"Waaa,.. dimana cincin itu.. Padahal kemarin aku taruh di sini bagaimana bisa tidak ada. Bagaimana dengan Naruto? Pasti dia marah.. Kami-sama, bagaimana ini?"

Hinata kebingungan. Cincin milik Naruto yang waktu itu dia bawa hilang dan dia tidak tau lagi harus bagaimana. Dia sudah mencari ke semua tempat di rumahnya, tapi hasilnya nihil. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari di kamar Neji di rumah sakit.

Sekitar jam sepuluh waktu Konoha, Hinata berangkat ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Hinata langsung mencari di setiap sudut kamar dan membuka setiap laci yang ada, sehingga membuat Neji bingung.

"Hinata, kau sedang mencari apa? Kau terlihat sangat bingung sekali, ada apa sebenarnya?" Tanya Neji heran. "Tak apa Neji nii-san." Balas Hinata singkat. Hinata semakin panik karena Naruto pun datang. Itu memang sekarang menjadi rutinitas Naruto semenjak ia jadi pacar pura-pura Hinata.

"Ohayou Neji-san, ini aku belikan pudding, namanya tiramisu pudding. Enak lho, Hinata saja sampai suka, ya kan Hinata? Hehe ya sudah, dimakan yaa.." Ucap Naruto. 'Cih, seperti SPG saja, promosi..' Batin Neji. "Terimakasih ya Naruto." Ucap Neji dan segera memakan pudding yang dibelikan Naruto dan ternyata memang enak.

Hinata yang sudah panik sejak tadi dan ditambah Naruto yang berada di situ makin membuat Hinata ingin pingsan dan akhirnya Hinata pingsan juga. Neji dan Naruto pun kaget melihat Hinata terkapar di tempat itu.

"Hinata..!" Neji meneriaki Hinata yang sedang pingsan. "Tak apa Neji-san, tak usah khawatir. Sebentar lagi dia pasti sadar." Kata Naruto menenangkan Neji. Naruto lalu mengangkat Hinata dan ditidurkannya di sofa dekat ranjang Neji.

Beberapa menit kemudian..

"Eeemm.." Kata pertama Hinata setelah pingsan tadi. "Hinata.. Kau sudah sadar? Kau ini sebenarnya ada apa sih? Tiba-tiba kau pingsan begitu saja, apa kau belum sarapan?" Tanya Naruto. Hinata yang baru sadar dan langsung dihujani pertanyaan yang banyak dari Naruto pun hanya bisa menjawab dengan singkat. "Ti-Tidak ada apa-apa, aku memang belum sarapan." Jawab Hinata lesu.

"Ya sudah, ini dimakan pudding kesukaanmu. Aku tadinya juga membelikan untukmu, tapi saat aku mau memberikannya malah kau sudah pingsan duluan." Jelas Naruto. "Maaf Na-Naruto-kun." Hinata meminta maaf *salah apa Hinata (?)*. "Are? Heii, aku mendengar ada yang beda saat kau menyebutkan namaku. Coba ulangi lagi dong!" Naruto mulai iseng. "T-tak apa kan, N-Naruto-kun?" Ucap Hinata terbata-bata karena malu. "Haha, sepertinya itu lebih baik." Balas Naruto sambil tersenyum pada Hinata.

"Kau ini tidak berubah ya Hinata." "Ha? Darimana kau tahu kalau aku tidak berubah?" Hinata menanggapi ucapan Naruto. "Ehh.. Ano.. Yaa aku hanya berusaha mengingat sedikit demi sedikit tentangmu pada saat SMA dulu." Balas Naruto. "Ehh.." Hinata tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya pun mulai memerah, hingga Hinata sendiri tidak dapat menutupinya.

'Haha, kalau sedang seperti ini, Hinata cantik juga ^^!' Batin Naruto. Setelah selesai memakan pudding tersebut, Hinata pun memulai pembicaraan.

"Naruto-kun, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Kata Hinata. "Tentu saja, silahkan." Balas Naruto.

"Kalau kau terus berpura-pura seperti ini, menjadi kekasih pura-pura, bagaimana hubunganmu dengan Sakura-chan?" Tanya Hinata. Naruto yang ditanyai terkejut, tak disangka Hinata akan menanyakan hal itu. "Darimana kau tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Sakura-chan?" Tanya Naruto heran. "Emm, ano.. H-hanya feeling ku saja, karena waktu di café itu aku melihat perempuan yang bersamamu mirip sekali dengan Sakura-san." Jelas Hinata.

"Ehh..umm.. Gimana ya ceritanya? Bisa dibilang.. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Sakura-chan. Kita hanya berteman." Kata Naruto gugup. Hinata yang mendengarnya seperti tak percaya dengan yang barusan diucapkan Naruto.

"Ke-Kenapa bisa?" Tanya Hinata lagi. "Hmm.. Begini…"

-FLASHBACK ON-

"Naruto, emm.. ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu.." Ucap Sakura. "Ada apa, Sakura-chan?" Balas Naruto.

"Tapi kau harus berjanji kalau tidak akan marah atau menyesal?" Sakura mulai meyakinkan Naruto terlebih dahulu. "Oke baiklah."

"Aku.. sudah.. dijodohkan dengan Sasuke-kun, se-sebenarnya aku juga tidak mau, ta-tapi mau bagaimana lagi. Itu keinginan orang tuaku. Bagaimana ini?" Sakura yang mengatakannya mulai menitikkan air mata. Dia yang tadinya hanya bersandar pada dada Naruto sekarang mulai memeluk Naruto sambil menangis, meluapkan segala perasaan yang berkecamuk di pikirannya karena tak tau harus bagaimana lagi. Naruto yang memang tidak tega melihat wanita menangis pun mencoba menenangkan Sakura, meski dalam hati kecilnya dia juga kecewa karena tidak bisa menikahi kekasihnya itu.

"Tak apa Sakura-chan.. Turuti saja perintah orang tuamu, aku yakin orangtua mu pasti tau yang terbaik untukmu. Hmm..Teme ya? tenang saja dia orang yang baik, kau juga pasti sudah mengenalnya secara detail, lagian kita masih bisa berteman, kan?" Naruto sudah tidak kuat lagi. Ingin rasanya dia menangis juga. Menangis sekencang-kencangnya. Rasa kecewa itu hampir menusuk hatinya lebih dalam lagi, kalau dia tidak menahannya. Tapi, dimana harga dirinya sebagai seorang anak direktur, jika dia menangis di depan wanita. Tapi, ini berbeda… Ini masalah cinta.

-FLASHBACK OFF-

"I-ini semua pasti gara-gara aku ya.. Gomenasai… A-aku minta maaf Naruto-kun. K-kalau saja aku tidak bersikeras mengambil cincin itu, pasti kau akan segera melamar Sakura-san dan-" Ucapan Hinata terputus. "Tidak, Hinata. Kami-sama telah menentukan takdir kita semua. Mungkin Sakura-chan bukan wanita yang terbaik untukku." Naruto sedikit menyesalinya kembali.

Tanpa Hinata sadari, dirinya telah memeluk Naruto sejak dia meminta maaf tadi. "Sabar ya, Naruto-kun. Kami-sama pasti tahu yang terbaik untukmu." Ucap Hinata sambil tersenyum.

"Terimakasih Hinata." Naruto pun membalas pelukan Hinata. Entah kenapa perasaan hangat dan nyaman menyelimuti mereka berdua. Pelukan itu terasa nyaman sekali hingga membuat mereka berdua tak melepas pelukan masing-masing.

Neji yang sudah tidak betah mendengarkan percakapan pasangan tersebut, kemudian mendehem dan mengagetkan pasangan yang tengah berpelukan tersebut. "Ehh, maaf Naruto-kun." Hinata akhirnya menyadarinya dan seketika langsung melepas pelukannya. "Oh hehe, tak apa tenang saja."

"Naruto, kaa-san dengar dari para perawat di rumah sakit, akhir-akhir ini kau sering kesana ya?" Tanya Kushina, ibu Naruto. "Iya, memang kenapa? Aku hanya menjenguk temanku yang sedang sakit disana." Balas Naruto.

"Dan kesananya dengan seorang perempuan yaa,.. emm..Hi-Hi-Hina ehh..Hina..." "Hinata." Jawab Naruto memutus perkataan ibunya yang mencoba mengingat nama Hinata. "Ha iya, kaa-san lupa. Ada hubungan spesial apa kau dengan Hinata?" Tanya Kushina menggoda Naruto.

"Tidak ada, hanya sebagai seorang teman dekat." Naruto mulai merasa aneh ketika ditanyai hubungannya dengan Hinata. "Teman dekat atau teman tapi mesra? Hahaha." Ibunya memang sering menggoda Naruto tetapi biasanya tidak tentang hubungannya dengan seorang perempuan. Orangtuanya saja tidak tahu kalau waktu itu Naruto ingin melamar Sakura, mereka hanya tahu kalau Naruto bersahabat dengan Sakura. Karena Naruto, Sakura, dan Sasuke memang bersahabat sejak kecil.

"Hanya teman saja, memang kenapa? kaa-san ini, ingin tahu sekali rupanya." Balas Naruto sambil bercanda.

"Haahh, kenapa hanya teman? kaa-san ingin yang lebih dong, o iya kenapa kalian tidak pacaran saja, kaa-san lihat kalian cocok kok.." Kata Kushina.

DEG. Naruto terkejut dengan perkataan ibunya. Bagaimana bisa ibunya ingin hubungannya dengan Hinata lebih dari teman, atau bisa dibilang sebagai sepasang kekasih. "Ke-kenapa?" Tanya Naruto meyakinkan. "Naruto, umurmu ini sudah 25 tahun, kalau kau tak kunjung menemukan pasanganmu, bagaimana jadinya dirimu nanti? Aku lihat, Hinata juga perempuan yang baik, sederhana, dia juga cantik, dan bahkan dia adalah anak teman dekat tou-san mu, dia juga seumuran denganmu kan? Jadi, kurang apalagi Hinata." Jelas Kushina mempromosikan Hinata *ralat: mendeskripsikan Hinata*. Tiba-tiba Naruto ingat dia ada janji dengan Hinata sekarang.

"Maaf kaa-san, aku harus pergi. Aku ada janji dengan Hinata." Ucap Naruto. "Haha, katanya cuma teman, kenapa ada acara kencan segala? Hahaha, ya sudah pergi sana, jangan biarkan Hinata menunggu." Balas Kushina.

"Kemana Hinata, lama sekali? Atau jangan-jangan Hinata kenapa-napa." Sudah 1 jam Naruto menunggu Hinata yang tak kunjung datang. Dia takut akan terjadi sesuatu pada Hinata. Entah, rasa itu selalu muncul sejak mereka sering bersama. Tiba-tiba Naruto melihat sosok Hinata berlari-lari dari kejauhan.

"Naruto-kun…"padahal 5 meter lagi Hinata mencapai Naruto, tetapi karena tidak hati-hati Hinata terjatuh dan kepalanya luka karena terbentur batu. "Hinata!" Naruto langsung berlari menuju Hinata yang sudah tidak sadarkan diri. Karena tempat mereka janjian jauh dari rumah sakit akhirnya Naruto membawa Hinata ke rumah Naruto, karena rumah Naruto lah yang paling dekat dari situ. Naruto langsung menggendong Hinata dan segera membawanya ke rumah.

"kaa-san! kaa-san! Cepat bantu aku!" Naruto berteriak-teriak memanggil kaa-san nya untuk segera menolong Hinata. "Ada apa sih Naruto? Loh..Hinata! Kenapa dia? Cepat bawa masuk ke kamar." Perintah Kushina. Naruto segera membawa Hinata masuk, lalu Kushina langsung mengambil kotak P3K dan segera mengobati Hinata. Setelah selesai diobati, Hinata dibiarkan istirahat di kamar dulu. Karena merasa bertanggung jawab atas Hinata, Naruto akan menunggui Hinata sampai dia siuman.

Naruto masih khawatir dengan Hinata, dia merasa bersalah dengan Hinata. Harusnya dia menjemput Hinata di rumahnya, bukannya malah menunggu Hinata datang dan membuat Hinata terburu-buru. Naruto duduk di sebelah kasur yang ditiduri Hinata. Sambil menggenggam tangan Hinata.

"Hinata.. apakah kau tau, perasaanku padamu.. Aku tak tau kapan perasaan ini muncul, dan a-aku belum bisa mengungkapkannya. Perasaan itu mengatakan kalau aku mencintaimu Hinata. Aku sendiri tak mengerti, ba-bagaimana bisa begini. Tapi yang jelas mulai sekarang aku ingin menjagamu dan melindungimu. Aku janji."

-Satu jam kemudian-

"Di-dimana aku? Hah, Naruto-kun!" Sudah satu jam Naruto menunggui Hinata yang belum sadar hingga dia ketiduran. "Na-naruto-kun.."Panggil Hinata. "Ehh, Hinata kau sudah bangun." Balas Naruto. "Dimana aku sekarang, dan aauu.. kepalaku.. ss-sakit sekali." Hinata mencoba bangun tetapi tidak bisa karena kepalanya masih sakit sekali. "Kau ada di rumahku sekarang. Tadi saat kau berlari-lari kau terjatuh dan kepalamu terbentur batu dan kau langsung pingsan, jadi aku bawa kesini. Aku meminta tolong pada kaa-san ku untuk mengobatimu. Gomenasai.", aku Jelas Naruto.

Hinata mulai merasakan hal aneh di dalam hatinya. Dia pun tak tau perasaan macam apa ini. Bahkan dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini dalam hidupnya, atau bisa dibilang dia baru pertama kali merasakannya. "Kau istirahat saja dulu. Aku akan keluar sebentar." Naruto pun meninggalkan Hinata keluar kamar.

'Naruto-kun, ke-kenapa jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya waktu kau disampingku. Mengapa pikiranku hanya ada wajahmu, Naruto-kun. Apakah ini yang disebut rasa cinta? Tidak-tidak, bagaimana mungkin aku bisa menyukai Naruto-kun. Ta-tapi Naruto-kun sangat perhatian padaku. Bahkan dia sangat peduli padaku. Kami-sama bantulah aku.' Ungkap Hinata dalam hati. "Eh, cincinnya? Duh, bagaimana ya? Nanti sajalah, aku tak bisa terus disini, hanya merepotkan saja, sebaiknya aku bertemu Kushina-san." Ujar Hinata.

"Kushina-san.." Panggil Hinata pada Kushina. Hinata bertemu Kushina di dapur dan Kushina sedang memasak untuk makan siang. Kushina memang mandiri, dia tidak mau dimasakkan oleh pembantu-pembantu di rumahnya, paling mereka hanya disuruh membantu, mereka hanya bertugas membersihkan dan merapikan rumah. Hinata ingin membantunya, untuk membalas kebaikannya yang telah mengobati Hinata tadi. "Hinata, kau belum boleh terlalu lelah." Balas Kushina. "Tak apa, Kushina-san. Sini biar aku bantu memasaknya." Pinta Hinata. "Waah, kau baik sekali Hinata, terimakasih ya!" Jawab Kushina.

"Tadaima!" Seseorang tengah membuka pintu. "tou-san! Kenapa kau pulang cepat?" Tanya Naruto. Ternyata beliau adalah Minato Namikaze, ayah Naruto. "Oh, kamu tidak suka kalau tou-san pulang cepat? Ya sudah tou-san pergi lagi." Balas Minato. "Ehh, jangan-jangan.. Tidak, bukan begitu maksudku. Kenapa tou-san pulang lebih cepat dari biasanya?" Tanya Naruto lagi. "Tadi, semua pekerjaan tou-san hari ini sudah selesai. Daripada di sana terus, mending tou-san pulang saja. Lagian besok juga libur." Jelas Minato. "Lho? Padahal hasil meeting tentang kelengkapan fasilitas kemarin belum aku berikan pada tou-san." Ucap Naruto heran akan ayahnya yang menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat sekali. "Oh itu, tadi Kakashi sudah memberikannya padaku." Balas Minato. "Sou ka.." Jawab Naruto singkat.

Naruto dan Minato menuju ruang makan lalu duduk di meja. Tak lama kemudian Hinata dan Kushina masuk ke ruang makan dengan membawa hidangan yang sedari tadi mereka masak. Ditaruhnya makanan-makanan itu di meja makan setelah itu Kushina duduk di kursi. Hinata yang tadi bersama Kushina, sekarang malah berdiri di belakang Kushina. Dia tidak tahu harus melakukan apalagi sementara mereka makan siang.

"Hinata, kenapa kau malah berdiri di situ? Sini, duduk di sebelahku." Ucap Naruto. Dengan muka yang merah karena malu, Hinata berjalan menuju kursi di sebelah Naruto dan duduk di situ. Semua hidangannya berbau sedap dan terlihat menggiurkan. Tapi ada satu makanan yang membuat Naruto ingin segera memakannya. Semangkuk ramen yang terlihat enak. "Aku mau ramennya saja. Itadakimasu! Ini ramen terenak di dunia.. Hm ini seperti bukan buatan kaa-san, ini lebih enak dari buatan kaa-san..Hmmm." Ungkap Naruto sambil memakan ramen yang menurutnya sangat enak. "Hinata yang memasaknya. Bahkan, yang membuat semua hidangan ini adalah Hinata, kaa-san hanya membantu Hinata saja. Padahal tadi Hinata yang membantu kaa-san tapi malah Hinata yang membuat semuanya." Jelas Kushina.

Hinata hanya tersenyum senang, karena Naruto menyukai masakannya. "Wah, Hinata pintar memasak ya..! Kamu memang cocok jadi calon istrinya Naruto." Puji Minato pada Hinata. "EH?" Naruto dan Hinata terkejut bersamaan. "Minato! Harusnya kau tidak memberitahunya, ini kan rahasia! Sudah, tidak usah dipikirkan ucapannya tadi. Lanjutkan makannya." Semuanya makan dengan lahap karena masakan Hinata yang enak.

Karena terlalu senang mengobrol dengan keluarga Naruto, tanpa Hinata sadari hari sudah menjelang malam, kemudian Hinata berterimakasih dan pamit pulang.

"Aku antar ya?" Ucap Naruto pada Hinata. "Ti-tidak usah Naruto-kun, aku bisa pulang sendiri." Balas Hinata. "Rumahku dengan rumahmu itu lumayan jauh dan..lihat plester di kepalamu itu, aku tidak ingin melihat kau terluka lagi. Aku harus bertanggung jawab atas kejadian tadi, karena aku yang mengajakmu. Dan sekarang aku akan mengantarmu sampai rumah karena tanggung jawabku belum selesai, ayo." Ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata menuju mobilnya. Hinata pun hanya bisa menurut saja.

Setelah sampai di rumah Hinata, "Naruto-kun, mau mampir dulu?" Tawar Hinata. "Em, tidak usah Hinata, terimakasih." Balas Naruto. "Oh ya sudah." "Hinata.." Panggil Naruto. "Iya, ada apa?" Jawab Hinata. "Aku minta maaf, karena aku belum bisa menjagamu." "Tidak perlu meminta maaf Naruto-kun. Itu tadi memang salahku yang tidak berhati-hati. Ya sudah, aku masuk dulu, hati-hati di jalan ya, Naruto-kun" Ucap Hinata sambil berjalan memasuki rumahnya. Naruto lalu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Naruto segera masuk ke kamarnya. Naruto masih merasa bersalah atas perbuatannya tadi. Dia belum bisa menjaga Hinata. Harusnya Naruto menjemput Hinata di rumahnya, bukannya malah menunggu berlama-lama tanpa berbuat apapun. Entah kenapa sekarang yang ada di pikiran Naruto hanyalah Hinata. Bahkan dia sendiri lupa memberikan laporan kepada ayahnya yang malah lebih penting. Sebenarnya masih ada pertanyaan yang masih mengganjal di benak Naruto, 'Bagaimana bisa aku melupakan sakit hatiku karena Sakura secepat itu, padahal baru 2 minggu yang lalu dan sekarang aku sudah jatuh cinta pada Hinata? Apa ini memang takdir? Ah, sudahlah, aku harus memikirkan masa depanku dulu, karirku dan percintaanku.' Batin Naruto dalam hati. Tiba-tiba Naruto berkata jelas di depan cermin kamarnya "Tapi, kata kaa-san aku harus menemukan pasangan hidupku dulu, lagian pekerjaanku juga bisa digantikan oleh Kakashi-san untuk sementara waktu. Jadi, aku harus segera menyatakan rasaku ini pada'nya'. Ucap Naruto dengan lantang.

Beralih ke Hinata. Tiba-tiba dia merasa kesepian, setelah menghabiskan seharian bersama keluarga Naruto. Maklumlah, Hinata hanya berkumpul dengan keluarganya satu tahun sekali, dan itupun paling hanya seminggu, karena ayah dan ibunya sangat sibuk bekerja di Kumo. Hinata lalu mengambil handphonenya dan membuka aplikasi messenger di handphonenya. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu dan Hinata langsung menekannya, kontak bernama Naruto Uzumaki. "Halo, Naruto-kun!" Ucap Hinata sambil mengetik apa yang diucapkannya barusan lalu mengirimya.

Naruto yang sedari tadi sedang menginstropeksi dirinya di depan cermin, dikagetkan oleh suara handphonenya. "Huh mengagetkan saja. Haah pesan… Are? Hinata Hyuuga?!" Naruto kemudian membalas pesan dari Hinata. "Halo juga Hinata, ada apa malam-malam begini? Aku telepon kau saja ya."

"Ehh? Na-naruto-kun mau menelponku?" Hinata kaget setelah membaca balasan dari Naruto. Handphone Hinata kemudian berbunyi dan Hinata langsung mengangkatnya.

"Hinata, ada apa? Oh, jangan-jangan kau kesepian ya? Ayo ngobrol, aku juga sedang tidak ada pekerjaan." Ucap Naruto di telepon.

'Kenapa dia bisa tahu kalau aku sedang kesepian?' Batin Hinata. "Emm.. ano..K-kau tau Naruto-kun, bulan purnama malam ini indah sekali, lihatlah ke langit." Ucap Hinata.

Naruto kemudian membuka pintu balkon di kamarnya dan memandang ke langit. "Wow, benar Hinata. Bulan kali ini sangat indah." 'Hmm.. Aku tahu ini mungkin saat yang tepat.' Ucap Naruto dalam hati.

"I-iya, em.. A-aku harap aku dapat menikmatinya denganmu N-naruto-kun.." Ucap Hinata sambil tersipu malu.

'Baiklah, ini saatnya.'

"Iya aku juga, Hinata. Eh, besok jam 10.00, kau, aku jemput di rumahmu ya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, penting."

"E-eh, i-iya. Emm ya sudah Naruto-kun." Jawab Hinata sambil menutup telepon. 'Ada apa besok? Atau… ah tidak mungkin. Santai saja Hinata, kami-sama pasti memudahkan semua urusanmu besok, Hinata.' Kata Hinata menenangkan dirinya.

-KEESOKAN HARINYA-

"Apa yang harus aku pakai hari ini ya?" Ucap Hinata sambil memilih-milih pakaian di lemarinya. "Hmm.. yang ini saja." Hinata akhirnya menemukan pakaian yang harus dipakainya. Sebuah dress ungu selutut dengan lengan panjang yang sangat cocok dipakai oleh Hinata.

Tak lama kemudian Naruto pun datang dan segera memencet bel rumah Hinata. "Hinata.." Panggil Naruto setelah memencet bel, lalu terdengar suara dari dalam rumah "Ah, masuk saja dulu Naruto-kun, pintunya tidak dikunci, kau bisa duduk dulu." Naruto akhirnya masuk dan duduk di ruang tamu Hinata.

Pertama kalinya masuk ke rumah Hinata. Rumahnya terkesan sangat luas dan rapi. Objek yang paling menarik perhatian adalah banyak foto-foto Hinata dan keluarganya yang dipajang di ruang tamu. Setelah melihat-lihat beberapa foto, ada sebuah foto yang paling menarik perhatian Naruto, yaitu foto Hinata sewaktu berumur 7 tahun. 'Waa..kawaii..' Ucap Naruto dalam hati.

"N-naruto-kun.." Panggil Hinata yang sudah berada di ruang tamu. Naruto pun menoleh pada yang memanggilnya dan 'Hinata.. cantik..' Batin Naruto. "Naruto-kun?" Panggil Hinata, lagi. "Eh iya, aku penasaran kenapa begitu banyak foto keluargamu yang dipajang."

"Ehh, itu hanya untuk mengobati kerinduanku pada keluargaku. Emm, ayo Naruto-kun. T-tapi bagaimana kalau kita menjenguk Neji nii-san dulu?" "eh.. oh, iya boleh kok. Ayo."

Setelah menjenguk Neji, mereka berdua akhirnya pergi. Ternyata Naruto mengajak Hinata ke sebuah taman bunga, dimana mereka dapat melihat bermacam-macam bunga bermekaran.

"Waaah, N-naruto-kun.. Ini sangat indah, t-tapi ini dimana? Aku belum pernah kesini sebelumnya."

"Kita sekarang berada di Uzushio. Ini taman bunga keluargaku, Uzumaki. Tidak boleh ada orang lain memasukinya selain keluarga Uzumaki." Jelas Naruto.

"Hmm.. Pantas saja tempatnya terpencil. Kenapa orang lain tidak boleh memasukinya? Bukankah ini tempat yang sangat indah kalau dinikmati banyak orang?"

"Aku juga tidak mengerti, nenekku dulu yang melarangnya. Katanya tempat ini hanya boleh dikunjungi dengan pasangan kita, eh maksudku harus ada ikatan diantaranya dan itupun juga harus termasuk keluarga Uzumaki."

"Emm.. Naruto-kun? A-aku? Kenapa kau mengajakku? Aku bukan keluarga Uzumaki dan bahkan aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu."

"Maka dari itu, aku mengajakmu kesini karena…"

TBC

Kayanya udah bisa ditebak lanjutannya nih. Okee terimakasih yang sudah review ^^

Nanami-chan – Sudah lanjut :) Terimakasih ^^

hqhqhq – Sebenernya ini terinspirasi dari salah satu ftv, hehe :D .Terimakasih ^^

Guest – Oke, Ini sudah lanjut :) Terimakasih ^^

Yasuna Katakushi – Wah arigatou sarannya :) saya akan perbaiki semampu saya, Terimakasih ^^

Sena Ayuki – Sudah terjawab kan/? Hehe selamat jumpa :v Terimakasih ^^

Pcrny KnHr – Sudah lanjut :) Terimakasih ^^

Kanesan – Sudah update :) Terimakasih ^^

Okee Review please '-'