Hai minna, maaf karena saya selalu terlambat untuk update. Sebulan lebih ini saya mempersiapkan dan menghadapi ujian sekolah beserta ujian praktek, sekaligus try outnya. Jadi harap maklum.

m(_ _)m

Oke, kita langsung saja. ;)


Ingatan yang Tak Terlupakan

Disclaimer : Still Masashi Kishimoto-sama.

Warning : Typo, OOC, Don't like don't read!

Summary : Sakura Haruno, si pemilik ingatan fotografis yang terikat dengan masa lalunya, membuat Sasuke Uchiha kesal dan berusaha menghilangkan ingatan masa lalu itu dari Sakura. (maaf gak pinter bikin summary).

Chapter 3

PRIIIITTTTTT….

Suara peluit yang memekakan telinga itu terdengar dari arah lapangan. Kabuto—si peniup peluit—memberi aba-aba pada semua anggota klub atletik untuk berkumpul di tengah lapangan. Beberapa orang terlihat bergegas, sisanya berjalan santai. Merasa semua sudah berkumpul, Kabuto maju ke depan, menghadap barisan.

"Perhatian semuanya! Ini latihan pertama kita bersama para anggota baru. Dikarenakan Gai-sensei ada keperluan dan selaku ketua klub, latihan hari ini saya pimpin." Kabuto menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "Di klub ini ada beberapa cabang. Untuk anggota baru, silakan kalian ikuti latihan menurut cabang yang telah ditentukan sesuai dengan hasil tes masuk. Untuk anggota senior, tolong kalian bimbing para anggota baru. Tapi sebelumnya, lari keliling lapangan 15 kali, dimulai dari sekarang. Ayo!"

Semua anggota termasuk Sasuke mulai berlari. Kabuto menghampiri Sakura dan 5 orang manajer yang lain. "Tokieda, kau catat dan perhatikan cabang lari halang rintang. Takami, kau di cabang lompat jauh dan lompat galah. Kirisawa, kau di cabang lempar cakram dan tolak peluru. Dan Haruno, kau di cabang estafet. Yang lainnya, siapkan air minum dan handuk!"

Sakura dan manajer yang lainnya mengangguk tanda mengerti. Mereka mengambil barang-barang yang di perlukan dan langsung menuju pos masing-masing.

15 putaran telah diselesaikan Sasuke lebih cepat dari yang lain. Naruto yang tak pernah mau kalah dari rival sekaligus sahabatnya itu menyusul beberapa detik kemudian. Setelah menarik napas sejenak, Sasuke berjalan menuju tempat latihan lari estafet. Sewaktu tes masuk, ia memilih cabang ini. Begitu juga dengan Naruto. Saat berjalan, ia melihat Sakura yang tengah mencatat sesuatu. Senyum tipis mengembang di bibir Sasuke. Ia menghampiri Sakura.

"Hei manajer, mana air minumnya?" tanya Sasuke datar. Sakura menoleh dan memandangnya ketus. Sebelum Sakura menjawab pertanyaan Sasuke, Shinguji menghampiri dan menyodorkan handuk juga sebotol air mineral. Melihat itu, Sakura kembali berkutat dengan pekerjaannya.

"Oh, terimakasih."

Sasuke meminum air itu. Dalam hati ia sedikit kecewa, karena sebenarnya ia ingin Sakura lah yang memberikannya handuk dan air itu.

"Teme!"

Plak..!

"Uhuk!"

Naruto menepuk pundak Sasuke, tapi itu malah membuat Sasuke tersedak air yang sedang diminumnya. Air itu muncrat dan mengenai baju dan rambut Sakura. Sasuke terbatuk-batuk jadinya. Naruto yang semula berniat meminta air itu menatap Sasuke dan Sakura horror. Sedangkan Sakura terdiam saking kagetnya. Perlahan ia menengadah, memandang Sasuke geram.

"Hei! Apa-apaan kau?" seru Sakura. "Lihat baju dan rambutku jadi basah!"

Sasuke yang telah pulih dari batuknya itu menarik handuk di pundaknya dan bermaksud mengelap rambut dan baju Sakura yang basah. "Maaf."

Namun tangannya ditepis kasar oleh Sakura. "Sudahlah!"

Dan Sakura pun berjalan meninggalkan Sasuke meskipun masih di sekitar sana.

Tangan Sasuke masih terangkat di udara. Pulih dari kekagetannya, ia menoleh dengan geram ke arah Naruto.

"Dobe.. Kau.."

Naruto menelan ludah cemas melihat tatapan mematikan dari Sasuke. Bola matanya terus bergerak ke kanan-kiri seolah mencari pertolongan, namun tak ada yang menanggapi karena yang lain masih berlari.

Dan saat itu pula ia lari menjauh.

.

.

.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Shinguji selesai latihan.

Saat ini mereka tengah membereskan data-data latihan hari ini di ruangan klub.

Sakura tersenyum sekilas, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak."

Shinguji sedikit mengernyitkan dahinya, "Tapi, bukankah tadi saat Uchiha-san tidak sengaja, err.. menyemburkan air itu, data-data yang sedang kau tulis juga ikut tersiram? Tapi kulihat data itu sudah ada. Bagaimana kau bisa mengingat data sebanyak itu?"

Pertanyaan Shinguji membuat Sakura menghentikan kegiatannya. Ia paling tidak suka ditanya mengenai 'bagaimana dia bisa mengingat?'. Ia terlihat berpikir sekilas sebelum akhirnya menjawab, "Kebetulan tadi aku memakai kertas karbon di bawah kertas, jadi masih bisa terlihat di balik kertas yang lain."

Shinguji terlihat berpikir, kemudian tersenyum dan mengangguk.

Sepertinya ia percaya, untung saja, batin Sakura.

Sakura ikut tersenyum. Sebenarnya ia merahasiakan kemampuan ingatan fotografisnya itu dari semua orang. Yah, kecuali beberapa orang yang memang sudah mengenalnya sejak dulu, seperti Ino dan keluarganya. Ia tidak mau orang lain tahu hal ini dan memanfaatkan kemampuannya—memanfaatkan dirinya tepatnya.

Pertanyaan Shinguji mengenai tadi saat latihan mau tidak mau membuat Sakura ingat akan Uchiha satu itu. Dan rasa kesalnya muncul kembali.

Kejadian tadi sekarang terputar dalam otaknya seperti film. Sakura berusaha menghilangkan hal itu dari pikirannya, namun tetap saja tidak bisa.

Shinguji terlihat selesai dengan pekerjaannya, lalu menghampiri Sakura. Dilihatnya Sakura yang sedikit melamun. Perlahan ia menepuk pundak temannya itu dan Sakura pun tersadar dari lamunannya.

"Aku pulang dulu, ya. Aku buru-buru. Ja ne, Sakura!"

Sakura mengangguk. Shinguji melambaikan tangannya ke arah Sakura dan menghilang di belokkan. Sakura menghela napas. Dia melihat sekeliling dan baru menyadari bahwa ia sendirian sekarang. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan keluar ruangan.

Saat di gerbang sekolah, ia terkejut melihat Sasuke berdiri bersandar pada pagar sekolah. Begitu melihat Sakura, ia menegakkan badannya dan tersenyum sambil menghampiri Sakura.

Sakura mendengus kesal dan berusaha mengabaikan kehadiran Sasuke.

Ia melewati Sasuke begitu saja. Namun langkahnya terhenti saat tangan Sasuke menahannya. Sakura terkesiap lalu dengan kasar menepis tangan Sasuke.

"Apa maumu, Uchiha?" tanya Sakura tajam.

Sasuke mendengus sedikit kesal atas perlakuan Sakura.

"Aku hanya ingin minta maaf soal tadi. Aku tak sengaja."

"Aku tak perlu maafmu itu. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Dan aku mohon jangan dekati aku. Atau kau akan tahu akibatnya," ucap Sakura dengan sedikit nada ancaman yang malah membuat Sasuke bertambah bingung.

Sejak hari pertama mereka bertemu, Sakura membuatnya bingung. Salah apa ia sampai Sakura sebegitu enggannya berada di dekat Sasuke. Padahal kalau anak perempuan lain cenderung berusaha mencari perhatian Sasuke.

Setelah mengucapkan hal itu, Sakura meninggalkan Sasuke yang masih terdiam di tempat.

Ia berusaha menekan rasa sesal yang kini mulai hinggap karena mengucapkan peringatan bernada ancaman itu. Ia meyakinkan dirinya agar tak menyesali hal itu dan membenarkan tindakannya. Toh, itu juga demi kebaikannya. Ia tak mau lagi ada laki-laki yang celaka karena berdekatan dengannya.

.

.

.

"Tadaima.." ucap Sasuke lesu begitu sampai di rumahnya.

"Okaeri, Sasuke," teriak ibunya dari dalam rumah.

Sekilas tercium wangi kari yang menandakan kalau ibunya sedang memasak kari. Perutnya sedikit bergemuruh pelan. Ia pun berjalan ke arah dapur dan mencomot telur dadar gulung dari meja makan.

PLAK..

"Ugh.." Sasuke meringis melihat ibunya melotot padanya setelah menepuk tangannya.

"Ganti bajumu dulu, Sasuke."

Sasuke mengangguk patuh tak mau mendengar omelan lain ibunya. Ia membalikkan badannya menuju tangga.

Di tangga, ia berpapasan dengan Itachi. Seringai jahil terlihat di wajahnya.

"Kenapa lesu begitu, Otoutou-chan? Habis ditolak perempuan, eh?" tanyanya sambil menepuk bahu Sasuke keras, membuat Sasuke memberinya deathglare andalannya.

"Hehehe.. Tak perlu melotot seperti itu lho, Sasu-chan. Nanti tak ada perempuan yang mau sama kamu lho."

Dan tak lama, aksi kejar-kejaran pun terjadi.

"ITACHI! SASUKE! JANGAN BERLARI DI DALAM RUMAH!" teriak Mikoto dari arah dapur.

Membuat dua bersaudara itu berhenti saling mengejar, Itachi berpura-pura duduk nyaman di sofa ruang keluarga dan Sasuke berlari menaiki tangga.

BLAM..

Sasuke menutup pintu kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.

Hh..pikirannya tak bisa terlepas dari Sakura. Kenapa ia bersikap seperti itu?

Apa salahnya?

"Argh, sial!" umpatnya sembari menutup wajahnya dengan bantal.

Sebuah pikiran terlintas di kepalanya.

Ia harus mencari tahu kenapa Sakura bersikap seperti itu.

Ya, harus..

Tapi, pikiran lain membuat tekadnya itu sedikit melemah.

Kepada siapa ia harus bertanya?

Dan wajah sesorang melintas dalam pikirannya.

Yamanaka Ino..

Ya, perempuan pirang itu sahabatnya Sakura dari kecil. Itu yang ia tahu dari Naruto. Mungkin ia bisa menanyakan semuanya pada Ino.

Sasuke tersenyum merasa telah mendapatkan solusi yang ia butuhkan.

"Ne.. Kenapa senyum-senyum sendiri, Sasu-chan?" tanya Itashi yang kini bersandar di pintu kamarnya.

Sasuke melempar bantalnya ke arah Itachi yang ditangkisnya dengan mudah.

"Sudah kubilang, jangan masuk kamarku seenaknya! Dan berhenti memanggilku seperti itu!"

Baru saja Itachi berniat menggoda adiknya lagi kalau saja teriakan Mikoto yang menyuruh mereka segera makan tidak terdengar.

.

.

.

Suasana di kediaman Haruno jauh berbeda dengan suasana kediaman Uchiha yang 'hangat'. Mereka—suami-istri Haruno dan Sakura makan malam tanpa suara. Hal yang janggal mengingat meja makan adalah tempat sebuah keluarga bercengkrama dan berkumpul selain ruang keluarga.

Sakura menelan suapan terakhirnya, kemudian meminum air minumnya.

"Aku selesai. Oyasuminasai," ucap Sakura sambil berdiri. Kedua orangtuanya hanya membalas dengan anggukan tak jelas tanpa menoleh sedikitpun padanya.

Raut kecewa jelas terlihat di mata Sakura. Ia pun meninggalkan ruang makan dan naik ke kamarnya di lantai dua.

BLAM..

Ia tak dapat menahan airmatanya lagi. Ia terduduk di ujung tempat tidurnya dan menelungkupkan tangannya diwajah. Menampung airmata yang keluar deras.

Ia mengusap airmatanya, lalu beranjak mengambil foto di meja belajarnya. Foto ia dengan kakaknya, Sasori.

"Nii-chan.." ucapnya lirih.

Setetes airmata jatuh tepat mengenai wajah Sasori di foto itu.

.

.

"Ino!"

Ino yang sedang berjalan melewati gerbang sekolah sambil sedikit menunduk, menegakkan kepalanya. Gadis berambut pirang itu menoleh ke belakang dan sedikit terkejut begitu mengetahui Sasuke yang memanggilnya. Ia berhenti berjalan dan menunggu Sasuke menghampirinya.

"Boleh kita bicara sebentar? Aku ingin menanyakan sesuatu," pinta Sasuke. Dilihatnya Ino mengerutkan keningnya tanda bingung. "Ikut aku!" lanjutnya.

Ino hanya mengangguk sekilas lalu mengikuti Sasuke. Di bangku halaman belakang sekolah, mereka berhenti dan duduk.

"Langsung saja, kau.. teman dekatnya Sakura kan?" tanya Sasuke.

Ino mengangguk. "Ya. Mm, ada apa ya Sasuke-kun?"

Meski sekilas, tapi Ino melihat kegugupan di wajah Sasuke yang langsung disembunyikan dengan memasang wajah datarnya.

"Apa dia membenciku?"

Hah?

"Hah?"

Ino benar-benar terkejut dengan pertanyaan Sasuke. Ia membelalakkan matanya.

"Dia terlihat membenciku. Malah dia sedikit err.. mengancam agar tidak mendekatinya," timpal Sasuke.

Seolah mendapat pencerahan, Ino mengangguk mengerti. Ia tersenyum lembut, lalu menepuk pundak Sasuke. "Tenang saja, dia tidak membencimu, kok."

"Tapi.."

"Dia memang seperti itu pada semua laki-laki. Bukan hanya padamu saja."

Sasuke menghela napas lega. Syukurlah, ternyata bukan cuma padaku, pikirnya.

Ino menyeringai melihat ekspresi Sasuke. "Kau suka padanya eh, Sasuke-kun?"

Sasuke memalingkan wajahnya yang memerah. Seringai Ino bertambah lebar. "Kau mengajakku ke sini untuk menanyakan alasan mengapa Sakura seperti itu kan, Sasuke-kun~?"

Sasuke mendengus. "Kau tahu kenapa?"

Ino menghela napas dan membuangnya dengan keras. "Sepertinya kita akan bolos jam pertama ini, karena ceritanya sangaaatt panjang. Ne.. tak apa kan, Sasuke-kun?"

.

.

Sakura menaikkan sebelah alisnya begitu melihat Ino yang baru masuk kelas di jam ke-2, begitu Kakashi-sensei meninggalkan kelasnya.

"Dari mana kau, Ino-pig?" tanyanya begitu Ino duduk di bangkunya.

Ino menatap Sakura, lalu sedikit menyeringaiia menjawab pertanyaan dari Sakura. "Aku? Aku habis 'kencan'."

Dan Sakura pun mendengus kesal, merasa menyesal menanyakannya, "Ya.. ya.."

.

.

"Teme, kenapa baru masuk pas jam ke-2? Kau habis dari mana?" tanya Naruto begitu bel istirahat berbunyi.

Sasuke menggelengkan kepalanya tanda ia tak mau menjawab pertanyaan Naruto. Naruto mengerucutkan bibirnya. "Main rahasia-rahasiaan. Gak seru, ah!"

Naruto berdiri dan menolehkan kepalanya pada Sasuke yang duduk, "Mau ke kantin?"

Sekali lagi, Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia terlalu malas menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Pikirannya sekarang dipenuhi penjelasan Ino tadi pagi.

Naruto mengedikkan bahunya. "Ya sudah kalau gak mau." Lalu ia pun melenggang keluar kelas.

Sasuke menopang dagunya. Pandangannya menerawang keluar jendela.

"Kakak laki-lakinya amnesia. Ingatannya sempat pulih, namun dia meninggal karena kecelakaan saat akan menjemput Sakura di sekolah."

"Gaara, laki-laki yang pernah dekat dengannya, meninggal saat dalam perjalanan menuju tempat mereka janji kencan."

Hati Sasuke sedikit panas mengingat hal kedua ini.

"Pacar kakaknya, yang juga sepupunya Gaara menyalahkan Sakura dan men-judge Sakura sebagai perempuan pembawa sial."

"Dan kedua orangtuanya mulai bersikap dingin pada Sakura semenjak Sasori-nii meninggal."

Untuk yang ini, Sasuke memejamkan matanya membayangkan keadaan Sakura yang tak pernah ia kira.

Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. Lalu menghela napas berat. Ia memalingkan kepalanya dan mendapati Sakura di bawah sana yang tengah tertawa bersama teman-temannya.

Senyum palsu, pikirnya.

Dan sebuah pemikiran terlintas di kepalanya. Ia pun tersenyum menyeringai.

Akan kubuat kau tersenyum tulus Sakura.

To Be Continued


Yah, segitu yang bisa saya 'berikan' di chapter ini. Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatannya. Saya usahakan untuk ke depannya tidak tersendat lagi. Mohon maklum karena saat ini saya sibuk persiapan ujian. Tapi saya akan curi-curi waktu untuk update.

Terimakasih pada readers dan senpai-senpai yang bersedia me-review fic ini.

.Valkyria Sapphire

.vvvv

.Hikari Shinju

.Akira Tsukiyomi

.Haza Haruno

.Thia2rh

.Chousamori aozora gak log in

.Haruno misaki-chan

.4ntk4-ch4n

.Midori Kumiko

.Just Ana

.Namiko CherryRan Mieko-chan.

Akhir kata, review please. :)