Chapter 3

Yey chapter 3 udah update nih! Setelah menimbang-nimbang akankah seorang author gaje bernama Hikari melanjutkan fic gaje ini atau tidak, Hikari memutuskan untuk melanjutkan fic gaje ini dengan berbagai alasan yang sangat lain... errr... apa ya? Ya pokoknya Hikari akan tetap melanjutkan fic gaje yang terinspirasi dari teman saya yang paling unik nan antik ada perubahan-perubahan (yang kata temen saya tersebut) sangat-sangat tidak masuk akal. Jadi, saya mohon dengan sangat para readers memaklumi author yang imut ini *digeplak* Langsung saja baca chapter 3 ya, author udah males bacot banyak-banyak.

Kenapa Harus Dia!

Disclaimer: naruto punya akang Masashi tapi kalo cerita ini punya saya

Genre: Romance dengan humor yang garing kriuuuk kriuuuk

Pairing: Sasusaku

Rated:T

Warning:Cerita gak masuk akal, jika ada gangguan segera hubungi dokter

Chapter 2

Sesosok laki-laki berambut merah sedang memasuki restoran tersebut. Ia seperti sedang mencari seseorang.

"Eh Sakura dia kan..." kata Ino terputus

"Dia yang mana?" kata Sakura.

"Itu loh... Laki-laki itu..." kata Ino sambil menunjuk laki-laki tersebut.

"Eh, di...dia kan..." kata Sakura.

Chapter 3

'Aniki... ngapain dia ke sini?.' batin Sakura dalam hati.

Saat laki-laki berambut merah yang mempesona itu memasuki restoran Italy yang unik ini, semua mata memandang. Lalu saat laki-laki tersebut, mendekat ke arah Sakura, semua orang langsung bergumam pada dirinya sendiri. Bahkan ada cewek yang mengeluh secara terang-terangan " Yah... Udah punya pacar...". Semua orang langsung menoleh ke arah cewek berambut merah yang duduk bersama cowok berambut model pantat ayam. Yap, mereka adalah Sasuke dan Karin. Merasa malu karena diperhatikan oleh orang banyak, Sasuke segera menarik Karin pergi dari restoran tersebut.

"Ekh! Sasuke... sakit tahu!" kata Karin.

"Salahmu! Mempermalukanku di depan semua orang!" kata Sasuke dengan kasar.

"Kau cemburu padaku, Sasuke?" kata Karin dengan wajah penuh harap.

"Buat apa aku cemburu padamu? Kau bukan siapa-siapaku!" kata Sasuke dengan penekanan pada kalimat terakhir.

"Terserah kau saja, Sasuke. Lalu kenapa kau mau pergi denganku?" kata Karin yang agak kecewa karena pernyataan Sasuke yang tadi.

"Itu karena..."

Flashback

"Yak! Kau kalah, Sasuke! Jadi kau harus menepati janjimu..." kata seorang cowok dengan rambut durennya.

"Heh Naruto! Aku tidak mau menepati janji bodoh seperti itu!" kata Sasuke.

"Tidak bisa, Sasuke! Aku tak terima!" kata Naruto dengan lebay "Kau harus menepati janjimu! Kau sendiri yang bilang, kalau kau akan mengantarkan 'nenek lampir' itu ke mana pun ia mau seharian! Kau juga akan menuruti semua permintaannya yang membuatmu stress itu! Atau kalau tidak...kusebarkan foto aibmu itu..." lanjut Naruto dengan muka jahil.

"Oke...oke... Terserah kau saja..." kata Sasuke pasrah.

End of Flashback

"Oh, jadi begitu..." kata Karin dengan raut muka kecewa.

"Hn." Kata Sasuke yang author sendiri nggak ngerti maksudnya apa dia ngomong kayak gituan.

"Tapi tak apalah, Sasuke. Yang penting hari ini kau bersamaku terus! Sekarang kita makan malam saja dulu, setelah itu kita langsung pulang." Kata Karin yang entah kenapa jadi lebih pengertian.

Di bagian Sakura

"Sakura..." kata cowok berambut merah itu.

"Ngapain sih, kakak ke sini!" kata Sakura kepada kakaknya.

"Tidak apa kan, Sakura. Ibu menyuruhku menjemputmu. Ada yang akan ibu bicarakan padamu." Kata Cowok berambut merah yang memiliki wajah baby-face itu.

"Tentang apa?" tanya Sakura.

"Aku sendiri tidak tahu. Kelihatannya sangat penting sekali. Kita makan malam saja dulu, lalu kita langsung pulang." kata cowok tersebut.

Setelah selesai makan malam, Sakura segera berpamitan kepada teman-temannya. Dan pergi meninggalkan mall tersebut. Teman-temannya langsung mengeluh karena salah satu dari mereka sudah pulang duluan. Suasana langsung menjadi sepi.

Kriik kriiik kriik *jangkrik: numpang lewat*

"Eh, kalau dipikir-pikir Sasori senpai ganteng ya..." kata Ino membuat semua temannya menoleh ke arahnya.

"Hei! Kau sudah melupakan pacarmu, si Sai, Ino!" kata Temari.

"Bukan begitu... aku kan cuma bilang kalau dia ganteng. Bukan berarti aku sudah melupakan Sai!" kata Ino.

"Oh..." kata Temari ber-oh

"Kita pulang aja yuk! Nggak ada Sakura, jadi sepi nih!" kata Tenten.

"I-iya... " kata Hinata yang masih tergagap-gagap tanpa alasan yang jelas dan disambut dengan anggukan yang lain.

Mereka semua berpisah dan pulang ke ruma masing-masing. Karena meman rumah mereka tidak ada yang searah.

Sakura sekarang sudah berada di rumahnya. Ia turun dari sepeda motor kakaknya tersebut. Ia segera menuju ke ruang tengah yang ia yakini ibunya pasti sudah menunggunya di situ. Ia masuk dan terlihatlah, ibunya sedang membaca majalah di ruang tengah.

"Ibu, apa yang mau ibu bicarakan?" tanya Sakura menghancurkan suasana sepi di ruangan itu.

"Oh, rupanya kau sudah datang, Sakura. Begini, ibu mau membicarakan rencana ibu besok." Kata ibunya.

"Rencana shooting film di luar pulau selama 3 bulan itu?" tanya Sakura.

"Iya, Sakura." Kata ibunya.

"Ibu kan sudah pernah bilang tentang ini sebelumnya." Kata Sakura.

"Iya memang. Tapi kakakmu itu tidak bisa tinggal selama 3 bulan di sini. Besok ia harus kembali ke Suna untuk meneruskan pekerjaannya. Jadi, kau akan ibu titipkan ke teman ibu." Kata ibunya.

"Terserah ibu sajalah... Memang aku mau ibu titipkan ke teman ibu yang mana?" kata Sakura dengan pasrah karena ia tahu percuma saja ia menolak permintaan ibunya tersebut.

"Ibu akan menitipkanmu kepada sahabat ibu, Mikoto Uchiha." Kata ibunya.

"Oh... baiklah bu. Kapan aku akan mulai pindah ke sana." Tanya Sakura.

"Besok pagi-pagi karena mumpung hari libur, salah satu anak sahabat ibu akan menjemputmu di sini. Jadi kemaslah barang-barangmu hari ini." Kata ibunya.

"Baiklah bu... Aku ke kamar dulu ya..." kata Sakura malas-malasan dan disambut oleh anggukan kecil ibunya.

Sakura melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Ia mengambil koper besarnya dan tas yang berukuran sangat besar. Ia segera memasukkan baju-bajunya ke dalamnya karena hari sudah malam. Tak lupa ia membereskan buku-buku sekolahnya. Setelah semuanya beres, ia segera merebahkan dirinya di atas kasur empuknya. Ia terus memikirkan nama Mikoto Uchiha. Karena sepertinya ia pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tapi ia lupa di mana. Ia juga terus memikirkan, anak-anak sahabat ibunya itu laki-laki atau perempuan. Ia berharap semoga anak-anak sahabat ibunya itu perempuan supaya ia tidak kesepian saat di sana nanti. Tanpa sadar Sakura sudah terlelap di alam mimpinya.

"Sakura... sakura... sakura..." suara lembut membangunkan Sakura.

"Ya, ada apa bu?" tanya Sakura.

"Anak teman ibu sudah datang, cepatlah bersiap-siap. Ibu dan ayah akan berangkat ke bandara. Setelah bersiap-siap, segeralah ke ruang tengah. Anak teman ibu sudah menunggumu di sana." Kata ibunya.

"Baiklah bu." Kata Sakura.

Ia segera membawa barang-barangnya tersebut ke ruang tengah. Ia sangat terkejut saat ia tahu siapa yang ada di sana.

"Chickenbutt!" kata Sakura.

"Jadi kau yang dimaksud ibuku! Cih!" kata Sasuke yang kesal karena sebelumnya ia juga tidak diberitahu oleh ibunya tentang siapa yang akan menginap di rumah mereka selama 3 bulan.

To be Continued

Yak! Bagaimana? Tetep pendek ya? Saya sudah usahakan semampu saya. Soalnya kalo panjang-panjang nggak pas nanti tbc-nya. Thank you ya yang sudah review fic saya ini. Saya sangat terharu sekali karena saya tidak menyangka kalau fic aneh ini bisa dapet review. Bagi yang sudah review, terima kasih ya... Pertahankan semangat kalian untuk mereview fic ini. Bagi para pembaca, saya nggak masalah sih kalo situ cuma baca aja tanpa nge-review, tapi saya berharap situ mau mereview fic ini *puppy eyes mode: on*. Yak tunggu kehadiran chapter 4 ya... Saya sih udah ada bayangan chapter 4 mau kayak gimana. Tapi mungkin bakal saya ubah di banyak tempat dulu. Hehehehe... Saya juga menunggu saran-saran kalian yang sangat berharga bagi saya dan bagi kelanjutan fic ini.