My Diary, Our destiny
By Ishikawa Ayica
Naruto milik Masashi Kishimoto
Kisah ini seutuhnya milik Author
Rated : T
Genre : Friendship dan silahkan tentukan sendiri
Warning : AU, OOC, Abal, dsb.
Jika anda tidak menyukainya silahkan keluar.
Cerita ini murni imajinasi Author, jika terjadi kesamaan tempat, cerita dan yang lainnya hal itu hanyalah sebuah kebetulan semata
Diary chap 3 : Bertemu dan tergenggam.
Sakura sedang berada di kamar indahnya. Sedang menatap ke luar jendela yang menampilkan langit cerah khas siang menjelang sore. Hari ini adalah harinya berbenah untuk menyiapkan hari esok.
Hari minggu, hari yang menyenangkan setidaknya bagi Sakura. Sakura masih menatap langit jauh, semilir angin menerpa wajah indahnya, sampai sebuah suara mengagetkannya dalam lamunannya.
"Sakura." Panggil Tsunade pada anaknya yang sedari pagi belum keluar kamar, padahal hari ini hari minggu.
Tak berapa lama kemudian Sakura datang memenuhi panggilan ibunya, di dapatinya sang ibu tengah menghias piring dengan beberapa makanan.
"Banyak sekali. Kita mau kemana?" tanya Sakura yang berpikir bahwa mereka mungkin akan pergi piknik melihat banyaknya makanan yang di buatkan ibunya.
"Tidak kemana-mana sayang, ibu hanya berniat membagikan makanan untuk para tetangga, sekaligus menyapa mereka. Bantu ibu yah?" pinta Tsunade tersenyum pada anak gadisnya itu.
"Oh, ku fikir kita akan ke pantai." Ucap Sakura menyengir pada ibunya.
"Kalau kau ingin pergi kau bisa pergi, pantai hanya berjarak 3 Km dari rumah kita kan?" tanya sang ibu terkikik pada Sakura.
"Eheheh." Sakura hanya terkikik membalas perkataan ibunya.
"Baiklah, ini kau bagikan dulu. Ada beberapa rumah, jadi kau tak keberatan jika harus bolak-balik mengantar dan mengambil kan?" tanya Tsunade tersenyum sambil memberikan makanan yang telah tertata rapi di atas piring pada Sakura.
"Tentu, aku juga sedang bosan berdiam diri saja. Tapi aku tak menjamin jumlahnya tak berkurang." Ucap Sakura menunjuk makanan yang ada di atas piring sambil menyengir.
"Hn, aku tau kau hanya bercanda." Ucap Tsunade mendengus pada Sakura.
"Ya, ya. Kau selalu tau bu." Ucap Sakura kemudian pamit dan mengantarkan beberapa makanan itu kepada para tetangga barunya.
Sakura mengunjungi rumah tetangga terdekatnya satu persatu, mengantar kemudian kembali kemudian mengantar lagi.
"Yosh, ini rumah yang terakhir. Biar nanti ku minta Konohamaru-kun menggantikanku." Gumam Sakura kemudian menekan bel rumh megah ini. Sakura dapat segera menekan bel rumah karena memang, pagarnya terbuka lebar. Beberapa kali Sakura menekan namun masih tak ada tanda-tanda akan ada yang membukakan pintu.
Guk, Guk, Guk..
Bukan jawaban dari manusia yang terdengar malah gonggongan anjing yang Sakura dapati.
"Anjing? matilah aku!" gumam Sakura was-was menekan bel rumah tetangganya itu.
Sementara itu di dalam rumah.
"Seseorang sedang menekan bel pintu rumah kita, seseorang pergilah melihat atau ku suruh Akamaru yang akan mengusirnya." Ucap Kiba malas sedang berbaring di sofa dengan mengunakan celana seperempat dan membaca komik.
"Terlalu panas." Ucap Sasuke singkat sambil menekan remot AC.
"Gaara, sana bukalah." Ucap Naruto yang sedang memakan ramennya.
"Kau yang paling dekat dengan pintu kenapa kau menyuruhku." Kata Gaara datar kemudian kembali memainkan permainan PS-nya.
"Akamaru, katakan pada orang di depan bahwa tak ada orang di rumah jadi jangan pernah kembali." Ucap Kiba santai pada Akamaru yang berada di bawah kakinya.
Guk Guk Guk.
Akamaru berdiri kemudian berlari menuju pintu dapur yang memang terbuka kemudian memutari rumah dan menuju ke halaman depan.
A/N : Jika ada yang bertanya mengapa Akamaru tidak keluar melewati kotak yang ada di bawah pintu, maka saya akan meminta anda untuk berpikir ulang. Akamaru saja sebesar itu bagaimana kotaknya? ck,ck,ck, kalau gitu sih nggak usah pake pintu deh sekalian.. wkwkwk.. Ok, lanjuuut!.
Rrrrrr,,, Guk Guk Guk..
Akamaru menggeram kemudian menggonggongi seseorang di depan pintu. Terdengar dari dalam rumah Akamru menggonggong semakin kencang sedangkan Kiba menyeringai kejam.
"Aku tidak tanggung jawab jika akan ada yang datang lagi meminta biaya pengobatan." Ucap Kiba santai kemudian kembali melanjutkan acaranya membaca komik. Sedangkan Gaara, Naruto dan Sasuke menatap Kiba dengan tatapan malas.
1 detik
5 detik
2 menit kemudian.
Lama berselang, suara Akamaru tak lagi terdengar. Membuat Kiba sedikit bingung dan bangun dari tidur-tiduran malasnya.
"Akamaru!" seru Kiba kencang, namun tak ada gugukan dari Akamaru terdengar membuat Kiba semakin khawatir.
"Hahahah, akhirnya ada juga orang yang berani mendiamkan Akamaru, setelah Sakura. Apa jangan-jangan Akamaru di bunuh? Yah terserahlah, bukan anjingku ini." Ucap Naruto santai sambil kembali melanjutkan acara makannya. Sedangkan Gaara mendengus menahan tawa dan Sasuke menyeringai pada Kiba.
"Hentikan seringaimu itu Sasuke!." Kata Kiba bangkit dari sofa kemudian menuju pintu depan dan membuka pintu.
Clek
Pintu terbuka dengan menampilkan seorang gadis sedang mengelus-elus kepala Akamaru, terlihat mata Akamaru yang berair menatap sungguh-sungguh gadis itu. Rupanya hal ini yang membuat Akamaru terdiam.
"Anjing baik, anjing pintar." Ucap Sakura tersenyum sambil megelus-elus Akamaru.
"Tolong jauhkan tanganmu dari anjingku." Ucap Kiba mengernyit menatap gadis yang sedang mengelus-elus Akamaru. Gadis itu kemudian berbalik dan menatap Kiba, ia tersenyum.
"Maaf, anjingmu sangat baik dan juga sedikit lebih besar sepertinya. Akh iya, aku ke sini ingin mengantarkan makanan kecil, aku tetangga baru, rumahku berselang 5 rumah ke kanan dari sini. Salam kenal." Ucap sang gadis menunjuk rumahnya yang halamannya terlihat dari rumah Kiba kemudian kembali tersenyum pada Kiba. Kiba tertegun, terdiam dan tak dapat berkata-kata. Hanya ada tatapan rindu dari matanya, bahkan air matanya mengalir perlahan.
"Ha-Haruno Sakura." Ucap Kiba pelan di sertai air mata yang menglir dan matanya yang memerah juga tatapan kerinduan yang dalam.
"Kau baik-baik saja? Kau tau namaku? Apa kita saling kenal?" ucap Sakura bingung dan khawatir menatap Kiba yang seperti itu.
Kiba kemudian mengalihkan pandangannya dan bersusah payah mengambil nafasnya kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Kiba berjalan cepat mendapatkan tatapan bingung dari sahabatnya akan ekspresi Kiba. Kiba berhenti tepat di depan Sasuke dengan ekspresinya yang tak berubah.
"Aku sedang bermimpi dan rasanya menyakitkan. Tolong pukul aku." Ucap Kiba yang semakin was-was.
Kiba adalah orang yang dapat mengungkapkan perasaannya saat ia tertekan atau ingin melarikan diri dari kenyataan yang tak ingin di pikulnya. Saat ini Kiba merasa seperti kembali di pertemukan dengan Sakura dan Kiba tau semua itu hanya ilusi baginya. Meskipun Kiba sangat ingin kembali bertemu Sakura, ia tak ingin kembali merasakan sakitnya kehilangan gadis itu.
Sasuke hanya mengernyit menatap Kiba, kesabaran Kiba telah hilang dengan sekuat tenaga ia memukul Sasuke sampai Sasuke terpental jauh, Naruto yang melihat itu segera berlari membantu Sasuke berdiri, sementara Gaara mendekat dan memukul kiba seperti yang di lakukannya pada Sasuke.
Kiba terpental jauh dan kembali terduduk kemudian menghapus air matanya.
"Ada apa denganmu?" Seru Gaara marah.
"Tenang, ini hanya mimpi." Gumam Kiba pada dirinya sendiri dengan kekhawatiran yang jelas.
Sakura yang merasa bingung karena di tinggalkan pemilik rumah tanpa menyebutkan apapun, dengan lancang memasuki rumah. Dan di temukannya keadaan kacau karena keempat pemuda yang menatap bingung satu sama lain.
"Maaf, Apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura yang mendapati Kiba terduduk dan meremas rambutnya. Kiba menengadah menatap Sakura. Ia segera berdiri dan menatap lekat Sakura. Sementara Gaara menatap Sakura dengan matanya yang telah bulat sempurna, Naruto tercengang, dan Sasuke menatap tak percaya. Ekspresi mereka hampir sama dengan Kiba saat bertemu Sakura di depan rumah. Sakura menatap bingung pada orang-orang di rumah ini.
"Ano, aku tetangga baru. Aku ingin memberi ini sebagai salam perkenalan." Ucap Sakura memaksakan senyumnya karena melihat tingkah aneh orang-orang yang menghuni rumah ini. Masih tak ada yang bersuara, masih tak ada yang bergerak. Hanya menatap Sakura dengan tatapan tak percaya sekaligus rindu.
"Ekhem. Ku letakan di sini saja yah." Kata Sakura tersenyum paksa dengan bulir-bulir keringat di dahinya. Sakura kemudian melangkah pelan dan meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.
"Kalau begitu permisi." Ucap Sakura berbalik cepat dan berusaha berjalan cepat, namun tepat saat ia melewati Kiba, Kiba menahan pergelangan tangannya.
"Jangan pergi lagi." Ucap Kiba tanpa merubah posisi dan ekspresinya yang menatap udara dengan tatapan rindu.
Sakura terhenti dengan menegang. Saking tegangnya Sakura tak dapat berbalik,
"Sa-Sakura." Ucap Naruto mendekat pada Sakura. Naruto berdiri di depan Sakura kemudian memegang rambut merah muda Sakura.
"Aa, benar ini kau. Rambutmu sudah panjang." Ucap Naruto tersenyum senang sekaligus rindu serta air mata yang di tahannya mengalir.
"Kau kemana? Dari mana saja?" ucap Gaara mengikuti Naruto yang berada di hadapan Sakura dan menatap Sakura marah tapi sayang.
Sakura menatap bingung dan juga takut. Sasuke mendekat dan membuat Sakura berbalik padanya kemudian memeluknya erat.
"Maaf, tapi aku—
"Hanya untuk sebentar saja." Ucap Sasuke semakin erat memeluk Sakura.
"Eh?" tanya dan bingung Sakura pada Sasuke. Sasuke memejamkan matanya kemudian menenggelamkan wajahnya di bahu Sakura yang lebih pendek darinya.
Sakura yang kaget diam saja di perlakukan begitu oleh Sasuke yang baru saja di temuinya hari ini. Berselang beberapa menit Sakura mendorong Sasuke kasar. Sasuke kaget dan menatap Sakura bingung.
"Maaf. Aku tidak mengenal kalian meski aku tak tau bagaimana kalian bisa mengenaliku. Aku permisi." Ucap Sakura marah kemudian berjalan menuju pintu rumah.
"Sakura!"
"Sakura!"
"SAKURA!"
Naruto, Kiba dan Gaara memanggil Sakura. Panggilan Gaara yang lebih menekan dan lebih besar dari teriakan dua panggilan lainnya membuat Sakura bergidik dan berhenti. Kemudian berbalik badan dan menunduk.
"Kau mau kemana? Kau akan kemana?" tanya Gaara tersulut emosinya. Gaara memang jarang mengatakan dan mengungkapkan rasa sayangnya pada Sakura namun sebenarnya Gaara adalah orang yang paling menyayanginya. Gaara adalah orang yang paling susah menghadapi kenyataan tentang kematian Sakura, sehingga Gaara selalu berakhir mabuk. Baginya kenyataan terlalu sakit untuk di terima. Gaara tak pernah percaya Sakura sudah meninggal meskipun ia menyaksikan sendiri pemakaman Sakura 2 tahun lalu. Dan saat ini ketika ia bertemu kembali dengan Sakura, ia bertekad untuk akan sangat menjaga Sakura, bagi Gaara ia tak peduli bagaimana dunia berproses atau bagaimana tuhan membuat orang yang telah meninggal hidup kembali, Gaara hanya percaya bahwa tuhan memberinya kesempatan sekali lagi untuk menjaga Sakura.
Dan itu tak akan di sia-siakannya, tak akan pernah.
"Ok. Dengarkan aku. Aku hanya ingin memberi salam perkenalan, dan aku tak ingin ini berubah menjadi salam perpisahan. Aku tak tau apa yang terjadi pada 4 lelaki sekaligus, apapun itu tolong jangan libatkan aku. Permisi." Ucap Sakura ketus kemudian melangkah dan mulai berlari. Naruto bergerak untuk mengejar Sakura, tapi Sasuke menahan dan menghentikan Naruto.
"Sasuke, Lepaskan!" desis Naruto tanpa menatap Sasuke.
"Dia bukan Sakura." Ucap Sasuke menatap Naruto datar.
"Kau ini bicara apa? Jelas-jelas dia itu Sakura." Ucap Gaara tak terima dan menatap Sasuke tak mengerti.
"Kau buta atau tuli? Bahkan penampilan, gaya bicara dan namanya sama persis. Sebodoh itukah kau sampai kau bisa menyangkal bahwa dia bukan Sakura?" ucap Kiba yang mendukung ucapan Gaara.
"Kalian yang bodoh. Jika dia Sakura, akankah dia tidak mengenali kita?" ucap Sasuke membela diri pada sahabat-sahabatnya.
"Ok tuan jenius yang sok tau. Bagaimana jika dia karena suatu alasan ternyata adalah Sakura dan dia lupa ingatan, hm? Kau bisa menjawabnya?" tanya Naruto yang menghempaskan cengkraman Sasuke di tangannya.
"Itulah yang ku maksudkan. Jangan membuatnya takut dan menjauhi kita, kita harus mencari tau asal usulnya, dan buktikan padanya bahwa dia adalah Haruno Sakura yang kita kenal. Semoga dia memang Sakura." Ucap Sasuke berharap kemudian masuk ke dalam rumah dan memasuki kamarnya.
"Dia pasti Sakura, aku yakin." Gumam Naruto kemudian mengikuti Sasuke memasuki rumah semakin dalam.
"Aku tak peduli, Sakura atau bukan aku tak ingin dia pergi." ucap Kiba menatap Gaara serius.
"Aku setuju denganmu." Kata Gaara menyetujui gagasan Kiba.
/
/
Sakura berlari kencang dan segera memasuki rumah, saking kencangnya Sakura tidak sengaja membanting pintu masuk sehingga menimbulkan suara yang cukup gaduh, membuat Tsunade menatap Sakura bingung.
"Kau baik-baik saja?" tanya Tsunade mengernyit menatap putrinya yang kelelahan seperti di kejar pasukan teroris.
"Aa." Ucap Sakura mengangguk dan memaksakan sedikit senyum kemudian berlari kembali ke kamarnya.
"Sakura, hei, kau kenapa? Terjadi sesuatu?"
Sakura mengunci dirinya di dalam kamarnya mengabaikan pertanyaan khawatir Tsunade padanya.
Di dalam kamar Sakura mondar mandir gelisah di depan pintu.
"Apa mereka mengenalku? Apa aku pernah bertemu? Oh my god! Ad apa dengan para lelaki itu, membuatku takut saja." Gumam Sakura sambil mendudukan dirinya di atas ranjang dan menstabilkan pernapasannya.
Sakura merasa aneh, berbagai pemikiran mulai menghantui dirinya, ia hanya merasa takut, keempat lelaki itu mengaku mengenal Sakura, sementara Sakura tak memiliki ingatan apapun tentang mereka.
Sakura kemudian berjalan dan menghampiri meja belajarnya. Ia duduk di kursi kemudian mulai membuka buku Diary miliknya.
Dear Diary
Bertemu lagi. Aku bertemu dengan anak yang memiliki tatapan hancur dan benci itu. Dan dia menatapku dengan tatapan yang sama, dengan tatapan itu lagi, dan itu membuatku ketakutan. What the hell dan mereka juga menatapku begitu. Sakura? Siapa yang mereka maksud Sakura? Maksudku, aku memang Sakura, tapi sepanjang yang ku ketahui, Sakura yang mereka panggil bukanlah diriku. Tuhan, apakah mungkin kau ciptakan orang yang sama persis dalam satu kehidupan?
~TBC~
Gomen, chap yang ini masih agak pendek. Nanti di panjangin lagi.
Terima kasih pada yang sudah mereview, saya ucapkan terima kasih banyak. Dan untuk yang menunggu update-tan My first love story, saya minta maaf, sampai Melodi kematian selesai fict itu belum akan di update, tapi keputusan saya bisa berubah sewaktu-waktu. Jika saya punya waktu saya akan mengupdate lagi ceritanya, tentu saja juga cerita yang ini. Baiklah sekian dulu, saatnya balas review.
Febri Feven : Nggak bisa kilat, tapi saya usahakan untuk terus update. Terima kasih sudah merevie.
Scarlet-9s : Saya sudah update lagi, mohon maaf jika masih belum bisa kilat. Terima kasih sudah mereview.
Luca Marvell : Terjawab di chap ini. Terima kasih sudah mereview.
Hanazono Yuri : Terima kasih sudah mereview.
Sofi asat : sudah saya lanjutkan, terima kasih sudah mereview.
KiwIchiraku : Terima kasih atas dukungannya. Ini saya update lagi, Terima kasih sudah mereview.
Mitsuka Sakurai : Terima kasih sudah mereview
Sami haruchi 2 : Thanks dah review.
Terima kasih yang terbesar untuk padar Reviewers sekalian. Bila terdapat kesalahan dalam penulisan saya mohon maaf.
