan body wash Jongin, itu koktail yang memabukkan ... - Jauh lebih baik daripada margarita, dan sekarang aku dapat berbicara dari pengalaman.
"Setelah pingsan, aku tidak ingin mengambil risiko jok kulit di mobilku bisa membawamu ke apartemenmu. Jadi aku membawa kau di sini," Katanya.
"Apakah kau yang menempatkanku ke ranjang?"
"Ya." Wajahnya tanpa ekspresi.
"Apakah aku muntah lagi?" Suaraku lebih tenang.
"Tidak"
"Apakah kau menanggalkan pakaianku?" Bisikku.
"Ya." Dia mengangakat alis dan saat itu juga aku memerah.
"Kita tidak...," aku berbisik, mulutku mendadak kaku dan malu karena aku tidak dapat menyelesaikan pertanyaan. Aku menatap tanganku.
"Sehun, kamu koma. Melakukan sex dengan orang pingsan bukan kesenanganku. Aku suka pria hidup dan mau menerima," katanya datar.
"Aku minta maaf."
Bibirnya mengangkat sedikit pada tersenyum kecut. "Itu adalah malam yang sangat mengasyikkan. Tidak akan aku lupakan untuk sementara."
Aku pun tidak - oh dia menertawakanku, bajingan itu. Aku tidak memintanya untuk datang dan menjemputku. Entah bagaimana aku telah dibuat merasa seperti penjahat seutuhnya.
"Kau tidak perlu melacakku dengan apapun alat James Bond mu yang sedang kau kembangkan untuk penawar tertinggi," kataku keras.
Jongin menatapku, terkejut, dan jika aku tidak salah lihat, dia sedikit terluka. "Pertama, teknologi untuk melacak ponsel tersedia melalui Internet. Kedua, perusahaanku tidak berinvestasi atau memproduksi segala jenis perangkat pengintai, dan ketiga, jika aku tidak menjemputmu, kau mungkin akan terbangun di ranjang si fotografer itu, dan dari apa yang aku ingat, kau tidaklah terlalu antusias pada pendekatannya," katanya ketus.
Pendekatannya! Aku melirik Jongin, dia menatapku, mata hitamnya berkobar, tersinggung. Aku mencoba untuk menggigit bibirku, tapi aku gagal untuk menekan tawaku.
"Dari kronikel abad pertengahan mana kau melolos diri?" aku tertawa. "Kau terdengar seperti seorang ksatria istana."
Suasana hatinya tampak berubah. Matanya melembutkan dan menghangatkan ekspresinya, dan aku melihat jejak senyum di bibir indahnya.
"Sehun, aku pikir bukan itu. Ksatria kegelapan mungkin." Senyumnya sinis, dan Jongin menggeleng. "Apakah kau makan tadi malam?" Nada menuduh.
Aku menggelengkan kepala. Pelanggaran besar apa yang telah aku lakukan sekarang? Otot rahangnya mengencang, tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi. "Kau harus makan. Itulah mengapa kau begitu sakit. Jujur Sehun, itu peraturan minum nomor satu."
Tangannya menjelajahi rambutnya, dan aku tahu itu karena Jongin putus asa. "Apakah kau akan terus memarahiku?"
"Apa itu yang aku lakukan?"
"Sepertinya begitu."
"Kau beruntung aku hanya memarahimu."
"Apa maksudmu?"
"Yah, jika kau adalah milikku, kau tidak akan bisa duduk selama seminggu setelah aksi yang kau lakukan kemarin. Kau tidak makan, kau mabuk, kau menempatkan diri pada situasi penuh risiko."
Jongin menutup matanya, perasaan takut tergores di wajahnya yang tampan, dan ia sedikit gemetar. Ketika Ia membuka matanya, dia melotot ke arahku. "Aku benci memikirkan apa yang bisa terjadi padamu."
Aku cemberut ke arahnya. Apa masalahnya? Jika aku adalah milik Jongin ... tapi aku tidak. Meskipun mungkin, sebagian dari diriku ingin seperti itu. Pikiran itu menembus rasa risihku yang kurasa pada kata sewenang-wenangnya. Aku tersipu pada alam bawah sadarku yang keras kepala - Jongin melakukan tarian gembira dengan rok hula merah membayangkan menjadi miliknya.
"Aku akan baik-baik saja. Aku bersama Baekhyun."
"Dan si fotografer?" Bentak dia padaku.
Hmm ...si tampan Kris. Aku harus menghadapinya pada suatu saat.
"Kris hanya sedang keluar jalur." Aku mengangkat bahu.
"Yah, pada saat dia keluar jalur lagi, mungkin seseorang harus mengajarinya sopan santun."
"Kau cukup disiplin," aku mendesis padanya.
"Oh, Sehun, kau tidak tahu." Matanya sempit, dan kemudian Jongin menyeringai jahat. Ini
membingungkan. Satu saat, aku bingung dan marah, berikutnya aku menatap senyum indahnya.
Wow ... aku terpesona, dan itu karena senyumnya yang sangat jarang terlihat. Dan ini berefek pada aku yang cukup lupa apa yang ia
bicarakan tadi.
"Aku akan mandi. Kecuali kau ingin mandi dulu?"Kepalanya miring ke satu sisi, masih menyeringai.
Detak jantungku meningkat, dan medula oblongata di otakku telah lupa
memerintahkan sinapsis untuk membuatku bernapas. Senyumnya melebar, dan Jongin meraih dan mengelus pipiku dengan ibu jarinya dan seluruh bibir bawahku.
"Bernafas, Sehun," bisiknya dan bangkit. "Sarapan akan tiba di sini lima belas menit.
"Kau pasti kelaparan" Jongin menuju ke kamar mandi dan menutup pintu.
Aku mengembuskan yang sudah lama kutahan. Kenapa dia begitu menarik? Saat ini aku merasa ingin ikut dan bergabung dengannya di kamar mandi. Aku tidak pernah merasa seperti ini kepada siapapun. Hormonku mendadak terasa mengamuk. Kulitku merinding merasakan dimana ibu jarinya menelusuri wajah dan bibir bawahku. Aku merasa seperti menggeliat, pegal ... tidak nyaman. Aku tidak mengerti reaksi ini.
Hmm ... gairah. Ini adalah gairah. Jadi ini rasanya. Aku berbaring pada bantal lembut berisi bulu. 'Jika kau adalah milikku. Oh - apa yang akan aku
lakukan untuk menjadi miliknya? Jongin satu-satunya pria yang pernah membuat darah ditubuhku berpacu. Namun, Jongin begitu antagonis juga; dia orang yang sulit, rumit, dan membingungkan. Satu menit dia menampikku, berikutnya dia mengirimkan aku buku seharga empat belas ribu dolar, kemudian dia melacakku seperti penguntit. Dan dari semua itu, aku telah menghabiskan malam di kamar hotelnya, dan aku merasa aman. Dilindungi. Ia cukup peduli untuk datang dan menyelamatkanku dari salah memahami bahaya.
Jongin bukan seorang ksatria gelap sama sekali, tetapi seorang ksatria putih berbaju besi yang mengkilat dan mempesona -
pahlawan romantis klasik - Sir Gawain atau Lancelot.
Aku merayap dari ranjangnya panik mencari celana jeansku. Jongin muncul dari kamar mandi basah dan
berkilau dari shower, masih belum bercukur, hanya dengan handuk di pinggang, dan di sini aku - dengan kaki
telanjang dan canggung. Jongin terkejut melihat aku keluar dari ranjang.
"Jika kau sedang mencari jeansmu, aku telah mengirim mereka ke laundry." Tatapannya seperti obsidian gelap. "Bajumu terkena muntahmu semalam."
"Oh." aku tersipu memerah. Mengapa oh mengapa ia selalu menangkapku pada kondisi yang terburuk?
"Aku mengirim Taylor keluar untuk mencari jeans dan juga sepasang sepatu. Ada di tas di kursi. "
Pakaian bersih. Bonus yang tak terduga.
"Um ... Aku harus mandi," aku bergumam. "Terima kasih."
Apa lagi yang bisa aku katakan? Aku ambil
tas dan melesat ke kamar mandi jauh dari Jongin yang nyaris telanjang. Patung David karya
Michelangelo tidak ada apa-apanya dibanding dia.
Di kamar mandi, semua masih panas dan beruap dimana ini sehabis Jongin pakai mandi. Aku menanggalkan pakaianku dan dengan cepat masuk ke shower ingin segera berada di bawah aliran air. Ini seperti air terjun di
atasku, dan aku mengangkat wajahku menerima pancuran yang nyaman. aku menginginkan Kim Jongin. Aku sangat menginginkan dia. Kenyataan yang sederhana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin tidur dengan seorang pria. Aku ingin merasakan tangan dan mulutnya padaku.
Dia mengatakan dia suka pria yang sadar saat melakukan sex. Tapi dia tidak melontarkan rayuan padaku, tidak seperti Paul atau Kris. Aku tak mengerti. Apakah Jongin menginginkan aku?
Jongin tidak menciumku minggu lalu. Apakah aku tidak menarik untuknya? Namun, aku di sini dan dia yang membawaku ke sini. Aku hanya tidak tahu apa yang ia mainkan? Apa yang dia pikirkan? Kau telah tidur di ranjangnya sepanjang malam, dan Jongin tidak menyentuh kau Sehun.
Kau hitung sendiri. Pikiran bawah sadarku telah menunjukkan dengan sinis dan jeleknya. Aku mengabaikannya. Air hangat dan menenangkan. Hmm ... aku bisa tinggal di bawah pancuran ini, di kamar mandinya,selamanya. Aku meraih body wash dan ini berbau dirinya. Ini adalah bau harum. Aku gosok seluruh tubuhku, berfantasi bahwa itu adalah Jongin - dia menggosok sabun wangi surgawi ke dalam tubuhku, didadaku, di atas perutku, antara pahaku dengan tangan berjari panjang. Oh. Detak jantungku meningkat lagi, ini jadi terasa ... begitu nikmat.
"Sarapan sudah tiba." Jongin mengetuk pintu, mengejutkan aku.
"Oke," aku tergagap saat aku menarik keluar dengan kejam dari lamunan erotisku.
Aku keluar dari shower dan ambil handuk. Aku menempatkan satu dibahuku. Buru-buru, aku mengeringkan diri,mengabaikan perasaan nyaman dari handuk menggesek kulit sensitifku.
Aku memeriksa kantong pembungkus jeans. Taylor tidak hanya membelikan aku jeans dan sepatu Converse baru, tapi kemeja biru muda, kaus kaki, dan pakaian dalam. Oh. Sebuah celana dalam - sebenarnya untuk menggambarkan pakaian dalam itu secara biasa, itu tidaklah cukup
adil. Pakaian dalam itu sendiri bermerk terkenal. Wow. aku kagum dan sedikit takut dengan pakaian dalam ini. . Terlebih lagi, mereka pas
sekali. Tapi tentu saja cukup membuat aku memerah.
Aku berpakaian dengan cepat. Pakaiannya sangat cocok. Aku dengan kasar mengeringkan rambutku dan mencoba tidak terlalu perduli untuk mengaturnya. Aku menghela napas dalam. Waktunya untuk menghadapi Tuan Membingungkan.
Aku lega untuk menemukan kamar tidur kosong. Aku cepat mencari tasku - tapi tidak ada di sini. Mengambil napas dalam-dalam, aku memasuki ruang tamu suite. Ruangan itu besar. Ada area tempat duduk mewah, semua sofa empuk dan bantal yang lembut, sebuah meja kopi yang rumit dengan
tumpukan besar buku mengkilap, area studi dengan komputer Mac mutahir, layar TV plasma yang sangat besar di dinding, dan Jongin duduk di meja makan di sisi lain dari ruang sedang membaca koran. Ini ukuran seperti lapangan tenis atau semacamnya, bukannya aku orang yang suka bermain tenis meskipun aku telah menyaksikan Baekhyun beberapa kali bermain ini.
Ah iya Baekhyun!
"Sial, Baekhyun," aku menjerit parau. Jongin melirik ke arahku.
"Dia tahu kau di sini dan masih hidup. Aku sudah mengirim sms ke Suho, tenang saja." Kata Jongin dengan sedikit mencoba humor.
Oh tidak. Aku ingat Baekhyun menari bersemangat tadi malam. Semua jurus patennya itu digunakan dengan efek maksimum untuk menggoda saudara Jongin tidak kurang! Apa yang akan Baekhyunpikir tentangku
ada di sini? Aku belum pernah menginap diluar sebelumnya. Dan Baekhyun masih dengan Suho. Dia hanya melakukan ini dua kali sebelumnya, dan kedua kali aku harus tahan melihat Piyama merah muda mengerikan selama seminggu dari peristiwa itu.
Baekhyun akan berpikir bahwa aku telah melakukan onenight-stand juga.
Kim Jongin menatapku angkuh. Dia mengenakan kemeja linen putih, kerah dan manset terbuka.
"Duduk," Jongin memerintah, sambil menunjuk ke suatu tempat di meja.
Aku berjalan menyeberangi ruangan dan duduk di seberangnya seperti yang dia perintahkan. Mejanya penuh dengan makanan.
"Aku tak tahu apa yang kau suka, jadi aku memesan beberapa pilihan dari menu sarapan." Dia memberiku senyum menekuk meminta maaf.
"Kau sangat boros sekali," gumamku, bingung pada pilihan, meskipun aku lapar.
"Ya, benar." Jongin terdengar bersalah.
Aku memilih pancake, sirup maple, telur dadar, dan bacon. Jongin mencoba untuk menyembunyikan senyum ketika ia kembali ke omelet putih telurnya. Makanan ini lezat.
"Teh?" Tanya Jongin.
"Ya, terima kasih."
Jongin menyuguhkan teko kecil berisi air panas dan pada tatakan ada teh celup Twining's English Breakfast. Astaga, ia ingat bagaimana aku suka tehku.
"Rambutmu sangat basah," tegur Jongin.
"Tidak apa-apa," gumamku, malu.
Mulut Jongin menekan menjadi garis keras, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
"Terima kasih telah memberiku pakaian."
"Tidak masalah, Sehun. Aku senang warna pakaiannya cocok untukmu."
aku tersipu dan menatap ke bawah pada jari-jariku.
"Kau tahu, kau benar-benar harus belajar untuk menerima pujian." Nadanya terdengar seperti hendak menghukum.
"Apa aku harus mengganti sejumlah uang untuk pakaian ini."
Jongin memelototiku sepertinya aku telah menyinggung perasaannya pada perkataanku tadi.
"Kau sudah memberiku buku, yang, tentu saja, aku tidak bisa terima. Tapi pakaian ini, biarkan aku membayarmu kembali." aku tersenyum ragu-ragu padanya.
"Sehun, percayalah, aku mampu membelinya."
"Bukan itu intinya. Mengapa kau harus membelikan ini untukku?"
"Karena aku bisa," berkedip matanya dengan kilauan jahat.
"Hanya karena kau bisa tidak berarti bahwa kau harus," jawabku pelan saat ia melengkungkan alis ke arahku, matanya berkelap-kelip, dan tiba-tiba aku merasa bahwa kita seperti sedang membicarakan tentang sesuatu yang lain, tapi aku tak tahu apa itu. Yang mengingatkanku ...
"Kenapa kau mengirim aku buku, Jongin?" Suara aku melunak.
Jongin meletakkan sendok garpu dan memandangku dengan penuh perhatian, mata abu-abunya terbakar emosi tak terduga. Ya tuhan - mulutku mengering.
"Yah, ketika kau hampir ditabrak pengendara sepeda - dan aku sedang memelukmu dan kau menatapku - menunjukkan isyarat cium aku, cium aku, Jongin," Jongin memberi jeda dan mengangkat bahu sedikit, "Aku merasa aku berhutang maaf dan peringatan padamu".
Jongin menggerakkan tangannya ke rambutnya. "Sehun, aku bukan pria sentimentil, aku tidak melakukan yang namanya asmara. Selera aku sangat tunggal. Kau seharusnya menghindar dariku." Jongin menutup matanya seolah-olah menyerah.
"Ada sesuatu tentangmu, dan aku menyadari bahwa tidak mungkin untuk menjauh. Tapi aku rasa kau sudah mengetahuinya."
Nafsu makanku hilang. Dia tidak bisa menjauh!
"Jadi jangan lakukan," bisikku.
Jongin terengah, matanya lebar.
"kau tak tahu apa yang kau katakan."
"Kalau begitu beri penjelasan padaku."
Kita duduk saling memandang, kita berdua tidak menyentuh makanan.
"Jadi kau tidak straight?" aku bernapas.
Kesenangan menyala dimanik mata hitamnya.
"Tidak, Sehun, aku tidak straight." Berhenti menunggu informasi ini meresap, dan aku tersipu memerah. Saringan dari otak ke mulut rusak lagi.
Aku tak percaya aku baru saja mengatakan dengan keras.
"Apa kau ada rencana untuk beberapa hari ke depan?" Jongin bertanya, suaranya terdengar rendah.
"Aku bekerja hari ini, mulai tengah hari. Jam berapa sekarang?" Aku mendadak panik.
"Baru jam sepuluh lewat, kau masih punya banyak waktu. Bagaimana dengan besok." Sikunya diatas meja, dan dagunya yang bertumpu pada jari-jari yang panjang berkuku rapi.
"Bakhyun dan aku akan mulai mengepak. Kami akan pindah ke Seattle akhir minggu depan, dan aku sedang bekerja di rumah Clayton sepanjang minggu ini."
"Kau sudah punya tempat di Seattle?"
"Ya."
"Dimana?"
"Aku tak ingat alamatnya. Ada di wilayah Pike Market District."
"Tidak jauh dariku," bibirnya berkedut setengah tersenyum. "Jadi kau mau bekerja apa di Seattle?"
Kemana sebenarnya semua pertanyaannya ini? Pertanyaan menyelidik Kim Jongin hampir sama menjengkelkan seperti Byun Baekhyun.
"Aku sudah mengajukan beberapa lamaran magang. Aku menunggu panggilan."
"Apakah kau sudah mengajukan lamaran magang ke perusahaanku seperti yang aku sarankan?"
Aku memerah ... tentu saja tidak.
"Um ... tidak."
"Dan apa yang salah dengan perusahaanku?"
"Perusahaanmu atau Perusahaanmu?" Aku menyeringai. Jongin tersenyum sedikit.
"Apakah kau menyeringai padaku, Tuan Oh?" Jongin memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan aku pikir Jongin terlihat geli, tapi sulit untuk diceritakan. Aku memerah dan melirik pada sarapanku yang belum habis. Aku tak bisa menatap matanya ketika ia menggunakan nada suara seperti itu.
"Aku ingin menggigit bibir itu," bisiknya muram.
Oh. Aku sama sekali tak menyadari bahwa aku mengigit-gigit bibir bawahku. Mulutku terbuka lebar saat aku terkesiap dan menelan pada saat yang sama. Itu adalah hal paling seksi yang pernah orang katakan padaku. Detak jantungku berdentum, dan aku terengah-engah. Astaga, aku gemetar,tegang, dan Jongin bahkan belum menyentuhku. Aku menggeliat di kursiku dan mataku bertemu dengan tatapan gelap yang tajam.
"Mengapa tidak?" aku menantang dengan tenang.
"Karena aku tidak akan menyentuhmu Sehun - Tidak sampai aku memiliki persetujuan tertulis darimu untuk melakukannya." Bibirnya mengisyaratkan senyuman.
Apa?
"Apa artinya itu?"
"Jelas seperti apa yang aku katakan." Jongin mendesah dan menggeleng padaku, geli, tapi jengkel juga.
"Aku perlu menunjukkan sesuatu padamu, Sehun. Jam berapa kau selesai bekerja malam ini?"
"Sekitar jam delapan."
"Yah, kita bisa pergi ke Seattle malam ini atau Sabtu berikutnya untuk makan malam di tempatku, dan aku akan memperkenalkan kau dengan fakta-fakta itu. kau bebas memilih."
"Mengapa tidak kau katakan padaku sekarang?" Suaraku merajuk.
"Karena aku menikmati sarapanku dan kebersamaan denganmu. Setelah kau sadar, kau mungkin tak akan mau melihatku lagi."
Ya ampun. Apa artinya itu? Apakah dia memperbudak anak kecil pada suatu tempat dari planet ini? Apakah ia bagian dari suatu sindikat
kejahatan bawah tanah? Ini akan menjelaskan mengapa dia begitu kaya.
Apakah dia sangat religius? Apakah dia impoten? Tentu saja tidak, ia bisa membuktikan untukku sekarang. Oh. Aku tersipu merah memikirkan tentang kemungkinan itu. Ini tidak membawaku kemana-mana. Aku ingin memecahkan teka-teki tentang Kim Jongin, makin cepat makin baik. Jika itu berarti bahwa apapun rahasia miliknya yang begitu kotor hingga aku tidak ingin mengenalnya lagi, terus terang saja, itu akan menjadi melegakan. Jangan dusta pada dirimu sendiri - alam bawah sadarku berteriak padaku-itu akan jadi lumayan buruk membuat kau berlari kebawah bukit.
"Malam ini."
Jongin mengangkat alis.
"Seperti Hawa, kau begitu cepat memakan buah dari pohon pengetahuan," Jongin menyeringai.
"Apakah kau menyeringai padaku, Mr.Kim?" Aku meminta dengan manis. Sombong sekali.
Jongin menyempit matanya pada aku dan mengambil handphonenya. Dia menekan satu nomor.
"Taylor. Aku perlu Charlie Tango."
Charlie Tango! Siapa dia?
"Dari Portland katakanlah duapuluh-tigapuluh ... Tidak, standby di Escala ... Sepanjang malam."
Sepanjang malam!
"Ya. Mulai besok pagi. Aku akan jadi pilotnya dari Portland ke Seattle."
Pilot?
"Standby pilot dari duapuluh-dua-tigapuluh." Jongin menutup telepon. Tidak ada kata tolong atau terima
kasih.
"Apakah orang selalu melakukan apa yang kau bilang pada mereka?"
"Biasanya, jika mereka ingin mempertahankan pekerjaannya," katanya, datar.
"Dan jika mereka tidak bekerja padamu?"
"Oh, aku bisa sangat persuasif, Sehun. Kau harus menyelesaikan sarapanmu. Dan kemudian aku akan mengantarmu pulang. Aku akan menjemputmu di rumah Clayton jam delapan setelah kau selesai. Kita akan terbang ke Seattle."
Aku berkedip padanya dengan cepat.
"Terbang?"
"Ya. Aku punya helikopter. "
Aku ternganga padanya. Aku punya kencan kedua dengannya, oh-begitu-misterius Kim Jongin. Dari minum kopi sampai naik helikopter. Wow.
"Kita akan pergi dengan helikopter ke Seattle?"
"Ya."
"Kenapa?"
Jongin menyeringai jahat. "Karena aku bisa. Selesaikan sarapanmu."
Bagaimana aku bisa makan sekarang? Aku akan ke Seattle dengan helikopter dengan Kim Jongin. Dan Jongin ingin menggigit bibir ... aku menggeliat memikirkan itu.
"Makanlah," katanya lebih tajam. "Sehun, aku akan marah jika makanan terbuang sia-sia... jadi makan."
"Aku tak bisa makan semua ini." Aku ternganga pada apa yang tersisa di atas meja.
"Makan apa yang ada di piringmu. Jika kau sudah makan dengan benar kemarin, kau tidak akan berada di sini, dan aku tak akan menyatakan tawaranku begitu cepat." Mulutnya membentuk garis suram. Jongin tampak marah.
Aku mengerutkan kening dan kembali ke makananku yang sekarang sudah dingin. Aku terlalu gembira untuk makan, Jongin. Tidakkah kau mengerti?
Alam bawah sadarku menjelaskan. Tapi aku terlalu pengecut untuk menyuarakan pikiran ini dengan suara keras, terutama ketika ia terlihat begitu murung. Hmm, seperti anak kecil. aku menganggap
pikiran itu menyenangkan.
"Apa yang lucu?" Tanya Jongin. Aku menggeleng, tidak berani mengatakan kepadanya dan menjaga
mataku pada makanan. Menelan potongan terakhir pancakeku, aku mengintip ke arahnya. Jongin menatapku curiga.
"Good Boy," katanya. "Aku akan mengantarmu pulang ketika kau sudah mengeringkan rambutmu dan terlihat rapi. Aku tak ingin kau sakit."
Ada semacam janji tak terucap dalam kata-katanya. Apa maksudnya? Aku
meninggalkan meja, bertanya-tanya sejenak apakah aku harus meminta izin tetapi segera menolak gagasan itu. Kedengarannya seperti preseden berbahaya untuk dilakukan. Aku kembali ke kamar tidurnya. Sebuah pikiran menghentikanku.
"Di mana kau tidur semalam?" Aku berbalik untuk menatap, Jongin masih duduk di sana. Aku tak bisa melihat selimut atau kain di sini - mungkin Jongin sudah merapikannya.
"Di ranjangku," katanya sederhana, tatapannya tanpa ekspresi lagi.
"Oh."
"Ya, itu cukup baru bagiku juga." Jongin tersenyum.
"Tidak melakukan ... seks." Nah - aku mengatakan itu. Aku tersipu - tentu saja.
"Tidak," ia menggelengkan kepala dan mengerutkan kening seolah mengingat sesuatu yang tak nyaman.
"Tidur dengan seseorang." Jongin mengambil korannya dan terus membaca.
Demi Tuhan apa artinya itu? Jongin tidak pernah tidur dengan siapapun? Jongin perjaka? Entah bagaimana aku meragukannya. Aku berdiri menatapnya tak percaya.
Jongin adalah orang paling menakjubkan yang pernah aku temui. Dan baru sadar bahwa aku telah tidur dengan Kim Jongin, dan aku marah pada diriku sendiri - apa yang akan aku berikan untuk terjaga dan melihatnya tidur. Melihat Jongin pada kondisi rentan. Entah bagaimana, aku mengartikan itu sulit untuk dibayangkan. Nah, aku yakin semua akan terungkap malam
ini.
Aku menuju ke kamar mandi. Aku ingin menggosok gigi. Aku melihat sikat gigi Jongin. Ini akan seperti merasakan mulut Jongin ada dimulutku. Hmm ... Melirik dengan rasa bersalah kebelakang bahuku di pintu, aku merasakan bulu pada sikat giginya.
Ini basah. Jongin pasti telah menggunakannya. Meraihnya cepat, aku menuangkan pasta gigi di atasnya dan menggosok gigi dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Aku merasa begitu nakal. Ini seperti sebuah sensasi.
Meraih t-shirt, dan celana dalam yang kemarin aku pakai, aku menaruhnya dalam kantong belanja yang dibawa Taylor dan kembali ke ruang tamu untuk mencari tas dan jaket. Aku merasa matanya mengikuti saat aku duduk dan menunggunya untuk selesai. Jongin kembali fokus dengan handphonenya,dia terlihat tengah berbicara dengan seseorang.
"Mereka ingin dua? ... Berapa biayanya? ... Oke, dan apa langkah-langkah keamanan yang kita miliki? ... Dan mereka akan pergi melalui Suez? ... Seberapa aman Ben Sudan? ... Dan kapan mereka tiba di Darfur? ... Oke, mari kita lakukan. Kabari aku setiap perkembangannya." Jongin menutup telepon.
"Siap untuk pergi?"
Aku mengangguk. Aku ingin tahu apa yang dibicarakannya. Jongin memakai jaket biru tua bergaris-garis, mengambil kunci mobil, dan menuju ke pintu.
"Silahkan duluan, Tuan Oh," bisiknya, membuka pintu untukku. Jongin terlihat begitu elegan.
Aku diam sebentar, terlalu lama, meneguk pemandangan dirinya. Dan berpikir aku tidur dengan Jongin tadi malam dan, setelah semua tequila dan muntah-muntah, Jongin masih di sini. Terlebih lagi, Jongin ingin
membawa aku ke Seattle. Mengapa aku? aku tidak memahaminya. Aku keluar pintu mengingat kata-katanya - Ada sesuatu tentangmu - Yah, perasaan itu benar-benar seperti timbal balik Mr. Kim, dan aku berniat untuk mencari tahu apakah itu.
Kami berjalan dalam diam di koridor menuju lift. Ketika kita dalam posisi menunggu, aku mengintip ke arahnya melalui sudut mataku, dan Jongin juga memandang dari sudut matanya ke arahku. Aku tersenyum, dan bibirnya berkedut. Lift tiba, dan kami melangkah masuk. Kami hanya berdua didalam lift saat ini. Tiba-tiba, karena alasan tak bisa dijelaskan,
mungkin kedekatan kami sedemikian rupa di ruang tertutup, atmosfer diantara kita berubah, terisi dengan arus antisipasi yang meluap. Napasku berubah ketika jantungku berpacu. Kepalanya menengok sedikit ke arahku, matanya hitam paling gelap. Aku menggigit bibirku.
"Oh, persetan dengan perjanjiannya," ia menggeram. Jongin bergerak maju padaku tiba-tiba, mendorong aku ke dinding lift. Sebelum aku tahu itu, kedua tangan aku dicengkram dengan satu tangannya diatas
kepalaku, dan Jongin menjepitku ke dinding menggunakan pinggulnya. Ya ampun. Tangan satunya meraih rambutku,menjambaknya dan menyentak turun, membawa wajahku keatas, dan bibirnya ada di bibirku. Hanya saja
tidak menyakitkan. Aku mengerang ke dalam mulutnya, memberi lidahnya suatu celah. Jongin mengambil keuntungan secara penuh, lidahnya ahli saat menjelajahi mulutku. Aku tidak pernah dicium seperti ini. Lidahku dengan coba-coba membelai dan bergabung dalam tarian erotis lambat yang semuanya adalah tentang sentuhan dan sensasi, beradu dan melebur.
Tangannya menangkap daguku dan memegangiku disana. Aku tak berdaya, tangan aku terjepit, wajahku dipegang, dan pinggulnya menahanku. . aku
merasa ereksinya pada perutku. Oh
... Jongin menginginkan aku. Kim Jongin, dewa Yunani, menginginkan aku, dan aku menginginkan dia,di sini ... sekarang, di lift.
"Kau. Sangat. Manis," bisiknya, setiap kata bernada staccato.
Lift berhenti, pintu terbuka, dan Jongin menjauh dariku dalam sekejap mata, meninggalkanku menggantung.
Tiga orang pria bersetelan bisnis melihat kami berdua dan menyeringai saat mereka melangkah masuk ke lift. Denyut jantungku meningkat pesat, aku merasa seperti aku sedang ikut lomba lari menaiki bukit.
Aku ingin membungkuk dan memegang lututku ... tapi itu pasti terlalu jelas.
Aku melirik Jongin. Dia terlihat begitu dingin dan tenang, seperti dia sedang mengisi teka-teki silang koran Seattle Times. Ini tidak adil. Apakah Jongin benar-benar tidak terpengaruh oleh kehadiranku?
Jongin melirikku dari sudut matanya, dan Jongin dengan lembut menghembuskan napas dalam-dalam. Oh,Jongin ternyata terpengaruhi.
Dan dewa kecil dalam diriku bergoyang menarikan kemenangan samba dengan lembut. Orang-orang bertampang pengusaha keluar di lantai dua. Kami punya satu lantai lagi.
"Kau menggosok gigimu," katanya, menatapku.
"Aku menggunakan sikat gigimu," aku bernapas. Bibirnya tertekuk keatas, setengah tersenyum.
"Oh, Sehun, apa yang akan aku lakukan padamu?"
Pintu terbuka di lantai pertama, dan ia mengambil tanganku dan menarikku keluar.
"Ada apa sebenarnya dengan lift?" Gumam Jongin, lebih pada dirinya sendiri daripada kepadaku saat ia melangkah di lobi. Aku berjuang untuk mengimbangi langkahnya karena akalku secara menyeluruh, berkeping-keping tersebar di seluruh lantai dan dinding lift tiga di Hotel Heathman.
.
.
.
.
T. B. C
.
.
.
Gimana? Udah panaskah dengan sedikit pemanasannya? Haha. Ini part udah super panjang dari chapter kemaren. Dan chapter depan dijamin lebih panas dari ini. Wkwk
Ini serius aku kaget ngeliat jumlah orang yang ngeviews fanfic ini berbanding jauh dengan jumlah review, sedih sih liatnya. Para siders ayo dong review. Biar aku tahu apa yang kurang dari remake ff ini. Mungkin banyak perkataan yang kurang pas atau entah apa itu.
Thanks buat yang udah review,diharap tetep review ya biar semangat nih buat lanjut chapter selanjutnya. Yang pasti pada pengen fast update kan? Jadi tau kan gimana kalo pengen fast update terus?
Makanya Review,ok? Hehe
Pai~
